"Arthur, cepat!"

Suara sang ibu menyadarkan anak kecil berusia sepuluh tahun yang tengah sibuk dengan laptop yang menyala di mejanya. Window yang terbuka itu menampilkan OVA dari sebuah anime kesayangannya. Ya, bocah bernama Arthur itu memang seorang otaku yang tergila-gila dengan hal-hal berbau Jepang.

Korban dari fetish-nya itu tak lain adalah seorang pemuda yang kini sedang duduk manis di atas sepedanya dan tengah menunggunya. Pemuda itu bernama Jeremy. Seorang mahasiswa yang juga merangkap sebagai guru privat Arthur –dia sangat tidak suka jika disebut baby sitter– yang terkenal dengan keinosenannya.

Bahkan Arthur pun merasa dia yang lebih dewasa dari Jeremy.

Ya, Jeremy boleh saja sudah mahasiswa dan lebih pintar. Boleh saja lebih tinggi. Tapi faktanya, Jeremy tetap uke untuk seorang Arthur, bocah berusia sepuluh tahun seorang otaku yang kini menjadi tanggung jawabnya. Lalu, sejak kapan Arthur mengenal tentang seme-uke? Tentu hal itu bukan masalah untuk bocah otaku merangkap fudanshi itu. Dan sekali lagi, keinosenan Jeremy-lah yang membuat otak bocah berusia sepuluh tahun menganggapnya uke.

Innocent.

Di susianya yang sudah sembilan belas tahun, Jeremy bahkan belum pernah berpacaran. Bukan itu saja, pemuda yang memang cukup pintar itu juga tak mampu menolak ketika banyak gadis menggodanya atau pemuda yang mengerjainya. Jeremy tak bisa marah. Hanya dengan Arthur-lah pemuda itu bisa sesekali kesal. Tapi, tetap saja apalah arti kemarahan si Innocent Baby jika berhadapan dengan Freak Otaku macam Arthur, huh?

"Kau lama sekali, Arthur," komentar Jeremy ketika Arthur telah siap mengikuti Jeremy ke kampusnya.

"Masa?"

"Kau sibuk dengan fetish-mu lagi?" tanya Jeremy seraya mengayuh sepeda itu pelan, setelah Arthur naik dan membonceng di belakangnya.

"Absolutely yes," jawab Arthur singkat. Matanya tengah fokus pada komik di tangannya. Benar-benar bocah setan. Saat Jeremy terengah mengayuh sepeda, ia justru asyik dengan komiknya. Poor Jeremy! =="

"Aku semalam tidak tidur," cerita Jeremy.

"Kenapa?"

"Gadis-gadis itu sibuk mengirim email ke ponselku."

"Kau balas semua?" Arthur melepas sejenak matanya dari komik dan menatap belakang kepala Jeremy.

"Ya. Kau tahu 'kan, aku tidak tahu bagaimana harus menghadapi mereka. Mereka begitu baik."

'Doeng.'

Ingin rasanya Arthur memukul dan mengganti otak pemuda yang katanya cerdas itu.

Bagaimana mungkin Jeremy bisa menyebut gadis yang selalu merayunya saat di kelas atau tak henti-hentinya mengirimi email dan meneleponnya itu begitu baik? Mereka setan kalau bagi Arthur. Jeremy bukannya senang dengan semua perhatianehmgangguan itu. Tapi, dia hanya terlalu polos untuk menghadapi semuanya. Saat beginilah seorang bocah sepuluh tahun bernama Arthur sangat dibutuhkan keberadaanya.

"Seperti biasanya, Archie. Kau harus menunggu di perpustakaan selama aku kuliah." Jeremy turun dari sepedanya setelah pemuda mungil di belakangnya turun lebih dulu.

"Yak, Jeremy bodoh! Kenapa kau tidak mengizinkanku untuk menunggu di kantin?" Arthur melepas matanya dari komik di tangannya dan menatap Jeremy kesal.

"Aku tidak cukup bodoh untuk kau tipu, Bocah!"

"Kau yang bocah, Jeremy!"

"Kau lebih Bocah, dan panggil aku 'kakak'!"

"Nah, hanya seorang bocah yang meributkan nama panggilan."

Skak mat.

Terlihat perempatan imajiner muncul di pelipis Jeremy.

"Jeremy?"

Tiba-tiba suara bass memanggil namanya, membuat dua sosok yang tengah berdebat dengan maha tidak penting itu menoleh. Dua pasang mata itu menemukan sosok tampan yang kini tersenyum di belakang mereka.

"Professor Kim." Jeremy membungkuk memberi hormat. Mendadak Arthur meningkatkan wajah cemberutnya berkali lipat melihat tingkah Jeremy yang mendadak kembali inosen di depan Andrew Kim, yang diketahui sebagai dosennya.

"Kau belum ke kelas?"

"Saya harus mengantarkan Arthur dulu."

Andrew mengangguk paham. "Jangan sampai terlambat."

Jeremy menarik lengan mungil Arthur menjauh dan meninggalkan Andrew yang terus menatap sosoknya dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya.

Sebuah rahasia yang cukup diketahui oleh Andrew sendiri adalah, ia mengangumi sosok mahasiswanya yang terkenal innocent dan cerdas itu. Ya, Jeremy si Innocent Boy yang selalu di dampingi setan kecil di sisinya, yang seolah menjadi pelindung dari orang-orang yang berusaha mendekati si Innocent. Andrew tak terpengaruh. Toh, bukan level-nya bertarung dengan anak kecil itu. Atau benarkah begitu?

"Aku tahu dosen itu menyukaimu, Jeremy," ucap Arthur yang tengah mengimbangi langkah lebar Jeremy.

"Sungguh? Syukurlah, aku tidak ingin dosen itu membenciku."

"Bodoh," balas Arthur pelan.

"Yak! Archie apa maksudmu? Jangan kau kira aku tidak dengar!" Jeremy berhenti dan menatap pemuda mungil di sampingnya.

"Lupakan hanya pendapat tak penting dari anak kecil." Arthur mengelak. "Cepat! Kau tidak ingin terlambat, 'kan?"

Arthur melepaskan pegangan Jeremy dan berjalan dengan tangan terlipat di belakang kepala meninggalkan sosok yang innocent –atau bodoh?– itu di belakangnya.

Ya, bagaimana tidak bodoh? Maksud Arthur adalah Andrew menyukai Jeremy sebagai normalnya laki-laki, sementara Jeremy menganggap itu hanya sebagai perasaan suka dosen dan mahasiswa? Poor Jeremy –again! –_–"

Tapi, setidaknya dengan itu, Arthur tahu, bahwa ia harus melindungi Jeremy-nya, si Innocent Baby-nya.

Ya, dan sekarang pertarungan antara dosen dan bocah berusia sepuluh tahun untuk memperebutkan si Innocent Boy... dimulai!

.

.

.

.

.

BERSAMBUNG...