Pagi ini, langit musim panas begitu cerah. Tanpa ada gula kapas yang berarak di bawahnya.

Pohon-pohon bergoyang histeris tersentuh angin yang nakal. Beberapa burung berteriak mengusik kesunyian.

Pagi yang sempurna, dengan matahari yang tersenyum dari singgasananya.

Dan hal inilah yang membuat Putri begitu bersemangat untuk melangkah menuju St. Joseph Senior High School, sekolahnya. Putri Anastasia Winata adalah nama lengkapnya. Seorang gadis ceria, pintar, dan juga Ketua OSIS di St. Joseph Senior High School ini.

Ketika Putri sudah sampai di sekolah, langkahnya terhenti di depan kantor Kepala Sekolah. Iseng-iseng Putri melirik ke dalam ruangan. Dan gadis berambut sehitam kayu ebony itu melihat sesosok anak laki-laki, berambut pirang. Tapi, Putri tak ingin ketahuan oleh Mister Alfred, kepala sekolahnya yang galak itu, akhirnya memilih untuk melanjutkan langkah. Lagipula, Putri juga tak begitu peduli.

Hei, benarkah begitu?

"Put!"

Putri menoleh ketika mendengar seseorang memanggilnya. Dilihatnya Greta, sahabatnya, berlari mendekat.

"Tunggu dulu!" lanjutnya lagi.

"Ada apa?" tanya Putri seraya menghentikan langkahnya.

"Tidak ada apa-apa... Aku cuma kangen sama kamu," jawab Greta sambil tersenyum manis.

"Oh, aku memang ngangenin hehehe," ucap Putri narsis, "Eh iya, kamu tahu nggak siapa cowok yang ada di ruang Kepala Sekolah sekarang?"

"Siapa? Anak baru itu mungkin."

"Anak baru? Cakep nggak? Uh, aku tadi tidak sempat melihat orangnya." Putri penasaran.

"Nggak tahu," jawab Greta singkat.

"Pindahan darimana? Kelas berapa?" Putri bertanya beruntun. Bola mata berwarna karamelnya menatap Greta, menuntut jawaban.

"Aduh, Put sayang. Kau itu bertanya terus dari tadi. Dia pindahan dari UK, kelas , dan kalau aku tidak salah dengar, dia saudara Mr. Antonio," terang Greta panjang, dia menatap Putri jengkel.

"Nah kan, kau tahu juga. Aku penasaran. Namanya siapa?" Putri menggembungkan pipinya, seolah tak mau tahu pada kejengkelan Greta.

"Nggak tahu. Tanya saja Mr. Alfred atau Mr. Antonio, apa ke cowok itu langsung," jawab Greta sewot.

"Ih, tidak ah."

"Kenapa? Katanya kamu penasaran..." goda Greta.

"Malu, Grey."

"Malu? Kalau kamu sih tidak malu, tapi malu-maluin, hahaha!" ejek Greta seraya berlari meninggalkan Putri.

"Cewek abu-abu, jangan lari kau!" teriak Putri kencang. Ia memang terbiasa memanggil Greta dengan 'Grey' yang artinya abu-abu. Dan nyatanya gadis abu-abu itu tak peduli dan terus saja berlari menjauh.

'Sial' umpat Putri kesal.

Kantin di SSHS begitu ramai ketika Putri masuk ke dalam.

Penuh dengan anak-anak yang makan siang sambil berceloteh dengan teman-temannya. Tak lupa dengan ocehan anak yang tawar menawar harga sesendok kecap. Please deh, ini sekolah bertaraf Internasiaonal, kenapa masih ada anak yang menerapkan system pasar di sini. Ternyata apa pun taraf sekolahnya, jiwa irit *baca: pelit* mereka tidak bisa hilang. Huh.

"Eh, itu anak barunya," suara seorang anak perempuan terdengar di belakang Putri. Membuat gadis eboni itu mengalihkan pandangannya dari seorang siswa yang tengah merayu petugas di bagian dessert. Entah merayu untuk apa. Secuil pudding? Hanya Tuhan dan mereka yang tahu.

"Mana? Siapa namanya?" sahut suara lain.

Putri hanya melirik kedua anak tadi tanpa minat.

"Namanya Nathan. Sstt... dia datang," cewek pertama, yang Putri tahu bernama Margaret, berkata lagi. Putri tidak peduli.

Tapi, ketika dia ingin mengambil sandwich, sesosok tubuh berambut pirang yang lewat di depannya, menghentikan langkahnya. Ditatapnya sosok yang bernama Nathan itu.

"Put." Greta tiba-tiba sudah berada di belakang Putri.

"Kenapa bengong? Kau suka Nathan ya?" lanjutnya lagi.

Putri menatap Greta, sebal, "Suka? Yang benar saja, Grey. Baru juga aku melihatnya."

"Yah, siapa tahu saja. Lagipula, kau suka yang baru-baru juga kan," olok Greta sambil tertawa renyah.

"Tidak. Lagian siapa tadi namanya? Nathan? Alien ya, hohoho," ucap Putri jahil.

"Namanya itu 'Nathan Sebastian River, keren, kan? Dia adalah Pangeran tampan dari UK yang terdampar di sini."

"Namanya saja yang keren," komentar Putri acuh. "Bukannya terdampar, tapi dibuang."

"Hei, jangan begitu. Jangan-jangan nanti kau suka padanya," goda Greta lagi. Enak sekali Putri itu mengatai makhluk setampan Tom Felton dengan wajah di usia lima puluh tahun mendatang itu dengan pangeran buangan. Ih, dasar norak.

"Tidak mungkin," kata Putri seraya beranjak pergi, dia tidak jadi makan.

"Hei, tunggu! Lihat saja nanti, kau pasti akan jatuh cinta pada Alien itu!"

"Berisik, Grey!"

"Aku tidak pernah menuntut apa-apa darimu, tidak pernah! Tapi, kali ini saja, aku meminta. Aku meminta, Adam. Adam Danuwijaya, Tuan Sok Sibuk!" suara Putri terdengar kencang di apartemennya. Di depannya, sosok lelaki terdiam angkuh menatapnya. Lelaki itu Adam, kekasihnya. Siang ini, Adam sedang mengunjungi Putri. Dan, tentu saja, atas permintaan Putri. Kalau tidak, mana mau cowok ini mengunjungi Putri. Walau hubungan mereka telah berjalan enam bulan.

"Adam, jawab aku. Kali ini saja, aku mohon," lanjut Putri lagi.

Adam menghela napas, "Hn, apa?"

Putri menatap Adam, nanar.

"So-sorry, Adam, aku hanya ingin kau ada di sampingku, saat aku ada masalah, saat aku ingin kau ada. Tapi, kau hampir tidak pernah melakukan hal itu, kau terlalu dingin dan tak peduli. Kau anggap semua itu sepele. Aku tahu kau sibuk dengan kuliahmu. Tapi, apa itu berarti kau tidak ada waktu untukku?" tuntut Putri panjang.

"Tolong, mengerti aku, Put," jawab Adam pelan. Mata hitamnya menatap Putri, tajam.

"Aku sudah melakukan semua itu, Adam. Hingga kadang aku berpikir bahwa hubungan kita berjalan timpang, hanya sepihak." Putri membalas tatapan Adam. Laki-laki tampan itu terdiam, tak ingin repot-repot merangkai frasa untuk gadisnya.

"Aku hanya butuh sedikit perhatian darimu, jika aku tak bisa meminta banyak, " ucap Putri akhirnya.

Putri tahu, sia-sia dia mengatakan semua ini pada Adam. Adam tidak akan mengubah sikap dingin dan tak pedulinya. Walau Putri memohon. Bukan hal yang aneh bukan jika akhirnya Putri berpikir bahwa hubungan ini hanya sepihak.

Mendung masih menggelayuti wajah cantik Putri pagi ini. Pertemuan dengan Adam kemarin, yang tidak menghasilkan apa-apa membuatnya down. Gadis berambut ebony itu melangkah dengan wajah lesu melewati ruang-ruang kelas. Dia menunduk, ketika seseorang menepuk bahunya, ditolehnya sosok Greta yang memasang wajah penasaran di sampingnya.

"Ada apa?" tanya Putri pelan.

"Aku yang seharusnya bertanya 'ada apa'," jawab Greta singkat.

Putri menghela napas, pelan, "Tidak ada apa-apa, Grey..."

"Jangan bohong, wajahmu tidak bisa menipu. Mau cerita?" tawar Greta.

"Tidak, karena memang tidak ada yang harus kuceritakan." Putri masih bersikukuh dengan sikapnya.

"Ayolah. Pasti karena 'Adam', kan?" tebak Greta tepat sasaran.

"Bukan," elak Putri.

"Put, berhentilah berbohong dariku," desak Greta. Ditatapnya Putri tajam. Sementara Putri hanya menunduk, tak mau menatap Greta.

"Nahkan, betul. Ada apa lagi dengan Paangeran Es itu? Kau ditinggal selingkuh dengan gadis di kampusnya?"

"Bukan..."

"Lalu?"

"Aku hanya ingin dia peduli padaku. Dan sedikit bersikap hangat padaku. Tapi, dia tidak pernah berubah," terang Putri pelan.

"Dia memang begitu," komentar Greta pendek. Greta sudah paham betul bagaimana sikap sosok yang menjadi kekasih dari sang Princess di sampingnya ini.

"Ya, dan aku lelah dengan semua ini," pandangan Putri beralih menatap lapangan di depannya, nanar. Angin yang nakal menerbangkan anak rambutnya.

"Kenapa tidak kau putus saja?" saran Greta tiba-tiba.

"Tidak semudah itu... Ayo kita harus segera ke kelas!" Putri melanjutkan langkahnya. Sementara Greta hanya terdiam dan mengikuti langkahnya.

Bel berbunyi ketika keduanya sampai di depan pintu kelas mereka. Putri berhenti dan menepuk bahu Greta pelan, seraya berkata, "Aku baik-baik saja..."

"Tapi..." ucap Greta skeptis.

"Aku gadis kuat..." ucap Putri, dan dia pun berjalan menuju mejanya. Greta akhirnya menyerah dan memilih mengikutinya.

"Put! Kenapa kau menyeretku ke kampus ini!" Greta hanya bisa mengomel ketika Putri mengajak -memaksanya- menuju ke universitas Adam.

"Ayolah, Grey~. Aku hanya ingin menemui Adam. Lagipula, siapa tahu nanti kau juga bisa bertemu Arnold," ujar Putri mencoba merayu dengan menyebut nama Arnold, cowok yang ditaksirnya. Wajan Greta memerah mendengar nama 'Arnold' disebut.

"Ta-tapi, bukan beg-Ah! Itu kan Adam!" Greta menghentikan rontaannya.

"Mana?" Putri mengikuti arah pandangan Greta.

"Adam-Eh, ah!" Putri menatap tak percaya. Di depan mereka, tepatnya di samping Ferrari hitam yang terparkir, terlihat sosok pemuda yang sedang-ah berciuman dengan seorang gadis berambut blonde. Walau wajahnya tidak terlihat, karena membelakangi Putri. Tapi, Putri yakin, pemuda itu adalah Adam. Kepala Putri berdenyut menyakitkan.

Sementara Greta menatap Putri khawatir, "Put... Kau baik-baik saja, kan?"

Putri menunduk, menahan kristal-kristal yang ingin menyeruak dari permatanya.

"Ayo, kita pergi, Grey," ajak Putri serak.

"Tapi. Kita tidak ingin mendek-Hei, tunggu!" akhirnya,Greta hanya berbalik dan mengikuti langkah Putri yang tergesa menuju mobilnya.

"Princess, kau melamun lagi!" Greta mengagetkan Putri yang termenung di bangku yang ada di depan kelas mereka.

"Siapa yang melamun?" ucap Putri tanpa menoleh pada Greta yang ikut duduk di sampingnya.

"Kau memerhatikan siapa, sih?" tanya Greta penasaran.

"Bukan siapa-siapa kok," jawab Putri kalem.

"Bohong ah! Kau kan tidak pandai berbohong, Put!" Greta tidak percaya, matanya mengikuti arah pandangan Putri,

"Hahaha, kau memperhatikan Nathan, kan?" lanjut Greta sambil tertawa keras setelah menemukan arah pandangan Putri.

"Bu-bukan, Greta." elak Putri cepat.

"Dia manis lho, ramah dan jago basket," puji Greta, ekor matanya melirik Putri.

"Menarik atau tidak, hal itu tidak ada pengaruhnya bagiku."

"Maksudnya?" Greta pura-pura telmi.

Putri belum menjawab, dia justru berdiri dan bersiap melangkah,

"Maksudnya ayo sekarang kita rapat OSIS!"

Aku menatap Nathan, yang sedang berjalan bersama teman-temannya, yang kutahu bernama Keenan, Alex, dan Lee.

Cowok yang kelihatannya periang itu ikut tertawa saat Keenan, si berisik melemparkan lelucon. Tanpa sadar, bibirku tersenyum melihat semua itu. Dan, pandanganku tanpa sengaja, tiba-tiba menemukan safir Nathan yang juga sedang menatapku. Terbentuk seulas senyum di bibirnya, senyum yang manis. Lalu, dia mengambil bola basket dan mulai bermain basket dengan teman-temannya tadi. Sosok pirang yang sedang bermain basket dengan penuh semangat itu, membuatku tidak bisa mengalihkan pandangan. Gerak-geriknya saat men-dribble bola dan melakukan jump shoot, membuatku tersenyum dan tanpa sadar ikut bersorak sendiri saat Nathan berhasil memasukkan bola. Dan sekarang, Nathan sedang merunduk untuk membetulkan tali sepatunya, rambut pirangnya yang agak panjang, menutup dahinya.

Akhir-akhir ini aku memang merindukan senyum manis itu. Terutama di kantin, kami sering bertemu, mengingat kelas kami berbeda, pertemuan yang singkat namun berkesan.

Eh, tunggu!

Apa yang kupikirkan?

Perasaan apa ini!

Poor Putri, jangan biarkan otakmu kacau.

Ini, tidak boleh terjadi, tapi...

"Putri, AWAS!"

Err, sepertinya itu suara Nathan.

"Ada ap-"

'Duagh'

Sakit, ke-kenapa semua menggelap...

Sialan, tali sepatu ini sulit sekali diatur sih. Aku melirik Keenan yang mendekatiku.

Dia menunduk disampingku, "Hei, Bodoh! Kau tidak sadar seseorang yang dari tadi memerhatikanmu?"

"Siapa?" jawabku tanpa menoleh ke arahnya.

"Ketua OSIS itu." Keenan berbisik pelan.

"Aku melirik gadis manis berambut ebony yang sedang melamun di bangku.

Entah kenapa tiba-tiba aku merasakan wajahku memanas, "Putri?"

"Kau juga menyukainya, kan, Nathan?"

"A-aku menyukainya juga bukan urusanmu-"

"Keenan! Nathan! Awas!" suara Lee menyadarkanku akan sebuah bola yang melambung ke arahku. Reflek aku memukulnya, tapi, celaka! Bola basket itu meluncur dengan keras ke arah,

"Putri! AWAS!"

'Duagh'

Terlambat, bola telah menghantam kepala Putri dengan sukses. Sial! Kenapa aku harus memukul bola itu ke arah gadis yang kusukai. Aku segera berlari ke arahnya, melihatnya limbung.

"Hei, Putri!"

Celaka, dia pingsan.

"Put! Oi, Putri!" aku berteriak panik.

Ya, sekarang kami di UKS, karena aku membawanya ke sini. Dan hanya aku yang menungguinya, teman-temanku ikut pelajaran. Mereka bilang ini hukuman buatku, karena telah membuat Putri pingsan. Aku menatap Putri yang masih pingsan di depanku, ternyata dari dekat, dia manis juga. Perlahan gadis ebony itu terbangun.

"Ngg..." Matanya mengerjap bingung.

"Putri, syukurlah kau sadar!" aku berteriak senang.

"Ngg, kau siapa?"

"Aku Nathan. Are you okay? I'm sorry, Putri!" Aku mulai panik.

"Nathan?"

"Iya, Put!"

"Nathan? Nathan siapa?"

'Gubrak'

"Putri, kumohon. Kau tidak apa-apa, kan?" ucapku semakin panik.

Gadis itu justru memejamkan matanya.

"Hei, jangan pingsan lagi!" aku menepuk-nepuk pipinya pelan. Tiba-tiba matanya terbuka.

"Siapa yang mau pingsan, Bodoh!" sentaknya agak keras dan tiba-tiba.

"Oh,eh, kupikir..." Entah kenapa aku jadi gugup.

"Ini di mana?" Dia mencoba bangun sambil memijit pelipisnya.

"I-ni di UKS, maafkan aku. Tadi, aku memukul bola dan mengenaimu, lalu... lalu k-kau pingsan. Ma-maafkan aku," ucapku semakin gugup.

"Oh, begitu. Tidak apa-apa," jawabnya singkat.

"Eh? Benarkah tidak apa-apa?" tanyaku tidak percaya.

"Iya, eh kau Nathan? Nathan Sebastian River, kan?"

"Iya, salam kenal, Putri."

"Kau tahu namaku?" Matanya membulat, lucu.

"Tentu saja!" jawabku cepat.

Putri tersenyum, dan itu terlihat manis sekali. Aku merasakan wajahku memanas. Tidak, aku harus keluar dari sini.

"Err, a-aku keluar dulu, aku akan mengambilkanmu air," ucapku gugup. Aku berbalik, tapi, Putri ikut bangun. Dan, ketika aku melangkah dia ingin mengejarku, fatalnya kakinya terbelit selimutnya, dan,

"Kyaaa!" tangannya menarik seragamku.

Membuat keseimbanganku terganggu dan sudah bisa ditebak, kami jatuh.

"Uh, berat." Aku membuka mataku. Dan safirku yang membuka sempurna langsung menemukan sepasang mata sehitam blackhole di wajah porselen yang bersemu merah, tepat di depanku. Napasnya terasa hangat menggelitik rongga hidungku. Dan, dan... posisi kami jatuh...

"Ngg, Putri~, sa-sampai kau mau tiduran di atasku, kau berat..."

"Sepertinya untuk minggu-minggu ini aku sibuk deh, Grey."

"Iya deh, Princess. Yang baru jadi ketos memang super sibuk," ucap Greta setengah mengejek Putri yang sedang asyik makan di depannya.

"Hahaha, apa itu ketos?" tanya Putri sambil tertawa.

"Ketua OSIS," jawab Greta.

"Oh," respon Putri singkat, pandangannya menangkap Nathan yang baru datang, dan memasuki kantin.

"Tapi, kau harus jaga kesehatan, jangan telat makan, jangan lupa istirahat, jangan sampai sakit-hei, Putri! Kau mendengarkan tidak sih!"

"Eh, hah apa?" tanya Putri kaget.

"Siaran ulang mahal!" ucap Greta sebel.

"Sorryi, Greta. Habisnya..." Putri tidak melanjutkan kalimatnya.

Greta menatap sosok Nathan dan paham. Diliriknya Putri yang sedang meminum jusnya sambil tak melepas pandangannya dari Nathan.

"Kau jatuh cinta pada Nathan ya?"

'Brush'

Putri menyemburkan minumannya dengan suksesnya ke arah Greta.

"Putri! Jorok, ah! Lihat, mukaku jadi basah!" Greta ngomel-ngomeh gara-gara wajahnya yang basah.

"So-sorry, Greta. Habisnya kau mengejutkanku sih. Sini aku bersihkan." Putri mengambil sapu tangan dari sakunya dan mencondongan tubuhnya ke depan untuk membersihkan wajah Greta. Tapi, Greta menolak dan mengambil sapu tangan itu, lalu dia membersihkan wajahnya sendiri.

"Apa lihat-lihat?" omelnya pada beberapa pengunjung kantin yang tersenyum-senyum melihat adegan barusan. Mendengar gertakan Greta, mereka segera melanjutkan makannya masing-masing.

"Nah, Putri. Kenapa kau harus kaget? Kau tidak fokus padaku gara-gara Nathan datang. Lagipula, akhir-akhir ini aku lihat, kau juga sering memerhatikan Nathan, si Pangeran tampan yang kau sebut alien itu. Apalagi, setelah insiden bola basket itu," terang Greta panjang, tangannya masih sibuk membersihkan wajahnya dari jus stroberi Putri, membuat saputangan berwarna putih itu bernoda merah muda. Namun, Putri hanya terdiam mendengar kata-kata Greta.

"Putri ~!" sebuah suara memanggilnya, kompak Greta dan Putri menoleh ke sumber suara. Keduanya menemukan Nathan yang sedang menatapnya sambil tersenyum, manis.

"Hai, Putri," sapa Nathan yang tiba-tiba duduk di sampingnya saat Putri sedang duduk sendirian di tepi lapangan basket.

"Hai juga, Alien," balas Putri. Kebetulan saat ini Putri dan Nathan tidak sedang bersama temannya masing-masing.

"Hehehe, panggilanmu lucu," ucap Nathan sambil nyengir.

"Orangnya lebih lucu... Ngomong-ngomong Nathan, terma kasih ya."

"Buat apa?" tanya Nathan bingung.

"Kemarin sudah menolongku..."

"Lho, itu memang kewajibanku. Kan aku yang membuamu terkena lemparan bola," ucap Nathan merasa bersalah.

"Iya, tapi sekali lagi terima kasih..." ucap Putri tulus.

"Iya, deh. Put..." panggil Nathan pelan. Wajahnya menoleh menatap Putri serius.

"Ada apa, Nathan?"

Pandangannya masih menatap tengah lapangan.

"Apa aku terlihat lemah?" tanya Nathan.

Putri akhirnya menoleh dan menemukan safir Nathan.

Blackhole dan safir saling bertatapan lama, sebelum akhirnya menjawab pendek, "Tidak..."

Perlahan cengiran kembali menghiasi wajah Nathan, "Terima kasih, Putri."

'Cup'

Nathan berlari setelah mengecup pipi Putri singkat.

Putri masih bengong belum sadar apa yang terjadi, sampai akhirnya,

"Nathan bodoh! Apa yang kau lakukan? Jangan lari bodoh!"

Percuma Putri berteriak. Si Alien itu hanya tertawa dan melambaikan tangannya dari kejauhan.

Putri menghentak-hentakkan kakinya kesal.

'Sialan' makinya dalam hati.

'Untung tidak ada yang lihat' Putri menghempaskan diri, kembali duduk di bangku itu.

Perlahan di usapnya pipinya pelan.

Ciuman singkat tadi.

'Ayolah Putri, itu kan hanya ciuman singkat.

Bukan begitu...

Tapi, Alien pirang itu telah mencuri keperawanan pipiku.

Wajah Putri memerah.

Poor Putri.

"Adam..." panggil Putri ragu-ragu.

"Hn," respon Adam yang kini duduk di sampingnya.

"A-aku ingin mengatakan sesuatu... Ta-tapi sebelumnya aku minta maaf," ucap Putri pelan. Adam masih terdiam. Lama...

"Ma-maaf, Adam-..." lanjut Putri lagi.

"Untuk apa?" Adam akhirnya menjawab.

"A-aku... Ingin, eh, a-aku tidak bisa me-melanjutkan hubungan kita..." Putri menunduk.

"Apa maksudmu, Putri?" Onyx pemuda emo itu menatap Putri tajam.

"A-aku ingin pu-putus, Adam-..." Putri masih menolak untuk menatap onyx Adam.

"Kenapa?" tanya Adam tajam.

Perlahan Putri memegang kedua tangan pucat Adam, dan ragu-ragu ia menatap Adam.

"A-aku tahu ini, i-ini menyakitkan. Tapi, akan lebih menyakitkan lagi, ka-kalau kita bersama. Karena, ha-hatiku sudah tidak lagi padamu. A-aku mencintai orang lain, dan a-aku ingin kau tahu itu..." Ditatapnya onyx Adam dalam, mencoba menghilangkan kelebatan Adam yang sedang berciuman dengan seorang gadis kemarin.

Adam terdiam, rona-rona keterkejutan nampak samar-samar di wajah tampannya. Dipalingkannya wajahnya, dan dilepaskannya tangan Putri agak kasar.

"Adam..." panggil Putri pelan.

Guratan emosi terbentuk di wajah dingin itu. Sontak Putri memeluk Adam, yang hanya diam tak membalasnya.

"Akhirnya kau memutuskan hubunganmu dengan Perfect Prince itu. Dan kau bisa jadian dengan Nathan," ucap Greta sehari setelah Putri putus dengan Adam.

Saat ini mereka sedang duduk di bangku taman kota.

Menikmati matahari senja dengan jus kalengan di tangan masing-masing. Tidak jauh dari tempat mereka duduk, terdapat bak pasir dan ayunan, suara anak-anak yang bermain terdengar riuh. Blackhole Putri memandang keriuhan itu, lalu senyum terukir di wajahnya yang cantik. Putri melepas pandangannya ke arah anak-anak yang bermain dan menatap Greta.

Putri menghela napas sebentar sebelum akhirnya berkata, "Greta, aku bukan orang yang bisa mencintai dua orang dalam satu waktu, apalagi menjalin hubungan tapi hatiku tidak pada kekasihku. Selain karena masalah di kampus itu, aku juga tidak ingin sama seperti Adam yang membohongi dan menyakitiku, aku tidak ingin menyakiti Adam. Lebih baik aku melepas Adam dan mencintai Nathan. Walau mungkin aku tidak bisa memiliki Nathan..."

Kelebatan antar kejadian melihat perselingkuhan Adam dan ciuman Nathan padanya, berputar-putar bagai kaset rusak dalam kepala Putri.

"Kenapa?" tanya Greta singkat.

"Karena, Nathan pasti ingin lulus dulu..."

"Dari mana kau tahu? Lagipula, kau kan bisa menunggu, Putri."

"Greta, ini bukan masalah tunggu-menunggu. Tapi, setelah lulus pasti Nathan akan kembali ke UK, dan meninggalkan aku. Iya, kan?"

"Terus, kau membiarkan begitu saja perasaanmu ke Nathan? Padahal kau sudah memutuskan hubunganmu dengan Adam karena Nathan!"

"Greta, jujur aku juga ingin Nathan berpikir sedikit..." ucap Putri pelan.

"Maksudnya?"

"Aku sedang jatuh cinta pada Nathan, Sebastian River Nathan. Dan tidak munafik, orang yang sedang jatuh cinta itu pasti ingin memiliki. Begitu juga aku. Aku ingin memilikinya, sangat ingin. Tap-"

"Kenapa kau tidak memintanya? Dan jujur pada Nathan," Greta memotong kata-kata Putri.

"Aku... ingin Nathan sendiri yang melakukan semua itu..."

"Menunggunya?" Greta masih tak mengerti dengan jalan pikiran sahabatnya.

"Aku... ingin menunggu bagaimana akhir kisahku. Nathan akan mengizinkanku memilikinya selama dia di sini, atau... tega membiarkanku tanpa kepastian dan hanya mampu menikmati senyumnya selama dia masih di sini. Aku akan menunggu..." ucapan Putri bercampur antara optimis dan skeptis. Ah, Putri memang sulit ditebak. Dan, Greta memang tidak kan pernah bisa menebaknya.

"Put…" panggil Greta pelan, mencoba memangkas keheningan yang menyeruak di antara dua gadis itu.

"Hm?" Pandangan Putri masih lurus, entah ke mana black hole itu memandang.

"Kau tidak jatuh cinta pada Nathan karena sebuah kissing di pipi, 'kan? Atau parahnya, jangan-jangan Nathan hanya pelaria-"

"Grey! Bisa-bisanya kau berpikir begitu. Bagaimana kau bisa berpikir begitu?" sentak Putri keras. Ditatapnya Greta tajam.

"Sebenernya aku hanya merasa aneh kau begitu mudah berpaling pada Nathan. Apalagi aku kenal kamu, Put. Aku tahu bagaimana kau begitu mencintai Adam. Aku tahu bagaimana perjuanganmu mempertahankan hubunganmu dengan Adam. Aku tahu-."

"Kalau begitu seharusnya kau juga tahu bagaimana sakitnya perasaanku gara-gara Adam," potong Putri lagi. "Bukankah selama ini kau juga ingin aku putus dengan Adam?"

Greta menghela napas pelan sebelum menjawab ocehan gadis manis di sampingnya. "Karena aku tahu kau sakit itulah, aku meragukan perasaanmu kepada Nathan. Dia… walau tak begitu terlihat, tapi aku yakin… bocah Alien itu menyukaimu. Ingat hanya kau yang dicium, bukan? Dia tidak mencuimku juga lho," ucap Greta setengah bercanda.

"Aku tahu," jawab Putri pelan. "Mungkin kau benar."

"Maksudmu?" Greta tak mengerti. "Dan ngomong-ngomong aku memang selalu benar."

"Aku mulai meragukan perasaanku sendiri…"

"Hei, aku tidak ingin membuatmu menjadi skeptic seperti itu, Princess." Greta tertawa seraya menepuk bahu mungil itu pelan. "Hm, kau tahu, kadang dalam 'pelarian' pun tidak menutup kemungkinan akan ada cinta."

.

.

.

.

.

SELESAI...