Kami mulai meniti tangga kayu yang berdebu.

Pada ujung tangga terdapat ruangan sangat besar dengan beberapa jendela kecil.

Dari cahaya yang menerobos melalui jendela, kami melihat benda-benda yang ada di dalam ruangan dengan lebih jelas.

Di dinding terdapat pedang-pedang besar yang hanya bisa dipegang dengan dua tangan.

Di lantai terdapat bercak-bercak hitam dari darah yang membekas.

Beratus-ratus tahun yang lalu, kepala orang dipenggal dengan kapak pada sebatang kayu.

Di mana-mana terdapat benda mengerikan yang dulu digunakan untuk menyiksa orang.

Ada kursi dengan paku runcing sehingga orang yang duduk akan kesakitan.

Ada sabuk besi yang dilingkarkan melalui leher orang.

Bentuknya seperti keranjang, tapi terbuat dari baja. Kepala orang yang dimasukkan dalam itu akan hancur secara perlahan-lahan.

Segala sesuatunya tampak menakutkan dan mengerikan.

...

Namaku Allen Ivanovich, dan ini kisah horor yang aku alami.

Kejadiannya sudah bertahun-tahun yang lalu, tapi aku dan isteriku tidak akan pernah melupakannya.

Setelah kami menikah, aku dan isteriku, Anna pergi ke Jerman. Kami meninggalkan Rusia dan tinggal di sebuah kota tua, yaitu Nurnberg. Di Nurnberg, aku dan Anna bertemu warga Amerika yang sedang berlibur. Namanya Elias. Kami bertiga menjadi teman baik dan kami banyak menghabiskan waktu bersama-sama. Setiap hari, kami berkeliling kota dan melihat bangunan-bangunan tua yang indah.

Bangunan tertua di kota Nurnberg adalah sebuah benteng yang tinggi dan berada di tengah kota. Dari benteng itu, pengunjung dapat melihat kota di bawahnya.

Di kaki benteng tedapat parit yang dulu terisi air. Parit-parit itu melindungi orang yang berada di dalam benteng dari musuh. Sejak beratus-ratus tahun yang lalu parit itu kering dan sekarang ditanami pohon buah-buahan dan dibuat taman yang indah. Jalan menuju parit curam dan panjang.

Suatu hari, aku, Anna, dan Elias mengunjungi benteng itu.

Kami mendaki jalan yang curam dan melihat jauh ke bawah ke arah taman. Saat itu musim panas dan matahari sedang terik. Orang-orang duduk di bawah pohon.

Ah, suatu pemandangan yang indah.

Kami mendaki lebih tinggi dan melihat ke bawah ke arah parit.

Jauh di bawah, dekat dasar dinding, kami melihat seekor kucing besar berwarna hitam. Dia sedang bermain-main dengan anaknya. Anak kucing itu mengejar induknya dengan gembira.

"Betapa senangnya mereka," kata Elias tiba-tiba. "Ayo kita ikut bermain bersama mereka." Elias membungkuk dan mengambil sebuah batu. "Lihat," lanjutnya lagi. "Aku akan menjatuhkan batu itu di dekat anak kucing itu. Dia tidak akan tahu darimana batu itu dan pasti akan membuatnya bingung."

"Hati-hati, Elias," kata Anna. Dia kelihatan tidak suka dengan apa yang akan dilakukan Elias. "Berhati-hatilah jangan melukai anak kucing itu dengan batu."

"Aku tidak ingin melukai anak kucing itu, Anna," sahut Elias. "Aku hanya ingin sedikit bermain-main dengan mereka, dan tidak akan menyakitinya."

"Tapi, itu jauh di bawah. Berbahaya, Elias!"

"Tidak, tidak," sahut Elias. "Lihat aku menjatuhkan batu ini jauh dari anak kucing dan induknya."

Elias membungkukkan tubuhnya ke dinding. Dia membuka genggaman tangannya dan menjatuhkan batu itu.

Kami semua melihat ke bawah, batu jatuh dan melukai anak kucing.

Seketika itu juga anak kucing itu mati.

Induknya mendongak. Matanya yang sehijau mata istriku menatap lurus ke arah kami, kemudian dia menatap mayat anaknya dan menjilatnya.

Dia menatap Elias lagi dan memperlihatkan giginya yang runcing dan memerah dengan tetesan darah anaknya di sudut bibirnya.

Mendadak Anna yang biasanya cerewet menjadi pendiam dan ketakutan.

Aku membawanya ke tempat duduk di bawah hangatnya sinar matahari.

Aku kembali ke dinding dan Elias masih di sana.

Mata aquamarine-nya melihat ke balik dinding.

Kucing itu masih mencoba memanjat dan jatuh kembali ke tanah. Dia tampak semakin mengerikan.

"Kucing malang itu akan gila," kata Elias. "Tapi, itu 'kan kecelakaan. Aku tidak bermaksud membunuh anak kucing itu."

"Tapi faktanya kau telah membunuhnya," teriakku keras.

"Hei, itu kecelakaan," kata Elias tak mau mengalah.

"Tetap saja kau telah membunuh anaknya," ucap Anna yang telah merasa lebih baik dan kini telah kembali kepada kami.

Kucing itu masih menatap kami.

Dia melihat Elias dan kembali mencoba memanjat dinding.

"Kucing yang malang," ucap Anna, emerald-nya menatap Elias tajam. "Dia sangat marah. Dia ingin mendekatimu dan membunuhmu, Elias!"

Nona Pirang itu hanya tertawa mendengar ucapan Anna. Dia tidak takut pada kucing, dia merasa kucing itu tidak akan mampu menyakitinya.

Kucing itu mendengar tawa Elias. Tiba-tiba ia berhenti menatap kami dan duduk di samping mayat anaknya. Dia kembali menjilati darah anaknya.

...

Kami meninggalkan tempat itu dan menuju benteng.

Seringkali kami berhenti dan melihat di balik dinding. Setiap kali kami ke bawah, kami melihat kucing itu menatap kami. Dia mengikuti kami dan mengelilingi dasar dinding. Mula-mula dia menggendong mayat anaknya dengan mulutnya, kemudian ia meletakkan mayat anaknya dan menyembunyikannya di suatu tempat.

Dia mengikuti kami sendirian.

Kami menyusuri jalan hingga sampai di jembatan besar.

Di jembatan itu ada jalan kecil menuju benteng.

Di dasar terdapat bangunan yang sangat terkenal disebut menara siksaan yang merupakan bangunan paling terkenal di kota Nurnberg.

Di dalam menara sangat gelap, hanya ada seberkas cahaya menerobos melalui pintu.

Kami mulai meniti tangga kayu yang berdebu.

Pada ujung tangga terdapat ruangan sangat besar dengan beberapa jendela kecil.

Dari cahaya yang menerobos melalui jendela, kami melihat benda-benda yang ada di dalam ruangan dengan lebih jelas.

Di dinding terdapat pedang-pedang besar yang hanya bisa dipegang dengan dua tangan.

Di lantai terdapat bercak-bercak hitam dari darah yang membekas.

Beratus-ratus tahun yang lalu, kepala orang dipenggal dengan kapak pada sebatang kayu.

Di mana-mana terdapat benda mengerikan yang dulu digunakan untuk menyiksa orang.

Ada kursi dengan paku runcing sehingga orang yang duduk akan kesakitan.

Ada sabuk besi yang dilingkarkan melalui leher orang.

Bentuknya seperti keranjang, tapi terbuat dari baja. Kepala orang yang dimasukkan dalam itu akan hancur secara perlahan-lahan.

Segala sesuatunya tampak menakutkan dan mengerikan.

Bahkan Anna tanpa sadar terus memegang lenganku erat.

Di tengah-tengah ruangan terdapat benda ynag paling mengerikan, yaitu The Iron Maiden.

Bentuknya menyerupai wanita terbuat dari logam. Benda itu tertutup debu, sangat tua dan sangat kotor. Pada bagian depan tubuhnya terdapat cincin yang terbuat dari besi. Pada cincin itu terdapat tali, di mana ujung tali satunya melalui kerekan pada tiang kayu.

Pemandu menujukkan The Iron Maiden pada kami.

Dia menarik tali sehingga bagian tubuh depannya terbuka. Tampak seperti pintu berat yang menggantung. Kami melihat bagian dalamnya. Di dalamnya terdapat ruang untuk satu orang masuk dan berdiri tegak. Pintunya sangat berat. Ketika pemandu itu melepas talinya, pintu itu meluncur dengan sangat cepat dan menutup dengan rapat.

Kami melihat bagian dalamnya dengan teliti.

Sangat menakutkan!

Di balik pintu terdapat paku-paku besi yang panjang dengan ujung yang sangat tajam. Bila pintu itu ditutup, beberapa paku menembus mata orang yang berada di dalamnya, sedang paku-paku yang lain menembus jantung dan perutnya.

"Aku ingin masuk ke dalamnya," kata Elias tiba-tiba. "Aku ingin tahu bagaimana rasanya berdiri di dalamnya. Mula-mula kau harus mengikat tanganku kemudian kakiku. Dan kita harus mencari tali."

Aku dan Anna saling berpandangan tak percaya.

"Kau gila!" desis Anna pelan.

"Ambilkan tali itu!" perintah Elias kepada pemandu.

Pemandu itu tidak menjawab, hanya menggelengkan kepalanya. Elias mengambil uang di sakunya dan memberikannya pada pemandu. Pemandu itu mengambil uang tersebut, kemudian ia mengambil seutas tali. Dia kembali dan mengikat tangan Elias. Elias segera masuk ke dalam The Iron Maiden.

Pas sekali, tidak ada ruangan yang tersisa. Pemandu segera mengikat kaki Elias, dan ia tidak bisa bergerak samasekali. Kedua kaki dan tangannya terikat kuat. Elias terlihat sangat gembira.

"Bagus sekali!" Elias tertawa. "Sekarang tutup pintunya pelan-pelan."

"Jangan! Kau gila, Elias!" teriak Anna histeris.

Dengan perlahan-lahan, pemandu melepas tali yang melalui kerekan. Pintunya tertutup sedikit demi sedikit. Paku-pakunya semakin mendekati wajah dan tubuh Elias. Gadis pirang itu tampak gembira dan semakin gembira dengan mendekatnya paku-paku itu.

Setelah beberapa menit, pemandu membiarkan pintunya sedikit terbuka.

Dan ketika aku memandang dasar The Iron Maiden, kucing besar itu ada di sana. Mata kucing itu bersinar, masih ada darah dalam bulu hitamnya.

"Lihat! Ada kucing!" teriakku keras. Kucing itu berdiri dan tampak sangat garang.

Elias melihat kucing itu dan tertawa. "Apakah kucing itu mengikuti kita? Kalau mendekatiku, tendang saja. Aku tidak dapat bergerak."

Selesai Elias berucap, pada saat yang bersamaan kucing itu menjerit nyaring.

Dia meloncat dengan cepat ke arah pemandu. Dia mencakar wajah pemandu dengan kukunya yang panjang dan runcing, wajah pemandu tercabik.

Si pemandu menjerit, dia melompat mundur dan melepaskan pegangan talinya.

Elias melihat tali meluncur melalui kerekan ke arahnya dengan cepat. Untuk beberapa saat ia terlihat ketakutan.

Matanya lurus ke depan. Bibirnya bergerak, tapi tidak ada sesuatu yang keluar.

Pintu The Iron Maiden menutup dengan keras!

Anna menjerit, nyaris pingsan.

...

Tak lama kemudian, aku menarik pintunya.

Ketika pintu terbuka, paku-paku tercabut dari tubuh Elias, dan Elias jatuh ambruk ke tanah dengan beberapa lubang yang mengucurkan darah di tubuhnya.

Terlihat amat mengerikan. Darah mulai membanjir di sekelilingnya dan menetes di paku-paku The Iron Maiden. Sangat mengerikan.

Tiba-tiba kucing hitam itu duduk di dekat kepala Elias. Dia mendengus keras dan menjilat darah di wajah Elias.

Aku memandangnya lurus.

Wajahku pias.

Rasanya jantungku seperti berhenti memompakan darah.

Satu pelajaran telah turun untukku. Meski Elias mati bukan karena kucing itu, tapi Tuhan telah menetapkan sesuatu.

Siapa yang menanam dialah yang memetik hasilnya.

.

.

.

.

.

.

SELESAI...

Tale of Horror © Bram Stoker

Diterjemahkan secara bebas dan digubah oleh poisonburst © 2010