"PEACEMAKER I: G-13"

Original Fiction Written by Nero © 2012


Disclaimer :

This is just a work of pure fiction. I don't take any material profit from this work. Don't copy, don't re-link, and don't re-share without permission. Plagiarisms aren't allowed here!

Based on "Peacemaker F3000" © Melvi Yendra 1998

Genre – Rate :

Romance – Science Fiction – Action

Teen – PG 17+

Warnings :

Don't copy, don't re-link, and don't re-share without permission. Plagiarisms aren't allowed here!


PART I


Washington DC, 27 Maret 2011

"Pesawat tempur ini dirancang oleh empat belas orang pakar dari seluruh dunia dengan investasi US$ 1,2 miliar. Dimisikan untuk perdamaian terutama membantu PBB dalam menjalankan sanksi-sanksinya terhadap negara-negara pembangkang. Anda semua akan tercengang kalau saya beritahu bahwa benda ini punya bobot hanya 2,8 ton, jauh lebih ringan dari F-117 Nighthawk Stealth. Dari segi bentuk keduanya tidak jauh berbeda. Tapi, F-117 kalah jauh dari segi teknologinya. Di samping anti radar, benda ini juga mampu mengacaukan sistem radar musuh, mendeteksi objek dari jarak 30.000 mil dan terbang di ketinggian sepuluh ribu kaki. Selain itu, mampu terbang dengan kecepatan lima ratus knot sekaligus mampu mengapung di udara tanpa suara. Harganya sangat mahal, US$ 10 juta. Mengenai persenjataan yang dimiliki dan spesifikasi lainnya dapat Anda lihat dalam brosur yang kami bagikan. Untuk sementara, saya rasa cukup. Kecuali jika ada pertanyaan dari Anda," Jendral Bob Christopher, Kepala Staf AU Amerika Serikat membuka kacamatanya.

Ia kembali duduk di kursinya dan mencoba menatap silau cahaya blitz kamera yang silih berganti menerpanya.

Di samping kiri Bob berturut-turut duduk pula Menteri Pertahanan dan Keamanan AS James Spencer, Juru Bicara Gedung Putih, dan pilot muda Arthur I. Coil.

Di belakang mereka, pada sebuah screen raksasa, tergambar sebuah pesawat berbentuk segitiga hitam.

Seorang wartawan tiba-tiba mengacungkan tangan. Di depan, Jendral mengangguk.

"Dalam brosur ini, tertulis bahwa proyek pembuatan pesawat ini dimulai tahun 1986 dan rampung sejak empat belas tahun yang lalu. Namun, kenapa pesawat ini tidak diterjunkan ketika sekelompok teroris membajak pesawat pribadi presiden tahun 1999 atau ketika Gedung Putih diserang pesawat siluman dua tahun berikutnya?"

Jendral Bob dengan tenang menjawab, "Kita tidak dapat menerjunkannya waktu itu hanya karena kita lebih mengutamakan efisiensi. Kita tidak perlu mengutus 'Peacemaker' karena dengan pesawat pemburu F-14 saja pesawat musuh dapat kita rontokkan. Ibarat membunuh seekor nyamuk, kita tidak perlu memakai rudal patriot, bukan?"

Hadirin tertawa. Tapi, wartawan dari CCN itu tampak belum puas.

"Tapi, kita kehilangan seorang presiden waktu itu," ucapnya sinis pada rekan di sebelahnya.

"Masih ada pertanyaan?" tanya Bob Christopher.

Seorang wartawati berdiri.

"Silahkan!" ucap Bob.

"Pesawat ini akan dipamerkan pada IMAS (International Military Air Show) lusa. Siapakah pilot yang beruntung menerbangkan pesawat ini?"

Jendral Bob Christopher tersenyum, "Saya rasa, itu pertanyaan terakhir buat saya. Setelah saya tunjukkan siapa orangnya, Anda semua bisa bertanya apa saja padanya. Nah, dialah pilot itu!"

Jendral Bob menoleh pada Arthur J. Coil yang pada saat bersamaan menganggukkan kepalanya pada semua orang.

Laki-laki tampan berambut blonde itu tersenyum tipis.

Segera setelah itu, tiga pria penting di samping Arthur berdiri dan melangkah keluar dari ruangan press meeting itu.

Segera saja para wartawan mengerubungi Arthur dan menjepretnya tiada henti.

Lalu, pertanyaan-pertanyaan seputar karirnya pun meluncur tak terbendung.

Ketika Arthur keluar dari gedung pertemuan itu, seorang wartawati membuntutinya. Padahal jumpa pers sudah ditutup.

"Tuan Coil, ada satu lagi pertanyaan, kalau Anda berkenan," ucapnya mencegat Arthur menuju mobilnya.

Arthur berhenti dan menatap wanita berambut caramel itu.

"Anda siapa?" tanya Arthur.

"Saya Anna, Anastasia Maurer, reporter New York Times!"

"Apa yang ingin Anda tanyakan?"

"Ada isu bahwa anda telah bertunangan dengan seseorang putri pengusaha Blastoon. Jadi, benarkah begitu?"

Arthur terdiam. Ia lalu melangkah meninggalkan wartawati itu dan masuk ke mobilnya. Anna mengikutinya dengan heran.

"Pertanyaan Anda off the record, Nona. Tapi, jika Anda memang ingin tahu, saya mengudang anda nanti malam. Poirot's Café, jam tujuh!" jawab Arthur sambil menekan tombol power window.

Porsche itu lalu meluncur di jalanan.

Begitu sampai di rumahnya, Arthur langsung menghubungi seseorang lewat telepon.

"Saya Arthur Ivanovich Coil. Bisakah saya bicara dengan Matt Greyser?"

"Maaf, Mister Arthur. Mister Greyser sedang di Los Angeles. Besok baru kembali," jawab seorang pria.

"Baiklah, besok akan saya hubungi lagi!" Arthur menutup telepon.

Beberapa saat ia terdiam.

Matanya lalu terpaku pada fotonya ketika berdiri bersama Peacemaker G-13, pesawat tempur generasi terakhir yang akan diterbangkannya dua hari lagi. Foto itu diambil tiga bulan yang lalu, saat ia bersama 45 orang pilot lainnya diseleksi untuk menerbangkan Peacemaker. Ia akhirnya terpilih sebagai pilot utama dan seorang rekannya yang lain sebagai cadangan.

"Lusa, seluruh cita-citaku, akan sampai pada puncaknya!" ucap Arthur sambil mengepalkan tangan, sapphire-nya menyorot tajam penuh keyakinan.

Anna merasa menyesal tidak membawa mobil dan memilih menggunakan taksi, yang nyatanya malah membuatnya terlambat. Jam di tangannya menunjukkan pukul 07.05 p.m, terlambat lima menit. Tapi, bagaimanapun Anna adalah seorang reporter, terlambat bukan kebiasaannya.

Tergesa, gadis caramel itu berjalan ke arah Poriot's Café. Café yang berada di pusat keramaian ini merupakan salah satu café high class. Di mana pengunjungnya adalah kalangan atas. Selain karena namanya sendiri diambil dari nama detektif terkenal Hercule Poirot, café bernuansa modern ini mengharuskan setiap pengunjungnya memakai pakaian resmi. Jadi, beginilah Anna sekarang. Mengenakan short dress, berwarna broken white, dengan rambut tersanggul rapi, dan tak lupa high heels menghiasi kaki jenjangnya. Hal ini termasuk luar biasa, bagi gadis yang terbiasa mengenakan pakaian casual dalam setiap aktivitasnya itu.

Anna mengatur napasnya dan mulai melangkah masuk, setelah melempar senyum ala kadarnya kepada penjaga di pintu.

Dan benar saja, café yang berpencahayaan redup ini hampir mejanya telah penuh, ada pasangan pria-wanita, maupun pasangan antar rekan bisnis.

Hampir tak ada meja yang kosong.

Emerald Anna menyusur, dan akhirnya menemukan sosok yang dicarinya.

Pria blonde yang berada di meja paling ujung, dekat perapian, sendirian...

Gadis caramel itu tersenyum dan melangkah cepat menuju ke meja itu.

"Maaf–"

"Sebagai seorang reporter, kau seharusnya tidak boleh terlambat, Nona."

Belum sempat Anna melanjutkan kata-katanya, pilot tampan itu sudah menyambutnya dengan kalimat sarkastis.

Memilih tak menanggapi ucapan Arthur, Anna langsung duduk di kursi yang berada di depan Arthur.

Tidak sopan memang, tapi Anna merasa tidak berguna bersopan-sopan pada pria di depannya.

Arthur sendiri tidak peduli pada tingkah gadis itu, dan memilih melambai pada pelayan yang sigap menghampiri dua orang ini.

"Nona Anna?" Arthur memandang Anna.

"Air soda, dan tolong panggil aku 'Anna' saja!" jawab Anna.

"Soda dan menu sama!"

Pelayan segera mencatat pesanan dan pergi meninggalkan mereka.

Pandangan Anna kembali menatap pria di depannya.

Malam ini, pilot muda itu berkali lipat lebih tampan dengan trenchoat hitam yang melapisi kemeja putih tanpa dasinya.

Rambut blonde-nya yang sedikit dibiarkan berantakan justru menambah pahatan ketampanannya. Aneh memang, melihat pilot yang biasanya berpotongan rapi tidak berlaku untuk pilot yang satu ini. Tapi, ya memang inilah yang membuat pilot muda ini memiliki tampang menjual bak seorang model.

Anna menggelengkan kepalanya, mencoba menghilangkan pikiran-pikiran anehnya.

"Tuan Coil..."

"Arthur."

"Baiklah, Arthur... masuk ke wawancara, apakah benar Anda bertunangan dengan gadis Blastoon?" tanya Anna langsung. Dia berpikir tak boleh menyiakan kesempatan untuk bisa mewawancarai sosok most wanted saat ini.

"Hn, kupikir kau jauh-jauh datang ke sini bukan untuk menanyakan hal itu bukan?"

"Aku hanya tak ingin menyiakan saat aku bisa menanyakan hal ini kepada Anda. Jadi, bagaimana?" wartawati caramel itu tetap bertahan dengan pertanyaannya.

Arthur menatap Anna tajam, "Kalau aku bertunangan, aku tidak akan mengajakmu makan malam, Nona. Lagipula, sejak kapan New York Times menjadi harian gosip?"

Skak mat, kalimat sarkastis Arthur membuat Anna terdiam.

Tapi, bukan wartawati handal namanya, jika hanya karena sebuah argumen, lalu dia kalah.

Anna ingin mendebat Arthur.

Tapi, makan malam mereka keburu datang, dan sang pilot sepertinya sangat menjunjung asas 'dilarang makan saat bicara', karena dengan ekspresinya saja, Anna tahu bahwa dia tidak akan merespon apa pun pertanyaan Anna saat mereka sedang makan.

Makan malam yang penuh penyiksaan –menurut Anna– telah berakhir.

Gadis itu kini sedang berdiri di depan pintu café, dan menyadari bahwa hari sudah sangat larut malam.

"Kau tidak membawa mobil?" suara datar dari seseorang yang baru saja makan malam dengannya terdengar di sampingnya.

Anna melirik sosok itu, yang kini berdiri di sampingnya dengan kedua tangan berada di saku celananya.

"Tidak, aku datang ke sini dengan taksi. Jadi, aku juga harus pulang dengan taksi."

"Ayo kuantar..." tanpa menghilangkan nada datar dalam suaranya, pilot tampan itu berjalan menuju Porsche hitam miliknya yang terparkir.

Anna sedikit terkejut, namun akhirnya mengekor dan duduk dengan manis setelah dibukakan pintu oleh Arthur.

Lalu, Arthur menghenyakkan diri di belakang kemudi dan membawa Porsche itu meluncur, menembus malam...

Tak ada percakapan berarti selama perjalanan mereka, kecuali saat Arthur menanyakan denah tempat tinggal Anna.

Hingga akhirnya mobil itu berhenti di depan gerbang sebuah apartement mewah.

"Terima kasih, Arthur..."

"Hn."

"Kau tahu, besok adalah ulang tahunku, jadi ini kuanggap kado indah untukku..." ucap Anna pelan, emerald-nya menatap pemuda itu tulus.

Arthur yang dari tadi menatap lurus ke depan. Menyadari pandangan gadis itu dan membalas tatapannya. Arthur terjebak dalam kolam sewarna mutiara yang ditawarkan gadis itu...

Hingga akhirnya jarak terpangkas oleh kehangatan bibir mereka.

Anna menatap Porsche hitam yang baru saja melesat menghilang tertelan kegelapan.

Disentuhnya bibirnya pelan. Anna tahu, dia baru saja mendapat sesuatu yang lebih berharga, daripada sekedar berita...

Washington DC, 28 Maret 2011

Pagi-pagi sekali, Arthur sudah sibuk mempersiapkan keberangkatannya. Ia mengemasi perlengkapan pilotnya dan memasukkannya ke dalam tas.

Tepat pukul sepuluh, Arthur menepati janjinya untuk menelepon kembali Matt Greyser, sahabat sekaligus pengacaranya di Los Angeles.

Di sana, Matt Greyser mengangkat telepon.

"Apa kau sudah membaca surat kabar hari ini, Arthur?"

"Hn, ada apa?" tanya Arthur. Pagi ini, ia memang belum sempat membaca korannya.

"Mereka semua menulis tentangmu. Juga tentang IMAS dan Peacemaker-nya. Seluruh stasiun TV me-replay wawancaramu kemarin. Mereka bilang kau seorang yang hebat, Arthur!"

"Che, biarkan saja. Besok mereka akan menyaksikan yang lebih dari itu semua!"

"Apa itu?" tanya Matt penasaran.

"Kau lihat saja nanti, Matt."

"Ah, kau ini memang senang membuat orang penasaran, Arthur. Lalu, apa yang harus kulakukan sekarang?"

Arthur menarik napasnya dalam-dalam.

Seluruh rencana sudah disusunnya begitu matang.

Dan tak ada yang boleh tahu.

Ia tidak ingin orang lain mendapatkan kesulitan karena perbuatannya. Juga Matt.

"Aku punya sesuatu yang harus kau sampaikan kepada yang berhak menerimanya. Dan semuanya akan dijelaskan oleh sebuah disket yang akan aku kirim dari sini, hari ini juga. Paket itu aku kirim ke kantormu. Besok kau sudah menerimanya. Itu saja!"

Belum sempat Matt menjawab, Arthur sudah memutuskan hubungan.

Arthur melirik jam tangannya. Satu jam lagi utusan Dephan akan menjemputnya. Ia masih punya waktu untuk menyelesaikan bagian dari rencananya.

Arthur membongkar isi meja kerjanya. Ia mengeluarkan sebuah map dan membukanya. Pria bermata sapphire itu mengeluarkan beberapa guntingan koran dan menumpuknya di tong sampah. Begitu yakin semuanya tak bersisa, ia lalu mendekati perapian dan membakar kliping-kliping koran itu dengan hati-hati.

Setengah jam kemudian, sebuah sedan milik Departemen Pertahanan dan Keamanan memasuki halaman rumahnya.

Saat itu, Arthur sudah menunggu di depan pintu. Ia langsung masuk ke mobil dan menunggu sopirnya selesai memasukkan barang-barang ke mobil.

Pria sapphire itu menatap kembali rumahnya.

Setelah itu, ia tidak ingin melihatnya lagi.

"Kita ke kantor pos dulu sebentar," ucap Arthur ketika mobil sudah dalam perjalanan.

"Baik," jawab sang sopir.

Di dalam British Airways yang membawanya menuju New York, Arthur kembali memikir ulang seluruh rencananya.

Semua risiko sudah diperhitungkannya.

Beruntung ia hanya sebatang kara.

Seluruh keluarganya sudah tewas puluhan tahun yang lalu, ia begitu menyesali kenapa ia tidak ikut tewas bersama mereka.

Waktu itu ia baru enam tahun.

Sejak itu, tak ada yang ingin dilakukannya selain berjuang dan bekerja keras.

Dan ia rasa, semuanya akan sampai pada puncaknya esok siang di New York.

Arthur kembali memejamkan matanya, kelopak mata menutup sepasang sapphire miliknya.

….

New York City, 29 Maret 2011

Di Bandara Internasional terlihat sebuah kesibukan.

Di mana-mana terpasang umbul-umbul setinggi empat meter berkibar-kibar diterpa angin. Ada ratusan pesawat tempur berbagai tipe dan jenis berbaris teratur sepanjang lintasan pacu. Di bagian depan menara pengawas, berdiri sebuah tenda raksasa berwarna biru tua dengan ratusan kursi di bawahnya. Di sana terlihat para pejabat puncak pemerintahan , para Jendral US Army Force dan para undangan penting dari berbagai negara. Ratusan pria berjas rapi berkacamata hitam dengan seragam khusus sibuk di posisi masing-masing sambil berkomunikasi lewat headphone. Mereka para bodyguard yang ditugaskan mengamankan event penting kedirgantaraan militer dunia itu.

Di bawah sebuah spanduk raksasa bertuliskan 'Welcome to International Military Air Show 2011' duduk teratur puluhan pilot yang akan melakukan atraksi udara dengan pesawat tempur masing-masing. Arthur I. Coil, satu-satunya pilot termuda, duduk di bagian kiri. Ia duduk dengan tenang sambil mengawasi keadaan sekelilingnya.

Setengah jam berlalu, sebuah F-117 Nighthawk Stealth memecah udara New York tanpa suara.

Dari pengeras suara, seorang MC membacakan spesifikasi si 'siluman' itu. Kemudian bergemuruhlah dari arah panggung tepuk tangan para undangan. Setelah menunjukkan kebolehannya, pesawat yang pernah diterjunkan dalam perang Irak-Amerika 1996 itu kembali ke sarangnya.

Giliran Arthur pun tiba.

Dengan gagah lelaki tampan 25 tahun itu menaiki Peacemaker dibantu seorang petugas machine service. Setelah mengacungkan jempolnya, Arthur menggiring pesawat itu memasuki landasan pacu. Setelah benar-benar merasa siap, Arthur menekan tombol turbo.

Tanpa suara, pesawat itu take off dengan kecepatan kilat dan melintas di depan panggung kehormatan.

Arthur memutar pesawat dan kembali ke arah tenda raksasa.

Tiba-tiba, pesawat itu berhenti mendadak dan mengapung di angkasa, tepat di depan barisan para undangan.

Tepuk tangan pun terdengar bergemuruh.

Begitu MC selesai menyebutkan jati diri pesawat tempur generasi akhir itu, Arthur pun melesatkannya menjauh dan menghilang di angkasa.

Beberapa saat pesawat itu tidak muncul.

Para pengatur acara masih menunggu.

Masih ada atraksi yang harus dipertunjukkan G-13 itu.

Tapi, setelah lima menit, pesawat itu tidak juga muncul.

Orang-orang di menara mulai panik.

"Di sini menara pengawas, apakah Peacemaker menerima pesan kami?" ucap petugas mencoba mengontak Arthur. Beberapa saat menunggu belum ada jawaban.

Di angkasa sana, di ketinggian 9500 meter dan dalam kecepatan 5 Mach, pemuda bermata sapphire itu tersenyum.

"Ya, di sini G-13. Kami segera kembali!" jawabnya. Petugas di menara melihat ke layar radar. Pesawat itu memang mendekati titik sentral. Tapi, tiba-tiba hilang dari pantauan radar.

"Kenapa dia?" tanya Dick Forrery, Kepala Bandara.

"Bukankah dia diperintah untuk tidak mengaktifkan sistem anti radar?" lanjutnya gusar.

"Benar! Tapi, ia telah membangkang," jawab seorang petugas. Beberapa petugas yang lain mencoba menggunakan teropong digital. Tapi, Peacemaker tak kelihatan.

"Peacemaker diperintahkan kembali!" bentak Dick emosional.

Tak ada jawaban.

Layar radar pun masih kosong.

Ternyata Arthur mengacau sistem radar menara pengawas.

"Shit!" maki Dick dengan muka merah padam. Ia mengambil handphone-nya dan mengontak Jendral Bob Christopher, di bawah sana.

"Peacemaker menghilang, Pak!" lapornya.

Jendral berkacamata itu wajahnya memerah, seperti bara.

Belum sempat ia memberi intruksi, sebuah ledakan dahsyat terdengar dari arah lintasan parkir pesawat.

Peacemaker muncul di balik asap hitam yang membubung ke angkasa sambil terus memuntahkan bomnya.

Orang-orang menjadi panik dan berusaha menyelamatkan nyawa masing-masing.

Dari arah menara, meraung-raung sirine tanda bahaya. Menteri Pertahanan, James Spencer tiba-tiba sudah berdiri di depan Jenderal Christopher.

"Apa yang dia lakukan?" bentaknya. Tapi, suaranya hilang ditelan suara ledakan.

Mr. President segera diamankan.

Para tamu negara kalang kabut.

Di mana-mana terdengar teriakan kepanikan.

Apalagi ketika tanpa diduga G-13 mengapung tepat di depan tenda kehormatan dalam jarak seratus meter.

Di dalam benda hitam itu, Arthur tersenyum.

Dendamnya terbalaskan.

Lalu, ia tiba-tiba muram.

Di matanya muncul bayangan saat keluarganya hangus bersama rumah mereka, ketika pesawat militer Amerika mengebomnya.

"Sekarang kalian akan merasakan akibat kecongkakan kalian," ucap Arthur sambil memencet tombol fire di tangannya.

Dalam hitungan detik, tenda di depannya hancur lumat.

Peacemaker kembali berputar-putar dan merudal seluruh pesawat tempur di bawahnya.

Setelah yakin tak ada pesawat tempur yang tersisa, Arthur melesat ke arah barat menuju Seattle. Di menara pengawas, Dick Forrery menatap G-13 dengan mata tak berkedip. Ia sama sekali tidak dapat berbuat apa-apa ketika pesawat itu bergerak menjauh dan menghilang di balik gumpalan asap tebal. Ia lalu menghubungi Jendral Christopher. Ia berharap Jendral itu masih hidup.

"G-13 itu menuju ke arah barat, Pak!" lapornya.

"Kejar dia dengan cadangan F-117 di Oklahoma. Perintahkan seluruh pangkalan untuk mengerahkan pesawat tempurnya, untuk mencegat bajingan itu," geram jendral berbintang empat itu.

Dick Forrery melakukan tugasnya. Atas nama Kepala Staf Angkatan Udara Amerika Serikat ia menghubungi seluruh squadron di daratan Amerika. Kemudian ia menerima perintah untuk membatalkan seluruh jadwal penerbangan ke Seattle. Perintah terakhir ini juga berlaku untuk seluruh bandara di seluruh dunia. Dan berita pembelotan G-13 itu segera menjadi deadline seluruh media massa. Beberapa stasiun TV secara langsung menyiarkan berita itu dari bandara di New York.

Sementara itu Peacemaker G-13 melesat dengan kecepatan penuh ke arah Seattle.

Tujuan Arthur adalah Markas Besar CIA.

Tiba-tiba komputer di kopkit pesawat memberitahu bahwa ada yang mencoba mengontaknya dari bumi. Arthur menerimanya.

"Apa yang kau inginkan, Coil?" itu suara James Spencer.

"Hn, tidak ada," jawab Arthur enteng.

"Tidak ada? Lalu apa maksudmu?"

"Saya cuma menjalankan tugas sekaligus merampungkan obsesi saya."

"Tugas apa?"

"Jangan membentak saya, Mister Spencer. And, I won't hear your voice again. Forever!" Arthur memutuskan hubungan.

Dan 45 menit kemudian, Arthur sudah berada di atas Denver. Saat itu, monitor komputer menangkap gerakan sebuah pesawat tak dikenal mendekati posisinya.

Arthur melacak identitas pesawat pemburu itu.

"Hn, sebuah F-113 rupanya!" ucapnya dramatis. Tak diduga, F-113 itu mengontak Arthur.

"Echo... echo...! G-13 diperintahkan mendarat!"

Pria stoic itu tersenyum sinis.

"Baiklah, saudara tua! Kami segera turun!" ucap Arthur.

Arthur menurunkan kecepatan dan menukik ke bawah. Arthur mengatur posisinya dan mengurung F-113 itu dalam lingkaran posisi tembak.

Begitu saatnya tiba, Arthur melepas tembakan ke belakang dan segera melihat F-113 itu, hancur berkeping-keping.

"Selamat jalan, Kawan!" ucap Arthur sambil kembali menambah kecepatan.

Di Los Angeles, Matt Greyser menerima disket yang dijanjikan Arthur. Matt menghidupkan komputernya dan membuka disket itu. Dalam sebuah file berinisial 'Top Secret', Arthur menulis:

Matt,

Hari ini semuanya telah aku selesaikan. Dan aku bahagia bisa melakukannya-menghancurkan kekuatan Amerika-semampuku. Dan itulah cita-citaku sejak dua puluh tahun yang lalu. Aku tahu, kau pasti akan memarahiku karena cara yang ku gunakan. Tapi, proyek pembuatan G-13 sama sekali bukan untuk perdamaian-sebagaimana yang mereka gembor-gemborkan- tapi untuk sebuah kejahatan yang akan mereka lakukan pada negara-negara pesaingnya.

Matt, aku serahkan tabungan dan kekayaan pribadiku, untuk orang-orang yang membutuhkan.

Maafkan sahabatmu ini.

New York, 28 Maret 2011

Di akhir suratnya, Arthur menulis, 'disket ini akan musnah setelah tiga menit'.

Matt menunggu. Tiga puluh detik kemudian, dari disk driver-nya muncul asap hitam tipis.

Asap itu lalu menghilang. Matt mendesah, matanya menerawang.

'Arthur...'

Di Markas Besar CIA, sebuah pasukan telah dipersiapkan untuk menyambut kedatangan G-13.

Dalam radius lima ratus mil, telah ditempatkan tiga puluh unit truk peluncur rudal Patriot.

Kota Seattle begitu lengang.

Kepala CIA, Jody Powel tampak panik.

"Apa ia sudah kelihatan?" tanyanya pada sang operator.

"Belum, Pak! Pesawat itu anti radar!" jawab sang operator.

"Saya sudah tahu!" balas Jody Powel kesal.

Seribu mil di luar Seattle, sebuah benda hitam yang begitu ditakuti muncul.

Sapphire Arthur melihat komputer pesawat menunjukkan dua puluh posisi berbahaya.

Ketika Arthur menekan tombol shoot, komputer secara otomatis meluncurkan dua puluh rudal bergantian ke posisi titik merah di layar komputer.

Di bawah sana, Jody Powel tidak menyadari bahwa dua puluh peluncur rudal Patriot-nya sudah hancur bersama awaknya.

Arthur mendekati posisi sentral, yaitu markas CIA.

Radius lima ratus mil sudah dilumpuhkannya.

Sekarang tinggal melumatkan gedung yang konon anti nuklir itu.

G-13 itu sudah tepat mengapung di atas gedung bertingkat sepuluh itu.

Arthur melepas cadangan pelurunya dan meluncurkan senjata pelumatnya.

Tapi, tiba-tiba lima bayangan hitam sudah mengepungnya, ketika ia menjauhi gedung yang hampir lumat itu.

Belum sempat komputer melacaknya, lampu danger menyala berulang kali.

Kemudian, menyusul perintah komputer agar ia secepatnya meninggalkan tempat itu.

Tapi, Arthur terlambat.

Sebuah goncangan ia rasakan ketika rudal pesawat musuh menubruk perut pesawat.

Ketika itulah, Arthur ingat apa yang harus dilakukannya.

Dalam balutan helm hitam, pilot terbaik Amerika yang berasal dari Rusia itu terbayang keluarganya dan...reporter berambut sewarna lelehan karamel, Anna.

Dan akhirnya...

Peacemaker G-13 lumat di udara Seattle...

Pada saat yang sama, Anna reporter New York Times, dipanggil bosnya. Anna dengan tergesa-gesa memasuki ruangan kerja Larry Foster.

"Ada apa, Pak?" tanyanya.

Dari kursinya, Larry Foster melemparkan sebuah paket pada gadis itu.

"Itu dari Arthur! Kukira sebagai hadiah ulang tahunmu!" ucap pria enam puluh tahun itu.

"Arthur Ivanovich? Apa isinya?" tanya Anna sambil mengira-ira.

"Sebuah disket yang membuka tentang teka-teki proyek raksasa Peacemaker G-13, beserta salinan program-program rahasia yang akan dilakukan pesawat gila itu. Ternyata, apa yang selama ini digembor-gemborkan oleh orang-orang Gedung Putih adalah omong kosong semua. G-13 sama sekali bukan untuk perdamaian, tapi adalah ambisi gila para senator untuk menguasai dunia!"

"Oh ya? Jadi Anda sudah membukanya?" tanya gadis bermata emerald itu.

"Tentu saja. Jika dia tidak menulis namanya, mana mungkin saya begitu berani membuka sesuatu untuk gadis galak sepertimu!"

Anna tertawa.

"Jadi?" tanyanya pada Larry.

"Tulis laporannya selengkap mungkin. Besok kita akan naik cetak empat kali lipat!" tegas Larry.

"Lalu, jika semua koran Anda habis terjual?"

"Saya ingin menghadiahkannya pada pilot muda itu. Tapi sayang, ia sudah tewas..." ucap Larry sedih.

Di luar, memandang langit New York yang sebiru mata sang pilot, gadis bermata emerald itu mendesah...

"Padahal aku mulai menyukaimu, tapi kenapa kado yang kau berikan seperti ini, Arthur..."

New York City, 31 Maret 2011

Seperti dugaan Larry Foster, korannya habis ludes sebelum tengah hari. Tapi, sore harinya sebuah e-mail masuk ke komputer kantornya.

Surat itu datang dari Menhankam James Spencer.

Isinya singkat saja: New York Times dibreidel!

.

.

.

.

'Tap, tap, tap'

Suara keds yang melekat pada sepasang betis indah seorang gadis, terdengar nyaring saat menapak di atas marmer yang dilaluinya, ringan dan berirama.

Tak lama, langkah gadis itu berbelok memasuki lorong lain dan akhirnya berhenti di depan sebuah pintu berwarna almond. Dengan kunci yang ada di tangannya, dibukanya pintu almond itu, dan dikunci dari dalam.

Semerbak aroma citrus dari pengharum ruangan yang menyambut, menguar dan membelai indra penciumannya.

Setelah meletakkan beberapa buku di atas bufet, gadis itu melangkah menuju ruangan lain, yang disebut dapur.

Diambilnya sebungkus cokelat instan dan dua cangkir berwarna putih. Cangkir pertama dia gunakan untuk membuat cokelat, sementara itu, diseduhnya kopi di dalam cangkir kedua. Lalu, dimasukkannya satu buah gula balok dan sedikit creamer, dia tahu, si penikmat kopi tidak terlalu suka manis.

Dengan hati-hati dibawanya cangkir itu ke sebuah kamar.

Dibukanya pintu kamar itu lirih, dan ditutupnya tanpa suara.

Perlahan di letakkannya kopi itu di atas meja kecil, di samping tempat tidur.

Lalu, pandangannya beralih pada sosok lain di ruangan itu, yang sedang menatap ke luar jendela, memunggunginya.

"Kau sudah bangun? Bagaimana keadaanmu?"

Hening, pertanyaan beruntun yang di lontarkan gadis itu tak mendapat jawaban.

Menghela napas sebentar, gadis itu memilih berjalan dan duduk di samping sosok itu.

Ekor mata emerald sang gadis melirik sosok itu, sosok pemuda blonde berkulit pucat.

Pemuda blonde itu seolah tak peduli, summer sky-nya tetap menatap ke luar jendela, dalam diam.

"Dokter Nakamura akan datang beberapa saat lagi, bersama Tuan Greyser tentunya. Di luar berita tentang kematianmu juga masih panas. Untuk sementara kau tinggal di sini saja. Suasana luar belum baik untukmu, Arthur..."

.

.

.

.

Di tengah berita panas mengenai meledaknya Peacemaker, pem-breidel-an New York Times, dan demontrasi mengenai latar belakang pembuatan Peacemaker, Anastasia Maurer, reporter New York Times... merawat Arthur Ivanovich Coil di apartement-nya, pilot Peacemaker G-13 yang dinyatakan tewas dan bertanggung jawab atas semua kekacauan ini!

.

.

.

.

The Beginning