"SHADOW AND REGRET"

Original Fiction Written by Nero © 2012


Disclaimer :

All of story contents belong to me. This is just a work of pure fiction. I don't take any material profit from this work. Don't copy, don't re-link, and don't re-share without permission. Plagiarisms aren't allowed here!

Genre – Rate :

Romance – Drama – Angst

Teen – PG 15+

Warnings :

Don't copy, don't re-link, and don't re-share without permission. Plagiarisms aren't allowed here!


~CHAPTER I~


"Dengar Nathan, aku tidak ada apa-apa dengan Adam, kami hanya partner dalam penelitian yang sedang kami kerjakan. Just partner, no more, okay?" ucap seorang gadis cantik berambut soft ebony pada lelaki bernama Nathan di depannya.

"Tapi Anna... semua itu sudah jelas Adam itu menyukaimu! Lihat saja wajahnya yang memerah meninggalkan image-nya sebagai Alexander, dan itu hanya terjadi saat di dekatmu, kurang bagaimana lagi. Atau jangan-jangan kau juga menyukainya, Anna, karena itu kau membelanya?" tuduh Nathan sadis pada gadis bernama Anna itu.

"Ka-kau sembarangan, Nathan!" ucap Anna seraya beranjak meninggalkan Nathan.

"Anna aku belum selesai!" teriak Nathan.

"Terserah!" Anna tak peduli, tega benar Nathan menuduhnya yang tidak-tidak.

Sementara Nathan hanya menatap punggung Anna yang menjauh, tanpa berniat mengejarnya.

"Maaf, Anna... aku hanya tak ingin Adam merebutmu..." ucap Nathan pelan, ada nada getir dalam suaranya.

...

Beberapa hari sebelumnya...

"Anna, partner-mu dalam penelitian kali ini," wajah Anna berusaha tersenyum dengan rona terkejut yang tak bisa disembunyikan saat menatap wajah di depannya.

Anna sekarang di laboratorium kampus, tempatnya melakukan penelitian, sendirian, sampai akhirnya orang yang akan dijadikan partner-nya ini datang.

"Adam Alexander."

"Aku masih ingat siapa kau..."

"Hn."

Ya lelaki ini Adam, pria tampan (bukankah dia selalu tampan?) yang Anna pikir telah pergi dari hidupnya sejak delapan tahun yang lalu. Tapi sekarang Adam hadir lagi, lebih dewasa, lebih tampan tapi satu yang tak pernah berubah, tetap dingin.

Adam adalah cinta pertama Anna, Adam yang tampan, kaya, dan pintar, tapi tak hanya Anna yang mengejar Adam, hampir semua siswi di St. Josef High mengejar Adam. Dan dibandingkan dengan siswi-siswi itu mungkin Anna hanyalah debu bagi Adam, walau Anna sama pintarnya. Dan setelah kejadian itu Anna berusaha melupakan cowok stoic nan angkuh itu dan membuangnya jauh-jauh dari hidupnya.

Tapi kini lelaki itu, Adam datang lagi setelah delapan tahun... dan Anna was-was pesonanya mampu mencuri hatinya sekali lagi...

"Anna?" suara Adam menyadarkan Anna kembali ke alam nyata.

"I-iya Adam, ma-maaf," ucap Anna tergagap.

"Hn."

"Ah Adam, sudah delapan tahun ya, kita tidak bertemu, aku juga tidak mengira bahwa kita akan mengerjakan proyek ini bersama, kupikir mahasiswa Harvard itu siapa... ternyata Tuan Muda Alexander, kau beruntung bisa masuk Harvard, tapi dengan otak secerdas dirimu, pasti mudah..." Anna berkata panjang lebar, dengan nada memuji yang tulus, berusaha menyembunyikan perasaannya yang tidak karuan.

"Hn," Adam menatap Anna, menarik pikirnya.

Ya, yang di depan Adam sekarang bukan Anna yang dulu, bukan lagi siswi dua belas tahun yang sering memujanya seperti fangirl-nya yang lain, mungkin Anna masih saja ceria dan cerewet, tapi Anna sekarang telah berkembang menjadi gadis dewasa yang menarik juga cerdas.

Adam mengakui itu.

"Adam... Adam? Hoi Adam!" panggil Anna seraya mengibas-ibaskan tangannya yang masih terbungkus sarung tangan lab di depan wajah Adam.

"What?"

"Hahaha kau melamun Adam, kau memandangku tanpa kedip, aku 'kan jadi takut," senyum Anna.

"Anna!"

Anna dan Adam reflek menoleh, dan Anna tersenyum ketika yang memanggilnya adalah Nathan, kekasihnya.

Nathan memeluk pinggang Anna mesra.

"Uhm... Nathan lepaskan..." ucap Anna pelan, ekor matanya melirik Adam yang memalingkan mukanya, memandang ke arah luar jendela.

"Kenapa Anna?" tanya Nathan heran, dia belum menyadari adanya sosok lain di ruangan itu.

"Ada Adam..."

"Eh, Adam?" Nathan terkejut, dan pandangannya mencari, hingga akhirnya menemukan sosok yang tadi dibicarakan Anna, sosok berambut raven yang terlihat angkuh.

"Adam..." panggil Nathan untuk meyakinkan bahwa yang dilihatnya benar-benar Adam.

"Hn," jawab Adam singkat dengan nadi sinis.

"Kau, kenapa kau ada di sini?"

"Memangnya kenapa?"

"Hei, jangan balik bertanya, jawab saja pertanyaanku!"

Wajar jika Nathan curiga, dia tahu Adam adalah cinta lama Anna.

"Kau ini, tidak sopan Nathan, padahal tidak bertemu denganku selama bertahun-tahun, tapi kau malah sinis begitu."

"Ah, kau ini menyebalkan, Alexander!"

"Sudahlah Nathan, dia adalah partner yang aku bicarakan itu..." Anna menjelaskan pada Nathan, daripada diskusi konyol terus berlanjut.

"APA?" Nathan lebih terkejut daripada tadi. "Partner? Berarti kalian akan sering bersama?"

Anna mengangkat bahu. "Ya begitulah!"

"Tidak!" ucap Nathan keras.

"Eh? Tidak? Kenapa?"

"Karena..."

.

.

.

.

.

.

_To be Continued_