Jenuh, mungkin itu perasaan sore menunggu malam, sementara malam sendiri bergerak perlahan seolah enggan menggantikan sore. Malam yang akan menyelimuti dunia dengan kegelapan. Berpayung langit jingga itulah dua sosok anak manusia duduk berdampingan di bawah rimbunnya kelopak sakura.

Pandangan keduanya menerawang, menatap langit jingga yang seolah melukiskan labirin kehidupan, begitu menjebak dan menyesatkan. Kehidupan dengan rahasianya yang rumit, atau medan dan jalan yang begitu sulit...

"Apa kau pernah merasa ingin menyerah dalam memperjuangkan sesuatu, Yong Ha-oppa?"

Sosok pertama, seorang yeoja berambut caramel membuka percakapan. Wajah porselen pucatnya menatap sosok di sampingnya, menuntut jawaban.

Perlahan sosok kedua yang dipanggil Yong Ha itu menoleh, memperlihatkan sepasang iris onyx yang luar biasa di tengah kelopak sipitnya.

"Maksudmu?"

"Ya, kau tahu 'kan... kadang kita berharap terlalu tinggi, saat itulah hadir perasaan lelah atau putus asa, saat kita menyadari betapa jauh dan tingginya harapan tersebut. Atau bosan menunggu sesuatu mungkin..."

"Ini tentang Min Hyun?" pertanyaan Yong Ha menohok yeoja itu tajam.

"A-aniyo, Oppa, aniyo, maksudku... Kenapa kau berpikir begitu, eoh?" tanya Hwa Yong gugup.

"Aa. Hanya menebak."

"I-ini bukan tentang Min Hyun, eh, ya mungkin sedikit tentang dia, tapi a-anu... Ini tentang kau, Oppa." Hwa Yong menundukkan wajahnya, merasa takut dengan kalimatnya sendiri.

"Aku?"

"Ne..."

"Aku... pernah merasakan itu, Yong-ah."

"Eh?" Hwa Yong mendongak.

Sementara Yong Ha menatap Hwa Yong, tersungging senyum tipis di bibirnya, "Apa kau berpikir aku tidak pernah merasakan hal seperti itu?"

"Bu-bukan... maksudku, eh hanya saja rasanya aneh orang sepertimu berpikir begitu, Oppa..."

"Kenapa aneh? Kita masih sama-sama manusia, Yong-ah," canda Yong Ha, onyx-nya menerawang menatap langit yang kini mulai menghitam, perlahan harta malam mulai bermunculan... sang bintang..

"Maksudmu, Oppa?" tanya Hwa Yong.

"Kenapa kita harus menyiakan waktu kita untuk hal yang tak pasti, Yong-ah? Sementara ada hal yang lebih jelas di sekitar kita? Dalam cinta misalnya—"

"Apa itu artinya aku sia-sia telah menunggu Min Hyun, Oppa?" potong Hwa Yong cepat.

"Aku tidak berkata begitu..."

"Lalu?"

"Kau tahu...?" Yong Ha menggantung kalimatnya.

"Tentang apa, Oppa?"

"Di kuil yang tidak jauh dari rumahku ada pohon sakura yang baru mekar bulan September sampai musim semi..."

"Eh, salah tumbuh?" Hwa Yong menatap Yong Ha heran.

"Aniyo, setiap tahun memang begitu, sakura yang baru mekar di antara warna merah daun-daun momiji dan putihnya salju, saat bekunya musim dingin, betul-betul sakura yang berani..." Yong Ha memberi jeda pada kalimatnya, "Itu refleksi saat aku melihatmu."

Hwa Yong masih menatap Yong Ha tak mengerti, dan Yong Ha sekali lagi memperlihatkan mata onyx-nya yang luar biasa itu.

"Kegigihanmu menunggu Min Hyun, seperti keberanian sakura itu... Kau berani tumbuh di tengah beku dan dinginnya hidup Min Hyun, kau berani menunggu seperti sakura itu berani menunggu musim semi selanjutnya di tengah salju. Tanpa tahu, jika musim semi berikutnya telah tiba... mungkin saja sakura itu tak lagi berbunga. Dan itu luar biasa..." dalam nada datar itu tersirat pujian Yong Ha yang tulus.

"Aku... Tapi, aku hanya merasa seolah aku tak punya pilihan..." ucap Hwa Yong berusaha menyembunyikan rasa skeptis-nya. "Aku tak pernah punya keberanian untuk menyatakan perasaanku..."

"Aa, kau punya pilihan,... kau punya pilihan untuk menunggu Min Hyun atau tidak, dan kau memilih untuk menunggunya. Dan nanti saat bertemu pun, kau masih punya pilihan, menyatakan perasaanmu atau tetap menyimpannya... Hidup ini pilihan. Namun cinta juga punya ribuan perbuatan dari sekedar kata untuk dikatakan. Kurasa, setelah pulang pun, Min Hyun punya kewajiban untuk memahami arti penantianmu. Kau baru saja awal dari banyak pilihan. Baru awal, awal yang telah kau pilih. Ayo! Kau ingin melanjutkan pulang tidak?" Yong Ha mengakhiri kalimat panjangnya dengan gerakan berdiri dari duduknya.

"A, ah iya, mianhae," ucap Hwa Yong tersadar, lalu berdiri dan mengejar Yong Ha yang sudah melangkah di depannya.

"Yah! Yong Ha-oppa!" panggil Hwa Yong.

Yong Ha berhenti dan menoleh, Hwa Yong segera menjajari langkah Hwa Yong.

"Gomawo," ucap Hwa Yong tulus.

"Cheonma," jawab Yong Ha lembut. Namja bersuara indah itu mengusap surai Hwa Yong pelan, membuat sang yeoja aegyo berkelit menghindar.

Keduanya pun berjalan bersama dalam diam.

Hwa Yong melirik Yong Ha yang nampak tenang berjalan di sampingnya.

Yong Ha bukannya berbeda darinya. Namja itu juga menunggu. Menunggu seorang Jung Ahra yang kini sedang tak ada di sampingnya.

Dan benar, Hwa Yong punya pilihan. Hidup ini juga pilihan, dan Hwa Yong telah memilih... Dan juga, Hwa Yong tahu, cinta...

Cinta punya banyak cara untuk menemukan jalannya.

Tinggal bagaimana kita memilih cara dan jalannya.

Ketika pandangannya kembali lurus ke depan, wajah Hwa Yong tersenyum lembut... tersenyum untuk sebuah pilihan, yang tak akan disesalinya... dan pelajaran berharga dari sosok tampan di sampingnya.

Hwa Yong sampai di kamarnya.

Setelah berpesan agar Yong Ha menunggunya saat makan malam nanti, yeoja itu bergerak ke depan laptop miliknya. Tangannya bergerak lincah menghidupkan benda eletronik itu dan segera tersambung ke internet. Sebuah thumbnail new message tertera di pojok window-nya. Dan Hwa Yong tersenyum lebar saat membuka pesan elektronik itu.

From: Min Hyun Lee

Subject: P.S I miss you

Annyeong, Baby…?

Saat menulis ini aku sedang berada di salah satu café favoritku di tengah London yang bersalju. Dan kau tahu kehangatan tempat ini mengingitkanku pada kehangatan senyummu. Aku merindukanmu, Baby. satu tahun lagi terasa begitu lama jika kau terus-terusan membuatku rindu seperti ini. Saranghae…

I miss you and I love you, Baby…

Aku menunggu balasanmu sebelum aku meninggalkan tempat ini… ^^

.

.

.

.

.

.

SELESAI...