aku menikmati aliran darah di tubuhmu

berdesir menjadi melodi terindah di telingaku

aku menikmati rasa darah dalam tubuhmu

manis

lebih manis dari gula termanis

aku menikmati merah pekat warna darahmu

indah dan memabukkan

merah darah adalah warna terindah

ada di tubuhmu

darahmu

dan hasrat terdalammu

karena 'manusia' adalah permainan terseru

boneka terindah

korban terbaik

dan alat pembunuh terhebat

karena itu aku memilihmu

Kau…

'manusia'-ku

boneka milikku

Pagi yang bersalju di salah satu desa di kota tertua Inggris, Devon.

Halaman rumah-rumah penduduk yang terbuat dari bata hitam tertimbun tumpukan salju sisa badai semalam. Kabut tebal dan satu –dua salju yang turun, membuat para penghuni kota kecil ini masih enggan untuk sekedar keluar dan membersihkan tumpukan salju yang menutupi pintu. Desau angin sesekali menerbangkan salju dan mengetuk-ngetuk jendela yang buram.

Hampir tak ada aktivitas di kota kecil ini, membuatnya seperti kota mati yang tertutup salju.

Namun pagi yang hening terpecah oleh derap langkah kereta kuda yang menapak di atas jalan terjal yang tertutup salju. Kuda itu melangkah menebus tebalnya kabut. Kereta itu berjalan membawa tiga –empat penumpang dengan sang kusir di atasnya.

"Ah~ aku ingin cepat sampai ke penginapan. Apakah kuda ini tak bisa lebih cepat?" keluh salah satu penumpang, seorang gadis dengan syal merah yang kontras dengan rambut caramel-nya.

"Tidak mungkin, Alisa. Lihat saja, jalannya tertutup kabut begini," timpal sosok lain, seorang pemuda berambut pirang yang duduk di samping sang kusir.

"Iya, aku tahu. Tapi aku ingin segera menghangatkan diri dengan menikmati wine di depan perapian bersama Arthur," jawab gadis bernama Alisa itu lagi. "Uh~ romantis sekali. Benar 'kan, Arthur?"

Pemuda ke tiga, seorang lelaki bernama Arthur hanya menjawab dengan lirikan bosan pada gadis di sebelahnya.

"Hei, hei, kenapa tidak denganku saja, Alisa?" tawar si Pirang lagi. "Lagipula Arthur pasti tidak akan mau. Iya 'kan, Arthur?"

"Hn."

"Tuh 'kan. Bagaimana, Alisa?"

"Tidak mau. Tidak jadi saja kalau begitu," jawab sang gadis lagi.

"Hah~ kau tega, Alisa," rengek si pemuda pirang lagi. "Ngomong-ngomong kapan kita sampai?"

Pemuda pirang itu menatap sang Kusir yang terdiam di sampingnya.

"Jeremy. Kaulupa kita dilarang mengajak kusir berbicara selama perjalanan." Alisa mengingatkan.

"Hehehe aku lupa, Alisa. Lagipula siapa sih yang membuat peraturan aneh ini…"

Semua terdiam tanpa ada niat untuk menjawab pertanyaan retoris pemuda blonde itu.

Tiga orang itu adalah trio detectives dari kepolisian Devon. Ketiganya adalah detektif termuda dalam Satuan Kepolisian Khusus. Bahkan ketiganya adalah anak-anak yang sengaja direkrut pihak kepolisian dan bekerja untuk pemerintah.

Arthur William, pemuda tampan nan dingin yang menyandang marga William di nama belakangnya itu adalah putra bungsu dari Kepala Kepolisian Devon, Adam William.

Kedua adalah Jeremy Frederick, seorang remaja ceria yang memilih menjadi detektif daripada meneruskan bisnis ayahnya yang telah mendunia. Pemuda inilah yang tak pernah mau kalah dari sang William, baik dalam kasusnya mau pun dalam mendapatkan perhatian gadis yang disukainya. Walau sang William sendiri lebih tidak peduli pada urusan yang menjadi masalah para remaja labil tersebut, dan memilih fokus pada setiap kasus mereka.

Terakhir adalah satu-satunya gadis dalam kelompok mereka. Alisa Choi, gadis enerjik dan manis berambut sewarna caramel, ini adalah sosok yang paling tenang dalam mengambil keputusan di antara mereka.

Gadis yang menyandang predikat siswi tercerdas di kota Devon ini masih berstatus sebagai siswi Devonshire High School.

Mereka bukan anak-anak biasa, karena mereka juga bukan sekedar detektif biasa. Dan kali ini mereka mendapat liburan ke sebuah desa terpencil di sudut Inggris ini.

Liburan yang pastinya akan 'menyenangkan."

"Jadi, inilah penginapan kita?" Jeremy berucap setelah mereka berhenti di depan sebuah rumah besar dengan cerobong asap tinggi. Di belakang mereka sang kusir tengah menurunkan barang-barang mereka.

Salju menumpuk hampir semeter di halaman, menutupi jalan setapak menuju beranda. Tanaman rambat yang menutupi hampir seluruh rumah juga tertutup salju. Di sisi rumah tersebut hampir tak ada rumah lain.

"Ini sih bukan liburan. Mana tempat ini juga terpencil," ucap Alisa seraya menatap sekeliling rumah. Ia sadar, bangunan terdekat dari penginapan mereka adalah rumah tua yang ia lihat terakhir kali tadi. Hampir lima ratus meter sebelum mereka sampai di sini.

"Ayo kita masuk," ajak Arthur pelan.

"Tunggu, Arthur! Kita harus berterima kasih kepa- Hei! Ke mana sopir kereta kuda tadi?" Alisa terpekik. Dia menoleh ke belakang dan menemukan sang kusir telah hilang.

Arthur dan Jeremy ikut melihat. Dan sang kusir benar-benar telah pergi bersama kereta kudanya.

"Seharusnya kita mendengar suara keretanya," ucap Jeremy keras.

"Lihat itu!" Arthur menunjuk ke arah jalan yang mereka lewati tadi.

"Tidak mungkin! Jejaknya!" Alisa mulai histeris. "Bagaimana mungkin kereta itu tidak meninggalkan jejak!"

'Krett'

'Brak'

Deg.

Ketiga detektif itu terlonjak.

Ragu-ragu mereka kembali menatap rumah. Dan menemukan pintu rumah terbuka lebar.

"Alisa! Ini tidak lucu!" ucap Jeremy keras dengan mata masih terpancang pada bangunan di depannya.

"A-apa maksudmu, Bodoh?"

"Berhentilah membuat kami takut dengan kekuatan anehmu itu!" Jeremy menatap Alisa tajam.

"A-aku… Aku tidak melakukan apa pun! Yang memegang kuncinya bukan aku!" teriak Alisa tak kalah keras. "Bukan aku yang mengendalikan kunci dan membuka pintu."

"Aku yang memegang kuncinya," ucap Arthur pelan. Tangannya memegang kunci-kunci di jemarinya dengan erat.

Jeremy sontak menoleh ke arahnya. "Lalu… siapa yang…"

"Ayo kita pastikan." Arthur mengangkat kopernya dan segera melangkah menuju rumah di depannya.

Ragu-ragu Jeremy dan Alisa mengikuti langkah sang William.

Tinggi salju hampir mencapai setengah tangga. Beranda rumah itu terbuat dari kayu eboni. Tak ada lampu di beranda. Matahari yang enggan muncul membuat suasana suram semakin terasa di sekitar mereka.

Derak sepatu mereka terdengar saat mereka mulai menapak di beranda. Mereka berhenti tepat di depan sebuah pintu besar yang terbuka lebar. Bagian dalam rumah nyaris tak terlihat karena gelap.

"Hallo? Ada orang di dalam?" teriak Jeremy.

Hening.

Tak ada jawaban.

"Permisi!"

Hening.

"Mungkin memang tak ada orang lain di sini," ucap Alisa takut-takut.

"Kita masuk." Lagi-lagi bungsu William itu mengawali untuk segera masuk ke dalam rumah itu.

Ruang tamu dengan pencahayaan yang remang-remang menyambut mereka. Dalam suasana nyaris tanpa cahaya itulah mata mereka menangkap seperangkat sofa tua di tengah ruangan dan sebuah perapian di ujungnya.

'Brak'

"Kyaaa!" Alisa berteriak keras.

Lagi-lagi ketiganya terlonjak.

"A-apa itu tadi?" tanya Jeremy takut-takut.

Mereka menoleh, dan kali ini menemukan pintu di belakang mereka telah tertutup.

"Ini benar-benra tidak lucu, Alisa," omel Jeremy.

"Kau yang tidak lucu, Bodoh. Lepaskan pelukanmu dariku," bisik Arthur berbahaya.

"Hehehe ma-maaf." Cengir Jeremy menyadari bahwa ia memeluk lengan sang William.

"Dasar penakut," ejek Alisa pelan. "Arthur bisakah kau menyalakan perapian?" Alisa menatap Arthur.

Arthur memilih tak menjawab, dan segera bergerak hati-hati menuju perapian.

Setelah dekat, dijentikannya jarinya ke arah perapian dan api pun mulai menyala. Nyala apa memberi cahaya dalam ruangan itu.

Dalam cahaya api yang bergoyang ruangan itu tetap terlihat suram. Ruangan ini tidak terlalu luas. Sofa tua berwarna abu-abu terletak di tengah ruangan tepat di depan perapian. Di dinding yang terbuat dari bata merah terdapat pajangan kepala rusa. Di bawahnya terdapat bufet yang kosong. Di sisi kiri terdapat sebuah pintu dengan kayu yang sebagian sudah dimakan rayap.

"Benar-benar liburan yang hebat," ucap Alisa seraya menjatuhkan diri di sofa. Jarinya mulai menarik kopernya mendekat. "Alex baik hati sekali."

"Setidaknya kita tidak dihadapkan dengan kasus-kasus aneh lagi," ucap Arthur seraya mengikuti jejak Alisa.

"Tidak aneh apa? Kusir yang pergi tanpa jejak, pintu yang terbuka dan menutup sendiri. Huh, tak ada yang lebih anehkah dari itu?" Jeremy berucap seraya berjalan ke arah bufet. "Tidak adakah wine di sini?"

"Kau tinggal mencari gelasnya, aku bawa wine." Alisa menjentikkan jarinya, kopernya terbuka dan sebotol wine melayang ke arahnya.

"Hebat, Alisa! Aku juga menemukan gelas ini," teriak Jeremy senang. Ia menunjukkan tiga gelas di tangannya dan segera duduk mengikuti jejak kedua temannya. "Ngomong-ngomong bagaimana kau bisa menyembuyikan ini dari Alex?"

"Hahaha, Leader mesum itu sibuk dengan novel mesumnya. Dan aku memasukkan ini setelah pemeriksaan koper kita selesai. Lagipula, ini bukan wine biasa," ucap Alisa bangga.

Lagi-lagi jemari lentiknya membuat botol itu terbuka dan menuangkan isinya sendiri ke gelas masing-masing detektif.

"Kurasa, ditambah sedikit cahaya lilin tidak salah, Arthur." Alisa tersenyum melirik pemuda tampan di sampingnya.

Dengan malas Arthur menjentikkan jarinya ke arah lilin di depannya, membuat lilin itu serentak menyala dan menebarkan warna apinya yang merah di depan mereka.

"Apa yang akan kita lakukan di sini?" Jeremy menatap temannya bergantian.

"Yang pertama kita akan berkeliling dan menetapkan di mana kita tidur," ucap Alisa. Tangannya sibuk memutar-mutar gelas di tangannya. "Setelah itu kita pergi ke festival."

"Festival? Orang gila mana yang mengadakan festival di tengah musim dingin begini."

"Tentu saja penduduk sini, dan kurasa mereka tidak gila. Lagipula kata Alex pestanya meriah."

"Berhentilah membicarakan Leader mesum itu, Alisa. Dia telah menipu kita dengan dalih liburan." Jeremy mengerucutkan bibirnya. Di suatu tempat yang jauh, seorang pria bersin dengan tidak elitnya.

"Aku ingin memeriksa kamar." Arthur berdiri dan meraih kopernya.

"Kau tidak minum anggurnya?" tanya Alisa. Emerald-nya menemukan wine Arthur yang masih utuh.

"Tidak."

"Oh, baiklah. Hati-hati," ucap Alisa lagi. Jemarinya menggerakkan botol itu untuk mengisi gelasnya lagi.

"Berteriaklah saat kau merasa takut, Archie," ejek Jeremy.

Arthur tak menjawab dan segera menyeret kopernya masuki pintu lain di ruangan itu.

Terdengar bunyi derit pelan saat Arthur membuka pintu yang telah lapuk itu.

Ragu-ragu Arthur mulai memasukinya dan sebuah koridor gelap menyambutnya. Menghela napas pelan, Arthur mulai melangkah hati-hati karena tak ada cahaya di depannya. Matanya mencoba mencari lilin di dinding untuk dinyalakan.

'Brak'

Lagi-lagi sebuah suara bantingan pintu terdengar oleh telinganya.

Sejenak Arthur menoleh dan melihat pintu lapuk itu telah menutup.

Arthur memilih mengabaikan itu dan terus melanjutkan langkah.

Di depannya, tepat di dinding sebelah kanan, terdapat sebuah lilin berwarna putih. Arthur mendekat, dan dengan satu jentikan pelan, lilin itu menyala. Koridor mulai terlihat dengan adanya cahaya. Ada dua –tiga pintu di sisi kiri koridor, dengan satu pintu lain berada di ujung koridor.

Arthur melangkah mendekati pintu pertama.

Pintu iu berwarna cokelat kusam.

Ragu-ragu Arthur memegang handle-nya dan mulai memutarnya.

'Kriett'

'Brak"

Arthur terlonjak.

Sebuah pintu terbuka.

Bukan pintu di depannya.

Pintu di ujung koridor terbuka lebar.

Jantung pemuda itu mendadak berdetak cepat.

Mata hitamnya menatap pintu di ujung koridor.

Pintu terbuka memperlihatkan warna hitam di dalamnya.

'Grep'

Sesuatu menyentuh bahunya.

Ragu-ragu, Arthur menoleh.

Dan menemukan Alisa yang tengah berdiri di belakangnya.

"Alisa…"

"Hei. Ada apa?"

"Tidak ada," jawab Arthur singkat.

Alisa mengernyitkan dahinya.

Arthur kembali menatap pintu di ujung koridor.

Dan pintu hitam itu menutup kembali.

Onyx itu terbelalak lebar.

"Arthur ada apa?"

"Pintu itu." Arthur bergerak menuju pintu di ujung koridor.

"Ada apa dengan pintu itu?" Alisa mengekor di belakangnya.

"Alisa kau mengerjaiku ya?" tanya Arthur setelah memastikan pintu itu benar-benar tertutup lagi.

"Mengerjai? Apa maksudmu? Aku baru datang, ingat?"

Tangan Arthur mengelus pintu berwarna hitam pekat itu.

"Pintu terbuka dan menutup. Tidak ada yang bisa mengerakkan benda-benda itu kecuali kau."

"Hei! Aku tidak tahu apa-apa! Aku baru datang dan menemukanmu tengah bengong di depan pintu." Alisa berkacak pinggang menatap pemuda raven di depannya.

"Lalu siapa yang-!"

"GYAAAAA!"

Deg.

"Suara Jeremy!"

Sontak keduanya berlari kembali menuju ruang tamu.

"Ada apa dengan si Bodoh itu?"

"Apa-apaan ini?"

"Ini mayat, Bodoh!"

"Iya aku tahu, Alisa. Tapi…"

"Ini mengerikan…"

Arthur berjongkok lebih dekat ke arah 'mayat' di depannya. Tangannya yang terbungkus sarung tangan menyentuh pipi kiri si mayat.

"Bagaimana?" Alisa ikut membungkuk di sampingnya.

"Aneh…" ucapan Arthur lebih menyerupai bisikan.

"Ini seperti lebih terlihat seperti fosil daripada mayat," lanjut Alisa. "Apa yang kau lakukan, Jeremy? Kita tak boleh merusak korban ataupun TKP!"

"Aku hanya memastikan," jawab Jeremy pelan. Dia terlihat tengah melakukan sesuatu. "Nah! Lihat ini!"

Jeremy menunjukkan 'hasil kerjanya' pada kedua rekannya.

Keduanya segera mendekat ke arah Jeremy.

Arthur dan Alisa berpandangan tak percaya setelah melihat apa yang ditunjukkan si Blonde.

"Ini mustahil," ucap Alisa lamat-lamat. "Jadi mayat ini benar-benar kering, tanpa darah…"

"Ini pasti sudah lama sekali di sini." Arthur berdiri. Mata onyx-nya masih lurus memandang kerangka aneh di bawahnya.

"Menurutku ini belum lama…" Alisa masih mengamati wajah yang kini tinggal rahang dan giginya yang menonjol itu. "Sekitar mayat ini tak ada debu, bahkan pakaiannya juga masih bersih."

Arthur mengabaikan kata-kata Alisa dan mulai berjalan mengitari ruangan. Ruangan ini terletak di samping kiri pintu masuk dapur dan merupakan bagian dapur. Melihat dari onggokan kotak-kotak kayu dan dindingnya yang terbuat dari bahan yang berbeda dari ruangan yang lain, Arthur menduga ini adalah ruangan pendingin.

Tapi untuk apa ada ruangan pendingan sebesar ini di dalam penginapan?

Arthur berjalan ke arah pintu keluar dan menemukan sebuah tombol untuk menghidupkan sistem pendingin. Tangan alabaster itu mengelus sebentar dan mencoba menekan tombol.

Pendingin menyala diiringi bunyi 'clak' pelan.

Masih berfungsi.

Ruangan perlahan mulai berubah dingin.

"Arthur! Kau gila! Matikan pendinginnya!" teriakan Alisa menyadarkan pemuda onyx itu. Arthur segera mematikan kembali pendingin dan berbalik untuk berjalan kembali ke arah dua orang rekannya.

"Kau ingin membunuh kita?" omel Alisa pada pemuda yang hanya membalas dengan tatapan bosan.

"Hei! Hei! Daripada kita ribut, lebih baik kita segera mencari tahu tentang mayat ini." Jeremy berteriak melemparkan solusi yang masuk akal.

"Tumben kau pintar," ejek Arthur singkat.

"Sudahlah!" Alisa yang mulai merasakan gelagat dan aura perdebatan dari dua pemuda itu mulai menengahi. "Lebih baik kita hubungi sherrif setempat."

"Tapi, Alisa… kita tidak tahu di mana kantor sherrif-nya."

"Kita cari. Aku dan Arthur mencari, sedangkan kau tunggu di sini."

"Hei, tidak mau. Kau tega meninggalkanku sendiri dengan mayat aneh ini," tolak Jeremy.

"Kau lebih tega meninggalkan seorang gadis dengan mayat?" Alisa menatap Jeremy tajam.

"Ta-tapi…"

"Aku yang menunggu, kalian yang mencari," ucap Arthur pelan.

"EH?" Alisa dan Jeremy menatap Arthur bersamaan.

"Kami akan segera kembali Arthur. Kurasa kau tahu bagaimana caranya untuk menghubungi kami saat ada apa-apa nanti," ucap Alisa seraya mengencangkan ikatan mantelnya. Arthur yang tengah bersedekap hanya membalas dengan anggukan.

"Kalian hati-hati. Dan kembalilah saat hari mulai gelap," pesan Arthur singkat.

"Ya."

Alisa menjentikkan jarinya, membuat sebuah senter melayang ke arahnya, ia menangkap senter itu sebelum melangkah ke pintu depan mengikuti Jeremy yang telah sampai lebih dulu. Arthur melepas tangannya dan berjalan di belakang Alisa.

Angin kencang dan butiran salju menyambut mereka ketika Jeremy membuka pintu. Kabut tebal membuat arah pandangan mereka terbatas pada ujung beranda. Bahkan halaman pun tak terlihat. Beberapa pinus yang tumbuh di kanan beranda terlihat bagai bayangan-bayangan hitam hantu yang sesekali bergoyang.

"Sepertinya akan ada badai… Kabutnya tebal sekali," gumam Alisa. "Ayo, Jeremy!"

Alisa mulai melangkah diikuti Jeremy menembus tebalnya kabut dan terpaan salju.

Sejenak Arthur menatap keduanya sampai menghilang di halaman, dan segera berbalik untuk menutup pintu, menghindari angin yang bertiup kencang.

Deg.

Sesuatu mendadak menghentikan gerakannya.

Jelas sekali.

Sesuatu. Sesuatu yang tertangkap onyx-nya.

Sosok hitam di tengah halaman. Di tengah kabut.

Sosok apa itu?

Arthur berjalan mendekati tangga.

Seharusnya kabut menutup apa pun di halaman.

Tapi, sosok tidak bergerak itu terlihat nyata.

Arthur berjalan semakin ke depan untuk memastikan.

Langkahnya mulai menapak di anak tangga teratas.

Dan sosok itu masih di sana.

Tak ada gerakan yang dilakukannya.

Kabut mulai menutupi tubuh Arthur.

Dan mendadak sosok itu bergerak.

'Tek.'

Arthur menghentikan langkahnya tepat di tengah tangga.

Dan sosok itu semakin bergerak mendekat.

Mendekat ke arahnya.

Tubuh Arthur seolah membeku.

Ia tak mampu menggerakkan ujung jarinya sekali pun.

Arthur terjebak.

Di tengah badai salju bersama sosok itu.

"Blood. Blood. Blood."

Malam mengelam.

Langit hitam, nyaris tak terlihat. Tertutup kabut yang merapat, seolah tak memberi kesempatan mata untuk melihat.

Dan sosok itu terus berlari. Menembus badai salju yang menghantam wajahnya dan membatasi pandangannya. Sesekali ia menoleh ke belakang untuk memastikan ia sendirian. Ya sendirian. Ia berharap sendirian saja sekarang.

Tanpa sosok itu.

Dirapatkannya mantel tebal yang membungkus tubuhnya serta tudung kepala yang hampir menutup seluruh kepala dan wajahnya. Boot-nya bergesekan tak bersuara di atas salju. Langkahnya semakin berat, namun rasa takut yang teramat sangat memaksanya untuk tetap berpacu.

Tepat di depannya.

Satu tikungan lagi, dan ia akan selamat.

Selamat dari neraka ini.

"Blood. Blood. Blood."

Lagi-lagi suara itu. Suara yang samar-samar terbawa angin.

Sosok itu segera mempercepat langkahnya.

Suara itu mengikutinya.

Semakin keras.

Samar-samar menembus gendang telinganya

"Blood. Blood. Blood."

Dekat.

Suara itu semakin mendekat.

Kini seperti ada di belakangnya.

Sosok itu merapatkan penutup telinganya. Berharap suara itu tak terdengar.

Nihil.

"Blood. Blood. Blood."

Suara itu mengencang.

Satu tikungan lagi. Dan ia tak akan mendengar suara itu. Tak akan.

'Deg'

Langkahnya terhenti seketika.

Sesuatu menghentikan geraknya –memaksanya berhenti.

"Blood. Blood. Blood."

Suara itu sangat keras sekrang.

Terdengar seperti bisikan tepat di telinganya. Bulu romanya meremang.

"Blood. Blood. Blood."

Suara yang basah, dingin, dan lapar.

"Blood. Blood. Blood."

Deg.

Sosok itu mendongak dan menemukan sosok lain berjubah hitam dengan mata menyala muncul dari pekat kabut tepat di depannya.

"Bonekaku… aku ingin darahmu…"

.

.

.

.

.

.

BERSAMBUNG...