Malam ini terlihat berbeda.

Salju yang menutup pepohonan berkilau tertimpa sinar purnama yang duduk anggun di singgasananya. Cahayanya terpantul di atas hamparan salju. Kadang cahaya samar tertutup kapas abu-abu yang berarak.

Angin menggesek pelan, menggoyang dedaunan bak hantu menari-menari dalam keremangan.

Malam begitu hening dan sempurna.

Sempurna, sebuah kata aneh untuk bulan yang tak mampu merubah atmosfer di bawahnya. Dan sorot cahaya nan mempesona itu jatuh mengenai sebuah bangunan nan megah yang berdiri jauh tersembunyi dari keramaian Blue End, sebuah desa di sudut Winchester. Bangunan yang terlihat seperti kastil di negeri dongeng itu memiliki tiga menara yang menjulang di atasnya.

Sebuah gerbang besar dan tinggi menahan pandangan mata-mata yang ingin melihat atau sekedar mencur1 pandang ke dalam kastil. Simbol bunga magnolia terukir di gerbang tersebut. Seolah memberitahu secara tidak langsung siapa pemlik dari kastil yang berdiri megah di dalamnya. Sementara halamannya yang tertutup salju tipis berderet pohon-pohon cemara yang berdiri sepanjang jalan setapak menuju beranda. Sebuah taman yang terhampar luas memenuhi halaman kastil. Lima warna mawar berbeda terlihat memenuhi sudut-sudut taman dan tersusun melingkar. Mawar merah tepat berada di luar lingkaran, di susul mawar kuning, mawar putih yang tak ternoda, mawar jingga dengan pesonanya, terakhir adalah mawar biru. Dan tepat di tengah taman tertanam serumpun crimson magnolia. Bunga dengan kelopak yang sewarna permata rubi dan semerah darah itu menguarkan bau harum yang mencoba bersaing dengan eksistensi mawar-mawar yang mengelilingnya. Sebuah keanehan nyata terlihat. Dengan badai salju yang nyaris tak berhent setiap malam, bunga-bunga serta tanaman dalam kastil seolah tak merasakan akibatnya. Mereka tetap berkembang dengan sempurna. Menimbulkan tanya bagi yang tak sengaja melihatnya.

Lilin di atas meja menyala merah, menari-nari terseret gerak angin yang menggoda. Bergoyang-goyang hampir padam. Bayangan nyala lilin mengekor berlawanan dengan cahaya yang redup.

Gesekan angin, menyusup di kisi-kisi jendela, mengetuk bingkai ebony mengkilatnya, mempertegas kesunyian yang tercipta. Pintu hazel besar yang berada di sisi kanan sofa berukir bunga magnolia memperlihatkan ruangan lain yang lebih bercahaya dengan seperangkat meja makan mahal di tengahnya.

Empat orang pemuda dengan aura kebangsawanan yang nampak jelas dari wajah-wajah tampan itu tengah duduk mengelilingi meja makan yang penuh dengan makanan-makanan enak. Conti Romanee terlihat di tengah meja, tepat di samping lilin yang menyala bergoyang-goyang. Hawa hangat terasa di dalam ruangan yang berasal dari perapian besar di sisi ruangan.

"Aku tadi mengalami hari yang sangat membosankan." Pemuda tampan dengan rambut ikal kecoklatan yang terlihat sebagai sosok paling muda mengadu pada pemuda-pemuda lain yang lebih tua darinya.

"Bagaimana kau bisa berkata membosankan? Bukankah kau terus bersama Andrew seperti lem, seolah tak bisa melepasmu barang sebentar saja?" sindir pemuda tinggi berambut merah.

"Yah, bukan begitu! Andrew meninggalkanku tadi. Urusan dengan anak OSIS yang menyebalkan itu," sungut sang pemuda ikal seraya melirik sosok di sampingnya yang tetap melanjutkan makannya dengan tenang.

"Kau tidak bisa terus-terusan menempel pada Andrew, Adam. Berilah waktu pada Andrew untuk bernapas," ucap pemuda bersuara indah yang dari tadi terdiam melihat percakapan para saudaranya.

"Benar apa yang dikatakan Jeremy, Baby. Aku ada urusan dengan anak-anak OSIS tadi." Pemuda yang dipanggil Andrew berucap lembut seraya mengusap pucuk kepala pemuda yang dipanggilnya 'Baby'..

"Apa itu artinya kau bosan padaku?" tanya sang bungsu dengan nada kecewa yang dibuat-buat. Andrew tersenyum melihat wajah Adam yang menurutnya sangat menggemaskan.

"Tentu saja tidak," ucap Andrew seraya memberi kecupan singkat pada bibir Adam yang membuat rona merah segera menjalar di atas kulit porcelain itu. "Kau tidak pernah membosankan, Baby."

"Berhentilah memamerkan kemesraan saat makan. Itu menjijikkan!" ujar pemuda berambut merah seraya menampilkan gerakan seolah-olah muntah. Dan lagi-lagi Jeremy memilih melanjutkan makannya dalam kondisi yang tidak kondusif lagi itu.

"Cih, Jackie hanya iri karena sampai sekarang hanya kau yang belum dapat pasangan," sentak Adam sarkastis.

"Dan kau juga dapat pasangan saja karena Andrew berbaik hati mau menjadi kekasihmu sekaligus baby sitter -mu. Coba dengan pemuda atau gadis di luar? Mana mau?" balas pemuda yang dipanggil 'Jackie' itu tak kalah pedas.

"Yah. Tarik ucapanmu. Di luar sana banyak gadis dan pemuda yang mengejarku!"

"Mengejarmu hanya karena mereka tak tahu siapa kau!"

"Ya–!"

"Hentikan!" Jeremy yang merupakan pemuda yang paling tua di antara para pemuda itu akhirnya bersuara. Dijentikkannya jemari mungilnya ke arah botol wine yang akhirnya menuang sendiri isinya ke dalam gelas.

"Aku tadi membawa Arthur ke sini." Pemuda itu berucap pelan setelah ia mendapatkan ketenangan yang ia butuhkan. Tiga pasang mata lain saling berpandangan. Mereka mengenal Arthur. Pemuda manis yang berstatus kekasih dari seorang Jeremy. Ketua klub musik di sekolah mereka sekaligus saudara tertua mereka. Dan mereka pun juga tahu alasan Jeremy mendekati Arthur. Magnolia terakhir, itulah yang mereka cari. Dan Arthur memiliki ciri-ciri sebagai Magnolia terakhir.

"Teruskan. Apa yang terjadi selanjutnya. Kau tidak membawanya ke taman magnolia, 'kan?" tanya Zhack, pemuda berambut merah itu khawatir.

"Ya. Aku membawanya ke sana…" Jeremy menatap saudaranya bergantian.

"What? Lalu apa yang terjadi?" tanya Adam mulai tak sabar.

"Kelopak magnolia tidak terjatuh…" jawab Jeremy pelan. Adam memandang Andrew yang nampak berpikir keras.

"Berarti dia bukan bagian dari keluarga Magnolia?"

"Ada satu keanehan… Kelopak magnolia memang tidak terjatuh. Tapi… bunga mawar biru sejenak menjadi layu dan berguguran sebelum akhirnya semi kembali," terang Jeremy lagi.

"Apa itu artinya? Itu tidak ada dalam ramalan, 'kan?" Adam terlihat bingung.

"Itulah yang ingin aku tanyakan pada kalian… Jika Arthur tidak berpengaruh dengan kelopak magnolia, itu menujukkan bahwa dia bukan bagian dari keturunan kita. Tapi kenapa mawar biru bereaksi padanya. Sementara kita tahu, tanaman-tanaman itu tidak akan bereaksi dengan manusia biasa," kata Jeremy panjang. Diteguknya wine dalam gelas kecilnya.

"Tunggu!" Kini giliran Andrew yang menjentikkan jarinya ke arah buku-buku yang tertata rapi di dalam rak yang tepat berada di sisi meja makan. Dengan gerakan halus sebuah buku tebal dengan ukiran magnolia di sampulnya melayang ke arah Andrew. Buku itu mendarat di atas meja di depannya. Dan tepat terbuka pada halaman yang Andrew inginkan.

Sebuah lukisan batu rubi tercetak jelas di atas buku yang kertasnya telah menguning. Diikuti dengan tulisan dan simbol-simbol aneh, yang hanya bisa dibaca oleh para Magnolia.

"Di sini diterangkan hanya keturunan Crimson yang bereaksi terhadap mawar biru dan bukannya pada magnolia," ucap Andrew setelah membaca buku di depannya.

"Tapi keturunan Crimson sudah punah, 'kan?" tanya Adam seraya menatap Jeremy.

"Setahuku begitu, tapi bagaimana kalau masih ada keturunan Crimson yang tersisa? Seperti halnya kita. Sebelumnya kita, para Magnolia juga dianggap punah, 'kan?" terang Zhack.

"Tapi kalau itu benar-benar terjadi…" Andrew tak berani meneruskan kalimatnya.

"Tugas kita akan semakin berat…" lanjut Jeremy pelan.

Keempat pemuda itu saling bertatapan, merasakan tugas berat yang terpikul di bahu mereka sebagai keturuanan terakhir Magnolia. Dan takdir yang harus mereka hadapi nanti.

"Jeremy? Kau tidak memikirkan kelanjutan hubunganmu dengan Arthur?" tanya Adam tiba-tiba. Membuat para pemuda yang tengah bertualang ke alam pikiran masing-masing kembali tersadar. Jeremy yang menyadari pertanyaan itu ditujukan untuknya hanya mengaduk cocktail yang telah dicampurnya dengan wine.

"Apa maksudmu?" tanya Zhack tak mengerti.

"Kau bodoh sekali, Jackie!" teriak Adam sadis. Yang segera ditanggapi dengan jitakan dari pemuda itu.

"Jawab saja, Evil!" hardik Zhack.

"Jika Arthur memang keturunan terakhir Crimson. Bukankah itu artinya Jeremy dan Arthur tak bisa bersama? Crimson dan Magnolia tak boleh hidup bersama bukan? Apalagi jatuh cinta…" Adam menjelaskan panjang lebar.

"Kau itu yang bodoh," respon Zhack kalem.

"Why?" Adam menunjuk dirinya sendiri tidak terima, masa ahli matematika dikatai bodoh. Yang benar saja!

"Jeremy 'kan tidak benar-benar mencintai Arthur. Mereka berhubungan hanya karena Jeremy ingin menyelidikinya. Bukankah begitu, huh?" Zhack memandang Jeremy, yang hanya merespon dengan anggukan kecil.

"Hahaha syukurlah kalau begitu. Karena kalau hal itu terjadi bisa bahaya. Tapi nanti kau tidak mungkin menjadi benar-benar jatuh cinta pada Arthur 'kan?" Adam memastikan. Jeremy terdiam, dan menggeleng. Tanpa menyadari sebuah gelengan itu akan berubah menjadi takdir yang begitu kejam nantinya….

sebuah ramalan bercerita…

tentang mereka lima anak manusia…

yang terlahir dari keturunan suci para peri

.

namun ada dua yang akan lebih kuat dari mereka

satu dari keturunan yang sama

satunya lagi berbeda

temukan dan jangan pertemukan mereka

karena mereka bisa menghancurkan bangsamu dan para manusia…

...

Crimson Magnolia…

Dua keluarga yang terlahir dari jiwa suci para peri. Dengan kekuatan luar biasa lebih dari kekuatan manusia pada umumnya. Beberapa menggunakan kekuatannya untuk menjaga manusia. Beberapa untuk menghancurkan manusia. Berperan sebagai pembunuh bayaran lebih banyak dilakukan oleh keluarga Crimson.

Hingga perbedaan pendapat membuat kedua keluarga berseteru. Dan hal itu terus berlanjut hingga akhirnya ketika masing-masing anggota keluarga mulai mati sia-sia salam pertarungan, keduanya memilih damai.

Sebuah perdamaian yang tak berlangsung lama.

Karena jika Crimson terakhir bertemu dengan Magnolia yang ditakdirkan berbeda, maka peperangan yang melibatkan seluruh umat manusia akan berlanjut.

Dan keturunan Magnolia yang tersisa bertugas mencegahnya…

Menemukan Magnolia terakhir dan menahannya agar tidak bertemu dengan Crimson terakhir.

Karena jika itu terjadi, maka akhir dunia akan tiba.

Tiba karena kesalahan dua keluarga yang menyebut diri mereka Crimson Magnolia

Jeremy, pemuda dengan suara indah adalah keturunan tertua dari Magnolia yang tersisa. Di susul Zhack, dan Andrew. Terakhir adalah Adam. Dan tugas karena kesalahan leluhur mereka pun harus mereka hapuskan. Temukan Crimson terakhir dan Magnolia terakhir lainnya, lalu pisahkan mereka…

Karena Crimson dan Magnolia tidak akan pernah bisa hidup bersama…

Satu sama lain harus saling bertaruh nyawa…

.

.

.

.

.

.

BERSAMBUNG...