Bertahun-tahun yang lalu.

Saat Dia baru saja menciptakan surga dan neraka. Saat surga dan neraka masih kosong tak berpenghuni.

Dia memberi tugas pada Rafael ntuk mengambil nyawa para calon penghuni tempat itu. Rafael pun melaksanakan tugasnya. Tak lama hadirlah di hadapan-Nya dua jiwa dari mereka yang disebut Deather.

Dia melihat tingkah mereka selama di dunia dan akhirnya memutuskan bahwa satu dari mereka yang membawa cahaya putih akan ditempatkan di surga dan menjadi penghuni surga yang pertama kalinya. Sementara yang satunya, yang tak memiliki cahaya di tubuhnya mendapat kehormatan sebagai penghuni neraka yang pertama.

Mereka pun digiring ke surga dan neraka.

Pertama, Rafael membawa mereka ke surga.

Di sana kedua jiwa itu menemukan kenikmatan yang bahkan tak terbayangkan oleh otak dangkal mereka. Dan dengan tersenyum, sang jiwa yang bercahaya memasuki surga, bergabung dengan cahaya terang di dalamnya.

Rafael dan jiwa tanpa cahaya melanjutkan perjalanan mereka. Dalam pikiran kotor jiwa hitam itu terbayang kenikmatan yang melebihi jiwa bercahaya tadi.

Namun bayangan itu pupus setelah Rafael membuka pintu neraka untuknya. Beragam siksaan yang juga tak mampu terbayangkan sakitnya olehnya terlihat di depan matanya.

Melihat semua siksaan itu, sang jiwa tanpa cahaya memohon kepada Rafael untuk menghadap-Nya sekali lagi.

Rafael pun membawa jiwa itu ke hadapan-Nya.

Di bawah singgasana-Nya yang agung, jiwa tanpa cahaya memohon agar dia tidak di tempatkan di neraka dan disatukan dengan jiwa bercahaya di surga.

Dia menolaknya.

Namun jiwa tanpa cahaya tetap bersikukuh. Akhirnya, Dia pun memberi jiwa tanpa cahaya kesempatan. Jiwa tersebut boleh mencoba memasuki surga. Namun dengan syarat, jika surga menolaknya, maka ia tidak akan bisa memasuki ke dua tempat itu lagi. Dan selamanya akan berada di 'Mu'.

Jiwa tanpa cahaya menyanggupi. Dengan congkak dia mengajak Rafael ke depan pintu surga.

Namun, pintu surga tertutup untuknya.

Berkali-kali dia mencoba tetap saja tak bisa terbuka.

Satu kesimpulan, surga menolak jiwanya.

Sesuai kesepakatan, jiwa tanpa cahaya itu tidak bisa masuk ke dalam dua tempat itu. Akhirnya setelah menghadap kepada Dia lagi. Sang jiwa tanpa cahaya memilih kembali ke dunia manusia dan mengumpulkan banyak jiwa tanpa cahaya agar dia bisa melawan-Nya dan bisa memasuki surga.

Jiwa itu pun ditiup kembali ke dunia. Dan lahirlah Death Hunter yang pertama.

Deather tidak bisa ditempatkan di surga atau neraka, mereka di tempatkan di Lacedeath atau Mu dan di tempat itulah mereka dijadikan Death Hunter. Satu lagi, fisik mereka memang seperti manusia, tapi mereka berbeda, mereka memiliki kekuatan supranatural untuk mengatur kematian. Dan ada Lucifer di antara Death Hunter. Sang Lucifer itulah yang dipercaya bisa membawa mereka ke surga nantinya jika kekuatannya telah sangat kuat. Karena para Death Hunter dulunya adalah para manusia yang ditolak surga dan memilih kabur kembali ke dunia manusia daripada disiksa di neraka.

Tahu bahwa Rafael pun tidak mampu melawan jiwa hitam itu, Dia menyuruh Rafael memanggil Michael untuk ke bumi. Michael bertugas melawan Death Hunter dan Lucifer untuk menyelamatkan jiwa-jiwa tak berdosa.

Setelah peperangan itu berlangsung beberapa lama dengan seimbang, tiba-tiba hadirlah seseorang yaitu Gabriel. Sosok itulah yang menjadi penengah di antara mereka. Sosok yang tak pernah diperhitungkan oleh mereka.

Sosok yang berpihak pada Michael itu akhirnya membawa kemenangan untuk Rafael dan Michael.

Sejak kekalahan Death Hunted dan Lucifer, semua berjalan normal.

Hingga saat ini tiba.

Hari di mana Death Hunter dan Lucifer bangkit.

Bangkit untuk melaksanakan sumpah mereka. Mengumpulkan banyak jiwa hitam dan melawan Dia.

Dan ini juga pertanda, peperangan besar antara tiga malaikat agung dan Lucifer baru saja dimulai!

.

.

.

Jika Jeremy adalah Gabriel-nya.

Alfred adalah Rafael-nya.

Dan Andrew adalah Michael-nya.

Semua akan baik-baik saja.

Namun haruskah Arthur yang menjadi Lucifer-nya?

Lalu siapa sang Death Hunter sebenarnya?

.

.

.

"Kau tidak mengenal kata memaafkan?"

"Mencintai saudara sendiri, huh? Aku baru ingat bahwa Lucifer memang diam-diam mencintai Gabriel…"

.

.

.

Ya.

Namun ada satu fakta yang dilupakan empat malaikat itu.

Satu fakta penting.

Fakta bahwa manusia—

bisa jatuh cinta

...

"Kalian bodoh! Kenapa kalian memukulnya?" suara baritone milik pemuda bermata sewarna madu terdengar keras di Meeting Room milik OSIS Altair Senior High School.

Di depannya menunduk wajah-wajah tampan tak kuasa membalas tatapan madu sang pemuda manis itu. Namun pengecualian dengan satu pemuda yang memasang wajah bosan dan memilih menatap keluar jendela daripada menatap wajah manis di depannya.

"Arthur, jawab! Kau 'kan yang menyuruh teman-temanmu memukuli Andrew?" Pemuda bernama Jeremy itu melempar tatapannya pada pemuda yang memasang tampang bosan itu.

"Cih!"

"Kenapa Arthur William? Kalian ini OSIS! Dan apa salah Andrew pada kalian?"

Sosok yang dipanggil Arthur itu menoleh, mata dark chocolate-nya menyorot tajam. Kontras dengan rambut madu ikalnya.

"Dia terlalu sombong! Dan jangan pernah memanggilku dengan nama 'William'!" bisik Arthur berbahaya. "Aku tidak pernah mau menjadi 'saudara'mu, Jeremmy Jacques William!"

"Tapi bagaimanapun aku lebih tua darimu! Dan hormati serta panggil aku sebagaimana mestinya!" balas Jeremy tak kalah tajam. "Dan juga, kau tahu Andrew Choi adalah murid baru, dan sifatnya agak pendiam. Wajar jika dia butuh waktu untuk menyesuaikan diri. Satu lagi, dia lebih tua darimu!"

"Kenapa kau begitu membelanya? Kau suka anak baru itu, huh? Kupikir kau sudah cukup dengan adanya Alfred yang membuatku selalu ingin mencekiknya dan membunuhnya saat itu juga. Dan sekarang kau menambah dengan anak baru itu, hah?"

"Berhentilah mengungkit-ungkit siapa temanku! Jangan usik Andrew. Kau tidak punya alasan untuk mengeroyoknya!"

Arthur tersenyum dingin.

"Andrew Choi memang tampan. Karena itulah aku tidak akan membiarkannya menyentuhmu."

Arthur turun dari meja dan mendekat ke arah Jeremy. Pemuda itu berhenti tepat di depan Jeremy. Wajah pemuda itu sulit ditebak. Diangkatnya jemari kurusnya dan dijentikkannya satu kali.

Mendadak waktu berhenti.

Tiga pemuda di belakang mereka seolah menjadi manequin yang tak mampu bergerak atau bicara. Arthur menyeringai dan memajukan wajahnya.

Jeremy mematung.

"Kau adalah milikku Jeremy! Milikku selamanya…"

Dan bibir tipis milik Arthur jatuh dan melumat bibir ranum Jeremy pelan.

"Jangan menyentuhku seperti ini!" Jeremy mendadak mendorong tubuh Arthur kasar seraya menjentikkan jemarinya yang gemetar. "Dan jangan gunakan kekuatanmu sembarangan!"

Waktu kembali berjalan.

Tiga pemuda yang kembali tersadar itu kini menemukan dua pemuda yang berhadapan dan saling beradu mata.

"Sekali lagi, jangan sentuh dia!" bisik Jeremy sebelum tangannya meraih tasnya di atas meja dan segera meninggalkan empat orang pemuda itu.

Arthur mendengus keras.

Ia kembali duduk dan menaikkan satu kakinya ke atas meja.

Gurat kekesalan nampak di wajah pucat nan tampannya.

"Benar apa kata saudaramu, Arthur. Untuk apa kita memukulnya?" ucap seseorang di antara mereka memecah keheningan.

"Orang itu sangat menyebalkan!"

"Menyebalkan atau kau takut, saudaramu yang manis itu jatuh cinta pada pemuda itu, eh?" sindir sosok lain sinis.

Arthur mendelik tajam. "Jangan pernah sebut Jeremy manis. Hanya aku yang boleh menyebutnya begitu."

Dia berdiri dan mendekat ke arah pemuda itu.

Sementara dua sisanya bersiap untuk kejadian yang tidak diinginkan.

Arthur semakin mendekat. Tiga pemuda itu menahan napas.

Tangannya terjulur—

—namun sedetik kemudian Arthur hanya mengambil tasnya dan melengos pergi.

"Tak akan kubiarkan murid baru itu menyentuh Jeremy-ku seujung rambut pun!"

Arthur mengikuti jejak Jeremy.

'Brak!'

Terdengar suara pintu yang dibanting keras.

Meninggalkan tiga orang pemuda lain yang hanya saling melempar pandang pasrah.

Ruangan kesehatan yang penuh bau obat-obatan itu sunyi. Hanya sesekali terdengar langkah kaki sosok yang mondar-mandir menuju rak obat dan ranjang pasien.

"Apa ini sakit?" Sosok itu, Jeremy mengusap luka lebam di pipi pemuda tampan yang sedang duduk di depannya. "Ternyata jelmaan malaikat pun bisa terluka."

Pemuda kedua —Andrew Choi tersenyum tipis mendengar sindiran Jeremy. "Kita memakai tubuh manusia. Wajar jika kita merasakan luka seperti manusia."

Jeremy membalas senyum itu. Tangannya masih terampil mengompres pipi Andrew lembut. "Tapi aneh rasanya aku sekarang sedang mengompres sang Michael."

"Lebih aneh lagi sang Gabriel yang mengompresku," ujar Andrew pelan.

Jeremy menunduk dan menemukan onyx yang tengah menatapnya. Sejenak gerakan tangannya terhenti. Seakan terhipnotis, mata sewarna lelehan madu terpancang pada permata obsidian yang menghitam bagai black hole. Jeremy serasa melayang pada satu dimensi lain. Dimensi yang terdominasi hitam. Namun menyenangkan.

"Jeremy?"

"…"

"Gabriel…"

Deg.

Jeremy kembali terhempas ke bumi. Ia tersadar dan menemukan wajahnya yang terpaku pada Andrew. Bodoh.

"Sorry." Wajah manis itu menunduk seraya menarik tangannya menjauh dari wajah Andrew. "Kurasa sudah selesai."

Jeremy beranjak dan berdiri di depan meja. Memunggungi Andrew seraya pura-pura sibuk dengan sesuatu. Berusaha menyembunyikan rona merah yang menjalar pada kulit alabaster-nya.

"Terima kasih…" ucap Andrew pelan.

"Itu sudah kewajibanku," balas Jeremy tanpa menatap Andrew.

"Maafkan Arthur. Dia hanya kekanakan."

Andrew mendecih. "Kekanakan? Kau pikir orang yang menyerang orang lain tanpa alasan itu hanya karena kekanakan? Dia gila!"

"Dia hanya tidak suka karena kedekatan kita." Tangan Jeremy terjulur, mencoba mengembalikan alcohol pada tempatnya. Gagal.

"Dia mengidap brother complex, huh?" Andrew bangkit dan mengambil alih alcohol dari tangan Jeremy.

"Entahlah. Dia memang anak yang sulit." Mata Jeremy mengikuti gerakan Andrew yang tengah mengembalikan alcohol pada tempatnya.

"Anak yang sakit!" ucap Andrew sarkastis.

"Kau tidak mengenal kata 'memaafkan'?" Jeremy menatap Andrew tajam.

"Mencintai saudara sendiri, eh? Aku baru ingat bahwa Lucifer memang diam-diam mencintai Gabriel…" Andrew terkekeh pelan.

"Darimana kau tahu bahwa Arthur adalah— Lucifer?"

"Hanya tebakan yang beruntung kurasa." Andrew mengedikkan bahunya.

"Aku berharap dia bukan Lucifer," ucap Jeremy lirih. Pemuda itu segera berbalik dan berjalan keluar setelah meraih tasnya di tempat tidur.

"Jeremy! Tunggu!" Andrew berteriak berusaha menahan langkah pemuda itu.

"Ada apa?" Jeremy berhenti.

"Aku tidak tahu hubunganmu dengan Arthur apa, tapi… kenapa kau tidak mau jika Arthur adalah sang Lucifer?"

Jeremy terdiam. Lama.

"Aku tidak tahu…" Jeremy menjauh. Meninggalkan Andrew yang semakin tak mengerti.

Lama menjadi manusia membuat Jeremy terlalu sensitif sepertinya.

Seperti manusia.

"Seharusnya kalau kau adalah Michael, kau tahu kenapa Jeremy tidak suka Arthur menjadi Lucifer."

Andrew menoleh dan menemukan pemuda yang tengah menatapnya seraya bersedekap di tembok.

"Kau—?"

"—Alfred. Dan khusus di kalangan Earth Angel dikenal sebagai—!"

"—Rafael…"

Alfred tersenyum. "Kau benar."

Ia beranjak mendekati Andrew dan berdiri di samping pemuda yang menjadi jelmaan Michael tersebut. Keduanya menatap punggung Jeremy yang menjauh di ujung lorong sekolah.

"Sepertinya kau dekat dengan Jeremy?" Andrew melirik Alfred.

"Tentu. Sudah tugasku melindungi Gabriel. Sayangnya ada Lucifer di sampingnya. Sosok yang bisa saja tiap saat menyerang dan membunuhku."

Alfred mengusap belakang kepalaya, miris. "Beruntung Arthur belum tahu bahwa dirinya adalah 'Lucifer'."

"Sungguh?" Andrew menatap Alfred yang mengangguk singkat sebagai jawaban.

"Karena itu Jeremy sangat merahasiakannya. Karena walau Arthur memiliki kemampuan malaikat, Jeremy berusaha menolak bahwa itu kemampuan Lucifer."

Mendadak Alfred terkekeh keras. Membuat Andrew berjengit, merasa heran dengan kelakuan malaikat aneh itu. "Tunggu saja sampai Arthur menemukan tombak sucinya dan Jeremy tak bisa menolak kenyataan bahwa Arthur-nya adalah Lucifer."

"Lucifer…" Andrew menunduk mengeja nama itu lamat-lamat.

"Malaikat pengkhianat. Tunggu sampai hal itu terjadi dan dunia akan hancur…" sambung Alfred yang telah menghentikan tawanya.

"Aku justru berpikir, kenapa bukan kau yang jadi Lucifer," sindir Andrew.

Alfred mengangkat tangannya. "Kenapa kau berpikir begitu?"

Andrew tersenyum ambigu. "Karena kau aneh!"

"Hah! Dari sejak kita masih menjadi malaikat Lucifer-lah yang paling aneh! Berani-beraninya dia menentang Tuhan dan membuatnya diusir dari surga. Malaikat bodoh."

Andrew terdiam.

"Al…" panggil Andrew setelah cukup lama terdiam.

Alfred yang kini bersedekap kembali menatap Andrew. "Hn?"

"Kau sudah lama 'kan berada dalam tubuh manusiamu?"

Alfred mengangguk membenarkan.

"Apakah semua rasa yang dimiliki manusia akan ada dalam diri kita?"

Alfred terdiam mencoba berpikir sebelum menjawab pertanyaan Andrew.

"Sepertinya begitu. Bukankah kau juga merasakan sakit dan terluka? Yang membuat kita berbeda hanyalah karena kita memiliki kekuatan."

"Kalau begitu kita juga bisa—

—jatuh cinta?"

Alfred membatu.

Ya.

Namun ada satu fakta yang dilupakan empat malaikat itu.

Satu fakta penting.

Fakta bahwa manusia—

bisa jatuh cinta….

"Aku takut…" ucap Andrew lirih.

"Takut? Takut apa? Aneh sekali Michael memiliki rasa takut?"

"Aku takut jatuh cinta… Entah bagaimana caranya, tapi seolah aku tahu, bahwa 'cinta' bisa menghancurkan kita. Sepertinya rasa 'jatuh cinta' bisa menghilangkan bahkan melumpuhkan kekuatan malaikat kita."

"Kau terlalu berlebihan, Michael."

"Aku tidak berlebihan. Hanya saja insting malaikatku berkata begitu."

"Kita malaikat. Tidak akan hancur hanya karena kita jatuh cinta."

"Aku curiga…" Andrew menggantung kalimatnya.

"Apa?"

"Kau… Rafael… Kau pasti sedang jatuh cinta…"

Alfred terdiam. Tak ada bantahan dari mulutnya.

Benarkah sang Rafael telah jatuh cinta…?

Empat malaikat kembali turun ke bumi.

Untuk mencari Death Hunter dan Lucifer.

Mengadili atau untuk meneruskan pertarungan yang tertunda dan sia-sia.

Namun mereka tak menyadari bahwa menjadi manusia… akan memberi mereka rasa baru. Rasa yang semanis madu dan sepahit empedu.

Rasa itu disebut… Cinta.

"KYAAAAA!" Teriakan gadis yang mendadak terdengar memecah siang di Altair membuat para siswa dan guru berlarian menuju sumber teriakan berasal.

Teriakan itu berasal dari arah taman. Andrew dan Alfred yang masih berdiri berdua bergegas turun ke lantai satu untuk ikut melihat apa yang terjadi. Begitu pula Jeremy yang tengah melintas di halaman. Pemuda itu merubah arah ke parkiran dan menuju taman.

Taman telah penuh dengan para siswa ketika tiga pemuda itu datang dengan bersamaan di lokasi kejadian. Ketiganya berusaha melihat dan menyibak kerumuann siswa. Kebanyakan wanita yang terisak dan menutup wajah mereka dengan ketakutan.

"Ada apa?" tanya Andrew pada salah satu siswa. Namun siswa itu hanya menggeleng sebagai jawaban. Suaranya seolah tertahan oleh ketakutan yang sangat. Jeremy yang tak sabar segera masuk ke dalam. Diikuti Andrew dan Alfred. Dan mata ketiga pemuda itu membola sempurna saat melihat pemandangan di depannya.

Seseosok pemuda yang mereka tahu adalah Kim, anak kelas 3.3 ditemukan dalam kondisi tak bernyawa dan mengenaskan. Tubuhnya terduduk dan menunduk. Namun gerakan tangannya dalam posisi menangkup. Dan tubuh telanjangnya yang melepuh dan memerah dipenuhi lelehan lilin yang kini telah membeku, menimbulkan warna putih di sela lelehan darahnya.

Namun bukan itu yang menjadi perhatian tiga malaikat itu. Dadanya. Di dada pemuda bernama Kim yang telah tak bernyawa terdapat goresan yang dibuat dari cap besi panas. Samar. Seolah seperti salib jika dilihat sekilas. Namun mata ketiga malaikat tentu tak bisa ditipu.

Ukiran itu bukan salib. Itu adalah ukiran berbentuk—

—tombak Lucifer.

Dengan wajah memerah karena amarah Jeremy bergegas keluar dari kerumunan. Tak dihiraukannya orang yang menyumpah-nyumpah karena tersenggol oleh tubuhnya.

Alfred dan Andrew berpandangan, sebelum akhirnya segera mengikuti jejak Jeremy dan berusaha mengejar pemuda itu.

"Apa yang kau lakukan, Bodoh?"

Arthur yang tengah duduk dengan PSP di tangannya mendongak ketika merasakan jemari mencengkram bahunya keras. Menimbulkan rasa sakit yang membuat Arthur meringis.

"Apa maksudmu?" Arthur bangkit seraya mengibaskan tangan Jeremy dari bahunya.

"Kau masih bisa bertanya apa maksudku?" teriak Jeremy keras. Di atap sekolah itu memang hanya ada dirinya dan Arthur. Tak takut jika ada yang mendengar suaranya. Toh semua sibuk dengan keributan di bawah.

"Aku benar-benar tak mengerti! Jelaskan apa maksudmu? Kau masih marah karena aku memukul Andrew?" balas Arthur tak kalah keras. Pemuda itu benar-benar tak mengerti ada apa dengan saudaranya yang aneh itu.

"Kau 'kan yang membunuh Kim, anak kelas 3.3 itu?"

Tek.

Arthur tercekat.

"Me–membunuh?"

"Ya. Membunuhnya! Kau telah membunuhnya 'kan?"

"Tunggu dulu! Seharian ini aku ada di sini. Untuk apa aku membunuh anak tersebut?"

"Jangan mengelak, Arthur."

"Aku tidak membunuhnya! Bahkan aku baru tahu kalau ada pembunuhan darimu!" Arthur mengacak surai ikalnya frustasi.

"Jangan berbohong! Aku menemukan ukiran salib di tubuh anak itu!" tuduh Jeremy bersikukuh.

"Kenapa?" balas Arthur berbahaya.

"Apa?" Giliran Jeremy yang tak mengerti.

"Kenapa kau selalau menghubungkan sesuatu dengan kekuatanku? Sebenarnya kekuatan apa ini? Kau tahu aku pun tidak menginginkan kekuatan aneh ini! Dan kau selalu menuduhku untuk sesuatu yang tidak kulakukan dengan kekuatan ini. Kenapa? Ambil saja kalau kau mau kekuatan ini!" Arthur kembali terduduk. Wajah itu terluka. Ada duka dan kecewa yang tersorot di sana. Tatapan Jeremy melembut. Mungkin Arthur memang bukan pelakunya. Tapi ukiran tombak itu…

Bukankah hanya Lucifer yang bisa mengukirnya dengan sempurna?

"Kenapa kau tidak bilang jika itu ukiran tombak, dan bukannya salib?"

Arthur dan Jeremy menoleh. Dan mereka menemukan pemuda yang tengah bersandar di pintu atap seraya menyeringai menatap mereka.

"Atau katakan saja secara langsung bahwa Arthur adalah—!"

Jeremy menahan napas. Menatap pemuda itu dengan pandangan memohon.

"—Lucifer, sang malaikat pengkhianat…"

"K-kau Samuel, 'kan?"

Jeremy menatap pemuda yang kini tertawa lebar seraya mengibaskan sayap hitam lebarnya yang entah sejak kapan muncul di punggungnya.

"Kau bisa memanggilku begitu, tapi aku adalah—!"

"—Beelzebub alias Gluttony," sambung Arthur pelan.

"Bagaimana kau bisa tahu?" tanya Jeremy yang kini mulai memasang sikap waspada.

"A-aku… Aku tidak tahu! Nama itu muncul di begitu saja di kepalaku!" balas Arthur tak kalah keras.

Samuel kini semakin mendekat ke arah Arthur dan Jeremy yang bergerak mundur.

Kulit tangan yang semula berwarna pualam milik Samuel mendadak berubah menjadi semerah darah. Ada bola hitam di tangan itu. Berputar dan berdesing kuat.

"Aku adalah salah satu dari tujuh raja iblis di neraka dan senang sekali Lucifer, sang Fallen Angel mengenaliku. Suatu kehormatan bagiku." Jeremy dan Arthur terkesiap pun ketika Samuel berjongkok di depan Arthur dan memberi hormat.

"Ctar!"

Belum sempat sadar atas keterkejutan, bola hitam itu dilempar ke arah Jeremy yang berdiri terpaku di samping Arthur.

"JEREMY!" Arthur berteriak.

Terlambat.

Bola hitam itu meluncur begitu cepat.

Jeremy tak sempat menghindar.

"Duar!" Terdengar ledakan keras saat bola hitam itu mengenai sesuatu.

Disusul asap mengepul yang seketika menghalangi pandangan.

Sekelebat sayap putih terlihat berlubang.

Asap akhirnya menghilang secara perlahan.

Memperlihatkan dua pemuda yang kini berdiri di depan Jeremy dengan dua sayap putih terkembang di atas blazer hitam mereka.

" Sam. Sudah lama aku mencurigaimu sebagai salah satu pasukan Lilith," ucap Alfred yang sedang bersedekap, dingin.

Sejenak matanya melirik sayap kanannya yang berlubang. Sedikit meniupnya dan membiarkan angin sedingin es keluar dari mulutnya saat sekejap kemudian sayap itu kembali utuh.

"Sudah kuduga hari seperti ini akan datang. Saat para Archangels berkumpul. Sorry, ternyata aku merusak sayap sang Rafael. Suatu kesalahan yang menyenangkan." Samuel bangkit dan menatap sinis pada malaikat-malaikat di depannya.

"Jangan-jangan kau yang membunuh siswa itu, Sam?" tanya Jeremy tajam. Pemuda itu kini berdiri di antara Alfred dan Andrew.

"Hahahaha… Aku? Membunuh anak itu? Sepertinya lama menjadi manusia membuat persepsimu tentang iblis berubah, Jeremy, ah, tidak, Gabriel…" Samuel tertawa keras.

Sayap putih mulai muncul di punggung Jeremy.

"Aku tidak membunuh anak itu." Samuel menghentikan tawanya. "Aku memang iblis, —raja iblis malah. Tapi aku tidak mau melakukan hal merepotkan yang bukan tugas kami."

"Lalu siapa?" tanya Andrew yang dari tadi terdiam. Tangannya yang berada di saku celananya mulai bergerak-gerak.

"Lilith. Seharusnya kalian sudah tahu itu. Namun selama ini kalian mengenalnya sebagai 'Death Hunter."

Sayap hitam di punggungnya menghilang dalam satu kepakan. "Setelah ini, saranku kalian harus sembunyikan Arthur dari Lilith. Walau kurasa itu sia-sia, toh akhirnya nanti Arthur sendiri yang akan menerima takdirnya sebagai Lucifer."

Samuel bergerak dan berjalan menuju pintu keluar dari atap.

"Ah, satu lagi." Pemuda itu berhenti sejenak di pintu. "Jangan sia-siakan kekuatanmu untuk menyerangku, Michael!"

Pemuda itu menyeringai dan menutup pintu dengan keras.

Andrew terdiam.

Bola putih yang tergenggam di jemarinya yang berada di saku celana menghilang dalam sekejap.

"Jadi… inikah alasanmu melarangku memakai kekuatanku sembarangan?" Arthur menatap tajam ke arah Jeremy. "Karena aku adalah 'Lucifer'?"

Arthur berjalan mendekat ke arah Jeremy setelah Alfred dan Andrew menyingkir. Alfred yang semula sudah duduk di lantai atap kembali berdiri dan menatap waspada ke arah Arthur.

"Arthur!" panggil Andrew keras. Arthur mengabaikannya.

"Sekali saja kau menyentuh Jeremy, kau tamat!" ancam Alfred tajam.

"Aku tidak peduli!" teriak Arthur keras. Bola mata onyx itu kini berubah memerah sewarna permata ruby. Tangannya terentang membuat beberapa benda yang ada di atap mulai melayang.

Suasana semakin mencekam.

Seakan waktu terhenti.

Dan memang Arthur telah menghentikannya, walau itu tidak berlaku untuk para pemuda yang ada di sisinya. Karena mereka sama-sama malaikat.

"Arthur! Kumohon!" ucap Jeremy mencoba menenangkan Arthur. Sia-sia, mata sewarna crimson itu kembali menatap ke arahnya.

"Ctar!"

"Aduh!"

Jeremy mengaduh ketika dirasakannya sesuatu seperti kilat menyambar tangannya. Darah keluar dari luka yang memanjang di lengannya.

"Arthur! Kau melukai Jeremy!"

Andrew kini meloncat di antara Arthur dan Jeremy. Menghalangi langkah Arthur, membuat pemuda jelmaan Lucifer itu menghentikan langkahnya.

"Menyingkirlah! Aku sudah memukulku hari ini!" ucap Arthur dingin.

"Tidak," tolak Andrew tegas.

"Kau yang memintanya!"

Bola kemerahan berdesing di tangan Arthur.

"Hentikan kalian!" teriak Jeremy sia-sia. Karena bola yang sama mulai terlihat di tangan Andrew.

"Aku tahu Lucifer akan kalah di tangan Michael." Arthur bersiap melempar. "Tapi tidak untuk kali ini."

"ARTHUR/ANDREW!"

"CTAR! DUARRR!"

Teriakan Jeremy disusul oleh ledakan besar yang menggoyang atap sekolahan.

Bangku-bangku mulai berjatuhan dalam kondisi patah menjadi serpihan-sepihan kecil.

Besi yang memagari atap mulai berhamburan.

Asap tebal kembali mengurung para malaikat.

Alfred mendekat ke arah Jeremy, dan beruntung sempat menangkupkan sayapnya untuk melindungi tubuh mereka berdua dari ledakan.

Sayap itu kembali menghilang dan mereka menemukan Arthur dan Andrew yang tengah berhadapan dengan sayap mereka terentang lebar. Bulu-bulu putih mulai beterbangan berbaur dengan asap yang kembali memudar.

"Kalian ingin menghancurkan sekolah?" teriak Alfred keras. Pemuda manis itu segera bangkit dan berjalan ke arah Arthur dan Andrew.

"Seharusnya kalau kau mencintai Jeremy, kau tidak akan melukainya," ucap Andrew dingin setelah kabut yang menutupi wajah Arthur di depannya mulai menghilang.

"Kau tidak tahu apa-apa."

"Kaupikir aku tidak tahu? Kau yang bodoh Arthur. Jeremy merahasiakam ini darimu karena dia tidak ingin bertarung denganmu pada akhirnya nanti. Mati-matian di mencoba menolak kenyataan bahwa kau Lucifer."

"Aku Fallen Angel bukan? Sudah sepantasnya aku begini. Menjadi tokoh jahat."

"Bodoh!"

"Jeremy mencoba melindungimu! Seharusnya kau tahu itu! Kenapa kau tidak sadar-sadar juga maksud dari perlindungannya selama ini? Aku yang baru mengenalnya pun tahu semua ini!"

Arthur terdiam.

Mata itu menatap Jeremy yang kini terduduk dan meringis kesakitan atas luka di tangannya yang belum berhenti mengalirkan darah. Walau ia malaikat, tapi yang menyerangnya adalah kekuatan malaikat. Mau tak mau ia tetap kesakitan. Satu-satunya yang bisa menyembuhkannya hanyalah,

"Rafael…" panggil Jeremy pelan.

Alfred menoleh, dan kembali tersadar. Pemuda itu beranjak meninggalkan Arthur dan Andrew. Tubuhnya berjongkok di samping Jeremy.

"Tolong…" ucap Jeremy kirih.

Alfred mengangguk. Jemarinya meraih lengan yang kini bernoda darah. Meniupnya lembut.

Dan Jeremy merasakan sesuatu yang lebih dingin dari es namun menenangkan mengalir di kulit lengannya. Dan perlahan luka itu pun menutup, lalu akhirnya menghilang, disusul dengan darah yang nyaris tak berbekas.

"Rafael. Malaikat penyembuh," ucap Arthur menyeringai, seperti tersadar akan sesuatu. "Pantas selama ini kau bisa bertahan di samping Jeremy-ku."

Mata crimson itu menghilang, dan kembali menjadi iris onyx yang kelam.

.

.

.

.

Beberapa minggu sebelumnya…

Dua mobil dengan harga ratusan juta itu melesat berkejaran menembus jalanan yang masih sepi. Seolah tak ada yang ingin mengalah dari kompetisi yang tak berjuri tersebut.

Sesaat satu mobil yang berwarna putih seolah mengalah dan membiarkan mobil lain yang berwarna crimson mendahului. Namun sekejap kemudian mobil putih itu kembali melesat dan berada tepat di depan mobil berwarna crimson.

Sebuah balapan yang menarik seandainya gerbang megah di depan sebuah bangunan yang disebut sekolah tak menghentikan laju dua mobil itu.

Mobil itu kini memasuki area parkir dan berhenti dengan sempurna pada rentang waktu yang nyaris tak terbaca. Namun tetap ada satu pemenangnya, mobil putih yang terparkir dengan sempurna.

Pemilik mobil putih itu keluar dari belakang kemudi dan berjalan dengan angkuh menuju mobil crimson yang belum mengeluarkan sang pengendara.

Tubuh tinggi tegap dengan kacamata hitam terpasang sempurna menutup bola matanya. Serta tangan yang tersembunyi di saku celananya. Berbonus helaian ikal yang sedikit bergoyang tertiup angin pagi yang sengaja menggodanya, membuat kerumanan siswa-siswa mendekat dan memandang kagum serta memuja ke arahnya.

"Kurasa kali ini aku lagi yang menang." Pemuda itu berhenti, melepas kacamatanya dan mengetuk-ngetuk jendela mobil crimson yang masih tertutup. "Boleh aku dapat hadiahku sekarang?"

Pemuda lain yang masih bersembunyi di belakang kemudi tersenyum samar.

Tangannya terjulur dan membuka pintu mobilnya, membuat pemuda yang ada di luar mobilnya menyingkir sejenak untuk memberinya jalan.

"Kau yakin akan meminta hadiahmu, sekarang Tuan Arthur?" Pemuda itu kini bersedekap di sisi mobil crimson miliknya. Membuat pemuda yang dipanggil 'Arthur' terkekeh mendengar kalimatnya. Matanya menyusur sekeliling dan menemukan mata-mata dari para siswa yang berkumpul untuk melihat adegan dari dua Pangeran sekolah mereka.

"Kurasa sekarang waktu yang tepat," ucap Arthur seraya menyeringai. Mendadak tangannya mencengkeram erat kedua tangan Jeremy, hanya dengan satu tangannya ke atas kepala Jeremy, lalu mendorong tubuh Jeremy ke sisi mobil sampai pemuda bersuara indah itu terhimpit antara mobil dan tubuh Arthur.

"Aku tak ingin menikmati hadiahku sendiri, My Baby!" bisik Arthur di telinga Jeremy. Dan pemuda itu pun memajukan wajahnya dan mempertemukan bibirnya dengan bibir Jeremy yang terbuka pasrah di depannya.

Menjilat pelan sudut bibir sang Gabriel dan beralih menjadi lumatan yang menuntut.

Sontak para siswa lain yag menyandang nama fudanshi dan fujoshi berteriak girang melihat adegan dari pasangan di depan mereka.

Arthur menyeringai di sela ciuman mereka.

Tangannya melepaskan ikatannya pada pergelangan tangan Jeremy yang semula ia kunci, membuat pemuda yang mulai mendesah dalam lumatannya itu kini mengalungkan lengannya dan meremas surai ikal Arthur, saat lidah Arthur dengan nakal menggoda sudut-sudut mulutnya.

"Kurasa cukup. Kita bisa lanjutkan nanti."

Arthur melepaskan pagutannya. Membuat wajah Jeremy yang memerah dengan napas tersengal sedikit memanyun tidak suka.

"Yah! Semua sudah selesai! Bubar! Bubar!" Arthur berbalik dan membubarkan kerumunan massa yang ikut-ikutan mendecih tidak suka karena adegan romantis barusan selesai begitu saja.

Mata onyx Arthur kembali menatap Jeremy yang kini mengusap saliva di sudut bibirnya.

"Kau itu sembarangan sekali," omel Jeremy pelan.

Arthur terkekeh mendengar omelan sang kekasih yang terlihat sangat manis di depannya. "Tapi kau suka, 'kan? Makanya, jangan kalah terus setiap pagi, kalau kau tak ingin bibirmu menjadi korbanku setiap pagi. Atau…"

Arthur mendekat dan berdiri di samping pemuda itu. "Kau memang sengaja mengalah setiap pagi, hm?"

"Jangan berkhayal, Bodoh!" Jeremy meraih tasnya yang tergeletak di atap mobilnya dan bergegas meninggalkan sang kekasih yang masih larut dalan tawanya.

"Jeremy!"

Merasa ada seseorang yang memanggilnya, pemuda yang memiliki darah Gabriel dalam dirinya itu berhenti di tengah tangga. Menoleh, dan ia menemukan Alfred yang berjalan setengah berlari ke arahnya.

"Ada ap—?"

"Aku telah menemukan siapa 'Lucifer'," jawab Alfred cepat. Alis Jeremy terangkat satu.

"Siapa?"

Alfred menggelengkan kepalanya. "Kau tak akan senang mendengar ini."

Jeremy belum sempat bertanya 'kenapa' ketika jemari kekar Alfred menariknya ke atas untuk menyelesaikan anak tangga dan segera membawanya ke dalam ruangan kosong di lantai tiga.

"Ruangan Teater"

Pintu hitam yang terbuka lebar memperlihatkan ruangan minim cahaya yang berantakan oleh kimono-kimono, aneka topeng dan wig palsu.

Tumpukan di atas meja menyambut Jeremy dan Alfred. Disusul dengan kostum-kostum yang tergantung di sisi ruangan.

Ruangan ini begitu hening.

Hening dan sesak dengan barang-barang aneh.

Mata mereka menyusur sekeliling dan berhenti pada bangku-bangku kecil berkaki tinggi untuk properti pentas.

Jemari mungil Jeremy menarik dua bangku, dan memeriksanya sebelum mendudukinya untuk memastikan bahwa bangku itu tidak akan patah.

Alfred memandang pemuda manis itu kasihan. "Kita bisa menghentikan waktu untuk mencegah ada yang mencuri dengar."

Jeremy mendongak menatap pemuda yang masih berdiri di depannya. "Kalau begitu kenapa kau harus membawaku ke sini? Kita bisa bicarakan di sana tadi?"

Alfred mengusap belakang kepalanya. Benar juga. Jadi siapa yang bodoh di sini, eh?

"Sudahlah. Bicaralah. Lagipula kekuatan malaikat kita akan menarik kekuatan malaikat lain dan membuat keberadaan kita diketahui." Jeremy mengalah dan menepuk bangku kecil itu agar Alfred segera duduk di atasnya. Alfred menurut.

"Siapa dia?"

"Dia… —

Alfred menatap Jeremy miris.

— Arthur."

Tek.

"Hahaha jangan bercanda." Jeremy tertawa hambar.

"Aku tidak bercanda. Arthur adalah Lucifer!"

Tawa itu langsung lenyap dari wajah malaikat bersuara indah itu. Alfred berdiri dan menghadap meja yang berada di sisinya. Tangannya memainkan kain-kain hitam yang teronggok di atasnya.

"Kau memikirkan hal 'itu' kan?"

Jeremy terdiam. Satu kenyataan bahwa Arthur adalah Lucifer saja sudah menghancurkan hatinya, bagaimana dengan memikirkan 'itu'?

"Aku tidak tahu…" Jeremy berucap lemah.

"Kau ingat tugas utama kita saat turun ke bumi 'kan?" Alfred mengingatkan apa yang sangat tidak dilupakan Jeremy.

"Aku ingat. Berhentilah bersikap seolah aku melupakan tugasku sebagai Archangel," kata Jeremy tegas. Membuat bahu Alfred sedikit berjengit.

"Sorry…" Alfred memutar tubuhnya dan kembali berhadapan dengan malaikat Gabriel itu.

"Saat kita menemukan Lucifer. Maka kita harus mencegahnya bertemu Death Hunter atau Lilith. Dan sebisa mungkin juga menghindari Lucifer yang akan bertepur dengan Michael. Tapi seiring usianya, kekuatan Lucifer akan terlacak. Dan saat itu yang bisa menekan kekuatannya agar tidak terlacak oleh Lilith atau Death Hunter adalah…—

Jeremy menunduk. Menolak memandang mata Alfred.

Gabriel yang menjadi saudaranya dan selalu ada di dekatnya. Rasa persaudaraan antara Lucifer dan Gabriel akan menekan kekuatan Lucifer sehingga dia tidak akan mudah terlacak oleh Lilith."

"Apa yang terjadi kalau Lucifer bertemu dengan Lilith?" tanya Jeremy bergetar.

"Konspirasi dan kudeta terhadap Dia. Penyatuan kekuasaan, bagaimana pun Lucifer-lah yang memegang kuasa atas neraka dan iblis-iblis di dalamnya. Dan itu artinya pertempuran besar serta… akhir dunia." Alfred mengakhiri kalimatnya dengan kain yang kini menjadi debu yang meluncur di sela-sela jemarinya.

"Jadi aku benar-benar harus menjadi 'saudara' dari Arthur?"

"Eh? Jangan bilang kalau kau ingin…!"

Jeremy tersenyum. "Memang itulah yag harus kulakukan, Hae. Bukankah itu tugas kita sebagai Archangels. Aku harus memutus hubunganku dengan Arthur dan membuatnya menjadi hubungan 'saudara'."

"Si Evil itu pasti akan marah sekali." Alfred bersedekap seraya menatap pintu keluar yang terbuka sedikit.

"Aku tahu. Tapi hanya ini satu-satunya caraku untuk melindungi Arthur."

"Kau begitu mencintai Arthur…" ucap Alfred pelan. Ada nada kecewa yang tak tertangkap Jeremy di sana.

"Sangat. Aku sangat mencintai Arthur. Kuharap dengan ini Arthur tahu bagaimana caraku mencintainya."

"Apa kau menyesal telah menjadi manusia?"

"Tidak. Justru dengan menjadi manusia aku bisa merasakan… 'cinta'. Kau yang telah lama menjadi manusia tentu mengerti perasaan ini."

"Ya. Karena aku sendiri telah merasakannya…"

Bulan bersinar bulat penuh di luar kelas.

Memberi warna akan dedaunan yang mengelam di luar jendela. Bintang-bintang bertahan dengan angkuh di rasinya. Menahan malam dengan pelukan agar tak beranjak pergi dan tak terkalahkan pagi.

Jeremy terdiam.

Lebih tepatnya terpaku tak mampu membalas atau berucap lebih pada pemuda yang telah membuat ruangan kelas kini kacau balau.

Sinar bulan yang mencuri-curi celah jendela yang pecah untuk mencuri dengar ada apa di dalamnya menampilkan kalender yang telah tersobek dan jatuh dari dinding. Tak jauh dari jam besar yang membuat waktu seakan berkompromi dan ikut mati.

Waktu seakan melukis kelam dalam ruangan yang kini dihuni dua pemuda dengan paras elok layaknya darah malaikat yang mengalir dalam nadi mereka.

Bangku-bangku dan meja mulai pecah jadi dua. Dinding-dinding tak lagi berwarna putih ternoda oleh hitam yang memenuhi hampir setiap sudut ruangan.

Serpihan dari gempa yang membelai satu titik bumi seperti terlempar dalam ruangan ini.

"Arthur… Kumohon."

Di sudut ruangan tepat di bawah jendela dengan sinar bulan yang menyorot kelam dan serpihan kaca yang berhamburan layaknya berlian dengan refleksi kilaunya, sang Gabriel merintih lirih.

Tubuh pualamnya tak lagi mulus.

Kemeja putihnya sudah penuh sobekan sana-sini dengan menampilkan sayatan yang tak mungkin dibuat oleh menusia. Malaikat itu terduduk tak mampu berdiri sempurna dengan kaki yang berhias sayatan yang sama. Bahkan darah mulai lancang meluncur dari dahi dan sudut bibirnya.

"Kenapa, Jeremy?" Pemuda kedua yang memiliki jiwa Lucifer di dalamnya mendekat. Mata semerah ruby menantang onyx yang meredup kehilangan cahaya.

Arthur berjongkok di depan Jeremy, mencekal wajah yang penuh darah itu untuk menghadapnya dan menemukan matanya.

Onyx menantang crimson.

Bertemu dalam satu kilatan yang mampu membunuh.

"Kenapa kau bilang kalau kau ingin putus denganku? Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu, Jeremy," bisik Arthur berbahaya tepat di depan wajah Jeremy, membuat Gabriel merasakan hembusan napas sang Lucifer yang membelai indra penciumannya.

"A-aku juga…" jawab Jeremy terbata.

"Bohong!"

'Duag.'

Arthur menyentakkan wajah dan tubuh itu keras. Membuat Jeremy kembali tersungkur dengan kepala menghantam dinding.

Cahaya berterbangan di sekitar Arthur yang kini kembali berdiri dan memunggungi Jeremy.

Membiarkan Jeremy merintih tanpa suara. Pemuda itu mencoba mengusap darah di sudut bibirnya dengan punggung tangannya.

"Aku tetap bisa dekat denganmu, Archie."

"Tapi tidak dengan cara ini!" Arthur berbalik dan kembali menatang onyx Jeremy. "Tidak dengan cara kau memutuskan hubungan kita, dan membuat hubungan baru yang disebut 'saudara'!"

"Aku tetap bisa mencintaimu, Arthur. "

"Tapi aku tidak. Aku tidak bisa mencintaimu sebagai saudara!"

"Aku melakukan ini untuk melindungimu, Arthur!"

"Kalau begitu jangan lindungi aku!"

"Keputusanku sudah bulat. Ayahku akan menikah dengan ibumu." Jeremy mencoba bangkit dari posisinya. "Dan kita akan menjadi saudara. Hal itu yang harus kau terima."

Pemuda itu terhuyung saat mencoba berpegangan pada kusen jendela yang sebagian telah hancur.

Tangan kirinya tetap menahan berat tubuhnya, sementara tangan kanannya bergerak seperti gerakan menyapu dan membuat bangku-bangku kembali utuh. Kalender terjilid dan kembali di dinding bersebelahan dengan jam besar yang mulai berdetak pelan. Mengajak waktu untuk kembali berjalan.

Mata onyx Jeremy mengerjap dan menampilkan iris yang berubah menjadi seputih susu. Mata itu menyusur dinding-dinding yang menghitam dan membuat warna kembali putih bersih.

Serpihan kaca melayang menyibak kerumunan dan kembali utuh tanpa mengusik keheningan.

Ruangan kembali utuh. Seperti saat tangan Lucifer belum menyentuhnya.

Jeremy berusaha naik di atas jendela. Memejamkan matanya dan dalam sekejap sepasang sayap putih terentang lebar di punggungnya. Pemuda itu tak akan bisa pulang dengan berjalan atau mengendarai mobil, satu-satunya cara hanyalah terbang.

"Aku mencintaimu, Arthur. Sangat."

Dan dalam gerakan lembut, dia terbang dan sekejap menghilang.

.

.

.

Senja terpaku menatap geliat makhluk-makhluk di bawahnya.

Seakan mengabaikan para bintang yang mulai sibuk berpesta di sekitarnya.

Di bawah tepat di salah satu jendela, sepasang caramel bercahaya, menantang langit yang jingga sebelum akhirnya menghitam sempurna.

Pemilik caramel itu termenung. Duduk di sebuah kursi di samping jendela yang terbentang lebar. Menampakkan lukisan senja, di mana kegelapan memulai kompetisi dengan cahaya dari perumahan di sekitarnya.

Hari ini, ruangan yang sudah permanen dihuni oleh dua pemuda dalam jangka waktu beberapa minggu belakangan tetap sunyi di belakangnya.

Hanya ada satu penghuni yang memilih bertahan di luar jendela.

Pemuda itu, Jeremy yang tengah tercenung dengan raut khawatir. teringat kejadian tadi siang, di mana Arthur akhirnya tahu bahwa ia adalah Lucifer.

Dan juga para iblis yang akhirnya menemukan keberadaaan mereka.

Keselamatan Arthur jelas terancam.

Jika para iblis atau bahkan Lilith menemukannya, maka Jeremy sekalipun kemungkinan kecil akan bisa melindunginya. Dan jika itu terjadi, maka sia-sia pengorbanannya selama ini, mengabaikan perasaannya dan memilih untuk mengubur rasa itu dalah hubungan yang disebut 'saudara'.

Satu kata yang harusnya menyenangkan, namun tidak, jika ada hubungan bernama 'kekasih' yang pernah mendahuluinya.

"Jeremy!"

Seseorang muncul di pintu kamar yang dihuninya bersama Arthur dan memanggil namanya.

Jeremy menoleh dan menemukan ibu Arthur yang beberapa minggu ini telah menjadi ibunya juga.

"Ada apa, Mom?" Jeremy turun dari kursinya dan mendekat.

Raut khawatir terlihat jelas dari wanita paruh baya yang tetap cantik itu.

"Arthur belum pulang…"

...

Jeremy menatap jam yang tergantung di dinding kamarnya.

Waktu sudah pukul sebelas. Sudah enam jam lebih Arthur pergi.

Pemuda itu gelisah. Ia begitu khawatir, terlihat dari raut wajahnya yang pucat. Berkali-kali ia melirik pintu kamar mereka. Dan sosok Arthur tak juga muncul. Berbagai pikirin buruk yang ia coba tepis mati-matian menghampiri jelmaan Gabriel itu. Semua tentang Arthur.

Jeremy akhirnya menyerah.

Dan ia mulai keluar menyusur dan mencari jelmaan Lucifer itu.

Ia mengitari jalanan yang sepi dan berujung di taman. Nyaris tengah malam dan ia sangat khawatir pada Arthur yang belum pulang.

Kenapa Arthur belum pulang?

Sekali lagi mata caramel Jeremy menelusur taman yang suram dan akhirnya ia menemukannya.

Menemukan namja yang tengah terduduk, di sudut taman.

Di atas sebuah bangku panjang.

"Arthur?"

Seseorang menyapanya lembut. Arthur mendongak. Dan wajah itu menemukan Jeremy yang tersenyum ke arahnya. Lembut.

"Kenapa kau tidak pulang?" Jeremy berhenti di depan Arthur, mencoba menahan diri. Walau ia sudah ingin marah dan meledak. Arthur menunduk, menghindari mata Jeremy.

"Mom sangat khawatir." Jeremy memilih duduk di samping pemuda itu. "Aku juga."

"Maafkan aku," ucap Arthur serak. "Aku tak tahu kenapa aku jadi begini."

Jeremy tersenyum menatapnya. "Aku mengerti."

"Bohong!" tolak Arthur kesal. "Kau samasekali tidak mengerti."

Jeremy kali ini benar-benar tertawa.

"Apa yang lucu?"

"Kau itu kekanakan sekali." Jeremy buru-buru menunjukkan dua jarinya membentuk simbol 'peace' melihat tatapan Arthur. "Karena itulah kau jadi adikku."

"Aku tidak ingin jadi adikmu."

Arthur memandang Jeremy tanpa berkedip dengan matanya.

"Kenapa kau?" tanya Jeremy, alisnya sedikit terangkat.

Ia heran dengan tatapan adik tirinya itu.

Dan Arthur masih belum menjawab.

Ia masih memusatkan matanya kepada Jeremy.

"Hei, kenapa kau ini?"

"Aku cuma terlalu mengantuk" jawab Arthur seolah menyembunyikan sesuatu.

"Ya sudahlah, sebaiknya kita segera pulang dan tidur malam ini.," ucap Jeremy seraya berdiri dari bangku taman.

Tapi, Arthur menahan tangannya.

Jeremy mengernyit. Arthur berdiri di depannya, menatapnya tajam.

"Ap-" suara Jeremy terpotong oleh bibir Arthur yang mengeliminasi jarak di antara mereka.

Lidah Arthur memaksa untuk menerobos masuk ke dalam rongga mulut Jeremy.

Jeremy terbelalak. Ia mencoba menolak dan tak membiarkan lidah itu masuk.

Tapi, akhirnya Jeremy menyerah pada akal sehatnya, terjebak dalam kenikmatan yang Arthur berikan, dan membiarkan lidah Arthur menari-nari di rongga mulutnya, berbagi saliva dan kehangatan.

"Hh, ah," Jeremy mendesah pelan atas ciuman ganas itu.

Dengan gerakan cepat, Arthur menjatuhkan tubuh Jeremy ke bangku dan segera menindihnya.

Ciuman itu masih berlangsung dengan ganas.

Namun kebutuhan akan oksigen memaksa Arthur menghentikan sejenak kegiatannya. Dia menatap Jeremy, yang wajahnya memerah dan terengah-engah membalas tatapannya.

"Hh-hh... A-apahh, ada apa denganmu, Archie?" tanya Jeremy pelan.

Arthur lagi-lagi tak menjawab, dia mendekatkan wajahnya hingga hidung keduanya bersentuhan. Matanya menembus caramel Jeremy. Ia seolah benar-benar terpesona oleh ketampanan seorang Gabriel.

Malaikat yang membuatnya jatuh cinta, malaikat yang menjadi kakaknya.

Diserangnya lagi bibir Jeremy, setelah puas dengan bibir, lidah Arthur turun dan menjilat leher alabaster Jeremy, kissmark yang ia tinggalkan di leher alabaster itu, membuat pemiliknya mengernyit antara perih dan kenikmatan.

Tangannya mulai memasuki pakaian Jeremy, mengelus dan memilin tonjolan kecil yang ada di dadanya.

Arthur seperti kesetanan.

"A-ah, Ar-Arthur, hh-hentikan!" sentak Jeremy keras. Dia harus segera menghentikan kegilaan ini.

Arthur terkejut, sontak dia menghentikan gerakannya dan menatap Jeremy tajam.

Bertemu dengan obsidian itu perlahan, caramel Jeremy meredup...

"Maaf."

Banyak pertanyaan memenuhi pikiran sang Gabriel. Pertanyaan yang tak pernah dia mengerti... tentang pemuda ini. Tentang adiknya, sejak mereka bersama. Namun, yang lebih membuatnya meragukan akal sehatnya sendiri adalah, kenapa dia tidak bisa menolak sentuhan Arthur...

Sentuhannya begitu memabukkan... dan membuatnya gila.

"Wah, wah, tadinya aku hanya berharap menemukan Gabriel dan menghabisinya sendirian."

Kedua pemuda itu menoleh. Mencari sumber suara.

"Ternyata aku sangat beruntung, karena aku juga menemukan sang Lucifer tanpa harus repot-repot mencarinya."

Sosok itu tengah berdiri di atas gerbang taman. Sayap hitamnya terentang lebar. Cahaya bulan sedikit menyamarkan keberadaannya. Seringai lebar terbentuk di wajahnya, sementara bola api kemerahan berdesing di tangannya.

"Baiklah, kuhabisi saja kalian berdua malam ini."

.

.

.

.

.

.

BERSAMBUNG...