Adam mempunyai tiga saudara.

Arthur saudara kembarnya yang selalu dibanding-bandingkan dengan dirinya. Arthur yang selalu diawasinya untuk memastikan dia baik-baik saja atas semua tekanan yang diterimanya.

Lalu, Andrew, kakak tertuanya yang selalu sibuk dengan organisasi dan klub-klub di sekolahnya. Bahkan, Adam berani bertaruh bahwa Andrew hanya di rumah saat makan malam, dan setelah itu dia akan mengurung diri di kamarnya.

Dan terakhir adalah Allen, adiknya yang berusia enam tahun. Allen cerdas, ia periang, bisa berhitung, dan mengancingkan bajunya sendiri. Tapi, ia tak tahu Tuan Kematian. Sosok yang diyakininya telah mengambil Arthur.

Begitu juga dengan Adam, ia tak mengenal Tuan Kematian, sejak Arthur, saudara kembarnya ditemukan bunuh diri. Fatter telah meninggalkan mereka dengan wanita lain, sementara Mutter adalah wanita yang bekerja di sebuah toko roti. Kecuali memikirkan tentang kejatahan Fatter, hidup mereka baik-baik saja. Tidak ada alasan untuk Arthur bunuh diri.

Kalau kau pernah kehilangan seseorang yang pernah kau merasa sangat mengenalnya dan dekat denganmu. Kau tahu apa yang kubicarakan….

.

.

.

.

.

.

Aku selalu memerhatikannya. Sejak bangun tidur hingga kembali tidur. Aku memastikan dia selalu aman. Dan cukup nyaman untuk tidak memikirkan kata-kata Paman Josh yang sering meremehkannya. Aku akan mengerjakan matematika di sofa ketika ia sibuk dengan kartu poker-nya di karpet. Aku akan membaca di beranda ketika ia sibuk dengan scooter-nya di garasi depan rumah kami. Dan aku akan di sisinya ketika berada di kelas bahasa Spanyol, di kantin, dan ketika ia tidur. Tapi, saat ini kami berusia tujuh belas tahun. Dia menolak ketika teman-temanku mengajak kami ke klub di ujung kota. Mungkin ini untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupku, kami tak bersama sepulang sekolah.

Aku belum menikmati strawberry milk shake buatan Tom ketika Mutter meneponku dan menyuruhku cepat pulang. Dan aku nyaris tak bisa bernapas ketika tahu bahwa Arthur telah meninggal. Dia bunuh diri!

Ya Tuhan! Dia saudara kembarku dan aku tak pernah melepaskannya dari pandanganku. Kupikir aku mengenalnya.

Iya aku dammit! Arthur telah meninggal! Dan setelah ini kami tak akan disebut kembar. Inilah aku Adam, Saudara dari Anak yang Bunuh Diri! Aku tahu segalanya, aku pintar, terkenal di sekolah, aku anak baik. Tapi, aku tidak tahu tentang kematian, sialan! Ingin rasanya aku menumpahkan mayonice pada wajah Paman Josh. Aku mengerti kalau Arthur tidak akan lagi tidur bersamaku. Aku tahu itu! Aku meninggalkan Arthur hanya sehari. Sehari ketika akhirnya dia bunuh diri. Kupikir aku mengenalnya. Tapi, ternyata aku tidak mengenalnya sama seperti aku yang tidak mengenal Tuan Kematian.

.

.

.

.

.

.

Aku sedang duduk di sofa, sementara Allen memainkan Jojo. Bocah enam tahun itu tengah memasangkan pita merah muda pada anjing berkulit kecoklatan dengan jenis kelamin pria. Dan aku membuka halaman selanjutnya dari bukuku ketika mata biru itu menatapku.

"Kenapa Arthur belum pulang dari kematian, Adam? Dia kakak yang baik. Aku ingin dia berhenti meninggal untuk bermain denganku."

Arthur memang selalu menyempatkan diri bermain dengan Allen, berbeda dengan Andrew yang seolah telah memiliki dunianya sendiri.

"Apakah aku membunuh Arthur karena mengatakan bahwa dia menyebalkan? Tapi, itu untuk pertama kalinya, Adam. Dan dia tidak sungguh-sungguh menyebalkan."

Aku dan Allen memiliki banyak kesamaan untuk kasus kematian Arthur kali ini. Dia juga sama halnya denganku, tidak mengenal Tuan Kematian. Aku ingin menjawab pertanyaan Allen. Tapi, yang benar-benar kuinginkan sekarang hanyalah agar Allen tutup mulut. Karena dia telah membuat anak sepintar Adam Houston tak mampu menjawab pertanyaannya. Mungkin, sebenarnya aku yang telah membunuh Arthur karena telah meninggalkannya untuk pergi ke klub dengan teman-temanku.

.

.

.

.

.

BERSAMBUNG...