"Cepat! cepat!" suara Raka sang Ketua Sie Bangra OSIS begitu keras terdengar dalam ruangan yang berisik itu.

Di depannya, para siswa-siswi baru saling berebutan masuk kelas dengan penampilan aneh mereka. Maklum, MOS adalah waktunya bagi OSIS mengerjai anak-anak baru dengan dalih pelatihan kedisplinan. Padahal ujung-ujungnya nanti juga hanya bentak-bentakan dan adegan tidak penting lain.

"Ann!" Sebuah suara terdengar memanggilku.

Huft, aku sempat melamun. Itu suara Raka, sekarang sudah waktunya aku, sebagai Ketua OSIS, menemui mereka.

Jujur, rasa malas sedikit menyerangku, tapi ini sudah kewajibanku.

Aku sudah hampir masuk ke kelas itu, ketika sebuah suara lain menahan langkahku, "Anna! Ke sini dulu!"

Lagi-lagi, aku menoleh. Kali ini, Yulia, seksi Belra.

"Ada apa, Lia? Aku harus ke kelas," ucapku datar.

Yulia mendekat dan berkata lirih, setengah berbisik,"Yang di kelas biar kuurus. Tolong kau urus saja anak yang ada di lapangan itu. Ya, ya, please..."

Aku paling tidak bisa menolak saat seseorang memintaku dengan kitty eyes seperti ini.

Perlahan, hazel-ku mencari, dan akhirnya menemukan sosok yang membuat seorang Yulia, anggota tersangar dari OSIS menyerah.

Sosok itu, kini sedang berdiri di tengah lapangan basket, hormat pada ring basket.

Poor.

Aku menatap Yulia, mempertimbangkan sesuatu, sebelum akhirnya mengangguk. Yulia melonjak senang dan segera berlari ke kelas, setelah sebelumnya menyempatkan diri memelukku. Dasar, enerjik.

Aku mengabaikan Yulia dan kembali menatap sosok itu, yang masih tetap pada posisinya semula.

Kuayunkan kakiku yang terbalut converse warna black-white ke arahnya.

Rambut berwarna madu kemerahan pendek, model k-pop, macam member SHINee atau Super Junior, err lebih tepatnya ke Kyuhyun sih. Kulit berwarna alabaster yang eksotik. Dan blue handband di kedua tangannya.

Bisa kubayangkan, dia cowok yang tampan.

Sepertinya, dia tidak menyadari kedatanganku atau pura-pura tidak menyadarinya?

"Hei!" panggilku pelan.

Dia tetap bergeming.

"Hei, kau!" panggilku agak keras. Masih tetap terdiam.

"Hei, kau yang sedang hormat pada ring basket!" teriakku sangat keras. Aku benci diabaikan.

"Aku punya nama," terdengar suaranya menjawab, datar dan tanpa menoleh ke arahku.

"Tapi, aku tidak tahu namamu!" ucapku antara gusar dan sebal. Anak ini cuek sekali, menyebalkan...

"Hei!" kali ini aku berdiri di depannya, biar dia tahu, dia berbicara dengan siapa.

"Sekarang, kau bisa tahu namaku, kan? Baca papan namaku. Buat apa disuruh membuat papan nama kalau tidak untuk dibaca!" anak ini bicara dengan nada sarkastis tanpa menatapku.

Skak mat.

Omongan anak ini benar-benar telak. Mata hazel-ku kemudian membaca papan nama di dada anak itu, tertulis nama 'Nathan'...

"Jadi, namamu 'Nathan'?" tanyaku memastikan.

"Ya. Dan bisakah kau pergi dari depanku? Kau mengganggu konsentrasiku," ucap anak itu a.k.a Nathan, dengan mata yang masih menatap ring basket.

Walau dia berkata aku mengganggu, sepertinya itu hanya akal-akalannya saja, karena dia masih tetap fokus.

Aku mendecak sebal. Aku menatap anak itu tajam, "Hei, kau tidak tahu kau sedang berbicara dengan-"

"Anastasia Lau, siswi kelas XI-IPA1, Sang Ketua OSIS, yang juga sebagai pemred majalah sekolah, Ketua klua KIR, Science, dan cheerleader, peraih juara umum dua tahun berturut-turut, juga penulis di majalah remaja ibu kota, putri tunggal dari pengusaha low profile yang memiliki beberapa cabang di lima negara maju. Yang inti–"

"CUKUP!" teriakku keras. Tak kusangka anak ini mengetahui begitu banyak tentangku.'

"Jadi, sudah jelas kan, aku berbicara dengan siapa?" kali ini Nathan menatapku.

Dan aku...

Aku terpaku menatapnya, wajah memesona yang sedang tersenyum, mata sehitam langit malam musim panas, rambut hazel kemerahannya yang lembut, dia... benar-benar tampan.

"Oi! Anna! Oi, senior Anna!" Nathan memiringkan kepalanya, dan menatapku.

"Ah,eh, apa?" aku tergagap, sial, aku melamun gara-gara anak ini.

"Ada apa, Senior?"

Ck, dia bertanya dengan wajah tanpa dosa. Aku kembali memasang wajah datarku dan menatapnya.

"Beritahu nama lengkapmu dan alasan kenapa kau di sini!" ucapku tegas. Mencoba menghindari wajah manisnya yang bisa meruntuhkan wibawaku.

"Hn, namaku Nathan, Nathanael Cakra Wardana. Dan untuk alasan kenapa aku di sini itu karena–"

"Kau melakukan kesalahan!" potongku cepat.

"Ahaha, Senior pintar," ucapnya sambil tertawa lepas, memperlihatkan deretan gigi putihnya.

"Lalu, apa kesalahanmu?" ucapku mulai tak sabar.

Penasaran, apa yang dilakukan si Bodoh ini, sehingga membuat Yulia menyerah.

"Aku..."

"Jadi, apa kesalahanmu?" tanya Anna dengan menghindari mata langit malamnya.

"Aku..." anak itu membungkuk dan menatap Anna yang menunduk, "Aku... bilang Senior-Senior itu cantik... tapi, mereka malah menghukumku."

Gubrak.

'Gara-gara hal ini?' pikir Anna dramatis.

"Hh, mereka benar-benar wanita yang aneh," ucap Nathan dengan nada prihatin yang dibuat-buat.

"Jelas mereka marah. Memangnya apa tujuanmu mengganggu mereka, hah? Ingin mencari muka?" sentak gadis berambut ebony itu keras, kini matanya menatap Nathan tajam.

"Eh, ckckck, pikiran Senior terlalu dangkal. Untuk apa aku menarik perhatian mereka? Pesonaku sudah cukup untuk menarik mereka," ucap Nathan narsis, sambil tangannya menyisihkan helaian rambut di dahinya dengan gaya.

Mau tak mau, Anna mengakui hal itu, Nathan sangat tampan err manis lebih tepatnya.

Namun, bukan Anna si 'princess ice' namanya, jika melihat tingkah seperti ini langsung luluh.

Tetap dengan wajah datarnya, Anna kembali mengajukan pertanyaan, "Lalu? Apa tujuanmu Tu-an Sok Ke-ren?"

Anna menekankan setiap suku kata itu. Sementara Nathan hanya tertawa kecil mendengar kalimat Anna, tangannya kini berada di kedua saku celana seragam musim panasnya, membuatnya terlihat semakin keren.

"Hn, kata-katamu terlalu sarkastis, Nona. Dan sekedar info buatmu, aku bukannya 'sok keren', tapi 'aku memang keren'!" ucap Nathan dengan kenarsisan yang semakin meningkat, dan tidak berkurang barang semili*?* pun.

"Pantas saja Senior-Senior lain kewalahan. Kau ini menyebalkan!" teriak Anna mulai hilang kesabaran.

Nathan terkejut mendengar kalimat Anna, tapi kemudian ekspresinya kembali tenang.

"Hn, jangan bilang aku menyebalkan, Nona Lau. Kau nanti bisa jatuh cinta padaku."

'Cup'

"Hah?"

Anna terbengong sebelum akhirnya sadar apa yang telah Nathan barusan lakukan.

"Hei! Kembali kau, Bodoh!" teriak Anna keras.

Terlambat, cowok yang telah mencuri ciuman darinya itu kini telah berlari, meninggalkan Anna.

Semua terjadi begitu cepat dan tak terduga. Perlahan, Anna menyentuh bibir yang telah kehilangan keperawanannya gara-gara cowok itu. Anna ingin marah, tapi kenapa dia tidak bisa.

'Lihat saja, aku tidak akan memaafkanmu, Nathan!'

MOS telah berakhir dua hari yang lalu.

Kini para senior ataupun junior terlihat mulai sama dalam penampilan, ditandai dengan para junior yang mulai berpakaian 'normal' tanpa atribut aneh-aneh yang melekat di badan mereka.

Seperti pagi ini.

Kerumunan beberapa siswa di gerbang mulai tersibak ketika sebuah mobil –yang sudah pasti mahal— melewati mereka dan memasuki halaman sekolah. Mobil itu berhenti dengan mulus di samping mobil-mobil mahal lain yang telah terparkir lebih dulu. Beberapa siswa lain berbisik-bisik dan kembali berkerumun dengan pandangan tak lepas dari mobil mengkilat itu. Mereka menahan napas seolah malaikat akan keluar dari mobil itu.

Di dalam mobil yang power window-nya masih berfungsi, seseorang menghela napas dan mulai merapikan blazer yang membungkus kemeja putihnya. Setelah memastikan dirinya sempurna dengan melakukan pengecekan terakhir di spion, sosok itu mulai membuka pintu dan mulai menapakkan kaki jenjangnya di atas halaman International High School.

Dan setelah itu, kejadian yang biasanya terlihat hanya pada acara jumpa fans, terjadi di halaman IHS.

"Kyaaaa~ Senior Anna!"

"Anna!"

"Anna-baby! Ayo ke kelas bersamaku."

"Senior A-Anna, maukah kau menandatangi bukuku?"

Oh artiskah dia?

Bukan.

Bidadari?

Hm, kurang tepat. Dia tidak pakai mahkota lihat?

Malaikat?

Terlalu jauh! Tidak ada sayap di punggungnya!

Kasihan sekali kau yang tadi telah menebak sosok ini malaikat.

Karena sosok ini adalah Anastasia Lau, ketua OSIS kita.

"Iya. Iya sebentar. Anu, bisakah kalian memberiku jalan?"

"Awas! Anna mau lewat!"

"Jangan di situ!"

"Jangan berdiri di sini!"

"Jangan menginjakku!"

Ada apa dengan anak-anak ini?

Gadis itu memandang para siswa yang berkerumun di depannya dan memamerkan senyum manisnya hanya untuk satu hal: jalan.

Ya, dia hanya ingin melewati kerumunan ini dan terlepas dari semua ini.

Namun, belum sempat gadis ini melewati kerumunan.

Sesuatu, membuat kerumunan ini tersibak lagi.

Sebuah mobil sport menyibak kerumunan dan berhenti tepat dua meter di depan Nona Lau.

Siapa lagi kali ini?

Malaikat sebenarnya kah?

Sayang sekali, ini juga bukan malaikat.

Seseorang.

Seseorang keluar dari mobil itu.

Seseorang dengan rambut seindah lelehan karamel dan mata sehitam langit saat malam.

Siapa lagi kalau bukan,

"Kyaaaaa~, Nathan!"

"Kyaa~ Nathan!"

Dan benar sekali adegan yang biasanya dilakukan para remaja labil kelebihan hormon di acara jumpa fans seperti tadi di mana tanda tangan dan saling berkerumun terulang lagi.

Anna, artis kita, sang ketua OSIS yang merasa diabaikan mendecih keras.

Entah sadar atau tidak.

Karena biasanya hanya inner-nya yang berteriak-teriak.

Namun setelah mengeluarkan decihan yang nyatanya tak menghasilkan apa-apa, dia memilih memanfaatkan kesempatan ini untuk kabur. Dia bergegas setengah berlari menuju gedung megah di depannya.

Tak disadarinya sepasang mata biru mengikuti langkahnya.

"Anna!"

Sebuah suara terdengar memanggilnya, gadis itu berhenti dan menemukan sahabatnya berlari-lari ke arahnya.

"Kau! Kenapa kau berangkat duluan?" semprot Anna begitu gadis cantik itu sampai di depannya dan membungkuk mencoba mengatur napasnya.

"Maaf. Adam hari ini tumben-tumbennan menjemputku," ucap Natasha tanpa ada rasa menyesal dalam kalimatnya. Dan tak lupa dengan cengiran tanpa dosa khas nona Natasha. Kau bisa bayangkan?

"Hei! Kau juga tumben tidak dikejar para fans-mu?" Natasha melirik gadis yang kini ada di sampingnya dan tengah memandang ke halaman.

"Hari ini hari keberuntunganku."

"Keberuntungan atau karena kepopuleranmu dikalahkan oleh anak baru itu?" goda Natasha.

"Anak baru siapa? Nathan?"

Natasha hanya menjawab dengan senyum simpul.

"Dia hanya bocah baru yang tukang bikin onar dan sok," ucap Anna sarkastis.

"Sok? Hahaha padahal kudengar kau bahkan tidak berhasil mengatasinya pas MOS kemarin?" sindir Natasha.

"Itu karena… Ah sudahlah!"

"Lihat itu! Melihat dia dikerumuni para fans-nya, itu mengingatkan aku pada 'dia'. Lihat, benar-benar mirip. Tak kusangka dia benar-benar bisa menarik banyak fans. Kau juga merasa 'kan Anna? Hebat juga bocah itu. Dia juga lumayan manis lho."

Anna menatap Nathan sekali lagi. Para fans-nya masih mengelilinginya dan dia terlihat gembira walau sedikit kewalahan.

Mendadak Anna merasakan kebencian. Dia benci hal yang seperti itu. Perasaan ini keluar begitu saja. Perasaan benci melihat semua itu keluar tanpa bisa ditahan. Menyeruak begitu saja.

"Aku tidak ingat."

Gadis itu berbalik dan meninggalkan Natasha.

"Senior! Senior Anna!"

Apalagi kali ini.

Dengan sedikit emosi Anna berbalik untuk melihat siapa yang berani mengganggunya.

Dan sosok yang tak sadar bahwa ia mengganggu sosok monster itu tengah tersenyum dan mulai menaiki tangga mengejarnya.

"Ada apa, Nathan?"

"Hehehe, aku hanya ingin jalan sama Senior sampai ke kelas."

Anna menghela napas. Bocah bodoh.

"Kau 'kan bisa jalan sama fangirls-mu."

"Ah~ aku inginnya sama Senior," jawab bocah itu dengan cengiran imutnya.

"Terserah!" Anna segera berbalik dan melanjutkan langkah.

"Hei,hei! Senior! Senior kenapa? Senior cemburu karena aku punya banyak fans?"

"Tidak," jawab Anna seraya terus berjalan.

"Iri karena aku tampan?"

"Aku wanita, Nathan. Aku cantik bukannya tampan."

"Hehehe, Senior benar. Kalau begitu, cemburu karena aku merebut fans Senior?"

"Tidak, Bodoh! Dan diamlah! Jangan berisik!"

"Atau karena ciuman saat MOS itu?"

"Jangan sebut hal itu lagi!"

"Lalu apa? Ah! Aku tahu! Senior menyukaiku 'kan? Jadi cemburu karena aku melayani para fans-ku. Hm, padahal seharusnya Senior berterima kasih, karena aku telah memberi kesempatan Senior untuk lari dari para-"

"DIAM!"

Deg.

Seketika Nathan terdiam dan menatap Anna yang kini berhenti. Gadis itu tengah berbalik dan menatap tajam ke arahnya.

"Diam, Nathan! Atau aku akan memukulmu!"

Nathan menelengkan kepalaya. "Se-Senior ada apa? Walaupun aku punya banyak fans, aku tak akan berpaling. Dan eh, ngg~ ma-maksudku-"

Gadis itu terdiam, napasnya memburu dan wajahnya mulai memerah. "Diam! Dan berhentilah menggangguku, Bodoh!"

Selesai mengucapkan itu Anna segera berbalik dan melangkah. Meninggalkan Nathan yang masih tak mengerti.

"Senior!"

Percuma, Anna tak berhenti.

Apa yang salah dengan dirinya?

Adakah kata-katanya yang menyinggung Anna

Tapi apa?

Atau Anna benar-benar menyukainya dan cemburu padanya.

"Hahaha tidak mungkin." Nathan tertawa hambar.

'Tapi siapa tahu juga 'kan? Aku kan keren. Mustahil dia menolak pesonaku,' pikir Nathan narsis.

Tapi kenapa dia marah? Lalu ada apa? Apa yang salah dengan kata-katanya tadi.

Satu yang pemuda pirang itu ingat. Ia melihat. Ia melihat air mata di ujung hazel gadis itu.

Apakah kata-kanya demikian menyakiti hati Anna? Atau ada hal yang lain?

Seandainya Nathan tahu apa itu…

.

.

.

.

.

.

BERSAMBUNG...