"Dear Mother… how are you doing? Sorry, I haven't called recently…"

...

Gadis manis bernama Rachel itu terlihat kesal.

Sesekali dahinya berkerut seolah tengah memikirkan sesuatu yang berat. Di depannya tepat di meja pemanas khas Jepang—karena sekarang ia memang sedang berada di Jepang, tergeletak lembaran kertas dan pena. Namun itu bukan kertas satu-satunya. Di sisinya juga telah berhamburan kertas yang telah berbentuk gumpalan-gumpalan khas kertas yang diremas-remas dan dilempar semaunya. Gumpalan kertas yang terlihat puluhan itu menujukkan berapa lama Rachel berkutat dengan kertas dan pena.

Gadis itu menatap kertas kosong di depannya sekali lagi dan menghirup udara kuat-kuat sebelum akhirnya menghembuskannya pelan-pelan. Tangannya mulai kembali bergerak, menggores huruf-huruf di atas kertas putihnya.

.

.

.

Dear Mama…

Haikei ni shitemasuka? Saikin renkaku shinakute… hontou gomenasai. Boku wa nantoka yattemasu…

Ma, maaf atas kalimatku dalam bahasa Jepang tadi. Aku tahu kau akan memukulku jika aku di dekatmu sekarang. Tapi itu juga sebagai bukti bahwa aku benar-benar di Jepang sekarang, untuk belajar, dan bukan sekedar untuk melihat salju seperti alasanku saat itu.

Ma, aku tahu kau terkejut dengan datangnya surat ini. Mengingat kita biasa bercakap lewat telephone atau video call, —untuk memastikan bahwa aku masih hidup. Lalu, skarang suratku datang. Dalam bentuk lembaran kertas. Kertas yang mungkin akan menjadi penghuni tempat sampah dan terdaur ulang, —tenang Ma, jangan marah dulu, aku tidak berpikir kau akan setega itu. ^^

Mama, maaf atas basa-basi di atas.

Jujur aku hanya bingung bagaimana harus mulai menyapamu. Walau aku tahu, kau sudah paham bahwa aku bukan orang yang mudah mengungkapkan perasaan. Bahkan tanpa kuberitahu sekalipun kau pasti bisa menebak berapa lama waktu yang kubutuhkan untuk merangkai serakan huruf ini. Sangat lama dan seharian, —ya, benar sekali, aku bolos kuliah hari ini. Jangan marah lagi, Mama. Hari ini adalah mata kuliah Takahashi-sensei, aku pernah memberitahumu, bukan? Nilaiku cukup tinggi di mata kuliah beliau. Bahkan aku ditawari untuk menjadi asisten dosen di mata kuliah itu, —hanya saja, bahasaku yang kacau, membuatku mempertimbangkan lagi tawaran itu. Lalu usiaku, —jangan lupakan usiaku, Mama. Aku memang jauh darimu, tapi kau harus ingat, aku bahkan belum berusia tujuh belas. Hahaha aku tahu, kau tidak lupa itu, Mama.

Mama, aku mencintaimu.

Maafkan aku, akhir-akhir ini aku tidak menghubungimu. Bahkan aku belum mengucapkan terima kasih atas mie instan yang kau kirimkan bulan kemarin. Mama, bahkan tiga kardus mie itu sekarang sudah nyaris habis. Aku tahu, mie tidak baik untukku, tapi, hanya itulah yang murah di sini. Ramen yang ada di kedai, harganya bisa membunuhku, Mama. Sedangkan yang instan, —tidak seenak yang orang-orang bayangkan.

Ya, hampir semua makanan di sini rasanya hambar, Mama. Dua tahun di Jepang, dan aku belum terbiasa dengan rasa masakannya. Atau sebenarnya ini adalah bentuk dari, —aku merindukan masakanmu, Mama?

Entahlah… Kau lebih tahu soal itu.^^a

Mama, aku merindukanmu.

Hampir dua tahun aku tumbuh tanpa bimbinganmu. Dan saat inilah aku menyadari betapa berartinya kau untukku. Sangat berarti.

Aku ingat, saat awal aku memutuskan untuk meneruskan kuliah di Jepang. Saat itu, Papa terang-terangan menolak. Sementara kau hanya terdiam, dan aku berusaha merayumu. Agar kau yang terdiam bersuara. Kau memang bersuara, dan diluar dugaan kau mengizinkanku.

Bahkan aku yang mengira kau tidak akan berani menentang Papa, pun akhirnya memberi izinmu. Aku senang dan Papa pun luluh. Saat itu aku tidak curiga. Aku tidak tahu apa-apa. Yang aku tahu — di kepala bocahku, hanyalah aku yang akhirnya kuliah di Jepang. Melihat salju yang selama ini hanya ada dalam angan-angan bocah otaku sepertiku.

Aku terlarut dalam kegembiraan itu. Itu berlangsung sebulan sejak persiapanku mengurus passport, visa, dan betapa repotnya itu karena usiaku yang bahkan belum genap lima belas.

Sampai akhirnya aku menyadari sesuatu… Aku menyadari bahwa, —

kau tidak pernah tersenyum tulus sejak kau memberi izin untukku.

Kenapa, Ma?

Saat itu aku kecewa, kenapa kau menjadi seperti itu? Saat itu aku tetap saja menyalahkanmu. Hingga akhirnya aku tahu, —seharusnya aku tahu—, bahwa kau sangat menyayangiku. Sangat menyayangiku. Ibu mana yang tega melepas anaknya yang bahkan belum berusia tujuh belas tahun keluar negeri?

Maafkan aku, Ma. Maafkan aku dan pikiran bocahku.

Aku semakin merasa bersalah saat kau tetap mengizinkanku, dan juga memarahiku yang sempat membatalkan rencanaku. Dengan alasan semua surat-surat sudah di tangan, padahal semua bukan karena itu. Tapi, semua karena kau tidak ingin mengecewakanku. Kau tidak ingin melihatku kecewa.

Mungkin sebagaian orang akan mengecapmu sebagai ibu yang tega karena membiarkan anaknya yang belum dewasa keluar negeri. Tapi, tidak, Ma. Mereka hanya tidak mengerti. Mereka tidak mengerti bagaimana caramu mencintaiku. Kau melakukan ini, bukan karena kau ibu yang tega, tapi kau melakukan ini karena kau tahu aku bisa. Aku bisa bertahan. Itu yang kau percaya, Ma. Karena itu aku tak peduli apa kata mereka. Apa pun kata mereka, kau ibu yang terbaik, Ma. Kau satu-satunya ibuku. Kau lebih mengerti semuanya.

Terima kasih, Mama. Atas sebuah kepercayaan yang kau pertaruhkan di pundakku.

Aku selalu menjaganya, Ma. Sebisaku.

Tapi, aku tetaplah anak-anak, Ma. Aku tetaplah anakmu.

Aku tetap tak berarti tanpa bimbinganmu.

Aku merindukan tangan yang selalu membangunkanku dengan lembut. Aku merindukan senandung yang selalu kau nyanyikan saat aku sedang merajuk karena home schooling yang kujalani. Aku merindukan masakanmu yang selalu tersaji di meja makan. Aku merindukanmu, saat kau memanggil namaku dengan lembut, saat berusaha menasihatiku. Aku merindukan sosokmu yang selalu tersenyum lembut, memberi semangat saat aku terjatuh dan putus asa. Aku merindukanmu, Ma.

Semua tentangmu.

Maafkan aku yang selalu membalas ucapan lembutmu dengan bentakan. Maafkan aku atas kekasaranku hanya karena merasa kau tak megerti tentangku. 3adahal yang terjadi adalah sebaliknya. Kau lebih banyak mengerti tentang anak-anakmu. Selalu ingin mengerti jalan pikiran kami. Walau nyatanya yang terjadi adalah sebaliknya, kami yang mengangapmu ingin tahu urusan kami. Maafkan aku yang seperti itu, Ma.

Maafkan aku yang justru mengangapmu sok tahu, saat kau ingin mengerti tentangku. Maafkan aku yang mengangapmu tidak tahu apa-apa padahal kau lebih tahu segalanya. Maafkan aku yang sering menyalahartikan perhatian dan kasih sayangmu. Maafkan aku yang egois hanya ingin dimengerti tanpa mencoba berbalik mengerti.

Aku tahu, semua kata ini tak akan membalas dan menyampaikan semuanya. Tapi aku ingin mengatakan ini, Ma. Aku tidak ingin terlambat. Mengucapkan terima kasih untuk malaikat yang telah dikirim Tuhan untukku.

Kau adalah malaikat paling sempurna.

Kau satu-satunya yang siap bertaruh nyawa untukku. Menangis saat melihatku terluka dan sakit. Bahkan aku tahu, kau yang selalu menyertakan namaku dalam lantunan doa-doamu.

Aku mencoba mandiri dan terbiasa sendiri. Mencoba memasak sendiri. Bangun sendiri. Dan mencuci pakaianku sendiri.

Aku bisa, Mama. Aku bisa dan terbiasa dengan hal-hal itu. Tapi, aku tetap tidak terbiasa tanpamu. Aku merindukanmu, Ma.

Aku tak tahu bagaimana harus mengatakan kerinduan ini.

Bahkan aku mulai merindukan bentakanmu saat tak sengaja aku merusak tart yang kau buat susah payah saat ulang tahun Papa.

Ma, aku tahu kerinduanku tak sebanding dengan rasa khawatirmu, melihat aku yang di sini sekarang. Jauh darimu. Aku juga ingat kau yang selalu mengingatkanku untuk menjaga kesehatanku. Aku menjaganya, Ma. Aku takut sakit. Kau tahu aku takut jarum suntik, karena itu aku tidak ingin sakit. Tapi, lebih dari semua itu, kalau aku sakit tidak akan ada yang merawatku sepertimu, Ma.

Kau juga jangan sakit, Ma. Tetaplah sehat. Makan yang cukup. Dan jangan boros-boros. Hahaha, maaf aku yang mengatakan ini, padahal hal ini jugalah yang sering Mama katakan. Tak apa 'kan, Ma?

Kau tahu, Ma?

Saat aku menulis surat ini, Jepang sedang musim gugur. Aku bisa melihat momiji berjatuhan di sini. Hal ini indah sekali, Ma. Aku membayangkan bagimana jika suatu hari nanti kita melihat hal ini bersama?

Aku ingin membawamu ke sini, Ma. Meyakinkanmu bahwa semua baik-baik saja. Orang Jepang memang tidak seramah seperti yang orang-orang bayangkan, tapi mereka baik, Ma. Masakan mereka yang tidak enak jugalah yang justru membuatku selalu merindukan masakanmu.

Banyak hal yang kurindukan darimu, Ma. Namun jika kutuliskan semua, aku takut hal itu justru membuatku ingin pulang dan memelukmu. Sebelumnya aku belum pernah bilang, tapi kau tahu, Ma? Ini adalah rahasia, —aku suka melihat wajah hangatmu yang menurutku sangat cantik. Kau tetap wanita tercantik, Ma. Tak peduli jika sekarang kerutan mulai muncul di wajahmu. Kehangatan membuatmu tetap cantik, Ma.

Terkadang aku resah karena merasa kalah cantik darimu. Tidak salah Papa dulu memilihmu. ;)

Mama, kurasa aku telah menulis banyak —hal yang belum pernah kulakukan sebelumnya—, dan aku harus mengakhirinya. Maafkan aku, Ma, atas kejutan yang aneh ini. Aku tahu, —dan bukan sok tahu, kau akan meneleponku setelah ini. ;)

Aku menunggu itu, Ma. Aku menunggumu memanggil namaku di telepon. Dan jangan biarkan Nathan merebutnya sebelum kita selesai bicara, ya?

Mama, aku selalu merindukanmu. Walau aku egois, cuek, dan kekanakan, tapi kau tahu 'kan? Aku selalu mencintaimu.

Aku mencintaimu Ma. Setahun lagi, saat aku pulang, izinkan aku memelukmu. Aku janji, aku akan memberimu pelukan terlama, Ma. Dan kau akan tahu, aku bukan anak-anak lagi, aku sudah tumbuh menjadi gadis dewasa, tapi satu hal yang tak berubah. Aku,—

tetap anakmu…

Your awesome child,

Rachel

.

.

.

.

.

.

Rachel tersenyum puas.

Kini tangan pucatnya memegang sebentuk amplop putih dari surat yang telah berhasil ia tulis —setelah mengalami kegagalan kesekian kalinya. Gadis itu berdiri, meletakkan pena di atas meja penghangat dan mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Mencoba meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku setelah hampir seharian duduk untuk menulis sebuah surat.

Tubuh ramping itu kini beranjak keluar menuju balkon apartment yang terbuka lebar. Membiarkan gorden yang menjuntai ke lantai berterbangan oleh angin musim gugur yang baru saja menghampiri Jepang. Rachel berdiri di pagar besi yang membatasi balkon. Mata redupnya menatap senja yang mulai jatuh di depannya. Tubuhnya sedikit berjengit merasakan angin yang membelai kulit pucat yang hanya terbungkus t-shirt biru laut lengan pendek. Beberapa lampu mulai dinyalakan. Memberi warna pada jingga yang mulai mendominasi dan terbias sempurna. Sesekali terlihat daun momiji berterbangan sebelum akhirnya jatuh tertarik gravitasi bumi. Jatuh dan perlahan lebur ke bumi. Bersiap untuk menjadi nutrisi bagi kehidupan setelahnya.

"Kau bisa sakit." Seseorang datang dan memberi kehangatan lewat tangan yang mendadak melingkari pinggang rampingnya. Sosok itu juga datang dengan aroma ocha* yang memanja indera penciumannya.

Rachel melirik sosok yang tengah memeluknya.

"Okita-kun?"

Sosok itu tersenyum. Tangan kirinya yang tengah memeluk Rachel semakin ia eratkan, membawa tubuh gadis itu menekan dadanya erat. Sementara tangan kanannya tengah memegang cangkir ocha. Okita sedikit menunduk, membiarkan pipinya bersentuhan dengan pipi pucat Rachel. Kedua kulit sewarna susu itu saling bersentuhan, mengalirkan friksi kehangatan yang tak terkatakan.

"Kau sudah selesai menulis surat?" tanya Okita lembut, matanya ikut memandang percikan cahaya warna-warni di bawah apartment mereka.

Rachel mengangguk samar. Matanya melirik cangkir ocha yang masih mengepul dan keping senbei* di sisinya.

"Kau sampai bolos kuliah untuk menulisnya. Jadi, kapan akan kau kirim, hm?"

Okita mengecup pipi pucat Rachel singkat.

"Secepatnya. Mungkin besok, kalau kau bisa mengantarku."

"Tentu. Apa pun untukmu, Hime." Okita meraih sekeping senbei dan membawanya mendekat ke arah mulut Rachel. "Cobalah."

Rachel mengigit ujung senbei itu sedikit, dan mengunyah kue berbahan beras itu pelan. Okita tersenyum dan memasukkan senbei sisa gigitan Rachel ke mulutnya sendiri.

"Okita-kun…" panggil Rachel pelan.

"Hm?" jawab Okita pelan.

"Aku—!" Rachel membalikkan badannya, membiarkan tubuhnya kini berhadapan dengan tubuh kekar Okita yang tertutup kemeja. "—ingin bicara dengan Mama mengenai hubungan kita."

Rachel menunduk. Sementara kedua tangannya memegang kemeja Okita erat-erat. Membuat amplop di tangannya sedikit teremas.

"Tentu saja kau harus bilang tentang hal itu, Hime." Tangan Okita yang bebas memaksa wajah itu terangkat dan memandangnya. Menemukan matanya.

Dahi mereka bersentuhan.

Ujung hidung mereka berhimpitan.

Membiarkan napas itu beradu dalam kehangatan.

"Kurasa mereka akan segera menikahkan kita, kalau tahu selama ini kita hidup bersama," ucap Rachel pelan. Okita tersenyum. Pemuda itu menjauhkan wajahnya dari Rachel.

"Hal itu lebih baik." Disesapnya ocha sedikit dan Okita kembali mendekat untuk menangkap bibir Rachel dengan bibirnya.

Rachel terkesiap. Ciuman Okita berbaur dengan rasa ocha yang menyegarkan.

Membuat pertemuan kedua bibir itu semakin dalam dan memaksa lidah untuk segera ambil peran di dalamnya. Rachel bergetar ketika Okita meminumkan ocha melalui mulutnya, yang diterimanya dengan senang hati. Ocha bercampur dengan saliva keduanya.

'Prang!'

Pecahan cangkir ocha yang terjatuh dan menyentuh lantai terdengar menjadi melodi pembuka saat kedua tangan Okita melingkari pinggang Rachel dengan sempurna, disusul dengan Rachel yang membawa kedua lengannya di belakang kepala Okita, memaksa pemuda itu menunduk dan memperdalam ciuman mereka.

Tangan Rachel meremas surai pemuda itu pelan, disertai desahan lirih atas lidah Okita yang menggelitik tiap sudut mulutnya. Tak ada lagi angin musim gugur yang mengganggu dengan dinginnya.

Semuanya lebur.

Bersatu dalam kehangatan.

Rachel tersenyum di sela ciuman mereka.

Kini, ia tahu apa yang akan membuat suratnya sempurna.

"Ma… I've a boyfriend, here. He's a good man. Would you mind to meet him, next time?"

.

.

.

.

.

.

SELESAI...