Devilish Princess

Arika dan Eriza duduk di dalam mobil limosin yang telah Eriza sewa untuk mereka berpergian. Mereka sedang menuju hotel di salah satu pusat kota. Hotel bintang 5 yang termasuk hotel termewah yang ada di Singapore dan terletak cukup elite dan mudah untuk berpergian ke mana-mana.

Bukan berati mereka tidak punya rumah dan mobil pribadi di negara tersebut. Tapi karena tidak mau ketahuan orang tua mereka bahwa mereka membolos sekolah. Anak jaman sekarang. Bisa dimaklumi.

"Setelah sampai di hotel, aku mau mandi dulu," kata Eriza.

"Kau tak bermain dengan gadget barumu?" tanya Arika penasaran. Eriza hanya tertawa pelan saja mendengar adiknya itu. "Apa masih lama sampainya? Aku sudah ingin berjalan-jalan rasanya."

"Sebentar lagi... Dari aiport menuju hotel itu berjarak... anggap saja 30 km," jawab Eriza memperkirakan.

"Aa, Nona Eriza dan Nona Arika," panggil Leo dari kursi depan. Dua kakak beradik itu tidak menjawab tapi menatap Leo saja sehingga membuat butler itu sedikit enggan untuk melanjutkan ucapannya.

"Ada apa?" tanya Eriza dan Arika bersamaan dengan nada sedikit membentak.

"Er... dengan jarak seperti itu... apa tidak apa-apa Keinan..."

"Nona!" teriak Keinan dari luar mobil. Tentu saja Arika menoleh ke belakang untuk melihat Keinan yang dipinggangnya diikat tali tambang yang disambungkan ke bemper mobil dan berlari menyamai kecepatan mobil agar ia tak jatuh dan terseret di aspal.

"Apakah tidak keterlaluan menyuruhnya berlari seperti itu sejauh 30 km?" tanya Leo lagi. Arika dan Eriza hanya berdiam diri tidak menjawab pertanyaan Leo.

"Tidak apa-apa. Toh ini bisa menjadi hukuman dan melatih staminanya," jawab Arika.

"Tapi ini'kan di jalan raya Nona..." kata Leo lagi. Sementara itu, Keinan terkadang harus menghindari beberapa mobil yang akan mendahului. Nyawanya kali ini benar-benar dipertaruhkan. Mati diserempet mobil atau terseret di aspal.

"Terlalu lama... Tambah kecepatnya!" perintah Eriza membuat Leo terkejut.

"No... Nona!" cegah Leo tapi terlambat dari kecepatan 40 km/jam menjadi 60 km/jam lalu 80km/jam. Keinan yang belum siap dengan kecepatan tambahan itu hampir saja terjatuh dan terseret di aspal.

"NONA!" teriak Keinan di belakang tapi didiamkan oleh Eriza dan Arika. Sementara wajah Leo sudah pucat menyaksikan rekan kerjanya disiksa seperti itu.

Beberapa menit kemudian, mereka sampai di lobby hotel tersebut. Leo segera turun untuk membukakan pintu untuk Arika dan Eriza. Dan Keinan, tergelepar di belakang mobil dengan napas yang terengah-engah kehabisan napas dan tenaga. Dan ini mengundang banyak perhatian dari pekerja hotel dan juga pengunjung.

Leo dibantu oleh seorang pekerja menurunkan koper-koper Arika dan Eriza. Sama sekali tidak memperdulikan Keinan yang setengah sekarat. Eriza segera masuk ke dalam hotel untuk check-in. Dan Arika berdiri di sisi Keinan yang masih mencoba mengambil napas.

"No-nona..." ucap Keinan ketika melihat Arika.

"Berdiri bodoh..." perintah Arika datar. "Kau tak mau berdiam di situ seharian bukan? Menyebalkan," kata Arika lalu masuk ke dalam lobby hotel. Menuruti perintah Arika, Keinan segera bangun dengan kakinya sakit sekali dan ia berjalan dengan tertatih-tatih.

"Kasian sekali nasibmu Keinan..." komentar Leo pelan melihat Keinan yang sudah hampir tidak bisa berjalan lagi. Leo yang hendak pergi untuk memeriksa koper mendadak berhenti ketika menyadari aura pembunuh dari Keinan yang menatapnya dengan sangat menakutkan. 'Apa-apaan orang ini?' batin Leo.

"Leo! Kemari!" panggil Eriza. Tentu saja Leo menurut dan mengacuhkan tatapan membunuh Keinan. Ia membantu mengakat koper Eriza menuju kamarnya. Keinan berusaha untuk berjalan dan juga ikut membawa koper milik Arika tapi di cegah oleh salah seorang pekerjanya.

"Maaf tuan, biar saya yang membawakan koper ini," ucap pekerja itu.

"Tidak bisa... ini..."

"Aku yang menyuruhnya... ayo jalan!" potong Arika kemudian. Keinan hanya bisa pasrah saja dan mengikuti Arika masuk ke dalam lift menuju lantai 78. Lantai ke 2 bila dihitung dari atas. Karena yang tertinggi adalah sebuah lounge. Dan lift itu menuju langsung ke kamar Arika.

Sebuah ruangan 1 lantai yang ditata rapi, mewah, dan mempunyai balkon sendiri. Pintu menuju balkon merupakan pintu geser kaca. Wallpapernya berwarna krem. Karpet coklat dengan corak bunga batik. Ranjang king size dengan kelambu, sofa, TV plasma 72 inch. Sebuah meja makan lengkap dengan sebotol wine, mini bar. Kamar mandingnya memiliki bath tub besar canggih dan sudah tertata rapi dengan kelopak bunga di sekitarnya. Lantainya berwarna hitam granit, shower segala arah, WC elektrik, wastafel yang juga terbuat dari granit. Semuanya serba mewah.

Pekerja itu segera meletakan koper-koper Arika di tempatnya lalu pergi dari kamar itu atas perintah Arika sendiri. Arika lalu membuka gorden jendela dan membiarkan sinar matahari memenuhi seluruh ruangan tersebut. Dan Keinan masih berdiri di pintu masuk.

"Masuk!" perintah Arika "Dan duduk di sana!" kata Arika menujuk sofa. Keinan tak berani berkomentar. Apalagi nada suara Arika terkesan bahwa ia akan mati bila melanggarnya. Sambil menelan ludah dan tertatih-tatih berjalan, Keinan membanting dirinya di atas sofa.

"A-ada apa nona?" tanya Keinan akhirnya angkat bicara. Arika tidak menjawab tapi membuka sebuah lemari dan mengeluarkan kotak putih dari sana. Keinan sendiri bingung dengan perilaku tidak jelas dari Arika.

"Buka sepatu dan kaus kakimu," kata Arika lagi. Keinan hampir terlonjak dari sofa. Perasaannya menjadi sangat tidak enak. Tapi apa daya, Keinan sudah bisa membayangkan lehernya terpotong bila menolak. Keinan segera melepas sepatu dan kaus kakinya itu dengan terburu-buru ketika Arika lewat di belakangnya.

Lalu, Arika berlutut di sebelah Keinan dan meraih kakinya. Keinan hampir saja jantungan dan tak bernapas ketika Arika membawa kakinya ke pangkuan paha Arika. Wajah Keinan memanas seketika, keringat dingin mulai mengucur deras ke seluruh tubuhnya. Bulu kuduknya bahkan sampai berdiri. Dan napasnya serta suaranya tercekat di tenggorokan membuat mulut Keinan hanya mengangap saja.

"Kalau kau membuka mulutmu seperti itu, bisa dimasuki lalat," ucap Arika menyadarkan Keinan.

"He? Apa? No-Nona!" teriak Keinan tak tahu harus bilang apa.

"Sampai melepuh begini..." kata Arika membuat Keinan diam sejenak dengan mata terbuka lebar. "Dasar merepotkan..." lanjut Arika membuka kotak putih itu lalu mengambil sebuah salep dan mengoleskannya di telapak kaki Keinan.

"Sakit sakit sakit!" rintih Keinan. Arika hanya tertawa kecil melihat reaksi Keinan dan kali ini, Keinan sungguh kaget dan merasa nyawanya seperti akan tercabut. 'Nona Arika tertawa!' batin Keinan berteriak kencang tak percaya. 'Jangan-jangan... Nona kerasukan arwah atau geger otak!' batin Keinan semakin menjadi-jadi.

"Jangan berpikir yang macam-macam otak kosong," kata Arika sebari membalut kaki Keinan lalu melakukan hal yang sama pada kaki yang satu lagi. "Aku hanya tidak mau kau tak bisa berjalan selama aku liburan di sini," lanjut Arika kali ini kembali ke ekspresi datarnya.

"Nona... menghawatirkan saya?" tanya Keinan langsung. Arika tidak menjawab tapi malah membereskan peralatan obat-obattan itu. 'Ternyata... nona bisa... lumayan baik juga...' batin Keinan sedikit terpesona kepada Arika.

"Tidak," jawab Arika singkat dan mampu menghancurkan suasana di hati Keinan yang seperti tertimpa batu besar kepalanya. Arika mengembalikan kembali kotak itu lalu menoleh ke arah Keinan yang... tergelepar di sana.

'Cabut semua kata baik itu...' batin Keinan lagi. Arika menaikan alisnya sedikit sebelum mengambil satu teko berisi air dan menguyur kepala Keinan dengan air dingin yang ada di dalam teko tersebut. "HUAAA! NONA!" teriak Keinan kaget.

"Dinginkan kepalamu itu bodoh! Dan berhentilah berprilaku aneh atau kubunuh kau!" Arika kembali memancarkan aura membunuh yang sangat besar sekali. Keinan terdiam sejenak untuk mencerna apa yang terjadi barulah ia berdiri tegap dan menatap Arika.

"Nona kenapa menyiram saya! Belum cukupkah anda menyiksa saya di jalanan tadi! Nona Kejam! Tak berperasaan! Devil!" bentak Keinan di depan wajah Arika. Arika awalnya cukup terkejut mendengar Keinan berani mengatakan hal itu. Tapi beberapa detika kemudian, Arika memasang wajah stoicnya lagi dan menatap langsung mata Keinan.

"Kau bilang apa...?" ucap Arika menatap Keinan begitu tajam menusuk. Keinan tersadar apa yang telah ia lakukan.

"No... nona..." Pandangan Arika kini sudah sangat menyeramkan. Perlahan tubuh Keinan diselimuti oleh hawa dingin dan membunuh. Arika mengepalakan tangannya dengan kencang. "Sa-saya..."

BRAK BRUK BRAK BRUK PRANG!

Eriza yang sedang menikmati acara santai minum tehnya sedikit terganggung karena langit-langit kamarnya bergetar dengan hebatnya. Eriza sempat melirik ke atas dan merasakan bahwa langit-langit kamarnya seperti akan runtuh.

"Mereka mulai lagi..." ucap Eriza pelan kembali menikmati tehnya lalu membuka I-pad miliknya. Kamar Eriza ternyata berada di lantai bawah kamar Arika. "Seharusnya aku memilih kamar di atasnya..."

BRAK!

Eriza bahkan hampir tersedak dan menjatuhkan I-padnya ketika mendengar suara terakhir itu. Suara yang hampir saja membuat lampu di kamar Eriza jatuh dari tempatnya dan membuat seluruh kamar Eriza bergetar hebat.

"Kuharap Arika tidak merusak apapun..." kata Eriza lagi.

Sementara itu, kamar Arika yang semula tertata rapi sudah seperti kapal pecah saja. Dan suara yang terakhir itu merupakan suara lemari kaca tempat menyimpan gelas yang tumbang dari tempatnya dan juga TV plasma yang sudah terbelah menjadi 2 bagian. Dan Keinan yang tergeletak setengah mati di atas karpet dengan luka di seluruh tubuhnya.

"Bodoh!" ucap Arika memasukan katananya kembali ke dalam sarung pedangnya (yang hebatnya bisa lolos dari keamanan) dan melemparnya ke ranjang. Arika kemudian menelepon ke receptionis. "Maaf... aku minta ganti kamar ke kamar VVIP yang masih kosong? Kurasa ada sedikit kecelakaan di sini" ucap Arika di telpon.

'Kejam..' batin Keinan setengah sadar.

XXXX

"Lamaa sekali!" gerutu Eriza tidak sabaran. Setelah kejadian heboh tersebut, Arika pindah ke kamar di bawah Eriza dan saat ini Arika berada di kamar Eriza untuk berjalan-jalan bersama dengannya. Itu rencana awalnya karena sedikit terhambat dengan 2 orang bodoh yang sangat lelet dan menyusahkan.

"Sebentar lagi nona," kata Leo memperban seluruh tubuh Keinan yang luka-luka akibat serangan maut dadakan Arika mengakibatkan seperempat tubuh Keinan mengalami luka cukup fatal.

"Kalau aku jadi kau Arika, aku sudah pasti akan menghubungi mobil jenazah!" ucap Eriza ketus. Arika hanya mengangguk pelan saja membuat Keinan kembali berkeringat dingin.

"Baiklah sudah selesai nona," kata Leo berdiri. Tubuh Keinan sudah seperti mummy saja kecuali wajahnya yang hanya ditempeli oleh plester. Keinan memakai pakaian baru dan kacamata candangan yang selalu ada di sakunya. Untuk jaga-jaga. Kedua butler itu segera mengikuti Arika dan Eriza yang sudah kesal.

"Jujur saja Arika, lebih baik kau tak usah menghancurkan kamarmu itu. Langsung bunuh juga bisa bukan?" kata Eriza di dalam lift.

"Untuk apa? Nyawanya juga pendek tidak usah di perpendek lagi," sambung Arika. Keinan yang mendengarnya kembali shock. Leo mengambil simpati dan menepuk punggungnya tapi malah di cekek oleh Keinan yang berusaha meredam emosinya.

"Kalian berdua diam!" bentak Arika dan Eriza bersamaan.

"Baik," jawab Keinan dan leo diam seketika.

Lalu lift terbuka di lantai bertuliskan ML. Tempat restorant hotel dan juga jalan menuju mall. Arika dan Eriza berhenti sebentar di pintu masuk mall. Menatap dan menyeringai satu sama lain membuat Leo dan Keinan harus mempersiapkan stamina dan mental mereka untuk yang satu ini.

"Get Set!" ucap Eriza.

"GO!" teriak Eriza dan Arika berbarengan lalu mulai berlari. Leo dan Keinan yang belum siap harus mengejar keduanya. Malangnya untuk Keinan, sudah berlari harus berlari lagi. Kali ini, ia sambil mengeluarkan air terjun dari matanya.

Dari toko ke toko itulah tujuan Arika dan Eriza. Mulai toko baju, sepatu, tas, perhiasan, bahkan toko make-up. Mereka juga berpindah dari satu mall ke mall lain naik MRT (kereta bawah tanah) dan ini cukup membuat Leo dan Keinan sengsara karena membawa semua belanjaan Arika dan Eriza yang terbilang sangat banyak hingga bertumpuk-tumpuk. Mereka naik di station MRT City Hall.

Kesialan Keinan yang lain, ia hampir saja menjatuhkan salah satu kotak sepatu Arika yang untungnya (atau tidak) di tangkap menggunakan kakinya yang tentu saja menimbulkan aliran listrik keseluruh tubuhnya (maksudnya pegel sekali) sudah begitu karena itu, kakinya hampir terjepit pintu kereta bila tidak ditarik masuk oleh Arika hingga terjengkakng ke belakang.

"Hahahahha!" setelah itu, Keinan menjadi bahan tertawaan para penumpang yang melihatnya. Sambil menahan malu, Keinan membereskan barang belanjaan Arika dan berdiri tegap. Melihat itu, Arika memberikan death glare pada semua orang yang awalnya menertawakan Keinan menjadi diam dan mengalihkan pandangan mereka.

"Kau ini bodoh sekali ya! Megane Baka!" ucap Arika mengambil kotak sepatunya yang hampir tertinggal dan meletakannya di tumpukan paling atas. Eriza yang melihat perilaku Arika terseyum tipis lalu memasang earphone di telinganya sambil menunggu kereta berhenti di station Orchard.

Station Orchard terletak tepat di bawah plaza Takasimaya yang terletak di tengah kota. Dan station itu ramai sekali dan padat oleh pengunjung sehingga Leo dan Keinan harus buru-buru kalau tidak bisa ditinggal oleh Arika dan Eriza.

"Kalian duduk di sini dulu," perintah Eriza ketika mereka berada di dalam sebuah toko pakaian dan pernak-pernik yang tembus menuju pintu keluar. Saat Eriza berbicara seperti itu, Arika menyeleweng menuju rak pakaian yang sedang diskon. Melihat itu, Eriza segera mengejar Arika "Tunggu! Jangan curang!" Dan mulailah perebutan barang-barang antara Arika dan Eriza yang membuat gaduh satu tempat.

"Wanita itu menyeramkan..." komentar Leo.

"Nona Arika dan Nona Eriza jauh lebih menyeramkan..." sahut Keinan.

2 jam kemudian, mereka duduk di kursi taman yang ada di luar plaza dengan bawaan Keinan dan Leo yang semakin banyak saja. Tentu saja banyak, Eriza dan Arika hampir memborong semua barang diskon di sana.

"No-nona... apakah anda akan belanja lagi?" tanya Keinan takut-takut.

"Tidak juga... aku menunggu seseorang di sini," jawab Eriza. Arika melihat ke sekeliling dan matanya menangkap penjual es krim tak jauh dari mereka dan membisikan sesuatu ke Eriza. "Kau saja yang pergi beli. Aku minta rasa coklat," jawab Eriza. Jadinya, Arika yang terpaksa pergi sendiri menghampiri si penjual es untuk membeli es krim.

"Nona Arika mau apa?" tanya Leo.

"Dia ingin makan es katanya," jawab Eriza.

"Eh! Kenapa tidak minta saya!" ucap Keinan akan mengejar tapi terlambat karena Arika sudah kembali sambil membawa 4 buah es potong di tangannya. Setelah memberikan kepada Eriza dan Leo, Arika menyodorkan sebatang kepada Keinan. "Apa? Ini... untuk saya?"

"Ini tidak diracuni kok," jawab Arika mulai memakan esnya.

"Nona ini memberikan perasaan tidak enak saja..." ucap Keinan pelan mulai memakan esnya.

"Ah! Aku lupa meminta kembalian!" kata Arika lalu berbalik ke penjual es tersebut. Karena arus manusia yang begitu ramai dan padat, Arika hampir saja terjatuh di jalan bila sebuah tangan kekar dan kuat tidak menangkapnya.

"Anda harus selalu berhati-hati Nona Arika," kata sebuah suara bass yang sangat lembut. Arika membelakan matanya pria yang sudah menolongnya. "Sudah lama sekali kita tidak bertemu ya Nona Arika," ucapnya lagi.

"Akhirnya datang juga kau!" teriak Eriza ketus. "Ryo."

"Suatuu kehormatan bisa bertemu dengan Nona Eriza juga Nona Arika, dan juga Senior Leo," katanya.

"Siapa dia?" tanya Keinan tidak kenal.

"Dia itu butler keluarga Marvel, mantan butler Nona Arika," jelas Leo mampu membuat seekor burung merpati berak di atas kepala Keinan yang mengalami serangan otak mendadak. "Mungkin posisimu akan diganti..." lanjut Leo.

'TIDAKK!'

To be Continue

N/A : Station City Hall, Station Orchard, dan Takasimaya bukan karangan. Yang sudah pernah ke Singapore pasti tahu tempat yang dimaksud. Maaf tidak bisa menjelaskan detail karena sudah lupa juga.

N/A : Langkah awal masuk konflik jadi humor sedikit dikurangi

Biodata Inarius :

Butler Aoki. Dia juga suka main game tapi tidak terlalu bisa menikmati bila Aoki sudah mulai menunjukan 'tanda-tanda'. Cukup bisa diandalkan sebagai butler dan pastinya sangat sabar bila sudah berhadapan dengan Aoki. Salah satu teman Keinan yang bernasib cukup sama.

Nama : Giovano Inarius

Tanggal lahir : 31 Januari

Umur : 21 tahun

Bintang : Aquarius

Golongan darah : O

Tinggi badan : 179 cm

Berat badan : 65 kg

Hobby : Main game dan nonton film

Makanan Favorite : Pasta

Hal yang disukai : Hal-hal ekstrim (kecuali Aoki yang menurutnya ekstrim)

Hal yang paling tidak disukai : Kalo Aoki sudah marah besar (karena dia yang kena labrak)

Keahlian : main game, sabar yang minta ampun, main violin