Devilish Princess

Pagi yang indah di mana matahari bersinar terik di atas bumi. Di suatu rumah yang amat mewah dan besar. Sudah kelihatan bahwa itu adalah rumah seorang kolongmerat. Di sebuah kamar antik dengan perabotan yang harganya sudah dipastikan sangatlah mahal.

Seorang gadis remaja berambut ungu gelap duduk di depan meja riasnya menghadap sebuah cermin dan menyisir rambutnya. Kulitnya sangat putih dan terlihat mulus. Wajahnya cantik tak ternoda sedikitpun. Bola mata hijau zamrudnya begitu jernih dan rambutnya itu disisir olehnya dengan begitu rapi.

Ia memakai pakaian terusan dress berwarna merah dan bolero putih. Di kerahnya terdapat bross batu kuning yang dekilingi oleh pita. Itulah pakaian seragam sekolahnya. Di rambutnya sudah terhias sebuah bando berwarna merah yang terdapat bunga mawar berwarna hitam. Sepatunya juga berwarna hitam.

Gadis itu telah selesai menyisir rambutnya, segera meninggalkan meja riasnya dan mengambil tas sekolahnya sebelum pintu kamarnya didobrak oleh seorang pria berkacamata dan memakai jas yang... sedikit tidak rapih, rambut blondenya acak-acakan, dan sangat terlihat habis bangun tidur.

"Ma-maafkan... hosh... saya... hosh... Saya bangun kesiangan tadi... hosh," katanya sebari mengambil napas karena berlari. Ia sedikit membetulkan kacamatanya yang sedikit miring itu.

"... Bodoh!" Satu kata yang diucapkan oleh gadis itu kepada butlernya yang benar-benar kurang elit. Mendengar itu, butler itu tersentak shock. "Setiap pagi pasti selalu begini! Untung saja aku tidak pernah terlambat bangun pagi! Apa maksudmu dengan penampilan acak-acakan itu! Kau tahu aku akan segera berangkat sekolah!" katanya bertubi-tubi menancapkan anak panah kesakitan di dada butler itu.

"Ma-maafkan saya! Saya tidak akan ulangi lagi! No-nona Arika..." katanya sambil menunduk.

"Hmp!" dengus berat yang dikeluarkan oleh Arika sambil membuang muka membuat butler itu semakin down. Nama gadis itu adalah Marvel Arika. Keturunan blasteran antara Jepang dan Jerman. Ia dijuluki "Devilish Princess" oleh butlernya sendiri. "Bawakan tasku Keinan! Aku mau sarapan," katanya lalu pergi meninggalkan ruanganya diikuti oleh Keinan yang membawa tas sekolahnya dari belakang.

Nama butler itu adalah Kuroku Keinan. Butler yang sebenarnya blasteran Ingris dengan Jepang. Terlihat dari rambut blondenya, mata biru yang sayangnya di halangi kacamata frame setengah berwarna hitam. Badannya tegap dan ia terlihat sangat tampan. Sayangnya... tabiat buruknya adalah bangun kesiangan, ceroboh, dan tulalit untuk seorang butler. Julukannya adalah "Idiotic Butler" oleh seluruh penghuni rumah. Karena dia memang cukup idiot untuk seorang butler.

Sesampainya di ruang makan yang besarnya bukan main. Arika duduk di kursi paling ujung di meja makan yang dapat memuat 50 orang sekaligus. Sarapanya sudah tersedia di atas meja. Sebuah satu set ikan salmon panggang dengan salad salmon juga, dan secangkir teh hijau hangat yang segera dituangkan oleh Keinan.

Arika memakan makanannya dengan diam tanpa banyak bicara sementara Keinan. Masih sedikit merasa mengantuk itu berdiri di samping Arika dengan tampang lesu.

'Seharusnya aku tak usah main game online sampai jam 1 pagi kemarin... nona pasti akan mencuekiku seharian,' batin Keinan. Ya, dia sangat suka sekali bermain game online berlama-lama ketika waktu senggang dan bisa lupa waktu. Arika sendiri tidak peduli terhadap hal itu. Yang penting, kebutuhannya tertangani itu saja.

Di tengah lamunannya, Keinan tersontak kaget ketika Arika berdiri dan berjalan keluar ruangan menyisakan piring-piring yang segera dibersihkan oleh para maid yang ada. Dan pada saat itulah Keinan baru teringat.

'Aku belom sarapan...!' batin Keinan dengan wajah yang amat pucat. Tapi ia segera mengikuti Arika menuju mobil limosin yang sudah tersedia. Segera saja Keinan membukakan pintu mobil tersebut dan membiarkan Arika masuk terlebih dahulu sebelum ia duduk di depan bersama supir.

Beberapa lama kemudian, mereka sampai di bangunan luas nan megah walau masih kalah dengan rumah Arika. Itu adalah Shiro Akuma Gakkou. Tempat para anak-anak kolongmerat bersekolah termasuk Arika.

Keinan segera turun dari mobil ketika mereka sampai di lobby sekolah dan segera membukakan pintu kepada Arika yang turun sambil membawa tasnya dengan anggun semerbak berjalan di atas karpet merah membuat semua murid yang ada berhenti sejenak melihat sosok Arika yang datang ke sekolah.

"Dia datang!" bisik seorang murid dengan yang lain. "Akuma hime sudah tiba!"

"Tak kusangka setiap kali melihat dia, selalu saya ada aura aneh disekelilingnya."

"Ku dengar kemarin dia mengalahkan seluruh berandalan dekat sekolah kita."

"Yang benar!"

Bisikan demi bisikan mulai terdengar sangat berisik di telinga Arika yang memilih cuek dan berjalan ke dalam kelasnya. Duduk di kursinya sendiri dan mulai acuh tak acuh terhadap mereka semua yang ada. Bahkan memberikan tatapan menusuk untuk membuat mereka diam.

Sementara itu, Keinan menunggu di tempat khusus para butler menunggu. Duduk di pojokan sambil mengeluarkan aura tidak enak kepada semua butler yang ada. Perutnya yang keroncongan, kantung mata hitam yang mengitari matanya (yang untungnya tertutupi oleh kacamata), dan kesalahan yang ia buat hari ini sungguh-sungguh membuatnya tidak bersemangat menjalani hidup.

"Nona Arika..." igaunya di tengah-tengah kesekaratannya.

"Biar kutebak," ucap sebuah suara yang membuat pandangan Keinan terahlikan kepada sesosok butler berambut hitam dan terlihat sangat segar dilihat dari badannya yang tegap dan wajahnya yang begitu cerah. "Kesiangan, dimarahi oleh Nona Arika, dan lupa sarapan," katanya membuat Keinan semakin down seketika.

"Huhu...Nona Arika..." ucapnya setengah menangis.

"Kau ini butler atau bukan sih... mencurigakan," kata pria itu.

"Habisnya... perkataan Nona Arika itu tajam sekali sudah begitu... kau tahu sendiri bagaimana kalau dia marah. Habislah sudah hidupku..." gerutu Keinan.

"Aku jadi penasara dengan Nona-mu itu. Apa kita bertukar tempat saja Keinan," ucap pria itu langsung saja di tarik kerahnya oleh Keinan.

"Jangan coba-coba kau menyentuh Nona Arika sedikit-pun Leo!" ucap Keinan sambil mengeluarkan aura pembunuh dan tatapan mata yang tajam.

"Ayolah... aku hanya bercanda," kata Leo. Dan kemudian, Keinan jatuh lemas lagi karena tidak punya tenaga untuk berdiri. "Satu-satunya cara untuk hidup, kau harus bertahan hingga makan siang para murid. Baru kau dapat makanan," lanjut Leo melihat temannya itu.

Dan pada bagian Arika, ia sedang duduk menulis sesuatu di buku catatannya tanpa memperhatikan guru yang menjelaskan di depan. Pikirannya selalu melayang entah ke mana. Dan ia sesekali memberhentikan penanya untuk berpikir atau setidaknya menghayalkan sesuatu. Itulah kebiasaanya di dalam kelas.

Ya, semua orang pasti punya kebiasaan masing-masing seperti Arika yang selalu saja berada di dalam alam mimpinya. Dan nilainya pun juga di bawah standart. Walau begitu, Arika tetap saja cuek menghadapinya.

Bel tanda berganti pelajaranpun berbunyi. Berikutnya adalah pelajaran matematika dan tentu saja ada ujian yang harus dihadapi oleh seluruh murid yang ada di kelas itu. Arika membuka buku catatannya sedikit dan menghafalkan rumus-rumus yang diperlukan sampai seorang guru berbadan tegap, perut agak buncit, masuk ke dalam kelas tersebut sehingga kelas menjadi hening.

"Tutup catatan kalian! Ujian akan dimulai sekarang!" kata guru itu. Semua murid tentu saja menurut. Guru matematika itu terkenal galak bukan main. Ya, walau terkadan bisa melucu juga. Tapi tetap saja jika sudah berhubungan dengan nilai, ujian, dan lain-lain. Bisa berubah 180 derajat.

Arika dengan malas memasukan bukunya dan menerima kertas ujian tersebut. Dan hal pertama yang terlintas di benak Arika adalah bagaimana cara kabur dari kelas tersebut. Apalagi setelah membaca soal pertama yang orang pintar pasti tidak tahu betapa susahnya soal itu untuk Arika. Kecuali orang yang sama-sama bodoh dalam matematika yang berati senasib dengannya.

Arika mengerjakannya dengan wajah setenang air, dan pikiran seperti benang kusut. 30 menit mengerjakan soal tersebut seakan berada di dalam pusaran air yang berputar-putar tak menemukan jalan keluar. Dan tentu saja 30 menit itu serasa seperti 3 hari berturut-turut.

Arika segera mengumpulkan kertas ujiannya ketika bel tanda berhentinya ujian itu berdenting. Selanjutnya, sudah dapat dipastikan. Arika keluar kelas, ke toilet, membasuh wajahnya dengan air yang keluar dari kran wastafel toilet sekolah tersebut yang sudah seperti toilet yang ada di hotel dan berlapis keramik. Setelah itu, Arika berjalan menuju UKS sekolah dan pingsan di atas tempat tidur.

XXXX

Jam istirahat...

Keinan sudah siap di barisan paling depan untuk mengambil jatah sarapan dan makan siangnya. Wajahnya sudah sangat breseri-seri menantikan menu makanan kesukaannya. Nasi goreng hongkong yang tentunya di buat oleh koki profesional kelas tinggi. Dan setelah makanan itu tersedia, Keinan langsung mengambil 9 piring nasi goreng porsi besar dan meletakannya di meja makan.

"Selama makan!" teriaknya kemudian memakan nasi goreng-nya dengan rakus dan bahagia. Leo yang duduk di depannya, sudah merasa kenyang duluan sebelum sempat melahap makannya. 7 menit kemudian, Keinan sudah menghabiskan seluruh makanannya.

"Hebat... menghabiskan sebanyak itu, tubuhmu masih saja kecil ya..." komentar Leo yang akhirnya bisa menyantap makan siangnya.

"Tentu saja... Setiap hari aku selalu mengeluarkan tenaga ekstra," jawab Keinan.

"Lagi pula, kau tahu bahwa hari ini kelas Nona Arika mengadakan ujian matematika?" tanya Leo membuat Keinan terdiam sejenak. Wajahnya menyiratkan keterkejutan yang bukan main. "Nona pasti sekarang ada di UKS... dan..."

"NONA ARIKA!" teriak Keinan berlari meninggalkan meja makan menuju ruang UKS tanpa mendengarkan Leo yang belum mengakhiri omongannya.

Dengan kecepatan yang sangat luar biasa, Keinan berlari di lorong sekolah membuat beberapa murid yang ada bingung dengan kejadian barusan. Dan tanpa aba-aba ketika Keinan sudah berada di depan pintu, ia mendobrak masuk ke dalam dan mengagetkan guru pengawas di sana.

"No-nona Arika..." ucap Keinan tergagap dan sedikitnya mengambil napas.

"Aku di sini..." jawab Arika yang duduk di atas ranjang sambil menikmati teh hangat dan roti yang diberi selai stoberry sebagai makan siangnya. Sementara guru pengawas itu hanya diam saja karena sepertinya ia sudah terbiasa dengan kejadian ini.

"No..." Mata Keinan sudah mulai berkaca-kaca. "Nona Arika!" teriaknya memeluk Arika yag hampir tersedak tehnya sendiri. "Maafkan saya! Saya tidak tahu anda menjalani ujian matematika hari ini!" katanya sambil mengeluarkan air terjun dari matanya. Arika hanya diam dengan tampang kesal dibuatnya.

"LEPASKAN AKU!" teriak Arika geram dan memukul perut Keinan. Keinan jatuh tersungkur memegang perut malangnya yang terkena hantaman itu. Arika kembali memakan rotinya dan meminum habis tehnya dan beranjak dari tempat tidur UKS tersebut.

"No-nona Arika..." ucap Keinan masih merasa sakit. Arika yang awalnya akan segera keluar, jadi berbalik mendekati Keinan, berlutut di depannya dan mencium jidatnya. Otomatis, Keinan blush seketika dengan perilaku Arika yang mendadak itu.

"Berdiri! Kau masih harus melayaniku sepulang sekolah!" ucap Arika baru pergi dari ruang kesehatan tersebut. Keinan berdiri sambil memegang jidatnya yang dicium oleh Arika. Wajahnya kian lama kian memerah.

"Apakah kau ingin obat penurun panas Tuan Butler, khihihihi," tawa cekikik guru pengawas itu yang melihat tingkah laku Keinan. Keinan mengerutkan keninganya dan pergi dari ruang UKS tersebut walau dari luar, ia masih bisa mendengar tawa guru pengawas itu.

Saat di jalan, Keinan melihat Arika dikelilingi oleh 2 anak laki-laki yang sepertinya akan melakukan hal-hal yang tidak diinginkan. Keinan mengamati dari jauh sambil terus menatap murid-murid itu dan bila mereka berani menyentuh nona-nya, ia tak akan segan-segan mematahkan tulang-tulang mereka.

"Ternyata, Princess Devil bisa pingsan karena masalah rendah seperti matematika itu. Memalukan sekali ahahaha!" tawa seorang dari mereka.

"Iya benar, ayo kita beri pelajaran kepadanya!" kata seorang lagi mencengkram kerah Arika. Tapi raut wajah Arika sama sekali tidak berubah. Dan ini membuat anak itu kesal sekali dan berniat memukul wajah Arika bila tidak dihalangi Keinan. Tentu kedua siswa itu terkejut.

"Jangan anda berani menyentuh Nona Arika sedikit-pun..." ancam Keinan.

"Kau mau apa! Dasar butler!" teriak siswa yang dipegang tangannya. " Akan kuadukan kau ke ayahku sehingga kau dituntut!"

"Kalau begitu saya tidak masalah. Asalkan anda tidak menyentuh Nona Arika lagi..." kata Keinan menatap tajam pada siswa itu. Anak itu terlihat kesal dan akan memukul Keinan sebelum kaki Arika menedang perut siswa itu dan membuatnya terpental. Sementara seorang lagi dibanting oleh Arika menggunakan tehnik judo. Keinan yang ada di sana tentu saja shock melihat kehebatan dari nona-nya itu.

Arika kemudian berdiri di hadapan mereka berdua dengan mengeluarkan aura tajam menusuk dan amat menakutkan. "Kalau denganku tak mungkin kalian menuntutku bukan... tapi aku bisa saja mengadukan ke kepala sekolah bahwa kalian sudah melakukan bully di lingkungan sekolah. Dan kalian akan dikeluarkan dari sini. Aku yakin, nama keluargamu akan tercoreng-coreng," ancam Arika.

"Ka-kami minta maaf," ucap keduanya ketakutan kemudian lari tunggang langgang.

"No-nona, anda tidak apa-apa?" tanya Keinan khawatir.

"Hn..." sahut Arika datar. "Kau!" kemudian Arika menghadap Keinan dan membuatnya terkejut.

"Y-ya!" jawab Keinan terkejut.

"Jangan ulangi kelakuanmu itu... bisa susah kalau kau tertuntut seperti itu," ucap Arika berlalu. Mendengar itu, Keinan jadi terharu dan menintikan air mata. Ia kemudian memeluk Arika dari belakang dengan penuh cinta dan kebahagian.

"Terima kasih banyak Nona!" katanya keras. Dan kelakuannya membuat seluruh mata tertuju kepada mereka berdua. Kesal dan tidak nyaman, Arika menyikut hidung Keinan dan membantingnya ala judo ke tembok.

"Keterlaluan...!" geramnya pergi dari sana meninggalkan Keinan yang kacamatanya pecah, hidung berdarah, dan kepala benjol.

"Ah~ Nona Arika~" ucapnya sambil seyum-seyum. Orang yang melihatnya pasti berpikir bahwa dia itu setengah gila.

Sementara itu Arika di dalam kelasnya hanya duduk di dalam sana dan berkutat di dalam buku catatannya. Ia menulis sesuatu di dalamnya dengan senyuman yang tak biasa. Antara senyuman mesum dan phisicopath. Buku bersampul hitam itu adalah sebuah catatan. Kelakuan Keinan yang terjadi di hadapannya semuanya hingga sangat detail.

"Khuhuhu..." tawanya membuat seluruh kelas itu merinding

To Be Continue

Biodata Arika :

Putri Kolongmerat yang sangat kaya raya. Punya seekor kucing yang sangat ia sayang. Cukup agak susah soal pelajaran di sekolah dan gak ngerti dengan komputer. Dia taunya laptop. Bakat meretelin komputer tapi gak bisa betulin lagi. Dia baik, hanya saja kadang perbuatannya bisa bikin salah paham.

Nama : Marvel Arika

Tanggal lahir : 7 September

Umur : 14 tahun

Bintang : Virgo

Golongan darah : O

Tinggi badan : 156 cm

Berat badan : 37 kg

Hobby : Ngerjain Keinan (?)

Makanan Favorite : Segala jenis makanan manis

Hal yang disukai : Tea Time dan mawar

Hal yang paling tidak disukai : Kalo Keinan sudah konyol dan matematika

Keahlian : Segala jenis bela diri, ngusilin orang, ngancam orang