Devilish Princess

"Arika! Kau datang juga!" teriak Aoki di depan pintu gerbang sekolah ketika melihat Arika muncul dari dalam mobilnya. Aoki segera berlari ke arah Arika dengan semangat penuh. "Kukira kau tak akan datang! Aku khawatir! Ke mana saja kau Arika!" kata Aoki bertubi-tubi.

"Itu... telephone mu tadi..." kata Arika dengan nada suara yang terdengar lelah sekali.

"Kita akan pergi ke gunung fuji! Yey!" kata Aoki kegirangan yang disambut oleh Arika yang sweatdrop mendengarnya. "Dan ini seragam sekolahmu Arika."

"Maaf merepotkan," kata Arika menerima pakaiannya.

"Tidak masalah..."

FLASH BACK

Bandara International Narita, Jepang. Pukul 09.55

Arika dkk sudah sampai di Jepang setelah perjalanan yang sangat jauh itu. Sementara Leo dan Keinan membereskan koper-koper Arika dan Eriza yang menumpuk itu, Eriza sudah kalang kabut dan tidak tenang terhadap ayahnya yang pasti akan marah besar bila ia tahu perbuatannya.

"Kalian berdua cepat sedikit!" teriak Eriza mengagetkan Leo dan Keinan.

"Ba-baik..." jawab keduanya segera bergegas. Dan Arika sendiri duduk santai dan terlihat tidak peduli sama sekali. Lalu Hp Arika berbunyi, mengeluarkan ringtone orang berteriak yang tentu saja membuat orang yang mendengarnya akan spot jantung... kecuali Eriza yang masih dalam keadaan 'lampu merah'.

"Ya? Ini Arika," kata Arika.

"ARIKA!" teriak si penelepon yang membuat Arika cukup bisa menjauhkan Hp nya dari teliganya. "Kau di mana sekarang! Kenapa tidak ada kabar!" kata penelepon itu lagi yang adalah Aoki.

"Aku sibuk," jawab Arika singkat.

"Pokoknya hari ini kau harus datang! Kita akan trip! Cepat sebelum Arika! Nanti kau ditinggal!" kata Aoki lagi di dalam mobilnya. Dia sendiri juga telat sebenarnya. Dan sangat telat sekali dari jam masuk sekolah yng seharusnya 08.00. "Aku tunggu ya... TIDAK ADA KATA TIDAK!" Dan sambungan-pun putus.

"Kak Eriza..." panggil Arika.

"Ya?"

"Aku harus pergi sekarang..." Eriza terdiam sebentar mendengar Arika yang menunggu jawab dari Eriza. Karena kelamaan jadinya Arika memutuskan untuk meninggalkan kakaknya pergi.

"Tu-tunggu dulu Arika!" teriak Eriza berusaha menghentikan adiknya. "Ka... KALAU KAU SUDAH MAU PERGI! AKU PINJAM KEINAN DULU!" teriak Eriza mangkin kencang membuat Keinan dan Leo yang baru sampai di dekat Eriza bingung.

"Iya..." jawab Arika datar membuat Eriza menghela napas berat melihat kelakuan adiknya itu.

"Ada apa dengan Nona Arika dan Nona Eriza?" bisik Keinan kepada Leo. Leo menjawabnya hanya dengan mengangkat bahu saja. "Maaf Nona Eriza, ke mana Nona Arika pergi?" tanya Keinan.

"Entalah, dia menerima telephone begitu saja lalu pergi... Dan kalian berdua! Cepat masukan semua koper itu ke mobil... Eh... mobil..." ucap Eriza terhenti.

"Ada apa Nona?" tanya Leo.

"Aku hanya menelepon 1 limosin... jadi... ARIKA!" Sementara itu Arika sudah duduk manis di mobil limosin itu sambil mendengarkan musik dari Ipod nya.

'Maaf saja ya, Kak,' batin Arika pergi ke sekolahnya. Lalu ia teringat akan pakaiannya. Ia pasti akan di hukum oleh guru bila datang ke sekolah setelah membolos selama 3 hari dan tanpa seragam sekolah. Tak mungkin juga ia kembali ke rumah karena hanya menambah jam telatnya, Jadinya, Arika mengambil Hp-nya dan menelepon Aoki.

"Bisa tolong ambilkan seragam sekolahku di rumah? Aku percayakan padamu. Imbalannya... Keinan selama trip," lalu sambungan diputus oleh Arika tanpa menunggu jawaban dari Aoki.

END FLASH BACK

"Inarius! Cepat siapkan barang-barangku!" teriak Aoki kemudian dengan wajah garang menghadap Inarius yang menenteng 2 koper besar dan sebuah koper sedang.

"Isinya... Senjata?" tebak Arika.

"Tepat~!" Aoki kembali menunjukan wajah imutnya didepan Arika. Tapi matanya kembali celingak-celinguk mencari seekor sosok yang dari tadi tidak kelihatan keberadaannya. "Di mana Keinan?" tanya Aoki pada akhirnya.

"Dia menyusul..." jawab Arika masuk ke gedung sekolah. "Aku akan ganti baju dulu,"

"Ku tunggu kau di depan bus ya!" kata Aoki. Arika tidak menjawab hanya memberi tanda 'OK' dengan tangannya.

Di luar dugaan, koridor sekolah itu sudah sangat sepi, atau memang sudah tidak ada siapa-siapa lagi yang ada di gedung sekolah. Semuanya sudah berkumpul naik ke bus. Arika memanfaatkan kesempatan ini untuk buru-buru ke toilet, ganti baju, dan kembali ke bus tanpa sepengetahuan semua orang.

'Seharusnya aku jadi hantu saja...' batin Arika masuk ke dalam toilet lalu mulai mengganti seluruh pakaiannya dan melipat rapi pakaiannya itu. Betapa kagetnya ketika Arika keluar, Keinan sudah berdiri di depan wastafel di dalam toilet putri tersebut. Tentu saja wajahnya terseyum "ceria".

"Biar saya bawakan pakaian anda," kata Keinan mengulurkan tangannya. "Saya juga sudah menyiapkan koper dan pakaian anda untuk trip kali ini. Maaf saya terlambat karena baru mendengar beberapa menit kemudian setelah anda pergi. Jadinya saya menumpang beberapa kendaraan untuk ke rumah dan kembali ke sini," cerita Keinan panjang lebar. Arika mengangkat alisnya sedikit sebelum menghela napas berat.

"APA YANG KAU LAKUKAN!" geram Arika mengguncang seluruh bangunan sekolah tersebut. Beruntung tidak ada yang tahu. Keinan yang melihat kemurkaan Arika perlahan mundur. "SEDANG APA KAU DI SINI! BERANI SEKALI KAU MASUK KE TOILET PUTRI!"

"Sa... saya... anu.. itu...Ma-maafkan saya?"

10 menit kemudian...

"Ah, Nona Arika..." panggil Inarius ketika melihat Arika datang ke arahnya atau lebih tepatnya ke bus yang ada di belakangnya. "Untunglah anda cepat. Kalau tidak mungkin anda bisa ketinggalan... Di mana Keinan? Bukankah dia sudah datang?" Arika tidak menjawab tapi menunjuk belakangnya menggunakan jempol ke arah Keinan yang wajahnya bonyok. Terdapat lingkaran biru di mata kirinya, pipinya yang bengkak, mimisan dan kacamatanya yang sudah remuk.

"Hi..." sapa Keinan kepada Inarius yang hanya bisa sweatdrop di tempat.

"A-apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Inarius tanpa mengalihkan pandangannya dari Keinan.

"Kau tahu sendiri'kan?" jawab Arika meregangkan jari-jari tangannya sambil menatap keduanya sinis dan menyeramkan. Kemudian ia langsung naik ke dalam bus dan duduk di sebelah Aoki yang melirik menyeramkan ke arah Keinan.

"Kita berdua celaka..." ucap Inarius berjalan menuju bus khusus butler yang sudah disiapkan dengan Keinan yang berjalan di sampingnya.

"Setan kecil itu lagi... aku jauh lebih celaka ketibang kau..." kata Keinan memegang pipinya yang bengkak lalu mengganti kacamatanya dengan cadangan yang ia bawa. Kemudian keduanya masuk ke dalam bus dan bus-bus itu berangkat meninggalkan lapangan sekolah menuju Gunung Fuji.

"Ah... bagaimana kau bisa lolos dari Nona Eriza? Rasanya tidak mungkin dia melepaskanmu semudah itu," kata Inarius.

"Da-dari mana kau tahu!" kata Keinan terkejut.

"Hehe... kau seperti tidak tahu saja..."

"Ya... pokoknya yang pasti aku kabur," jawab Keinan memalingkan wajahnya ke jendela bus yang melaju itu.

Sementara itu di pihak Eriza...

"KEINAN!" teriak Eriza geram di bandara. Semua pengunjung yang ada di sana sampai menatap ngeri dengan amukan Eriza yang begitu hebatnya. "KU BUNUH KAU!" teriak Eriza lagi sambil menggemgam erat Hp nya hingga terbelah menjadi 2.

"..." Bahkan Leo sampai speechless melihat aksi Eriza. Ia sendiri juga membawa semua koper Eriza dan beberapa milik Arika sendirian. 'Sial kau Keinan!' batin Leo cukup kesal ditinggal begitu saja.

"Seenaknya saja meninggalkan orang... aku ini juga majikannya! Akan kubuat dia menderita!"

Kembali ke Arika yang dalam perjalanan...

"Fuji~ Fuji~" ucap Aoki kegirangan di samping Arika. Awalnya Arika hanya mendiamkan Aoki tapi lama-lama ia juga sedikit terganggu dengan senandung Aoki yang tidak jelas.

"Jadi..." ucap Arika akhirnya mengalihkan perhatian Aoki. "Kita akan melakukan apa saja di sana?" tanya Arika. Aoki terdiam sebentar. Tangannya diletakan di dagunya dan raut wajahnya berubah seperti patung "Thinker".

"Entahlah... ku dengar kita akan mengunjungi kuil lalu bermain di sungai yang ada di sana. Katanya untuk merasakan suasana alam dan rakyat jelata," jelas Aoki.

"Baru kali ini ada study tour untuk merasakan jadi rakyat jelata..."

"Aku juga berpikir itu tidak mungkin sih... tapi senang-senang saja!" jawab Aoki kegirangan lalu mulai lagi bersenandung. Arika tidak terlalu mendengarkan Aoki tapi ia lebih terganggu dengan bus yang ributnya seperti di pasar, jalan raya, dan tempat umum yang sangat ramai sekali.

Ekspresi Arika sudah tidak bisa dibilang datar lagi. Arika bahkan mengepal tangannya kuat-kuat untuk menahan amarahnya yang sudah akan mencapai batas. Akhirnya Arika berdiri dan berjalan menuju supir dan berbisik kepadanya.

"Bisa kau tolong cepatkan mobilnya?" bisik Arika.

"Memangnya kenapa?"

"Er... untuk lebih cepat sampai..." jawab Arika mencari-cari alasan. Dan dia sejujurnya tidak berbohong juga.

"Kalau begitu... Di mohon agar anak-anak memasang sabuk pengamannya... Kita akan ngebut!" kata supir itu memasang kacamata hitam. Perasaan Arika sedikit tak enak dan secepatnya duduk di kursi yang ada di belakang supir itu yang kebetulan juga kosong. Dan sedetik kemudian, seluruh penumpang bus itu seperti naik jet coster. Supir itu ngebut sambil melewati tikungan tajam.

Supir bus yang ada di belakangnya yang mengakut murid lain juga tidak mau kalah dan malah ikut kebut. Sementara bus butler itu, pada dasarnya supirnya udah lemot jadi hanya bengong melihat 2 bus di depannya yang sudah kandas.

"Ki-kita.. DITINGGAL!" teriak Keinan terkejut sambil berdiri dari kursinya. "Hei! Kejar mereka!" teriak Keinan di samping supir itu yang masih dalam keadaan shok dan telmi. Inarius tak tinggal diam dan kemudian menarik supir itu dari tempat duduknya dan ia menggantikan menyetir.

"Akan kukejar mereka!" kata Inarius bersemangat lalu menginjak pedal gas kuat-kuat sehingga membuat bus mencapai kecepatan tinggi dan membuat Keinan terpental ke belakang dan jatuh di sana. Belum lagi ketika bus itu berbelok menyebabkan tubuh Keinan tak seimbang dan kepalanya terpentok tempat duduk bagian besinya.

"HEI!" teriak Keinan pada Inarius yang memegang jidatnya yang hampir berdarah tapi tidak dipedulikan Inarius yang malah menambah kecepatannya. Sepertinya Inarius semakin menikmati "balapan" ini.

XXXX

Beberapa menit kemudian, semua bus itu sudah parkir di halaman sebuah kuil yang cukup luas. Dan beberapa murid serta butler harus mengeluarkan isi perutnya dengan sesegera ketika keluar dari dalam bus kecuali 2 orang. Inarius dan Keinan tentunya. Sementara Arika sedikit sakit kepala dan Aoki juga hampir pingsan. Tentu saja kedua supir mantan pembalap itu disidang langsung oleh para guru dan panitia karena membahayakan nyawa.

" Hampir saja kita mati..." kata salah seorang murid menarik napas dengan wajahnya yang pucat. Arika yang berada cukup jauh dapat mendengar perkataan murid itu. "Nona Devil itu menyuruh apa sih... membunuh kita semua! Dasar gadis tak tahu diri!" kata anak itu membuat alis Arika naik sedikit dan kemudian mendekati anak itu.

"Kau bilang apa?" tanya Arika dengan nada dingin dan membuat murid itu merinding hebat lalu menengok ke belakang menatap wajah Arika yang sudah setengah gelap. "Aoki!" teriak Arika memanggil Aoki yang sudah siap membawa katana kesayangan Arika yang ia dapat entah dari mana.

Sementara Keinan cukup terkejut ketika bagasi bus yang belum di buka itu bisa terbuka dengan cukup rusak dan koper katana milik Arika tercabik-cabik dengan parahnya.

"Bagaimana dia melakukannya!" kata Keinan tak percaya.

Kembali ke Arika yang menarik katana itu dari sarungnya dan mengarahkannya ke leher murid yang sudah berani berbicara tidak menyenangkan tentangnya di belakang. Tapi kegiatan Arika terhenti ketika guru memanggil para murid untuk berkumpul di dalam kuil untuk beristirahat. Langsung saja murid itu kabur dari Arika dengan kecepatan biasa saja.

"Yaah... tidak jadi melihat mutilasi nih..?" ucap Aoki kecewa membuat Inarius dan Keinan yang dibelakang tersentak mendadak. "Hei! Kalian berdua! Cepat turunkan barang kami!" perintah Aoki galak.

"Segera Nona," jawab Inarius langsung mengambil "perlengkapan" Aoki. Dan Keinan terdiam melihat salah satu koper pedang milik Arika rusak parah. Ia berlutut untuk memeriksa koper itu.

"Keinan!" teriak Arika lantang. Keinan tak menjawab tapi hanya menoleh. Itu saja sudah bisa membuatnya jantungan. Wajah Arika sudah berada di depannya. Dalam hitungan detik, Keinan berteriak lantang lalu mundur hingga kepalanya terpentok bus itu. Rasa shok sepertinya menutupi rasa sakit dan benjol di kepalanya.

"Khik khik khik khik khik khik!" tawa Aoki melihat kejadian tersebut.

"Segera bereskan barangku... hanya kau yang tertinggal bodoh!" kata Arika. Keinan kembali ke permukaan alam sadar dan melihat butler yang lain sudah selesai membawa barang majikannya.

"Maafkan saya..." ucap Keinan menunduk. Arika tak menjawab tapi malah menatap keinan dengan melotot seram. "Tolong maafkan kekurangan saya yang berlebihan ini Nona Arika...!" kata Keinan sambil sujud di kaki Arika. Bahkan memeluk kaki Arika.

"Apa itu...? Cara pengampunan yang baru?" komentar Inarius melihat perilaku Keinan yang terlewat memalukannya. Keinan buru-buru membereskan barang-barang Arika dan masuk ke dalam kuil. Pandangan tajam Arika tak lepas sedikitpun darinya.

"Arika..." panggil Aoki. "Jalan-jalan di hutan yuk~!" kata Aoki lagi sambil menyengir lebar.

"Kita harus masuk dulu kan..."

"Nanti saja! Ayo!" Aoki menarik tangan Arika ke dalam hutan. Hutan itu begitu teduh sekali dan sedikit jarang terjangkau oleh sinar matahari karena terhalangi oleh rimbunnya daun-daun hijau.

Aoki semakin bersemangat menjelajah hutan tersebut tanpa sedikitpun takut tersasar atau bertemu dengan binatang buas. Dan Arika, ia hanya berjalan di belakang sambil sesekali memperhatikan sekitarnya.

'Benar-benar berbeda dari hutan buatan di taman rumah...' batin Arika.

"Arika!" panggil Aoki ketika ia berhenti di sebuah tebing yang tak cukup tinggi. Karena penasaran, Arika mendekati Aoki dan ia langsung bisa melihat aliran sungai yang sangat jernih sekali. "Hebat'kan! Kita akan main di sini nantinya!" Aoki benar-benar kegirangan.

"Dari mana kita turun?" Arika melihat ke bawah dan memang cukup tinggi.

"Tidak tahu... kita kembali saja yuk," Aoki segera berbalik dan akan pergi tapi kakinya tergelincir dan ia jatuh ke bawah.

"AOKI!" teriak Arika menangkap tangan Aoki tapi malah ia juga ikutan jatuh. Dan suara debuman keras terdengar ketika keduanya mendarat di atas tanah. Keduanya mengerang kesakitan. Yaa... bila dihitung tingggi tebing itu sekitar 3 meter. Dan untungnya, tanah sekitar danau itu ditumbuhi lumut sehingga mereka selamat.

"Kau kenapa tidak menarikku Arika..." kata Aoki memegang pinggangnya yang sudah hampir patah.

"Kau berat..." jawab Arika datar dan membersihkan debu yang menempel di tubuhnya.

"Enak saja!" teriak Aoki tidak terima.

"Lagipula bagaimana kita akan kembali ke atas. Tidak mungkin kita berdua memanjat..."

"Benar juga... Akan kuhubungi Inarius..." Aoki segera mengeluarkan ponselnya yang selamat ditimpa olehnya.

"Lebih baik jangan... Di hutan seperti ini. Tidaka da sinyal.." Dan benar saja perkataan Arika. Wajah Aoki memucat dan ia mulai panik tidak bisa pulang.

"Huweee! Bagaimana ini!" teriak Aoki frustasi

"Diamlah!" balas Arika yang sudah agak kesal.

To Be Continiue

Biodata Leo :

Butler Eriza yang lebih sering bertugas memantau Keinan di sekolah dari pada melayani Eriza. Tapi ia akan melayani Eriza bila Eriza di rumah atau ikut dengannya pergi ke luar negeri. Sangat profesional.

Nama : Hidarikata Leo

Tanggal lahir : 21 Agustus

Umur : 25 tahun

Bintang : Leo

Golongan darah : O

Tinggi badan : 181 cm

Berat badan : 68 kg

Hobby : Berkerja (Workaholic)

Makanan Favorite : Japanese Food

Hal yang disukai : Jam saku emang yang ada di kantongnya.

Hal yang paling tidak disukai : Apa saja yang membuat majikannya tidak suka

Keahlian : Memasak, melayani, judo, penembak jitu