Ohohoho! *bangkit dari kuburan* Akhirnya! Ada ide buat update!

#digeplak readers karena udah lama gak update

Otak saya memang belum bisa menemukan apa-apa.. *kabur

Selamat membaca!

Purble Doll

Chapter 2: Guest


"Eng..," erang Nenily sambil membuka kedua matanya, dan megerjapkannya sebentar untuk memfokuskan penglihatannya lagi. Ternyata, ia berada di dalam kamarnya.

"Tch! Penyihir itu..," geram Nenily sambil bangun dari tempat tidurnya walau ia masih merasa sedikit sakit akibat tadi siang hari. Ia menuju ke arah pintunya untuk keluar, belum sempat ia memegang gagang pintu, tiba-tiba…

BRAAAK!

"Neni-! Wou, wou!," ya, tiba-tiba saja ayahnya datang sambil mendobrak pintu dengan agak keras dan akhirnya nyaris mendapat 'ciuman hangat' dari pedang Nenily di lehernya. Tentu saja, dihadiahi juga oleh tatapan membunuh Nenily.

"Tenang, Neni.. Tenang..," kata Riff sedikit takut karena 'hadiah' dari Nenily.

"Ini harusnya ada yang penting," kata Nenily sambil menyarungkan kembali pedangnya dan kembali menatap Riff dengan serius.

"Kamu tadi pingsan?" Tanya Riff cemas. Tapi, Nenily menatapnya dengan death-glare unggulannya seolah bertanya ,'Tahu dari mana kamu?'. Riff menatap Nenily sambil menelan ludahnya, lalu ia berkata, "Tadi, Lufiano yang memberi tahuku."

Nenily hanya menghela napas," Lalu? Sekarang apa maumu ke sini?" tanyanya. Riff hampir saja ingin ketawa karena pertanyaan Nenily-nya itu. Tapi, dia tidak jadi ketawa karena kalau sampai iya, bisa-bisa Nenily menjadi ratu Gianom besok.

"Tentu saja untuk mengecekmu, Nenil, bagaimana sih anakku yang lucu ini?" tanyanya sambil mengacak-ngacak rambut Nenily yang digerai. Nenily hendak ingin menpis tangan ayahnya dari kepalanya, tetapi, terpotong oleh suara salah satu butler mereka yang habis berlalri menuju mereka.

"Hah.. Hah.. Maaf mengganggu, Yang Mulia dan Tuan Putri, tapi ada sesuatu yang jatuh tiba-tiba di taman belakang istana," katanya sambil terengah-engah karena habis berlalri.

"Hah?" Tanya Riff dan Nenily bersamaan.

"Iya, Yang Mulia dan Tuan Putri, ada ti taman belakang istana," jawabnya yang sudah bernapas secara teratur.

Tanpa babibu lagi, Nenily langsung pergi ke taman belakang. Nenily memang tidak pernah menunggu siapapun jika terjadi suasana seperti ini.

"Anakku ini.. Semangat sekali," batin Riff polos sambil berjalan untuk menyusul anaknya itu.

.

.

.

"Aduh, duh," rintih seseorang di dalam sebuah kain besar yang berwarna biru dengan corak 4 bintang kecil di tengahnya. Lalu, dia merangkak berusaha untuk mencari jalan keluar untuk melihat dimana ia jatuh. Setelah keluar, dia berdiri sambil membersihkan pakaiannya yang kotor. Lalu, ia menatap ke kain tadi sambil menghela napas.

"Haaah.. Gagal lagi, sampai kapan aku harus seperti ini, dan dimana aku?" Tanyanya pada dirinya sendiri sambil melihat kanan-kirinya. Lalu, ia melihat ada yang bergerak-gerak di dalam kain tersebut. Ia tahu itu apa. Ia hendak menarik kain itu, tapi tiba-tiba,

"Pergilah dari sini sekarang juga," ucap Nenily di belakangnya sambil mengacungkan pedangnya di belakang leher orang itu. Laki-laki, orang itu, diam di tempat sambil menelan ludahnya.

"Nenil! Jangan begitu, kasihan anak itu!" seru ayahnya yang sudah sampai di sebelah Nenily. Tapi, Nenily masih diam dalam posisinya. Riff menghela napas, lalu menepuk pundak Nenily mengisyaratkannya untuk menjauhkan pedangnya dari laki-laki itu.

"Kurasa, dia bukan orang jahat," katanya. Nenily menjauhkan pedangnya tetapi, dia masih menatap pemuda itu dengan tajam.

"Kamu siapa? Bisa jelaskan kenapa kamu bisa sampai disini?" Tanya Riff. Laki-laki yang mata kanannya tertutup oleh poni itu akhirnya menoleh ke belakang dan menatap Riff dan Nenily dan berkata,"Erm.. Maaf atas kesalahan hamba. Nama saya adalah Geral Jameson. Hamba berasal dari desa di Kerajaan Korus. Hamba sedang berkelana dengan balon udara ini untuk mencari benda yang langka dan menelitinya.. Dan hamba bisa sampai disini karena balon udara hamba sepertinya kehabisan bahan bakar," katanya ragu-ragu sambil menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal.

MII MIII MII

Nenily menatap Geral seolah bertanya 'suara apa itu?'. Riff juga sama seperti Nenily.

"Ah! Maafkan hamba, permisi..," kata Geral untuk mencari sesuatu di dalam kain itu. Ia menarik pelan kain itu, dan tampaklah seekor tomat yang agak besar berjalan kearah Geral sambil memeluk kaki kiri Geral karena saking ketakutannya karena gelap.

Riff membelalakan matanya karena terkejut dan Nenily hanya menatap datar kearah tomat yang masih memeluk erat kaki kiri Geral.

"Mandrakes?" Tanya Riff tanpa sadar. Geral menatap Riff sambil tertawa pelan,"Ya.. Begitulah.. Err.. Maaf kalau boleh hamba bertanya, sekarang hamba berada di mana ya?"

"Istana Gianom. Di taman belakangnya," jawab Nenily yang maish menatapnya tajam sehingga Geral merasa ingin sekali pergi ke langit lagi.

"Istana? Berarti..," batin Geral. Tiba-tiba, Geral langsung membungkukan badannya dalam-dalam yang dapat membuat topi birunya terjatuh dari kepalanya.

"Ma-Maafkan hamba, Yang Mulia. Hamba tidak bermaks-,"

"Sudahlah, ini hanya kecelakaan kan? Tidak usah minta maaf, kamu tidak apa-apa kan?"

Geral mengangguk ragu-ragu,"Err.. Kalau begitu, hamba akan membersekan ini dan keluar dari sini, Yang Mulia, hamba minta maaf sebesar-besarnya telah merusak halaman Yang Mulia," lanjutnya. Geral baru saja akan membereskan balon udaranya tetapi, Riff menyelanya," Tunggu."

Geral menoleh ke arah Riff lagi dan Riff bertanya," Setelah membereskan ini, kamu akan singgah dimana?"

"Hm.. Saya belum tahu, Yang Mulia.. Tapi, di mana saja bisa untuk hamba. Asal hamba bisa memperbaiki balon udara hamba," jawabnya ragu-ragu karena dia masih merasakan hawa yang menusuk dari arah Nenily.

Nenily menatap ayahnya dan bertanya," Tunggu. Jangan bilang kamu ingin mengajaknya tinggal disini untuk sementara?"

"Sejak kapan anakku bisa membaca pikiran orang lain?" Tanya Riff dengan tatapan bingung sambil tersenyum. Geral hanya diam di tempat karena pertanyaan Nenily tadi.

"Mii.. Mii?" Tanya Mandreak tomat itu yang sudah melonggarkan pelukannya.

"Tidak akan."

"Lho? Kenapa? Lagian di sekitar istana kan hutan. Desa aja harus berjalan beberapa kilometer dari sini."

"Dia tadi juga bilang, di mana saja bisa bagi dia." Nenily mulai menatap ayahnya tajam.

"Tapi, tidak di hutan juga, anakku… Kamu mau nanti ada masalah tentang hewan buas yang memakan anak ini?"

"Urusanku?"

"Urusan kita juga, anakku yang manis," jawab ayahnya dengan muka polos sambil tersenyum.

Geral menatap mereka bingung, benar-benar bingung. Sambil menunggu mereka selesai bicara, dia menggendong Mandreak tomatnya dan menaruhnya di pundak sebelah kanannya dan Mandreak itu duduk di pundaknya.

"Hooo.. Ada orang baru disini ya?" Tanya Lufiano yang tiba-tiba berada di belakang Geral dan sukses membuat Geral kaget.

"Teserahlah! Asal dia tidak melakukan hal yang tidak-tidak," geram Nenily yang tiba-tiba melemparkan pedangnya kearah Lufiano. Degan cekatan, Lufiano menghindar dari serang Nneily yang tiba-tiba itu. Alhasil, pedang Nenily memotong sedikit dari rambut hitam coklat Geral dan menancap di tanah.

"Mii! Mii!" teriak Mandreak itu ketakutan sehingga Geral harus menggendong dan mengusapkan punggung Mandreak itu supaya tenang.

"Hei, tidak baik lho kalau kamu menyambut setiap laki-laki seperti itu," kata Lufiano dengan senyum menyeringainya yang membuat Nenily bertambah kesal dan langsung mengejar dia.

ZREEG ZREEEG TRANG

"Menakutkan…," batin Geral takut. Riff menghela napas dan menatap Geral sambil tersenyum.

"Mulai hari ini, kamu tinggal disini untuk sementara sampai kami dapat memperbaiki kendaraanmu ya?" tanyanya tersenyum.

"Tidak apa-apa kok, Yang Mulia.. Saya bisa mencari tempat singgah sendiri," jawab Geral.

"Di sekitar sini hutan. Dan didalamnnya terdapat banyak hewan buas. Kalau kamu masih memaksakan utnuk pergi ke desa, bisa-bisa kamu sudah melayang ke tempat lain."

Geral langsung bungkam. Riff berkata lagi," Bagaimana tuan Jameson? Tidak apa-apa kok daripada kamu tidak bisa menyelesaikan misimu karena hewan buas."

Geral benar-benar ragu. Memang, dia pernah jatuh di hutan dan selalu berhasil menemukan pedesaan, tetapi dia tidak mengharapkan akan seperti ini.

"Ba-Baiklah, Yang Mulia.. Jika anda memaksa..," jawabnya.

.

.

~OMAKE~

"Ayo, tangkap aku kalau bisa!" seru Lufiano sambil terbang dengan sapu terbangnya supaya tidak tertangkap oleh Nenily.

Nenily menatapnya tajam, loncat ke dahan pohon, mengeluarkan pedangnya dan..

ZREEEG!

Nenily mendarat dengan mulus setelah ia membelah sapu terbang Lufiano menjadi 2 bagian disertai dengan suara jatuh yang dibuat oleh Lufiano.

Nenily tersenyum licik dan dengan cepat, dia menuju ke Lufiano.

"Nyawamu kurang 1."

TBC


Bagaimana? Gak nyambung? Gaje? EYD salah banyak? Membosankan? Dll? Salahkan saya, karena memang aku tidak bisa mendapat ide karena stress di sekolah dan main osu! #digeplak XD Yak ini aku juga akan membalas beberapa Review-nya:

Onica278: Gak pertama kali juga sih.. =v=a Gw masih ada 3 cerita yang memang gw belum post disini.. Ntr mau gw post cerita yang lainnya..

Noella Marsha: Waa,, Makasih X3

bhisma: iya.. dia itu.. Tsundere! #ditancep