"PEACEMAKER II: G-15"

Original Fiction Written by Nero © 2012


Disclaimer :

This is just a work of pure fiction. I don't take any material profit from this work. Don't copy, don't re-link, and don't re-share without permission. Plagiarisms aren't allowed here!

Based on Tuganim 34 © Izzatul Jannah 1996

Genre – Rate :

Romance – Science Fiction – Action

Teen – PG 17+

Warnings :

Don't copy, don't re-link, and don't re-share without permission. Plagiarisms aren't allowed here!


Washington DC, July 17th, 2013

Jendral Bob Christopher terus mengetukkan jemarinya dengan nada tak beraturan.

Gelisah.

Tatapan matanya yang terbungkus sepasang kacamata bulat, nanar mengarah liar ke seluruh penjuru ruangannya.

Sesekali ia menengadah menatap langit-langit ruang kerjanya sambil terus-menerus menghembuskan napas kepanikannya.

"Lagi-lagi aku kecolongan! Brengsek! Kali ini siapa biang keladinya? Damn it!" ia mengumpat tak karuan.

Jendral berbintang empat itu memang perfeksionis.

Dan ia tak pernah gagal, tidak sejak Peacemaker kemarin dan hingga detik ini.

Bob berpengalaman di medan tempur paling sulit sekalipun. Tidak ada yang meragukan jendral berbintang empat ini.

Termasuk Peacemaker yang alih-alih menjadi tanggung jawabnya justru dianggap sebagai kecolongan karena pembelotan Arthur I. Coil.

Tapi, kali ini tidak.

Bob bangkit dari duduknya, lalu hilir mudik mengitari ruang kerjanya.

Mulutnya terus bergerak-gerak, sesekali ia mengumpat dalam bahasa Inggris dan mengerang dengan bahasa Perancis.

"Bagaimana bisa pesawat yang begitu canggih, bisa jatuh dan tenggelam di Laut Merah? Gila! Padahal pesawat ini merupakan pesawat dengan kecanggihan dua kali lipat dari G-13! Shit!" Bob mengumpat lagi.

"Reputasiku hancur! Brengsek!"

Mendadak terdengar pintu diketuk.

"Massuukkk!" bentak Bob.

Seorang tentara muda masuk dengan lengan gemetar. Terburu-buru ia menyerahkan berkas-berkas yang semula dilipat di bawah ketiaknya.

Mata Bob berkilat menatap tentara muda itu tajam.

"Apa itu?" tanyanya yang lebih mirip bentakan.

"I-ini berkas laporan kecelakaan kemarin, Sir!" jawab tentara muda sambil menghormat.

Bob mendengus.

"Sudah! Pergi kau!" usirnya.

"Yes, Sir!" sontak tentara muda itu mengangkat tangan, memberi hormat lagi, dan bergegas pergi. Ia tahu pasti, atasannya tidak segan-segan menampar bila ia melakukan sesuatu yang tidak berkenan.

Dengan gerakan tergesa Bob membuka arsip-arsip itu.

"Somatographic illusion! Gila, bagaimana bisa?" teriaknya marah.

Bob tidak habis pikir kejadian fatal pesawat Tornado milik RAF tahun 1988, dan kehilangan pesawat tempur Angkatan Laut Amerika terjadi lagi.

Dan fatalnya hal ini terjadi di squadron yang ia pimpin!

Bob menggeram marah.

Keningnya berkerut, terus berpikir.

Dengan gerakan berputar, Bob menghadap ke arah tumpukan buku-buku kesehatan penerbangan.

Ia mendesiskan huruf 's' menjadi mencubit-cubit bibir bawahnya.

"Ini dia, somatographic illusion!"

Sesaat kemudian, ia sibuk membaca literatur tentang penyebab kecelakaan itu.

Somatographic illusion terjadi apabila organ-organ otolith sampai menangkap kesan adanya percepatan linear yang 'mencekam', hal ini disebabkan adanya gravitasi. Apabila hal ini terjadi pada seorang pilot, maka sang pilot justru akan menukikkan pesawatnya pada obyek yang menghadang di hadapannya.

'Brakk'

Bob menutup buku setebal sepuluh sentimeter itu dengan gemas.

"Ini sabotase! Pasti ada seseorang yang merusak daya tahan pilot-pilotku, tapi siapa?" gerutunya panjang pendek.

Akhirnya tepat pukul dua belas malam, Bob menyerah, ia berharap bisa segera menuntaskan teka-teki itu.

'Ya! Segera mungkin, jika tidak tamat riwayatku,' desisnya pelan.

Dengan langkah gontai, Bob menyusuri koridor markasnya.

Suasana lengang menyergapnya, yang terdengar di sekelilingnya hanya ketukan-ketukan pendek langkah kakinya sendiri.

Setelah mengunci pintu, pandangannya langsung menemukan bodyguard yang telah bersiaga untuknya.

New York City, July 13th, 2013

"Pesawat yang merupakan generasi ke dua dari Peacemaker ini dirancang oleh pakar yang membuat seri sebelumnya. Dengan menyandang nama G-15 pesawat ini memiliki teknologi yang lebih canggih dari G-13. Bahkan dengan bobot dua ton, pesawat ini juga bisa untuk mengangkut empat awak di dalamnya. Mengenai kualifikasi persenjaatan baru, pesawat ini dilengkapi dengan radar yang akan aktif secara otomatis saat ada gerakan tidak wajar dari sang pilot. Yang memungkinkan kita tidak mungkin kecolongan lagi seperti sebelumnya. Pesawat ini akan diterbangkan pertama kali pada pada tanggal 16 Juli 2013 menuju Israel melewati Laut Merah dalam rangka pengiriman delegasi PBB ke sana. Pesawat ini murni untuk perdamaian dan–"

'Klik'

"Ck, Bodoh!"

Suara televisi yang dimatikan disusul oleh umpatan keras seorang gadis yang terdengar di ruangan berukuran sedang ini. Jam telah menunjukkan pukul sembilan pagi, namun aktivitas yang terjadi di bawah langit musim panas New York City tak berlaku di dalam ruangan ini.

"Mereka tidak menyerah rupanya! Hah, orang-orang Gedung Putih yang tolol!" umpat seorang gadis berambut sewarna caramel yang tengah menghempaskan tubuh di atas sofa berwarna almond. Tangannya yang sewarna pualam masih erat memegang remote yang baru saja dipakainya untuk 'membunuh' benda persegi di depannya.

"Harusnya mereka tak perlu menggemborkan proyek pesawat ini. Apalagi setelah G-13 kemarin," lanjutnya lagi.

Emerald-nya melirik sosok lain di ruangan itu yang stay cool di depan laptop hitamnya.

"Pesawat ini memiliki kualifikasi lebih dari seri sebelumnya. Mustahil mereka membuatnya hanya sebagai pesawat tempur yang bisa mengangkut delegasi. Apa mereka pikir publik itu sama bodohnya dengan mereka–Oh, ayolah, Arthur. Kau tidak tertarik berita mengenai pesawat ini?" ucap sang gadis mulai kesal, kalimat panjangnya sama sekali tidak ditanggapi. Ia merasa menjadi pemain drama yang mendadak mendapat peran monolog. Dan pemuda berkulit alabaster nan tampan bernama Arthur itu seolah menjelma menjadi penonton yang sekedar tidak ingin uang pembelian tiketnya sia-sia.

"Arthur?" sang gadis masih mencoba menarik perhatian penonton satu-satunya.

"Hn?" ucap pemuda blonde itu singkat sebagai respon atas protes sang gadis.

"Hn, hn, hn!" ucapan mengejek keluar dari bibir gadis yang kini memasang tampang kesal dengan gesture tangan terlipat di dada.

Ekor mata sapphire Arthur melirik dan seringai tipis terbentuk melihat tingkah konyol sang gadis. Perlahan, dilepaskannya pandangan summer sky-nya dari laptop dan dia memberi perhatian penuh pada gadis itu.

"Apa tanggapan yang kau inginkan, Nona Anna?" tanya pemuda itu pelan.

"Tidak jadi!"

Tanpa perlu menjadi ahli membaca gesture ataupun pikiran, Arthur tahu, gadis bernama Anna itu pura-pura kesal.

"Hn, baiklah. Jadi kau tidak ingin tahu mengenai rahasia dari pesawat itu..." ucap Arthur dengan nada menyesal yang dibuat-buat.

Berhasil.

Setelah mendengar kata 'rahasia', dalam sekejap, gadis itu memberi perhatian penuh atas ucapan sang blonde.

Dilepaskannya dekapan tangannya dan emerald-nya menatap Arthur, tertarik.

Melihat itu, seringai tipis nan licik yang mampu membuat gadis meleleh tersungging di wajah pemuda Ivanovich itu.

"Pesawat itu tidak mengangkut delegasi, Anna. Pengangkutan delegasi hanyalah kamuflase. Lagipula, sejak kapan pengangkutan delegasi menggunakan pesawat tempur? Yang sebenarnya mereka angkut adalah... bom."

Anna terbelalak. Pandangannya menatap tajam pemuda tampan yang sikapnya seolah hanya guru yang menerangkan satu tambah satu itu dua.

"Darimana kau tahu?" tanya sang gadis setelah badai keterkejutan yang menyerangnya berlalu.

"Haru Takajima, pilot dari divisi yang sama denganku," jawab Arthur singkat. Pandangannya kembali beralih pada window laptop-nya. "Hn, sepertinya aku harus melakukan sesuatu."

Ucapan pemuda yang lebih mirip gumaman itu nyatanya terdengar oleh Anna yang segera berteriak keras.

"Apa maksudmu melakukan sesuatu? Jangan berpikir kalau kau akan menerbangkan pesawat itu. Kau tahu, aku tidak akan pernah mengizinkanmu melakukan itu, Arthur!" Anna berdiri dan menatap pemuda itu tajam.

"Hn?" Arthur mendongak. Sapphire-nya lurus menatap emerald Anna.

"Aku harap kau tidak cukup bodoh untuk menerbangkan pesawat lagi dan menghancurkannya dengan setumpuk bom di dalamnya!"

Anna merasakan ruangan sedang ber-AC yang didominasi warna almond ini mendadak suhunya meningkat tajam.

"Kau tidak berpikir mengenai jutaan nyawa manusia tak berdosa yang akan melayang karena bom itu, Anna?" ucap Arthur tajam.

"A-aku..."

"Kau tenang saja. Aku tidak bodoh, Anna. Masih ada cara lain untuk menghancurkan pesawat itu, tanpa mengorbankan nyawaku," ucap pemuda blonde itu tegas.

Anna kembali terduduk, emerald-nya yang entah sejak kapan basah itu menatap Arthur nanar.

"A-aku tidak ingin kehilangan dirimu, Arthur. Dirimu... pertunangan kita... I-itu sangat berarti untukku..."

...

Dua tahun sejak peristiwa peledakan Peacemaker seri G-13 di langit kota Seattle, tanggal 29 Maret 2011, semua berjalan normal.

Sangat normal.

Pihak Gedung Putih dengan mudahnya mengubah persepsi publik bahwa peristiwa tersebut murni pembelotan sang pilot, Arthur Ivanovich Coil. Demo yang tadinya gencar dilakukan pun semakin hari semakin berkurang dan berhenti, tanpa menghasilkan apa-apa. Tuntutan publik menghilang bersamaan dengan menghilangnya nama Arthur Ivanovich Coil, yang lebih dikenang sebagai pembelot daripada seorang pahlawan.

Dan nyatanya, pemuda dingin nan tampan itu tidak terlalu ambil pusing mengenai pandangan publik terhadapnya ataupun cerita yang dibuat oleh para penghuni Gedung Putih.

Ia telah nyaman dengan hidupnya sekarang.

Tinggal dengan Anastasia Maurer, reporter cerdas New York Times, setelah gadis berambut caramel tersebut resmi menjadi tunangannya, 28 Maret kemarin.

Tak banyak yang mengetahui hal ini, kecuali Fuji Nakamura, dokter pribadinya, Matt, pengacaranya, dan Haru Takajima, mantan rekan sesama pilotnya yang tak pernah absen memberinya info mengenai Angkatan Udara AS.

Anna juga kembali menjadi wartawan New York Times setelah pembreidelan surat kabar tersebut dicabut.

Melihat anggapan bahwa sikap pemerintah yang seperti itu hanya akan memperkuat dugaan masyarakan mengenai tujuan sebenarnya pembuatan Peacemaker.

Semuanya, sekali lagi berjalan normal.

Hingga hari ini tiba.

Angkatan Udara Amerika mengadakan press meeting mengenai pembuatan seri ke dua Peacemaker.

Dan dengan dalih yang sama; perdamaian.

Orang bodoh mana yang masih bisa ditipu dengan alasan negara adidaya yang selalu sama ini?

Dan bukti memang mengatakan lain. Pesawat –yang dikatakan untuk membawa delegasi PBB– itu nyatanya menyembunyikan setumpuk bom di dalamnya.

Arthur tak ingin melihat berjuta nyawa manusia melayang sia-sia tentu saja.

Tapi, dia juga tidak bodoh untuk menghancurkan AS dengan cara yang sama.

Ivanovich bukan orang bodoh.

Ingat itu!

...

New York City, July 14th, 2013

Malam mengelam.

Mendekap New York dengan segala kegalauan.

Aspal dipagari tiang lampu jalan, masing-masing menebarkan lingkaran kecil cahaya. Jalan diterangi lampu-lampu depan taksi-taksi dan mobil-mobil.

Sepasang muda-mudi berpakaian khas Eropa berjalan sempoyongan, rupanya mereka mabuk berat.

Wanita berambut sewarna lelehan caramel dan pria blonde itu tampaknya menuju hotel di seberang jalan tepat di depan markas Mayor Sean Frences.

"Pegang erat tanganku, Sayang. Kita hampir tiba di hotel..." bisik pemuda mabuk itu pada pasangannya.

Wanita cantik bermata emerald itu terkikik genit.

Tiba-tiba, sapu tangannya jatuh.

Tepat di depan kaki seorang pemuda tampan berambut eboni, dengan kulit sepucat mayat.

Ketika wanita itu akan mengambil sapu tangannya, pasangannya mencegah.

"Jangan, Sayang. Biar kuambilkan..." tangan pemuda itu terulur berusaha menjangkau sapu tangan bermotif sakura itu.

Tapi, tangan pucat si pemuda eboni lebih cepat, ia mengambil sapu tangan itu dan mengulurkannya pada sang pemuda tengah mabuk.

"Terima kasih, Sir. Grazie..." pemuda tampan itu meletakkan tangannya tepat di kening, memberi hormat pada pemuda eboni. Pemuda yang itu tersenyum sebagai jawaban.

Beberapa saat kemudian, sepasang muda-mudi mabuk itu saling membimbing menyeberang jalan menuju hotel tempat mereka menginap, dengan langkah sempoyongan.

"Aku ingin hik... pindah hik... kamar, Sayang..." bisik wanita muda itu sambil menggelayut pada pasangannya. "Kau bisa mengusahakannya hikk... bukan?" pintanya.

Sang pemuda mengangguk-angguk.

"Buona sera. Signora..." petugas pintu hotel menyambut pasangan mabuk itu. Sang wanita mengangkat topinya perlahan, sambil terkikik.

"Kami ingin pindah kamar," kata pemuda itu begitu sampai di meja resepsionis. Sang resepsionis yang berambut pirang itu tersenyum. Ia hapal kelakuan pasangan kekasih yang mengaku asal Italia itu. Sejak mereka tinggal di hotel seminggu yang lalu, mereka tiga kali minta pindah kamar.

"Si... si... signore. Kami akan pindah. Bagaimana kalau kamar nomor 134, Sayang?" tanya pemuda itu pada kekasihnya. Wanita berambut cokelat itu mengangguk-angguk.

Dengan cekatan sang resepsionis bertepuk tangan memanggil beberapa petugas hotel untuk mengangkut barang-barang pasangan mabuk itu. Dan dalam hitungan menit, mereka sudah siap menempati kamar baru.

"Kenapa kau minta kamar baru, Anna?" tanya pemuda mabuk tadi yang tak lain adalah Arthur sambil mengamati pasangannya yang tengah menghilangkan make up di wajahnya.

"Mayor itu sudah memasang penyadap di telepon kamar kita. Kemarin aku melihatnya. Sepertinya ia mulai mencurigai kita," dengan suara pelan,Anna menjawab.

Ia melemparkan sebentuk kartu yang diambilnya dari balik sapu tangannya ke arah Arthur.

Dengan sigap pemuda itu menangkapnya lalu segera menghidupkan laptop hitamnya.

"Kurasa, pindah ke hotel ini bukan ide yang baik, Arthur. Kita tidak melakukan penyamaran. Tidak mustahil mereka akan mengenali kita," ucap Anna pelan.

"Tapi, hanya dengan cara ini rencanaku akan berhasil dan semakin mudah," jawab Arthur tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop-nya.

"Kapan kau berencana melakukan 'itu'?" Anna memutar tubuhnya dan menatap Arthur.

"Hn, besok," jawab Arthur singkat.

"Be-besok?" ucap Anna gamang.

"Tenanglah, Anna. Aku tidak akan mati besok," ucap pemuda itu tenang. Mengabaikan badai ketakutan yang telah menghantam gadisnya mati-matian.

Anna berdiri, mencoba melawan buncah air mata yang ditahannya sekuat tenaga.

Kakinya melangkah mendekati pemuda Ivanovich yang tak menghiraukannya.

Dalam diam, Anna berdiri di sisi pemuda itu.

Mengamatinya.

Nanar.

Arthur yang merasa diamati, menghela napas dan mendongak, menatap gadis caramel itu.

"Berhentilah mengkhawatirkanku seperti itu, Anna. Aku akan baik-baik saja," ucap Arthur lembut.

Tangan alabaster-nya menyentuh pipi gadisnya, yang kini mulai dialiri sungai kecil.

Anna menggigit bibirnya, mencoba melawan perasaan yang begitu memberontak keluar.

Entah sejak kapan, ia... gadis yang dikenal tegar dan keras kepala begitu mudahnya rapuh dan lemah pada sosok Arthur.

Pemuda ini dengan begitu cepat menginvasi setiap celah tubuh Anna dengan pesonanya.

Anna dengan begitu mudah menyerahkan eksistensinya pada pilot pemberani ini.

Mungkin memang benar, cinta bisa membuat kita kuat namun di saat yang bersamaan juga lemah.

Anna begitu merindukan keberadaan Arthur di sisinya.

Mulai terjerat pada penyakit 'ketergantungan pada seseorang'.

Dan betapa hal itulah yang membuat Anna berat melepaskan pemuda Rusia itu, untuk melawan AS, juga tahu, bahwa Arthur pun sama.

Pemuda minim ekpresi ini selalu merindukan Anna.

Anna adalah oksigen yang hanya bisa dirasakan oleh paru-parunya.

Memang benar, kesepian membuat seseorang membutuhkan keberadaan orang lain.

Butuh.

Sangat butuh.

"A-aku..." Anna ingin berteriak. Ingin mengatakan bahwa dia tidak ingin kehilangan pemuda itu secepat ini.

Dan Arthur terlalu cerdas untuk tidak mengetahui hal itu.

"Arthur–"

"Sstt, diam."

Arthur menyentuh bibir ranum itu dengan telunjuknya, tak ingin mendengar nada lain keluar dari bibir gadisnya.

Nada yang akan melemahkan tekadnya.

Sapphire Arthur menantang emerald gadis itu.

Sebelum akhirnya menarik Anna mendekat dan mengeliminasi jarak dengan bibirnya.

Kehangatan perlahan mengalir.

Menjalar begitu cepat dan mendesak.

Tubuh Anna bereaksi atas sentuhan Arthur di bibirnya.

Lembut, intens, dan memabukkan...

Arthur menatap wajah manis di sisinya. Summer sky yang biasanya tajam kini melembut.

"Tidurlah, Anna. Aku akan menunggumu."

Arthur mengakhiri kalimatnya dengan kecupan lembut di kening Anna. Dibenarkannya letak selimut gadis itu yang segera menutup mata, bersiap berpetualang ke alam mimpi.

"Buono notte, Arthur," desah gadis itu yang lebih seperti igauan.

Arthur masih menatap wajah pualam gadis itu. Wajah yang damai, cantik, namun kadang begitu rapuh. Tangan alabaster Arthur menelusus pahatan sang bidadari muda yang terlelap sebelum akhirnya kembali mendaratkan kecupan di keningnya.

"Buono notte, Anna."

Lama.

Arthur bangkit dan kembali menatap layar laptop-nya.

Semuanya telah dia persiapkan sebaik-baiknya.

Dia memperhitungkan segalanya, tak boleh ada celah untuk kegagalan menerobos di dalamnya.

Rencananya memang berbahaya, namun kali ini; dia tidak akan menyerahkan nyawanya begitu saja.

Tidak, karena ada Anna yang menunggunya.

New York City, July 15th, 2013

Anna Maurer menikmati sarapannya sambil berusaha untuk tidak menatap pemuda alabaster di depannya yang tengah sibuk melakukan sesuatu. Entah kenapa, mendadak rasa makanan dari hotel ini menjadi hambar. Walau begitu, nona reporter itu mengakui yang salah bukan pada masakannya.

Lidahnya? Rasanya juga bukan.

Mungkinkah ini karena perasaannya? Ya, perasaannya yang mampu menghambarkan rasa.

Namun akhirnya, Anna sendiri yang menyerah.

"Arthur..." desisnya pelan.

Sang obyek masih tak merespon panggilannya.

"Arthur," panggilnya lagi, lebih keras.

Diletakkannya sepotong sandwich yang tak berkurang lebih dari setengah sejak gigitan pertamanya tadi.

"Arthur!"

"Hn?"

Akhirnya sosok itu merespon.

Arthur menoleh dan memberi perhatian penuh pada sosok manis di belakangnya.

"K-kau?" Emerald Anna membulat tak percaya begitu Arthur berbalik penuh menatapnya, dengan memasang wajah datarnya.

Pemuda Rusia itu...

Dengan sepasang mata yang tertutup soft lens berwarna jade.

Dan jas dokter putih bersih di atas kemeja biru mudanya.

Satu kata tentang penampilan baru Arthur; tampan.

"Kau tampan sekali, Arthur..."

Kantor AU Amerika Serikat, 10.00 A.M

Matahari tengah merayapi tebing hari ketika Arthur Ivanovich tiba di Kantor Angkatan Udara Amerika Serikat.

Masih dua jam lagi sebelum ia tepat berada di puncak tertinggi.

Setelah memarkir Ferrari merah –milik Anna–, Arthur memasuki gedung yang menjulang di depannya dengan langkah tegap.

Beberapa sistem keamanan dan petugas yang menyambutnya mampu dilewatinya hanya dengan sodoran kartu bening di tangannya. Setelah melalui koridor penuh petugas di dalamnya, Arthur yang berusaha untuk tidak menarik perhatian akhirnya berhenti di depan sebuah pintu ebony kualitas terbaik.

Kantor sang mayor, Sean Frences.

Setelah mencocokkan ID card-nya, Arthur mengetuk pintu dan tak lama mendengar suara yang memerintahkannya untuk masuk.

Arthur masih berdiri dan menatap sosok di depannya. Mata onyx, rambut cepak khas tentara.

Dialah sosok mayor yang memegang kendali di squadron tempat G-15 bernaung.

"Silahkan duduk," perintahnya singkat.

"Terima kasih," jawab sang mantan pilot tak kalah singkat sambil menarik kursi di depan sang mayor.

"Jadi, Anda adalah dokter Grey? Dokter yang direkomendasikan untuk menangani pilot Peacemaker?" tanya Mayor Frences menyelidik.

"Benar."

"Kalau begitu, mohon kerja samanya, Dokter!"

Sean Frences berdiri dan mengajak Arthur a k.a Grey untuk berjabat tangan.

Lagi-lagi Arthur melintasi lorong panjang yang penuh petugas.

Hanya saja kali ini, dia ditemani seorang gadis pirang bermata aquamarine.

"Jadi, karena G-15 akan diterbangkan besok pagi, maka Dephan meminta Anda memeriksa pilot malam ini, Tuan Grey-eh, maksud saya Tuan Arthur Ivanovich Coil..."

'Tek'

Arthur berhenti mendadak dan menatap tajam aquamarine wanita pirang di sampingnya yang juga ikut berhenti.

"Kau... dari mana–"

"Dari mana saya tahu nama Anda? Hm, sepertinya Haru belum memberitahu Anda. Saya Beth, Elizabeth Clinton, Divisi Kesehatan Penerbang, sekaligus tunangan dari Haru Takajima, pilot utama F-117 Nighthawk Stealth," ucap Beth panjang.

"… dan ngomong-ngomong aku lebih suka dipanggil tanpa 'ivanovich'…" ucap Arthur pelan.

Beth tersenyum, "Hm, baiklah kalau begitu, Tuan Arthur."

Mendengar itu, Arthur kembali memasang wajah datarnya, dan memilih mengikuti Beth yang kembali melanjutkan langkah.

"Inilah G-15," ucap Beth ceria.

Tepat di depan mereka terdapat pintu kaca dengan pesawat berbentuk segitiga hitam raksasa di dalamnya.

"Jadi, ini G-15?" tanya Arthur lamat-lamat.

Bentuk pesawat ini tak jauh berbeda dengan pesawat yang ia ledakkan di langit Seattle.

Pesawat itu dikelilingi lima orang teknisi di dalamnya, yang tengah memeriksanya.

"Kualifikasi pesawat ini tak jauh dari seri sebelumnya. Hanya saja sistem keamanannya diperketat. Selain itu, dengan bobot yang semakin ringan, pesawat ini justru mampu mengangkut empat awak di dalamnya," cerocos Beth panjang.

"Di mana pilot yang akan kutangani?"

Beth sejenak terkejut, merasa tersinggung mendengar kata-kata Arthur. Namun, sesaat kemudian wajah manisnya kembali ceria.

"Mari, lewat sini..."

Arthur memasuki ruangan yang dihuni seorang pemuda di dalamnya.

Pemilik wajah Asia itu adalah pilot utama F-117, Haru Takajima.

Jika Arthur adalah sosok berwajah dingin, Haru sebaliknya. Pilot berusia 27 tahun itu selalu tersenyum.

"Jadi, Anda tidak keberatan untuk melihat G-15 dulu, Tuan Grey?"

Haru menawarkan dengan nada bicara seolah tak saling mengenal.

Arthur tak menjawab.

Ia hanya mengangguk, gesture universal sebagai jawaban 'ya'.

"Ayo!" Haru keluar diikuti Arthur yang mengekor di belakangnya.

Tak lama, Arthur kembali berada di ruangan berpintu kaca.

Yang membedakannya hanyalah kini Arthur tepat berada satu meter di depan moncong pesawat.

Para teknisi sudah meninggalkan tempat itu.

Hanya tinggal dua orang petugas keamanan yang berjaga di pintu.

Melihat dari jarak sedekat ini, G-15 terlihat begitu megah.

"Jadi, apakah kau punya perasaan tertarik untuk mencoba menerbangkannya?" Haru bertanya pada sosok tampan berjas dokter yang berdiri di sampingnya.

Arthur tak menjawab, pandangannya tak lepas dari pesawat.

"Biasanya seorang pilot akan mempunyai ketertarikan pada sebuah pesawat," Haru melanjutkan kata-katanya.

Arthur menyentuh moncong pesawat yang berwarna hitam, dingin.

"Kau benar," jawabnya singkat.

"Aku tahu. Sebenarnya kau bisa saja menyuruhku melakukan 'itu' tanpa kau harus ke sini dengan resiko tertangkap puluhan tentara AU. Tapi nyatanya, kau tetap melakukan 'itu' sendiri. Alasanmu sebenarnya adalah..." Haru memberi jeda pada kalimatnya, "melihat pesawat ini, kan? Naluri dasar seorang pilotmu tetap bekerja 'kan, Arthur?"

"Aku lupa... Kapan terakhir kali aku melihatmu sok tahu seperti ini," ucap Arthur sarkastis.

Haru hanya memasang senyum ambigunya.

Dia tahu, sahabatnya itu membenarkan kata-katanya dalam hati.

"Aku berani bertaruh sebotol Conti Romanee, kau bahkan sebenarnya ingin menerbangkan pesawat ini..."

Kantor AU Amerika Serikat, 10.00 P.M

Arthur menatap wajah di depannya dengan pandangan sulit ditebak.

Thomas A. Petterson, pria muda bermata hijau dengan rambut hitam berpotongan tentara, sang pilot muda yang akan menerbangkan G-15 besok pagi.

Jelas, AU memilih pilot baru untuk misi G-15 besok.

Karena penerbangan pesawat tersebut rawan serangan.

Dan AU tak ingin mengorbankan pilot utamanya untuk penerbangan berisiko tinggi seperti ini.

AU mengorbankan Thomas.

Begitu juga Arthur.

Setelah menghela napas pelan, Arthur mengulurkan segelas air yang telah dicampur 'Akertropik' dengan dosis dua puluh mili gram.

Tanpa ragu, pemuda yang tengah duduk di kursi dalam ruangan berwarna putih itu meminumnya.

Jade Arthur menatap Thomas tanpa menunjukkan perubahan ekpresi apa pun.

'Semua hal butuh pengorbanan. Dan kali ini, mungkin kesempatanmu yang harus berkorban, Tom...'

Arthur kembali ke kamarnya, sebelas jam sebelum penerbangan G-15 besok pagi.

Semua akan baik-baik saja, sampai saatnya tiba.

Sekarang, tinggal bagaimana Arthur melarikan diri dari tempat ini. Segera.

Secepatnya.

Arthur bisa saja menyuruh orang lain untuk melakukan ini.

Tapi, dia tak ingin lebih banyak orang terlibat dalam rencananya.

Dan juga karena... naluri pilotnya... tetap bekerja...

Jam menunjukkan pukul dua belas malam tepat.

Suasana Kantor AU terlihat lengang. Tidak banyak petugas yang berjaga.

Mungkin, ini saatnya Arthur melarikan diri.

Arthur harus melihat keluar.

Ia membuka pintu sedikit.

Ia tidak melihat apa-apa.

Bagus.

Arthur berjalan cepat.

Koridor menuju lift terlihat sepi.

Arthur bergegas. Ia berjalan sambil berusaha mendengarkan. Beberapa langkah lagi sebelum lift.

Tunggu.

Terdengar langkah seseorang berjalan ke arahnya.

Arthur segera menepi dan berdiri di balik lekukan tembok.

Seorang petugas berseragam keamanan lewat dan tidak menyadari keberadaannya.

Setelah sosok itu benar-benar pergi, Arthur segera berjalan menuju lift.

Memasukinya

Menekan angka satu dan tanpa bersuara lift membawanya ke lantai dasar.

Tak lama, Arthur keluar dari lift.

Ada penjaga di pintu depan. Arthur berpikir, pasti ada cara untuk menyingkirkan orang itu.

Arthur berputar balik dan menekan kontak seseorang di ponselnya.

Tak lama, orang di pintu berbicara melalui headphone dan segera pergi meninggalkan pintu yang dijaganya.

Arthur tak ingin menyiakan kesempatan.

Setelah petugas itu lenyap dari pandangan, Arthur segera keluar dan membawa Ferrari merahnya melesat menembus kegelapan malam.

...

New York City, July 16th, 2013

Breaking News | Berita ini disampaikan langsung dari tempat kejadian pukul sepuluh pagi waktu setempat. Pesawat G-15 milik Angkatan Udara Amerika Serikat mengalami kecelakaan di atas Laut Merah dan dinyatakan tenggelam. Hingga berita ini diturunkan, belum ada kepastian mengenai penyebab jatuhnya pesawat.

Anna menatap pemuda yang kini tengah menikmati ikan tunanya di meja di belakangnya.

"Kau berhasil! Kau berhasil, Arthur!" teriak gadis itu keras.

'Akertropik'...

Obat khusus untuk menjaga daya tahan pilot selama penerbangan.

Akan tetapi, dengan dosis di atas lima mili gram, obat tersebut akan menimbulkan efek somatographic illusion yang akan aktif beberapa jam sesudahnya. Dan obat ini khusus dibuat untuk pilot Peacemaker. Hal ini juga yang membuat tak banyak orang tahu mengenai obat tersebut.

Dan Arthur berhasil meminumkan obat tersebut pada sang pilot G-15, Thomas Alexhander Petterson.

Sang pemuda blonde tetap memasang wajah datarnya, "Kini saatnya kita mengembalikan kartu itu, Anna."

"Jam berapa biasanya sang mayor keluyuran di bar?" Anna menatap Arthur.

"Di atas jam dua belas tentunya," jawab pemuda blonde itu singkat.

"Arthur, jika biper-mu berbunyi, kau tahu bagaimana cara melacakku, bukan?" ucap Anna pelan.

Arthur bangkit dari duduknya, tak menjawab.

Ia berjalan mendekat ke arah sang gadis, menyentuh pucuk kepala caramel Anna.

"Kau akan baik-baik saja, Anna," ucapnya pelan.

Anna terpejam, meresapi kalimat Arthur yang seolah menjadi mantera yang mampu menguatkannya.

...

New York City, July 18th, 2013

Suara tawa dan musik bercampur dengan asap rokok dan minuman keras tergambar jelas di depan Anna.

Perlahan, dengan gaun malam hitamnya, emerald Anna menebarkan pandangan berkeliling. Dan akhirnya, pandangannya menemukan sosok berambut cepakdi sudut meja bartender, Mayor Sean Frences. Dengan langkah gemulai, Anna menuju sasarannya.

"Halo sayang, mampir kemari dong..." seorang bule mabuk memeluk pinggang Anna dengan keras.

Anna menepis pelukan itu perlahan, tapi laki-laki itu justru semakin ganas dengan penolakannya.

"Pergilah, Tuan. Please!" hardik Anna dengan nada tajam.

Namun, laki-laki mabuk itu terus berusaha mencolek-colek tubuhnya.

Dan di luar dugaan, Mayor Frences yang sejak semula mendengar keributan itu mendekat ke arah mereka.

Jantung Anna berdegup.

'Grazie Dio! Mudah-mudahan ini jalanku'

Dan rupanya memang benar.

"Ck! Merepotkan!"

Dengan gerakan keras, Sean Frences menangkap jemari laki-laki mabuk itu dan memelintir ibu jarinya ke belakang. Laki-laki mabuk itu pun menjerit kesakitan.

"Pergi! Tinggalkan nona ini, atau kupatahkan ibu jarimu!" desis Frences marah.

"Laki-laki itu pun mengangguk-angguk sambil menyeringai kesakitan.

Dan ketika Frences melepaskan genggamannya, ia terburu-buru pergi sambil sesekali menengok ke arah Frences dengan tatapan ngeri.

"Mari Nona, bersama saya, Anda pasti aman..." Frences menyorongkan kursi ke arah Anna.

Anna menebar senyum mautnya.

Sejenak lelaki itu terpesona.

Tiba-tiba pesawat pager khusus Frences berbunyi.

"Mi dispiace..." katanya memohon izin kepada Anna.

"Si..." Anna tersenyum maklum.

"Che cosa?" lanjut Anna.

"Tidak ada apa-apa. Mau minum apa, Nona?"

"Hm, saya sudah berniat untuk tidak mabuk dari rumah... Saya ingin air soda saja," pinta Anna sopan.

Frences melambai pada bartender, memesan air soda.

"Questa la tua tazza, per favore," ucap Frences seraya menyorongkan cangkir itu mendekat ke arah Anna.

"Grazie," ucap Anna pelan.

"Prego," jawab Frences singkat.

Tak lama kemudian, mereka asyik bercengkrama dan ujung-ujungnya, Frences mengajak Anna untuk mampir ke apartemennya.

"Mi dispiace, saya tidak bisa," tolak Anna dengan senyum manis.

Tapi, lelaki itu terus mendesak.

"Perche? Anda benar-benar tega menolak undangan saya?" tanyanya dengan nada memohon.

Anna berpikir keras.

Jika ia menolak, ia takut Frences curiga.

Meskipun misinya sebenarnya sudah selesai.

Ketika Frences memeluknya tadi, ia sudah mengembalikan kartu yang dicuri Fuji Takajima dari meja Frences ke tempatnya semula.

Tapi, rasanya dia memang harus mengubah skenario. Ah, sudahlah.

"Baiklah..." desah Anna manja.

Mayor Frences tersenyum senang.

Dengan segera ia memeluk pinggang Anna dan membimbingnya pergi.

Anna tersenyum sambil memasukkan jemarinya ke dalam tas tangannya untuk menekan biper agar Arthur bisa melacaknya.

"Seven Star...?" bisik Anna perlahan.

Dibolak-baliknya buku harian kecil bersampul kulit khas milik seorang katsa Mossad.

Buku itu berisi nomor-nomor telepon dan kontak dalam sandi.

"Itu memang Seven Star..." tiba-tiba Frences muncul dari pintu kamar mandi sambil menodongkan baretta kaliber 22, senjata khas katsa Mossad.

"Selamat datang, Anastasia Maurer. Sungguh seandainya aku tidak menerima pesan dari 'Jumbo', aku pasti tidak mengenalimu. Kau betul-betul cantik malam ini, Nona Reporter," katanya santai.

Jumbo adalah informasi pribadi di luar intelejen resmi yang dikumpulkan oleh petugas, intelejen asing seperti CIA.

Anna menggeratakkan rahangnya.

"Jadi benar, tujuan pengangkutan nuklir memakai G-15 memang untuk mempersenjatai Mossad," ucap Anna tajam.

Anna mencoba mengulur waktu dan mengalihkan perhatiannya dari senjata api yang tepat berada di sisi kepalanya.

'A-Arthur... cepatlah datang…'

"Rencana ini tidak akan gagal jika tikus sepertimu dan pemuda Ivanovich sialan tidak menggerecoki pemerintah," ucap Frences tajam tanpa kehilangan konsentrasi pada senjatanya.

"Jadi, kau tahu... kalau yang merusak daya tahan para pilot adalah... Arthur?" Anna mencoba tenang, walau jantungnya berdegup keras dengan senjata yang semakin dingin di pelipisnya.

'Arthur… cepatlah...'

"Kau pikir aku bodoh? Yang paling mengerti tentang kesehatan pilot dan pesawatnya hanyalah pilot khusus Peacemaker yang memang diberi pelatihan khusus. Dan juga mengenai Akertropik, obat yang telah diminumkan pada pilot G-15, sehingga dia mengalami ilusi somatografi. Siapa yang memiliki obat itu dalam dosis besar dan bisa meminumkannya? Sementara yang beruntung mendapat pelatihan mengenai obat itu hanyalah si pengkhianat Ivanovich itu, Fuji Takajima, dan Sebastian Francoist. Dan jelas-jelas kedua orang itu berbeda dengan si Ivanovich bangsat itu!" teriak Frences emosi.

Anna tersenyum sinis, setengah mengejek, "Kau memang bodoh! Buktinya Arthur mampu menghancurkan pesawat kalian untuk ke dua kalinya. Dan berhentilah menyebut Arthur pengkhianat! Dia–"

"DIAM!"

Deg.

Anna terlonjak, kata-kata Frences begitu keras dibarengi dengan sodokan di pelipisnya, menimbulkan rasa sakit.

'Arthur... cepat!'

Laras pistol menekan pelipisnya dengan cara yang menyakitkan.

Menunggu rasanya menjadi hal yang berkali lipat teramat membosankan dan... menakutkan.

Anna belum pernah merasa setakut ini.

'Arthur... tolong aku...!'

"Sekarang bagaimana, Maurer? Masih ingin menunggu Ivanovich?" Frences berucap mengejek.

Beberapa detik matanya terpejam.

Sebelum akhirnya dengan gerakan cepat tangan Anna memasuki tasnya.

Cepat.

'Maafkan aku, Arthur'

Dan detik itu juga Anna menekan tombol di dalam tas tangannya.

'BLAAAARRRR!'

Ledakan keras mengguncang kamar 345 di apartemen mewah di tengah kota New York itu.

Disusul dengan alarm tanda bahaya yang meraung-raung.

.

.

.

.

.

.

.

Asap masih mengepul di kamar 345, dan dari kepulan tersebut, terlihat dua sosok manusia yang mencoba merangkak keluar dengan sempoyongan.

Tiba-tiba, salah satu dari mereka terjatuh.

Dan segera sosok yang satunya membawanya ala bridal, menembus kepulan asap, menjauh dari tempat kejadian.

.

.

.

"Maafkan aku," ucap Arthur lirih pada sosok yang hampir seluruh tubuhnya tengah terbalut perban.

Sosok itu, Anna Maurer.

"Maaf, Anna..." lanjut pemuda itu lagi.

Sosok yang dipanggil Anna itu menatap langit-langit putih di atasnya, "Saat itu aku takut... kau tidak datang untuk menolongku. Aku hampir putus asa. Takut, putus asa, dan kecewa. Tapi, kemudian aku sadar..."

Gadis bermata emerald itu menatap Arthur, tangannya yang terbalut perban mencoba meraih tangan alabaster pemuda itu.

Mencoba tersenyum, dengan susah payah.

"Aku tahu... aku tidak akan mati. Aku percaya kau tidak akan membiarkanku mati... Karena kita akan menikah. Karena aku akan menjadi istrimu. Akan menjadi Nyonya Coil. Benar 'kan, Arthur..."

New York Times Office, July 19th, 2013

Sebelum sempat menyuruh wartawannya untuk meliput ledakan di apartemen nomor 345, pagi ini, Larry Foster sudah disambut Eliana Roth. Gadis berambut pirang yang menjabat sebagai salah satu staff wartawatinya itu membawa sebuah disket.

"Anastasia Maurer tidak bisa masuk hari ini. Dan berita dalam disket ini adalah titipan dari Maurer."

"Apa isinya?" tanya Larry singkat.

"Seperti biasanya, rahasia di balik pembuatan seri Peacemaker..."

"Buat laporan secepatnya. Dan mungkin kita harus bersiap untuk pembreidelan untuk keduakalinya!" perintah Larry tegas.

"Siap, Pak!"


OMAKE

Dua orang itu saling bertatapan.

Tanpa bicara dalam sebuah ruangan yang terlihat nyaman.

Tak lama, salah satu dari mereka membuka pembicaraan.

"Misi CIA kali ini adalah memburu Anastasia Maurer dan Arthur Ivanovich Coil. Hidup atau mati!"

.

.

.

.

.

2ND SERIES END


Dictionary:

1.) G-15 berasal dari; huruf 'G' dari kata 'Graham Aker (Gundam 00)'

2.) Akertropik juga berasal dari kata 'Aker', dan obat tersebut sama sekali tidak ada :P

1.) Akertropik: Obat -fiksi- khusus untuk menjaga daya tahan pilot selama penerbangan. Akan tetapi, dengan dosis di atas lima mili gram, obat tersebut akan menimbulkan efek somatographic illusion yang akan aktif beberapa jam sesudahnya. Dan obat ini khusus dibuat untuk pilot Peacemaker. Hal ini juga yang membuat tak banyak orang tahu mengenai obat tersebut.

2.) Grazie Dio:Terima kasih, Tuhan

3.) Prego:Terima kasih kembali

4.) Si:Ya

5.) Perche:Mengapa

6.) Che cosa:Ada apa?