Gesekan ranting tak berdaun terdengar bagai denting lagu neraka pada suatu malam di bulan yang begitu bersalju. Malam mengelam, langit hitam tanpa bulan dan bintang tergelak menyaksikan eksistensi kesunyian di bawahnya.

Desa itu terletak di tempat terpencil, dengan beberapa rumah yang tertutup salju dan terkunci rapat-rapat. Satu –dua— jendela terdapat sedikit pijar cahaya yang bergoyang hampir padam. Cahaya yang tak mampu meraih kelam di luar.

Dan rumah itu terletak di ujung desa. Sama-sama memiliki atap dan halaman yang tertutup salju. Hanya jendela yang terlihat hitam bagai mata-mata hantu.

Sama-sama kelam, dan termasuk rumah yang tanpa cahaya.

Semua tampak sama.

Namun ternyata tidak di dalamnya.

"Tertulis di surat kabar pagi ini, bahwa seorang pemuda ditemukan tewas dengan leher patah. Tidak bisakah kau melakukannya dengan lebih halus lain kali, Baby?"

"Bagaimana cara membunuh yang halus itu, Master?"

Sosok itu tinggi dan tampan.

Memiliki nama yang tak kalah indah dari suara dan wajahnya; Arthur. Pemuda yang selalu dikenal tetangga sering mengunjungi toko boneka di ujung kota kecil mereka. Tak ada yang tahu pekerjaannya, yang mereka tahu, Arthur hidup sendirian dan berkecukupan.

Tapi pada kenyataannya, tidak.

Arthur tidak sendirian. Ada satu sosok yang selalu menemaninya.

Sosok yang kini sedang duduk di kursi tingginya.

Sosok dengan rambut ikal sewarna kayu ebony di musim panas. Dan bola mata sewarna lelehan caramel di atas kulit wajah porselennya. Tubuhnya terbalut long selves shirt berwarana putih dengan blazer merah di luarnya, serta dasi kupu-kupu yang terpasang manis di lehernya.

Dengan pakaian itu, menambah sempurna penampilan anak-anaknya.

Tak lupa satu pisau daging yang tak lepas dari sisinya.

"Baby, kenapa kau memberi selada dalam sandwich-ku? Kau tahu aku tidak suka sayur."

Seseorang yang tengah duduk di depan sebuah laptop, mengangkat wajahnya dan menatap ke arah sosok dengan tinggi 130 senti meter itu.

Sosok kecil itu menghentikan gerakannya mengayunkan kakinya.

"Maaf, Master. Hal itu tidak akan terulang lagi," balas sosok bagai boneka seukuran anak-anak bernama Jeremy itu dengan suara melengkingnya. "Aku hanya ingin membuatmu makan sayur. Daging tidak baik untukmu."

Sosok yang dipanggil 'Master' itu terkekeh. Tubuhnya segera bergerak menuju sosok mungil di depannya.

"Kau baik sekali, Baby." Tangannya terjulur dan meraih sosok boneka kecil itu dalam rengkuh gendongnya. "Apakah kau juga memikirkan korbanmu dengan sebaik ini, hm?"

Jeremy menggelengkan kepala besarnya. "Tidak. Aku tidak sempat memikirkan itu."

"Bagus. Karena kalau kau memikirkan mereka dan menimbulkan rasa kasihan, kau tidak akan menjadi boneka pembunuh yang hebat." Master a.k.a Arthur menyingkirkan rambut di dahi Jeremy dan mengecup dahi porselen itu pelan.

"Apa boneka pembunuh itu, Master?" tanya Jeremy dengan wajah polosnya.

Arthur terdiam dan menatap wajah polos dengan mata indah dalam gendongannya itu dalam.

"Boneka pembunuh itu kau. Kau yang harus membunuh untukku..." Arthur berucap pelan, "Kau tidak keberatan membunuh untukku 'kan, Baby?"

"Tidak, Master. Aku akan melakukan apa pun untukmu."

('Apa pun untukmu agar aku bisa menjadi makhluk sepertimu.')

"Thanks, Baby." Arthur menurunkan boneka itu dan beranjak kembali menuju kursinya di belakang laptop-nya yang kini menampilkan sebuah thumbnail email baru.

"Baby..." panggil Arthu pelan.

"Ya, Master?"

"Kau siap bermain lagi?" Arthur menatap rangkaian huruf yang tercetak di layar laptop-nya.

"Siap, Master."

Sebuah seringai tercetak di bibir bagus Arthur. "Baiklah persiapkan dirimu. Kau akan bermain-main dengan darah lagi malam ini, Baby..."

.

.

.

.

.

.

BERSAMBUNG...