Jam sudah menunjukkan pukul dua siang.

Saat di mana sang mentari menampakkan keangkuhannya untuk membagi sinarnya pada makhluk-makhluk yang terengah mencoba mendetakkan jantung-jantung mereka mengejar sang waktu di bawahnya. Seorang pemuda bernama Jerome Frederick, —ia dikenal sebagai Jeremy di universitasnya berjalan tergesa menuju suatu tempat.

Tak lain adalah sebuah apartment kumuh di salah satu sisi jalan menuju rumahnya.

"Kau sudah makan?" Jeremy bertanya pada pemuda yang tengah berdiri di sisi jendela. Matanya sibuk mengamati keadaan luar, seolah ia takut ada mata-mata yang tengah melihatnya.

"Arthur!" panggil Jeremy lebih keras.

"What?" jawab pemuda bernama Arthur itu seraya menatap Jeremy tajam.

"Kau sudah makan?" Jeremy mengulang pertanyaannya.

"Sudah," jawab Arthur singkat. Pemuda itu beranjak menuju tempat tidur kecil di samping rak tinggi yang menyimpan banyak koleksi komiknya.

"Aku tak melihat sisa makanan di sini?!" ujar Jeremy memutar tubuhnya ke arah Arthur.

"Hm," gumam Arthur tidak jelas.

Jeremy meraih satu komik dan membawanya mendekat ke arah Arthur di saat pemuda itu bangkit dan berjalan ke arah rak.

Arthur berjinjit untuk mengambil komik di rak paling tinggi. Gagal.

Jeremy melirik dari sela komiknya dan tertawa samar.

"Yak! Jangan tertawa! Bantu aku!" Arthur menatap Jeremy kesal.

"Ok, ok!" Jeremy bangkit dan berjalan mendekat. Jemarinya yang kecil terjulur dan meraih komik itu dengan mudah.

"Nah, serahkan padaku!"

"Tidak," tolak Jeremy seraya tersenyum misterius.

"Kok?" Arthur membulatkan matanya.

"Beri aku sesuatu sebagai tanda terima kasih."

"Apa?"

"Terserah."

"Yak! Apa, Jerome?" Arthur mulai terlihat agak kesal.

"Bagaimana kalau, —!" Jeremy memajukan pipinya dan menyembunyikan komik Naruto di balik punggungnya. "—sebuah ciuman, hm?"

Rona merah menjalar di wajah manis itu.

"Hell no," tolak Arthur.

"Kau yakin?" Jeremy menggoda.

'Chu.'

Satu kecupan kilat mendarat di wajah Jeremy disertai tangan Arthur yang merebut komik dengan cepat. Jeremy tersenyum lembut dan membiarkan pemuda manis itu menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur dengan tawa kemenangan.

"Lain kali aku harus meninggikan rak ini," gumam Jeremy seraya mengusap-usap dagunya.

Senja jatuh di kaki langit.

Meringkuk, seolah enggan tergantikan malam yang akan menutup dengan kegelapan. Langkah kaki itu menapak teratur di sepanjang jalan menuju rumahnya. Langkah kaki milik Jeremy. Beberapa rumah dan bangunan apartment di sisi jalan mulai menyalakan lampu mereka. Memberi cahaya pada Jeremy yang melangkah santai, seolah tak takut akan waktu atau malam yang berlomba mengejarnya.

'Pluk.' Mendadak sebuah komik tergeletak di depannya.

Jeremy berhenti dan membungkuk untuk memungut benda mungil itu.

Komik shounen*. Jeremy kembali tegak dan matanya menatap sekeliling. Tidak mungkin komik ini jatuh dari langit.

"Hei!" Terdengar sebuah suara memanggilnya. Pemuda itu menoleh sekitar, dan tak menemukan siapa pun di jalanan yang lengang di sekitarnya.

"Siapa?" Bulu kuduk Jeremy mulai meremang.

Tak ada jawaban berarti. Hanya ada tawa keras, yang terdengar seperti tawa seorang pemuda.

"Siapa?" teriak Jeremy semakin keras.

"Di atas sini!" jawab suara yang barusan tertawa tadi. Jeremy mendongak dan menemukan sebuah jendela apartment yang terbuka lebar, dengan seorang pemuda yang tengah berada di dalam sebuah kamar. Pemuda itu tertawa lebar seraya melambai ke arah Jeremy.

'Manis.' Itulah kesan pertama seorang Jeremy untuk seorang pemuda yang ditemuinya di saat senja.

Jeremy menuruni tangga rumahnya dengan berlari, sehingga nyaris menabrak sang adik, Jack yang tengah berjalan menuju lantai dua.

"Kenapa kau seperti dikejar hantu?"

"Sorry, Jack, aku buru-buru," ucapnya dengan wajah tanpa dosa.

"Hati-hati dong!"

"Ya, ya. Sorry, Jackie."

Jack tak peduli dan melanjutkan langkahnya.

"Jackie!" panggil Jeremy pada Jack yang sudah berada dua anak tangga di atasnya.

"Huh?"

"Di bawah ada siapa?"

"Tidak ada siapa-siapa. Mom dan Dad sedang di café," terang Jack.

"Sampaikan salamku untuk mereka kalau begitu," ucap Jeremy seraya melanjutkan langkah.

"Jeremy!" Kali ini Jack yang memanggil. Membuat Jeremy berhenti di atas anak tangga paling bawah.

"Ya?" Jeremy mendongak.

"Kau mau kemana?"

"Ke tempat Arthur," jawab Jeremy singkat. "Kau mau ikut?"

"…."

"Hei, Jack! Kau mau ikut tidak?" tanya Jeremy jengkel.

"T—tidak. Aku harus membantu mom," ucap Jack seolah tersadar.

Jeremy mengangguk dan kali ini benar-benar melanjutkan langkahnya tanpa interupsi dari sang adik.

Arthur baru sebentar melihat komik itu, dan Jeremy ternyata sudah berada di sampingnya.

"Suka komik itu?"

"Ya."

" Kenapa?"

"Ceritanya menarik."

"Kau pemuda yang menarik, Arthur."

"Eh?"

"Kau manis seperti tokoh dalam komik-komik."

"Yak, enak saja, aku pemuda. Uhm...itu pujian? Masih banyak pemuda yang lebih menarik."

Jeremy hanya tersenyum, dan perlahan tangannya menyibakkan helaian rambut di telinga Arthur, bibirnya mendekat… membiarkan Arthur seolah berhenti bernapas menunggu apa yang akan dia lakukan….

Bibirnya semakin mendekat, dan... dia berbisik pelan, "Tapi, kau berbeda, Baby… Kau—!"

Arthur menahan napas saat Jeremy meniup telianganya dengan seduktif. "—lebih menarik."

Kata-kata itu sukses membuat wajah manis Arthur bengong dan memerah, sementara Jeremy segera menarik wajahnya dan tersenyum jahil sambil melanjutkan kegiatannya melihat komik-komik itu.

Seolah tak berdosa membuat seorang Arthur seperti ini.

"Arthur …."

"Hm."

"Arthur…."

"Ya?"

"Arthur…."

"Ada apa, Jerome?"

"Hanya mengetes telingamu kok," jawab Jeremy cuek.

"Kau i—!" Arthur berbalik dan langsung menemukan tubuh Jeremy yang tengah berdiri di belakangnya.

"Aku apa?" Tangan Jeremy terjulur dan meraih komik di tangan Arthur yang baru saja nyaris ia lempar karena kesal.

"Ti—tidak jadi," ujar Arthur gugup seraya memalingkan wajahnya.

Jeremy menyeringai menatap pemuda di depannya. Wajahnya mendekat, dilemparkannya komik itu sembarang, dan ia bergerak untuk menangkup pipi Arthur dengan kedua tangannya.

Kedua permata kelam itu saling bertemu.

Caramel dan obsidian saling menatap beberapa saat, terdiam dalam dimensi sepersekian detik.

Berpendar dalam satu titik cahaya yang menyilaukan keduanya.

Jeremy menunduk, menyentuhkan dahinya pada dahi Arthur.

Membiarkan napas mereka beradu pelan.

Arthur bereaksi, pemuda itu melingkarkan tangannya dan mulai memejamkan lautan caramel kelamnya. Jemarinya mencengkram erat kemeja Jeremy, —nyaris meremas punggung sang pemuda di depannya. Sementara jantungnya berdetak berkali lipat lebih cepat. Arthur menyadari bahwa jantungnya tak berdetak sendiri. Dalam keheningan bumi yang seoalah berhenti berotasi, ia mendengar detak jantungnya sendiri dan detak jantung lelaki di depannya. Bergemuruh, seolah bisa menghancurkan apartment tempat mereka berada hanya dengan detakannya. Arthur menunggu dengan tak sabar, adegan selanjutnya seolah berjalan begitu lama.

"I love you," bisik Jeremy pelan.

Arthur terdiam.

Pemuda itu segera membuka matanya dan menemukan Jeremy yang kini telah berdiri memunggunginya.

Terdiam, tanpa suara.

"Dia belum pulang?" Mr. Frederick menatap sang putra bungsu, Jack yang tengah mengelap gelas di depannya. Jack menggeleng sebagai jawaban.

"Kau pernah mencoba mengikutinya?" lanjut Mr. Frederick lagi.

Jack terdiam, pemuda itu meletakkan gelasnya dan termenung, melempar tatapan nanar pada sang ayah.

"Aku tidak tega, Dad," ucap Jack nyaris seperti bisikan. "Setiap aku sampai di depan pintu apartment, rasa-rasanya aku tak punya kekuatan untuk masuk."

"Aku mengerti," jawab sang ayah lirih.

"Aku tidak tega merusak tawa yang akhirnya Jeremy dapatkan." Jack pelan. Ada sakit yang sama-sama ayah-anak itu rasakan melihat sikap Jeremy.

"Tapi mau tak mau kita harus menyadarkannya, Jackie. Walau itu berat. Kenyataan memang sering menyakitkan. Dan kurasa itu lebih baik, daripada ilusi manis yang terus-terusan dirasakan," ucap sang ayah bijak.

"Tapi, kata dokter, Jeremy tidak… tidak…" Jack membenamkan wajahnya dalam-dalam ke lipatan tangannya di atas meja. Mulai terisak pelan. Sebuah isakan yang membuatnya tak mampu meneruskan kata-katanya.

.

.

.

.

.

.

"Ya, anak itu memang sering sekali datang ke apartment ini. Dia mengunjungi kamar nomor tiga belas secara konstan," terang sang pemilik apartment yang tengah berjalan diikuti Jack dan Mr. Frederick di belakangnya. "Sebenarnya saya tahu ini dari pemilik kamar-kamar di sampingnya. Karena saya rasa Jeremy tidak membuat masalah, saya tidak pernah menegurnya sejauh ini."

Pintu-pintu kamar tertutup rapat sepanjang langkah tiga orang itu menapak di atas lantai di depan pintu. Lorong yang hanya diterangi lampu neon itu redup, bahkan saat waktu siang sekalipun. Sama seperti saat ini. Di luar, matahari begitu ganas, tapi di dalam lorong terlihat temaram. Lorong terbungkus kamar-kamar yang dibangun secara permanen.

"Lalu apa masalah sebenarnya?" tanya Mr. Frederick.

Pemilik apartment yang merupakan seorang wanita cantik bernama Casey itu tersenyum. Tubuh semampainya akhirnya mengajak dua tamunya berhenti di depan sebuah pintu bernomor tiga belas.

"Masalahnya—"

Jemari lentik Casey memasukkan sebuh kunci dan memutar kenop pintu kusam di depannya.

"—kamar ini kosong."

.

.

.

.

.

"Saya tidak menyewakan kamar ini sejak tiga belas tahun yang lalu. Kamar ini telah kosong selama bertahun-tahun."

.

"Dokter bilang, Jeremy sudah tidak bisa disembuhkan. Dokter-dokter itu sudah menyerah."

.

"Arthur, aku datang lagi. I love you."

.

"I love you too, Jeremy."

.

.

.

.

.

.

SELESAI...