"Kau suka kuda?"

"Tentu saja!" Suara kecil seorang bocah menimpali dengan penuh semangat suara bass dari sosok di sisinya. Di depan dua orang yang sama-sama pria itu berdiri seekor kuda hitam yang terlihat gagah.

"Jadi, siapa namamu?" lanjut sang pemilik suara bass seraya menoleh ke arah bocah di sisinya. Tangan eksotiknya tetap mengelus surai kuda yang terlihat sangat jinak.

"Namaku Nathan Hwang! Kenapa Dad—maksudku Tuan Andrew selalu lupa?" Sosok kecil itu mengerucutkan bibirnya.

"Sorry, Nathan. Kau tahu 'kan ingatanku buruk?" Pria bernama Andrew itu terkekeh pelan. "Ngomong-ngomong aku suka panggilanmu yang pertama."

Bocah bernama Nathan Hwang itu menghentikan gerakannya mengelus kaki kuda sebatas tinggi yang mampu diraihnya dan membalas tatapan Andrew. "Maksudmu, aku memanggilmu… 'Daddy'?"

Andrew mengangguk. "YA. Aku suka kau memanggilku begitu."

Sebuah lengkung senyum terpahat dengan cepat di wajah Nathan. "Tentu saja, aku akan memanggilmu 'Daddy'. Lagipula kau 'kan memang—!"

"—Nathan! Waktunya pulang!"

Dua sosok itu menoleh dan menemukan sosok manis pemilik suara keras yang baru saja menginterupsi percakapan mereka. Sosok itu kini berdiri di depan pintu sebuah rumah yang terbuka di belakangnya.

"Mom!" teriak Nathan kencang. Kaki kecilnya segera berlari membawa tubuh mungilnya ke arah wanita yang dipanggilnya, 'Mommy'.

Wanita itu tersenyum. Tubuhnya berjongkok dan menyambut bocah berusia delapan tahun itu dengan tangan terentang lebar.

Nathan tertawa ketika pelukan dan gendongan sang Mommy menyambutnya.

"Sorry, putraku merepotkanmu." Wanita itu berdiri dan membungkuk sopan ke arah Andrew yang kini tersenyum lembut.

"Tidak. Kami membicarakan tentang kuda. Dia anak yang menyenangkan," jawab Andrew ramah.

"Benarkah?" Wanita itu melirik bocah dalam gendongannya. "Kau tidak nakal dengan Tuan Andrew hari ini?"

"Aku tidak nakal, Mommy. Lagipula Dad—Tuan Andrew megajari banyak hal tentang kuda," jawab bocah itu gugup ketika mata bocahnya menangkap kilatan peringatan dari sang Mommy.

"Baiklah, kami ke dalam dulu!" Dan wanita itu membungkuk sekali lagi sebelum akhirnya menghilang bersama Nathan di balik pintu yang kini tertutup rapat.

"Kenapa Mum melarangku memanggil 'Daddy' pada ayahku sendiri?" tanya Nathan ketika mereka telah berada di ruang makan. Mata bocahnya mengikuti gerak-gerik sang Mommy yang tengah sibuk memasak dengan perutnya yang membuncit. "Yak! Mum, jawab aku!"

Wanita yang tengah mengaduk sup itu menoleh. "Kau lihat sendiri 'kan? Andrew bahkan tidak mengingatmu dan mengetahui bahwa kau adalah anaknya! Darah dagingnya sendiri dari pernikahan yang sah denganku!" ucap sosok bernama Anna itu tegas.

"Lalu untuk apa Mum mengajakku tinggal di dekat rumah Daddy kalau Mum tetap tidak mengizinkan aku memanggilnya 'daddy'?"

"Ah… i-itu…"

"Aku tak peduli Mum membolehkan atau tidak. Aku akan memanggil Tuan Andrew 'daddy'!"

"Dia tetap tidak akan mengingat kita!"

"Aku akan membuatnya mengingatnya kalau begitu!" jawab Nathan tegas. Terdengar derit kasar saat bocah itu memundurkan kursinya.

"Kau mau ke mana?" tanya Anna tajam.

"Ke atas!"

"Kau belum makan!" cegah Anna lagi. Nathan tak peduli, bocah cilik itu tetap berlari meninggalkan meja makan dan menuju kamarnya di lantai dua.

...

"Kenapa kau selalu menyiram bunga saat malam?"

Anna terlonjak ketika sesosok pria tampan berdiri di belakangnya. Andrew tersenyum. "Sorry, membuatmu kaget."

"Tidak apa-apa," ucap Anna lebih seperti gumaman tak jelas. Diletakkannya alat yang digunakannya untuk menyiram bunga itu dan ia duduk di sebuah bangku yang ada di sisi taman.

Andrew mengekor di belakangnya.

"Jadi kenapa kau menyiram bunga saat malam hari?" tanya Andrew melanjutkan pertanyaannya yang belum dijawab.

"Dan kenapa kau selalu bertanya begitu setiap malam?"

"Eh?" Andrew menunjuk dirinya sendiri. "Aku melakukan itu setiap malam?"

Anna menunduk. Memilih tak menjawab pertanyaan pria di sampingnya.

"Kau sedang hamil," komentar Andrew lagi.

"Why? Menurutmu wanita yang hamil itu aneh?" Anna mengangkat wajahnya dan menatap keremangan di halaman rumahnya.

"Tidak. Bukan itu maksudku." Andrew mengibaskan tangannya. "Aku hanya merasa kalau dulu ada seseorang yang juga tengah hamil. Dan ia... berada di sisiku."

"Benarkah? Pasti itu sudah lama sekali," respon Anna dingin.

"Ya. Lama sekali, dan bodohnya aku tidak bisa mengingatnya..."

Andrew gantian menunduk. Mempermainkan kakinya yang hanya terbalut sandal.

"Kau merindukannya?" tanya Anna sesaat kemudian.

"Aku... Entahlah."

"Sudah kuduga," ucap Anna seraya melengkungkan sebuah senyum getir.

"Apa maksudmu?"

"Tidak..." jawab Anna pendek. Jemarinya mengelus perutnya yang membuncit.

Malam berlalu sangat hening. Tak ada suara serangga ataupun angin yang menggesek dedaunan.

"Anna..." panggil Andrew tiba-tiba. "Maaf aku memanggilmu begitu."

"Hm?"

"Jadi siapa ayah dari anak dan bayi dalam kandunganmu itu? Maksudku siapa suamimu?"

Anna terdiam. Wajahnya terpaku pada wajah Andrew yang menuntut jawaban.

"Suamiku..."

.

.

.

.

.

"Siapa?" tanya Andrew lagi.

"Bagaimana jika kubilang bahwa ayah dari anak ini adalah—

—kau?"

Andrew menelan ludahnya, terkejut. "A–aku?"

"Kau tidak percaya?" Anna tersenyum samar. Wajah itu kembali pada atensinya semula, menatap keremangan yang berpesta di depannya. "Sudah kuduga."

"Yah! Bu–bukan itu. Maksudku… Aku hanya—!"

"—terkejut. Tidak pernah terbesit dalam kepalamu kau akan mempunyai anak dariku," terang Anna panjang. Suaraya terdengar renyah dan tanpa beban, walau berbanding terbalik dengan semua itu, ada kecewa yang dikuburnya dalam-dalam.

Sejak awal mereka menikah, Anna merasa siap dengan apa pun kondisi Andrew. Sangat siap. Siap terluka. Siap kecewa. Siap kesepian. Siap… dilupakan.

Tapi, tenyata ia tak bisa membohongi hatinya dan terus-terusan memasang semua 'kesiapan' yang nyatanya semu itu. Hatinya terluka. Hatinya kecewa ketika Andrew tak mencintainya. Ia seratus kali lebih sakit, ketika Andrew tak menunjukkan tanda-tanda perubahan dan justru perlahan melupakannya. Meninggalkannya dalam jurang kesepian.

Melupakan keberadaannya.

Tapi, ia tak bisa membenci pria itu. Hatinya sudah habis untuk sosok yang selalu menghagatkan musim dinginnya. Sejak pertama melihat Andrew, Anna telah jatuh cinta pada pria itu. Cinta tulus yang membuatnya bertahan walau merasakan semua rasa yang bisa menghancurkannya dalam sekejap. Tetap bertahan walau menerima cinta yang jauh lebih menyakitkan daripada cinta yang bertepuk sebelah tangan.

"Seandainya aku memang bukan suamimu…"

Anna menahan napas.

"Aku bersedia menjadi suamimu, Anna…"

.

.

.

.

.

SELESAI...