Nathan berkisah…

Dia nggak cantik.

Kurasa, gue perlu bilang ini sebelum bercerita lebih panjang. Nggak ada yang menarik dari dia, selain ekstra percaya diri yang membuatnya terkesan angkuh. Tapi gue tahu, itu sama sekali bukan keangkuhan. Dia cerdas. Kelihatan sekali dari caranya bicara, mengkritik, dan terutama akhir-akhir ini saat mendebat gue mengenai salah satu boyband alay yang tenar, dan bisa ditebak dia menjadi 'anti fan' dari boyband tersebut. Sementara gue, gue emang bukan 'anti fan' atau 'fan' tapi juga nggak benci pada pada boyband tersebut. Gue menikmati bagaimana berapi-apinya saat dia menyampaikan semua argumennya. Lalu gue, tentu saja mendebatnya dengan asal-asalan yang pasti akan membuatnya semakin marah. Lucu sekali. Namun, sikap angkuhnya juga lebih dari itu. Gue tahu, gadis itu hanya sok tegar dan sok kuat. Karena, bukan sekali dua kali gue memergokinya sedang menangis di belakang kelas. Tapi, tetap saja. Dia adalah Nona Angkuh.

Gue? Gue memang tidak sekeren Gerard Way atau Brad Pitt, tapi gue adalah salah satu cowok bersuara emas di sekolah dan jika sekolah diadakan polling, bisa dipastikan gue masuk urutan pertama. Hei, jangan anggap gue sombong! Itu kenyataan kawan!

Gue rasa menjadi vokalis dari band-band yang ada di sekolah cukup membuat gue terkenal. Ya, band-band yang ada di sekolah memperebutkan gue untuk menjadi vokalis mereka. Dan setelah mempertimbangkan matang-matang sampai gosong (bo'ong ding) gue sekarang menjadi vokalis Starsall band. Band sekolah yang kini mulai terkenal dan sedang sibuk promosi single pertama kami. Oh, elo tidak kenal Starsall band? Ckckck kasihan sekali lo.

Namun, yang paling menakjubkan dari semua ini adalah: gue sedang jatuh hati padanya. Pada dia yang tidak cantik itu! Ini belum pernah gue kira, cinta pertama gue jatuh pada gadis angkuh itu.

Karena itu gue simpan baik-baik rasa ini. Jangan sampai orang lain ada yang tahu.

Ya, semuanya berawal dari saat dia pindah ke sekolah ini. Dia mendekati gue dan bertanya lagu apa yang gue nyanyikan. Percayalah, sejak gue bilang bahwa itu lagu dari My Chemical Romance, dan ternyata dia tergila-gila pada band dari luar negeri itu.

Sejak saat itulah gue mulai mengakrabkan diri dengannya. Gue berusaha ngobrol dengannya. Tentang musik, tentang film.

Kejutan, selera film kami sama!

Kami sama-sama suka film box office. Dia adalah penggemar film dengan horor dan violence kelas berat. Sebut saja film kanibal dan film yang ada adegan bunuh-bunuhan. Film Cannibal series, mulai dari Hannibal, Cannibal Ferox, dan film horor macam Ring, Orphan, Saw, Child's Play juga saling bersaing dengan video kaset musik di rumahnya, dan hampir sebagian besar film-film itu tanpa sensor!

Oh, man! Gue yang cowok pun angkat tangan dengan selera film-filmnya.

Yang lebih gokil lagi, ini cewek juga seorang gamer.

Elo semua pasti juga bisa nebak game apa aja yang dimainin itu cewek.

Yap, game macam Fatal Frame, Silent Hill, Siren, Resident Evil, dan Happy Tree Friends itulah yang selalu menemani akhir pekan itu cewek.

Kenapa gue bisa tahu? Karena dia selalu lapor ke gue tentang permainannya semalam.

Jangan bayangkan wajahnya saat dia bercerita bagaimana dia mengalahkan monster-monster aneh di game-nya. Karena wajahnya saat bercerita pun nggak kalah aneh.

Dia juga seorang otaku.

Kabar terakhir darinya menyebutkan bahwa dia baru saja setengah dari tabungannya untuk menduplikat koleksi komiknya dan membeli action figure. Menduplikat dalam arti dia punya dua buku yang sama dalam satu volume!

Gila nggak tuh!

Gue sama sekali nggak nyangka!

Selain MCR, dia juga suka dengan Saosin, Evanescence, Muse, Dream Theatre, Paramore dan boyband Korea macam BIGBANG, B.A.P, BLOCK B, EXO dan entah apalagi. Aneh memang bagaimana dia bisa suka boyband dan band-band rock dengan saat yang bersamaan.

Bahkan jika paginya dia fangirling sama G-Dragon BIGBANG atau Zelo B.A.P, siangnya dia sudah melting lihat Gerard Way. Dasar aneh! Tapi itulah dia.

Mengenai fisiknya…

Hidungnya tidak mancung, namun tidak terlalu pesek. Kulitnya juga putih. Yang paling menyolok dari dirinya adalah rambutnya yang berwarna hitam, sehitam kayu eboni. Sedangkan matanya tajam, dengan iris berwarna hijau bak permata emerald. Rambut itu sering diikat buntut kuda (percayalah kadang gue ingat Andrew, kuda gue di rumah saat gue ngelihat rambut si Nona Angkuh dari belakang) tak lupa poni yang hampir menutupi matanya yang hijau itu. Poni itu mungkin untuk menutupi jidat lebarnya. Padahal, menurut gue dia lebih cantik dengan poni yang pendek atau tanpa poni sekalian. (Jangan beritahu dia, kalau gue bilang 'cantik'. Kasihan jika jidatnya tambah lebar!) Lalu ehm- tentang tubuhnya, dadanya juga rata! Ya, dia –yang gue kasihi– kepribadiannya tidak terbungkus tubuh yang elok.

Untung gue nemuin dia. Untung gue yang tampan dengan rambut cokelat lembut dan beriris sewarna lelehan karamel ini menemukannya. Untung saat itu gue menyanyikan lagu itu. Membuatnya mendekat dan akrab dengan gue.

Walau gue sangat takut untuk menyakitinya, tapi gue sangat yakin dengan perasaan gue. Karena itulah gue mutusin untuk mengatakan apa yang gue rasain. Tapi ternyata sangat sulit berhadapan dengan gadis angkuh itu.

Sangat dan teramat sangat sulit!

Kalau kata Keira…

Entah ini hanya perasaanku saja atau memang benar adanya, aku merasa ada yang tidak beres dalam diri Nathan. Akhir-akhir ini terasa aneh saat aku bercerita dengannya tentang film yang baru saja aku tonton.

Aku tidak terlalu yakin kapan ia mulai bertingkah "aneh" begitu, yang aku tahu sejak aku menyapanya tentang lagu yang ia nyanyikan. Ya sejak awal pertemuan kami, dia memang aneh! Untuk apa coba dia terkejut ketika aku suka MCR, lagunya 'kan memang keren.

Dia juga sering ngajak aku ngobrol. Aku sih senang-senang saja. Sebab dia teman bicara yang seru. Apalagi kami sama-sama suka film box office. Alhasil, diskusi tentang film-film dan aktor-aktornya pun menjadi topik yang hangat. Aku juga ingat kalau dia terkejut saat aku juga suka film-film seperti itu. Memang apa anehnya kalau aku suka film-film itu? Dan dia semakin terbelalak saat aku bilang kalau aku suka film horor. Ayolah, apa aku seaneh itu hanya karena lebih suka melihat film Cannibal Ferox , Saw, Apocalypto dan sebangsanya tanpa sensor?

Halo, jika sudah disennsor, film itu tidak akan menarik. Bukankah yang menjadi daya tarik dari film-film itu memang disgusting scene-nya?

Apa yang tidak wajar saat aku bilang kalau aku juga gamer yang suka dengan game horror-survival macam Silent Hill, Resident Evil, dan Fatal Frame?

Apa anehnya kalau aku seorang V.I.P, BABY, dan BBC, tapi juga suka Paramore, Dream Theatre, Saosin, Muse, dan MCR?

Jadi aku atau si Caramel sok kecakepan itu yang aneh?

Ya. Nggak perlu dijawab keras-keras. Aku tahu kau akan menjawab 'dia'.

Mengenai dirinya…

Nathan itu… pintar bahasa Inggris dan suaranya kereeeeennnnn banget! Itu memudahkan komunikasi kami, aku setengah Inggris asal tahu saja. Mataku yang berwarna hijau, keturunan dari kakekku yang berasal dari negeri Pangeran William itu.

Dan –uhuk– dia tampan, kuakui itu –dengan tidak rela tentu saja—.

(Jangan bilang hal ini ke dia. Aku tidak mau dia jadi jelek gara-gara kepalanya yang membesar!)

Apa lagi kalau nyanyi. Suaranya Gerard Way banget. Keren deh! Dan (sayangnya) aku jadi suka sama dia! Bego. Padahal semua orang tahu, kalau Nathan bukanlah jatahnya seorang Keira. Aku juga tahu itu. Karena itu aku berusaha menikmati masa-masa saat aku masih bisa bersamanya. Bukankah kesempatan ini jarang-jarang terjadi?

Kami memang berbeda dalam tampang. Mungkin yang setara cuma dalam hal Bahasa Inggris dan hobi saja. Bukannya sombong, kami hanya sebelas-dua belas dalam pelajaran bahasa Pangeran William itu.

Aku cukup tahu diri untuk tidak membayangkan lebih. Seorang yang memiliki nama belakang 'Wiiliam' tidak pantas untuk seorang bernama belakang 'Francoist'.

Kali ini, aku (sayangnya lagi) benar-benar jatuh cinta pada seorang Nathan!

Aku jatuh cinta pada pemuda yang sudah dua kali memergokiku nangis di belakang kelas.

Jatuh cinta pada pemuda yang sok kecakepan dan aneh. Tapi jangan lupakan matanya. Ya, memang matanya indah banget!

Aku pun tidak mengira akan ada kejadian itu…

Jadi ceritanya begini….

Keira sedang nongkrong sendirian di mejanya di belakang kelas dengan novel tebal terbuka di depannya. Entah bagaimana, Nathan merasa inilah saat yang tepat. Demi menuruti kata hati, kakinya pun melangkah mantap mendekati meja Keira dan duduk di hadapannya.

Keira melihatnya dan tersenyum.

"Hei, ada apa?" sapa Keira sambil menatap mata Nathan. "Oya, aku tadi malam baru aja nyelesein Silent Hill seri-"

"Gue suka elo, Ra!" tembak Nathan langsung dan memotong kata-kata Keira.

Mendengar itu, Keira meletakkan bukunya dan menatap Nathan terbengong-bengong.

"Wow!" Keira terpana. Emerald-nya membulat tak percaya.

'Wow'? pikir Nathan.

"Artinya… elo mau jadi pacar gue?" Aduh, betapa kampungannya pertanyaan ini.

"Berapa taruhannya?" jawab Keira pelan.

Eh? Taruhan? Maksudnya?

Hati Nathan mencelos. Penolakan yang sangat jelas.

"Maksud lo…?" tanya Nathan pura-pura tak mengerti.

"Jangan main-main dengan perasaan seperti ini. Aneh rasanya seorang Nathan mendadak suka pada seorang Keira. Aku tahu seleramu. Sudahlah, aku tidak mau kamu sakit hati. Dan tenang saja, aku juga bukan orang yang mudah sakit hati," ucap Keira panjang.

Nathan semakin tak mengerti.

"Hei, gue nggak taruhan, Ra!"

"Ini tidak biasa," ucap Keira lagi. "Sangat tidak biasa, Nat!"

'Nat? Donat maksudnya?' pikir Nathan nggak penting.

"Ya ini memang nggak biasa tapi luar biasa, Ra!" jawab Nathan. "Percaya sama gue. Gue nggak taruhan sama siapa-siapa. Ra, gue…"

Keira mengisyaratkan Nathan untuk diam.

"Aku sudah bilang, aneh rasanya seorang Nathanael William yang high class dan dengan mudah bisa dapetin cewek-cewek yang cantik mendadak suka dengan gadis sepertiku," ucap Keira sinis.

Dia lalu berdiri dan meninggalkan Nathan di sana yang masih terhenyak tak percaya.

Di luar kelas, Keira menghentikan langkahnya. Dia berusaha menenangkan gemuruh hatinya. Dia merasa kerdil dengan berpura-pura tidak memiliki perasaan lebih pada Nathan. Dia bahkan tidak membiarkan dirinya memercayai pengakuan Nathan…

Mungkinkah Nathan akan menanyakan hal itu lagi? Karena jika iya, mungkin kali ini Keira akan mendengarkan kata hatinya…

Sementara itu, Nathan yang ditinggalkan di kursinya duduk mematung. Berusaha mencerna apa yang terjadi. Hatinya patah. Dengan sangat telak. Oleh seorang Keira! Rasanya begitu sakit. Sebab hatinya dipatahkan bukan karena Keira tidak mempunyai perasaan yang sama dengannya, tapi lebih buruk dari itu: karena Keira tidak mau memercayai dan menuruti kata hatinya.

Nathan ragu, apakah Keira cukup berarti untuk diperjuangkan.

Satu hal yang mereka sadari, mulai saat itu tercipta jurang yang lebih buruk daripada yang pernah ada di antara mereka….

Satu yang tidak mereka sadari, bahwa mereka saling memahami lebih dari siapa pun… bahkan diri mereka sendiri… dan dengan cara mereka sendiri.

Namun, percayalah keajaiban itu ada….

Keira termenung di kamarnya. Mata itu menyipit memandang ke arah taman rumahnya dengan aneka bunga yang menebarkan aroma wangi musim hujan ke dalam kamarnya. Sesekali gadis itu bersenandung lirih. Wajahnya terlihat tenang, walau berkontradiksi dengan semua itu.

Ada gelombang yang bermain-main di hatinya. Gelombang yang menimbulkan luka, perlahan mengerupsi tebing-tebing hatinya.

Mengalirkan friksi menyakitkan yang tak terlihat. Berpusat di hatinya dan menyebar searah aliran darahnya.

Nathan…

.

.

.

.

.

"Kei?"

Seseorang membuka kamarnya dan memanggil namanya.

Keira menoleh dan menemukan sang mama di depan pintu.

"Ada yang ingin kukenalkan…" Wajah mamanya tersenyum cerah.

Keira mengangguk singkat sebagai jawaban.

.

.

.

.

.

Mata Keira seolah terpaku. Bahkan ia berharap buta sekalian.

Apa yang ia lihat lebih menyakitkan. Sangat.

Dua orang yang kini di depannya. Membawa rasa sakit yang menghantam dadanya telak. Memaksa paru-parunya berhenti mendominasi oksigen yang ada.

"Keira, perkenalkan. Mereka adalah Tuan William dan anaknya Nathan. Kalian bisa akrab, ya? Karena sebentar lagi kalian akan menjadi saudara…"

.

.

.

.

.

"Lo percaya hal ini, Ra?" Nathan menatap Keira yang kini termangu memeluk lutut di sisinya. "Kita akan menjadi saudara. Benar-benar lucu. Kemarin gue baru saja menyatakan cinta dan sekarang sosok yang kucintai akan jadi saudara gue, huh?" Terdengar sarkastis walau nyatanya adalah luapan kekecewaan.

"Bukankah itu lebih baik?" tanya Keira tak jelas.

"Apa maksudmu?" Nathan melirik Keira kesal.

"Kita akan menjadi saudara. Bukankah itu lebih baik."

"Gue tidak ingin jadi saudara lo, Ra." Nathan berucap tajam. "Aku ingin lebih."

"Tapi hubungan saudara lebih dari hubungan kekasih, Nath," kata Keira mencoba bijak. "Kita akan jadi saudara yang paling kompak."

"Apa kamu tidak menyukaiku, Ra?" Nathan mencari mata Keira. "Sedikit pun tidak mencintaiku?"

Keira menunduk. Menghindari mata sewarna caramel yang seolah menelanjanginya. "Aku…"

Nathan bangkit. "Aku akan tetap mencintaimu. Bahkan walau ada dinding bernama 'saudara' terbangun di antara kita nanti…"

Sosok itu melangkah. Meninggalkan Keira yang kini merasa gagal lagi.

Gagal untuk menuruti hatinya.

Gagal untuk mengakui semuaya.

Gagal untuk memperjuangkan semuanya…

Siapa yang harus disalahkan jika mereka tak bisa bersama?

Sang mama yang seenaknya akan menikahi ayah Nathan?

Atau dirinya yang terlalu lambat menyadari semuanya?

Yang ia tahu.

Mereka sama-sama terluka dengan rasa yang disebut—

—cinta.

"Aku juga mencintaimu, Nathan. Sangat…"

.

.

.

.

.

.

THE BEGINNING