kau tak tahu... siapa aku...

darah yang mengalir di tubuh kami berbeda...

aku adalah penguasa malam...

dan kau yang membuat 'apa' yang tertidur dalam tubuhku bangkit...

kau yang membuatnya...

kaulah darah pertama...

setiap yang menyentuhnya...

harus mati...

kau adalah milikku Arthur Ivanovich!

dari jantung, hati, darah, napas dan tubuhmu...

tidak ada yang boleh menyentuhmu...

atau sekedar menyimpan rasa untukmu

termasuk dia!

yang seharusnya, kau cabut nyawanya!

milikku… selalu milikku

mengalir bersama darahku

berdetak dengan jantungku

dan bersentuhan dengan tubuhku

kita menyatu dalam kegelapan... bersama malam...

kau adalah milikku, Arthur!

Darah yang masih tercecer di lantai rumah Grey menggambarkan bahwa dendam tidak menjadi destinasi utama perenggutan nyawa.

Malam hanya terpagut menatap sebuah pedang yang terseret keluar dengan garis darah yang mengikuti mulut pedang itu.

Sementara di sisi lain, pemandangan jauh lebih mengerikan.

Sesosok tubuh tergeletak tanpa kepala, sayatan dan sisa-sisa sabetan membuat tubuh itu seperti seonggok daging yang dicincang kasar.

Tangannya putus, tergeletak memegang sebuah tongkat yang pada bagian pegangannya terbuat dari emas, sementara bagian kayunya banyak goresan.

Hal ini, menunjukkah bahwa si korban sempat memberikan perlawanan.

Sementara sosok yang memegang pedang, pedang yang telah merenggut nyawa Lord Grey, hanya menatap datar hasil perbuatannya.

Perlahan dengan lengan bajunya, diusapnya pipi yang sempat terkena cipratan darah, yang nampaknya sia-sia, karena seluruh pakaiannya juga terkena darah lelaki gendut itu.

Lord Grey memang menang dengan mudah dalam persaingan yang baru beberapa jam tadi, tetapi, siapa yang tidak tergiur dengan setumpuk uang di meja kasino.

Karena dengan uang, nyawa mudah melayang.

Perlahan sosok itu mengembalikan pedang berdarah itu ke sarungnya dan segera pergi meninggalkan ruangan.

...

Porsche hitam itu melaju santai, menembus kegelapan malam.

Pengemudinya juga nampak serius menatap jalan di depannya yang lenggang.

Tak lama, suara sirine dan sorotan lampu mobil polisi yang melawan arah membuat pandangannya silau.

Tapi sekejap kemudian tersungging senyum tipis di wajah tampan itu, setelah mereka berpapasan...

Ruangan itu kecil, namun terlihat cukup nyaman.

Dua orang duduk berhadapan di sofa kecil yang berada di ruangan itu.

Sementara di depan mereka terlihat sebotol Vermouth dan gelas-gelas di meja kecil.

Laki-laki pertama adalah pemuda tampan berambut pirang rapi yang menampakkan kesan menyenangkan namun berbahaya. Sepasang mata safir dari wajah berkulit alabaster-nya menyorot wanita yang berada tepat di depannya dengan tajam. Wanita itu, berambut pirang cantik.

Di samping mereka ada perapian yang menyala-nyala, menimbulkan hawa hangat nyaman yang menyebar ke seluruh ruangan.

"Kenapa kau masih mau melakukan hal keji itu, Arthur?" tanya sang wanita, yang bernama Keysa, dengan wajah penasaran.

Sementara laki-laki yang bernama Arthur itu terdiam, perlahan tangannya meraih botol anggur di depannya, lalu menuangnya ke dalam gelas kecil miliknya. Dan dengan sekali teguk, dihabiskannya cairan itu. Lalu, pandangannya perlahan menatap nanar ke arah perapian.

"Aku... tidak tahu, pedang itu mengendalikanku. Saat aku memegangnya, darahku terpompa kuat, seperti aku harus mengibaskannya pada leher seseorang..."

"Tapi, bagaimana dengan adikmu? Kau tak pikirkan reaksinya bila dia tahu bahwa kakaknya adalah seorang pembunuh, bagaimana hal ini bisa diterima oleh pikiran polos, Anna?" tanya Keysa lagi.

"Aku sudah terlanjur masuk dalam situasi ini. Lagipula, Anna sudah tahu apa pekerjaanku. Dan, aku akan tetap mencari siapa pemilik pedang ini. Pedang yang telah ditinggalkan oleh seorang pembunuh. Pedang inilah yang telah dia gunakan untuk merenggut nyawa ayahku."

"Tapi, bagaimana kau bisa menemukan seorang pembunuh hanya dengan sebilah pedang?"

"Aku melihat tato yang sama di tubuh orang itu dengan gambar di gagang ini. Pada malam terburuk dari semua malamku, malam yang mengubah hidupku. Jadi, aku akan tetap mencari bersama dengan profesiku sebagai pembunuh bayaran... dan membunuhnya dengan pedang ini juga! Kau kenapa? Kau khawatir?"

Keysa tak menjawab, perlahan dia mendekati Arthur, dan mengelus pipi Arthur pelan.

"Tentu saja aku khawatir, kau kan kekasihku..." ucap Keysa menggoda.

Perlahan dikecupnya bibir pemilik mata safir itu. Kecupan singkat yang perlahan memanas...

Dua tubuh saling berpelukan.

Rambut pirang, tangan saling bertautan...

Berpacu dalam melodi nafsu...

Napas saling berpacu, dalam sentuhan, bersaing dalam peluh yang bercampur.

Saling menyentuh, saling membelai.

Desahan menggema, melenguh, ingin lebih...

Pekikan kenikmatan meluncur, saat semuanya berakhir...

'Jangan, Arthur!'

'Hentikan, jangan lakukan itu!'

'HENTIKAN!'

'Hentikan kataku!'

'Jangan sentuh kakakku! Pergi kau Keysa!'

Sepasang permata crimson menatap, menyala kejam dalam kegelapan, bersama sepasang taring menyeringai yang menghiasi bibir ranumnya...

Siang itu terlihat seorang pria tampan dengan rambut hitam. Dia terlihat gagah berpadu dengan jas hitam yang membalut badannya. Langkahnya tergesa menuju rumah tua nan megah yang menunjukkan bahwa pemiliknya adalah orang kaya raya.

Halamannya begitu luas, dan terlihat Porsche hitam dan Lamborghini Reventon terparkir di halaman. Sayang, rumah yang lebih baik disebut istana pribadi ini tak terawat.

Tapi, tak ada yang menduga juga bahwa di istana ini, tinggal seorang pembunuh dan seorang penguasa malam...

Bel rumah Arthur Ivanovich berbunyi nyaring hingga terdengar dari kamarnya.

Tapi, Anna, adiknya yang berada di lantai bawah lebih sigap untuk membukakan pintu.

"Selama siang," sapa orang berjas itu.

"Selamat siang, anda siapa?" tanya Anna.

"Aku Thomas... dan aku ingin bertemu dengan Arthur. Apakah kau adiknya?"

Anna yang mendengar orang itu memanggil kakaknya dengan nama kecilnya, pasti karena mereka sudah kenal.

Tapi, Anna! Cepat masuk kamarmu!" bisik Arthur.

"Baik," tanpa diperintah dua kali, Anna melesat menuju kamarnya.

"Siapa, Anda? Dan ada keperluan apa dengan saya?" tanya Arthur memandang lelaki itu, setelah memastikan Anna telah pergi.

"Saya Thomas, Thomas Born," jawab Thomas dengan pandangan 'kenapa aku tidak disuruh masuk, bisakah kita bicarakan ini di dalam'.

Arthur sepertinya paham hal itu dan segera mempersilahkan Thomas masuk dan duduk.

"Maaf, kami tidak punya pelayan. Anda mau minum apa?"

"Tidak, terima kasih. Lagipula kenapa mansion sebesar ini tidak punya pelayan? Saya rasa kesulitan uang bukan alasannya 'kan?" ucap Thomas sarkastis.

Arthur hanya mendelik, untuk kemudian ekspresinya kembali datar.

"Sudahlah! Jadi apa tujuanmu kemari, Tuan Born?"

"Seperti orang-orang kaya lain yang pernah datang kemari, Arthur. Aku punya misi untukmu."

"Saya sedang tidak tertarik untuk membunuh," jawab Arthur datar.

"Jangan begitu, ada jumlah yang cukup besar untukmu, untuk memastikan bahwa kau tetap kaya."

"Berapa memangnya?"

Born tersenyum sinis.

"Lima ratus juta jika kau sanggup melakukannya… tanpa tertangkap."

"Siapa targetnya?"

Born tak menjawab, sigap dia mengambil sobekan kertas kecil dari saku jasnya. Dan menyerahkan pada Arthur yang segera membacanya.

"Bagaimana?" tanya Born tak sabar.

"Empat kali lipat," Arthur menatap Born.

"Bagaimana bisa?" Born gusar.

"Risiko dan tingkat kesulitannya terlalu tinggi. Bagaimana? Empat kali lipat atau... tidak sama sekali?"Born mengalah, sepertinya tugas ini memang terlalu berat dan tak ada gunanya berdebat dengan lelaki di depannya.

Arthur memandang punggung Born yang berjalan meninggalkan halaman luasnya.

Tatapannya datar, entah apa yang ada di kepalanya.

Tanpa dia sadari, sepasang mata emerald menyorot tajam, sepasang mata milik gadis yang bersembunyi di balik pintu.

Begitu kontras, seorang pembunuh tanpa amarah hidup dengan seorang gadis yang selalu meletakkan kepercayaan sepenuhnya kepada seorang kakak, yang dalam benaknya hanyalah satu-satunya orang paling baik dan ia percaya.

Arthur tak pernah melakukan pertimbangan dalam membunuh, bahkan ia hanya perlu menggunakan sedikit amarahnya untuk memenggal kebuasan pikiran manusia. Namun, benarkah tak ada rahasia lain di dalamnya...?

Malam begitu dingin, angin berhembus melalui ventilasi jendela, membuat gorden-gorden broken white itu bergoyang lembut.

Arthur sedang duduk di sofa dengan Anna yang tidur berbantalan pahanya.

Keduanya tampak akrab, tak terlihat bahwa mereka dialiri darah yang berbeda.

'Kring-kring'

Bunyi telepon menggugah lamunan dua orang itu.

"Biar kuangkat," pinta Anna.

"Jangan, biaraku saja," jawab Arthur sambil tersenyum, diangkatnya perlahan kepala caramel Anna, dan dia berdiri untuk menjawab panggilan telepon itu.

"Halo, ini siapa?"

"Aku, Born."

"Oh, jadi bagaimana?" tanya Arthur dengan santai.

"Kau bisa ambil uang itu di District 33."

"D33?" ucap Arthur skeptis.

"Benar. Ada masalah, Arthur?"

"Oh, eh, tidak. Apa bisa kuambil malam ini?" Arthur memastikan.

"Tentu, Arthur."

Anna menatap heran kepada Arthur yang masih tersenyum di samping telepon.

"Siapa?" tanya Anna heran.

"Oh, itu orang yang akan memberi pekerjaan. Aku ada tugas malam ini. Aku akan meminta Keysa menemanimu," jawab Arthur pelan.

Anna hanya mengangguk kecil. Kemudian dia mengambil selimut tidurnya.

...

Bulan yang bercahaya redup memberi nuansa suram mengantar langkah kaki Arthur menuju District 33.

Suasana kumuh dan bayangan pohon-pohon seperti rusuk-rusuk dan tengkorak manusia yang teronggok tak berguna.

Arthur mempercepat langkahnya melalui jalan kumuh ini, hingga sebuah rumah mewah terlihat di depannya. Benar-benar unik, ada rumah sebesar ini di tempat yang kumuh.

Arthur mengencangkan ikatan pedangnya, dan mulai memasuki halaman rumah yang terlihat asri dengan taman bunga dan air mancur di tengahnya.

Dua orang berbadan tegap dengan tubuh kekar sedang berdiri di muka pintu utama. Dihalangnya tubuh Arthur yang ingin mendekat pintu.

"Siapa kau?" tanya salah seorang penjaga itu kasar.

"Aku Arthur Ivanovich," jawab Arthur singkat. Kedua penjaga itu saling berbisik satu sama lain. Sesaat kemudian, Arthur dipersilahkan masuk.

Arthur disambut oleh lampu kuno mewah berjajar lurus menuju sebuah kursi mewah, yang lebih pantas disebut singgasana.

Beberapa orang pria berjas berdiri di samping seorang lelaki berwajah pucat, yang lebih terlihat seperti mayat hidup yang dingin, kejam dan berbahaya.

Arthur melangkahkan kakinya selangkah demi selangkah. Safirnya tertuju pada sepasang mata dengan pupil kecil yang merefleksikan sifat kejinya.

"Oh, jadi kau ini 'Arthur Ivanovich sang pembunuh keji' itu? Ha...ha...ha," tawanya yang dingin melengking lebih terdengar seperti tawa setan, membuat bulu kuduk Arthur sedikit merinding.

Dia menatap Arthur tajam, "Tapi hanya pedangmu yang membuat aku iri," lanjut lelaki yang bernama Lord Baskerville ini. Sifat sombongnya jelas terlihat, yang hanya dibalas Arthur dengan senyum getir.

"Kemarikan! Aku ingin melihat pedangmu yang hebat itu!" pinta Lord Baskerville.

"Maaf, pedang ini hanya boleh dilihat olehku dan orang yang kubunuh," tolak Arthur tegas.

"Sombong sekali kau, Ivanovich! Kalau begitu lupakan. Aku ingin membahas tentang kesepakatan kita sebelumnya. Aku akan memberikan setengahnya dulu, dan sisanya akan kuberikan setelah semuanya selesai."

Arthur berpikir sejenak, kemudian menjawab, "Baik, tapi siapa orang yang harus kubunuh?"

Lord Baskerville mengeluarkan seringai sadis bersama rencana busuknya itu.

"Orang yang harus kau bunuh adalah... Luna Mooney. Dia sebelumnya adalah wanita yang bekerja di riset rahasiaku. Dia aku perintahkan untuk membuat serum keabadian yang akan membuat usiaku panjang. Tapi, dia mulai berkhianat setelah mendapatkan semuanya. Dia pergi membawa serum itu dan jutaan uangku."

Arthur mendapat secarik kertas dari orang kepercayaan Lord Baskerville. Kertas itu berisi alamat wanita itu.

Suara ketukan pintu terdengar dan tak kunjung berhenti. Anna membuka pintu dan terlihatlah wajah seorang pria yang tampak kusam dan mata safirnya redup. Dia, Arthur yang cukup kelelahan.

"Bagaimana? Apa kau sudah membunuhnya?" tanya Anna penasaran.

"Belum, mungkin besok," jawab Arthur singkat.

"Memangnya siapa?"

"Dia seorang profesor wanita bernama Luna."

"Wanita?" ucap Anna tak jelas.

Percakapan itu terus berlanjut, hingga suatu saat Arthur menyadari keanehan pada wajah adiknya.

Anna memandang Arthur tanpa berkedip dengan mata emerald-nya.

"Kenapa kau?" tanya Arthur, alisnya sedikit terangkat.

Ia heran dengan tatapan adiknya itu.

Dan Anna masih belum menjawab.

Ia masih memusatkan mata zamrudnya kepada Arthur, hingga akhirnya Arthur membelai kepala caramel gadis cantik itu.

"Hei, kenapa kau ini?"

"Hah, eh, tidak. Aku cuma terlalu mengantuk" jawab Anna seolah menyembunyikan sesuatu.

"Ya sudahlah, sebaiknya kau tidur malam ini. Aku juga akan tidur," ucap Arthur seraya berdiri.

Tapi, Anna menahan tangannya.

Arthur mengernyit. Anna berdiri di depannya, menatapnya tajam.

"Ap–" suara Arthur terpotong oleh bibir Anna yang mengeliminasi jarak di antara mereka.

Lidah Anna memaksa untuk menerobos masuk ke dalam rongga mulut Arthur.

Arthur terbelalak, tak mengira adiknya akan seagresif ini.

Arthur mencoba menolak, dan tak membiarkan lidah itu masuk.

Tapi, akhirnya Arthur menyerah pada akal sehatnya, terjebak dalam kenikmatan yang Sakura berikan, dan membiarkan lidah Anna menari-nari di rongga mulutnya, berbagi saliva dan kehangatan.

"Hh, ah," Arthur mendesah pelan, atas ciuman ganas itu.

Dengan gerakan cepat, Anna menjatuhkan tubuh Arthur ke sofa dan segera menindihnya.

Ciuman itu masih berlangsung dengan ganas.

Namun kebutuhan akan oksigen memaksa Anna menghentikan sejenak kegiatannya.

Dia menatap Arthur, yang wajahnya memerah dan terengah-engah membalas tatapannya.

"Hh,hh... A-apahh, ada apa denganmu, Anna?" tanya Arthur pelan.

Anna lagi-lagi tak menjawab, dia mendekatkan wajahnya hingga hidung keduanya bersentuhan.

Matanya menembus safir Arthur. Ia seolah benar-benar terpesona oleh ketampanan seorang pembunuh.

Pembunuh yang membuatnya jatuh cinta, pembunuh yang menjadi kakaknya.

Diserangnya lagi bibir Arthur, setelah puas dengan bibir, lidah Anna turun dan menjilat leher alabaster Arthur, kissmark yang ia tinggalkan di leher alabaster itu, membuat pemiliknya mengernyit antara perih dan kenikmatan.

Tangannya mulai memasuki pakaian Arthur, mengelus dan memilin tonjolan kecil yang ada di dadanya.

Anna seperti kesetanan.

"A-ah, Anna, hh, hentikan!" sentak Arthur keras. Dia harus menghentikan kegilaan ini.

Anna terkejut, sontak dia menghentikan gerakannya, dan menatap Arthur, menangis.

Perlahan, safir Arthur meredup... direngkuhnya bahu mungil itu pelan.

Anna terisak dalam pelukan kakaknya, lelaki yang dicintainya.

Banyak pertanyaan memenuhi pikiran pemuda pirang itu.

Pertanyaan yang tak pernah dia mengerti... tentang gadis ini.

Tentang adiknya, sejak mereka bersama.

Namun, yang lebih membuatnya meragukan akal sehatnya sendiri adalah, kenapa dia tidak bisa menolak sentuhan Anna...

Sentuhannya begitu memabukkan... dan membuatnya gila.

Malam mengelam.

Bulan seolah tergelak menatap goyangan dedaunan di bawahnya. Terlihat memesona dengan bintang yang berdiam patuh di rasinya.

Dan berteman dengan bayangan malam.

Langkah Arthur sampai di depan sebuah apartemen mewah.

Tampak lampu yang masih menyala di lantai tiga.

Malam ini Arthur merasa lain.

Ia bagai kehilangan roh keji yang biasa bersarang di tubuhnya.

Hal itu terlihat dari wajahnya yang gelisah.

Sebelumnya, Arthur memang belum pernah membunuh wanita, dia belum pernah merasakan sensasi membunuh wanita.

Apakah dengan perlawanan... atau dengan buaian kata yang lembut.

Arthur mendaki satu persatu tangga apartemen itu.

Setiap tangga yang ia daki semakin mengurangi keyakinannya.

Namun, langkahnya telah sampai di muka pintu itu.

Ia mengumpulkan segala amarahnya dengan mengingat wajah pembunuh ayahnya.

Dengan kekuatan penuh ditendangnya pintu itu, dan dikibaskanlah pedang itu.

Namun sebelum sampai ke leher seseorang yang harus dibunuhnya, pedang itu terlepas dari genggamannya.

Ia melihat seorang wanita berambut raven tersenyum kepadanya. Tak terlihat aura ketakutan terpancar dari mata hijaunya maupun dari wajah cantiknya.

"Kau ingin membunuhku?" tanyanya diiringi senyum, "Kau tahu, saat kau membunuh seseorang, sementara orang itu dalam sisi yang benar... Kau bagai membunuh sebagian dari jiwamu sendiri... Dan hasilnya, separuh jiwamu... mati."

Arthur tercengang, kalimat itu sontak meruntuhkan dinding amarahnya yang telah ia bangun mati-matian.

Arthur tahu, dia gagal...

"Siapa yang menyuruhmu membunuhku?"

"Lord Baskerville, kau pasti mengenalnya."

"Oh, orang tua itu. Dia cukup pintar bersilat lidah. Aku hampir tertipu, tetapi, akhirnya aku sadar aku tak dapat apa-apa dari pekerjaan ini, jadi bagaimana? Kau masih ingin membunuhku?" tanya Luna, matanya memandang Arthur.

"Mungkin tidak untuk saat ini. Tapi, berikan serum itu agar aku bisa membuktikan pada si tua itu bahwa aku telah membunuhmu."

"Jangan, kalau aku serahkan serum itu, pengkhianatanku sia-sia. Bagaimana jika aku beri cairan palsunya?"

"Ide cemerlang..."

"Bagaimana?" tanya Anna dengan wajah penasaran.

"Aku tidak jadi membunuhnya. Aku tidak bisa, melihat senyumnya, seolah membekukan pedangku."

"Kau seharusnya membunuhnya. Kau gagal, Arthur!" ucap Anna keras.

Kenapa kakaknya gagal membunuh, hanya karena korbannya adalah wanita?

….

"Hentikan, A-Anna!"

"Kau tahu, darahmu tidak enak, Keysa!"

"Arrrghhh, sakit! Si-siapa kau se-sebenarnya?"

"Aku Anna, kau tidak mengenalku? Leher inilah yang selalu dipeluk Arthur. Ah, gigitanku membuatmu tidak nyaman ya?"

"Hen-hentikan! Ka-kau, kau bukan manusia, Anna!"

"Memang! Aku adalah malaikat! Malaikat yang akan mencabut nyawamu dan menghabiskan darah busukmu!'

"ARGGGGGHHHHHHH!"

'Semua yang menyentuh Arthur, harus mati!"

Siang itu, Arthur mendapati Keysa yang sudah tak bernyawa di depan pintu rumahnya.

Secarik kertas ditinggal di atas tubuhnya, kertas berisi sebuah nama ...

Rumah Lord Baskerville terlihat lenggang seperti biasa.

Tapi, saat masuk Arthur di hadang oleh dua orang penjaga bersenjata.

Dua orang itu mulai melepaskan tembakan ke arah Arthur, yang ditangkis dengan putaran pedangnya.

Kemudian dia mendekat dan menusukkan pedangnya tepat ke arah jantung dua penjaga itu.

Darah tercecer, ketika pedang itu tertarik keluar.

Arthur memaksa masuk, ke dalam rumah besar itu.

Sambutan yang diterimanya adalah segerombolan orang bersenjata yang menyerang secara membabi buta.

Pedang Arthur mulai mengibas satu persatu musuh-musuhnya.

Kepala-kepala mulai terlempar berhamburan dengan darah yang mulai membanjiri lantai.

"Wah, wah, aku kagum denganmu, Arthur Ivanovich ," terdengar suara dingin dan keji dari Lord Baskerville yang sudah berada di atas singgasananya.

"Baskerville, turun! Dan hadapi aku!" tantang Arthur keras.

"Hahaha, lucu, kau menggelikan, Ivanovich. Kau menantangku? Kau tahu, yang kau bawa itu adalah pedangku, bagian hidupku. Dan ternyata ada di tangan kotormu. Ayo bunuh aku. Tapi, sebelum kau ke sini, kau... sudah kalah. Lihat di belakangmu!" ucap Lord Baskerville dingin.

Arthuro membalikkan badannya dan safirnya melihat Luna sedang di tahan oleh seseorang,

Anna...

"A-Anna, Ka-kau?"

.

.

.

.

.

.

BERSAMBUNG...