"MWO? ANIYO, AKU MENOLAK HAL INI !"

"Han YeKyu! Pelankan suaramu! Kau ini sedang berbicara dengan Appa-mu!" suara keras Appa menyadarkanku atas teriakan yang baru saja kulakukan.

Aku menunduk, berusaha menghindari tatapan Appa dan menenangkan napasku yang masih memburu.

Aku merasa terkejut sendiri, tak percaya aku berani berkata keras pada Appa, seperti barusan...

''Pabboya Han YeKyu,' pikirku getir.

Ini adalah pertama kalinya aku berkata keras pada appa, sepertinya dia juga sedikit terkejut melihat reaksiku.

Aku, Han YeKyu, adalah namja yang tak pernah berani menolak apa pun kata dan perintah Appa-ku, Tuan Besar Han.

Semua perintahnya adalah mutlak.

Dan selama ini hidupku selalu diatur olehnya, termasuk pendidikanku, hingga sekarang aku menjadi mahasisiswa kedokteran di Seoul University, sebuah universitas terbesar di kota Seoul.

Aku sukses memang, dan untuk ini aku berterima kasih pada appa, tapi aku seperti menjadi sebuah boneka, boneka milik appa yang hidupku sepenuhnya dikendalikan olehnya.

Hanya saja untuk kali ini, aku harus menolak perintah appa, untuk pertama kalinya dalam hidupku aku berkata keras pada appa demi sebuah pilihan.

Apa itu? Appa menjodohkanku dengan seorang namja. Namja yang bahkan belum kukenal secara dekat...

Dan bukan itu saja, karena namja yang kelewat beruntung itu adalah butler-ku. Ne! Butler yang baru seminggu menjagaku.

Seorang namja yang bahkan tidak kuinginkan menjadi butler-ku dan sekarang apa? Menjadi suamiku? Oh! Kegilaan macam apa ini?

Aku? Atau Appa-ku yang gila?

Yang jelas bukan aku! Aku masih cukup waras untuk tidak memilih seorang butler menjadi suamiku, dan demi PSP pertamaku yang sekarang entah di mana, butler itu adalah NAMJA! Namja, laki-laki, pria, ya sebangsa itulah. Dia namja sepertiku, hanya saja jangan tanyakan soal ketampanan, karena sampai Korea pindah ke Indonesia, aku berkali lipat lebih tampan darinya. Dan ngomong-ngomong di mana itu Indonesia? Oke, abaikan ke-pabbo-anku yang satu ini. Jelasnya, aku lebih tampan, lihat saja yeoja yang selalu merona tiap aku melangkah di depan mereka. Dan aku lebih cerdas. Tidakkah cerdas, aku namja berusia 24 tahun yang sudah mengepalai sebuah rumah sakit sekaligus menjadi mahasiswa dari unversitas ternama? Dan namja itu? Dia hanya butler. Dia pengawalku, tolong jangan sebut pengasuh, karena itu merendahkanku dan membuatku seperti baby, arra? Ya, walaupun aku seimut baby sih hahaha. Oke ngelantur.

"Sebenarnya aku tidak perlu pendapatmu, Kyu. Karena kau pasti tidak akan menolak. Dan kau memang tidak bisa menolak!"

Sok tahu sekali appa-ku ini, berkata kalau aku tidak akan menolak.

Tuhan, kali ini senyum appa terlihat begitu mengerikan. Bahkan lebih mengerikan daripada aku yang mengalami game over untuk ke-15 kalinya semalam.

"Dan sekarang kau harus kembali ke rumah sakit. Aku sudah tidak ingin melihatmu di sini."

Dan sekarang dia mengusirku. Setelah memberiku vonis yang kelewat menyenangkan itu, sekarang dia mengusirku?

Seandainya appa tahu, aku berkali lipat tidak ingin berada di sini.

Dan berada dalam situasi ini!

"Mari, YeKyu-sshi!" Namja itu menyambutku dengan pintu mobil yang terbuka lebar untukku. Kadang aku heran dia itu butler atau driver-ku? Tapi masa bodoh. Sejak kapan seorang Han YeKyu meributkan hal merepotkan seperti itu. Oh, tentu saja sejak, butler nan menyebalkan dan sangat, sangat tidak kuinginkan ini menjadi calon suamiku. Dan karena aku payah dalam hal mengemudi, namja inilah yang merangkap menjadi sopirku.

"Aku tidak ingin menikah denganmu," ucapku langsung. "Tidak sebelum para yeoja di muka bumi ini habis. Bahkan jika mungkin tinggal kaulah satu-satunya namja atau makhluk yang tersisa aku tak akan pernah mau menikah denganmu."

Dan sialnya namja hanya tersenyum, memperlihatkan sepasang lesung pipi yang membuatnya err… manis. Mungkin aku bisa menjadi seme-nya saat kami menikah nanti. Err… seme? Menikah?

MWORAGO?

Apa yang kupikirkan! Pabboya!

Sampai kapanpun aku tidak akan menikah dengan namja bernama Choi Minwoo ini.

"Kenapa kau tidak ingin menikah denganku?" tanyanya dengan senyum yang masih terpasang dengan manis di wajahnya.

"Jelas saja. Kau butler-ku. Dan mana mungkin aku menikahi butler-ku sendiri, eoh?"

Citt.

Minwoo menghentikan mobil mendadak, membuat tubuhku yang tertahan save belt sedikit terhentak.

"Kalau aku bukan butler-mu. Berarti kau mau menikah denganku, BabyKyu?"

Astaga, ada apa dengan butler sialan ini. Ke-kenapa sekarang dia memajukan wajahnya itu. Sial aku tak bisa bergerak. Tubuhnya kini bergerak ke arahku. Dan aku yang tertahan pintu hanya bisa memalingkan wajah saat namja itu mendekatkan wajah tampannya semakin dekat ke arahku.

"A-apa yang kau lakukan?" tanyaku gugup. Demi PSP! Aku namja, dan kenapa aku tak bisa memukulnya justru bersikap seerti seorang yeoja seperti ini. Cih, kau benar-benar sialan, Choi Minwoo. "Ja-jangan mendekat!"

"Aniyo. Ternyata kau benar-benar manis, ne? Cocok sekali jadi istriku!" wajah tampan itu menyeringai kecil sebelum akhirya menjauh dari wajahku yang bisa kupastikan seratus persen sudah memerah.

"Jangan pernah bermimpi aku mau jadi istrimu. Kau gila, eoh? Kita sesama namja!"

"Tidak masalah!"

"Aku membencimu!" teriakku kesal.

"Aku menyukaimu!"

"Kau menyebalkan, Choi Minwoo!"

"Kau menggemaskan, Han YeKyu!"

"Aku tidak gila!"

"Dan aku masih cukup waras untuk menikahimu."

"Aku tidak mencintaimu!" kukeluarkan senjata terakhirku.

"Tapi cintaku sudah cukup untuk kita berdua!"

Deg.

Aku melirik tak percaya ke arah namja yang kini kembali melajukan mobil dengan senyum yang semakin lebar itu.

"Kita tidak akan punya anak nanti."

"Kau baik hati sekali sudah memikirkan hal itu segala."

Cih, sial! Sepertinya aku salah bicara!

Aku beralih memandang jalanan yang sepi di sekitar kami. Menghindari perdebatan dengannya yang pasti berujung dengan kekalahanku. Aku heran semangat sekali butler ini menikahiku. Oh, aku tahu.

"Aku tahu, dengan menikahiku kau terlepas dari tugas rendahan ini, 'kan?" Aku kembali menatap namja itu tajam.

"Aniyo."

"Lalu?"

"Aku menyukaimu dan ingin menikah denganmu, Han YeKyu. Dan itu cukup!"

Aku menutup pintu mobil dengan kasar. Bahkan kuabaikan namja yang ingin membuka pintu untukku. Aku benar-benar tidak menyukinya. Sangat membencinya malah. Aku masih normal. Aku masih suka yeoja. Dan namja itu yang tidak waras, oh, dan jangan lupakan appa. Dia sebelas dua belas dengan appa-ku yang berniat menjodohkan kami.

"Sudah kubilang jangan pernah mengikutiku ke dalam kelas!"

"Tapi aku calon suamimu!"

"Hanya dalam mimpimu!"

"Aku butler-mu kalau begitu. Sudah tugasku menjagamu!"

"Tapi bukan berarti kau harus di sampingku setiap saat!"

"Kau harus membiasakan hal itu, Tuan Muda. Karena bahkan nanti aku akan ada di sisimu saat kau mandi!"

'Bug'

Kusambut dengan lemparan buku kalimatnya barusan. Yang ditangkapnya dengan baik.

"Dasar yadong!"

Demi PSP, aku benar-benar tak bisa membayangkan jika butler yadong ini jadi suamiku. Bisa dipastikan aku tak akan selamat. Jadi silahkan berdoa untuk seorang Han YeKyu mulai dari sekarang!

Dan sejak malam inilah nerakaku dimulai.

Walau aku sendiri berjuluk evil, tapi aku tetap tidak suka neraka yang seperti ini. Ya, seorang Choi Minwoo kini telah resmi menjadi suamiku. Dan aku dengan berat hati dan berat segala-galanya*?* harus menambah satu huruf yang sangat tidak berharga dalam namaku, menjadi Choi YeKyu!

Demi PSP, nama itu terdengar sangat aneh. Ya, dan pernikahan kami pun yang sangat aneh berlangsung di sebuah gereja tertutup dan hanya dihadiri segelintir manusia yang kurang beruntung hadir di pernikahan kami. Tentu saja pernikahan kami harus disembunyikan karena kami sesama namja. Dan di Korea ini tidak ada orang bodoh yang mengizinkan sesama namja menikah. Kecuali appa-ku dan orang tua Minwoo-hyung, yang nyatanya pada pernikahannya tidak datang. Aku menduga pasti mereka orang tua yang cukup normal untuk tidak mengizinkan anaknya menikah dengan namja. Walaupun namja itu setampan aku.

Aku tidak tahu bagaimana hari-hariku nanti. Menikah dengan namja.

Dan harus menyembunyikan pernikahan ini.

"BabyKyu! Kau belum tidur?"

Sial namja itu!

Aku berusaha pura-pura tidur dengan bergelung pada selimut tebalku. Dan faktanya aku lupa mengunci pintu kamarku. Ck, pintar sekali kau Han YeKyu ralat Choi YeKyu —dengan tidak rela tentu saja—.

Lama, aku tak mendengar namja itu memanggilku lagi. Chukkae! Dia pasti pergi menyadari aku sudah tidur.

Ragu-ragu aku membuka selimut yang menutupi tubuhku.

Dan Oh My Awesome PSP!

Namja itu ada di depan mataku!

Dan tengah tersenyum ke rahku. Senyum mesum yang jauh lebih mengerikan daripada monster-monster di game-ku!

Dan jangan tanyakan keadaanya. Karena kini namja itu tengah topless. Kemejanya entah tersangkut di mana, i don't care! Yang aku tahu kini alarm bahaya meraung-raung dalam kepalaku.

Selamatkan drum Han YeKyu ralat Choi YeKyu —sekali lagi dengan tidak rela—.

"A-apa yang kau lakukan di sini?" Aku berusaha menahan mati-matian untuk tidak melihat tubuhnya yang ternyata sangat ehm… indah. Lihatlah ototnya yang terbentuk sempurna. Kulit eksotisnya.

'Glek'

Sial! bahkan aku tidak tahu aku menelan ludah karena takut atau terpesona!

"Aku suamimu kalau kau lupa." Dan dia semakin mendekat. Aku mencium aroma maskulin yang sangat menggelitik rongga penciumanku. Dan tubuhku bahkan tidak semaskulin ini! "Kurasa aku berhak menuntut apa yang seharusnya kudapat dari istriku."

"Buag!'

Untuk kali ini bantal bekerja sangat sempurna dan serbaguna. Great Han YeKyu, ya aku tahu Choi YeKyu —dengan sangat tidak rela—.

"Jangan bodoh! Aku tidak pernah mengakuimu sebagai suamiku!" teriakku keras. "Kau hanya butler-ku! Tak lebih. Dan jangan berharap lebih!"

"Jinjja? Lalu… apa yang kita lakukan di gereja kemarin?" Dan mata obsidian itu kini menatapku dalam. Membuatku seakan terjebak dalam sebuah black hole yang begitu dalam dan tak berdasar.

"Hal i-itu… Semua itu tak lebih hanya sebuah kegilaan!" Aku memalingkan muka. Membiarkan namja itu membawa wajahnya yang hanya berjarak lima senti dari wajahku menjauh. "Dan aku tidak cukup gila untuk menikahi seorang namja dan seorang butler!" Aku memberi penekanan penuh pada kata butler.

Aku melihat Minwoo-hyung menarik napas panjang dan menjauh dariku.

Kini namja itu duduk di ujung ranjangku.

"Aku tahu."

Aku terdiam. Tak mengerti dengan kalimatnya.

"Aku juga tidak siap dengan semua ini. Tapi aku mencoba." Mata itu kembali mencari mataku. Dan ketemu. Aku temukan raut serius yang jarang ditunjukkannya sejak jadi butler-ku. "Aku mencoba mencintaimu. Hal itu yang membuat kita berbeda."

Aku meremas selimutku. Mendadak suhu ruangan menurun drastis.

"Kau tetap akan menjadi Tuan Muda-ku dan aku butler-mu, mungkin itu lebih baik. Tapi satu hal yang harus kau ingat Han YeKyu…"

Minwoo memberi jeda pada kalimatnya. Dan suhu ruangan mendingin. Dingin yang sangat kubenci.

"Kita telah menikah. Kau adalah Tuan Mudaku sekaligus istriku."

Aku menunduk, menghindari mata yang menatapku tajam itu. Membiarkan keheningan mengalun di sekitar kami. Dan Minwoo pun tak berniat melanjutkan kata-katanya. Namja itu bangkit dan berjalan ke arah pintu keluar. Sebelum suara ponselnya menahannya.

"Yobosseyo?"

Aku melirik namja yang tengah berbicara dengan seseorang di depan pintu kamarku.

"Waeyo, Chagiya?"

Dan aku merasakan sebuah perasaan tidak suka menyelinap dalam hatiku mendengar dia memanggil seseorang di telepon dengan panggilan itu….

"Yah! Kau!" Aku memanggil namja yang berstatus sebagai butler-ku sekaligus suami-ku —dan rasanya aku ingin membunuh seseorang yang menjadikan namja mesum itu suamiku— itu keras dan err…kasar. Tapi bukan berarti aku namja kasar. Aku itu lumayan baik hati, tidak sombong, rajin menabung, dan tidak narsis! Bukan salahku kalau aku terlalu tampan dan mempesona. Yah! Semua itu bukan bentuk kesombongan atau kenarsisan, tapi kenyataan. Jadi buanglah jauh-jauh pikiran bahwa aku sombong. Aku hanyalah namja dengan rasa percaya diri berlebih. Yak, jangan protes! Aku tahu kalau kau mau protes!

"Kau memanggilku?" Minwoo-hyung berbalik dan menatapku. Benda mungil yang rasanya ingin kutelan bulat-bulat itu masih setia di telinganya. Jangan berpikir aku tidak punya rasa perikeponselan*?*. Hanya saja entah kenapa, melihat Minwoo-hyung yang tengah menelepon membuat mood-ku memburuk.

"Ya! memangnya ada siapa lagi di ruangan ini, eoh?"

"Aku punya nama kalau begitu, Tuan Muda!—sebentar Chagiya. Aku akan meneleponmu kembali nanti."

Minwoo menutup ponselnya dan kembali ke arahku.

Mampus.

Aku terpaksa melihat lagi senyum mesumnya itu.

"Akhirnya kau menginginkanku, eoh?"

"Jangan bermimpi!" Lagi-lagi bantal menjadi senjata ampuh yang kini mendarat dengan sempurna di wajah mesum namja itu. Aku baru sadar lemparanku sangat bagus. Mungkin nanti aku bisa jadi atlit lempar tombak. Ngg… oke aku ngelantur lagi. "Lagipula kau itu siapa?"

"Aku? Tentu saja suamimu! Seharusnya kau bersyukur punya suami sekeren aku," ucap Minwoo dengan kenarsisan tingkat akut. Demi PSP pertamaku yang kuingat tersangkut di rumah pohonku. Ternyata namja itu tak kalah narsis denganku —ehm, pede berlebih maksudku—.

"Mwo? Bersyukur? Aku berkali lipat lebih keren darimu! Ngaca dong!" ucapku sadis, tanpa sadar bahwa apa yang dikatakan Minwoo-hyung adalah kebenaran. Aku harus bersyukur dengan 'suami' setampan Minwoo-hyung, bersyukur untuk wajah tampannya, minus kemesuman dan kenarsisannya tentu saja. Tapi aku berkali lipat lebih tampan darinya. Dan aku tidak terima dengan kata-katanya itu.

Dan aku harus menderita Cengo Sick(?) mendadak ketika melihat namja itu benar-benar berbalik dan mengaca di depan lemari pakaianku.

"Hm, aku lihat wajahku kelewat keren tuh. Kau cocok jadi istriku, BabyKyu. Lihat deh, kita jadi seperti Cinderella dan—"

"Kuda!" sambungku cepat.

Minwoo-hyung cemberut. Dan malah jadi seperti kuda betulan. Hahaha aku puas sekali mengerjai butler mesum itu. Setidaknya mood-ku yang tadinya memburuk kembali membaik.

Sebuah pagi yang cerah.

Sebagai dokter yang baik aku memenuhi kewajibanku untuk menolong sesama dengan rajin hadir di rumah sakit ini. Tumben sampai jam sepuluh belum ada pasien yang datang? Biasanya tempat praktekku penuh dengan yeojadeul yang sekedar datang untuk mengeluh kenapa dia pusing ketika tak berobat padaku sampai bertanya apa yang harus di masaknya hari ini. Hahaha mereka memang sudah gila. Untuk apa coba bertanya harus masak apa, sementara bukan aku yang makan. Sangat tidak adil aku yang memberi saran namun tak mendapat apa-apa. Oh kejamnya dunia saat seperti ini.

"BabyKyu!"

Deg. Kurasakan lengan yang mendadak melingkar dengan erat di pinggangku. "Brak!"

Dengan sigap aku memukul sosok yang kurang ajar memelukku itu dengan baskom yang ada di tanganku.

"Apa yang kau lakukan? Sakit tahu!" sentak Minwoo sewot. Ternyata butler mesum itu.

"Te-tentu saja mempertahankan kesucianku, Babbo!"

Satu-satunya kesucian yang membuatku tetap menang untuk bersaing keting-ting-an*?* dengan artis wanita di salah satu negara di Asia Tenggara, yang sepertinya sampai sekarang masih mencari alamat kekasihnya. Kasihan. Cantik tapi mudah di tipu dengan alamat palsu. Yeoja itu tidak kenal GPS ya? Tidak sepertiku yang mengenal teknologi canggih itu! Makanya aku tetap mempesona. Ngg… sebenarnya tidak ada hubungannya, tapi sudahlah yang penting aku keren. Begitu juga anak-anakku nanti!

"Appo…" Hah, aku tersadar ada sosok yang lebih penting sekarang daripada artis yang sibuk mencari alamat itu. Aku menoleh dan menemukan Minwoo-hyung yang masih meringis.

"Mianhae, Hyung…" Ragu-ragu aku mendekati namja yang kini meringis kesakitan itu. "Yah… apa itu…?"

"Tampan? Tentu saja aku tampan…" potong namja itu percaya diri, yang membuatku serasa ingin kembali memukulkan baskom itu kembali ke wajahnya. Narsis sih wajar, tapi kalau narsis tidak nyambung begini sih bodoh namanya. Ck, benar-benar malang nian nasibku yang keren ini. Dapat suami sama-sama keren tapi bodoh. Ngg, tunggu! Apa aku tadi baru mengakui bahwa kami sama-sama keren dan dia suamkiu? Hal itu salah! Bukan aku yang bilang itu! Tolong jangan terlalu berharap aku bilang begitu, arra?

"Bukan itu pabbo! Maksudku apa lukamu itu sakit?"

Tanganku bergerak menyentuh wajah namja yang kini memerah bekas ciuman*?* dari baskom itu. Sejenak mataku terpaku pada sosok yang tengah meringis terpejam menerima sentuhanku. Kalau diperhatikan… wajah Minwoo-hyung… ehm tampan… Kulitnya eksotik… halus dan lesung pipinya itu…

"Waeyo? Terpesona, eoh?" Babbo! Kulihat namja itu telah membuka matanya dan kini tersenyum mesum lagi ke arahku.

"Plak!"

Aigo tanpa sadar tanganku bekerja menggantikan baskom.

"Appo!"

Dan Minwoo-hyung pun kembali meringis karena seranganku.

"Drttt!"

Lagi-lagi suara ponsel Minwoo-hyung menginterupsi kami. Namja itu segera meraih benda mungil yang ada di sakunya.

"Yoboseyo, Chagiya?"

Dan lagi-lagi sebuh panggilan memuakkan kembali terdengar. Ah, sial sekali aku tadi pagi baru saja membersihkan telingaku. Coba kalau aku menunda membersihkan telinga barang sebulan, pasti telingaku tak akan mendengar panggilan mesum itu. Jangan memanggilku jorok! Aku hanya berandai-andi!

"Ne. aku segera ke sana. Tunggu aku, Chagiya!" dan tubuh tinggi itu pun melesat melupakan sakit yang barusan di keluhkannya.

Aku kembali berhadapan dengan appa-ku.

Dan kali ini aku bersama Minwoo-hyung. Apakah appa-ku yang dipanggil 'Chagiya' oleh Minwoo-hyung tadi! Aniyo!

Segila-gilanya dua orang namja gila itu, mereka tidak cukup gila untuk saling memanggil dengan panggilan menjijikan itu. Atau jangan-jangan dia akan menyuruhku untuk bercerai dengan Minwoo-hyung? Lucky me kalau hal itu terjadi!

"Tentu tidak, Kyu! Sampai kapanpun aku tidak akan membiarkanmu cerai dengan Minwoo!"

Demi My Awesome PSP! Ternyata appa-ku lebih dari sok tahu.

Tapi dia bisa membaca pikiran sesatku. Astaga appa, kau menakuti anakmu yang ganteng parah ini. Sungguh.

"Dan kau masih kalah ganteng dengan Minwoo, Kyu!"

Appa bisakah kau tidak membuka aibku sekali saja? Aku melirik Minwoo-hyung yang tersenyum-senyum di sisiku.

"Baiklah demi kebaikan kalian berdua. Aku memutuskan agar kalian—"

Mendadak aku meraskan aura setan yang keluar dari appa-ku. Oh ayolah jangan heran! Aku juga setan. Dan sebuah peribahasa mengatakan bahwa buah jatuh tidak jauh dari penjualnya. Hahaha peri bahasa itu sih aku hafal. Jadi wajar kalau appa-ku juga terlihat menjadi setan kadang-kadang.

Yah! Jangan berpikir 'menjadi' di sini adalah berubah wujud! Kaupikir appa-ku power rangers?

"—tinggal serumah!"

Haha sudah kuduga appa akan bilang itu. Aku cerdas sekali bisa menebak hal itu, 'kan? Hahaha YeKyu jenius!

Errr… wait! Wait!

"MWO? SERUMAH? BERDUA? ONLY ME AND HIM?"

Tuhan kenapa kau ciptakan makhluk se-awesome akua namun koneksi lambat ini.

"Aku menolak!"

"Aku menerima!"

Aku melirih sosok Minwoo-hyung yang tengah senyum-senyum mesum ala malaikat*?* di sampingku.

Sementara aku? Meringis setan di kursiku.

Warning! Han YeKyu ehm ralat Choi YeKyu –dengan tidak rela tentu saja- dalam bahaya! Siapa pun tolong aku!

.

.

.

.

.

.

.

BERSAMBUNG...