Suara bising Kantor Kepolisian Seoul menyambut Choi MinHyun.

Dibalasnya dengan datar sapaan 'selamat pagi' beberapa orang yang menyadari kehadirannya, sementara yang lain, sibuk dengan telepon darurat yang tak pernah berhenti berdering. Pria tampan itu membawa langkahnya berbelok ke sebuah lorong dengan penerangan berupa lampu neon di atasnya. Lorong itu tidak terlalu panjang. Karena, sesaat kemudian dia sudah memasuki pintu bertuliskan 'Crime-scene Investigation Room' berwarna hazel.

Beberapa anggota CSI lainnya sudah berada di ruangan tersebut. Si dingin, putra dari Kepala Kepolisian Seoul, Kim Jongjin hanya melirik kedatangan pria itu, dan kembali sibuk dengan laptop di depannya. Berbeda dengan sosok berambut blonde yang mengucapkan 'selamat pagi'nya dengan semangat yang berapi-api.

Setelah merespon dengan alakadarnya, MinHyun berjalan menuju satu ruangan lagi yang berada di ruangan itu, ruangan yang memisahkan dirinya dari anggota CSI lainnya.

"MinHyun-ah, tunggu!" Suara seseorang menghentikan gerakan MinHyun yang tengah bersiap untuk membuka pintu. MinHyun menoleh dan menemukan pemuda manis memanggilnya.

"Waeyo, Hyung?"

"Ada yang mau kutunjukkan padamu mengenai perkembangan kasus kemarin. Aku akan ke ruanganmu sepuluh menit lagi," ucap pria bernama Lee HaeMin itu setelah melirik Panerai yang melingkar di pergelangan tangannya.

MinHyun mengernyitkan dahinya, agak heran dengan nada serius dari pemuda baik namun childish ini.

"Eoh? Baiklah," jawab MinHyun akhirnya.

"MWO?"

Lee HaeMin menutup telinganya mendengar teriakan supervisor-nya yang begitu keras.

MinHyun–mengabaikan tingkah HaeMin–meluncurkan pertanyaan yang terdengar tak ada nada kepercayaan sama sekali di dalamnya.

"Ini! Ada yang salah dengan penyelidikan ini! Aku yakin, kau, Jongjin, EunHae, atau bahkan YuWon-hyung ada yang melakukan kesalahan! Ini tidak mungkin!" teriak MinHyun keras.

HaeMin menghela napas, sebelum menjawab komentar makhluk di depannya, "Pertama, YuWon tidak ikut dalam penyelidikan kali ini. Lalu kedua, kau meragukan kami?"

"Tapi, Hyung—,"

"Oke, aku tahu apa masalahmu. Tapi, sejak awal kita sudah sepakat, bukan? Apa pun hasil penyelidikan itu kau terima. Dan ini hasilnya!" ucap HaeMin tegas, onyx-nya menatap pria penggila game yang tertunduk menatap berkas-berkas yang baru saja disodorkannya.

"Aku tahu ini berat. Tapi, bukti-bukti otentik mengarah padanya. Termasuk visum korban dan barang bukti utama, yaitu senjata yang digunakan pelaku. Jadi, persiapkan mentalmu. Kasus ini akan segera disidangkan..."

"Aku tak bisa percaya... kalau pelakunya..."

"Aku juga. Tapi, bukti mengatakan begitu. Dan, ngomong-ngomong kau harus menengoknya, menurut beberapa petugas, dia... err agak stres," lanjut HaeMin dengan nada prihatin.

"Ne..."

MinHyun menyusuri ruang-ruang bertembok batangan baja itu dengan pikiran tak menentu.

Pemandangan yang MinHyun tangkap dari kanan-kiriku menampilkan raut wajah yang sama, orang-orang berwajah garang namun suram dengan pakaian senada berwarna abu-abu.

Di sinilah MinHyun sekarang, melangkah di sepanjang ruang tahanan. Tempat di mana manusia yang terlalu tinggi untuk bermimpi sehingga terjebak dalam mimpi itu sendiri. Menurutnya, para penghuni ruang berukuran sempit ini, bukan orang yang tak punya mimpi. Mereka sebelumnya bermimpi, namun 'putus asa' menyerang dan menyeret mereka ke dalam ruangan sempit ini. Berbaur dengan orang-orang yang salah mengartikan mimpi. Dan, mimpinya sendiri terlalu tinggi. Apa MinHyun nanti juga akan berakhir di sini? Apalagi, ia juga termasuk salah satu yang membuat mereka berada di sini. Tentu saja tidak, keadilan harus ditegakkan.

Sebenarnya, orang-orang ini juga punya pilihan untuk mengubah takdir mereka. Namun menurut kelompok tertentu mereka salah. Hei, memangnya ada ukuran salah untuk sebuah pilihan?

Memangnya apa yang menjadi patokan untuk sebuah kesalahan? Norma, akibat, hukum? Hidup itu penuh pilihan. Saat melangkah, itu artinya MinHyun telah memilih, antara melangkah itu sendiri atau tetap duduk. Dan, ini sudah awal merubah takdir bukan?

Satu yang terus MinHyun pikirkan.

Hidup ini punya pilihan, kadang kita harus melepaskan sesuatu yang lain, hanya untuk mendapatkan sesuatu yang lain pula. Tak bisa memiliki keduanya.

Apakah MinHyun juga begitu?

Tak terasa, langkah CSI handal itu tiba di sebuah ruangan bercat putih bersih.

Ruangan ini juga termasuk ruang tahanan. Tapi, berbeda dan terpisah dengan ruang tahanan lain. Di atas sebuah pintu almond itu tertulis 'Isolation Room'.

MinHyun menekan alat identifikasi yang berada di samping pintu. Setelah menekan tombol merah, muncul tulisan yang berupa perintah untuk memasukkan password serta pendeteksi identitas memakai sidik jari.

Setelah selesai, pintu itu terbuka dengan pelan.

Kesan pertama yang tertangkap adalah, tatanan dan fasilitas kamar itu terlalu bagus untuk seorang narapidana.

Namun, hal itu langsung sirna melihat kondisinya.

Bantal yang tercabik sehingga memperlihatkan isinya sudah terlempar.

Vas bunga, yang MinHyun yakin tadinya berada di atas bufet, sudah pecah.

Pecahan vas itu bercampur dengan pecahan piring dan gelas. Sementara makanannya sendiri sudah berhamburan di lantai.

Semua itu semakin diperburuk dengan ranjang yang awut-awutan, bed cover menjuntai ke samping.

MinHyun menghela napas, karamelnya menyusur sekeliling, mencari penghuni kamar yang mirip kapal pecah ini.

"YeRin-ah..." panggil MinHyun pelan.

Hening, tak ada jawaban.

MinHyun mulai melangkah sambil berjinjit menghindari pecahan kaca yang mungkin bisa menusuk kakinya. Pandangannya menelisik sudut-sudut kamar ini. Hingga akhirnya, karamel itu melihat gundukan selimut di pojok kamar. Sebelumnya, –MinHyun berpikir begitu– sampai dia mendengar isakan lirih dari gundukan itu.

MinHyun mendekat dan berjongkok di depan gundukan -sosok- itu.

"YeRin-ah..." panggil MinHyun pelan.

Disingkapnya selimut tebal yang membungkus tubuh sosok bernama YeRin itu.

MinHyun terkejut melihat tampang yeoja itu setelah selimutnya tersingkap.

Rambut hitamnya kusut masai, dan yang lebih miris, tubuh porselen yeoja itu terdapat beberapa luka sayatan.

MinHyun mengangkat wajah yeoja itu, dan melihat bahwa ada lebam di dahinya serta sepasang mata beriris onyx-nya yang sembab.

Tanpa bicara, MinHyun menarik tubuh itu ke dalam pelukannya.

Mata MinHyun lagi-lagi menyisir, mencari benda apa yang digunakan YeRin itu untuk melukai dirinya. Dan, karamelnya menemukan cutter kecil di samping YeRin. Cutter itu bernoda darah yang telah mengering.

.

.

.

.

.

Beberapa waktu sebelumnya….

"Bagaimana kau bisa ada di sana?"

"Aku lupa!"

MinHyun saling melempar pandang dengan Kim JongJin, rekan sesama CSI-nya yang kini bersama-sama tengah melakukan investigasi terhadap wanita cantik yang menjadi tersangka utama pembunuhan yang mengancam Seoul akhir-akhir ini.

Menghela napas berat MinHyun beranjak keluar dari ruang interogasi, dan menutup pintu metal itu kasar. Walau tanpa suara tapi dua orang yang tengah berada di rauangan dengan kaca lebar itu berjengit.

MinHyun menghempaskan diri duduk di atas kursi yang menghadap kaca tembus pandang di ruangan interogasi di depannya. Menatap tajam dua orang yang masih di dalam. Namun, tak butuh waktu lama ketika JongJin akhirnya keluar dari ruangan dan berdiri di samping MinHyun. Meninggalkan sosok manis yang memasang wajah kebingungan di dalam raungan.

"Kau puas sekarang?" MinHyun melirik JongJin tajam.

Namja pendiam nan stoic itu bergeming.

"Kalian puas telah menuduhnya melakukan semua pembunuhan ini, hah?" Kali ini MinHyun membentak sosok yang tetap terdiam itu. "Dia korban," lanjutnya kemudian.

"Tapi dia bisa saja pura-pura," balas Jongjin kalem.

"Bagaimana kau bisa berpikir seperti itu, Hyung?! YeRin bukan pembunuh. Demi Tuhan, istriku bukan pembunuh!" suara MinHyun naik beberapa oktaf.

"Tapi, dia ada di tempat kejadian, menurut salah satu saksi mata."

Jongjin dan MinHyun menoleh ke arah pemilik suara yang baru datang. Lee HaeMin.

"Tapi bukan berarti dia adalah pelakunya." MinHyun bersikeras membela istri itu.

"Tapi bukti dan saksi—!"

"—berhentilah membicarakan dua hal itu! Aku akan membuktikannya!" MinHyun bangkit dari kursinya, menatap dua pemuda tampan itu bergantian sebelum akhirnya pergi dari menuju pintu ke arah HaeMin masuk tadi. "YeRin bukan pelakunya."

"Satu lagi." Langkah MinHyun tertahan di pintu. "Tolong perlakukan YeRin dengan baik."

.

.

.

.

.

Saat ini….

MinHyun berkali-kali memandang berkas-berkas di mejanya, berharap pada pandangan selanjutnya, tulisan-tulisan itu akan berubah.

Nihil.

Tulisan itu tetap terbaca...

Choi YeRin...

Digeleng-gelengkannya kepala mencoba menghilangkan efek-efek mengganggu berasal dari berkas-berkas di depannya, yang akhir-akhir ini menyita waktunya.

Dengan malas, dikumpulkannya berkas hasil penyelidikan anak buahnya yang berserakan itu.

Mencoba menghindari tulisan 'Choi YeRin' yang tak sengaja terbaca oleh mata karamelnya.

Setelah tertumpuk rapi –menurutnya– dimasukkannya berkas-berkas itu ke dalam sebuah map dan dimasukkannya ke dalam laci yang kemudian dikunci dengn kode kombinasi.

Tangannya beralih pada laptop silver miliknya, yang sempat terabaikan.

Benda elektronik hasil karya manusia itu menyala, menampilkan foto-foto mulai dari pisau lipat, palu berlumur darah yang telah mengering, tumpukan kain yang penuh klorofom, dan lantai-lantai dengan darah menggenang di atasnya.

MinHyun menggeser kursor itu ke bawah, yang semakin menampilkan foto-foto mengenaskan.

Mayat dengan anggota tubuh rapi, namun semuanya telah terpotong, mayat tanpa kepala, mayat dengan isi perut keluar, hingga kepala terbelah.

Semua sadis, kejam dan tak berpola.

Kursor itu bergerak naik lagi di satu foto.

Pisau besar, semacam pisau daging.

Tunggu!

Kenapa dia melupakan penyelidikan pada benda ini?

Ck, MinHyun ingat bahwa dia hanya memeriksa TKP dan belum memeriksa benda itu sendiri.

Jika dilihat, memang tak ada yang aneh dari logam itu.

Tapi, MinHyun menyadari sesuatu.

Sesuatu yang harus diperiksanya sendiri.

'Brakk'

MinHyun menggebrak mejanya keras.

Wajah itu muram dengan caramel yang menyorot tajam.

Semua data-data itu sudah diserahkan pada Divisi Pelacakan.

"MinHyun-sshi!" sebuah suara terdengar memanggilnya.

MinHyun melihat Khaura Kim, salah satu petugas dari Divisi Investigasi. Yeoja yang akrab dengannya.

"Waeyo, Khaura-sshi?"

"Kau tidak ke ruang sidang hari ini? Bukankah sekarang YeRin-unnie sidang? Jangan bilang kau lupa!"

"Oh, shit! Aku memang lupa!"

MinHyun menepuk dahinya kaget.

Dengan tergesa dia men-turn off laptop-nya, sebelum akhirnya berjalan setengah berlari melewati Khaura yang hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah supervisornya.

'Bagaimana bisa, MinHyun melupakan hal sepenting ini?'

Tanpa mengurangi tempo setengah berlarinya, MinHyun melewati koridor panjang dan tangga.

Mengabaikan tatapan heran dari beberapa petugas yang berpapasan dengannya, MinHyun terus melangkah.

Agenda sidang hari ini adalah mendengarkan saksi.

Walaupun kondisi YeRin seperti itu, YeRin tetap harus disidangkan.

YeRin tidak gila, dia tidak lepas dari tuduhan.

MinHyun tahu itu.

Setelah membalas dengan senyum sekilas sapaan dari resepsionis di depan, MinHyun memasuki tangga menuju lantai dua, ruang sidang.

Dan berhenti di depan sebuah pintu.

Tertutup.

Sepertinya sidang sedang berlangsung.

Tanpa keraguan, MinHyun mulai membuka pintu.

"...saya ingat YeRin-sshi membeli pisau daging di toko saya. Pada tanggal 11 Desember 2012. Dan pisau itu sama persis dengan barang bukti yang ditemukan..."

MinHyun melongok melewati kepala para pemburu berita yang ada di depannya.

Karamelnya mencari siapa yang berbicara dan dia menemukan, sosok pria pucat, tengah berada di tempat saksi, memberi kesaksian yang memberatkan YeRin.

MinHyun tahu orang itu.

Lee Sung Hae, pemilik toko daging terbesar di Seoul.

Kilatan emosi melintas di mata MinHyun.

Mendengus keras, MinHyun berbalik dan meninggalkan ruang sidang.

h lelah memacu mobilnya di sepanjang jalanan Seoul, MinHyun berhenti dan duduk di bangku panjang di depan sebuah toko boneka.

Dirapatkannya mantel, menahan hawa dingin yang semakin menjadi-jadi di akhir Desember.

Dihembuskannya napasnya berkali-kali, menjadi uap putih di udara.

Hatinya merasa dingin, sedingin tumpukan putih di depannya.

Samar-samar, MinHyun mendengar suara berita, matanya mencari dan menemukan screen raksasa di seberang jalan tempatnya duduk.

"Pembunuh berantai yang selama dua tahun ini meneror Seoul akhirnya terungkap bersama tertangkapnya pelaku. Pelaku yang berinisial YR sekarang di tahan di Kantor Kepolisian sejak lima hari yang lalu. Dan hari ini, baru saja menjalani sidang pertamanya. Motif—"

"Huh"

MinHyun berdiri dan memilih untuk tidak melanjutkan mendengarkan berita yang membuat perasaannya semakin memburuk itu.

Dilangkahkan kakinya menuju kotak minuman kaleng otomatis, yang ada di dekatnya.

MinHyun merogoh sakunya mencari koin, namun tak sengaja koin itu jatuh menggelinding.

MinHyun membungkuk untuk mengambilnya, namun sebelum tangan tan-nya meraihnya, sebuah tangan lain yang terbungkus sarung tangat kulit lebih sigap mengambil koin itu.

MinHyun tegak kembali dan menatap pemilik tangan itu.

Wajah pucat.

Rambut hitam cepak.

Lee SungHae, si pengusaha daging, yang baru saja bersaksi dalam kasus istrinya.

Sunghae tersenyum, yang lebih terlihat seperti meremehkan.

Tanpa berkata apa-apa, SungHae memasukkan koin itu ke dalam mesin, dan keluarlah sekaleng minuman dingin.

SungHae membukanya dan menyerahkannya pada MinHyun, MinHyun memasang wajah datar.

Dari tadi hanya mengamati tingkah SungHae.

Dalam diam, MinHyun menerima kaleng itu.

"MinHyun-sshi..." SungHae mengangguk dan langsung berbalik pergi di telan keramaian, meninggalkan MinHyun yang terkejut mengetahui bahwa Sunghae mengenalnya.

"Ahaha..." MinHyun tertawa garing.

Mungkin hanya kebetulan saja, pikir MinHyun yang semakin bingung dengan semuanya.

MinHyun memandang minuman kaleng itu dan menghabiskannya sekali teguk.

Namun, ketika MinHyun bermaksud melempar kaleng kosong itu ke tempat sampah, tempat sampah itu penuh.

Dengan gusar, MinHyun melemparkan kaleng itu dengan sembarangan ke mobilnya.

Dan kembali memacu sport hitam itu di atas jalanan Seoul.

MinHyun memasuki ruangan yang didominasi warna putih itu dengan hati-hati.

Takut mengganggu sosok yang ada di dalamnya.

Dan benar saja, sang putri sedang tertidur tenang di atas peraduannya.

MinHyun mendekat, dan menatap wajah istrinya.

YeRin terlihat begitu tenang, napasnya teratur turun naik.

Kedua kelopak matanya, menutup sepasang onyx yang selalu dikagumi MinHyun.

Perlahan, tangan pucat itu menyusur tiap lekuk wajah porselen YeRin, menyingkirkan anak rambut di dahinya yang masih lebam, menyentuh hidungnya, pipinya yang terusak oleh beberapa sayatan kecil dan berakhir di bibir ranumnya.

MinHyun menyentuh bagian itu, agak lama dengan jemarinya.

Perlahan MinHyun menunduk, menggantikan sentuhan jemarinya dengan bibirnya.

"Saranghae, Yeobo."

MinHyun terus mengucapkan kata itu berulang-ulang seiring dengan lidahnya yang menyusur di wajah YeRin. Dahinya. Kedua kelopak matanya yang tertutup, pipinya. Dan turun ke sepanjang garis lehernya. MinHyun melakukan hal itu dengan lembut, agar sosok yang dicintainya itu tidak terbangun karena terusik.

.

.

.

.

.

Rumah mewah itu terlihat lengang.

Hanya terlihat beberapa mobil mahal yang terparkir di depannya, tertutup oleh salju tipis.

Salju juga menutupi jalan setapak menuju rumah mewah itu.

MinHyun dan HaeMin berjalan cepat menuju rumah sang pengusaha daging terbesar di Seoul itu.

Bel yang berada di kanan pintu, berbunyi nyaring saat tangan MinHyun menekannya dengan tidak sabar.

Tak lama, pintu ebony itu terbuka, menperlihatkan sosok pucat dengan wajah heran.

"Ada apa ini?"

"Anda diperiksa atas dugaan pembunuhan terhadap dua puluh orang selama dua tahun ini," jawab HaeMin tegas.

"Eh, apa maksud, Anda? Bukankah pelakunya sudah tertangkap?"

'Buagh'

"MinHyun! Apa yang kau lakukan?" teriak HaeMin keras. MinHyun tak menjawab, dia menatap Sunghae tajam.

"Jaga sikap anda, MinHyun-sshi!" ucap SungHae dingin, tubuhnya kembali tegak setelah sempat oleng karena pukulan MinHyun barusan.

"Kau! Kau yang membunuh! Kau tersangkanya SungHae! Dan kau timpakan kesalahan pada YeRin!" teriak MinHyun keras.

"Tenanglah, MinHyun!" HaeMin sedikit kesulitan menahan tubuh berontak MinHyun.

"Darimana Anda bisa mengatakan saya adalah pelakunya?" pandangan mata itu menatap MinHyun tajam. "Apakah ada sidik jari saya dibarang bukti?"

"Di pisau itu memang tidak ada sidik jarimu, tapi terdapat sidik jari sarung tangan kulit. Dan kau tahu, sarung tangan yang terbuat dari kulit juga bisa meninggalkan sidik jari," ucap HaeMin datar. "Dan kami ingin memeriksa sarung tangan kulitmu."

"Hahaha, sayang sekali Tuan-Tuan. Sarung tangan tersebut sudah saya bakar," seringai mengejek tercetak di bibir Sunghae. "Jadi kalian tidak bisa memeriksanya."

Sejenak rona keterkejutan menghias wajah HaeMin. Namun, sesaat kemudian senyum kecil terukir di wajah pemuda bermata onyx itu.

"Mungkin kita memang harus memakai 'itu', MinHyun." HaeMin menatap MinHyun yang tengah memasang wajah terlipat di sampingnya.

"Terserah," jawab MinHyun singkat.

"Itu?" Sunghae menatap sosok petugas di depannya bergantian.

"Ya 'itu', Sunghae -sshi. Anda pernah membuka kaleng minuman untuk MinHyun memakai sarung tangan. Dan karena tempat sampah penuh, MinHyun membawa kaleng itu pulang." HaeMin menatap Sunghae. "Anda tahu bukan, apa yang akan terjadi jika sidik jari pada kaleng tersebut sama dengan sidik jari yang terdapat pada barang bukti?"

Senyum mendadak terhapus dari wajah licik Sunghae.

"Ayo kita bawa orang ini, MinHyun," ajak HaeMin enteng.

"Ya! Gara-gara orang ini YeRin jadi menderita. Aku akan menangkapmu dan membuatmu membusuk di penjara apa pun yang terjadi!"

'Drtttt!'

Getaran handphone, membuat MinHyun tersadar.

"Yeobseoyo?"

"…."

"YeRin di rumah sakit?!"

.

.

.

.

.

"Kami membawanya ke rumah sakit, karena keadaannya mendadak aneh."

MinHyun bergegas mengikuti langkah lebar sosok berpakaian petugas kesehatan di sisinya. Saat ini mereka tengah menuju ruangan tempat YeRin dirawat.

"Sudah berapa lama ia berada di sini?" tanya MinHyun. Mereka melepati banyak lorong –yang membuat MinHyun mendengus kesal. Lelaki itu sangat khawatir dengan keadaan sang istri yang terus-terusan memburuk sejak ia ditetapkan sebagai tersangka pembunuhan, yang nyatanya dilakukan oleh pengusaha daging terkaya di Seoul.

"Satu jam yang lalu," jawab petugas itu singkat. Disempatkannya menagangguk pada dua suster yang tengah berjalan berlawanan arah dengan mereka.

"Bagaimana keadaannya sekarang?"

Petugas itu mengajak MinHyun berhenti di depan pintu berwarna biru. Membukanya dan memberi jalan agar MinHyun masuk duluan. "Lebih baik Anda lihat sendiri."

Mata MinHyun menemukan sosok manis berwajah pucat yang tengah terbaring di satu-satunya bangsal yang ada di ruangan. Beberapa kasa terlihat di dahi dan wajahnya. MinHyun mendekat, menarik sebuah kursi di duduk di sisi wanita itu.

"Gwaenchanayo?" MinHyun mengusap surai hitam kusut itu pelan.

"Gwaenchana, MinHyunie," jawab YeRin lirih. Sosok manis itu mencoba tersenyum. Jemari mungilnya meraih tangan MinHyun yang bebas dan meremasnya lembut.

"Anda tidak perlu khawatir, MinHyun-sshi. Penyakit yang di derita YeRin-sshi tidak berbahaya." Seorang dokter ber-tag name 'Lee Jonghyun' berdiri di belakang mereka. Tersenyum ramah.

"Waeyo?" MinHyun menoleh tanpa melepas tangan YeRin.

"Karena sebentar lagi—"

YeRin meremas tangan MinHyun semakin erat.

"—kalian akan punya bayi. Chukkae."

"Ji-jinjja?" MinHyun kembali menatap YeRin yang kini tersenyum samar. "K–kau hamil, Chagiya?"

YeRin mengangguk singkat. Dan ia seolah berhenti bernapas saat MinHyun memajukan wajahnya dan melumat bibirnya lembut. Lumatan itu terus berlanjut. YeRin bereaksi dan memiringkan kepalanya, membuka bibirnya dan memberi akses lidah MinHyun untuk menjelajah ke dalam rongga mulutnya.

"Ehm, Tuan dan Nyonya—maaf menginterupsi, tapi bisakah ciumannya ditunda sebentar?"

MinHyun tersadar. Keduanya menoleh dan menemukan wajah dokter Jonghyun yang telah memerah sempurna.

.

.

.

.

.

.

EPILOG:

"Jadi, YeRin menemukan SungHae yang sedang membunuh orang saat ia membeli daging? Lalu ia terkejut dan pingsan."

"Ne. Karena kalap, SungHae membuat YeRin-lah yang seolah-olah membunuh."

"Beruntung FTIR* bisa mendeteksi sidik jari sarung tangan kulit."

"Benar. Karena kalau tanpa bukti sarung tangan kulit di kaleng itu, YeRin tidak akan bebas dari segala tuduhan."

"Ngomong-ngomong di mana MinHyun sekarang, YuWon? Dia tidak libur hari ini. Walau supervisor, bukan jatahnya untuk libur."

"Kau tidak tahu, Hyung? YeRin hamil dan kurasa MinHyun akan melakukan apa pun untuk menjaga istrinya."

"Termasuk mengambil libur sembarangan, eoh?"

"Jangan bilang kau cemburu, HaeMin-hyung."

"Cemburu? Aku yang seharusnya mengatakan hal itu padamu, YuWonie."

"Baiklah, kita sama-sama cemburu. Adil, 'kan?"

"Terserah kau sajalah. Lagipula YeRin sudah tidak mungkin diraih."

"Hahahaha kau benar, Hyung."

.

.

.

.

.

.

SELESAI...