Gereja yang terletak di tengah keramaian Devon terlihat begitu bercahaya. Banyak mobil yang berderet rapi terparkir di luarnya. Lampu-lampu hias ekstra juga terlihat memenuhi sudut-sudut tertentu gereja. Gereja yang cantik di bawah purnama.

Dan kau, wajah meronamu dengan permata sewarna lelehan caramel tersenyum. Cerah. Dari dalam gereja kau mencoba bersaing dengan eksistensi bulan di atasmu.

Trench coatmu -mu menutup tubuh alabaster milikmu. Sementara sepasang tanganmu tertangkup saling berkaitan mencoba mempertahankan sebuket bunga. Jemarimu yang mengencang seolah berkata: bunga ini milikku.

Ya, kau Jeremy Jacques William sangat tampan malam ini.

Amat sangat tampan. Bahkan walau kau priadengan sebuket bunga.

Mata caramel-mu yang menyempurnakan lukisan wajahmu menyorot bening.

Di depanmu, berpasang bola mata dari para pria ber-trenchoat dan wanita ber-dress memandangmu dengan senyum yang bermakna sama, bahagia. Namun, fokus caramel-mu bukan pada berpasang mata dengan aneka warna iris yang menatapmu. Mata sewarna lelehan caramel dan dahan kayu manis-mu hanya terpancang pada sosok beriris caramel lain di depanmu. Sosok tampan yang kini mengenakan jas berwarna sama dengan sang bulan di atas gereja. Ke sanalah caramel-mu terpancang memandang. Dan lagi-lagi senyummu terkembang, sosok berambut sewarna kayu eboni bernama Andrew itu memang sangat tampan.

Dan di malam pertengahan musim semi ini, ia berkali lipat lebih tampan.

Namun, bukan karena ini kau terpaku padanya. Bukan hanya karena wajah tampannya…

Ada hal lain, yang mungkin rangkaian diksi tertinggi pun tak mampu menguraikannya…

Andrew memang mandiri, pendiam, dan cenderung tertutup.

Karena itulah ia tinggal sendiri di apartemennya, dan karena ia juga tak ingin merepotkan siapa pun, sejak orang tuanya meninggal dia membayar kuliahnya dan sewa apartemennya dengan uang hasil kerja part time itu sendiri. Walau hidup sederhana tapi pria itu sudah cukup puas, sampai kedatanganku yang merupakan sepupu jauhnya itu. Kehadiranku bukan saja merubah tempat tidur Andrew yang kini harus tidur di sofa setiap malam, tapi juga menambah kesibukannya. Walau Andrew lebih sering bersikap dingin bahkan menyebalkan, atau sesekali memberi omelan padaku yang berusia empat tahun di bawahnya –Andrew berusia 24 tahun, tapi aku tidak keberatan. Aku merasa nyaman, karena aku tahu ada saatnya Andrew terlihat hangat dan dewasa.

"Selamat ulang tahun, Andrew ~" teriakku kencang.

Ya hari itu adalah hari ulang tahunnya yang ke-24. Sosok tampan yang tetap memiliki wajah manis dalam usianya yang telah kepala dua itu terkejut. Tak mengira aku akan menunggunya dengan black forest yang rasanya kacau itu semalaman. Sesaat, dia hampir saja mengomeliku seperti biasanya, tapi entah kenapa lengkungan itu berubah menjadi senyum manis, amat sangat manis… dan hangat. Dan itu adalah satu malam yang tak pernah kulupakan. Kami tertawa dan berpesta berdua semalaman. Dan satu malam itu juga Andrew mengajariku bagaimana mengubah rasa pahit black forest menjadi manis dalam satu gerakan. Dan kalimat yang sering muncul saat orang-orang berada dalam suasana bahagia pun terngiang di kepalaku, tersimpan di dalamnya, tanpa berniat memaksa bibirku untuk meluncurkannya: aku tak ingin malam itu berakhir.

Caramel itu memang tak pernah membosankan.

Saat memandangnya, kau bisa membayangkan itu sebagai warna samudera cokelat yang luas, indah dan menyembunyikan kenikmatan di dalamnya. Namun, apa pun itu, bagimu caramel itu tetap memesona. Sejak caramel-mu pertama menemukannya di sebuah apartment sederhana di sudut kota, hingga saat ini, saat waktu memberimu kesempatan memandangnya lebih lama.

Dan juga tempat sepasang caramel itu bernaung. Sangat tampan. Bahkan kadang kau berpikir kenapa Tuhan menciptakan makhluk dengan fisik seindah ini? Apakah Tuhan sengaja menciptakannya untukmu?

Semua kegiatanku dan hidupku dengan Andrew berjalan mulus dan baik-baik saja.

Hingga hari itu…

Hari di mana aku mulai merona acapkali Andrew-hyung menatapku. Saat aku mulai terbiasa menulikan telingaku dengan omelan sang Mr. Andrew.

Saat itu…

Andrew yang datang dengan sosok yang belum pernah kukenal. Sosok dengan wajah memesona itu datang tiba-tiba. Menyita waktu Andrew-ku. Dan juga merebut sesuatu yang berusaha aku dapatkan selama ini: tawa Andrew. Dan Andrew begitu mudah melepas tawa saat dengan wanita itu.

Why? What going on?

Pertanyaan ini tak terjawab karena aku sendiri tak berusaha bertanya dengan bibirku. Cukup dengan kalimat ini berdengung di hati dan kepalaku. Menggangguku.

Bertahun-tahun aku bersamanya.

Dan aku sadari sebuah rasa datang di antara kami. Menelusup dan mulai tak tertahankan serta menyakitkan. Kami bukan anak-anak lagi. Kami tahu itu. Namun aku tetap bertanya rasa apa yang memenuhi bongkahan daging merah di tubuhku. Menyesakkan dan menyakitkan.

Dan aku memilih menahan rasa itu sendiri. Menahan kesakitan saat melihat Andrew dan wanita itu bersama. Aku lebih memilih menunggu. Menunggu sesuatu yang bahkan aku tak tahu apa itu…

Seharusnya aku senang melihat Andrew tertawa. Seharusnya aku senang… hanya saja kenapa bukan aku yang membuatnya tertawa seperti itu?

Atau ketulusan itu hanya dari persepsiku sendiri…?

Entahlah…

Kau masih mempertahankan caramel-mu pada posisinya, tak ada niatan untuk membiarkan sepasang lensa itu mengubah objeknya. Karena di pantulan caramel-mu memang tak ada yang lebih indah selain refleksi sepasang iris sewarna kayu manis itu. Caramel hanya pada caramel lainmemandang, tak ada yang lain.

Dan caramel pun sama, tak ingin kalah dan melepaskan caramel beningmu itu darinya.

Walau caramel tak pernah mampu untuk menemukan dasar sang permatamu.

Terlalu dalam.

Terlalu kelam.

Jika orang lain mengatakan caramel –mu adalah permata yang bercahaya, caramel Andrew mengatakan sebaliknya, caramel-mu kelam, suram, dan tak berdasar.

Namun kau memang terlalu pintar untuk menyembunyikan semuanya.

Entah berapa dalam dasar hatimu berada. Tak ada yang mampu menebaknya. Tidak Andrew, tidak wanita itu, bahkan tidak kau sendiri.

Kau tak tahu –atau menyerah untuk mencari tahu?

Karena kau sudah terlalu sering, bahkan setiap saat, mencari dasar hati itu. Untuk memastikan bahwa rasa itu memang ada. Rasa yang terangkai dari lima huruf yang berbeda. Kau terus mencarinya, hingga hari ini tiba. Bahkan walau lima huruf itu berserak nantinya, kau berani dan mau mengumpulkannya, merangkainya satu demi satu.

Namun kau gagal. Saat itu kau gagal.

Sama seperti Andrew yang gagal menemukan dasar caramel-mu. Kau gagal menemukan dasar hatimu.

Hanya rasa sakit, rasa sesak, yang memenuhi organ merah bernama hati itu.

Rasa sakit dan sesak yang selalu kausembunyikan mati-matian setiap melihat tawa Andrew. Bukan tawa biasa seperti saat Andrew melihat sesuatu yang lucu. Bukan… bukan tawa itu. Tapi tawa yang tercipta saat Andrew bersama wanita itu… Natasha. Dan kau, Jeremy, tidak pernah mendapatkannya. Yang kauterima hanyalah tawa hambar, dan sesekali omelan kalau kaucukup beruntung.

Namun sekali, ya sekali kaupernah menemukan tatapan dalam, tatapan saat kau dan Andrew merayakan ulang tahunnya. Hanya saat itulah… bukan tawa lebar memang, namun tatapan yang berbeda.

Hangat.

Dan kau semakin gencar mencari… Apa sakit itu? Apa sesak itu? Apa…

–rasa itu?

Hingga saat kau menemukannya arti sakit dan sesakmu.

Saat kau menemukan huruf yang teserak di dasar hatimu…

Dan celakanya kau butuh Andrew untuk merangkainya…

Namun semua terlambat,

–karena Andrew tak lagi bisa merangkaikan kata itu untukmu…

Sama seperti halnya kenyataan malam dan pesta ini.

Semua ini bukan untukmu. Pastur yang berdiri di tengah gereja. Musik yang mengalun lembut, aneka makanan dan wedding cake yang menjulang tinggi. Bahkan para manusia itu juga bukan datang untukmu. Dan bunga yang erat tergenggam di jemari porselenmu, itu adalah bunga yang dilempar dan tanganmu yang lincah kebetulan menangkapnya.

Hanya kebetulan.

Karena semua ini untuk Andrew

–dan wanita itu…

"Selamat Andrew, sekarang aku tak lagi direpotkan olehmu." Kau memberi jeda pada kalimatmu. Sungguh dengan senyum ceria yang telah berjam-jam terukir sempurna di wajahmu, sulit sekali rangkaian frasa ini dikeluarkan oleh bibirmu, bahkan mungkin kaubutuh seluruh keberanian dan kekuatanmu untuk mengucapkan kalimat selanjutnya. "Akhirnya kau menikah juga, Natasha pasti akan jadi istri yang baik untukmu."

Lepas, bebas… akhirnya kata itu terucap.

Kini caramel-mu melepas caramel dan melirik sepasang onyx di samping sang Caramel. Kautersenyum lembut, sekali lagi.

Berapa hati lagi yang kan kaubohongi, Jeremy?

Tidaklah bibirmu kelu memasang senyum ambigu di depan pria itu? Tidakkah rasa sesak itu membuncah? Menemukan satu kata: cinta, di saat pria itu tak mungkin bersamamu?.

"Semoga kalian bahagia…" Tegas dan jelas kau mengucapkannya.

'I love you, Andrew,'

–lirih, nyaris hanya telingamu sendiri yang mungkin bisa mendengarnya.

'Teng-teng-teng!'

Kenapa lonceng gereja berbunyi saat kau mengucapkan kata itu?

Satu kata: cinta.

Dan kau pun berbalik, meninggalkan mereka. Memilih mengabaikannya, karena sekali lagi, semua hanya kebetulan.

Kau telah melangkah…

Melepas caramel dari caramel-mu. Membiarkan sepasang lensamu mengubah objeknya, tetap dengan senyummu, kali ini untuk para tamu di pernikahan Andrew-mu.

Senyummu mengembang, menepis rasa sakit yang lagi-lagi menjalar, meremas, menyesakkan hatimu.

Seandainya aliran hangat di sepasang caramel-mu terbebas… Seandainya kau tahu, bagaimana dengan hati pria itu… bahkan kau akan senang mendengarnya, walau menyakitkan, asalkan darinya.

Ya, seandainya

–kau mendengar, satu kata dari lelaki itu: cinta.

Seandainya…

Malam setelah kepulangan kalian dari gereja, tepat di rumah peninggalan orang tua Andrew, kau berusaha menghindari Andrew dengan berbincang dengan para tamunya yang sebagian besar dari rekan-rekan orang tuanya dulu, dan juga rekan-rekan Andrew, dan terutama keluarga besar kalian. Namun tak ayal sesekali kau memergoki caramel Andrew yang terpancang padamu, dan kau pun berusaha pura-pura tidak tahu. Tapi, orang-orang ini adalah tamu, kau tak bisa terus-terusan menahan mereka untuk kaujadikan tameng dari semua ini.

Lama.

Hingga akhirnya rasa lelah melepaskanmu dari semua situasi ini –atau malah membuatmu terperangkap lebih jauh? Kau lelah dengan rasa panas yang tertahan di ujung matamu. Dan kau memilih pergi, pergi asalkan tidak di tempat ini.

Kau berhasil pergi dari keramaian itu.

Melewati satu koridor sepi di rumah sebesar ini.

Namun mendadak sesuatu menahan langkahmu.

Kau mendengarnya.

Dengan telingamu sendiri.

Jelas,tanpa butuh alat apa pun untuk memperjelasnya.

"Andrew, kau tidak menyesal melakukan pernikahan ini?"

Itu suara Natasha. Terdengar dari satu kamar dengan pintu yang terbuka sedikit.

Sejak kapan mereka ada di sini?

Malaikat putihmu mengajakmu maju dan meninggalkan tempat ini.

Karena ini privasi, kau tak sepantasnya berada di sini. Namun bagian yang lain hatimu memaksamu tinggal dan mendengarkan.

Ada apa dengan mereka?

"Maksudmu?" suara yang sangat kaukenal, yang selama ini menemani tiap hari dan mengisi jengkal hidupmu terdengar meresponnya. Suara Andrew.

"Dulu motif awal kita pacaran hanya untuk membuat Jeremy cemburu. Dan ternyata kita justru menikah seperti ini. Apa kau tidak menyesal?"

Deg.

Hatimu meremang.

Apa ini? Apakah telingamu tak mendustaimu?

Apakah benar yang terjadi adalah…. Kau meremas tanganmu yang mulai basah.

Apakah ini berarti Andrew,

–menyukaimu?

Mendadak rasa takut menyeruak dalam kisi hatimu. Kau mulai takut…

"Dulu aku memang menyukai Jeremy. Karena itulah aku menawarimu sandiwara untuk mengetahui perasaannya padaku. Namun sepertinya selama ini Jeremy memang benar-benar tidak menyukaiku. Jadi untuk apa aku terus berpura-pura? Cukup sampai di sini… Tidak. Aku tidak menyesal Natasha… Aku sekarang mencintaimu."

—mendengar jawaban Andrew.

Mendadak semua mati rasa. Aliran hangat mengalir di pipimu namun tak kaurasakan kehangatannya. Hatimu berdenyut namun tak kaurasakan denyut menyakitkannya.

Lima kata itu terangkai sudah. Andrew mampu merangkainya dengan sempurna. Dan kau mendengar dari bibirnya rangkaian kata itu.

Namun kata itu kini,

–bukan untukmu.

Satu yang terngiang di kepalamu: hidup ini bukan seperti kisah dongeng yang sering diceritakan Mama-mu saat kaukecil, dongeng yang selalu berakhir bahagia. Bukan itu. Karena kau tak bisa membuat Andrew membatalkan pernikahannya seperti dalam dongeng Putri Angsa. Sama sekali tidak bisa. Andrew telah menikah dengan Natasha. Dan itu yang harus kau terima…

Cause life is not a fairy tale…

.

.

.

.

.

.

THE BEGINNING...