"1966"

Gesekan ranting tak berdaun terdengar bagai denting lagu neraka pada suatu malam di bulan yang begitu bersalju.

Malam mengelam, langit hitam tanpa bulan dan bintang tergelak menyaksikan eksistensi kesunyian di bawahnya.

Desa itu terletak di tempat terpencil, dengan beberapa rumah yang tertutup salju dan terkunci rapat-rapat. Satu –dua— jendela terdapat sedikit pijar cahaya yang bergoyang hampir padam. Cahaya yang tak mampu meraih kelam di luar.

Dan rumah itu terletak di ujung desa. Sama-sama memiliki atap dan halaman yang tertutup salju. Hanya jendela yang terlihat hitam bagai mata-mata hantu. Sama-sama kelam, dan termasuk rumah yang tanpa cahaya.

Semua tampak sama.

Tunggu! Kecuali suara-suara dari dalamnya.

Suara yang mustahil tidak terdengar dari luar. Namun beruntung angin menerbangkan salju teramat keras. Menyamarkan suara-suara di dalamnya. Suara yang mampu membuat anak kecil terdiam dari tangisnya. Dan badut berhenti dari tariannya.

Suara itu…

Sesosok tubuh gadis kecil duduk –dipaksa— di sebuah kursi kayu berkaki tinggi. Kedua tangannya terikat di belakang sandaran yang sama juga terjadi pada kedua kakinya yang terikat pada kaki depan kursi, masing-masing di kanan-kiri. Di leher putihnya, terdapat ikatan yang erat, mirip pita yang mencekiknya, walau napasnya cukup normal asalkan tubuhnya tidak berontak.

Tubuh gadis kecil itu hanya terbalut t-shirt kusam warna putih kekuningan yang telah ternoda bercak cokelat karena tanah dan merah kehitaman –darah mengering. Selain itu dia tidak memakai apa pun, termasuk celana, dan membiarkan sesuatu di antara selangkangannya terlihat merekah tanpa tameng. Di pipinya tercetak jelas bekas air mata, matanya merah besar dan menonjol –karena terlalu lama menangis.

Di depannya terdapat sebuah meja makan bundar terbuat dari kayu. Hidangan di atas meja terlihat teramat sederhana. Hanya ada semangkuk bubur gandum, setengah gelas susu, dan sebuah piring berisi satu mentimun dan setangkai anggur.

Di tengah meja menyala lilin besar berwarna merah redup yang menjadi satu-satunya cahaya dalam ruangan.

Di sisi lain meja terdapat dua –tiga– orang.

Seorang pria yang tengah menatapnya tajam dan seorang wanita yang tengah menyuapi seorang bayi berusia sekitar satu tahun entah dengan apa, bayi itu tampak menangis, namun tanpa suara. Wajahnya begitu pucat dan tubuhnya terlihat sangat lemah.

Tanpa bersuara, si pria mendekat ke arah gadis kecil. Pria itu berdiri di depannya.

Menatap sang gadis tajam yang dibalas dengan tatapan sayu nyaris tanpa ekspresi dari sang gadis.

"M-mau apa kau?" ucapan sang gadis nyaris lebih seperti bisikan tak terdengar.

Si pria tak menjawab. Satu tangannya masuk ke dalam saku celananya dan mengambil sesuatu dari sana.

Benda kecil namun tajam.

Keras dan berkilau.

Pria itu mengeluarkan sebuah gunting kuku kecil dari sakunya.

Sang gadis menatap gunting kecil itu ngeri.

Dia tahu, pria di depannya mampu melakukan apa pun dengan sebuah alat yang hanya sebuah gunting.

Si pria memutar dan berjalan ke belakang sang Gadis.

"Ja-jangan! Ku-kumohon!" suara sang gadis terdengar memohon.

Si pria seolah tak mendengar permohonan dari mulut kecil itu, dia berjongkok di belakang si Gadis.

"A-apa yang akan kau lakukan?" teriak sang gadis serak.

Si pria meraih tangan si Gadis. Membelai jemarinya yang terikat.

"Ku-kumohon. A-apa pun itu. Ja-jangan lakukan itu padaku," kalimat permohonan terus saja terlontar dari bibir mungilnya.

Si pria mulai memegang ibu jari kanan sang gadis dan memisahkannya dari jemari yang lain.

"Tenang, Sayang. Dia hanya ingin memotong kukumu," sang wanita berucap sambil tersenyum aneh dan kemudian terkikik pelan.

'Krat'

'Sret'

"Kyaaaaa!" teriakan sang gadis mengiringi kukunya yang terjatuh meninggalkan ibu jarinya yang kini berlubang dan mulai mengucurkan darah.

"Jangan! Kau menyakitiku!"

Kuku jari telunjuk yang kini terjatuh.

"Sakitttt! Hentikan! Hentikan!" sang gadis mulai berontak menghentak-hentak.

'Tes'

Jari tengah yang kini mengeluarkan likuid kental berwarna pekat.

Kursi kayu itu mulai menghentak-hentak seirama rontaan sang gadis.

Si pria seolah tak peduli dan meneruskan aksinya, bukan sekedar memotong tapi menghilangkan kuku jari manisnya.

Kini empat jari mengucurkan darah yang mulai mengubah warna lantai kasar di bawahnya.

"Sakittt! Hentikan! Kumohon!" teriakan sang gadis masih terdengar pilu.

Namun teriakan itu seolah menjadi lagu penyemangat untuk si pria yang kini menuntaskan aksinya.

Dengan gerakan pelan, tercabutlah kuku kelingking sang gadis.

"SAKITTTT!"

Darah menetes dari lima jari tanpa kuku.

Membanjir, membentuk aliran sungai kecil berwarna pekat.

Meliuk, mengalir.

Pekat.

Sang gadis kecil terisak dan menghentak-hentak.

Perlahan si pria berdiri dan berjalan ke kembali ke depan si gadis.

"Kami baik, bukan? Memiliki kuku itu merepotkan, Sayang. Lebih baik dihilangkan sekalian hihihihihi," tawa wanita itu terdengar mengerikan dan melengking. "Anak baik tidak akan menangis."

"Jangan sakiti aku! Jangan sakiti aku! Tolong!"

'Plak'

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi si gadis kecil membuatnya terdiam seketika.

Tamparan itu meninggalkan bekas tangan yang memerah.

Susut bibir sang gadis sobek dan meneteskan darah.

Mendadak tangan pria itu bergerak ke arah tubuh si gadis dan menyingkap kaos kusam yang dikenakannya. Tangan kirinya menahan kaos agar tetap terlipat ke atas, memperlihatkan tonjolan dada yang belum begitu besar. Sementara tangan kanannya meraih lilin di atas meja.

"JANGANN!"

Sang Gadis kembali memekik ngeri ketika tetesan lilin itu diarahkan ke ujung tonjolan dadanya. Lilin terus meleleh dan mengeras di dada sang gadis. Sang gadis terus saja menjerit-jerit kesakitan atas siksaan pada tubuh kecilnya, sementara sang wanita di depannya hanya terkikik senang melihat aksi si pria.

Puas dengan sebelah kanan, tetesan lilin itu diarahkan ke kiri, membuat kedua gundukan itu mengeras oleh lilin. Rasa panas, perih, dan kesakitan menjalar ke seluruh tubuh sang gadis. Kakinya yang terikat mencoba menghentak walau itu sia-sia.

Rasa sakit itu bersatu dengan jemarinya yang tak henti meneteskan darah di belakangnya.

Perlahan si pria meletakkan lilin dan kembali memegang dada sang gadis. Si pria mulai meremasnya pelan. Membuat sang gadis memekik keras. Remasan itu pelan dan semakin keras. Rasa sakit kembali menjalar, serpihan lilin yang telah mengeras berjatuhan di sela jemari kasar si pria. Teriakan kesakitan sang gadis nyaris menjadi desahan ketika si pria mendadak melapaskan tangannya.

Tangan kirinya tetap memegang kaos sang gadis, sementara tangan kanannya kembali mengambil gunting kuku kecil yang sempat terabaikan olehnya.

Tangannya yang memegang gunting kecil itu terjulur ke arah dada kanan sang gadis.

Menjepit putting kecil sang gadis, menariknya keras dibarengi dengan teriakan kesakitan sang gadis yang memecah malam bersalju.

"Present Day"

Lorong itu sepi, hanya terdapat dua –tiga bangku panjang di sisinya. Nyaris kosong, kecuali bangku paling ujung yang tengah diduduki seorang gadis berusia sekitar lima belas tahun. Kulitnya yang sewarna pualam terlihat sangat pucat. Tubuhnya tidak terlalu berisi, bahkan cenderung kurus, namun mantel tebal yang membalut tubuhnya mampu menyamarkan hal itu.

Rambutnya sewarna kayu eboni diikat ponytail dan tertutup topi wol berwarna merah. Shawl sewarna topi wool-nya melilit lehernya erat. Tidak heran, Desember adalah puncak musim dingin di daerah ini.

Gadis itu menggosok-gosokkan tangannya yang terbungkus sarung tangan tebal sewarna rambutnya dan meniupnya untuk mendapat kehangatan.

Setelah dirasakan cukup hangat tangannya kembali disilangkan di dadanya, dan matanya yang sewarna batu emerald kembali memandang butiran salju yang turun satu-satu di depannya. Kakinya yang terbalut boot diayun-ayunkan seirama bibir tipisnya yang bersenandung lirih.

"Anna."

Seseorang memanggil namanya. Gadis itu menoleh dan melihat tiga orang sedang berjalan ke arahnya.

Mereka –dua pria dan satu wanita– berhenti tepat di sampingnya. Salah satu dari mereka –yang tadi memanggilnya, berjongkok di depan gadis bernama 'Anna' tadi, menyejajarkan tubuhnya dengan gadis ebony itu.

"Aku menunggumu terlalu lama, Tom," protes Anna pada sosok lelaki dengan rambut menentang gravitasi yang kini tersenyum karena mendengar protesnya.

"Maaf, Anna." Lelaki itu menyentuh dahinya pelan dan kembali berdiri. "Aku perkenalkan… Tuan James dan Nyonya Karin. Orang tua angkatmu."

Dua sosok lain, seorang laki-laki dengan rambut jabrik dan mantel cokelat tebal tersenyum padanya, di sampingnya, seorang wanita berambut cokelat dengan kacamata bergagang tebal juga melemparkan senyumnya.

'Sepertinya' mereka orang tua yang baik.

Anna membalas senyum mereka dan berdiri.

"Saya Anastasia Maurer Lau. Salam kenal." Anna membungkuk memberi hormat.

Kedua suami istri itu berpandangan dan tersenyum.

"Sepertinya, kami mendapatkan seorang 'putri', Tuan Wade," puji sang wanita seraya kembali melempar senyum pada Tom, Tom Wade.

Tom mengusap-usap belakang kepalanya, "Dia memang anak baik di panti ini. Semoga kalian bisa akrab."

Karin meraih bahu Anna dalam rengkuhannya, "Tentu saja 'kan, Sayang? Kita akan banyak 'bersenang-senang' nanti…."

Perjalanan menuju rumah keluarga baru Anna teramat jauh dan melewati berbagai jajaran ladang jagung dan hutan pinus yang tertutup salju.

Rumah –rumah yang terbuat dari batu bata hitam terlihat jarang-jarang, dan hanya ada satu- dua yang dipisahkan oleh ladang jagung yang berjarak ratusan meter. Jalan berkelok-kelok dan relatif sempit dengan jurang di kanannya dan tebing dari bukit-bukit kecil di sebelah kiri. Dan jalan semakin berbahaya dan licin dengan butiran salju yang mengeras di atasnya. Hanya sesekali mereka berpapasan dengan mobil yang lewat, itu pun sebuah truk kecil yang entah mengangkut apa.

Beruntung Tuan James adalah seorang sopir yang handal menguasai medan. Namun tak ayal sesekali Anna memejamkan matanya saat melihat tikungan tajam di balik bukit.

"Sebenarnya pemandangan di sini indah saat musim semi." Karin yang duduk di sebelah suaminya membuka percakapan. "Dan kota terdekat dari rumah kita nanti adalah Winter End, kota yang baru saja kita lalui tadi."

Anna ingat sebelum melewati perbukitan mereka melewati sebuah kota kecil yang tidak terlalu ramai, namun cukup pantas untuk mendapat julukan kota kecil, melihat keadaan di sini yang teramat sepi.

"Berapa kira-kira jaraknya dari rumahmu?" Anna mengalihkan pandangannya dari jurang di kanannya dan menatap Karin.

"Sekitar dua kilometer," jawab Karin, "tapi kau tak perlu cemas. Ada orang suruhan yang selalu mengantarkan bahan makanan untuk kita, jadi kau tidak perlu repot-repot harus ke kota. Orang itu mengantarkannya seminggu sekali."

Anna terdiam dan kembali memandang ke luar jendela yang nyaris hanya ada satu warna, putih.

"Kita hampir sampai," teriak Karin senang.

Anna hampir menoleh ke depan sampai sesuatu menahan matanya.

Sesuatu di antara salju.

Sesuatu yang hitam dan tinggi.

Sebuah rumah.

Sebuah rumah di tengah di lereng bukit bersalju.

Anna hampir saja bertanya pada Karin, sampai pemandangan di depannya membuatnya melupakan pertanyaan itu.

Gerbang tinggi menyambut mereka.

Dan dilanjutkan dengan jajaran pinus di sebuah jalan menuju halaman rumah. Rumah itu tepat di atas sebuah bukit.

Dengan bangunan bak sebuah kastil dalam dongeng. Sebuah menara menjulang tinggi di samping rumah utama. Dan rumah itu sendiri sangat besar dan mewah. Kelewat besar malah.

Setelah turun dari mobil, Karin mengajak Anna memasuki sebuah pintu berpelitur yang sangat besar.

Rumah itu dikunci dengan kunci kombinasi. Dan terlihat sepi.

Apakah pasangan suami istri ini menempati rumah ini sendiri?

"Kalau musim semi tiba, kau bisa melihat matahari tenggelam dari puncak menara itu," ucap Karin. "Tapi aku tak yakin kau akan sempat melihat itu."

Anna menatap Karin.

"Hahaha aku hanya bercanda, Sayang," ucap Karin terkekeh setelah menyadari tatapan Anna.

Setelah melepaskan mantel-mantel mereka dan menggantungkannya di sebuah gantungan yang berada di samping pintu besar, Anna menyeret kopernya mengikuti langkah lebar Karin menuju ruang utama.

Ruangan itu sangat besar. Lebih besar dari ruang yang tadi.

Emerald Anna menyusur sekeliling.

Sementara Karin bertepuk tangan dan memanggil seseorang –beberapa orang, "Anak-anak kemari sayang!"

Tak lama masuklah lima orang anak dan berdiri di depan Anna.

"Ini anak-anakku juga, Anna," ucap Karin lembut seraya meraih seorang anak lelaki berambut pirang tampan dengan mata sebiru langit musim panas, "Ini Allen. Nah Allen perkenalkan dirimu, Sayang."

Anak lelaki yang bernama Allen itu tersenyum menatap Anna.

"Hai," katanya.

Anna membalas dengan senyum kaku.

Berikutnya, adalah seorang anak berambut merah terang dan mata redup sewarna lelehan karamel yang bernama Math.

Anak ketiga adalah seorang gadis tomboi yang memperkenalkan dirinya dengan nama Greta.

Anna, Allen, Math, dan Greta sepertinya usianya tidak terpaut jauh.

Selanjutnya adalah seorang gadis berambut pirang yang selalu tersipu-sipu bernama Keysa.

Dan terakhir seorang anak lelaki yang paling kecil bernama Alfa.

Mereka semuanya terlihat sangat menyenangkan. Setidaknya status mereka sama. Anak angkat di keluarga ini.

"Anna, kau bisa tidur dengan Keysa," ucap Karin setelah mereka selesai berkenalan. "Keysa tolong antarkan Anna ke kamar kalian."

"B-baik. Mari kak Anna," ajak Keysa seraya berjalan ke atas.

Anna mengangguk kepada yang lain dan mengikuti Keysa menaiki tangga melingkar yang tinggi.

Anak tangga terakhir telah mereka lewati.

Sekarang langkah mereka memasuki sebuah koridor dengan beberapa pintu di kanan-kirinya.

Keysa berhenti di pintu kedua dari anak tangga dan mulai membukanya.

Sementara Anna menunggu dengan sabar di belakangnya.

"Aku senang akhirmya ada teman sekamar. Kak Greta tidak mau diajak tidur bersama," cerita Keysa. "Ah, kuncinya macet. Pasti ini kerjaan kak Allen dan Alfa."

'Krett'

Sebuah suara pintu terbuka membuat Anna berjengit.

Namun bukan pintu yang dibuka Keysa yang terbuka.

Keysa masih berkutat dengan pintu di depannya.

Anna mencari, dan melihat sebuah pintu tepat di ujung koridor terbuka sedikit.

"Keysa… apakah ada orang lain di rumah ini, selain kita dan orang-orang di bawah?" tanya Anna pelan.

"Ah bisa!" teriak Keysa senang. Pintu terbuka dengan bunyi klik. "Tadi kak Anna tanya apa?"

"Apa ada orang lain di rumah ini?"

"Tidak." Keysa menggeleng.

"Tapi, aku melihat kamar ujung itu terbu-Tunggu! Tadi kamar itu benar-benar terbuka!" Anna terbelalak tak percaya melihat kamar di ujung koridor yang kembali tertutup.

Keysa ikut memandang kamar di ujung koridor dan tersenyum, "Kamar itu terkunci, Kak. Mama bilang kuncinya hilang. Mustahil bisa terbuka."

"Tapi tadi benar-benar terbuka, Keysa!" Anna bersikeras dan menatap Keysa. "Aku melihatnya. Aku juga mendengar suara pintu yang terbuka."

"Baiklah ayo kita pastikan," ucap Keysa seraya berjalan mendekat.

Anna mengikuti di belakangnya.

Dia benar-benar melihat dan mendengar tadi, pintu ini terbuka.

Jelas.

Sangat jelas.

Mereka berhenti di depan pintu yang bercat hitam kusam itu.

Anna menahan napas.

Ragu-ragu Keysa memegang kenopnya dan memutarnya.

.

.

.

.

.

.

BERSAMBUNG...