Siang itu kantin St. Maria High School begitu bising dan panas

Penuh dengan teriakan anak-anak yang sedang bercanda ataupun memesan makanan dengan gaya pasar(?) tawar menawar untuk segelinding bakso yang ujung-ujungnya tidak dimakan. Karena, bel masuk untuk pelajaran selanjutnya sudah berbunyi. Benar-benar tidak elit untuk SMHS ini, yang SPP-nya saja jutaan dan isinya adalah anak-anak konglomerat. Tapi, itulah kenyataannya.

Mungkin, ini yang disebut masa kecil kurang ke pasar(?).

Oke, lupakan masalah pasar. Karena, hal yang sudah biasa ini tidak sebanding dengan kebakaran di telingaku mendengar ocehan Ariel, sahabatku. Sejak dari bel istirahat tadi berbunyi, dan dia belum menghentikan ocehannya.

"Kau gila! Benar-benar udah gila, pokoknya gila! Kau tahu nggak sih, siapa Putra itu?" teriak Ariel dengan suara toa masjidnya.

"Stop! Udah jangan jelekin dia ter—"

"Tapi, Ann—"

"Stoppp!" ucapku keras, memotong kata-kata Ariel. Bagaimana tidak, dia berteriak dengan suara toa-nya, sementara hampir seluruh anak di kantin menatapmu.

Aku menghela napas pelan, "Oke, dengar Ariel... aku tahu siapa Putra itu, aku tahu. Tapi, dia nggak seperti yang kau bayangin."

"Anna, dia itu playboy, nggak pernah sekolah dan banyak lagi kejelekannya, seabrek. Cakep, tapi, kelakuannya minus!" oceh Ariel panjang.

"Cukup! Aku tahu siapa dia. Yang pasti dia lebih baik dari omonganmu!" ujarku mulai emosi. Aku mendorong kursi dengan kasar, meninggalkan Ariel yang hanya bisa menggelengkan kepalanya, melihat bersikukuhnya aku.

.

.

.

.

.

Malam ini sepi, membuatku ingat akan pertengkaranku dengan Ariel, karena Putra.

Seseorang yang memenuhi pikiranku akhir-akhir ini. Aku menatap layar laptop di depanku, yang menampilkan foto-foto cakep dari seorang cowok, Putra. Ya, Putra. Andrasena Leo Putra Wijaya, cowok cakep, pintar, dan most wanted di sekolah. Dengan rekor FG paling banyak. Tapi, parahnya dia playboy dan sering tidak masuk sekolah. Walaupun sebenarnya aku tidak pernah mendengar dia punya pacar lebih dari satu. Hanya, karena dia sering putus. Apa itu yang disebut playboy? Dan sekarang, aku jatuh cinta pada pangeran sekolah itu.

You will always be inside my heart

Itsumo anata dake no basho ga aru kara

I hope that I have a place in your heart too

Now and forever you are still the one

Handphone yang tepat di sampingku berbunyi, suara Utada Hikaru mengalun kencang. Nama seseorang tertera di layarnya, Putra.

Aku menekan keypad hijau, ragu...

"Hallo..." sapaku pelan.

"Hallo. Ganggu ya?" suara merdu Putra, menyapa telingaku

"Nggak kok," ucapku lebih pelan.

Terdiam... Keheningan menyerang. Kami kehilangan kata-kata. Ayolah, katakan sesuatu...

"Aku itu jahat, kenapa kamu membelaku...?"

Aduh, kenapa dia bertanya begitu.

"Ke-kenapa tanya to the point gitu. A-aku nggak bela kok..." ucapku agak gugup.

"Tapi, aku kan jelek..."

"Siapa bilang? Mirip Tom Felton gitu kok," ucapku bercanda. Akhirny, suaraku kembali normal.

"Hahaha mirip? Makasih," tawanya narsis. Aku senang mendengar tawa ini...

"Aku hanya mengungkapkan apa yang aku tahu, aku rasa, dan aku percaya," lanjutku.

"Tapi, mereka bilang... aku nggak ada baiknya sedikit pun," nada suara Putra terdengar sendu.

"Siapa bilang? Kamu mau jujur... bagiku udah kebaikan. Dan, yang pasti aku suka kamu yang apa adanya," ucapku pelan.

"Makasih, Ann. Aku sayang kamu," ucapan Putra bagaikan mantra yang membuatku terkena efek kaget, terpaku dan senang sekaligus.

Dalam keterbataan aku menjawab, "A-aku juga..."

"Juga, apa?" Putra menggodaku.

"A-aku juga... sayang kamu..."

.

.

.

.

.

Putra, dibalik kesempurnaanya. Dia kesepian, dia terluka, dia terkekang. Keluarganya menuntut kesempurnaan darinya. Dia hanya menjadi bayang-bayang kakaknya, seorang dokter muda terkenal. Orangtuanya tak peduli bagaimana hidupnya, mereka hanya bisa menuntut. Dan, Putra terkekang.

Aku tak tahu pendapat Ariel tentang Putra akan berubah atau tidak. Yang pasti aku tidak merasa di bohongi oleh Putra. Aku ingin bilang ke Putra,

"Aku tak peduli sejelek apa kamu di mata orang, aku juga ga peduli orang mau bilang apa ttg kamu, aku ga peduli. Krn aku sayang kamu dan kamu bisa lebih baik. Dan, sampai kapanpun aku percaya kamu"

To : +6281999xxx

Status report : pending

.

.

.

.

.

.

.

.

Keesokan harinya,

1 message received

From : Putra

+6281999xxx

"Aku berpikir semua org membenciku. ga ada yg percaya sama aku, tapi kau tetap percaya. Walaupun kau terlalu sempurna untukku, izinkan aku menjadikanmu pendampingku saat aku berusaha menjadi lebih baik..."

Aku tertegun, Putra aku akan menjadi pendampingmu, aku mau.

Sampai kapan pun aku percaya kamu...

.

.

.

.

.

.

SELESAI...