"Hei! Lain kali, kalian harus menggaruk punggungku, Anak-anak! Rasanya aku digerogoti rayap!"

"Hahahaha!"

"Lagi! Lagi! Ayo, Laugy! Lakukan lagi!"

.

.

.

.

.

"Bagus sekali Anna, Nathan! Pertunjukkan yang luar biasa!" aku yang sedang mengembalikan Laugy pada kotaknya menoleh dan melihat ayah masuk dari pintu di belakangku.

Aku tersenyum dan menyambutnya. Saat ini, aku dan Nathan baru saja selesai melakukan pertunjukkan boneka yang ke tiga kalinya.

Nathan yang baru saja mengambil soda meletakkan sodanya dan tersenyum lebar.

"Hahaha, tentu saja. Kami memang berbakat, Yah!" ucap Nathan keras melalui suara Arthur.

"Hei, letakkan Arthur!" sentakku keras. Aku mendelik sebal pada Nathan, tidak terima boneka kesayanganku dibawanya.

"Aku kan hanya boneka, Anna," elak Nathan masih dengan suara Arthur.

"Tapi tetap saja Arthur tidak akan bersuara seperti itu," ucapku bersikukuh.

"Hentikan, Anak-anak! Sekarang kemasi barang-barang kalian dan ayo pulang!" ucap ayah tiba-tiba.

Huft, aku lupa kalau ayah di sini.

Aku melempar pandangan 'menyalahkan' pada Nathan dan dengan enggan segera mengemasi para boneka.

Dalam diam, kami kembali ke rumah dengan Ford Fairlane tua ayah.

Rumah kami adalah kastil tua di Skew End.

Kota kecil yang tertutup jajaran hutan, terpencil. Tapi, Skew End memiliki fasilitas-fasilitas sendiri yang memungkinkan penduduk kota kecil ini mudah mencari kebutuhannya.

Rumah yang terdiri dari dua tingkat dan satu loteng ini hampir seluruhnya berwarna hitam dan tak terawat. Rumah ini terlalu besar dan orang tuaku tidak punya cukup dana untuk memperbaikinya. Tangga menuju loteng berderak dan bergoyang-goyang. Tapi, loteng adalah tempat berharga bagi kami. Karena di sanalah lusinan boneka ventriloquist kami tersimpan.

"Anna, cepat! Ini berat!" bisikan Nathan terdengar keras di tangga sempit ini.

Nathan Jacques William, kakakku yang berusia delapan belas tahun dan sedang menjalani tahun ke tiganya di Skew Senior High School.

Dia berisik dan ceroboh.

Bahkan kadang lebih kekanakan dari pada aku, Annabel Joanne William yang menyandang status sebagai adiknya. Tapi, menurutku dia sangat manis dengan mata sebiru permata sapphire, rambut pirang jabrik, dan kulit tan eksotik. Nathan merupakan miniatur ayah.

Hal ini mengingatkanku pada rubah. Karena itulah kadang aku memanggilnya Foxy. Dan dia akan cemberut saat aku memanggilnya begitu, yang justru membuatnya semakin terlihat manis.

Dia tidak sadar, bahwa lebih dari setengah gadis di Skew High ingin berkencan dengannya. Termasuk Sarah. Gadis bermata violet itu selalu menerorku dengan pertanyaan tentang kakakku yang bodoh, Nathan.

Sedangkan aku adalah miniatur ibu. Dengan kulit putih, iris emerald, dan rambut merah kecoklatan, walau tidak sepanjang rambut ibu, tapi orang-orang bilang aku menarik. Aku baru saja memasuki tahun pertamaku di Skew High. Teman-temanku mengenal aku dan Nathan sebagai 'ventriloquist bersaudara'.

Hanya saja, aku tidak seceroboh Nathan.

Kembali ke loteng.

Butuh keberanian besar untuk naik ke loteng ini.

Bukan karena tangganya yang berderak atau minimnya cahaya yang ada.

Bukan karena langit-langitnya yang rendah atau bayangan-bayangan yang seolah menerkam.

Bukan karena itu.

Tapi, karena di loteng ada berpasang mata yang menatap dari balik kegelapan.

Mata yang tak pernah berkedip dan menyalang tajam.

Nathan telah sampai lebih dulu di atas. Aku mendengarnya berjalan melintasi kayu yang berderak.

Kemudian berhenti.

Aku menyusul berjalan di belakangnya, menghampirinya.

Ia baru saja meletakkan Helen di kotaknya.

Aku bergegas melakukan hal yang sama, meletakkan Arthur di kotak kaca.

Arthur adalah boneka favoritku, walau jarang tampil. Dengan kulit dari kayu yang dicat pucat, mata hitam pekat, dan rambut blue-black, membuatnya sangat tampan. Arthur terkesan boneka yang dingin, tapi aku sangat menyukainya.

Sedangkan Helen adalah boneka favorit Nathan. Dengan rambut indigo dan mata crystal-clear indah, Helen terlihat begitu cantik.

Ayahku, Dean Seamus William, dulu adalah seorang ventriloquist.

Ia biasa main bersama bonekanya, Laugy. Dulu kami juga tinggal di Jerman. Akan tetapi, karena di Jerman pertunjukkan ventriloquist kurang diminati, kami pindah ke Skew End ini, bagian terpencil dari Devon.

Aku tidak terlalu ingat, karena saat itu aku baru berusia tiga tahun dan aku mendengar cerita ini dari ibu.

Dan nyatanya, kami cukup senang di sini.

Walaupun sebelumnya, ayah sempat ditentang oleh para penduduk dengan alasan yang aneh. Toh pertunjukkan ayah lumayan laku, sebelum akhirnya ia berhenti dua tahun yang lalu dan memilih membuka bengkel alat-alat rumah tangga.

Dan belum lama ini, kami–yang kata ayah—mewarisi keahlian suara perutnya mulai menggantikannya.

"Hei, ada yang lupa mematikan lampu," ujar Nathan keras. Ia menunjuk satu-satunya lampu di loteng yang tepat berada di langit-langit.

Loteng kami berupa satu ruangan besar. Di kedua ujungnya ada jendela kecil yang tertutup debu, sehingga sedikit sekali cahaya yang bisa masuk.

Semua boneka menatap kami dengan pandangan kosong. Laugy, boneka pertama ayah tergolek di sebuah kursi tua di luar kotak. Lengannya menggantung melewati sandaran tangan. Kepalanya menempel pada sandaran punggung.

Tampangnya, entah kenapa dari pada terlihat mengerikan justru terlihat mesum.

Pakaiannya model samurai dengan katabira berwarna hijau. Untuk ukuran boneka tua, Laugy masih sangat bagus.

Ayah memang sangat cermat merawat boneka-bonekanya.

Sebenarnya, ayah cukup berbakat sebagai ventriloquist. Bibirnya sama sekali tidak bergerak, hanya saja leluconnya norak-norak.

"Anak-anak! Lihat ini yang ayah bawa!"

Aku agak berjengit.

Tiba-tiba saja ayah sudah berdiri di belakang kami sambil membawa kantong belanja berukuran besar. Senyum mengembang di wajahnya ketika ia berjalan ke ujung loteng dan meletakkan kantong itu di meja.

Aku dan Nathan segera mengekornya.

Senyum ayah bertambah lebar ketika dia dengan hati-hati mengeluarkan sebuah boneka dari dalam kantong itu.

Ayah membaringkan boneka itu di atas meja dan meluruskan tangan dan kakinya dengan hati-hati.

"Boneka ini ku temukan di tong sampah. Percaya tidak? Boneka sebagus ini dibuang begitu saja!" ucap ayah memberitahu kami sambil mendudukkan boneka itu.

Aku mengamati boneka ayah yang baru.

Rambutnya berwarna merah menyala. Matanya berwarna madu, redup. Namun seperti mata sungguhan. Wajahnya sangat imut menurutku, tapi jahat.

Boneka itu mengenakan jubah hitam.

Di balik jubahnya, dia memakai kaos ketat model jaring. Kakinya terpasang sepatu sandal berwarna hitam.

Aneh.

"Kalian menyukai boneka tampan ini?" ayah bertanya sambil tangannya tak henti memeriksa boneka itu.

"Hm..." aku bergumam.

Aku sama sekali tidak menyukai boneka baru ini. Tampangnya sih benar-benar imut, tapi aku tidak suka.

Rupanya Nathan juga begitu.

"Tampangnya agak jahat," ia meraih tangan kanan boneka itu. Punggung tangannya penuh goresan. Buku jarinya lecet-lecet. Boneka ini seperti anak laki-laki sungguhan.

"Siapa namanya?" tanya Nathan.

"Bagaimana kalau kita namakan 'Jeremy'?"

"Jeremy?" aku langsung meringis.

"Hanya itu identitas yang dimiliki boneka ini. Tertulis di sini," ayah menunjukkan cincin aneh di jempol kiri Jeremy.

"Ya-ya, baiklah," Nathan membeo sambil mengangguk-angguk.

Aku mengernyit.

Perasaanku tidak enak.

"Ah ya, Nathan, Anna. Kalian harus membawa boneka ini di pertunjukkan minggu depan di ulang tahun... siapa itu? Moegi? Kalian harus membawanya."

Deg.

Aku dan Nathan saling melempar pandangan tidak percaya.

Membawa boneka ini?

Yang benar saja!

Pertunjukkan di rumah Moegi baru saja usai.

Seperti biasanya, Nathan mengeluarkan lelucon-lelucon konyol yang–entah kenapa–membuat anak-anak itu tertawa.

Aku di belakang panggung.

Suara riuh anak-anak yang masih berpesta terdengar sampai ke sini.

Nathan? Tentu saja ikut berpesta.

Pandanganku beralih pada empat boneka yang kami bawa.

Helen, Arthur, Laugy, dan Jeremy.

Ya, Jeremy.

Karena bujukan ayah, kami membawa boneka itu. Walaupun dia hanya terdiam di dalam kotaknya.

Emerald-ku menatapnya.

Dalam keremangan dia tampak begitu kejam.

Mata cokelatnya membalas tatapanku.

Kemudian mata kanannya menutup pelan-pelan.

Ya ampun!

Bo-boneka itu 'mengedipkan mata!'

"Anna?"

Deg.

Aku terlonjak.

Aku menoleh dan melihat Nathan di pintu.

"Ayo, kita harus memberi selamat pada Moegi!" ajaknya ceria.

Dengan jantung berdegub aku mengikuti Nathan.

Ketika aku menyempatkan diri melirik boneka itu.

Lagi-lagi, Jeremy mengedipkan mata.

Keriuhan semakin terdengar jelas ketika aku mengekor langkah Nathan ke tempat pesta yang penuh hiasan dan balon di ruang tengah.

Tapi, tunggu!

Ada yang aneh dengan keriuhan ini.

Suara-suara ini...

I-ini bukan suara kegembiraan tapi...

Semakin mendekat, kegaduhan semakin jelas.

"Bagaimana ini?" tanya seorang anak laki-laki pada anak di sampingnya.

"Entahlah..." temannya menjawab dengan gelengan.

Ada sesuatu yang tidak beres.

"Ada apa?" tanyaku pada anak yang paling dekat denganku.

"Moegi menghilang," jawabnya lirih.

"Hilang? Apa maksudmu 'hilang'?" tanyaku tak mengerti. Ia baru saja menonton pertunjukkan kami.

"Hilang berarti tidak ada, Anna."

Oh, ingin sekali rasanya aku menjitak kakakku yang bodoh ini.

"Mungkin dia sedang ke belakang," ucapku menenangkan, "sebentar lagi pasti dia dat–"

"KYAAAA!"

Kata-kataku terpotong sebuah teriakan keras dari belakang, arahku datang tadi.

Tanpa dikomando kami segera berlari menuju suara itu berasal.

Aku melihat sosok anak, Hana, sedang terduduk gemetar sambil tangannya menunjuk-nunjuk di depannya.

Aku mengikuti arak jarinya.

Dan terbelalak.

Moegi, gadis kecil itu terduduk di sofa dengan kondisi mengenaskan.

Kepalanya hampir putus dan miring ke samping, memerlihatkan pangkal lehernya.

Mulutnya seolah dipaksa tersenyum mengejek dengan lidah yang terpotong ujungnya, meneteskan darah.

Matanya meloncat keluar dengan urat mata yang membuat dua bola mata itu tergantung di pipinya.

Tangannya terpotong tepat di sikunya, lengannya menggelantung melewati sandaran sofa.

Kaki gadis itu tak lebih baik.

Kakinya terpotong dan tertekuk ke belakang, menjadi sandaran bagi tubuhnya sendiri.

Darah mengolam di bawahnya.

Tapi, yang lebih mengejutkanku adalah, sosok di depannya yang sedang duduk di meja rendah, terlihat seolah mengejek Moegi.

Sosok merah itu...

Aku membekap mulutku tak percaya...

Sosok itu...

Jeremy...

Boneka ventriloquist kami...

Bagaimana ini bisa terjadi?

Pertanyaan itu tetap mengusik pikiranku malam ini.

Membuatku tidak bisa tidur.

Boneka itu terbuat dari kayu.

Boneka tidak mungkin mengedip apalagi membunuh orang.

Tidak mungkin...

Kantuk mulai menyerangku...

Tapi, mendadak aku mendengar suara langkah di sampingku...

Sebuah suara memanggilku...

"Anna... Anna..."

Mendekat.

Semakin dekat.

"Anna..."

Sangat dekat.

Benar-benar dekat dengan telingaku.

"Anna..."

Aku tersentak kaget dan langsung berdiri.

Aku melompat maju dan nyaris menabrak Nathan sampai terjatuh.

"Nathan? Sedang apa kau di sini?" tanyaku dengan jantung berdegup.

"Ma-maaf, Anna. Aku tidak bermaksud membuatmu kaget," Nathan mundur dan berdiri di samping meja riasku.

Aku menyalakan lampu di samping tempat tidur, menggosok mata, dan menatap Nathan.

Nathan mengenakan piama longgar dan topi tidur kodoknya.

Rambut pirangnya menutupi wajahnya yang kusut.

"Ada apa sih, Nathan?" tanyaku sambil bersedekap menatapnya.

"A-aku mendengar suara-suara," ucapnya seperti anak enam tahun yang ketakutan.

"Hah? Suara-suara?" aku menyibakkan rambut maduku dan menatapnya lagi.

Ia mengangguk, "Suara-suara dari atas, Anna."

Atas?

Berarti loteng.

"Kau bermimpi! Aku tidak mendengar apa pun, Nathan!" ucapku tegas.

"Sungguh, Anna! Aku mendengarnya!" ia bersikukuh.

"Itu karena kau penakut, Bodoh. Lalu apa maumu?"

"Bolehkah aku tidur bersamamu? Malam ini saja. A-aku takut."

'Bletak'

"Kenapa kau menjitakku, Anna?" Nathan meringis kesakitan sambil memegangi kepalanya yang menjadi sasaran jitakanku.

Aku mendelik dalam kegelapan.

"Tidak. Kau hanya terlalu penakut!" ucapku menolak.

"Ayolah, Anna. Bukankah dulu kita sering tidur bersama?" ucapnya memelas.

Huft, aku menghela napas.

Dulu kami memang tidur bareng, bahkan sekamar. Tapi, itu saat aku berusia lima tahun dan Nathan tujuh tahun.

Sekarang?

Bukan apa-apa, tapi kapan sifat penakutnya Nathan pada hantu akan hilang?

"Baiklah, kalau kau tidak mau. Tapi tolong temani aku membuat ramen saja."

"Hah?" aku melirik jamku. Sudah lewat tengah malam.

"Ini sudah malam, Nathan."

"Ayolah, Anna. Aku lapar," ucapnya semakin memelas.

"Baiklah," aku mengalah.

Aku memang merasa aneh dengan keinginan kakakku ini.

Tapi, akhirnya aku mengiyakannya dan menyelipkan kakiku di sandal.

Dan aku keluar diikuti Nathan menuju dapur.

Lorong menuju dapur begitu gelap dan panjang sehingga kami terpaksa meraba-raba dinding untuk mencari jalan ke tangga.

Kami menuruni tangga sambil berpegangan pada pagar tangga.

Cahaya redup dari luar menimbulkan bayang-bayang biru di ruang duduk.

Angin musim gugur masuk melalui ventilasi dan menggesek kulit kami menembus piyama.

Dingin.

"Aku tidak pernah terbiasa dengan rumah ini," Nathan mengeluh pelan di belakangku. Aku juga, batinku.

Kami sampai di dapur.

Cahaya bulan keperakan menembus tirai yang menutupi jendela dapur.

Dalam suasana yang remang-remang ini, perabotan tua kami tampak seperti sosok-sosok hantu.

Aku mulai meraba-raba untuk mencari sakelar lampu.

Tapi, gerakanku terhenti ketika melihat sosok gelap yang membungkuk di meja dapur.

Nathan juga melihatnya.

Aku mendengar Nathan menahan napas.

"Ayah? Ayah masih bangun?" aku bertanya, "kenapa Ayah duduk dalam gelap begini?"

Hening.

Tanganku menemukan sakelar.

Aku segera menyalakan lampu dapur.

Deg.

Sosok itu...

Aku dan Nathan sama-sama memekik.

Aku segera mengenali jubah hitam itu. Aku bahkan tak perlu melihat wajahnya.

Jeremy duduk di meja dapur.

Ia duduk membungkuk sambil bertopang dagu.

Nathan dan aku maju pelan-pelan. Aku bergerak ke sisi meja.

Boneka itu menatapku, senyum di wajahnya terkesan mengejek. Matanya menyorot dingin dan bengis. Bahkan roman mukanya membuat bulu kudukku berdiri.

"Kok ia bisa sampai di sini?" Nathan menelengkan kepalanya. Ia menatap boneka itu tajam, seakan-akan mengharapkan jawaban darinya.

Pertanyaan bodoh.

"Yang jelas, ia tidak mungkin jalan sendiri," jawabku sedikit kesal. "Kita harus mengembalikannya ke loteng, sebelum Ayah tahu hal ini."

"Tahu tentang apa, Anna?"

Oh, celaka!

Kami sontak menoleh, dan menemukan pemilik suara berdiri di depan pintu dan mengenakan piama di balik kimononya. Ayah.

Aku masih terdiam, saling melempar pandang dengan Nathan yang juga terdiam.

Ayah berjalan dalam diam mendekat ke arah meja makan.

Tangannya meraih sosok Jeremy di sampingku dan memegang tengkuknya.

"Barangkali salah satu dari kalian bisa menjawab pertanyaan ini? Aku mendengar suara-suara di bawah," Ayah menjelaskan. "Dan ketika aku turun untuk memeriksanya, aku menemukan ini."

"Bukan aku yang menaruhnya di meja!" seru Nathan tiba-tiba.

"Dan juga bukan aku!" ucapku tak kalah keras.

Ayah berpaling menatapku dan menghela napas.

"Aku tidak suka lelucon seperti ini di tengah malam buta. Kalian tahu Jeremy sedang ada dalam 'pengawasan' sejak masalah kemarin?"

"Tapi memang bukan kami, Yah. Sungguh!" ucap Nathan bersikeras.

"Aku tidak mau mendengar alasan lagi. Kalau sampai Jeremy kutemukan lagi tidak pada tempatnya, kalian berdua akan mendapat masalah besar."

"Tapi, Yah…" aku masih berusaha membela diri.

"Aku serius, Anak-Anak! Kalau Jeremy diturunkan lagi dari loteng, kalian terancam tidak akan melewati liburan musim panas kalian!" Ia menyuruh aku dan Nathan kembali ke kamar. "Ayo, kembali ke kamar masing-masing. Sekarang juga. Dan jangan membantah!"

"Tapi, Ayah percaya atau tidak padaku?" Nathan bertanya dengan nada memaksa.

"Aku tidak percaya Jeremy bisa jalan-jalan sendiri," jawab Ayah tegas. "Sekarang diam dan tidur lagi!"

Ayah menyusul aku dan Nathan yang telah bersiap untuk kembali ke kamar. Kemudian ia berbelok dan menaiki tangga loteng untuk mengembalikan Jeremy.

Aku mengucapkan selamat tidur kepada Nathan, dan menuju kamarku.

Aku mengantuk, kesal, khawatir, dan bingung-semuanya sekaligus.

"Aku benar-benar tidak habis pikir dengan boneka itu. Aku bahkan mulai berpikir kalau boneka itu hidup," keluhku pagi ini di sekolah.

Pintu-pintu locker dibuka dan dibanting menutup ketika anak-anak menjejalkan mantel-mantel ke dalamnya, dan mengambil buku-buku serta catatan-catatan yang mereka butuhkan untuk mengikuti pelajaran. Tak perlu terburu-buru. Masih dua puluh menit sebelum pelajaran dimulai.

"Hati-hati, Anna. Siapa tahu cerita horor tentang boneka ventriloquist yang bisa hidup itu benar." Greta sahabatku berucap sambil mata aquamarine-nya menjelajah dalam locker-nya.

"Cerita horor? Apa maksudmu? Aku belum pernah dengar?" tanyaku beruntun. Aku masih terpaku di depan locker-ku tanpa ada niat untuk mulai membukanya.

Greta menutup locker-nya dan menatapku.

"Jangan bilang kau belum pernah mendengar tentang cerita itu," nada suara dan tatapannya seolah mengatakan –cerita ini sama terkenalnya dengan Madonna-. Dan aku kuno sekali tidak mengetahui hal ini.

Namun, aku mengabaikan tatapan itu dan menggelengkan kepalaku, "Aku memang belum tahu."

Greta tak menjawab, ia justru berbalik dan berhenti di sebelah keran air minum yang tepat berada di samping locker-nya. Ia mengeluarkan cermin dan memoles lipstik pada bibirnya yang menurutku sudah sempurna. Aku menunggunya dengan sabar dan tak lama gadis ber-make-up sempurna itu menatapku lagi.

"Ini cerita lama, bahkan Ibuku mendapat cerita ini dari neneknya, dan neneknya mendapat cerita ini dari neneknya juga. Jadi, ini cerita yang sudah turun-temu–"

"Langsung ke ceritanya saja," potongku cepat.

"Iya-iya," omel Greta yang kalimatnya kupotong. "Dulu saat pertunjukkan ventriloquist sangan disukai orang, di wilayah ini terdapat seorang ventriloquist yang sangat hebat dan terkenal. Lidahnya sama sekali tidak bergerak saat bermain. Tapi, saat dia melakukan pertunjukkan besarnya, seorang anak nakal mengatakan bahwa dia bermain sihir, dalam artian boneka yang dia mainkan itu benar-benar hidup. Sang ventriloquist pun terdiam, mungkin tersinggung atau entahlah, tapi beberapa saat kemudian, boneka yang ada di pangkuannya menatap anak itu tajam sambil berkata, 'anak nakal harus mati!'."

"Lalu, apa yang aneh dari kisah itu?" tanyaku tak mengerti. "Itu hanya lelucon, kan?"

Greta kembali memutar bola matanya bosan dan menatapku tajam,"Oh benarkah hanya lelucon? Karena beberapa hari setelah pertunjukkan anak tersebut menghilang dan tidak pernah ditemukan. Sampai sekarang."

Aku tersenyum, "Itu pasti hanya kebetulan."

"Hah, kau memang keras kepala. Mungkin saja hanya kebetulan, tapi kau tahu, cerita yang beredar mengatakan bahwa anak itu diubah menjadi boneka… dalam keadaan hidup-hidup," Greta memajukan wajahnya dan berbisik tepat di telingaku, "bisa saja dia sekarang bangkit untuk balas dendam dalam wujud… Jeremy…"

"Jangan bercanda, Greta!" teriakku keras. Sementara Greta hanya menarik kepalanya sambil terkekeh.

"Sayangnya ini bukan April Mop, Anna. Jadi ya… berhati-hatilah, Queen of Trick."

Aku mendengus dan mengabaikan Greta yang masih terkekeh di sampingku. Mulai bersiap untuk membuka locker-ku ketika kurasakan langkah seseorang yang sangat kukenal terdengar di belakangku dibarengi oleh teriakan keras.

"Annaa!"

Si bodoh, Nathan.

Aku berbalik dan bersedekap menatap cowok yang kini terengah-engah di depanku.

"Apa?" tanyaku tajam.

"Kenapa kau berangkat duluan?"

"Hah, kau berlari sampai sekolah?" pertanyaan retoris, aku tahu. Kulepas tangan dan kembali memunggunginya. "Aku bisa terlambat kalau menunggumu menghabiskan sarapanmu."

"Aku kan tidak lama. Lagipula tidak ada salahnya 'kan kalau berangkat bersama?"

Protektif atau memang Nathan seperti anak kecil? Entahlah.

"Tidak apa-apa juga sih, hanya saja… aku malas menghadapi-,"

"KYAAAA NATHAN!" sebuah teriakan memotong kalimatku.

"Penggemarmu!" lanjutku sambil tersenyum sinis.

Aku melanjutkan membuka locker, meninggalkan Nathan yang kini pasti akan mulai disibukkan dengan teriakan gadis-gadis yang berkerumun hanya untuk menanyakan hal seperti 'kau sarapan apa?', 'apa bekalmu hari ini?', dan pertanyaan tidak penting lain. Huh, menyebalkan!

Sepertinya aku memutar kombinasi locker-ku terlalu cepat gara-gara kegaduhan ini.

Hah, aku harus mengulanginya lagi.

Satu.

Empat.

Satu.

Kunci terbuka dengan bunyi klik.

Aku membuka pintunya.

Macet.

Aku menariknya lebih keras.

Masih macet.

Kenapa ini?

Coba lagi.

Berhasil.

Pintu di depanku terbentang. Hampir mendorongku ke arah fans Nathan di belakangku.

"Kyaaaa!" kurasakan teriakan keras meluncur dari bibirku.

Aku terkejut dan reflek meloncat ke belakang.

Menabrak satu -beberapa- penggemar Nathan.

Sebuah tangan terjulur ke luar locker.

Kemudian tangan satunya.

Diikuti sebuah kepala berambut merah.

Merah?

Sesosok anak lelaki.

Sosok itu terjatuh ke depan, tepat di bawahku.

Takut-takut aku menatap bagian atas kepalanya.

Darah yang kental, hitam, dan lengket, keluar dari sela-sela rambutnya.

Rambut yang tidak asing.

Mengabaikan keheningan di sekitarku, ragu-ragu aku membungkuk untuk melihat lebih dekat. Kepala itu melongok ke samping memperlihatkan wajahnya.

Wajah yang sangat familiar.

Wajah Andrew.

"Oh, tidak!" Greta meraung. "Tidak!"

"Ia mati!" Nathan terkejut. "Andrew mati!"

"Bagus kalau begitu!" aku kembali tegak dan bersedekap. "Aku tidak termakan lelucon konyol ini. Tidak sama sekali."

Semua orang tertawa kecuali Andrew yang masih tergeletak di lantai.

Kesal, aku menyepak Andrew dengan ujung sepatuku.

"Kau bisa berdiri sekarang, Tuan Muda! Kau sudah memperoleh tawamu untuk hari ini."

"Ayo, akuilah!" Greta tertawa setengah memaksa. "Kau terkejut tadi. Kami berhasil menipumu, Queen of Trick!"

"Well, kau juga akan terlonjak seandainya ada orang keluar dari locker-mu," ucapku jengkel.

"Kenapa kau lama sekali?" Andrew bangkit dan terengah-engah. "Aku sekarat di sana."

"Aku muak dengan lelucon ini. Bagaimana jika kau terjepit?" aku menatap Andrew kesal. "Bagaimana jika kau benar-benar mati lemas sebelum aku membuka locker ini?"

Lelaki berambut merah itu—Andrew–menatapku lembut, "Udara bisa masuk melalu celah-celah kecil itu."

"Tapi tetap saja berbahaya," aku mendekat ke arahnya, membantu membersihkan seragamnya dari debu. "Sekarang kau harus membersihkan semua ini." Aku menunjuk kepalanya.

Andrew kelihatan terkejut ketika aku meraih lengannya dan menyeretnya. Begitu juga Nathan yang ingin berteriak tapi ditahan oleh para penggemarnya.

Aku menyeret Andrew menuju kamar mandi sekolah, menghindari amukan Nathan yang kini disibukkan oleh para fans girl-nya di koridor. Sementara sang korban seretanku hanya diam mengikuti langkahku. Hah! Mungkin memang hal yang aneh diriku yang dikenal seperti monster bisa takluk pada pemuda nan stoic ini.

Ya, Andrew sang pangeran sekolah yang dingin adalah kekasihku. Hal ini jugalah yang membuatku berbeda dengan Nathan, yaitu tidak disibukkan dengan penggemar setiap pagi.

"Darah apa itu?" tanyaku setelah berada di dalam kamar mandi. Aku menatap Andrew melalu cermin di atas wastafel.

"Darah untuk teater," jawabnya singkat. "Di kemasannya tertulis ini bisa dibersihkan dengan air. Kuharap benar begitu."

Aku terdiam menatap Andrew yang menundukkan kepalanya dan mulai mencuci rambutnya menggunakan air keran yang dingin. Air yang telah melewati kepala Andrew terlihat berwarna merah kehitaman. Beruntung warna darah itu kehitaman, karena rambut Andrew sendiri sudah berwarna merah terang, jika darah itu juga berwarna merah terang, tentu akan sia-sia di rambut Andrew.

Aku mengeluarkan sapu tangan dari tasku dan mulai membantunya menyeka tetesan air di kepalanya.

"Merepotkan saja. Kau tidak bawa handuk?" ucapku di sela-sela kegiatan mengeringkan rambutnya.

"Tidak," jawabnya singkat.

Aku menghentikan kegiatanku dan menatapnya, "Kita terlambat lebih dari lima belas menit di pelajaran ."

Andrew hanya terdiam menatapku.

Tak lama dalam kegiatan saling melempar pandang dalam diam, Andrew mengalah dan mulai memalingkan wajahnya. Dia berbalik dan berjalan ke arah pintu.

"Mau kemana?" aku segera memasukkan sapu tanganku dan mengejarnya.

Andrew tak menjawab.

Hanya melangkah dalam diam. Dari arahnya, aku tahu dia mengajakku ke gedung olahraga.

Sport hall terlihat kosong, tak ada yang olahraga pada jam pertama ini. Jam pertama? Oh ya, haruskah kuberitahu? Ya, aku -tepatnya kami- membolos jam pertama. Jangan berpikiran buruk, aku tak bisa memikirkan trigonometri dengan kondisi seperti ini. Jadi, buanglah jauh-jauh pikiran bahwa aku anak yang hobi membolos. Hei, aku bukan Nathan. Camkan itu!

Tanpa membuang waktu aku segera menghempaskan diri di atas bangku beton di sisi sport hall. Diikuti Andrew yang tanpa suara mengambil tempat di sampingku.

"Jadi, apa yang membuatmu mendadak menjadi jahil begitu, Andrew?" aku menatap pemuda berambut merah itu tajam.

Sementara yang jadi sasaran emerald-ku hanya memutar jade-nya bosan. Cih! Seandainya dia tak setampan ini, pasti pukulanku sudah menyentuh kulit porselennya.

"Andrew!" aku memberi tekanan penuh pada kalimatku.

"Kenapa kau terkejut, Anna? Bukankah kita juga sering melakukan permainan ini?"

Surprise! Ini adalah salah satu kalimat terpanjang dari Tuan Berambut Merah. Dan ya, kami memang sering melakukan permainan ini. Mengejutkan teman-teman kami, korban terakhir kami adalah Danny, cowok norak anak kelas sebelah. Dia tak pernah berani memasuki kamar mandi paling ujung, sejak dia menemukan Nathan mengambang dengan air memenuhi bath up berwarna darah. Kami menggunakan darah untuk teater juga saat itu, membuat permainan itu terlihat begitu nyata. Danny memang tidak marah pada kami, dia bahkan mengatakan bahwa hal itu adalah kejutan terbaik selama hidupnya. Tapi, tetap saja, pemuda berambut bob itu tidak berani memasuki kamar mandi yang tergolong paling mewah itu.

"Kali ini kau berhasil mengejutkanku, Andrew," ucapku sinis. Sempat kutangkap seringai kecil di ujung bibir pemuda tampan itu.

"Kau memang selalu terkejut, Anna…"

"Tidak! Aku tidak akan terkejut seandainya rambutmu tidak merah!"

"Hn, ada apa dengan rambut merah?" lagi-lagi jade itu menatapku tajam.

Reflek aku membekap mulutku.

Ya. Ada apa dengan rambut merah? Kenapa aku begitu sensitif dengan warna rambut merah?

"Anna?"

Perlahan aku memperbaiki posisi dudukku. Pandanganku jatuh pada lantai hitam di depanku.

"Ngg… Andrew, kau percaya cerita tua di Skew End?" tanyaku ragu.

"Tentang?"

"Ngg… tentang cerita boneka ventri… pembunuh."

"Hn…"

"Hei! Kau tidak khawatir pacarmu ini dalam keadaan bahaya?" aku melempar lirikan sebal pada Andrew. "Karirku terancam gara-gara cerita bodoh itu."

"Hn, kau terlalu memikirkan cerita itu!"

'Grep'

Aku berjengit ketika mendadak tangan pualam Andrew merengkuhku pelan.

Emerald-ku membulat menatapnya,"Kau membuatku tak bisa bernapas. Ngg… Andrew-hmmf!"

Kalimatku terhenti oleh kelembutan bibir Andrew yang mengunci bibirku.

Ciuman kami memanas saat kurasakan lidah Andrew semakin mendesak bibirku.

Deg.

Aku menghentikan ciuman kami. Dan melepas bibir Andrew.

"Ada apa?" Andrew menatapku tajam setelah aku melepaskan adegan panas kami secara mendadak. Aku menghiraukannya.

Jelas.

Pasti.

Aku melihat dengan jelas tadi.

Sosok berambut merah itu… Jeremy.

Tanpa memedulikan pertanyaan Andrew, aku berdiri dan segera berlari ke arah pintu. Memastikan sosok itu.

Aku tak mungkin berhalusinasi. Sosok itu pasti Jeremy.

Tapi, bagaimana boneka itu bisa di sini?

Nathan tak mungkin membawanya.

Apalagi aku…

Pandanganku menyusuri koridor panjang di gedung sekolah tua ini. Di sisi kanan-kiri terdapat pintu-pintu ruangan klub yang sepi saat jam-jam seperti ini.

Di mana dia?

Pintu-pintu ini tertutup.

Jeremy tidak mungkin bersembunyi di salah satu ruangan ini, bukan?

'Ruang Musik'…

Ruang yang biasanya berisik saat anggota klub berada di dalamnya, sekarang sunyi.

Tak ada suara…

Lima langkah ke depan.

Ruang klub melukis.

Kaca tembus pandang yang terpasang di jendela, menampilkan lukisan-lukisan di dalamnya.

Emerald-ku menemukan lukisan di tengah ruangan. Lukisan yang belum selesai. Hawa dingin menusukku tiba-tiba bersamaan dengan emerald-ku yang menatap penuh lukisan itu.

Deg.

Bulu kudukku meremang tanpa sadar.

Ruangan klub melukis.

Ruangan tempat anak-anak pendiam berada.

Bercinta dengan dunianya masing-masing saat goresan kuas meliuk di atas kanvas.

Perlahan, aku melepaskan mataku dan mulai beranjak meninggalkan ruangan itu kembali berselimut dengan atmosfernya, keheningan.

Enam langkah…

Seretan langkahku kembali terhenti, dan aku baru menyadari aku berhenti di depan ruangan yang tak kalah menyeramkannya dari ruangan sebelumnya.

Ruang klub peneliti misteri…

Bagus sekali!

Jika aku punya pilihan, satu-satunya tempat yang tidak ingin kukunjungi adalah ruangan ini. Yang isinya adalah anak-anak yang tak kalah misterius dengan misteri yang ditelitinya.

Pertama kali aku masuk ruangan ini adalah hari pertamaku masuk sekolah ini, saat pengenalan klub. Dan harapanku, hari itu juga menjadi terakhir kali aku masuk ruangan ini, semoga. Tapi, sepertinya harapan itu tidak berlaku untuk saat ini.

Aku memejamkan mata.

Apakah Jeremy di sini?

Kutarik napas dalam-dalam.

Ayolah, Anna.

Ini hanya ruangan yang berisi barang-barang aneh, sama seperti dulu.

Aku kembali menarik napas dan membuka sebelah mataku.

Entah kenapa, mendadak pintu hitam ini menjadi black hole yang siap menelanku.

Oke, aku berlebihan.

Tapi, ini kenyataan.

Diiringi keheningan dan hawa dingin yang mengitariku, aku meraih kenop pintu di depanku.

Ayo, Anna.

'Krieettt'

'Brak'

Deg.

Aku terlonjak.

Su-suara itu…

Bahkan aku belum memutar kenop pintu di depanku.

Dengan ragu-ragu aku menoleh ke belakang.

Dan menemukan… pintu ruangan di belakangku terbuka lebar.

Ruangan dengan papan di atasnya bertuliskan…

"Ruangan Teater"

Pintu hitam yang terbuka lebar memperlihatkan ruangan minim cahaya yang berantakan oleh kimono-kimono, aneka topeng dan wig palsu.

Hatiku mulai bercabang.

Masuk ke ruangan itu… atau tidak…?

Masuk…?

Tidak?

.

.

.

Tumpukan di atas meja menyambutku. Disusul dengan kostum-kostum yang tergantung di sisi ruangan.

Ruangan ini begitu hening.

Hening dan sesak dengan barang-barang aneh.

Mataku menyusur sekeliling dan berhenti pada satu sudut yang menarik perhatianku.

Aku berinisiatif mendekat.

Di sudut itu terdapat seonggok kain dengan sesuatu yang tersembul berwarna merah menyala.

Tidak mungkin Jeremy bersembunyi di balik kain itu 'kan?

Onggokan itu semakin menarik perhatianku.

Perlahan, tanganku terulur ke arah kain hitam itu.

'Srek.'

Deg.

"Kyaaa!"

Aku merasakan sepasang tangan mencengkram bahuku erat.

"Kau sedang apa di sini?"

Aku menoleh dan menemukan sepasang jade menatapku tajam.

"Andrew! Bisakah kau berhenti mengejutkanku?"

"Apa yang kau lakukan di sini, Anna?" Andrew mengabaikan protesku.

Aku memalingkan wajahku dan kembali menatap onggokan kain yang sempat terabaikan olehku.

"Aku hanya mencari Jeremy," aku menjawab tanpa menatapnya.

Tanpa bicara, Andrew berjalan ke sampingku dan membungkuk. Tangannya terjulur ke arah kain hitam itu, dan menyingkapnya.

"Ini hanya wig," ucapnya singkat dengan kain hitam tadi di tangan kanannya.

Mataku membulat menatap kain hitam di tangannya.

"Ahaha, kau benar," aku beralih menatap sesuatu di balik kain itu, wig warna merah menyala.

"Kita harus pergi dari sini. Kau tidak ingin bolos kelas , 'kan?" Andrew melempar kain itu dan beranjak keluar. Aku mengangkat bahu dan memilih menguikutinya.

"Kau pikir Jeremy ada di suatu tempat di sekolah ini?" aku melirik Andrew yang berjalan diam di sampingku. Andrew tak menjawab, hanya jade-nya yang melirikku bosan.

Huft. Andrew memang tak mengerti.

"Aku hanya membayangkan kalau dia muncul tiba-tiba di tempat yang tidak terduga. Di locker misalnya." Aku berhenti di depan locker dan mulai memutar kunci kombinasinya.

'Klik.'

Kunci terbuka dengan bunyi pelan.

Tak sabar aku segera membuka pintunya.

"Andrew…" panggilku pelan. "Jeremy ada di locker-ku…"

Gemericik air mengalun, memecah beku kesunyian yang menyelubungi kamar mandi bernuansa krem ini. Bersih. Setiap pori dinding dan lantainya cerah tanpa cela. Menunjukkan bahwa pemiliknya adalah orang yang cinta kebersihan.

Aku mengamati wajahku di kaca sambil mencuci tangan. Kelelahan terpancar jelas di wajahku.

Aku bersyukur masih ada yang mengundang kami untuk melakukan pertunjukkan. Ayah memang bilang bahwa tidak apa-apa jika kami nanti dilarang bermain lagi, tapi aku tahu keuangan kami tidak mengatakan hal yang sama. Walaupun sedikit, tapi pertunjukkan ini juga memberi income besar pada kehidupan kami. Pendidikanku dan Nathan. Dan bicara tentang Nathan, tak lupa dengan keinginannya. Ya, Nathan sangat ingin memiliki mobil sendiri. Dan uang hasil dari pertunjukkannya disimpannya untuk hal itu.

Huft.

Beruntung sekali, yang mengundang kami kali ini adalah Tuan Dalton, salah satu penduduk kaya di sini. James Dalton, anak berambut pirang seperti ayahnya kini tengah merayakan ulang tahun ke delapannya. Bisa kupastikan, bayaran kali ini akan meningkatkan tabungan Nathan secara tajam. Dan yang pastinya juga takkan ada masalah lagi. Jeremy sudah terkunci dengan rapat di kotaknya. Boneka itu takkan meneror acara kami kali ini. Walaupun aku tetap belum percaya, boneka itu hidup.

Ini hanya lelucon.

Lelucon dengan Jeremy sebagai alatnya.

Aku mencuci tanganku sekali lagi, dan mengeringkannya dengan sapu tangan yang kubawa.

Dan aku kembali memandang kaca buram di depanku. Kesunyian mengalun setelah nada-nada kucuran air berhenti.

Hening.

Kaca buram di depanku mendadak melukiskan seraut wajah lain, putih, dengan rambut merah lembut.

Tunggu!

Ra-rambut merah?

Itu bukan aku!

Sontak aku menolah ke belakang.

Dan…

Sepi.

Tidak ada siapa pun.

Jelas-jelas aku tadi melihat rambut merah itu.

Jeremy?

Aku berbalik dan menemukan pintu masih tertutup.

Aku sendirian. Tentu saja.

Kudorong pintu hingga terbuka –dengan ragu-ragu.

Dan kembali menjejak di koridor berlantai putih ini.

Sepi dan menakutkan.

Meski di dindingnya dihiasi lukisan-lukisan mahal.

Aku menutup pintu di belakangku dan mulai melangkah.

Aku berjalan pelan.

Ekor mataku melirik deretan lukisan di kanan-kiriku.

Lukisan-lukisan itu seolah bisa hidup dan siap menerkamku.

Termasuk lukisan seorang gadis pemerah susu di sisi kananku.

Mata cokelatnya menatapku tajam.

Gadis yang mengenakan gaun hitam berenda-renda itu seolah menyembunyikan pisau tajam dalam keranjang yang dibawanya, alih-alih kendi berisi susu.

Mendadak suasana tersa begitu sunyi.

Kemana orang-orang?

Aku bergegas berbelok menuju salah satu ruangan.

"Nathan!" panggilku keras. "Kau di mana?"

Aku tidak mungkin salah ruangan bukan?

Aku yakin ini adalah ruangan yang tadi. Tempat aku dan Nathan meletakkan boneka-boneka kami. Aku mengenali guci mahal dari daratan Cina di sudut ruangan di bawah lukisan para petani Norwegia.

Masih hening, tak ada jawaban.

Ayolah ini tidak lucu.

Jika ini lelucon, bukan aku yang sedang berulang tahun, jadi bukan aku yang seharusnya menjadi korban lelucon ini.

"Nathan!"

Aku mendengarkan sungguh-sungguh. Ruangan ini sunyi senyap.

Kemana orang-orang yang sedang berpesta tadi?

Boneka-bonekaku?

Rumah ini teramat besar.

Wajar jika aku salah ruangan.

Tapi, itu tidak mungkin.

Aku mengenali ruangan ini.

"Nathan!" panggilku belum mau menyerah. "Ini tidak lucu, Nathan! Hei, keluarlah!"

Percuma.

Suaraku memantul di dinding keramik kuning ini.

Emerald-ku memandang ke sekeliling. Ke atas meja di sisi ruangan yang kosong.

"Nathan! Hei, siapa pun!"

Gema suaraku sendiri yang menyahut, diekori oleh keheningan.

Tubuhku mulai meremang.

Ayolah, Anna.

Nathan dan yang lainnya ada di suatu tempat. Mereka akan tertawa jika tahu betapa takutnya kau sekarang.

Ketakutan?

Aku?

Hanya karena seorang –boneka ventri- membunuh Moegi?

Kenapa aku harus takut?

Tubuhku merinding lagi.

Aku memutuskan keluar dari ruangan ini dan kembali ke koridor yang penuh dengan lukisan.

Tak ada masalah.

Tak ada yang perlu dicemaskan.

Aku hanya salah ruangan.

Koridor itu tak berubah.

Aku berjalan beberapa langkah, dan sejenak aku merasa tersesat.

Di mana pintu menuju ruangan selanjutnya?

Aku menggeleng-gelengkan kepalaku.

Dan melihat pintu itu.

Di samping kiriku.

Aku membelok.

Tiba-tiba, kakiku terpeleset di lantai yang licin.

'Brugh.'

Aku jatuh.

Mendarat keras di atas lantai keramik

Aku merasakan tanganku basah oleh cairan.

Damn!

Siapa yang menjatuhkan minuman di atas lantai seperti ini.

Namun ketika aku menatap tanganku. Aku tak menemukan warna limun yang bening di tanganku.

Aku menemukan warna pekat, merah. Darah.

Da-darah?

'Tes, tes, tes!'

Deg.

Aku merasakan cairan hangat jatuh di pipiku.

Aku mengusapnya.

I-ini juga merah.

Aku menegadah, dan-

"KYAAAAAAA!"

.

.

.

Sesosok tubuh kecil tergelantung di atasku.

Kulit punggungnya sobek karena kait besi yang menahan tubuhnya.

Di kedua tangannya terpasang kait yang sama, tepat menembus telapak tangannya.

Darah menetes-netes, dari dadanya yang berongga.

Terlihat tulang rusuk yang kosong tanpa isinya.

Dan kepalanya… kepalanya…

Kepalanya terpuntir di lehernya.

Menghadap ke atas, berputar 180 derajat.

Aku mengenali rambut pirang itu.

James Dalton.

Aku beringsut mundur hingga membentur dinding dingin di belakangku.

Aku tidak ingin melihat dan menutup mataku rapat-rapat.

Berharap Nathan segera datang. Atau siapa pun.

Aku tidak ingin melihat ini sendirian.

Tubuh telentang di atasku.

Kepala terpuntir.

Tapi aku tidak bisa berpaling.

Aku tidak bisa mencegah diriku untuk tidak membayangkan apa yang terjdi.

Dada berlubang.

Kulit punggung yang sobek.

Tulang leher yang patah.

Aku yakin ini bukan lelucon.

Nathan….

Cepatlah datang…

'Brug'

Sesuatu yang berat menimpa tubuhku.

Perlahan aku membuka mataku.

"KYAAAAAAA!"

Jeritanku kembali memecah hening melihat sosok yang tepat berada di atas tubuhku.

Sosok ini…

"Je-Jeremy…"

Boneka itu menatapku dengan mata cokelatnya yang besar.

Dalam jarak sedekat ini, wajahnya terlihat begitu kejam, alih-alih tampan.

Aku memalingkan wajah dan berusaha menyingkirkan boneka itu. Namun, mendadak sesuatu yang dingin merengsek di sela-sela jemariku.

Ya, Tuhan! Boneka ini mencengkram tanganku.

Mati-matian aku berusaha melawan ketakutan dan menatapnya.

Ini hanya boneka Anna.

Hanya boneka.

Tapi, Jeremy mengedipkan mata ketika emerald-ku bertatapan sepenuhnya dengannya.

'Srek.'

Deg.

Su-suara apa itu?

'Srek, srek, srek.'

Langkah seseorang.

Aku masih berusaha lepas dari cengkraman Jeremy. Kedua tanganku sudah mulai berkeringat. Tengkukku pun pegal.

'Srek'

Aku menahan napas ketika suara langkah itu mendekat.

Kusadari itu bukan suara boneka. Itu suara langkah sesorang. Manusia.

Apakah itu Nathan? Kumohon siapa pun segera bebaskan aku dari kondisi ini.

Rasanya ingin berteriak dan melompat sekuat tenaga. Tapi Jeremy seolah bisa membaca pikranku. Dan dengan tatapan mata cokelatnya, dia seolah memasung semua niatku.

"Arghh!" aku mengerang kesakitan ketika kurasakan tangan kayu Jeremy semakin erat mencengkram jemariku. Gesekan dengan tangan kayunya yang lecet, menularkan kelecetannya padaku. Tubuh mungilnya yang kokoh menekan dadaku erat, menguncinya, membuatku kesulitan bernapas. Wajahnya yang tepat di depanku, terlihat kosong. Kosong yang menakutkan.

"Na… Nathan…"

Aku berusaha menarik tanganku. Tapi ia terlalu kuat. Sangat kuat. Cengkramannya bertambah keras, sampai-sampai darahku serasa tak mengalir. Bahkan aku sang Queen of Puppet and Trick pun tak pernah merasa setakut ini.

"Srek'

Lagi-lagi langkah itu. Kumohon cepatlah!

Aku tak sanggup membebaskan diri. Dan nyerinya minta ampun, menjalar ke seluruh tubuhku.

Tapi cengkramannya bukannya mengendur malah semakin kencang. Sejenak terlupakan di bawah apa aku berada sekarang. Aku mencoba berdiri, tapi genangan darah di bawahku membuat lantai begitu licin. Lututku mulai tertekuk,dan aku terjatuh lagi di lantai. Gaunku mulai berubah pekat dan bau anyir. Aku bersiap untuk menyentak tubuh boneka itu, ketika…

"Anna!"

"Miss William?"

Gawat!

Nathan dan Tuan Dalton menemukanku bergelut dengan Jeremy di bawah mayat anaknya!

Ayah terduduk di depanku dengan wajah memerah. Jelas sekali dia sedang marah. Ya, Ayah memang marah besar mendengar apa yang baru saja terjadi.

Pembunuhan lagi.

"Apa lagi yang harus kukatakan pada orang-orang itu?"

Entah siapa yang paling tepat menjadi sasaran kemarahan Ayah.

"Jelas-jelas boneka tidak bisa membunuh. Boneka itu tidak akan berbicara apalagi bergerak tanpa seorang ventriloquist. Dan kalian juga bukan pembunuh. Jadi, siapa yang melakukan semua ini?"

Aku terdiam, tanpa berani menatap ataupun membalas kalimat Ayah. Bisa kurasakan juga Nathan yang sesekali melirikku dalam tunduknya.

Sementara Ibu juga hanya mampu terdiam di samping Ayah. Walaupun Ayah jarang marah, tapi saat marah, bisa berkali lipat lebih tajam daripada Ibu. Karena itu kami tidak cukup bodoh untuk menyela kemarahan Ayah seperti saat ini.

"Dasar orang-orang bodoh!"

Ayah benar kali ini. Dua pembunuhan yang terjadi di Skew End mulai dihubung-hubungkan dengan kegiatan kami. Terutama setelah mereka menemukanku dan Jeremy tepat di bawah mayat James.

"Kenapa Jeremy ada di tempat itu? Seharusnya kalian tidak membawanya. Sekarang Tuan Dalton benar-benar marah."

Apa yang harus kami lakukan? Berurusan dengan Tuan Dalton jelas bukan perkara yang mudah. Siapa pun tahu, Tuan Dalton adalah orang yang paling berpengaruh di sini. Dia kaya, bukan? Dan orang kaya selalu punya posisi istimewa, untuk sebuah propaganda. Apalagi hanya untuk menyingkirkan satu keluarga seperti kami.

Hancur sudah karir kami.

Malam ini aku kembali dihantui mimpi buruk tentang boneka-boneka itu. Tidur dalam kondisi tak tenang memang bukan pilihan yang baik.

Aku melihat para boneka itu menari-nari dengan pisau di tangan mereka.

Menari di atas meja. Menari di atas lantai tergenang darah.

Aku melihat Helen berdansa dengan Arthur. Laugy bergoyang-goyang dengan dua pisau teracung-acung di tangannya.

Dan Jeremy boneka baru itu, mengangguk-angguk melihat tingkah para boneka lainnya.

Tangan yang memegang pisau itu terangkat tinggi-tinggi. Kaki mereka menekuk dan bergoyang.

Mereka menari dalam keheningan.

Tanpa iringan musik.

Bahkan tanpa suara sedikit pun.

Roman muka mereka tidak berubah.

Mereka saling menatap dalam pandangan yang kosong.

Mereka bergoyang dan berayun, berputar dan melenggang.

Terus menari di atas pekat darah dan potongan tubuh.

Mereka menari di atas potongan tubuh Ayah, Ibu, dan Nathan dalam keheningan.

Tapi, di mana posisiku?

Di mana aku sekarang?

Perlahan, kulihat Jeremy menunduk dan mengayunkan pisau tajamnya pada dada Nathan yang sudah tak bernyawa.

Aku ingin berteriak, tapi mulutku seolah tersumpal, menghalangi pita suara untuk melakukan tugasnya.

Mendadak pemandangan itu meredup saat aku mulai terjaga.

Benar-benar mimpi.

Perlahan aku membuka mata, dan terbangun.

Namun, aku merasakan sesuatu yang berat lagi-lagi berada di atasku.

Dan juga sepasang tangan dingin yang mencengkram erat leherku.

Aku membuka mataku dengan sempurna.

Dan kulihat wajah Jeremy yang tepat berada di depanku.

Terlihat begitu jahat dalam keremangan kamarku.

Desau angin malam di musim gugur terdengar pelan, saat emerald-ku bertatapan intens dengan mata cokelat besar miliknya.

Ia benar-benar ada di atasku, menduduki selimutku.

Dan tangannya yang besar meraih leherku.

Aku mencoba membuka mulut dan berteriak.

Nihil.

Cengkraman tangan kayu itu semakin menguat.

Mencoba memutus napas dan memasung suaraku.

Bibirnya tertarik sedikit, membentuk seringai jahat alih-alih tersenyum.

Oh Tuhan! Jeremy benar-benar hidup!

'To-tolong…'

.

.

.

.

.

.

BERSAMBUNG...