Bi © fahrenheit


.

.

Page membuka matanya dan mendapati bahwa ia masih berada di kamar yang sama, tempat yang sama, dunia yang sama, tidak seperti dunia dalam mimpinya. Mimpi di mana seorang perempuan menghambur dalam pelukannya.

"Paggie!"

Itu suara kakaknya.

"Jangan tidur seharian. Lihat ini, aku masakkan omelet buatmu!"

Page menahan nafas saat melihat jam analog di dinding. 06.54 AM. Hari ini Minggu, dan dia tidak mau ribet soal sarapan. Dengan langkah gontai ia menyingkap selimutnya dan beranjak dari tempat tidur.

Jackie tersenyum menyambutnya dari ruang makan. Di meja, terhidang omelet kesukaannya. Jackie kakak tertuanya dan dia sama sekali bukan laki-laki. Nama aslinya Jacqui... Entah apa lanjutannya, Page tak mau memikirkannya.

"Aku akan interviu kerja di jam 8, jadi tolong bilang Leah untuk jaga rumah," kata Jackie. Kemudian, ia menambahkan dengan nada serius. "Katanya, kau ada urusan jam 8 pagi."

Page menggumam. Ia duduk di kursi dan mulai memakan sarapannya.

Cowok itu bermata hijau toska, helaian rambut hitam membingkai setengah wajahnya yang mengantuk. Kakak-kakaknya bilang, wajahnya cute... Seksi. Page tidak tahu apa maksudnya.

Kedua orang tua mereka sudah lama meninggal. Sekarang, keuangan ketiga bersaudara itu menjadi tanggung jawab Jackie. Wanita itu sudah 22 tahun dan sangat mandiri. Page masih 16 tahun dan Leah baru 17 tahun.

Pintu kamar di sebelah kamar Page sekonyong-konyong terbuka. Seorang gadis ber-Tshirt dan celana PJ abu-abu keluar dengan earphone masih terpasang di telinga. Bibirnya membentuk seulas senyum dan menghampiri keduanya di meja makan.

"Apa kabar?"

Leah anak paling berantakan yang pernah diketahuinya. Rambut cokelat kopi menempel awut-awutan di pipi gadis itu, dan ada bekas sayatan luka di urat nadinya. Katanya itu luka lecet sewaktu terjatuh dari palang panjat. Leah tidak pandai berbohong.

"Kapan pesta sekolahmu akan dilaksanakan?" tanya Jackie—mengacuhkan pertanyaan adiknya.

"Setengah bulan lagi," jawab Leah santai. Ia menghenyakkan diri di atas kursi sebelah Page dan menyeruput minumannya.

"Itu punyaku, Nee-san," tolak Page lemah.

"Oh, iya. Kau juga. Apa bakal ada pesta-pesta juga?" celetuk Jackie. Ia menaruh nada curiga pada kata 'pesta-pesta'.

Page merebut minumannya kembali. "Tidak. Aku masih kelas 2."

"Bagus, soalnya tabungan kita tidak terlalu tebal akhir-akhir ini. Aku harus cari pekerjaan lagi dan mengurus kedai Tou-san yang terbengkalai." Wanita itu meninggalkan ruang makan, beranjak menuju kamar mandi. "Tapi aku tidak akan meninggalkan kalian berdua."

Suasana sunyi di ruang makan. Leah menggigiti selembar rumput laut kering. Mereka tinggal di Jepang, hampir seluruh darah dalam tubuh mereka berasal dari Jepang. Ayah mereka orang lokal asli sementara ibunya wanita Inggris. Entah mengapa orang tua mereka bisa saling jatuh cinta kemudian menikah. Beberapa perabotan rumah ini masih berbau Eropa—termasuk meja makan.

"Kau masih berhubungan dengan anak-anak berandalan itu?" tanya Leah tiba-tiba—siku bertelekan pada pinggiran meja makan dan raut wajahnya berubah serius.

"Anak-anak berandalan siapa?" tanya Page balik, merasa tidak nyaman.

Leah menghela nafas, kelopak matanya bergetar. "Teman-teman sekelasmu. Hide... Jun... Kazuhi—"

"Mereka bukan anak-anak berandalan, Nee-san. Mereka cuma sering bolos di hari Sabtu," potong Page tak sabaran. Telinganya memanas. Tidak boleh ada yang memanggil 'seseorang itu' berandalan. Tidak boleh.

Kakak keduanya hanya tersenyum skeptis, merapikan ujung rambut cokelatnya dan melepas earphone yang masih terpasang. Wajah oriental bercampur kecantikan wanita Eropa miliknya bisa membuat laki-laki manapun tergila-gila—tapi itu tidak berlaku untuk keluarganya. "Itu sama saja, Kouke-chan."

"Aku tidak mau membahasnya sedikit pun," kata Page risih.

.

###

.

Waktu bergulir cepat dan tiba-tiba saja sudah jam 8 pagi. Jackie memakai blazer terbaiknya kemudian pamit pergi. Page memakai sweater abu-abunya sementara Leah mengetik dari laptopnya.

"Mau ke mana?" cegat Leah ketika Page tiba di ambang pintu ruangan menuju koridor.

Page mengangkat bahu. Ia sudah terlalu banyak diinterogasi hari ini.

Musim gugur, pohon-pohon di ujung jalan berwarna keemasan yang menakjubkan. Cantik tapi udaranya tidak begitu ramah. Dingin dan berangin. Page menyusuri jalan depan gedung apartemennya sembari memeluk tas selempang hitamnya erat-erat.

Terhanyut ia menikmati warna langit pagi ini dan dedaunan cokelat menyapu bumi, pandangannya terpotong sesuatu di seberang jalan.

Ada sesuatu yang menarik perhatiannya... Lebih tepat seseorang. Gadis ber-sweater abu-abu, kelihatannya berkacamata. Page menajamkan penglihatannya. Sweater itu sama persis dengan yang sedang dikenakannya. Apa ini kebetulan atau...

Gadis itu berjalan berlawanan arah dengannya, jarak antara mereka terbentang beberapa meter jauhnya. Ia sengaja menghentikan langkah supaya bisa melihat gadis itu lebih jelas. Rambut hitam tergerai bebas sepunggung mencuat-cuat. Wajahnya...

Seperti terbakar sinar matahari selama sebulan penuh di Hawaii, tapi juga... pucat.

Apa gadis itu sakit?

Wajahnya terlihat murung. Ia mengepit map biru tipis dan saat si gadis mengangkat dagunya seolah menantang dunia... Wajahnya...

Sempurna. Suatu kecantikan yang Page tidak tahu namanya. Gadis itu seolah sedang menangisi wajahnya. Membiarkan mulutnya segaris tipis tanpa senyum.

Page memutuskan agar melanjutkan langkahnya lagi, sebelum gadis itu melihat ke arahnya.

Tersenyumlah, maka aku akan jatuh cinta.

.

###

.

"Page-san, aku belum pernah melihatmu datang selambat ini," Maya di depan pintu ruang musik berbasa-basi. "Aku pikir ada sesuatu yang menghalangimu. Hm?"

"Biarkan saja aku masuk," ujar Page tenang seraya tersenyum tipis.

Maya, gadis karateka bersuara alto itu menyeringai dan mundur menjauh dari pintu masuk. Page diundang tanpa kata-kata. Sekolah tidak terlalu sepi di hari Minggu semenjak pengumuman pertandingan persahabatan antar distrik sekolah itu. Musik, olahraga, bela diri.

Page memegang piano. Dia memang ahlinya. Beberapa anak terkadang ditunjuk sebagai pengisi vokal, tapi Page selalu mundur bila gilirannya dipanggil. Ada yang mencela ketidakmampuannya ini.

"Page."

Ia terkejut karena tahu-tahu ada seseorang yang menepuk bahunya. Page menoleh ke samping. Seorang cowok ber-sweater ketat, berkancing, dan memegang kertas not balok di tangannya. "Aku baru pertama kali melihatmu dengan sweater longgar seperti itu."

"Ini... Sweater lama," jawab Page sambil berusaha mengatur laju detak jantungnya. "Menjauh dariku sedikit, aku harus pegang tuts piano dari tadi."

Cowok itu bermata cokelat gelap yang paling mengesankan dari yang pernah dilihatnya. Rambut hitamnya berantakan dan ada beberapa helai yang jatuh di seputar bawah telinganya. Satu yang bisa dikatakannya—sempurna. Tapi juga kurang terorganisir.

"Kazuhiko, jangan ganggu teman-temanmu terus. Cepat pegang biolamu. Siap? Kita pelajari baris ini..." Suara pembimbing latihan membuat semua murid di dalam ruangan berhenti berbicara dan sekejap, suasana berubah senyap. "Satu. Dua. Tiga."

.

###

.

Sepulang latihan, daun-daun cokelat keemasan itu masih menyapanya seperti biasa. Namun kali ini ia tidak sendiri. Di sebelahnya juga ada Kazuhiko. Page penasaran apa gadis misterius berkacamata itu akan muncul lagi dalam pandangannya. Ternyata tidak.

"Kenapa wajahmu pucat?" Page mengangkat wajahnya yang sedari tadi menunduk. Perkataan pelan Kazuhiko mengagetkannya.

"Memangnya kelihatan banget, ya?"

"Iya."

Page menghela nafas. Membiarkan angin dingin berputar-putar di depan hidungnya.

"Sedikit kurang enak badan," jawab Page sekenanya.

Dia bisa mabuk bila berada di sebelah Kazuhiko terus-terusan. Dia lemah, selalu membiarkan Kazuhiko menjadi sandaran untuknya. Cowok bermata hijau toska itu semakin menunduk. Kazuhiko menumpangkan tangan di bahunya. Tuh, kan.

"Jangan pernah bilang pada mereka kalau kita pacaran, Kouke," bisikan lembut membelai telinganya. Page tersenyum pahit.

.

###

.

Mereka bilang, cinta hanya untuk seorang laki-laki dan seorang perempuan. Benarkah?

"Kalau melibatkan selain itu, berarti mereka menyalahi kodrat, Dear," sewaktu berumur lima tahun, Kaa-san pernah mengatakan hal itu padanya.

Jackie sudah bertunangan dengan pria idamannya dan mereka saling mencintai, beberapa bulan lagi akan menikah karena masing-masing telah memiliki karir yang mapan. Leah—lupakan ketidak-fashionable miliknya—selain bersekolah juga terkadang membantu mengurus anak-anak di panti asuhan di sebelah gedung apartemen mereka, perbuatan yang sangat mulia. Katanya Leah sedang dekat dengan laki-laki anak pemilik panti yang beda dua tahun dengannya.

Sedangkan dirinya sendiri?

"Mungkin ini aneh, tapi... Aku mencintaimu."

Pertama kali mendengarnya, Page tertawa. Kazuhiko? Anak berandalan sekolah menyatakan cinta dengan sesama jenis?

"Tampar aku sekeras-kerasnya."

Tidak, ia tidak mau. Page berkata bahwa mungkin anak itu terpengaruh alkohol atau bau lem cair, dan sebentar lagi akan pulih. Tapi, bukan Kazuhiko namanya kalau dia menyerah.

"Ini hadiah ulang tahunmu. Aku bertaruh kau tidak akan melupakannya."

Saat itu hari ulang tahunnya yang ke-16. Page 'kan sering melupakan hal-hal yang tidak penting... Seperti hadiah ulang tahunnya. Tapi kenapa hadiah kecil itu tidak ia lupakan juga?

Page menutup mulutnya.

Waktu itu, dia benar-benar lemah. Membiarkan Kazuhiko mempermainkan bibirnya.

Dan ia menikmatinya.

.

###

.

"Apartemen," gumam Kazuhiko saat melewati gedung apartemen tempat Page tinggal.

Page melepaskan rangkulan tangan Kazuhiko dan bergegas memasuki gedung. Sebelumnya, ia melambaikan tangan pada cowok itu. Kazuhiko balas melambai.

Huh. Selesai sudah. Page menatap papan di meja sekretariat untuk beberapa saat, memindai nama-nama keluarga yang tinggal di dalamnya, meskipun sudah tahu persis di mana ia tinggal. Kawashima. Yang jelas ada di lantai tiga.

Mengabaikan lift, Page buru-buru menaiki tangga ke lantai 2 dan tangga ke lantai 3, kemudian mencari pintu rumahnya. Apartemen kecil ini lebih bagus disebut hotel bintang empat baginya. Ia membuka pintu rumah. Di ruang keluarga, Leah sudah tidak ada dan sebagai gantinya ada Jackie.

"Ke mana Leah?" Tanya Page tanpa basa-basi.

Jackie menatapnya tajam yang berarti 'panggil-kakakmu-dengan-lebih-baik'. "Ke panti."

"Oh."

Tidak ada nuansa oriental apapun di ruangan ini semenjak kedua orang tuanya meninggal. Semangat menghidupkan tradisi keluarga halfblood mereka sudah lama pudar. Kini, apartemen tiga bersaudara ini lebih bergaya barat tanpa banyak perabotan. "Dia mengunjungi anak-anak. Seperti biasa."

"Oh," komentarnya untuk kedua kalinya.

Kau pasti mengira Leah seorang emo kalau melihat penampilannya... Salah. Dia sangat tertata rapi. Yang berantakan justru hidup Page sendiri. Punya kisah cinta yang tidak akan ditemukan dalam telenovela. Jackie mengambil sesuatu seperti tes kehamilan—mungkin alat pedikur—dan mulai mengikir kuku tangannya.

"Kata Leah ada anak baru di panti asuhan itu. Yang menarik, anak itu seumuran denganmu," katanya memulai topik. Page mengerutkan kening, menghampiri sofa dan menghenyakkan diri di atasnya.

"Anak 16 tahun masih diperbolehkan ada di panti asuhan?" Tanya Page memastikan; karena penasaran.

"Tentu tidak. Tapi, untuk gadis itu ada pengecualian. Ayahnya sudah meninggal dan ibunya sedang menjalani terapi..."

"Gadis?"

"Yah, pokoknya seperti itulah. Pemilik panti kasihan padanya. Seumuran denganmu, tapi badannya kurus sekali."

Page tidak mau memikirkannya. Itu bukan urusannya. Ia beranjak ke dapur, meminum segelas air, kemudian masuk ke kamar tidurnya dan melepas sweater-nya.

Ia kembali teringat akan gadis yang dilihatnya tadi pagi. Memakai sweater yang sama persis dengan miliknya dan kelihatannya tidak pernah tersenyum. Ia sudah lupa seberapa dekat jarak mereka saat itu... Saat tepat berpapasan dalam satu garis, kemudian saling menjauhi.

Kalau sang gadis tinggal di sekitar komplek apartemen, harusnya Page sudah melihatnya sejak dulu. Mungkin dia orang baru.

"Nee-san, apa di apartemen ini ada keluarga baru?" teriak Page pada kakaknya yang sedang mengatur suhu microwave.

"Apa maksudmu?" tanya Jackie.

"Apa ada keluarga baru yang tinggal di apartemen ini?" ulang Page, dengan pengubahan.

Jackie memastikan keadaan microwave sekali lagi sebelum menjawab pertanyaan adiknya. "Tidak, tentu saja. Memangnya ada apa?"

"Tidak, cuma tanya."

Page membuang nafas kasar, melempar dirinya ke atas kasur dan mencoba memejamkan mata.

.

###

.

"Mau teh?"

"Ya, terima kasih."

"... Kenapa diam? Tidak suka?"

Dia tidak mengatakan apa-apa, kecuali sebentuk senyum tipis seolah mengatakan 'biasa saja, kok'.

Leah tahu anak seperti ini lebih suka diam di kamarnya dan tidak suka diganggu. Dan mungkin, bahkan... Sangat tidak suka diganggu. Tapi dia harus keluar, bersosialisasi, dan mengungkapkan isi hatinya. Bukan hanya dipendam-pendam.

Jadi, jalan alternatif adalah pendekatan personal. "Aku punya adik," Leah duduk di kasur anak itu, sementara 'dia' tetap termangu di jendela kamar. "Dia seumuran denganmu. Jadi aku tahu bagaimana perasaanmu."

"Aku tidak suka siapapun yang seumuran denganku," kata dia tiba-tiba. Leah terhenyak.

Sepertinya gadis ini mempunyai ketidaksukaan terhadap banyak hal. Leah harus hati-hati memperlakukannya. Mungkin gadis ini tidak semanis yang ia kira.

"Kami sudah tidak punya ayah ibu lagi," lanjut Leah pelan.

Gadis itu menoleh. Mata hitam bundarnya menatap lurus mata Leah, membuatnya makin terlihat seperti boneka. "Dua-duanya?" tanyanya terkejut.

"Ya," Leah mengangguk. "Tapi aku dan dua saudaraku bisa bangkit. Selain mengharapkan kakakku, ada bantuan keuangan dari kerabat ibuku."

Gadis itu tertegun. Rambut hitam sebahu mencuat-cuat membuat wajahnya makin terlihat oval. "Kalian tidak sedih?"

Leah terdiam sejenak. Menaruh tangannya di atas tangan si gadis yang umurnya setahun di bawahnya. "Ya. Sedih sekali. Dan kangen. Tapi seseorang tidak boleh terus-terusan bersedih, kan? Masa depanku masih panjang dan lagipula hidupku sekarang sudah lumayan terjamin."

Riuh suara anak-anak berumur 5 sampai 8 tahun yang berlarian di ruang makan mengisi kekosongan. Leah ingin gadis ini mengerti perkataannya. Dia tidak boleh terus-terusan terhanyut dalam kematian ayahnya—karena sejak dulu dia lebih dekat dengan ayah dibanding ibunya. Toh, sekarang sudah ada panti yang menampungnya, dan sebundel orang-orang yang menyayanginya. Lebih dari itu, sifat protektif sang gadis terhadap dirinya sendiri harus dihilangkan.

"Yuk," kata Leah. "Haru, kita makan. Sudah jam makan siang," ajaknya.

.

###

.


the rest is in your heads


EDITED AUTHOR'S NOTE: Baru nyadar saya belum ngelanjutin ini setelah bertahun-tahun ninggalin Fictionpress. Masih tertarik sih sama idenya, tapi bener-bener udah nggak bisa ngelanjutin. Entah apa ada beberapa elemen yang kurang sreg atau nggak ada ide lagi. Jadi yah, begitu.

Anggap aja ini sepotong cerita biasa. Yang permulaan dan akhirannya ada di kepala pembaca.

Sekian dan terima kasih.