"Leslie, jangan pergi!"

Leslie hanya tersenyum. Senyum yang sama saat pertama kali Carrel melihatnya. Ia mundur perlahan.

"Memang itu mauku? Itu maumu, Carrel. Aku sudah katakan padamu sebelumnya."

"Jadi itu maksud ucapanmu?"

"Begitulah."

Leslie langsung menghilang dalam hitungan detik meninggalkan Carrel yang hanya terdiam dan terus menatap tempat dimana Leslie sebelumnya berada. Ia berharap Leslie kembali.

Tentu saja harapan kosong.

Carrel hanya tersenyum lesu. "Ya, kau benar, Leslie, aku terlalu bodoh."


Hari semakin larut. Hujan lebat melanda daerah yang disesaki antrean mobil itu.

"Ah, sial! Kenapa pula jalan ini? Tidak biasanya!" Carrel menggebrak dashboard mobilnya dengan kesal.

Sudah dua jam lebih ia terjebak ditengah kemacetan yang jarang terjadi itu. Terlihat jelas urat kekesalan di wajah Carrel. Karena tidak sabar lagi, ia keluar dari mobil dan di bawah lindungan jas-nya mencoba berjalan di tengah badai.

Carrel meraih ponselnya dengan kasar dan menelepon Fred, temannya. Baru beberapa detik ponsel itu menempel di telinganya, ia langsung memasukkannya lagi ke dalam saku celananya.

"Huh, kenapa disaat seperti ini aku benar-benar sial? Mengesalkan!"

Badai yang mengakibatkan sinyal buruk itu bertambah kencang seolah tidak peduli dengan kemarahan Carrel yang semakin menumpuk. Carrel mempercepat langkahnya. Tak lama, di depannya nampak objek yang menyebabkan masalah kemacetan itu.

"Oh, pantas saja semacet ini!"

Bekas-bekas kecelakaan yang parah terpampang jelas di depan matanya. Mobil kecil itu hancur lebur tertimpa truk yang sebesar raksasa. Di sekitarnya itu tercecer darah di mana-mana. Benar-benar mengerikan.

"Hm. Kekacauan di tengah badai. Ada apa dengan hari ini?"

Tidak jauh dari tempat bermasalah itu, sekilas Carrel menangkap sosok seorang gadis duduk di pembatas jalan dengan santainya sambil menonton kejadian tragis itu. Entah mengapa, Carrel seperti terpanggil untuk mendekatinya.

Gadis itu menoleh dan terkejut saat Carrel menyapanya. Tapi, kemudian ia tersenyum.

"Kau dari tadi ada di sini?"

"Ya. Kenapa?"

"Tidak ngeri melihat kejadian itu?" Tanya Carrel sambil menunjuk rongsokan mobil di belakangnya.

"Untuk apa mesti takut? Bukan aku yang mati."

"Kau tidak berperasaan ya?" sindir Carrel. Hatinya yang sedang kesal membuatnya menjadi sinis.

Gadis itu hanya tersenyum. Sesaat Carrel terdiam. Ia terlalu terpukau pada senyum gadis itu. Ia tidak pernah melihat senyum semanis itu.

"Oh ya, aku Carrel. Kau siapa?"

"Leslie," ujarnya sambil tersenyum lagi. Satu lagi… "kau terjebak kemacetan ini ya?"

Carrel mengangguk. "Benar-benar menyebalkan! Hei, bagaimana kalau kita berteduh di café itu? Nanti kau sakit."

Leslie hanya tersenyum dan mengikuti Carrel yang sudah berjalan duluan sambil terus menoleh ke belakang.

Awal yang indah…

"Ehm, Leslie, kau mau jadi temanku 'kan?" Leslie mendongak. Ia terkejut. Carrel memandang Leslie bingung. "Kenapa memangnya? Apa aku aneh bertanya begitu?"

"Ti, tidak. Tapi, apa kau yakin?"

Senyum Carrel melebar. "Tentu aku yakin. Walaupun kau tidak berperasaan sekalipun," jawab Carrel sambil tertawa.

"Aku serius!"

"Aku juga serius, Leslie. Kenapa sih?"

"Kita baru pertama kali bertemu, kau sudah mempercayaiku?"

Mata Carrel menerawang mengingat-ingat kejadian sebelumnya. "Aku tidak tahu kenapa, tapi, rasanya aku langsung mempercayaimu."

Leslie tersenyum. Carrel terdiam lagi menatap Leslie. Kali ini bukan karena terpukau, tapi karena terlalu shock.

"Walau aku bukan manusia?"


"Leslie, kenapa kau lemas begitu? Wajahmu pucat tuh." Carrel menangkap Leslie yang hampir terjatuh.

"Aku tidak tahu. Rasanya pusing sekali," jawab Leslie sambil memijat-mijat keningnya.

"Kau sudah makan?" Tanya Carrel dengan wajah yang benar-benar khawatir.

Leslie menggeleng lemah. "Dari kemarin, tidak ada yang bisa kuminum. Tiap hari semakin sulit saja."

"Ya sudah, minum darahku saja!"

Mata Leslie terbelalak. "Hei, kau gila? Bagaimana jika aku lepas kendali, bodoh?"

"Daripada kau mati nanti! Cepat minum!"

Leslie menjauhkan dirinya dari Carrel yang terus memaksa. "Aku tidak mau!" Walaupun Leslie sedang lemah-lemahnya, tenaganya lebih kuat daripada Carrel.

Carrel langsung manyun. Ia masih keras kepala. "Ya sudah, kupaksa kau untuk minum!" Carrel mengeluarkan silet kecil.

Melihat itu, Leslie berteriak marah, "Carrel! Jangan kau lakukan itu, bodoh!"

Leslie mencoba menghentikan Carrel dengan merebut silet itu. Tapi terlambat. Carrel telah menyayat dalam telapak tanganya. Darahnya langsung mengucur keluar.

Leslie langsung menutup hidungnya kencang-kencang. "Carrel, menjauh dariku sekarang juga!"

Carrel tidak memedulikan ucapan Leslie. Ia malah menarik tangan Leslie agar lepas dari hidungnya dan mendekatkan tangannya sendiri ke arah Leslie. Leslie tidak berdaya. Bau darah yang menyengat telah tercium di hidungnya. Tanpa banyak omong lagi, Leslie langsung menjilati darah yang terus keluar.

"A, aduh! Sakit juga ternyata," ucap Carrel tidak percaya. Ia melihat temannya itu minum seperti orang yang kehausan dan tersenyum. "Seperti kucing," gumamnya.

Leslie mendongak. "Siapa yang kucing?" Telinganya tajam juga ternyata.

"Kau. Siapa lagi?"

"Sial!"

Carrel hanya tertawa kecil.

Hampir setengah jam Leslie dengan puas menikmati darah yang tak hentinya mengalir.

"Kau belum kenyang?"

"Tidak ada batasan kenyang untuk vampire. Yang ada hanya batasan lapar. Aku sudah bilang kalau aku nanti tidak akan tahan."

Carrel melongo mendengarnya. Wajahnya sudah pucat sampai-sampai bibirnya memutih. Tapi, Carrel tidak tega menghentikan Leslie yang tersenyum bahagia itu.

Tidak sampai lima menit, Carrel sudah oleng. Rasanya, bumi di bawahnya kempes dan tidak rata sehingga membuatnya mau jatuh.

Leslie berhenti sejenak dari kegiatan mengisi perutnya itu. "Kau tidak apa-apa Carrel?"

"Ti, tidak. Lanjutkan saja, Leslie," ujarnya sambil tersenyum lemah.

"Oh, sial! Bau darah ini menyebalkan! Rasanya tenggorokanku kering kalau tidak meminumnya! Kau sih Carrel! Diberitahu malah ngeyel!" decak Leslie kesal.

"Aku tidak apa, Leslie. Lanjutkan sa──"

BRUK!

Carrel terjatuh diikuti jeritan Leslie yang terkejut. "Carrel!" Dengan kekuatan yang sudah kembali pulih, Leslie memapah Carrel dan membawanya ke rumahnya. "Dasar keras kepala!"


"Maaf ya Leslie. Kau jadi harus mengangkut diriku yang bodoh ini."

"Tidak apa. Aku yang harus berterima kasih padamu."

Carrel mengangkat tangan kirinya. "Huh, kenapa aku juga ditransfer darah seperti ini?"

"Aku terlalu banyak meminum darahmu. Tadi dokter jadi memarahiku."

Mata Carrel terbelalak. "Kau memberitahu dokter itu kalau kau vampire?"

"Ya tidak lah bodoh! Ia mengira aku membiarkan dirimu mendonorkan darah terlalu banyak." Jawab Leslie sambil nyengir.

"Benar juga ya."

"Istirahat sana. Aku pulang dulu ya." Carrel mengangguk pelan. Leslie tertawa pelan. "Kau itu mengangguk tapi cemberut. Mana yang benar nih?"

"Kau pulang saja sana."

"Tidak perlu mengusir." Leslie berbalik dan berjalan keluar ruangan. Tapi, saat baru mau melewati pintu, Carrel menghentikannya.

"Leslie, aku mau memberitahu sesuatu. Kesini dong."

Leslie menatapnya heran. Tapi, ia tetap berbalik dan menghampiri Carrel. "Apa?"

"Aku sayang padamu, Leslie. Kau mau jadi pacarku?"

Leslie hanya diam menatap Carrel yang terbaring lemah sambil tersenyum itu. "Aku tidak yakin aku bisa."

"Kumohon dengan sangat, Leslie… Ubah aku! Jadikan aku sepertimu! Aku tahu kau bisa!"


Leslie terus menghindar dari tatapan merana Carrel. "Jangan bertindak bodoh lagi, Carrel!"

"Tapi kau bilang hanya itu satu-satunya cara. Ubah aku kalau begitu!" Carrel terus mengejar Leslie yang berlari cepat.

"Tetap saja kita tidak bisa bersama walaupun kau berubah nanti!"

"Aku tidak akan ingat darah melulu kok! Dengan cepat aku akan membiasakan diri dan lebih mementingkanmu daripada darah!"

"Bukan begitu, bodoh!"

"Kalau kau tidak mau, aku akan tetap memaksamu dengan caraku!" Carrel mengangkat siletnya tinggi-tinggi.

"Kau mau mengiris dirimu sendiri lagi? Tetap saja aku tidak menggigitmu kalau begitu! Percuma, bodoh!"

Carrel mengiris telapak tangannya lagi. Uh, bau darah ini! Tanpa sadar, Leslie menjilat bibir dan melambatkan larinya. Ia menoleh ke belakang dan menatap Carrel yang tersenyum penuh kemenangan. Carrel melumurkan darahnya ke lehernya. "Bagaimana kalau begini, Leslie?" Leslie tersentak. Tapi, matanya telah terbutakan oleh bau darah yang pekat itu dan berlari menerjang Carrel sampai ia terjengkang ke belakang.

"AAAKKKHH!" Rasanya benar-benar sakit. Carrel merasakan kulitnya dirobek dengan kasar. Racun dari gigi Leslie menyebar cepat. Carrel tidak bisa merasakan apa-apa lagi. Mati rasa. Ia bisa membunuh Carrel jika terus meminum darahnya dengan rakus seperti itu.

Napas Carrel tersengal, tapi ia tersenyum lebar. "Ka, kau kalah 'kan Leslie?"

Leslie mendadak seperti tersadar dengan apa yang dilakukannya. Ia langsung menghempaskan Carrel jauh-jauh. Matanya memelototi Carrel yang masih saja tersenyum. "Carrel bego!" Leslie langsung meninggalkan Carrel yang tergeletak berceceran darah.

Carrel dengan sekuat tenaga berusaha bangkit sambil menutupi luka di lehernya, mencoba menghentikan aliran darahnya. Dengan terseok-seok, ia menghampiri Leslie yang berkacak pinggang membelakanginya.

"Kenapa kau lakukan itu bodoh?"

"Aku 'kan sudah bilang, Leslie, aku sayang padamu! Kenapa kau begitu sih? Kau suka padaku juga 'kan?"

Leslie berbalik dan meneriaki lelaki di hadapannya itu, "Memang! Tapi, saat menjadi manusia! Bukan makhluk immortal seperti sekarang ini!" bentak Leslie tanpa perasaan.

Carrel merasa seperti ditampar keras. "A, apa maksudmu?"

"Kau! Sebagai manusia sangat menggiurkan! Sekarang, aromamu saja tidak lezat! Kau sangat menjijikkan!"

"Kau menganggapku apa sih sebenarnya, Leslie?"

Leslie tersenyum memperlihatkan taringnya. "Tentu saja temanku yang baik… dan juga sumber makananku."

Carrel terpaku. Lututnya terasa lemas. Ia jatuh terduduk dan terus menatap Leslie tidak percaya. Ja, jadi selama ini…

-THE END-


Please review ^^ (walaupun rada ga jelas)

maklumkanlah.. ngejar jam ~(-3-)~