Together, Always

6 Agustus 2000, Kawa Rakuen Mori

Srak srak

Bunyi dedaunan yang tertiup angin malam itu menjadi iringan lagu yang sangat manis sekali. Dinginnya malam di musim panas yang begitu aneh dan menyengat. Seakan memberi perintah untuk semua mahluk menyingkir dan penjamkan mata saja.

Langit bahkan tidak bercahaya sama sekali. Bulan seakan takut untuk menunjukan diri dan bersembunyi di balik gumpalan-gumpalan awan hitam yang berbondong-bondong pergi dari atas sebuah hutan yang lebat, gelap, dan menakutkan.

Di tengah hutan tersebut. Terdapat sebuah danau yang cukup besar. Airnya berwarna hitam bukan karena tercemar. Air danau itu jernih sekali dan selalu saja berkilauan indah pada siang harinya. Tapi tidak kali ini. Danau tersebut seakan termakan oleh sesuatu dan menjadi hitam gelap.

Di sampingnya ternyata ada 5 orang remaja yang mendirikan kemah di sana. Semuanya berbincang-bincang dan bernyanyi di sekeliling api unggun sehingga mencemari ketenangan di danau itu.

"Sudah kubilang jangan katakan hal aneh di sini!" bentak seorang gadis berkacamata yang tidak suka dengan perlakuan 3 temannya itu.

"Aku tidak mengatakan hal aneh. Tidak enak kalau acara kemah tidak bercerita seram kan!" jawab pria berbaju biru yang terlihat sangat main-main. "Kau pasti takut Chiriko."

"Bukan begitu! Aku tidak mau terjadi apa-apa di sini! Kau tahu rumor di sini bukan! Dan berhentilah bersikap seperti itu Ranbu!" kata Chiriko dengan wajah pucat karena ketakutan. Sementara teman-temanya yang lain menertawakannya.

"Tentu saja. Di danau ini, pernah ditenggelamkan mayat anak laki-laki. Katanya, pada malam hari, dia akan keluar dari dalam air dan menarik atau membunuh semua orang yang ada di sekitar daerah ini tanpa ampun. Dan terus berseru 'Dimana adikku! Tak ada yang bisa memisahkan kita! Siapa yang memisahkan kami!' begitu," kata pria tadi yang bernama Ranbu.

"Tak ada yang bisa lolos darinya. Kulitnya sangat pucat bahkan mendekati biru, dan hanya sebelah wajahnya saja yang terlihat. Sebelahnya lagi penuh darah, bahkan tengkoraknya dapat terlihat. Matanya semuanya berwarna hitam. Lalu tubuhnya... di bagian dada kirinya terdapat lubang besar. Ia memakai yukata putih yang sudah robek dan penuh dengan bercak darah. Tangannya juga terdapat kuku-kuku yang tajam," lanjut teman di sebelah Ranbu yang bernama Girio.

"Hentikan kalian berdua! Kalia menakuti Chiriko!" ucap Mamire, teman Chiriko yang kini hanya berusaha menghiburnya.

"Makanya jangan penakut!" ucap Kai yang kini meminum minuman kaleng yang ia bawa.

'Tak akan kumaafkan...' Kai menyeburkan minumannya kearah Mamire dan berhasil mengenai kain yang membungkus badannya. Tentu saja gadis berambut keriting blonde itu marah besar kepada pria tak sopan di depannya.

"Apa-apaan kau!" teriak Mamire marah.

"Sudahlah kalian berdua..." kata Ranbu. Kemudian, Ranbu menyadari ada yang salah dengan temannya itu. Wajahnya berubah menjadi sedikit pucat. "Kau kenapa?" kata Ranbu menyentuh pundak Kai dan membuatnya kaget.

"Kau... tak dengar tadi?" tanya Kai tiba-tiba.

"Mendengar apa?" tanya Ranbu balik.

"Kau terlalu menghayati cerita itu bodoh!" ejek Girio.

"Ta-tapi aku..." bantah Kai masih setengah ketakutan. Mamire kesal akhirnya berdiri dan berjalan menuju danau.

"Mamire?" panggil Chiriko.

"Aku hanya akan mencuci kain ini. Tak perlu khawatir," ucap Mamire. Ia kemudian berjongkok di pinggir sungai. Sambil bersenandung, ia mencuci kain itu tanpa menyadari sesuatu yang mengintainya dari dalam air.

Sejenak, Mamire merasakan ada bayangan lain di dalam air. Semakin lama semakin dekat dengannya. Bayangn yang menjulurkan tangannya. Seringaian lebar dari mulutnya yang robek dan setengah wajahnya yang hancur lebur itu semakin dekat dan semakin dekat. Tangan hantu itu kemudian menarik Mamire masuk ke dalam air.

Kejadian ini tentu membuat panik teman-temannya. Semuanya segera mendekati danau untuk melihat keadaan. Kemudian, di permukaan danau keluar gelembung-gelembung udara lalu Mamire muncul dari dalam sana. Dan berenang ke tepian. Tentu saja teman-temannya segera membantunya.

"Kau tak apa?" tanya Girio membantu Ranbu menarik Mamire.

"Ta-tadi ada yang menarikku ke bawah!" Jawab Mamire ketakutan. Lalu tangan dingin itu mencengkram kaki Mamire hingga membuatnya berteriak ketakutan. "Tarik aku! Tarik aku!" teriak Mamire meminta tolong. Tentu saja Girio dan Ranbu berusaha menarik Mamire.

"KYAAA!" teriak Chiriko ketika melihat sosok yang menarik kaki Mamire. Sebelah matanya berwarna merah dan sebelahnya lagi berwarna hitam. Wajahnya hancur setengah dan berlumuran darah. Tangan yang mencengkram kaki Mamire di hiasi kuku-kuku yang tajam. Dan seringaian dari mulutnya yang robek itu menambah kengerian yang ada. Sosok anak laki-laki yang diceritakan oleh Girio

Karena terkejut, Girio dan Ranbu melepaskan tangan Mamire dan mundur ketika sosok itu merangkak di atas tubuh Mamire. Mamire yang ketakutan menengok ke belakang dan melihat wajah mahluk itu dengan jelas sekali.

Mamire bahkan tak bisa berteriak lagi. Ketika mahluk itu mengayunkan kukunya dan merobek wajah cantik Mamire. Terus dan terus hingga daging dan kulit itu tercabik-cabik. Sosok itu juga menarik rahang bawah terngkoraknya dan mematahkannya ke sisi kiri. Mamire mati seketika itu juga.

Teman-temannya segera lari dari sana. Tapi malang bagi Kai yang tersandung ranting pohon dan terjatuh. Ketika ia akan bangun, mahluk itu sudah ada di belakangnya. Kai akan berteriak, namun teriakannya terputus ketika lehernya terpotong ¾ menyisahkan kepalanya tergantung di sana.

Girio, Ranbu, dan Chiriko masih berlari menelusuri hutan untuk mencari jalan keluar. Ketiganya benar-benar ketakutan. Bahkan hutan itu sepertinya tidak terlalu memihak pada mereka.

"Kita harus ke mana!" teriak Chiriko panik.

"Tenanglah! Aku sedang berpikir!" jawab Ranbu. Girio juga mulai terlihat panik. Ia cukup kelelahan karena berlari. Lebih dari itu, ia tak bisa berpikir jernih lagi. Girio berjalan di depan pohon yang cukup besar dan rindang.

Mendadak, Ranbu dan Chiriko terdiam menatap Giro. Wajah keduanya benar-benar pucat. Sosok itu, berdiri terbalik dan tepat di belakang Girio. Sedetik kemudian, ke sepuluh kuku tangan mahluk itu menembus wajah Girio dan kanan dan kiri. Menembus otak dan tengkoraknya, menembus mulutnya bahkan satu bola matanya terjatuh dari tempatnya.

Ranbu dan Chiriko berteriak histeris dan berusaha kabur. Tapi kacamata Chiriko terjatuh dan membuat Chiriko tak bisa melihat dengan jelas. Ia terdiam di sana mencari kacamatanya terlebih dahulu.

"Chiriko!" teriak Ranbu berusaha membantunya tapi terlambat. Sosok itu sudah berdiri dengan seringaiannya yang semakin lebar hingga mencapai matanya. Ketika ia membuka mulutnya, sederetan gigi taring yang tidak beraturan keluar dari gusinya, lidahnya yang terjulur panjang seperti ular. Sosok itu menarik kepala Chiriko lalu menggigit lehernya hingga terlihat tulang lehernya. Sosok itu, merobek tubuh gadis itu dan memisahkan seperempat bagian tubuhnya.

Darah dan daging segar mulai menghiasi kuku-kukunya yang tajam. Mulutnya mengunyah makanan pembukanya itu. Darah mulai mengalir dari mulutnya yang membuka dan menutup.

Kengerian semakin mencekam Ranbu. Terutama karena dialah yang terakhir dijadikan sasaran mahluk itu. Ranbu terus berlari dan berlari tanpa memikirkan apapun disekitarnya. Keringatnya mulai membasahi tubuhnya. Ranbu pun dapat mendengar sendiri detak jantungan yang memburu.

'Astaga... kenapa ini bisa terjadi...' batin Ranbu yang sudah tak tahu kemana ia harus pergi. Karena tak bisa melihat dengan jelas di dalam kegelapan hutan yang mencengkam itu, ia tak menyadari bahwa di depannya adalah sebuah bukit. Ranbu terjatuh dan terguling di bukit itu.

Entah beruntung atau tidak, bukit itu merupakan jalan keluar dari hutan menuju jalan raya. Ranbu mengerang pelan sebelum bangun dan menuju jalan raya tersebut. Dari kejauhan, ia melihat sebuah truk yang akan melintas. Dengan harapan yang sedikit muncul, ia melambaikan tangannya dan berteriak kencang di sana.

"Berhenti! Berhenti!" teriaknya. Supir truk itu melihat Ranbu dan segera memelankan truk yang ia bawa.

'Tabrak saja... bunuh dia..' sebuah suara serak berbisik didengar oleh supir itu dari arah sampingnya. Kontan supir itu menoleh ke arah sebelahnya dan melihat anak laki-laki yang tadi duduk di sana. Mahluk itu menoleh sepenuhnya kepada supir truk itu dan menampakan seluruh wajahnya buruk, kali ini jauh lebih buruk. Mahluk itu menampakan gigi-giginya dan siap menerkam supir itu.

Terkejut dan ketakutan, supir itu tidak dapat mengendalikan truk yang ia bawa dan mengarahkannya tepat ke Ranbu yang tak bisa mengelak lagi.

Suuara debuman keras membahawana ke seluruh hutan, memecahkan keheningan malam. Truk itu menabrak pembatas jalan dan menghimpit tubuh Ranbu hingga hancur tak berbentuk. Supir itu selamat dengan cedera ringan segera keluar dari dalam truknya.

'Khihikhakhakhakha!' tawa mahluk itu hingga memekingkan telingan. Supir itu segera lari menjauh dari truknya sebelum pundaknya disentuh oleh mahluk itu. Dan teriakan laki-laki yang malang mulai terendam akan kesunyian hutan yang kelam.

XXXX

8 Agustus 2000, Hazakura Gakuen

Semua murid dan guru sekolah tersebut sedang dilanda kesedihan yang amat mendalam. 5 orang murid kelas XII sekolah itu telah meninggal dunia. Semua murid telah berkumpul di aula untuk mendoakan arwah mereka. Bahkan ada beberapa yang menangis dengan histeris.

"Tak kusangka mereka akan meninggal dengan cara seperti itu," komentar seorang siswi kepada siswi lainnya. "Benarkan... Reiko," lanjutnya.

"Ya... begitulah," jawab singkat gadis berambut putih itu. Dia albino sehingga rambutnya dan kulitnya berwarna putih bersih. Matanyapun berwarna abu-abu jernih. Dengan penampilan seperti ini ia terlihat sangat dingin. "Tapi bukankah bagus..." katanya lagi.

"Apa?"

"Mereka sudah mengejek kakakku... lebih orang seperti mereka tidak ada! Kau setuju denganku'kan! Amame," kata Reiko. Sementara Amame hanya bisa diam melihat raut wajah Reiko. Tak ada kesedihan sama sekali.

Lalu Reiko melihat seorang laki-laki yang mirip dengannya. Itu adalah kakak kembarnya. Ia berjalan keluar dari ruang aula tersebut. Melihat itu, Reiko mengejar kakaknya tanpa memberi tahu Amame.

"Ah! Reiko!" teriak Amame ingin mengejar.

"Taeko Amame, dimohon maju ke panggung untuk memberikan pidato penutup," panggil guru menggunakan mic. Amame yang mendengar namanya dipanggil mengundurkan diri untuk mengejar Reiko dan memilih untuk segera naik ke panggung.

Sementara itu, Reiko mengikuti kakaknya hingga ke belakang sekolah. Kakaknya berhenti di bawah sebuah pohon besar yang amat rindang. Segera saja Reiko berlari ke kakaknya itu.

"Kakak?" panggil Reiko. Laki-laki itu menoleh dan terseyum kepada Reiko. "Sedang apa di sini? Tidak masuk saja?" lanjut Reiko.

"Di sini jauh lebih tenang Reiko..." jawab kakak Reiko mengusap kepala Reiko

"Kak Reikuo ini... Aku sudah bukan anak kecil kak!" kata Reiko.

"Bagi kakak, kau tetap adik kecil kakak," jawab Reikuo tambah membuat rambut Reiko berantakan. Lalu, tiba-tiba saja suara langkah terdengar dari belakang mereka. Reiko menoleh dan melihat gurunya datang.

"Sedang apa aku... cepat masuk Haku," kata guru itu memanggil nama belakang dari nama Reiko dan Reikuo. Reiko hanya diam saja bersama kakaknya dan mengikuti guru itu masuk kembali ke ruang aula.

"Kenapa aku harus menghadiri acara seperti ini! Aku senang mereka meninggal dengan cara yang mengenaskan!" umpat Reiko tak suka dengan wajah datar. "Mereka sudah berani menghina kakak...!"

"Aku tidak masalah mereka menghinaku... tapi tak akan kubiarkan adikku menangis lagi... mereka patut untuk mati!" lanjut sang kakak. Selesai acara di aula, tentu saja Reiko dan Reikuo berjalan menuju kelas mereka. Sayangnya kelas mereka berdua terpisah tapi masih satu arah. Di jalan, banyak murid-murid yang berbisik-bisik tentang mereka dan menatap mereka aneh serta takut.

Tapi hal ini sudah biasa untuk kedua saudara kembar itu. Sehingga mereka tak peduli lagi. Reiko berhenti di depan kelasnya dan melambaikan tangannya pada Reikuo lalu duduk di kursinya yang berada di tengah kelas. Di belakang kursi Amame.

"Maaf tadi kutinggal. Aku mengejar kakakku," kata Reiko lembut kepada Amame. Amame hanya terseyum dan menggelengkan kepalanya saja membuat Reiko ikut tersenyum pula. "Kakak aneh hari ini... ia jadi lebih diam dari biasanya," lanjut Reiko.

"Be-benarkah?" tanya Amame. Lalu guru masuk ke dalam kelas dan memulai pelajarannya. Selama beberapa jam, Reiko hanya berdiam diri menulis-nulis tak jelas di dalam bukunya.

'Menyebalkan...! Semua yang menghina kakak! Mati saja!' tulisnya di dalam buku catatannya.

Mati saja... Mati saja... Tak akan kumaafkan...!

To be Continue

Horror time! Maaf bila sedikit kurang jelas.

Thx for RnR