Jengah.

Itu perasaan yang dirasakan seorang pemuda bersurai ikal yang tengah memainkan PSP, seraya sesekali menggerakkan sudut matanya ke arah sosok mungil yang sejak lebih dari tiga puluh menit yang lalu berada di depan kaca. Pemuda itu menghela napas berat dan meletakkan PSP dengan layar yang menampilkan kata 'game over' di atas tempat tidur yang tengah didudukinya. Sekarang, ia memberi fokus penuh pada sosok mungil di depan kaca. Menatapnya lama, seperti tengah mempertimbangkan untuk sesuatu. Sosok berambut ikal itu membuka mulutnya, ingin mengatakan sesuatu.

Akan tetapi, sosok mungil di depan kaca mendahuluinya, "Kau ingin mengatakan sesuatu, Archie?" Sosok itu menatap sosok tampan di belakangnya melalui refleksi kaca di depannya.

Arthur–sosok ikal– yang dipanggil 'Archie' itu menggeleng, "Tidak. Bukan sesuatu yang penting."

"Hm, itu akan menjadi penting, saat kau membuat seorang Anastasia Lau penasaran," balas sosok mungil–Anastasia dengan senyum yang masih terbentuk di sudut bibirnya.

Arthur membalas senyum itu. Ia berdiri dan berjalan mendekat, tangannya terlipat dan ia bersandar pada sisi lemari di samping Anastasia. Bola mata sehitam permata obsidian menatap Anastasia lurus. "Kau…."

Anastasia mendongak. Sebelah alisnya terangkat. "Ya?"

Arthur melepas tangannya dan berdiri tegak di depan Anastasia yang kini juga memilih untuk berdiri. Keduanya berhadapan. Arthur bisa mencium aroma gabungan maple dan vanilla dari tubuh gadis mungil di depannya. Begitu juga sebailknya, indra penciuman Anastasia menangkap aroma pinus dan mint dari tubuh Arthur. Mereka begitu dekat. Mereka bisa melihat bahwa bola mata keduanya tengah merefleksikan bayangan masing-masing.

"… benar-benar menginginkan pernikahan ini?"

Permata milik Anastasia membulat, sebelum ia memilih menyembunyikan wajah imutnya dalam tunduk. Matanya menangkap kakinya yang tengah berpijak pada karpet berwarna gelap di bawahnya.

"Baby…" Tangan pucat Arthur bergerak, menyentuh pipi Anastasia. Memberi sentuhan lembut pada kulit yang menampilkan kelembutan yang sama.

"Kau tahu, aku sangat mencintai Alfred, 'kan?" Anastasia bereaksi terhadap sentuhan Arthur. Jemarinya bergerak, menyentuh jemari Arthur yang masih bertahan di pipinya.

"Tapi," suara Arthur tercekat.

Anastasia mengangkat wajahnya. Memaksa matanya kembali menemukan permata Arthur yang kini meredup. "Aku tak akan menyesali apa pun. Tidak sekarang, tidak nanti," kata-kata gadis itu bergema penuh keyakinan.

"Tapi, masalah itu…."

"Archie, 'masalah' itu tak akan mengubah perasaanku pada Alfred," Anastasia bersikeras.

Arthur menunduk. Ada rasa panas yang mendesak di ujung matanya, dan ia memilih menyembunyikannya dengan menjatuhkan bibirnya pada dahi Anastasia, mengecupnya lama.

"Aku tidak ingin kau merasakan luka yang sama seperti yang kurasakan, Baby."

Anastasia memejamkan matanya, menikmati sentuhan Arthur di dahinya. "Apa pernikahan ini membuatku menjadi manusia paling egois? Atau sebenarnya aku telah," Anastasia memberi jeda pada kalimatnya, "menyakitimu?"

Arthur menarik wajahnya cepat. "Tidak, Baby. Sama sekali tidak." Pemuda itu menggelengkan kepalanya.

"Kalau begitu," Anastasia menarik wajah Arthur mendekat kembali, menyentuhkan hidung mereka, "restui aku." Sebelum akhirnya ia menutup jarak dengan bibirnya yang kini menyapu bibir Arthur lembut.

"Kalian–!"

Suara seseorang memaksa Arthur dan Anastasia menjauhkan wajahnya. Keduanya menoleh ke arah pintu dan menemukan Cattleya—kekasih Arthur sekaligus istri Alfred yang tengah memandang mereka dengan raut wajah tak percaya.

"Ada apa, Darling?" Arthur menatap Cattleya dingin.

"Kalian berciuman!"

"Lalu?" Alis Arthur terangkat, pura-pura tak paham dengan kata-kata Cattleya yang sebenarnya sangat jelas. "Apa kau keberatan dengan itu, hm?"

"Kalian bersaudara! Dan kalian berciuman," desis Cattleya.

"Aneh sekali kau terkejut melihat hal ini." Arthur berjalan mendekat dan berdiri tepat di depan Cattleya. Hanya kurang dari satu detik Arthur meraih lengan Cattleya. Dan tanpa terduga menarik Cattleya ke dalam pelukannya. Kuat dan tegas. "Apa kabar wanita yang mengkhianati kekasihnya, karena ternyata ia telah menikah dengan saudaranya sendiri? Saudara kandung. Saudara sedarah!"

Cattleya terbelalak. Arthur mengabaikannya, ia menunduk dan berbisik santai, tepat di telinga Cattleya. "Aku tidak peduli segila apa dirimu atas sebuah pengkhianatan yang telah kau lakukan dengan menikahi saudara kandungmu itu. Tapi," Arthur menjilat telinga Cattleya pelan. "Kau menyakitiku, Darling. Dan aku bisa melakukan hal yang lebih menyakitkan untuk membalasmu."

Arthur menegakkan kembali tubuhnya. Tangannya menarik jemari Anastasia, membuat gadis mungil itu kini berdiri di sebelahnya. "Aku memaafkanmu saat kau menyakitiku. Tapi, aku tak akan memaafkanmu, kalau kau menyakiti Anastasia, Catt. Karena setelah ini, dia punya hak yang sama atas Alfred. Bahkan mungkin lebih."

Arthur bisa merasakan wajah yang tengah ia bimbing ke altar itu memanas. Ia juga tahu bahwa Anastasia berusaha mati-matian untuk memasang wajah bahagia–hal yang diharapkan semua orang yang tengah berada di dalam gereja. Memasang wajah yang bahagia di tengah wajah yang memanas, jujur Arthur tak yakin jika itu dirinya, ia akan mampu melakukannya. Tapi, pada nyatanya Anastasia bisa. Senyum berusaha ditampilkan Anastasia dengan sempurna. Sebuah senyum untuk mempertaruhkan segalanya. Merebut kembali Alfred dan mengembalikan Cattleya padanya–pada Arthur.

Ya, untuk ini Anastasia melakukannya.

Dan Arthur tak bisa mencegah adiknya melakukan itu. Ia tak bisa, karena bagaimana pun, ada cinta di pernikahan ini, walau cinta sepihak. Cinta dari Anastasia.

Dan cinta dari Alfred–mungkin.

Mungkin. Hanya mungkin jika pernikahan ini terjadi setahun lebih cepat. Sebelum sosok yang kini menunggunya di altar itu lebih dulu menyematkan cincin di jemari wanita lain. Arthur tak percaya, bagaimana mungkin semua bisa menjadi serumit ini. Anastasia mencintai Alfred. Alfred 'mencintai' Anastasia. Seharusnya itu berjalan mudah. Ya, sangat mudah sebelum wanita itu datang. Apakah wanita itu datang memang untuk mempermalukan dan menyakiti dua bersaudara; Anastasia dan Arthur secara bersamaan?

Cattleya.

Sosok lain yang mungkin juga sedang tidak tersenyum di dalam gereja ini. Sosok lain yang Arthur yakin mampu membuat gadis seperti Anastasia akan meneteskan air mata saat menatap Alfred. Air mata duka dan kesakitan. Ck! Seandainya Arthur bisa menghentikan semua ini. Membatalkan pernikahan yang menjadi awal eksekusi Anastasia, saudara tiri yang sangat berharga. Karena Anastasia-lah satu-satunya yang dimilikinya saat ini. Ah, tidak! Sebelumnya ia memiliki Cattleya. Memiliki wanita itu, sebelum ia –lagi-lagi–menghancurkannya.

Anastasia tidak seharusnya melakukan ini. Tidak seharusnya ia berkorban untuknya. Dan tidak seharusnya Anastasia mengalah pada Cattleya dengan menikahi pria gila yang sudah menikah dengan saudara kandungnya! Ya Tuhan! Betapa terkutuknya kau Arthur William yang telah membiarkan adikmu sendiri berjalan menuju tiang gantungannya!

Dan ternyata mereka telah sampai. Arthur melepaskan tangan Anastasia yang kini berdiri berhadapan dengan Alfred.

"Aku tahu kau gila. Tapi, aku tak akan membiarkan kegilaanmu menyakiti Anastasia, Alfred!" desis Arthur mengancam.

Lengkung senyum terpahat dengan apik di wajah Alfred. Sebuah senyum yang meyakinkan sebelum ia meraih tangan Anastasia dengan gentle.

Apakah yang ada di kepalamu saat kau menikahi dua wanita yang berbeda, dengan alasan yang berbeda pula, Alfred?

Mata Arthur menyusur ke arah audience, dan menemukan wajah Cattleya yang memerah. Arthur tahu, ia tengah marah, kesal, dan jutaan perasaan mengerikan lainnya. Ada perasaan kasihan menyeruak dari dalam diri Arthur saat dua mata itu bertemu. Seandainya, wanita itu tidak melakukan hal itu, mungkin ia akan bertaruh apa pun untuk menjaga dan mencintainya. seperti Alfred pada Anastasia dulu. Dulu, sebelum ia datang. Tapi, perasaanya kini memudar. Arthur merasakan perasaan benci tiba-tiba menguasainya. Wajahnya mengeras dan ia memilih memalingkan wajahnya dari Cattleya.

Arthur berkali-kali mengganti channel TV dengan tidak sabar.

Malam ini adalah pertama kalinya Anastasia tidur dan serumah dengan Alfred. Dan ia tak bisa berhenti memikirkan semua itu. Acara TV yang ditontonnya tak juga bisa mengalihkan perhatiannya untuk tidak mengkhawatirkan Anastasia. Tubuh yang tengah berguling-guling di sofa itu bangun dan meraih segelas cokelat hangat yang tadi dibuatnya untuk menenangkan pikirannya. Dan ia baru saja meneguk cokelatnya saat mendengar bel apartment-nya yang dibunyikan dengan tidak sabar. Tanpa meletakkan gelas cokelat hangat di tangannya Arthur berjalan ke arah pintu. Suara bel di depan terus berbunyi tidak sabar. Dan Arthur menyumpah-nyumpah dalam hati saat berusaha membuka pintu dengan tangannya yang sedang tidak memegang cangkir.

"Bisakah kau sa–

Arthur terpaku. Matanya terbelalak menatap sosok yang kini berdiri di depan pintu apartment-nya.

"Boleh aku tidur di sini malam ini?"

.

.

.

.

.

BERSAMBUNG...