Aku tidak tahu apa yang selama ini kulakukukan. Apa itu salah atau benar, aku juga tidak tahu. Semua orang memandangku rendah. Tatapan mata benci selalu kuterima, terutama saat aku di kelas. Memang kuakui, aku si pembuat onar yang tidak tahu malu. Dari siswa sampai guru jelas banyak yang sudah kukerjai. Sekali lagi, aku benar-benar tidak mengerti mengapa aku melakukan semua itu.

Mungkin aku hanya minta perhatian dari mereka. Kalian tahu bagaimana rasanya kesepian? Ya, pasti tidak enak. Akan tetapi, bagaimana rasanya dibenci semua orang? Hanya kalian yang bisa katakan, sedangkan aku tidak. Terlalu banyak perbuatan usil yang kulakukan sehingga semua orang membenciku. Yang aku tahu pasti, rasanya lebih menyenangkan daripada kesepian.

Sebulan setelah aku masuk ke sekolah ini, hampir satu sekolah pasti tahu namaku maupun sosokku. Lagi-lagi aku mendapat perlakuan yang sama dari semua orang kecuali satu orang. Setelah kukerjai, ia hanya tersenyum dan malah mengatakan, "Apa kamu butuh teman?" Terkejut pasti iya. Gadis ini malah menawari dirinya untuk diusili.

.

.

.

Itu awalnya.

Tapi, lama-kelamaan aku tahu kalau dia tulus mau membantuku. Ia tahu pasti apa yang kuperlukan. Setiap pikiranku, perasaanku terbaca dengan baik olehnya.

"Kau ini peramal ya?"

"Ng? Bukan. Memang kenapa?"

Aku terdiam. Lebih tepatnya masih bingung kenapa ia bisa menebak secara tepat.

"Tidak. Lupakan," jawabku pada akhirnya. Aku juga bingung bagaimana menjelaskan pemikiranku ini.

Walaupun untuk sebagian besar orang akan tetap mendesakku mengatakan yang sebenarnya, tapi ia tidak. Ia hanya tersenyum dan mengajakku pulang. Aku hanya balas tersenyum.

Satu-satunya senyum tulus yang pernah ku lontarkan.


"To, PR-nya udah selesai?" Seperti biasa, Himeka menyelinap ke kamarku melalui jendela untuk membangunkanku. Aku heran karena gadis selembut dia bisa memanjat ke lantai dua dengan mudahnya.

"He~?" Dengan setengah nyawa masih mendekap guling erat-erat, aku memaksakan setengahnya lagi untuk bangun. "PR apa?"

"Yang itu lho, Shino-sensei sampai teriak-teriak udah kayak pake toa."

"Belum! Himeka udah? Boleh pinjem nggak? Aku paling nggak bisa materi yang itu!" (All of my soul wakes up suddenly!)

Himeka berbalik dan mencari bukunya. "Nih."

Aku langsung menyambar buku yang diberikan Himeka dan menyalin semuanya. Harap maklum, mana ada orang sepertiku yang mau repot-repot mengerjakan PR. Bahkan, sekarang aku sendiri yang kaget kenapa aku mau repot-repot ngerjain, walaupun nyalin, PR yang aneh plus ajaib itu.

"Selesai dengan sukses!" sahutku senang. Baru pertama kali ini aku merasa mengerjakan PR itu butuh perjuangan yang berat (lagi-lagi, walaupun Cuma nyalin). "Arigatou gozaimasu, Himeka!" ujarku sambil mengacungkan jempol.

.

.

.

.

Sesampainya di sekolah, aku merasa bibirku tidak henti-hentinya tersenyum. Himeka tertawa pelan melihat tingkahku seperti anak yang baru dapat mainan gratis (ingat, gratis!).

Aku menoleh. "Kenapa tertawa?"

"Tidak. Hanya saja kau lebih baik tersenyum seperti ini daripada cemberut terus."

"Oh, aku lebih ganteng ya?" kenarsisanku mulai keluar lagi. (Dasar -_-")

Himeka hanya mengangguk pelan sambil tersenyum. Senyum paling manis yang pernah kulihat. (OMG! Bunuh aku sekarang!)

Padahal, niatku pada awalnya membuatnya nge-blush. Tapi yang ada, aku sendiri yang nge-blush. (gimana sih om?)

Idih, authornya mulai menggila!


"Kaito-senpai!"

Aku syok berat mendengar namaku dipanggil. Untuk pertama kalinya selain Himeka dan para guru.

"Ada apa?"

Anak itu hanya tersenyum dan mengulurkan sesuatu kepadaku.

"Apa ini?"

"Sudah, ambil saja."

Tanpa bertanya dua kali aku menerima sesuatu yang berbentuk kotak dan terbungkus kertas bermotif itu. Anak itu kemudian membungkuk pelan lalu pergi begitu saja.

"Hei, kau!" aku mencoba memanggil tapi gagal.

"Wah, dapat hadiah dari siapa kau?" Himeka tiba-tiba muncul dari arah belakangku. Aku hanya menaikkan bahu. "Hm. Akhirnya Kaito-kun punya penggemar juga ya.."

"Apaan sih?" Jelas aku jadi salah tingkah kalau ia bilang begitu.

"Aku merasa tersaingi nih."

Eh? Aku menoleh dan melihat Himeka tersenyum.

"Ma, maksudnya?" Aku yakin 100% wajahku memerah.

"Iya, aku tersaingi. Biasanya aku yang dapat dari para junior!" ujar Himeka sambil memanyunkan bibirnya. (GEDUBRAK!)

"Oh. Kirain." Dalam hati, aku memaki diriku yang tidak bisa tahan untuk ber-geer ria.

Himeka menoleh. "Kirain apa?"

"Tidak."

"Apa hayo?"

"Bukan apa-apa!" Mendadak aku berubah jadi anak lima tahun yang ngambek. Dengan suara aneh plus muka yang aneh.

"Aku tahu!"

DEG.

"Tenang aja, To. Aku nggak akan ninggalin kamu walaupun aku punya banyak penggemar. Jangan cemberut gitu dong." Sahut Himeka sambil memelukku.

"Ih, jangan peluk-peluk dong!" Makin memerah sajalah wajahku.

Himeka mendadak melepas pelukannya. Mati! Apa aku salah ngomong tadi?

"Bukan soal itu ya?" Tanya Himeka polos.

Aduh, nih anak! Polos amat sih! Aku hanya bisa menggeleng pelan sambil tersenyum sweatdrop.


.

.

.

.

Tak terasa sudah satu semester aku dapat melewati hari yang melelahkan ini dengan gembira dan tanpa membuat masalah. Sekarang, teman-teman sekelasku tidak ada lagi yang jengah ataupun takut untuk berteman denganku. Wajahku yang biasanya cemberut atau tersenyum licik kini hanya ada senyum tulus dan senyum geli. Kadang-kadang ada sih ekspresi takut, syok, cengo, de ka ka. Tapi tidak ada lagi wajah yang dulu.

Ini semua berkat Himeka. Aku kembali pada cara hidup yang benar. Aku tak lagi kesepian maupun dibenci.

"hei, kenapa senyum-senyum seperti itu, Kaito?"

"Eh, Himeka~" Himeka memiringkan kepalanya dan memandang Kaito bingung.

"Nggak sakit 'kan?"

"Nggak kok. Kenapa emang? Aku kelihatan sakit emangnya?"

"Nggak. Tapi, kok kau senyum-senyum plus nyengir-nyengir kayak gitu sih?"

"Oh, itu~ Aku Cuma senang karena hidupku kembali indah. Nggak kayak dulu. Rusuh."

Himeka hanya tersenyum menanggapi alasanku.

"Oh iya, nanti kita pergi ke tempat kerjaku dulu ya."

"Hn? Kamu kerja sambilan?"

"Iya. Udah dari dulu kok. Ya?"

"Yes, my lady," jawab Kaito norak. (plesetan dari 'yes, my lord'-nya Kuroshitsuji)

Lagi-lagi Himeka hanya tersenyum.

"Of course, you must do it, To-kun," gumam Himeka pelan.

"Apa?"

"Nggak."

.

.

.

.

.

"Kamu kerja di mana, Hime?"

"Itu, tuh yang di depan. Sebentar lagi sampai, kok."

Entah kenapa, dudukku mulai tak tenang dan gelisah. Tempat ini agak terpencil. Memang Himeka kerja apaan di tempat sesunyi ini?

"Nah, sampai!" teriak Himeka girang. Ia segera menepikan mobilnya ke depan bangunan yang berwarna coklat kehitam-hitaman, seperti bekas terbakar.

Himeka dengan cepat turun dan menyuruh Kaito turun juga. "Tempat apa ini, Hime?"

"Tempat kerjaku lah. Ayo masuk."

Mendadak aku jadi takut. Kakiku kaku tak mau bergerak. "Himeka, aku tak yakin."

Himeka tersenyum. "Nggak pa-pa. Jangan melihat sesuatu dari luarnya saja, Kaito-kun."

Aku menelan ludah dan mencoba percaya pada Himeka. Dengan langkah pelan, kupaksakan kakiku berpindah, maju ke depan, walaupun dengan terseret-seret.

Ruangan itu, dibalik keburukannya yang tiada tara, ternyata sangat indah, dengan berbagai lukisan yang menarik.

"Wow! Kau benar! Tempat ini ternyata sangat indah. Pekerjaanmu memangnya apa di tempat ini, Hime?" Tanyaku penasaran.

Himeka menyunggingkan senyum. Tapi, senyumannya membuatku merinding. Bukan senyuman Himeka yang biasanya.

.

.

"Pekerjaanku adalah membawamu ke dalam kematian, Kaito-kun."


Hn. Paling tidak, aku akan masuk surga, 'kan?

.

.

.

.

.

"A-apa maksudmu Hime-chan? Kau mau membunuhku? Lantas, untuk apa semua yang kau lakukan padaku selama ini?"

Himeka menyunggingkan senyum kejam yang sama.

"Kau seharusnya ingat pada orang yang sudah kau hancurkan hidupnya, To-kun."

"Ap-siapa?" aku mencoba mengingat-ingat apa yang kulakukan. Tapi, tetap tidak ingat juga.

"Kakakku. Kau lupa? Karenamu, kakakku jadi gila hingga akhirnya mati dengan menusuk perutnya sendiri memakai pisau dapur. KAU TIDAK INGAT PADA KAKAK KELASMU YANG TELAH KAU TUDUH ITU, HAH?"

Dengan cepat, ingatanku tertuju pada kasus itu.

"Ng-nggak mungkin! Hitori Sekigawa-senpai?" Aku baru ingat nama panjang Himeka. Himeka Sekigawa.

"Hn! Akhirnya kau ingat juga."

"Hime, kau tidak tahu waktu itu aku juga terdesak! Aku tidak punya pilihan lain, Himeka-chan!"

"Ya, ya, dengan mengorbankan kakakku? PENGECUT!"

"Ta, tapi Hime, kejadian itu sudah sangat lama! Kau tidak bisa memaafkanku? Aku sekarang sudah berubah, Hime!"

Himeka mengubah senyumannya menjadi senyumnya yang lama. Senyuman yang aku suka itu.

"Hn? Benarkah?" Tanya Himeka dengan wajah polosnya. Ia mendekat.

"Aku berani bersumpah!"

Himeka terus maju dan aku terus mundur. Aku masih tak yakin. "Kau berani bersumpah, tapi kau tetap takut padaku. Bagaimana sih?" Himeka memanyunkan bibirnya.

Aku tersenyum. Mungkin Himeka benar. Aku berhenti menjauh alih-alih mendekat.

"Maaf ya…" ujar Himeka sambil memelukku.

"Nggak pa-pa. Aku juga minta maaf atas kakakmu. Aku sayang kamu Hime-chan."

"Aku juga. Maaf ya… KAU HARUS MATI!"

JLEB!

Aku melepas pelukanku dan mencoba menjauh.

"Uhuk! Uhuk!"

Dengan susah payah, aku berlari menjauhi Himeka. Dengan susah payah, aku mencoba tetap berdiri dan sadar. Dengan susah payah, aku menutupi luka menganga di perutku. Tapi, darahku tetap mengucur deras. Mataku mulai merabun dan menutupi pandangan. Tubuhku mulai linglung.

Hingga akhirnya aku jatuh berlutut. Darah bermuncratan dimana-mana. Kesadaranku mulai lenyap.

Gelap.

Gelap.

Aku mati.

Untuk terakhir kalinya aku mendengar suara Himeka yang lembut.

"Nyawa harus dibayar nyawa, ya 'kan, sayang?"

-THE END-


Uwee... Jadi jg stelah nganggur di flashdisk slama berminggu-minggu.. ^^

Genrenya kayaknya mulai ngelantur-lantur nih

Gomen ne!