"WINTER ANGEL"

Original Fiction Written by Nero © 2012


Disclaimer :

All of story contents belong to me. This is just a work of pure fiction. I don't take any material profit from this work. Don't copy, don't re-link, and don't re-share without permission. Plagiarisms aren't allowed here!

Genre – Rate :

Romance – Drama – Angst

Teen – PG 18+

Warnings :

Japan Universe

Don't copy, don't re-link, and don't re-share without permission. Plagiarisms aren't allowed here!


~CHAPTER I~


Prefektur Chiba yang berselimut salju saat musim dingin, sepertinya sedikit memperlambat denyut kehidupan orang–orangnya. Apalagi badai salju semalam membuat tumpukan salju semakin tebal, dan pagi hari saat membuka pintu yang akan menyambut adalah jatuhan salju dari atap rumah. Keadaan di luar tampak lenggang, karena matahari enggan muncul dan suasana yang dingin membuat orang–orang lebih suka tidur dengan selimut tebal dengan pemanas ruangan yang tak berhenti menyala. Atau menikmati cokelat hangat di meja pemanas.

Padahal, ini hari-hari terakhir musim dingin.

Ah, sepertinya aku tertidur di meja pemanas lagi. Pandanganku menangkap arloji yang tergeletak di depanku, angka – angkanya menunjukkan pukul 07.10.

What?

Aku terlambat ke kampus, pikirku kacau, kulempar begitu saja selimut yang tadi menutup tubuhku, aku berlari ke kamar untuk mengambil handuk dan mandi. Aduh, tanpa sengaja kakiku menendang botol sisa minumanku tadi malam, sakit…tapi…hei tunggu, mataku melihat kalender di dinding depanku, aku mendekat sambil berjinjit karena kakiku yang sakit, dan dengan jelas terlihat tulisan Minggu, sekarang hari Minggu, Baka. Uh bikin kaget saja, tapi hari ini kan minggu terakhir musin dingin, aku haruss keluar dan pergi ke taman seperti biasanya.

Jadi aku tetap harus mandi, sial padahal pagi ini dingin sekali.

Jalan yang ku lewati menuju taman nampak sepi, hanya beberapa orang bapak–bapak yang membersihkan salju di depan rumahnya, padahal biasanya ada anak–anak yang bermain lempar bola salju. Entahlah mungkin badai salju semalam membuat mereka enggan.

Tak lama nampaklah taman kota di depanku, mantelku semakin kurapatkan, melawan hawa dingin yang menusuk saat aku memasuki area taman. Pandanganku menyusur sekeliling taman, sepi…apa dia belum datang?

Aku mendekati sebuah bangku, dan kulihat dia sudah duduk manis di bangku di sampingku, agak jauh dari bangku yang ingin kududuki. Rupanya dia tadi tak terlihat karena pohon berdaun salju yang menutup arah pandanganku saat di pintu taman.

Harusnya, aku sudah tahu itu.

Dia…

Dia yang kumaksud adalah gadis berambut violet, yang selalu berada di taman ini saat hari–hari terakhir musim dingin.

Ini sudah tahun ke empat sejak aku melihatnya. Dia mudah dikenali, selain karena rambutnya, mantel, topi, shawl, dan boot gadis itu selalu sama, bahkan aksesoris berbentuk kupu–kupu mungil di topinya juga sama.

Bayangkan empat tahun aku selalu melihat gadis itu dengan penampilan yang sama, duduk di bangku yang sama, waktu yang sama, dan entahlah apalagi yang sama, aku sampai menyebutnya Snow Girl, walaupun selama bertahun–tahun itu juga aku tak pernah menyapanya, dia juga tak pernah menatapku, bahkan melirik pun tidak (mustahil bukan, tapi itulah kenyataanya). Biasanya, dia akan duduk sampai jam menunjukkan pukul 09.30, setelah itu dia akan beranjak pergi tanpa bicara atau melirikku, dan aku pun juga tak peduli. (walau rasa penasaran selalu menghantuiku)

Aku sedang membayangkan apa yang akan kulakukan hari ini, dengan suasana sedingin ini, napasku saja seperti uap putih, sampai telingaku menangkap isakan lirih dari sampingku. Gadis itu sepertinya menangis, aku menatapnya, dia benar–benar menangis. Aku berusaha mengabaikan dia seperti biasanya, tapi entah kenapa suara tangisnya membawa kekuatan magis, sehingga aku berdiri dan melangkah, hei, kakiku jangan ke sana, aku berusaha menahan diriku sampai aku sadari aku sudah berdiri di depan gadis ini. Dia tetap menunduk dan terisak pelan, aku tak tahu bagaimana harus menyapanya, karena selama ini aku tidak pernah peduli ( lebih tepatnya dia yang tak peduli ).

"Boleh aku duduk di sampingmu?" Aduh, sepertinya ini bukan kalimat yang tepat untuk menyapa gadis yang sedang terisak.

Tapi, gadis aneh ini tetap tak peduli padaku. Aku yang semakin canggung masih berdiri di depannya tak tahu harus berbuat apa.

"Hei, aku tak tahu entah apa masalahmu, tapi jangan menangis seperti ini. Ayolah, walaupun taman ini sepi, tapi justru hal ini membuat tangismu jadi jelas."

Dan lagi–lagi gadis itu tak peduli.

"Hei, Snow Girl!" teriakku agak membentak, karena memang aku tidak sabaran ( dan tidak tahu bagaimana harus mendiamkan gadis ini). Gadis ini sepertinya terkejut karena bahunya agak berjengit pelan, tapi tetap tak menatapku. Aduh sebegitu buruknya kah aku, pikirku dramatis.

"Ya sudahlah…" Aku yang benar–benar merasa diabaikan bersiap untuk pergi.

"Tunggu…" suara lirih gadis itu dan juga tangan lembut nan dingin yang menyentuhku sontak menahan langkahku yang sudah berbalik dan siap melangkah. Aku menoleh, dan melihat mata emerald yang indah namun redup menatapku, masih ada sisa air mata di pipinya. Gadis ini, mata emerald indah dengan bulu mata lentik, pipi putih bersemburat merah, walau matanya nampak redup dan wajahnya juga tirus, tapi tak mengurangi pesona kecantikannya.

Lalu, aku menatap tangan lembutnya yang masih memegang pergelangan tanganku, sepertinya dia dia menyadari tatapanku dan segera melepasnya.

Hm, kenapa dia tidak mengenakan sarung tangan...

"Gomen…" dia menunduk dengan wajah blushing, sekilas sempat kulihat wajah tersenyumnya. Kami-sama, gadis ini tersenyum, si Snow Girl tersenyum, padahal biasanya menatapku pun tidak dan sekarang dia tersenyum, gadis yang baru tadi kudengar isakannya sekarang tersenyum.

"Err, boleh aku duduk di sini?" tanyaku lagi, dia tak menjawab, tapi aku nekat duduk di sampingnya.

Dan kebisuan kembali menyelimuti kami. Aku melirik gadis itu, yang kini menatap lurus pohon di depannya.

Nampak melamun, aku tak ingin mengganggunya, tapi, kebisuan ini menyiksaku.

"Ada apa sebenarnya?" tanyaku seraya menoleh ke arahnya.

"Maksudmu?" dia menjawab pelan tanpa menatapku.

"Kau itu, kenapa kau tiba–tiba terisak seperti tadi, gadis aneh," ucapku mulai tak sabar.

"Kau itu yang aneh, seenaknya saja menyebutku aneh, padahal kita belum mengenal, apa kau pikir itu tidak lebih aneh," ucap gadis ini panjang.

"Hei, tenyata kau lebih cerewet dari dugaanku."

"Hah?"

"Kupikir kau gadis yang pendiam, seperti penampilanmu. Tapi ternyata tidak, jadi kau mau tahu namaku tidak?"

"Tidak."

"Hah?" tanyaku melongo.

"Aku tak mau setelah kau mengenalku, kau lebih berani menyebutku aneh."

"Ayolah, aku Yosuke, Yosuke Arashi, dan kau sendiri?" Aku masih mengulurkan tanganku menunggunya. Tapi gadis ini tidak membalas tanganku.

"Aku Yukiko, Nakamura Yukiko," ucap gadis bernama Yukiko itu lirih.

"Nama yang indah, jadi apa masalahmu Snow Girl?" ucapku mengembalikan ke topik semula.

"Hah, kau sudah tahu namaku, tapi panggilanmu itu tak berubah ya, jadi…. Kau benar–benar ingin tahu?" tanya Yukiko menghembuskan napas pelan dan menoleh menatapku. Sungguh menatapku.

"Iya, ceritakan padaku!" ucapku mendesak. Aku menunggunya dengan tak sabar.

Yukiko menatapku seolah mempertimbangkan sesuatu, sebelum akhirnya berdiri sambil berkata, "Ini bukan masalah yang bisa dan harus aku ceritakan pada orang yang baru kukenal di taman," ucapnya seraya berbalik melangkah pergi.

Aku bengong dan ketika akhirnya aku sadar dia sudah jauh di depanku, aku memanggilnya, "Hei Snow Girl!"

"Namaku bukan Snow Girl," jawab Yukiko tanpa menoleh.

"Baiklah, hei Snow eh Yukiko, tunggu!" ucapku seraya mendekatinya.

Yukiko berhenti, "Apa lagi?"

"Kau benar–benar tak ingin cerita?" tanyaku setelah sampai di dekatnya.

"Tidak," jawabnya tegas dan beranjak untuk melangkah lagi. Tapi, dia berhenti lagi dan menoleh padaku, "Dan jangan ikuti aku," tambahnya lagi, dan sekarang dia benar–benar pergi.

Kali ini, aku tak mengejarnya, hanya menatap punggungnya yang keluar dari gerbang taman.

Sebelum aku berbalik dan duduk di bangku di dekatku. Sial, gadis itu benar–benar aneh.

Ada apa dengan gadis itu, tadi dia terisak dan sekarang malah pergi, huh...

Hari berikutnya Yosuke terlihat di kampusnya, dia memasuki kelas dengan wajah kusut.

"Heiii, Yosuke baka!" Seorang gadis berambut blonde panjang memanggilnya. Yosuke menoleh dan mendekat ke arah Maki– nama gadis itu yang sedang berkumpul dengan teman-temannya di meja belakang.

"Kau kelihatan lesu sekali Yosuke, tidak biasanya," komentar Taro, pacar Maki.

"Huh," jawab Yosuke malas.

"Ada apa?" tanya Maki perhatian.

"Tak ada apa-apa..."

"Kau tak usah berbohong Yosuke, aneh saja kau yang biasanya berisik sekarang jadi pendiam begini," Zen yang tadi diam, ikut berkomentar.

"Ada apa sih?" Maki semakin mendesak.

Yosuke tak menjawab, hanya melengos dan duduk di kursi dekat Zen. Wajahnya semakin kusut.

"Kau kemarin ke taman?" tanya Taro tiba - tiba.

"Iya."

"Jangan-jangan gadis itu lagi," Taro menebak - nebak.

"Gadis, gadis siapa Ta-kun?" Maki nampak kaget. Dia menatap Taro penasaran.

"Tetanggamu," Taro menjawab pelan.

"Eh, maksudmu... Yukiko, iya Yosuke?" ditatapnya Yosuke dengan pandangan menyelidik. "Kau kenal dia?" lanjutnya lagi.

"Kau tahu gadis aneh itu?" tanya Yosuke kaget.

"Hei Baka, kau tak bisa seenaknya begitu, kau bilang begitu karena belum tahu ada apa sebenarnya," sentak Maki.

"Memang ada apa, dia hanya gadis aneh yang selalu di taman setiap musim dingin, dengan pakaian yang sama, yang bahkan tak pernah melirikku!"

"Kau marah pada gadis itu karena dia tak pernah melirikmu selama ini, Yosuke?" ujar Zen sambil tertawa geli.

"Menggelikan," ucap Maki dengan tampang cemberut.

"Huh," Yosuke mendengus pelan.

"Kau belum tahu siapa dia, dan apa yang sebenarnya terjadi, Yosuke..." ucap Maki lirih.

"Memangnya ada apa?" Yosuke menatap Maki.

"Aku tak bisa cerita..."

"Kenapa?" tanya Yosuke heran.

"Kalau kau memang ingin tahu, datang saja kerumahnya, cuma dua rumah dari apartemenku kok," jawab Maki kalem.

"Hei ceritakan sekarang dong!" paksa Yosuke.

"Tidak bisa, Baka!" tolak Maki keras.

"Sudahlah Yosuke, turuti saja saran Maki, datang ke rumahnya," saran Taro.

"Merepotkan," ucap Yosuke pelan.

"Kau terdengar aneh saat berkata seperti itu, nah Ta-kun bukankah kau ingin mengajakku ke perpustakaan, ayo sekarang!" kata Maki sambil menarik Taro pelan. Mereka pun keluar.

Zen menepuk punggung Yosuke pelan, sebelum akhirnya mengikuti Taro dan Maki keluar.

Yosuke hanya terdiam. Ada apa sebenarnya dengan gadis violet itu?

"aku sungguh ingin membalik waktu, dan tak ingin mengucapkan kata – kata itu, karena aku tak ingin kau pergi selamanya"

"Jadi Yosuke, kau benar – benar berniat ke rumah Yuki-chan?" tanya Maki. Sekarang, Yosuke sedang berada di apartment Maki, dia duduk di kursi dengan wajah yang masih muram, sementara Maki sedang berdiri sambil bersedekap seolah–olah menginterogasi Yosuke.

"Iya," jawab Yosuke datar.

"Kenapa kau tidak pertimbangkan dulu?" lanjut Maki, ada nada keberatan dalam kata–katanya.

"Kalau kau mau cerita dan memberiku sedikit gambaran mungkin bisa kupertimbangkan," ucap Yosuke seraya menatap Maki.

Maki melirik Taro yang juga ada di ruangan dan menghela napas pelan sebelum akhirnya menjawab kata–kata Yosuke, "Kau tahu aku tidak akan pernah melakukan itu, Baka."

"Kalau begitu biarkan aku ke sana."

"Aku tidak melarangmu Yosuke, yah aku hanya sedikit menyuruhmu untuk mempertimbangkannya."

"Sudahlah Maki, biarkan saja dia kesana," ujar Taro akhirnya memberi suara.

"Tapi kau pasti tahu 'kan Ta-kun, setelah ini pasti akan terjadi sesuatu…yah sesuatu yang berbeda."

"Tapi kau sendiri juga tak ingin memberitahunya 'kan, jadi biarkan."

"Huh, iya juga sih, baiklah Yosuke pergilah, dua rumah dari apartemenku ini ada rumah bercat biru muda, mudah dicari kok," ucap Maki akhirnya, sekaligus memberi gambaran rumah Yukiko.

"Arigatou, Maki. Aku pergi sekarang ya," ucap Yosuke lega.

"Iya…" jawab Maki pelan.

Yosuke segera bangkit dari kursinya, ketika dia hendak membuka pintu, Maki memanggilnya lagi, "Yosuke…"

"Iya?" Yosuke menoleh dan menghentikan gerakannya membuka pintu.

"Err…tak apa–apa, hati–hati," ucap Maki pelan sambil tersenyum kaku.

"Pasti," Dan pintu pun menutup.

Maki menghempaskan tubuhnya di kursi yang tadi diduduki Yosuke. Taro melirik tingkah kekasihnya itu yang kini justru tampak muram seperti Yosuke, sebelum akhirnya kembali fokus pada layar laptop di depannya.

"Ta-kun…" panggil Maki pelan.

"Hn," jawab Taro tanpa mengalihkan pandangannya pada layar laptop-nya.

"Apa menurutmu aku melakukan hal yang benar?" tanya Maki seraya menatap Taro serius.

Taro menghentikan kegiatannya dan berbalik menatap Maki, "Kalau kau memang tak ingin memberitahunya biarkan saja dia tahu sendiri."

"Tapi aku takut terjadi apa–apa setelah Yosuke tahu," sela Maki cepat.

"Percayalah, Yosuke bukan seperti yang kau pikirkan, kau lihat wajahnya yang muram karena hal ini, aku yakin ada sesuatu dalam diri Yosuke yang mendorongnya untuk ingin tahu lebih jauh tentang Yukiko," terang Taro panjang.

"Begitu ya, tapi itu juga yang kau takutkan, aku takut Yosuke akan melakukan sesuatu setelah tahu semuanya," ucap Maki dengan nada cemas.

"Bagus dong, selama itu baik untuk Yukiko, ayolah Maki, semua kan baik–baik saja," ucap Taro sambil tersenyum lembut.

"Baiklah, semoga tidak terjadi sesuatu, kau memang pengertian," Maki tersenyum menatap Taro.

Senyum yang menenangkan.

Yosuke menghentikan mobilnya di depan sebuah gerbang yang menutup bangunan besar berwarna biru di dalamnya.

Dia turun dari mobil, merapatkan jaketnya dan bergerak mencari bel rumah itu. Akhirnya dia menemukan belnya dan dia hampir saja menekan itu sampai matanya melihat tulisan di atas bel "HARADA'S HOUSE".

Eh, bukannya gadis itu bilang dia bermarga Nakamura? Pikir Yosuke bingung, ah sudahlah.

Di tekannya bel itu, dan tak lama kemudian keluarlah wanita muda berpakaian maid, mungkin pelayan di rumah itu.

"Siapa ya?" tanya wanita itu.

"Err, saya Yosuke, Yosuke Arashi. Benarkah Nakamura-san tinggal di sini?"

"Eh, Nakamura-san?" tanya wanita itu bingung.

"Iya, Yukiko, Nakamura Yukiko-san," jawab Yosuke.

Pelayan itu sesaat nampak terkejut, tapi kemudian tersenyum.

"Ah, Yukiko, iya Yukiko-sama tinggal di sini, mari silahkan masuk," ujar pelayan itu sambil membukakan pintu gerbang untuk Yosuke. Yosuke yang semakin heran mengikuti pelayan itu masuk ke rumah besar bertingkat.

"Silahkan duduk Arashi-san, saya akan panggilkan Harada-sama dulu," ucapnya seraya berjalan ke belakang.

Tak lama kemudian datanglah seorang wanita cantik berambut violet, mirip dengan Yukiko. Dia tersenyum pada Yosuke yang segera berdiri dan membungkuk, "Saya Arashi Yosuke, salam kenal..."

"Harada Rin," sambung wanita itu.

"Harada-sama."

"Ah iya salam kenal, mari silahkan duduk Arashi-san." Wanita bernama Rin dan Yosuke pun duduk kembali. Kemudian Rin menatap pelayannya yang masih berdiri, "Ayame, buatkan Arashi-san minuman."

"Baik Harada-sama," jawab pelayan bernama Ayame itu dengan patuh. Dia segera pergi ke belakang.

"Nah Arashi-san, sepertinya aku belum permah melihatmu?" ucap Rin seraya menatap Yosuke di depannya.

"Benar Harada-sama, saya memang baru pertama kali kesini, saya teman Nakamura Yukiko-san, err sebenarnya baru kenal beberapa hari yang lalu," kata Yosuke.

"Nakamura Yukiko…ah iya Yukiko-chan, jadi teman Yukiko ya," ucap wanita itu dengan ekspresi yang sama dengan pelayan bernama Ayame tadi. Yosuke benar–benar semakin heran dan penasaran.

"Sebenarnya ada ap—"

"Kaa-san!" suara yang dikenal Yosuke meski baru didengarnya pertama kali beberapa hari yang lalu, terdengar dari arah tangga, hal ini membuat keduanya, Yosuke dan Rin menoleh.

"Iya Yukiko-chan, kau kan tidak perlu berteriak teriak begitu," ucap Rin lembut.

"Gomen Kaa-san, eh ada tamu, salam kenal saya Yukiko, Nakamura Yukiko," ucap Yukiko seraya membungkuk dengan wajah memerah.

"Eh, Yukiko-san, aku Yosuke, kita kan…"

"Yosuke-san ya, senang berkenalan dengan anda," ucap Yukiko dengan tersenyum lembut.

"Eh, eh bukankah kita sudah berkenalan dua hari yang lalu, kau lupa?" Yosuke benar–benar bingung sekarang. Di depannya ada Yukiko si Snow Girl tersenyum lembut padanya, tapi seolah-olah tidak mengenalinya.

"Dua hari yang lalu, anda bercandaYosuke-san, saya baru mengenal anda sekarang."

"Eh, eh, kau yang bercanda, kau pasti pura–pura tidak mengenaliku," ucap Yosuke dengan wajah memerah karena malu dan juga sedikit emosi.

Bagaimana Yukiko bisa pura–pura tidak mengenalinya, Yosuke malu pada Rin, namun ketika ditatapnya wajah Rin, aneh wajahnya justru datar.

"Hei enak saja kau memanggilku Snow Girl, Kaa-san tamumu ini aneh, lebih baik aku pergi dulu, ada buku yang harus kubeli, sekali lagi Kaa-san tamu mu ini aneh," ucap Yukiko seraya mencium pipi Rin dan melesat ke luar sebelumnya disempatkan memberi deathglare pada Yosuke.

Yosuke benar–benar bingung, ditatapnya Rin dengan pandangan tak percaya.

Rin hanya tersenyum sendu menatap Yosuke.

"Nah Arashi-san kau lihat sendiri kan…" ucap Rin lirih.

"Ada apa sebenarnya Harada-sama?" tanya Yosuke dengan wajah heran dan penasaran.

"Dia Yukiko, Harada Yukiko, putriku satu–satunya.."

"Lalu dia…" Yosuke semakin tak mengerti.

"Dia sakit, ah tidak dia hanya mendapat sedikit gangguan," terang Rin dengan wajah menunduk.

"Eh sakit..?"

"Maukah kau mendengarkan ceritaku, Arashi-san?" ditatapnya wajahnya Yosuke.

"Tentu, Harada-sama…"

"Yukiko terkena PTSD*)…"

"Hah, PTSD terhadap apa, eh kenapa?" tanya Yosuke kaget.

Rin menghela napas, "Ini cerita empat tahun yang lalu…."

"Kau gila Oki-kun, pernikahan kita tinggal dua minggu lagi, dan kau akan pergi ke Jerman hanya untuk pekerjaan konyolmu itu," suara seorang gadis berambut violet terdengar keras di sebuah restoran, menarik tatapan sinis pengunjung restoran yang ada di situ. Sementara pemuda di depannya yang bernama Okita tadi, pemuda tampan berambut raven yang merupakan tujuan bentakan gadis itu, hanya memasang wajah bosan.

"Hn," jawabnya bosan.

"Oki-kun, jawab aku, kau benar–benar gila!" teriak gadis bernama Yukiko semakin keras, mata emerald-nya mulai meneteskan air mata.

Okita sepertinya mulai menyadari tatapan dari orang–orang di sekitarnya, "Hn, ayolah Yuki, pelankan suaramu, aku kan pergi hanya seminggu, aku kan tidak pergi selamanya, kita nanti tetap menikah."

"Kalau begini lebih baik kau pergi selamanya saja Oki-kun, kau lebih mementingkan pekerjaan konyolmu daripada pernikahan kita, aku kecewa, Oki-kun," ucap Yukiko seraya berlari keluar meninggalkan Okita yang bengong, sebelum akhirnya berlari mengejar Yukiko. Ya, dia tinggalkan keegoisannya untuk mengejar Yukiko, tunangannya.

Yukiko berdiri di tepi jalan menangis, cincin pertunangannya dengan Okita dipegangnya, setelah dilepas dari jari manisnya.

"Yuki," panggil Okita pelan.

Yukiko menoleh menatap Okita, "Kau tahu Oki-kun, aku menunggu–nunggu pesta pernikahan kita, tapi kau malah pergi untuk pekerjaan konyolmu itu, padahal aku berpikir dengan menikah denganmu kau bisa memiliki waktu yang banyak untukku, tidak seperti selama ini, kau yang selalu mengacuhkanku walau kau tunanganku, tapi karena kau memilih pergi, aku kecewa!" teriak Yukiko seraya melemparkan cincin itu ke tengah jalan raya.

Okita yang melihat hal itu kaget, reflek dia melompat ke tengah jalan itu untuk mengambil cincin itu.

Tanpa disadari sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi.

'Citttttt'

'Bruagghh'

Suara teriakan Yukiko dan keras rem yang berdecit adalah hal yang didengar Okita, sebelum dia menyadari rasa sakit yang sangat, tulang–tulangnya remuk, darah mengalir memenuhi jalan di sekitar tubuh Okita yang tergeletak, napasnya putus-putus, sementara Yukiko kini terduduk mata emerald-nya banjir airmata yang menetesi wajah Okita yang berada di pangkuannya, berubah merah karena bercampur dengan darah Okita, tapi tak di pedulikannya darah Okita di tubuh dan di tangannya.

"Oki-kun, Oki-kun…" panggilnya tak mampu meneruskan kata–katanya.

"Yuki, ma..maf, kau harus te..tap me..mnikah , ii..ni cincinmu, cincin. kita..akh!" ucap Okita terbata seraya menunjukkan cincin yang tadi dibuang oleh Yukiko.

"Sudahlah Oki-kun jangan bicara lagi, tolong, dokter, ambulan, siapa pun tolong Oki-kun!" teriak Yukiko histeris.

"Su..sudahlah, Yuki, ma..afkan a..aku..a..aku mencintaimu," pelan, ya pelan sekali mata itu menutup, napas yang putus-putus itu terhenti ya terhenti, pemuda Nakamura itu telah tiada.

"Oki… Oki-kun, Oki-kun bangun, kita haruss menikah, aku tak ingin kau pergi selamanya, Oki-kun!" teriakan Yukiko tetap tak membuat Okita terbangun. Yukiko tak beranjak dari tempat itu bahkan ketika ambulan yang membawa jenazah Okita pergi.

Kata–kata Yukiko seolah menjadi mantra ketika Okita benar–benar pergi, yang ada di pikirannya adalah perasaan kehilangan, menyesal dan bersalah karena dia meraa dialah yang membuat Okita meninggal, Okita cintanya, kekasihnya sekaligus tunangannya karena kebodohannya.

Seandainya saja dia tidak melempar cincin itu...

Yosuke menatap wanita di depannya yang terisak setelah menecitakan kisah mengenai putrinya tadi. Yosuke seolah ikut merasakan betapa sakitnya Yukiko, tunangannya meninggal di depan matanya.

"Harada-sama…" panggil Yosuke pelan.

"Ah, gomenasai, Arashi-san," ucap Rin seraya mengusap air matanya.

"Saya ikut bersedih, maaf…"

"Tak apa Arashi-san, jadi setelah itu, Yukiko terus menjalani perawatan di rumah sakit, bahkan di mencoba bunuh diri, dia merasa bersalah membiarkan Okita meninggal."

"Tapi sekarang dia sudah bisa tertawa lagi 'kan…" ucap Yosuke.

"Iya Arashi-san, aku pikir dengan tawanya kembali pada suatu hari dia sembuh, tapi aku salah, dia semakin menderita, karena dia menyembuhkan PTSD-nya sendiri dengan sakit yang lain, yaitu amnesia temporer**)," lanjut Rin.

"Eh?" Yosuke tak paham.

"Ternyata selama ini dia berusaha melupakan kejadian itu, dengan hanya mengingat bahwa dia istri Okita, dia berusaha melupakan semuanya, semua hal yang tidak berhubungan dengan Okita dan kedatangannya di musin semi dia lupakan, sampai akirnya dia benar–benar melupakan semuanya, bahkan aku juga sempat dia lupakan," ucap Rin getir.

"Jadi begitu, jadi itu alasan kenapa dia tak pernah menyapaku setiap tahun, karena dia lupa bahwa aku juga di taman setiap tahun, dia juga lupa bahwa dua hari yang lalu kami berkenalan," ucap Yosuke prihatin.

"Eh, jadi kau memperhatikan Yukiko setiap tahun ya?" tanya Rin dengan nada lembut dan mulai tenang.

"Ah…sebenarnya kemarin karena dia menangis," ucap Yosuke dengan wajah memerah, seperti orang yang ketahuan melakukan hal–hal yang aneh.

"Hmm, menangis? Begitu ya, ah iya darimana kau tahu alamat rumah ini, Arashi-san?"

"Maki, Sasaki Maki yang memberitahu saya."

"Maki ya, dia sahabat baik Yukiko, tapi Yukiko lebih mengenalnya sebagai 'gadis pirang ramah'," terang Rin lagi.

Ah, jadi ini alasan Maki begitu khawatir, dia juga dilupakan.

"Anda tidak berusaha menyembuhkan dia, Harada-sama?" tanya Yosuke.

"Aku tidak ingin melihat dia depresi dan menangis lagi setelah ingat masa lalunya lagi Arashi-san," ucap Rin pelan.

"Tapi, itu sama saja membohonginya dan membuatnya tak melihat kenyataan Harada-sama, maaf lancang, ini hanya pendapat," ucap Yosuke menyadari kata–katanya yang lancang.

Rin nampak terkejut, tapi kemudian wajahnya kembali melembut.

"Tapi..."

"Izinkan saya menyembuhkan Yukiko."

"Eh," Rin terkejut sekali dengan kata – kata Yosuke. " Dia tidak sakit Arashi-san, aku lebih suka melihatnya begini," sambungnya lagi.

"Tapi percuma saja dia tertawa, tapi tawa palsu, saya memang bukan psikiater, tapi tolong izinkan saya, Harada-sama." Entah apa yang mendorong Yosuke berkata seperti ini, tapi melihat airmata gadis itu, Yosuke merasakan perasaan ingin melindungi dan tak ingin melihat tangis atau tawa palsu gadis itu lagi, peraaan apa ini, kasihan?

Entahlah.

"Apa alasanmu melakukan ini, Arashi-san? Kasihan?" tanya Rin .

"Entahlah Harada-sama, saya memang belum bisa memberikan alasannya, lagipula rasanya setiap perbuatan baik itu tidak perlu alasan untuk melakukannya, tapi saya janji saat saya memiliki alasan yang kuat, saya akan mengatakannya pada Anda."

Rin terdiam, ditatapnya mata safir di depannya, menembus, seolah mencari kebohongan dalam mata jernih itu, namun tak ditemukan selain pancaran sinar mata safir tulus, tulus yang tak menyembunyikan apapun.

"Baiklah Arashi-san, aku percayakan putriku padamu, ingat dia putriku satu –satunya…" ucap Rin akhirnya.

"Harada-sama," panggil Ayame pada sang nyonya yang berdiri di jendela menatap Yosuke yang baru saja pergi dari rumah itu.

"Ada apa Ayame?" tanya Rin tanpa mengalihkan pandangannya.

"Kenapa anda mengizinkan Arashi-san mengobati, eh, maksud saya mendekati Yukiko-sama?"

"Entahlah Ayame, pemuda itu seolah memiliki sesuatu, mungkin daya sembuh untuk Yukiko, walau baru pertama melihatnya, aku percaya…"

"Anda yakin dengan semua ini Harada-sama, bukankah selama ini anda tidak mengizinkan para psikiater handal sekalipun untuk mendekati Yukiko-sama?"

"Hmm, entahlah Ayame…"

"Bagaimana jika gagal?"

"Kau meragukan sesuatu yang bahkan belum dicoba, Ayame?" tanya Rin seraya menatap tajam pelayannya.

Ayame yang mendapat tatapan itu hanya menunduk, "Bu–bukan begitu Harada-sama, saya hanya khawatir pada Yukiko-sama."

Rin tersenyum mendengarnya, "Sudahlah, aku mengerti perasaanmu, kita percayakan saja pada Arashi-san," ucap Rin tegas dan beranjak pergi.

Yosuke masih asyik pada layar laptop-nya, tak peduli pada suasana bising di sekitarnya.

"Oi, Baka!" suara Maki kini membuyarkan konsentrasinya.

"Apa?" tanya Yosuke tajam. Ditatapnya Maki yang sedang tersenyum geli sambil bergelanyut mesra pada lengan Taro.

"Bagaimana?" tanya Maki lagi.

"Apanya?" Yosuke balik bertanya. Pandangannya kembali fokus pada laptop-nya.

"Kunjunganmu kemarin."

"Oh itu," jawab Yosuke pendek.

"Hei Baka," dijitaknya kepala Yosuke pelan. Taro yang melihat hal itu tesenyum.

"Apa sih Maki, sakit tahu," omel Yosuke sambil meringis.

"Salahmu, aku kan bertanya padamu," sahut Maki dengan wajah tanpa dosa.

"Iya, iya 'gadis pirang ramah'."

"Eh, panggilan itu, kau ketemu Rin-san ya?"

"Iya, dan Harada-sama menceritakan semua padaku."

"Lalu?"

"Ya begitulah, ah iya Maki."

"Apa?"

"Bisakah kau membantuku?"

"Bantu untuk apa?" tanya Maki heran. Tak biasanya si Baka ini meminta bantuannya dengan wajah serius begini.

"Menyembuhkan Yukiko…"

"Haa?"

.

.

.

.

.

.

To be Continued