Untuk pertama kalinya, sejak waktu itu, ia melihat sebuah kesedihan dalam mata itu. Sedangkan untuk dirinya sendiri, ia tak lebih dari sosok menyedihkan yang telah kehilangan kehidupannya. Ia telah kehilangan segalanya. Termasuk raga beserta hati dan perasaan di dalamnya. Andai ia dapat meminta Tuhan untuk mengembalikan hidupnya.

Tapi, tunggu! Bukan ia yang dulu melihat kesedihan itu. Bukan dirinya. Tidak dengan taruhan seluruh hidupnya.

"Aku tidak mencintaimu lagi. Aku berbeda."

Karena, ia akhirnya menemukannya. Sosok itu. Sosok yang telah mengalihkan dunianya begitu rupa. Sosok yang ditakdirkan untuk berjalan bersama di dalam garis hidupnya. Seseorang yang dicintainya. Dengan sosoknya yang sekarang. Dicintainya, bukan dengan masa lalunya.

"Untuk terakhir, aku–

mencintainya."

.

.

.

.

.

.

Seoul, April 1st, 2020

Rumah itu berada paling ujung dan terlihat paling sederhana daripada rumah-rumah di sampingnya. Di rumah itu juga penuh petugas berseragam yang hilir mudik di sekitarnya. Di luarnya, sudah terpasang police line yang membuatnya tak lagi dikerubungi tetangga dan pengunjung di tempat itu. Terlihat juga beberapa penyidik kepolisian yang mondar-mandir di tempat itu.

Sebuah Ferrari merah terparkir di samping mobil polisi. Dua orang berseragam lapangan yang berada di dalamnya keluar dan melangkah, membungkuk melewati police line.

"Apa yang membuat pelaku melakukan pembunuhan senekat ini?" bisik salah satu dari dua orang tadi, seorang pria muda berkacamata. Belum sempat pria satunya menjawab, sosok berkacamata itu berjalan mendahuluinya dan bergegas mendekati salah seorang petugas kepolisian. Ia berbicara sebentar dan akhirnya, dengan isyarat, mengajak temannya yang lebih muda masuk.

Rumah sederhana itu hanya terdiri dari lima ruangan. Ruang depan dengan sofa yang telah lapuk, dua kamar dengan tempat tidur kecil dan karpet murahan, dan dapur dengan alat-alat makan sederhana, dan terakhir kamar mandi kumuh yang berada di samping dapur.

TKP adalah dapur. Kedua korban ditemukan terkapar di lantai dapur. Kondisi dapur tetap rapi, sepertinya, itu menunjukkan bahwa si korban tidak sempat melawan.

"Korban bernama Stephen Kim, 55 tahun dan istrinya bernama—

.

.

.

.

.

.

Langley, April 1st, 2030

Jejak-jejak hujan yang berlangsung petang tadi masih menyisakan kesuraman di sudut-sudut sekitar bangunan yang berada di Langley, Virginia. Senja baru saja pergi, namun ia masih saja berkolaborasi dengan mendung untuk menorehkan kegalauan pada malam yang mulai merangkak pelan. Seakan memperlihatkan kekuasaannya yang absolut.

Sosok tampan itu masih bertahan di sana. Tepat di sebuah balkon apartemendi lantai lima belas. Sosok itu, Adam Kim. Di tangan kanannya terdapat gelas yang masih menyisakan setengah Bollinger Grand Anne, sementara di tangan kirinya terdapat kliping surat kabar lama. Seoul Times.

Sepuluh tahun lalu, orang tuanya masuk surat kabar. Tepat sebagai korban pembunuhan yang misterius di dapur mereka. Kedua orang tuanya terbunuh. Tanpa pelaku. Tanpa saksi. Dan kasus menghilang. Adam pun memilih pergi ke Amerika.

Sepuluh tahun sejak saat itu, ia baru saja menerima sebuah email, bahwa pembunuh orang tuanya akhirnya ditemukan. Ia akan terbang ke Seoul untuk bertemu dengan sang pembunuh. Membuka kasus lama dan mengakhirinya—membalas dendam orang tuanya.

Adam menghela napas. Sepuluh tahun ia menunggu hari ini.

Dan akhirnya hari itu pun tiba…

Seoul, April 5th, 2030

"Welcome back," sambutan hangat terlihat begitu Adam membuka pintu di depannya. Sosok tua berumur setengah abad yang terlihat berwibawa tersenyum lebar ke arahnya. Kedua tangannya terentang lebar. Sosok bernama Lee Yong Ha itu mendekat dan memeluk Adam yang dibalas dengan pelukan erat. Sesaat kemudian Tuan Lee melepaskan pelukannya dan mengamati pemuda di depannya seksama. Senyum juga tidak lepas dari wajah itu. "Biar kutebak, perjalanan dari Langley ke Seoul telah membuatmu lelah, ne? Tapi, aku senang Amerika tidak terlalu banyak mengubahmu."

Adam tersenyum memperlihatkan kedua lesung pipinya. "Amerika hanya melatihku, Chief."

Tuan Lee terkekeh. "Arra, arraseo. Nah sekarang duduklah." Pelukan itu terlepas dan Tuan Lee berbalik untuk mengambil beberapa berkas di lemari yang ada di belakang mejanya. "Aku tahu kau butuh istirahat, tapi ada beberapa hal yang ingin kutunjukkan."

"Chief… mengenai hal itu…"

Tuan Lee menoleh. "Kau yakin untuk melakukan itu sekarang?"

Adam mengangguk. "Itulah alasanku kembali ke Korea."

Tuan Lee mengela napas pelan. "Baiklah." Diletakkannya berkas-berkas di tangannya kembali ke dalam lemari. "Ayo ikuti aku."

Tuan Lee melangkah keluar dari ruangannya dan Adam dengan patuh mengikutinya. Tuan Lee membuka pintu dan lorong sepi langsung tampak di depannya. Ia berjalan menyusurinya, mengekor Lee Yong Ha yang ada beberapa inci di depannya. Langkah mereka terdengar keras menapak di atas lantai marmer di bawahnya.

"Kuharap kau tidak terkejut saat bertemu dengannya nanti," ucap tuan Lee mengalahkan suara langkah mereka.

"Sebenarnya aku tidak akan terkejut kalau saja kau membawaku ke Rumah Sakit Jiwa atau semacamnya."

Tuan Lee melirik pemuda di belakangnya itu sekilas. Senyum kecil tertarik di sudut bibirnya.

Sebuah belokan dan satu ruang ada di depannya. Sebuah kamar pasien. Ruangan itu tampak tertutup pintunya. Adam menahan napas. Kini, setelah menunggu selama sepuluh tahun. Akhirnya, ia berhasil bertemu dengan pembunuh orang tuanya. Berhasil bertemu dengan orang yang telah merenggut kebahagiaannya saat kecil. Ia telah berhasil. Sebentar lagi, dendam bertahun-tahun akan terbalas. Adam merasakan sulit bernapas namun jantungnya berdentum-dentum aneh.

"Kau siap?"

Adam tak menjawab. Itu artinya 'iya'. Walau ia sendiri tak pernah tahu apakah ia benar-benar siap dengan momen ini.

Tuan Yong Ha melangkah ke pintu yang tertutup. Membukanya semakin lebar. Memasukinya dan membiarkan Adam mengekor di belakangnya. Ruangan itu hampir mirip seperti ruangan isolasi lainnya, hanya saja aromanya berbeda. Ruangan ini sama sekali tidak berbau aroma obat yang menyengat. Ruangan ini dipenuhi oleh aroma lain yang… manis.

Adam terdiam. Matanya seakan terpaku pada sosok di depannya. Sosok sang pelaku pembunuhan orang tuanya bertahun-tahun yang lalu. Sosok yang selama ini dicarinya. Sosok yang kini telah ada di depannya. Bersiap untuk menjadi tempat pendaratan dendamnya. Sosok itu ternyata….

"Dia…."

"Joshua."

"Aku tahu. Tapi keadaannya…." Adam berjalan mendekat ke arah sosok yang kini terbaring dengan selang-selang yang mengitari tubuhnya.

"Dia seperti raga tak bernyawa." Tuan Lee mengikuti jejaknya dan berjalan mendekat.

"Bagaimana bisa?" Adam memutar tubuhnya, kembali berhadapan dengan tuan Lee.

Tuan Lee terdiam. Matanya menatap tubuh yang tengah terdiam dan kaku. Tak ada respon, kedipan mata, gerakan bibir. Tak ada—kecuali napasnya yang menandakan nyawa tak meninggalkan raga itu, dan masih ada kehidupan dalam dirinya.

"Dia telah koma sejak sepuluh tahun yang lalu. Penyebabnya mungkin karena dia mengalami trauma hebat di kepalanya. Saat itu kami menemukannya di samping jasad orang tuamu. Tapi, saat itu, dia dan bahkan kau sendiri masih anak-anak…" Tangan orang tua itu bergerak, menyingkirkan rambut di dahi pucat Joshua, "kami merahasiakannya dari media, divisi lain, dan dari–

—dariku," sambung Adam pelan.

"Ya. Dan sekarang kau telah menjadi petugas. Kurasa sudah waktunya kau tahu hal ini." Mata redup itu mencari mata Adam. "Menjadi kewajibanmu untuk mengusut kasus ini."

"Aku bergerak atas dendam dan bukannya kewajiban."

"Membalas dendam tidak akan menimbulkan kedamaian. Kurasa sepuluh tahun bukan waktu yang singkat untuk membuatmu berpikir tentang hari ini." Tuan Lee mempertahankan direksinya pada pemuda itu. "Kau akan memaafkannya?"

Adam menoleh, sebuah lengkung senyum terpahat di wajahnya yang kini membiarkan matanya bertemu dengan mata tua itu. "Tidak. Aku akan menunggu Joshua bangun dan…

membunuhnya."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Exeter, April 13rd, 2034

Pagi yang dingin dan pemandangan penuh embun di luar jendela menyambut iris mata Arthur yang belum terbuka sempurna. Pemuda berkulit sepucat salju yang baru beberapa bulan menghilang di kawasan Exeter ini, menahan dirinya untuk tetap berbaring di atas tempat tidur. Bergelung di atas selimut tebal adalah pilihan cerdas yang bisa diambilnya—karena ia memang tak ada jadwal khusus di Minggu yang suram seperti ini. Masa bodoh dengan April yang kata orang adalah bulan di mana kecerahan musim semi berada pada puncaknya. Toh, Arthur tak pernah menemukan perbedaan yang berarti dalam hari-hari yang terus-terusan berlari.

Melewati empat musim berbeda setiap tahunnya —selama lebih dari empat tahun, membuatnya merasa kebal atas sesi-sesi istimewa dalam setiap musim yang ada. Bahkan, ia nyaris lupa bahwa beberapa hari sebelumnya adalah Paskah. Kalau saja Aiden Lee—teman sekelasnya, tidak mengirimkan sebutir telur berisi permen cokelat di dalamnya, pemuda itu tak akan tahu ada apa dengan hari itu.

Arthur memejamkan matanya dan meletakkan punggung tangannya di atas dahinya. Mengingat hari ini adalah hari Minggu membuatnya semakin bosan. Arthur tak pernah menyukai hari Minggu. Baginya Minggu adalah hari yang sangat membosankan. Biasanya jika ia tidak malas, ia akan pergi ke gereja di ujung kota kecil tempatnya berada. Namun jika ia sangat malas, maka ia akan bergelung di tempat tidur dan bangun ketika perutnya mulai bernyanyai menyerukan keadilan. Setelah itu, Arthur akan duduk tenang di depan laptop-nya untuk bermain game. Seharian. Minggu-minggu berikutnya akan berjalan secara konstan seperti ini.

Arthur melepas tangannya dan menarik selimutnya agar lebih menutup tubuh jangkungnya. Jarum jam tua di sudut kamarnya tengah merangkak ke angka delapan. Pagi yang jatuh di sekitar rumahnya masih saja suram. Sama sekali tak memberi semangat untuk pemuda itu agar segera bangun dari tidur panjangnya, untuk sekedar menyeduh cokelat hangat.

Hidup sendirian membuat Arthur nyaris tak punya kesibukan yang berarti selain mengurus dirinya sendiri. Orang tuanya yang meninggal dalam kecelakaan pesawat sepuluh tahun yang lalu, meninggalkan tumpukan harta untuknya. Uang yang cukup untuk hidupnya, bahkan hingga ia menikah dan punya lima orang cucu nanti. Arthur yang saat berusia tujuh tahun tak bisa menangis saat jenazah orang tuanya di buang ke tanah. Tak ada air mata, tak ada duka, untuk dua orang yang menyebut dirinya orang tuanya. Kebersamaan yang jarang membuat Arthur seolah tak mengenal mereka. Kepergian dua orang itu dirasakannya sama seperti kepergian mereka saat bisnis keluar negeri —hanya saja lebih lama dan tak kembali.

Arthur yang berusia tujuh tahun melanjutkan hidupnya dengan tenang bersama Casey, wanita cantik, sang pengasuh yang bahkan telah bersamanya sejak ia belum melihat dunia. Semuanya berjalan baik-baik saja. Casey yang bermulut tajam, nyatanya malah membuatnya nyaman dan tidak sendirian. Karena ia tahu, wanita cantik itu begitu menyayanginya. Minus kecerewetannya tentu saja.

Tapi, kebersamaan itu tidak lama, ketika maut kembali membuat Arthur kehilangan. Casey yang baik hati walau bermulut tajam, ternyata menyembunyikan sakit yang ia pendam sendirian. Arthur baru tahu, ketika tubuh wanita cantik itu tidak kuat menahan sakit yang telah bersarang selama bertahun-tahun.

Arthur berusia tiga belas tahun saat Casey meninggal. Kali ini, ia benar-benar sendirian. Mulai ada air mata yang tertumpah di hari pemakaman Casey. Hal yang tak terlihat saat pemakaman orang tuanya bertahun-tahun silam.

Sejak saat itulah Arthur mulai merasakan betapa tidak enaknya hidup sendirian. Selama ini, jika butuh apa-apa ada Casey, wanita yang sering dipanggilnya Cinderella. Tapi sekarang? Ia harus memenuhi semua kebutuhannya sendiri. Sedangkan untuk keperluan finansial, ia masih harus berurusan dengan Andrew Choi, pengacara keluarga. Saat ada Casey, semua terlihat mudah, karena almarhum ayahnya menyerahkan hak perwalian padanya. Tapi, sejak Casey meninggal, Arthur kehilangan wali, sekaligus hak penuh atas harta orang tuanya. Karena hartanya akan mutlak menjadi miliknya saat ia berusia dua puluh tahun. Ia sekarang baru berusia tujuh belas. Tiga tahun lagi, sebelum ia berhak memiliki sepenuhnya hidupnya. Walau kadang, Arthur merasa beruntung belum memiliki hak penuh atas harta orang tuanya. Sebisanya, ia berusaha hidup dengan uangnya sendiri. Tapi, statusnya yang sebagai pelajar, membuatnya tak bisa melakukan itu. Demi memenuhi kebutuhannya sendiri, ia pindah di sekolah murah, serta tinggal di rumah sederhana di sudut Exeter —alih-alih di rumah mewah peninggalan orang tuanya. Tapi itu belum cukup. Kadang, ia masih harus menelepon Andrew untuk memberinya beberapa pound, agar ia bisa hidup untuk beberapa hari. Sebenarnya Andrew bukan pria yang pelit. Hanya saja Arthur segan berlama-lama berurusan dengan pria yang sangat religius itu.

Sejak Casey pergi, ia benar-benar terbiasa sendiri. Orang yang tetap berhubungan dengannya hanyalah Aiden dan Andrew, itu pun tanpa embel-embel 'teman dekat'. Hanya teman, tak lebih. Terutama Andrew yang menjadi pengacaranya. Tak ada hal lain yang mereka bicarakan saat bertemu, kecuali masalah keuangan Arthur. Begitu pula dengan Aiden, teman sekelasnya itu sangat peduli pada Arthur, walau sering tak mendapat balasan yang sama. Kesendirian yang terlalu lama mengasuhnya, membuatnya menutup hati akan hal di luar lingkaran yang ditawarkan padanya.

Arthur nyaris kembali tertidur, saat telinganya menangkap bunyi bel rumahnya yang merambat sampai ke kamarnya. Siapa yang bertamu di hari Minggu begini?

Arthur mencoba mengabaikannya. Tapi, semakin lama bel berbunyi semakin keras, dan sang tamu sepertinya sangat tidak sabar.

Arthur mendengus kesal. Ia melemparkan selimut tebal yang sedari tadi dan malam-malam kemarin membungkus tubuhnya dengan kasar dan bergegas berjalan ke depan. Arthur menyeret kakinya yang terbalut sandal kamar dengan malas. Andrew tidak akan datang tanpa diundang atau kalau bukan karena keperluan keuangan Arthur. Pria itu juga lebih suka bertemu di kantornya yang terletak dua jam perjalanan dari sini.

Bel masih berbunyi. Tamu di luar semakin tidak sabar. Arthur yang terserempet celana piyamanya saat mencoba menghidupkan lampu ruang tamunya yang remang-remang, karena gorden gelapnya yang tertutup, sedikit menggerutu saat ia juga nyaris terantuk pinggiran bufet.

Arthur membuka pintu dengan cepat, bersiap memasang wajah kesal untuk orang yang mengganggu tidurnya. Walau sebenarnya bertamu pada jam setengah sembilan sudah lebih pantas, daripada pemuda yang masih memakai piyamanya untuk menyambut tamu.

"Sia—pa?"

Langkah Arthur tertahan di pintu yang terbuka lebar. Membiarkan cahaya matahari mencuri-curi masuk ke dalam rumahnya. Berbonus aroma rumpun daisy di halaman serta pinus-pinus yang berjejer rapi sepanjang setapak kecil menuju beranda rumahnya. Mata caramel gelap itu menyusur jauh ke depan.

Kosong.

Hanya ada jajaran pinus dengan pucuk bergoyang dan daun-daun lebar anyelir yang berkilau tertimpa sinar mentari. Tak ada siapa pun.

Lalu siapa yang menekan bel dengan tidak sabar tadi?

Mendengus keras, Arthur bersiap kembali menutup pintu, sampai ia sadar ada orang lain di berandanya.

.

.

.

.

.

.

"—akhirnya Hansel dan Gretel menghuni rumah kue itu bersama ayahnya yang baik hati. Dan mereka hidup bahagia untuk selama-lamanya."

Arthur melipat buku kumal di tangannya dan menatap tajam ke arah sosok yang tengah memegang cangkir cokelat hangat di depannya.

"Terima kasih." Sosok manis itu memandangnya dengan wajah yang berseri-seri. Seolah Arthur baru saja melakukan hal yang sangat berarti baginya —dan memang begitu. Arthur baru saja menghidupkannya —atau mengisi ulang tenaga sosok di depannya kalau yang tertera di surat yang ada di meja. Dia adalah sosok yang ditemukan Arthur di hari Minggu paginya dalam keadaan pingsan di depan pintu rumahnya. Sesuai surat yang datang bersama sosok itu, di sana tertulis bahwa, sosok itu adalah robot —atau android, yang dikirim untuk menemaninya dan membantunya —atau merepotkannya. Karena pada hari pertama kedatangannya, Arthur harus menyadarkan sosok itu dengan mendongeng untuknya. Sebuah dongeng lama karya Grimm Bruder yang terkenal berjudul 'Hansel and Gretel'.

Arthur nyaris tak memercayai bahwa sosok itu adalah android yang sumber tenaganya adalah dibacakan dongeng 'Hansel and Gretel', sampai akhirnya ia benar-benar mencobanya, setelah menggotong tubuh itu ke dalam rumahnya dan mendudukannya di meja dapurnya. Dan sosok itu benar-benar sadar. Wajah pucatnya semakin merona seiring dengan berakhirnya dongeng yang dibacakan Arthur.

"Tubuhku dirancang untuk bereaksi dengan suara. Khususnya dongeng sebagai bahan bakarku. Aku juga hanya bisa minum cokelat atau susu," terang sosok itu tanpa diminta. Arthur pura-pura tak mendengar. Dia justru fokus pada surat yang kini terbuka lebar di tangannya. Mencermati setiap huruf yang tertera di atas kertas kumal yang seolah dipaksa untuk menyampaikan tulisan di atasnya.

"Siapa namamu?"

"Jeremy."

"…Jeremy?"

"Itu nama dari orang yang memesanku. Aku khusus dibuat untuk melayanimu, Arthur."

"Darimana kau tahu namaku?" Arthur melepas direksinya pada kertas kumal yang di tangannya dan menatap android itu tajam.

"Casey memberitahuku."

"Casey?"

"Sang Cinderella."

"Lalu bagaimana aku harus memanggilmu?"

"Casey biasa memanggilku 'My Baby'."

"Dan kau menyuruhku mengikuti cara Casey memanggilmu?"

"Ti… tidak —maksudku terserah kau, Arthur." Wajah bulat Jeremy semakin merona saat Arthur menatapnya lekat-lekat.

"Aku akan memanggilmu, 'Jeremy'. Lagipula kau tahu arti dari panggilan yang diberikan Casey itu apa." Arthur melipat kembali surat di tangannya dan meletakkannya di atas meja, bersanding dengan buku Fairy Tale kumal di sebelahnya. "'Jeremy', kurasa panggilan yang cocok, karena tadi tertulis kau suka menyanyi."

Jeremy tak menjawab. Dengan gugup android itu kembali menyeruput cokelatnya yang telah dingin dan memilih menunduk, tanpa berani menatap Arthur yang gelisah di depannya.

"Android untuk melayaniku. Yang benar saja," gumam Arthur pelan, namun cukup jelas untuk dapat ditangkap telinga Jeremy.

"K–kau tidak suka denganku, Arthur?" tanya Jeremy takut-takut. Mata beningnya kini berani menatap jauh ke dalam iris Arthur. Arthur memijat pelipisnya dan memejamkan matanya. Menghindari tatapan sosok berwajah bayi itu.

"Bukan begitu. Aku hanya terkejut."

Dilihat dari sudut manapun Jeremy tidak seperti robot, android, atau apalah orang menyebutnya. Kulitnya sangat alami dan terlihat mulus, bola matanya menyorot bening, dan rambut hitamnya juga lembut. Lebih dari semua itu adalah wajahnya yang manis dan terkesan baby face. Seolah ia adalah bayi yang terjebak dalam tubuh dewasa. Terlebih ia berbahan bakar dongeng. Mendengarkan dongeng akan membuatnya tersadar saat ia lemah atau pingsan saat kehabisan bahan bakar.

...

"—dia bilang bahwa Casey yang memesannya untukku. Untuk melayaniku –aku lebih suka menyebutnya merepotkanku. Kau akan terkejut saat tahu akhir-akhir ini aku menghabiskan waktuku dengan membacakannya dongeng. Tapi, apa yang kudapat setelahnya tak lebih hanya daging yang dimasak gosong atau kelebihan garam, terkadang malah tanpa rasa," cerita Arthur di telepon pada Andrew keesokan harinya. Ia tak pernah bercerita sepanjang ini pada Andrew sebelumnya. Tapi kali ini dengan sosok Jeremy di sisinya yang mengatakan bahwa ia adalah kado Casey untuknya, Arthur merasa Andrew perlu tahu. Terlebih Jeremy membuat Arthur merasa menjadi pengasuh anak-anak, dengan memintanya membacakan dongeng serta membuatkannya cokelat hangat—bahkan memeluknya saat hujan deras pada malam harinya dan petir menyambar.

"Ckckck bukankah itu lebih baik. Kau jadi punya kesibukan sekarang." Terdengar kekeh merdu dari line seberang yang membuat Arthur mendengus kesal. Andrew sama sekali tidak membantunya, bahkan menertawakannya.

"Kesibukan yang menghancurkan hidupku," gerutu Arthur dengan wajah masam. Lupa bahwa Andrew tak akan menangkap ekspresi emosi di wajahnya. "Aku berniat mendonasikannya."

"Hei! Hei! Tunggu dulu!" larang Andrew cepat. Sosok pengacara muda itu menghentikan tawanya dan mulai serius. "Aku tahu bahwa Casey memang meminta ayahmu membuat android yang nantinya akan melayanimu. Android dengan kecerdasan setara manusia, berbonus emosi di dalamnya. Awalnya ayahmu menolak, beliau tidak mau—

"—mengeluarkan uangnya untuk hal yang tidak berguna," sambung Arthur tepat sasaran.

"Ya." Andrew membenarkan, ia tidak menyadari bahwa raut wajah Arthur tengah memerah kerena kecewa sekarang. "Ayahmu bilang bahwa Casey sudah cukup untuk menemanimu. Tapi Casey tetap memaksa. Tapi, sekarang kita tahu apa alasan Casey saat itu."

"…"

"Arthur?" panggil Andrew pelan. Setelah Arthur cukup lama terdiam. "Kau masih di sana?"

"Ya, ya aku masih di sini," respon Arthur datar.

"Aku tidak mengira kalau ayahmu akhirnya mengabulkan permintaan Casey, tapi tugasmu sekarang adalah merawat android itu."

"Aku tak punya pilihan, eh?"

"Tidak. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi kalau android itu dibiarkan lepas darimu."

"Tapi, dia hanya robot. Seharusnya dia bisa menjaga diri."

"Dia android! Kecerdasannya setara dengan manusia. Lagipula dia peninggalan Casey," nada suara Andrew sedikit meninggi yang mau tak mau membuat Arthur menjauhkan ponsel dari telinganya. "Rawatlah peninggalan Casey baik-baik. Dan akhir pekan ini aku akan ke rumahmu. Aku tidak sabar melihat Jeremy kecil itu."

"Eh? Kau tahu namanya?" pekik Arthur kencang. Sayangnya Andrew hanya tertawa sebagai balasan, seraya memutus sambungan selularnya.

.

.

.

.

.

"Bisakah kau berhenti bernyanyi sebentar saja?"

Arthur menoleh kesal pada sosok yang tengah duduk di sisinya. Sosok yang langsung menutup mulutnya mendengar suara keras Arthur yang naik beberpa oktaf. Ia baru saja bermain game, dan Jeremy yang menemaninya terus saja bernyanyi sejak tiga puluh menit yang lalu. Entah lagu apa yang dia nyanyikan, Arthur tak punya waktu untuk mencari tahu. Suara android itu memang tidak bisa dibilang jelek, bahkan sangat merdu menurut Arthur. Tapi, ia tetap tak bisa menerima saat dirinya mencoba fokus pada game-nya dan sosok itu terus-terusan bernyanyi di sisinya.

"A–apa suaraku jelek?" tanya Jeremy lirih. Dan itu dia! Dengan ekpresi kekanakan yang hampir menangis. Ada air mata di ujung matanya. Arthur tak habis pikir, bagaimana android ini juga bisa menangis?

"Tidak. Tapi kau menggangguku, paham?"

"Ma… maaf. Maafkan aku, Arthur," isak Jeremy dengan suara pelan. "Jeremy bodoh. Jeremy bodoh."

Demi apa pun, bahkan nada suara Arthur sudah menurun tadi—ia tidak lagi berbicara dengan suara keras. Tapi terlambat. Jeremy sudah terisak dan mulai menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ada air mata yang terlihat di sela jemarinya. Arthur melirik layar laptop-nya yang menampilkan tulisan game over dan berputar ke arah Jeremy, menatap sosok itu intens. Ada rasa aneh yang menyeruak dalam hatinya. Tapi ia terlalu angkuh untuk mengakuinya. Terlebih Jeremy hanyalah robot. Robot yang tak seharusnya melakukan hal kekanakan seperti ini. Jeremy memiliki tinggi yang hampir sama dengan Arthur. Tapi, ia terlalu kekanakan. Entah siapa perancangnya, tapi orang itu benar-benar salah menempatkan emosi dalam tubuh ini. Jeremy terlalu kekanakan —atau polos?

"Ma–maafkan Jeremy… hiks," isakan Jeremy semakin keras.

"Diamlah," perintah Arthur singkat. Dirinya mencoba mencari kata-kata yang tepat, tapi sia-sia. Entah karena tidak menemukan atau egonya yang terlalu tinggi membuatnya tak bisa mengatakan apapun untuk menenangkan Jeremy.

Namun, tangis Jeremy semakin keras. Air mata yang lolos dari jemari mungilnya meluncur membasahi kaos putih transparan yang ia kenakan. Sesekali, membasahi karpet di bawahnya.

"Kubilang diam! Kenapa kau ini jadi robot cengeng sekali!" omel Arthur tajam. Nada suaranya kembali naik karena kata 'maaf' yang tak juga ditemukannya untuk membuat Jeremy menghentikan tangisnya.

"Jeremy bodoh! Bodoh! Jeremy bodoh telah membuat Arthur marah!"

"Diam!"

'Grep.'

Arthur menangkap wajah bulat itu. Kedua tangan pucatnya menangkup pipi Jeremy, menyingkirkan jemari mungil sang robot, dan menggantinya dengan tangannya. Memaksa dua bola mata yang basah itu menatapnya. Tepat di depannya.

"Maafkan Jeremy. Hiks," bibir Jeremy masih mengucapkan maaf dengan air mata yang kini membasahi tangan Arthur. "Maaf. Maaf."

"Shh, kubilang diam!"

"Ma–hufft!"

Mata basah Jeremy membola, saat Arthur menahan isaknya dengan bibirnya yang kini menutup bibir Jeremy. Bibir Arthur menekan bibir cherry Jeremy rapat, merasakan lembut yang berbaur dengan hambar dari air mata milik Jeremy.

Tangis Jeremy berhenti, bahkan kini ia bereaksi dengan membuka mulutnya membiarkan lidah Arthur menjelajah semakin ke dalam rongga mulutnya. Menyesap aroma manis cokelat yang baru saja ia minum. Menghisapnya lembut, seolah menghabiskan semua rasa cokelat yang ada.

"Nghh~!" Tangan Jeremy beralih meremas kaos di punggung Arthur. Membuat Arthur tersadar dan menghentikan ciumannya. Arthur menarik wajahnya menjauh dari Jeremy yang kini menatapnya dengan pandangan bertanya.

"Kenapa?" tanya Jeremy polos.

"Tidak," gumam Arthur yang kini memalingkan wajahnya dari Jeremy dan pura-pura kembali sibuk dengan game-nya.

"Kau tadi menciumku, 'kan?" tanya Jeremy polos. "Aku tidak tahu kalau rasa ciuman akan seperti itu."

"Seperti apa?" tanya Arthur samar.

"Seperti cokelat. Arthur pasti sudah biasa melakukannya, ya?" Mata Jeremy menatap Arthur yang kini memunggunginya dengan wajah penasaran.

Jeremy tidak tahu, bahwa wajah pemuda tampan itu kini telah memerah sempurna. Arthur tak tahu harus kesal atau justru senang karena Jeremy telah berhenti menangis sekarang. Yang ia tahu, ia baru seja kehilangan ciuman pertamanya. Dan lucunya, ciuman pertamanya justru dengan sebuah robot!

"Kata Casey, ciuman itu tanda cinta. Apa itu artinya kau mencintaiku, Arthur?"

Dan Arthur tersedak ludahnya sendiri!

.

.

.

.

.

.

Arthur membuka pintu rumahnya dengan bunyi pelan.

Pemuda bersurai ikal itu baru pulang dari sekolahnya, salah satu Senior High School yang tidak jauh dari rumahnya dan hanya memerlukan lima belas menit perjalanan dengan mobil. Arthur memang berusaha menolak fasilitas mewah peninggalan orang tuanya minus mobil sport keluaran lama yang kini selalu menemaninya. Mobil itulah satu-satunya yang selalu menemaninya saat ia harus berpergian mengurus sesuatu, termasuk menemui Andrew —mengingat Andrew tidak suka kalau harus mengalah dan pergi jauh-jauh ke rumahnya. Dan bahkan sejak Arthur meneleponnya seminggu yang lalu—saat Jeremy datang—sang pengacara itu belum juga datang ke rumahnya. Membiarkan Arthur beralih menjadi baby sitter untuk android yang bahkan lebih tua darinya.

Sudah hampir petang sekarang.

Sepulang dari sekolah tadi Arthur memang sengaja mampir ke toko buku dan membeli beberapa buku untuk Jeremy. Tumpukan dongeng karya Hans Christian Andersen, Grimm Bruder, dan dongeng-dongeng lama lain dari Walt Disney kini ada di dadanya. Buku dongeng Jeremy sudah kumal, dan Arthur selalu mengenakan kaca mata bacanya untuk membaca tulisan yang mulai kabur dari buku kumal itu. Terlebih, ia ingin Jeremy mendengarkan dongeng lain. membaca cerita yang sama nyaris setiap malam, lama-lama membuat Arthur yang bertugas membacakan saja bosan. Tapi, ia tidak tahu dengan Jeremy. Android itu tidak bosan —mengingat itu satu-satunya bahan bakarnya, atau karena ia tidak punya dongeng lain.

Entahlah.

Bahkan Arthur juga merasa heran dengan dirinya sendiri yang mendadak begitu peduli dengan robot itu, sehingga membelikannya setumpuk buku seperti saat ini. Arthur mengangkat bahunya pasrah dan mencoba menghilangkan pikiran-pikiran bahwa ia mulai menerima keberadaan Jeremy di rumahnya. Toh yang bisa dilakukan robot itu hanya mengganggunya dan merusak harinya dengan tingkah polos dan kekanakannya.

"Jeremy?"

Ruang tamu terlihat lengang. Dan biasanya memang begitu.

Sedikit aneh memang Arthur mengharapkan ada yang tengah duduk di sana seraya meminum cokelat di cangkirnya dan memegang erat-erat bukunya. Menunggu Arthur membacakan isi cerita dari buku itu, yang nyaris Arthur hapal di luar kepala, perkalimat —bahkan letak titik dan tanda baca lainnya. Jeremy memang bisa membaca dan menulis, tapi sumber tenaganya adalah dibacakan, buka membaca sendiri.

"Jeremy?" Arthur mengulang panggilannya seraya berjalan menuju kamarnya. Arthur melarang Jeremy berada di dapur tanpa pengawasannya. Karena terakhir kali ia membiarkan hal itu adalah beberapa cangkir dan piringnya pecah. "Jeremy?"

Kamar miliknya yang didominasi warna biru itu kosong. Bantal dan selimut tertata rapi seperti tadi pagi saat ia meninggalkannya. Arthur cenderung kelewat santai —kalau tak ingin disebut pemalas. Tapi, ia cukup jeli dalam hal kerapian. Mengingat ia tinggal sendirian.

Arthur bergegas berbalik arah dan menuju dapur. Satu-satunya tempat yang belum dilihatnya sekaligus tempat yang sangat ditakutinya kalau saja Jeremy ada di dalamnya —dan entah sedang melakukan apa pada dapurnya.

"Apa yang kau lakukan?"

Sosok manis yang tengah berjongkok membelakangi Arthur itu terlonjak. Ia segera berbalik dan menemukan Arthur yang tengah memandangnya dengan wajah datar. Bola matanya bergerak-gerak menatap sekelilingnya yang kini sangat berantakan. Aura ketakutan terlihat jelas di wajahnya. Bahkan sudut matanya sudah mulai berair.

"Ma… maaf."

"Kau membuat dapurku hancur," ucap Arthur tajam.

"Ma–maaf. Karena Arthur tidak juga pulang, aku memasak makan malam."

Hati langsung Arthur luluh.

"Bodoh!"

Namun, ia terlalu angkuh untuk mengakuinya. Tak ada perubahan ekpresi berarti yang ditunjukkan pemuda berusia tujuh belas tahun itu. Hal yang seharusnya sangat manis, tapi berbalas dengan dapurnya yang kini kacau dan kelewat berantakan. Sudah berkali-kali, ia melarang pemuda android itu memasuki dapurnya, tanpa dirinya. Dan Jeremy berkali-kali pula melanggarnya. Namun tidak pernah seperti sekarang ini.

Dalam diam, Arthur meletakkan tumpukan buku Fairy Tale-nya dan bergegas mendekati Jeremy yang masih berjongkok. Tangannya terjulur ke arah android itu.

"Bangun!" perintah Arthur datar. Jeremy paham. Ia menautkan tangannya pada tangan Arthur yang segera menariknya berdiri.

Arthur melepas jemari dingin itu setelah dia berhasil berdiri dan mendahuluinya untuk berjalan ke meja makan.

Arthur tercenung di sisi meja. Ada sepiring steak —dengan ujung sedikit gosong— dan secangkir cokelat yang masih panas. Semua itu tertata di meja makan—yang anehnya masih rapi berbeda dengan keadaan dapurnya. Sepertinya Jeremy berusaha agar kekacauan yang dibuatnya tidak sampai ke meja makan. Lagi-lagi hati pemuda itu tersentuh. Sejenak ia melupakan kondisi dapurnya, dan mencoba menerima kebaikan yang Jeremy berikan. Walau tetap saja, wajahnya tak mendukung untuk mengucapkan perasaannya.

"Kau membuat ini untukku?" Retoris. Karena Jeremy bahkan tak memakan makanan yang sama dengannya. "Kenapa hanya ada satu?"

Arthur melirik cangkir cokelat yang hanya ada satu di atas meja.

"A–aku tidak punya te–tenaga lagi. Ma–maaf."

Arthur menghela napas pelan. Sudah ia duga akan seperti ini.

"Duduklah."

Jeremy dengan patuh segera mengambil kursi di depan Arthur yang segera melakukan hal yang sama. Tangannya bergerak mencari dongeng 'Hansel and Gretel' di sela tumpukan buku-buku yang baru dibelinya. Ia sedikit tidak tega melihat wajah Jeremy yang semakin pucat.

"Arthur membeli buku-buku baru?" tanya Jeremy yang menyadari Arthur tidak membuka buku kumal miliknya.

"Ya. Aku sudah tidak bisa membaca bukumu yang lama." Sebenarnya Arthur yang nyaris hafal bisa saja sedikit-sedikit mengingat isi buku lama itu.

"Arthur baik sekali. Tapi…." Jeremy menahan kata-katanya.

"Apa?" Arthur yang telah mendapatkan bukunya menatap android itu tajam.

"A–aku tidak yakin tenagaku akan terisi dengan dongeng-dongeng itu. Selama ini hanya dongeng 'Hansel and Gretel' yang memberiku tenaga," ucap Jeremy ragu. Ia sedikit takut, alasannya akan membuat Arthur yang telah susah payah membelikan buku-buku itu menjadi kecewa dan marah. Terlebih ini pertama kalinya Arthur bersikap di luar dugaan padanya.

Arthur tersenyum samar. "Kita tidak akan tahu sebelum mencoba."

"Ba–baiklah." Jeremy mengalah.

"Lalu dongeng apa yang ingin pertama kau dengarkan?"

"Cinderella!" teriak Jeremy mendadak antusias.

Arthur mengangguk bersemangat. Diletakkannya buku 'Hansel and Gretel' di tangannya dan digantinya dengan buku 'Cinderella'.

"—setelah itu Cinderella dan sang Pangeran hidup bahagia untuk selama-lamanya di istana." Arthur menutup bukunya dan menatap Jeremy yang kini kembali berseri-seri.

"Berhasil." Arthur nyaris bersorak karena senang. Ternyata ia berhasil dengan eksperimennya. Jeremy bisa bergerak dengan bahan bakar dongeng. Dan kali ini bermacam dongeng, tidak harus 'Hansel and Gretel' —yang telah membuat Arthur nyaris mati bosan.

"Arthur hebat," puji Jeremy tulus.

"Kau mau kemana?" Arthur mengabaikan pujian Jeremy dan memilih bertanya ketika sosok manis itu beranjak dari duduknya.

"Membuat cokelat."

"Tidak usah."

Jeremy memiringkan kepalanya. Tidak mengerti dengan alasan Arthur melarangnya.

"Kau bisa minum ini." Arthur menggeser cangkir berisi cokelat yang beruntung masih hangat itu mendekat ke arah Jeremy.

"Arthur tidak suka dengan cokelat buatanku?" Lagi-lagi sosok manis itu hampir terisak. Dan buru-buru sebelum sosok itu menangis Arthur menggelengkan kepalanya.

"Bukan. Bukan itu maksudku."

"Lalu?" Jeremy semakin tak mengerti.

Arthur mendadak menolak memandang wajah Jeremy dan memilih membuang muka ke samping.

"Ki–kita bisa minum cokelat dalam satu cangkir."

Dan rona merah menjalar dengan sempurna di wajah Arthur.

.

.

.

.

.

.

Bulan bersinar terang di hari ke-28 di bulan April.

Arthur yang sengaja membiarkan gorden jendela kamarnya terbuka, memberi akses pada cahaya untuk masuk ke dalamnya. Cahaya bulan dari jendela menjadi satu-satunya cahaya dalam kamar yang dibiarkan remang tanpa ada lampu yang menyala —bahkan lampu tidur di sisi tempat tidurnya.

Seharusnya Arthur tertidur sejak tadi. Saat ini entah sudah pukul berapa. Tapi sosok yang tengah bergelung di sampingnya —dalam satu selimut yang sama, membuatnya menahan keinginannya untuk tidur lebih dulu. Sosok itu Jeremy, yang entah kenapa tidak juga tidur sejak mereka selesai makan malam tadi.

"Kau belum bisa tidur juga?" Arthur bertanya seraya mencoba menyembunyikan kuapnya.

"Belum." Jeremy yang semula menyamping membelakangi Arthur berbalik mengubah posisinya dan telentang. Menyamakan posisi dengan Arthur, hanya saja kalau Arthur tengah bersandar pada kepala tempat tidur dengan beberapa bantal menahan punggungya.

"Kenapa kau suka dongeng?"

"Karena dongeng bahagia."

"Tapi hidup sebenarnya tak selalu berakhir bahagia."

"Karena itulah aku menyukai dongeng. Jika hidupku tak bahagia, setidaknya aku hidup dari dongeng yang berakhir bahagia."

Arthur terdiam. Memikirkan kata-kata Jeremy barusan. Kata-kata yang seolah tanpa beban. Berbeda dengan pemikirannya selama ini. Baginya kebahagian tak ada di akhir dan hanya singgah sekejap dalam hidupnya. Kehidupan lebih suka membagi kesendirian untuknya.

Tapi kesendirian yang selalu bersamanya mendadak hilang sejak kedatangan sosok yang meminta untuk selalu tidur di sisinya karena katanya ketakutan saat sendirian. Karena memang tidak ada ruang tidur lain di rumahnya, Arthur mengizinkan. Walau Jeremy hanya robot atau android, Arthur tidak bisa setega itu padanya.

Entah kenapa.

Sejak kedatangan sosok polos itu beberapa hari, Arthur seolah mendapatkan kembali senyumnya. Tak ayal ia mulai terbiasa dengan sosok yang sering menghancurkan dapurnya dan menunggunya di ruang depan dengan buku di tangan serta secangkir cokelat hangat. Dulu, samar-samar Arthur mengharap agar cangkirnya tak sendirian. Tapi kini ia justru lebih suka cangkirnya tetap sendirian, hanya saja ada dua bibir yang menyesapnya dari tempat yang kadang sama.

"Terima kasih," ucap Jeremy tiba-tiba. Arthur bangkit dari lamunan panjangnya.

"Untuk apa?"

"Karena Arthur membuatku bahagia," ucap Jeremy tulus.

"Bodoh." Arthur bukannya tak senang dengan ucapan sosok di sisinya. Hanya saja, ia yang berwatak tsundere—bahkan terhadap sosok robot—mencoba menyembunyikan perasaan bahagianya karena ucapan jujur Jeremy barusan.

"Arthur…" panggil Jeremy lagi.

"Hm?"

"Ma–maukah kau memelukku?"

Mata Arthur membulat sempurna. Belum sempat ia membalas ucapan Jeremy, robot itu sudah melanjutkan kata-katanya.

"I–itu akan membantuku lebih cepat tidur. Ta–tapi kalau Arthur tidak mau, tidak apa-apa kok." Jeremy kembali memunggungi Arthur.

Cukup lama keheningan mengalun di antara mereka. Bahkan Arthur seolah bisa mendengar detak jantungnya sendiri. Sementara Jeremy? Android itu tengah mencengkram ujung selimut di dadanya erat-erat. Takut bahwa Arthur akan marah mendengar permintaan anehnya barusan.

"Tidurlah." Terdengar gemeresek pelan saat Arthur mengubah posisinya menjadi menghadap ke arah Jeremy yang memunggunginya. Jeremy seakan terlonjak saat tangan Arthur memeluk pinggangnya dan berhenti di perutnya. Sementara tangan satunya mengelus surai hitamnya lembut.

Jeremy mendengar detak jantung Arthur yang kini tengah memeluknya erat. Ia suka dengan detak itu. Sama halnya dengan Arthur yang menyurukkan kepalanya ke perpotongan leher Jeremy dan menghirup aroma manis cokelat dari tubuh Jeremy, ia langsung menyukai aroma itu.

"Tidurlah," gumam Arthur tepat di telinga Jeremy, sebelum mata keduanya terpejam dengan rona merah yang lagi-lagi menjalar. Yang beruntung tersamarkan suasana remang kamar.

Arthur mulai berpikir, ada Jeremy di rumahnya tidaklah terlalu buruk.

.

.

.

.

.

.

"—aku akan membunuhmu di kantormu jika kau meneleponku pagi-pagi hanya untuk membicarakan sesuatu yang tidak penting!" Arthur bergerak menyingkirkan selimut yang membungkus tubuhnya dan tubuh robot di sebelahnya, ia berbicara setengah berbisik kepada laki-laki di line seberang, berusaha agar robot polos itu tidak terbangun karena suaranya. Setelah merapikan selimut yang kini di dominasi Jeremy, Arthur menjauh dan membawa ponselnya keluar menuju balkon yang terletak di sisi kamarnya. Angin yang kelewat dingin membelai kulit pucat Arthur, bertambah dengan lantai kayu kecoklatan berembun yang dipijaknya juga menambah dingin di telapak-telapak kakinya.

Ia baru saja menikmati separuh tidurnya setelah semalam sering terbangun karena mimpi buruk. Ia nyaris menyumpah-nyumpah ketikan ia terbangun tengah malam dan tidak bisa melakukan apa-apa karena Jeremy yang memeluknya erat—alih-alih ia yang memeluk Jeremy seperti saat awal mereka tertidur— dan Arthur sangat membenci terbangun tengah malam, membuatnya merasa terjebak dalam dimensi asing yang menakutkan. Entah sejak kenapa sejak kehadiran Jeremy, ia lebih sering terbangun dan dihantui mimpi buruk. Tapi, otaknya yang mencoba rasional menganggap dirinya hanya kelelahan atau stress karena sosok Jeremy.

"Arthur? Kau masih di sana?" Suara pria di seberang kembali menyadarkannya.

"Ya, ya, ya. Aku mendengarkan."

"Kupikir kau kembali tertidur, Tuan Besar."

Arthur mendengus mendengar olokan yang menurutnya sangat membosankan dan tidak lucu itu.

"Lebih baik kau segera berbicara ke intinya, Tuan Choi. Sepuluh menit lagi aku harus bersiap-siap ke sekolah."

"Okay, I know. Aku hanya ingin memberitahumu bahwa—kau harus berhati-hati."

Alis Arthur bertaut. "Untuk informasimu, aku selalu berhati-hati, Tuan Choi."

"Lebih berhati-hati dan waspada maksudku—dan berhentilah memanggilku 'Tuan Choi', Arthur Frederick Ivanovich."

"Jangan panggil aku dengan nama itu, Andrew," bisik Arthur berbahaya.

"Aku tahu. Maaf soal itu. Hanya saja…." Andrew terdiam untuk beberapa saat. "—apa yang akan kau katakan kepadamu sekarang berhubungan dengan namamu itu."

"Aku kurang mengerti."

"Dengarkan aku baik-baik. Seseorang yang mengetahui nama dan identitas aslimu berniat membunuhmu. Aku tidak tahu cara apa yang akan mereka gunakan, aku sedang menyelidikinya dan kemungkinan dia tidak sendirian. Selain itu berhati-hatilah dengan Jeremy."

"Tunggu! Apa maksudmu berhati-hati dengan robot payah itu?"

"Berhati-hatikah dengan Jeremy. ia bukan robot payah. Dia adalah android cerdas. Dan kemungkinan di adalah sebuah 'Angel's Project'."

"A-Angel's Project?"

"Ya. sebuah proyek untuk—!"

"Arthur!"

Deg.

Arthur terlonjak. Tubuh itu berputar seratus delapan puluh derajat dan menemukan sosok yang kini berdiri dengan tatapan kosong dari sepasang caramel-nya. Mendadak Arthur merasakan atmosfer berubah drastis, suara Andrew di seberang menghilang, sesaat yang ada di antara mereka hanyalah keheningan yang menusuk. Arthur merasakan cairan garam yang perlahan memaksa keluar dari tubuhnya saat Jeremy berjalan mendekat ke arahnya dan menyeruak di tengah tirai keheningan. Jeremy berjalan lurus tanpa melepas kontak mata dengannya. Di sela-sela keheningan yang mengerikan ini, Arthur samar mendengar Jeremy menyerukan sebuah kata.

Je… dois… vous… tuer… Arthur Frederick Ivanovich...

.

.

.

.

.

.

BERSAMBUNG...