Ilusi
Chapter 1: Sebuah Perkenalan


Cahaya kuning dari matahari yang mulai terbenam menyorot ruang demi ruang di sekolah. Sebuah siluet seseorang tercitra di dinding, sedang fokus pada benda hitam kecil di hadapannya, di sebuah ruangan. Tak menghiraukan sapaan "sampai jumpa lagi" dari matahari yang masih mengintipnya dari kejauhan.

Pintu dibuka. "Belum pulang, Zie?"

Pikirannya teralih. Kenzie—lelaki yang dipanggil itu—menoleh ke arah pintu. Seorang gadis berusia sebaya dengannya kini muncul di hadapannya.

"Belum," jawabnya, "masih menyiapkan presentasi untuk penyambutan besok."

"Kamu selalu begitu ya, kalau kerjaan belum beres," sesal gadis itu. "Pasti kamu belum makan siang, kan?"

Sekarang Kenzie mengerti perasaan aneh apa yang dari tadi menggelitik perutnya. Ia tersadar. Ia sudah di ruang IT sedari siang hari tanpa makanan sedikit pun masuk ke perutnya. Membiarkan lambungnya meronta, membiarkan ususnya mengkerut. Lesu. Sementara gadis itu melihat wajah Kenzie yang khas ketika diingatkan makan. Ia pasti belum makan, pikirnya.

"Nih, aku bawa makanan," katanya. "Nasi burger kesukaanmu."

"Danke1, Mila," jawabnya. "Du hast mich gerettet2."

"Cih, mau pamer bahasa Jerman, nih," cibirnya. "Douitashimasite. Sore wa tada hon no sukoshi no tasuke desu3."

Kenzie tersenyum simpul, lalu menerima kotak yang disodorkan Mila. Membukanya perlahan. Dan wangi daging beef langsung menyeruak masuk ke indera penciumannya. Membangkitkan selera. Asap masih mengepul di sana.

"Kamu udah makan belum, La?" tanya Kenzie, diiringi anggukan kecil dari Mila. Ia membuka bungkus sambal, menuangkannya ke atas daging beef yang sudah dilumuri mayonaisse, lalu dimakannya. Sementara Mila berdiri di sampingnya, melihat-lihat hasil pekerjaannya.

"Ini detail perjalanan studi banding anak-anak Kuningan itu," kata Mila, sambil mendekatkan layar ponselnya ke layar laptop Kenzie. Digesernya sebuah file dari desktop ponselnya, ditarik dengan jarinya ke layar laptop, dan file itu terbuka di layar. "Mereka akan berada satu minggu di sini. Urusanmu nanti melayani anak-anak yang ada di bidang IT juga," jelasnya. "Kau harus menjelaskan dengan baik mengenai sistem IT kita, terus juga kalau mereka minta jalan-jalan, kau yang mengantar. Intinya, dua orang itu nanti di sini menjadi tanggung jawabmu."

"Siap, bos," kata Kenzie, masih dengan mulut yang penuh.

Mila melihat sekeliling. Kenzie memang sangat addicted dengan yang namanya komputer. Sekolah menangkap jelas potensinya itu dengan menawarinya mengurusi sistem IT. Tentu, ia bersemangat, dan langsung menyetujuinya. Setelahnya, ruangan inilah tempatnya sehari-hari—kalau tidak di kantin atau ruang guru.

Sebuah rak berdiri tegak tak jauh dari tempatnya berdiri itu. Di rak itu, tersusun rapih komputer-komputer server dengan lampu yang berkelap-kelip tanpa henti. Sebuah mesin pendingin bekerja keras mendinginkan ruangan yang panas karena kerja komputer itu. Di sampingnya, tepat di hadapan Kenzie, terpasang sebuah TV yang berubah fungsi menjadi layar monitor. Kenzie yang membuat programnya sendiri. Dengannya, Kenzie bisa mudah mengetahui bila salah satu sistem tidak berjalan baik.

"Sudah," kata Kenzie, mengakhiri ritual sakralnya sambil menutup kotak makannya. "Yuk, pulang?"

"Ayo."

Kenzie mematikan laptopnya, memasukkannya ke tas, lalu pergi begitu saja. Sementara Mila yang berniat membantu membereskan semuanya—mematikan komputer, atau setidaknya mematikan lampu ruangan—keheranan dan mengejar Kenzie.

"Zie, itu belum dimatiin lampunya? Belum dikunci pintunya?"

"Oh," Kenzie berhenti, lalu tersenyum. "Belum tahu, ya?"

Ia mengeluarkan ponselnya, lalu membuka sebuah aplikasi. Ditekannya gambar gembok di layarnya, lalu tiba-tiba lampu ruangan itu mati, dan pintunya tertutup sendiri.

"Ada yang kelupaan?" tanyanya, lalu berjalan meninggalkan Mila yang masih terkagum-kagum di belakangnya.


Ngiing. Ngiing. Ngiing. Ngiing.

Ponsel Kenzie berbunyi nyaring. Tidak terlalu keras, tapi cukup ampuh membangunkan orang dengan suara frekuensi tinggi seperti itu. Sang pemilik mulai terbangun, lalu mencari-cari ponselnya itu, sementara kesadarannya belum pulih benar.

Dilihatnya layar ponselnya. Tiga soal matematika siap untuk dikerjakan Kenzie supaya alarm itu bisa mati. Kurang dari 30 detik, soal-soal itu bisa ia kerjakan, dan alarm pun akhirnya mati. Sementara Kenzie meletakkan ponselnya di samping kepalanya, dan...

Kembali tidur.


"AAAAAAAH!"

Kenzie panik melihat jam yang tergantung di dinding kamarnya. Jam 6.15. Ia belum mandi, belum makan, belum menyiapkan buku. Sementara jam 6.30 bel sekolah sudah berbunyi. Ia sangat menyesali dirinya yang tertidur lagi setelah alarm berbunyi tadi pagi. Melompatlah ia dari tempat tidurnya, memasukkan roti ke pemanggang, lalu tanpa pikir panjang ia masuk kamar mandi dan mengguyur dirinya yang masih berpakaian itu dengan air.

Splasssh...!

Keluar dari kamar mandi dan mengganti bajunya, ia pun disuguhkan dengan roti yang overcooked—susah dibedakan dengan balok hitam kecil. Sementara perutnya minta diisi. Akhirnya, disantap juga roti gosong itu.

Oke, kesialan apa lagi yang akan menimpaku hari ini, pikir Kenzie.

Rumahnya sebenarnya tidak terlalu jauh dari sekolah. Hanya saja, jam-jam segini adalah jam sibuk di jalan raya. Orang tua yang mengantar anak berebutan jalan dengan karyawan kantor, dan dengan supir angkot yang menunggu penumpang yang masih berjalan nun jauh di sana—sementara kemacetan yang ia timbulkan sudah lebih panjang dari itu.

Benar saja. Ia melihat mobil-mobil bertumpuk, saling mengklakson, di jalan raya.

Ia lihat jam tangannya. 4 menit lagi masuk. Ia pasti sudah terlambat. Tapi ya masa' mau terlambat berlarut-larut?

Akhirnya ia memutuskan berlari. Menyelinap di sela-sela ruang antara mobil dan motor, memang membuatnya lelah, apalagi laptop di tasnya semakin menambah berat beban. Meski begitu, bila teringat sosok pak Yana berdiri di depan gerbang sambil memegang batang bambu, rasanya lebih baik terus berlari daripada harus dihukum olehnya...

Gerbang sekolah mulai terlihat. Ia lirik jam tangannya. Bagus! Masih ada waktu setengah menit lagi. Inilah 30 detik yang menentukan...

Ia berlari kencang, bersiap berbelok ke arah gerbang, ketika tiba-tiba dari belakang, sebuah bus hampir menabraknya, lalu mendadak berhenti dan mengklakson keras-keras, diikuti sorakan orang-orang di sekitarnya.

Nggak lihat aku hampir terlambat, apa?

Kenzie tidak mempedulikan bis itu—ia terus berlari hingga akhirnya masuk juga ia ke dalam sekolah. Tepat setelahnya, bel sekolah berbunyi.

Ia bernafas lega. Namun seiring masuknya oksigen dari hidungnya, tiba-tiba ia merasa tenggorokannya kering. Keriiiing sekali. Ia menggaruk-garuk gatal tenggorokannya, lalu tanpa sadar mencekiknya. Ia bergerak liar, lalu tiba-tiba roboh. Dari kejauhan, tampak Mila berlari menghampirinya, panik, diikuti beberapa petugas UKS.

Sementara bis itu turut masuk ke gerbang sekolah, dan melihat kejadian tadi, sontak penumpang di dalamnya melihat ke luar melalui kaca, penasaran.

Sepasang mata menatapnya sedih...


"Padahal, kamu nggak perlu berlari-lari begitu, Zie... aku kan sudah menunggu di depan sambil membawa surat tugasmu..."

Kenzie menenggak botol minum ketiga dari lima botol yang disediakan di atas meja. Sementara Mila berdiri di hadapannya, membetulkan pakaiannya, dan memakaikan dasi dan seragam OSIS untuknya.

"Cuci muka dulu sana, lalu kita ke aula. Rombongan sudah datang."

Kenzie menurut—dengan susah payah berjalan ke wastafel dengan dipapah oleh Mila, mencuci mukanya, membasahi rambutnya dan menyisirnya dengan sisir putih kecil yang selalu ia bawa di saku belakang celananya. Lalu berjalan ke aula.

Terlihat para peserta studi banding itu sudah bersama pendampingnya masing-masing, sementara di aula tersisa tinggal beberapa orang lagi. Mila dan Kenzie berjalan menuju tempat Fahri, sang ketua OSIS, duduk bersama ketua MPK, Faris. Karena memang saudara kembar, sekilas wajah mereka sulit dibedakan.

"Ini dia, Kenzie, yang mengurusi IT di sekolah kami," Faris memperkenalkan Kenzie kepada dua orang gadis berkerudung yang menatapnya. Salah seorang di antara mereka terkejut, mengingat kejadian tadi pagi.

"Halo," sapa Kenzie sambil mengulurkan tangannya, disambut oleh kedua gadis itu. "Saya Kenzie Kayana. Saya bukan anggota OSIS atau MPK, tapi saya di Divisi Pengembangan IT. Salam kenal."

"Salam kenal," jawab keduanya. "Namaku Okta. Aku ketua sekbid IT," lanjut salah seorang di antara mereka. "Aku Risma. Kalau aku anggota sekbid IT," kata satunya lagi, seorang gadis berkerudung dan berkacamata.

Kenzie menatap gadis itu dan terdiam. Risma?

Setengah sadar, nama itu membangkitkan memori yang telah ia kubur dalam-dalam di relung hatinya...


Bersambung...

Udah lama nggak nulis cerita lagi. Mental blocknya bener-bener kerasa, tapi mudah-mudahan chapter 1 ini memuaskan... :-D

Mind to comment, please?


1Terima kasih.

2Kau menyelamatkanku.

3Sama-sama. Itu hanya bantuan kecil.