Sebelumnya saya mau minta maaf, kalo "Inoguchi!" karya pertama saya di batalkan, karna cerita itu di buat gak pake plot dan kecerobohan saya, huhuhu gomen, dan maaf juga, kalo cerita ini kesannya kayak fanfict.. soalnya udah keseringan baca fanfict nih, jadi ga bisa lepas (heh?) yaudah, sekarang mulai ya ^w^!

Gomen kalo nggak jelas v(_ _)v

Lalu bagaimana dengan cerita *Be Yourself and People Will See You*? hmm, karna YANG TERDENGAR, cpu saya mendapat kesalahan di luar ingatan (?) sehingga waktu di perbaiki, terus di kembalikan ke saya, data saya ilang semua! ini nyata! nggaknon fiksi! karna itu mohon kesabarannya! benar-benar gomen! ceroboh banget nih orang! TT^TT

"Your Tearsdrop"

"AKU INGIN MATI"

DHEG.

ADIK KECIL

CHAPTER 1

"Jangan bikin kaget dong," kataku yang mendengar ucapan yang kuanggap main-main, yup, ucapan Ichira kecil, anak yang masih 4 tahun. Aku masih belum menganggap semuanya serius, sampai si kecil itu mengambil pecahan kaca yang baru saja kupecahkan karna kaget. Baru itu kuanggap serius.

"Jangan Ichira!" teriakku sambil mengambil pecahan beling di tangannya yang telah melukai jari-jari kecil itu. "BODOH! Kau mau mati!"

"Iya, nii-chan.. kan sudah kubilang tadi, 'aku ingin mati'," jawabnya. Aku hanya mendengus, memang anak ini bukan adikku yang sebenarnya. Dia hanya anak titipan pamanku, aku tidak tahu apa yang terjadi sehingga anak ini begitu murung seperti ini, padahal baru 4 tahun.

Nih, anak, bener-bener deh.. apa yang harus kulakukan yah, biar anak ini tidak seperti ini, suram. Ya masa kecil kurang bahagia.

"Nii.. nii, balikin kacanya..." mohon ichira, ukh wajahnya memang terlalu manis, tapi aku tak bisa membiarkannya!

"Nggak ichira! Nii nggak akan membiarkanmu melukai dirimu sendiri..." kataku sambil melihatnya, memelas, hahaha.

Ichira terlihat sedih, tapi dia pasti punya akal lain, aku tak akan memalingkan tatapanku, harus menjaganya dari segalanya. Repot, tapi dia anak yang sering terlukai, apa boleh buat, pikirku.

BRUK. Terdengar suara jatuh, aku menoleh, penasaran.

"Apa yang kau lakukan ichira! GILA YA!" jawabku sembari teriak-teriak. Tentu saja, melihatnya terjatuh dengan darah mengalir di tangannya, ternyata dia mengambil pecahan lain.

Setengah sadar ichira bergumam, "Ma..ma.."

Aku yang mendengarnya hancur seketika, mama yang telah membuat dirinya sakit, tapi ia tetap mencari mamanya, ya bagaimanapun mereka masih satu darah.

Aku segera membopong ichira dan membaringkannya di kasur, membalut tangannya dengan perban. Untungnya aku tinggal sendiri disini, di kost kost an ini, jadi lebih leluasa.

Aku memegang keningnya, panas, itu yang kurasakan saat memegangnya. Sedangkan kalau memegang kakinya, terasa dingin, seperti membeku.

"BAKA..." kataku sambil mengompresnya dengan handuk basah.

Malam harinya, aku sedang membuat pr, karna besok sekolah.

"mmh,"

Aku mendekati ichira yang menggumam.

"Ichira, kamu baik-baik saja? Udah mendingan?" tanyaku.

"Nii..."

"Ya?"

"Aku, mau.."

"Mau apaan?"

"SEKOLAH!"

"HAH! Kamu ini kenapa ichira..." tanyaku melihat ichira.

Setelah bangun ichira jadi aneh?

"Nii, Ichira mau sekolah, sekolah, SEKOLAH!" teriaknya mati-matian. Aku hanya menatapnya kaget.

TOKTOK

Suara pintu berbunyi, aku segera membukakan pintu, bersama ichira yang masih memeluk kakiku.

"Ada apa ya?" tanyaku kaget melihat segerombolan orang datang. Mereka memakai jas warna hitam dan juga kacamata hitam yang lebay.

"Maaf mengganggu, tapi kami disuruh agar anda menjadi pewaris utama keluarga nichijou," katanya, sedangkan aku hanya menganga tak percaya.

"Tid, tidak mungkin! Bagaimana bisa!" teriakku.

"Ini, lihat, di keterangan sudah menyebutkan kalau kau pewaris utama, dan kau harus ikut kami," jelasnya, tapi aku masih tak mengerti? Sedangkan Ichira menatap ketakutan.

"Baiklah, tapi bagaimana dengan anak ini?" kataku sambil menggendong ichira kepelukkanku.

"Kau, boleh merawatnya, tapi anda harus ikut dengan kami,"

Aku hanya pasrah, baiklah, lagi pula... mungkin.. ada sesuatu? Apakah aku bisa bertemu orangtuaku di rumah itu?

BERSAMBUNG...

Author : Minami Chëlyz-Xc & Clarissa Lius