Saya update pemirsa… UPDATE! #plak plok plik pluk

Nyahahaha! Baru kali ini saya dapat ide secepat ini #gak sih xDD ya.. yg penting gak kyk chap 2 yg hrs berbulan-bulan.. 8D

Yak, silahkan dibaca readers~

Purble Doll

Chap 3: Mission


Menyebalkan.

Kalimat itu terus melekat dalam pikiran sang 'Unicorn'. Baru saja ayahnya mengajak orang yang baru mereka temui untuk tinggal di istana bersama mereka. Padahal, baru saja bertemu.

"Hah, what a day," kesal Nenily sambil berjalan ke ruang singgasana Raja Riff.

"Tuan Putri Nenily, raja memanggil anda untuk menemui Yang Mulia di ruang singgasana," kata seorang maid beberapa menit yang lalu di kamar Nenilly.

Selagi berjalan ke tempat tujuannya, Nenily berharap, SANGAT berharap supaya ayahnya memberinya suatu misi. Saking sibuk memikirkan harapannya tersebut, tanpa sengaja ia menabrak seseorang sampai-sampai orang yang ia tabrak itu jatuh. Ia melihat orang itu dengan sebal.

Geral.

"…," Nenily hanya menatap dingin kepada Geral. Sementara, Geral hanya mengerjap-ngerjapkan kedua mata birunya kearah Nenily. Hening. Mereka hanya bertatapan mata.

Tidak mau menambah stressnya, Nenily langsung berjalan lagi melewati Geral yang masih terduduk diam. Tapi, Nenily berhenti ketika tangan Geral menggegam lengan kiri Nenily. Nenily menatap Geral dan menepis genggamannya.

"Jangan sentuh aku."

"Maaf, Yang Mulia.. Tapi saya belum tahu nama anda, Yang Mulia."

"….. Apa urusanmu jika kamu belum tahu namaku?"

"Erm.. Supaya kita dapat saling mengenal..?" tanya Geral ragu, takut kalau ucapannya itu salah dan dapat membuat Nenily marah.

Nenily terdiam. Ia membalikkan badannya dan mulai berjalan lagi. "Nenily," jawabnya pelan, tapi Geral dapat mendegar jawabannya. Geral menghela napas lega sambil melihatnya pergi, lalu ia ternseyum kecil. Lalu, ia berjalan lagi.

.

.

.

.

.

Riff sedang duduk manis di salah satu anak tangga batu kecil* sambil membaca surat dari kerajaan tetangga, Blace. Tiba-tiba, ia mendengar suara dobrakan pintu yang dibuat oleh putrinya yang lucu itu (#baca: kejam). Ia mendongakkan kepalanya untuk melihat Nenily.

"Oh, anakku yang manis ternyata," sambutnya dengan senyum khasnya.

"Ini harusnya ada yang penting. Dan bisakah kamu duduk seperti para raja kerajaan yang biasanya? Duduk seperti itu, terlihat seperti bukan raja. Kalau tidak ada yang penting, aku akan keluar," kata Nenily.

"Memang ada yang penting, putriku. Ayahkan sudah tahu kamu hanya ingin dipanggil kalau ada hal yang penting. Dan, yang penting tidak ada kunjungan dari kerajaan lain kan?" kata Riff dengan entengnya.

Perkataan Riff serasa mebuat kesebalan Nenily bertambah. Tapi, Nenily harus bersabar, SANGAT bersabar kalau ia tidak ingin pangkatnya dicabut kalau terjadi apa-apa pada ayahnya. Nenily mengehela napas.

"…. Jadi?"

"Jadi apanya?" Tanya Riff yang mulai lupa.

Baiklah, Nenily ingin keluar dari ruangan itu sekarang.

"Oh iya! Maaf, Neni. Maklum ayah sudah mulai tua. Sebenarnya, ayah punya misi untukmu Neni, ini permitaan dari Kerajaan Rec," kata Riff.

Mendengar kata 'misi' dari ayahnya, Nenily langsung senang. Akhirnya, ayahnya memberinya misi, tapi Nenily hanya memasang muka dingin seperti biasanya (dasar Tsundere #ditancep).

"Apa misinya?" Tanya Nenily.

"Mau ayah ceritakan dari awal terjadinya atau langsung akhirnya?," Canda Riff. Sepertinya, Riff sudah bosan dengan hidupnya.

"…..," tangan Nenily sudah gatal ingin mengambil pedang dari sarungnya dan melemparnya kearah Riff, walau mungkin ia akan melemparnya nyaris mengenai Riff, karena ia tidak ingin ayahnya kenapa-napa.

"Iya, iya… Jadi mereka meminta bantuan pada kita untuk menyelamatkan putri kedua mereka, Feully. Kamu masih ingat dengan Putri Feully?" Tanya Riff.

Nenily diam sejenak. Yang ada di dalam benaknya adalah seorang gadis berambut pirang ikal, selalu mengenakan gaun bewarna pink dan putih, dan selalu juga mengenakan mahkota perak di kepalanya. Bagaimana Nenily tidak lupa pada Feully setelah ia pernah merusak pedang pertama Nenily saat berumur ia berumur 13 tahun?

"Jadi ayah mendapat kabar dari mereka, kalau Putri Feully secara misterius menghilang, mereka duga mungkin itu penculikan. Tentara mereka sudah berusaha mencarinya, tapi masih belum dapat menemukannya. Mereka meminta kita untuk membantu mereka mencarinya. Bagaimana, putriku?" Tanya Riff di akhir penjelansannya.

Nenily diam sejenak-sedang mempertimbangkannya. Berarti, kalau ia menerima misi itu, dia menjadi lebih tenang. Nenily tentu menerimanya dengan senang hati.

"… Baiklah," setuju Nenily. Riff ternsenyum. "Baiklah, ayah juga meminta satu orang lagi utnuk menemani dan memandumu dalam perjalanan," lanjutnya.

Nenily menatapnya bingung.

"Hmm… Nanti kamu juga akan tahu. Lusa nanti kamu boleh menjalankannya," kata ayahnya. Sebenarnya, Riff tahu kalau Nenily tidak suka dengan rasa penasaran.

Tiba-tiba, di dalam benak Nenily muncul wajah Lufiano. "Jangan sampai orang itu..," gumamnya.

"Siapa?" Tanya ayahnya yang tidak sengaja mendengar gumamannya.

"…. Lupakanlah," kata Nenily sambil memejamkan matanya sejenak ,"Hanya itu yang ingin kamu sampaikan?" tanyanya lagi.

"Ah! Satu lagi… Jangan terlalu kejam sama-,"

BLAAM!

Ucapan Riff terpotong oleh suara pintu yang ditutup secara kasar oleh Nenily. Riff mengerjapkan matanya kearah pintu itu dan dia tertawa kecil.

"Kapan putriku bisa belajar?" gumamnya sambil mulai membaca laporan kerajaanya lagi.

.

.

.

.

.

Di taman istana belakang, Geral sedang memperbaiki balon udaranya, tempat dimana ia mendarat jatuh. Saat Geral mengambil keranjang balon udaranya, Mandreak tomatnya berlari menghampirinya sambil membawa sesuatu di pelukannya.

"Mii~," panggilnya.

"Hm? Ada apa?" Tanya Geral yang masih sibuk membetulkan keranjangnya tanpa melihat kearahnya.

"Mii! Mii!" seru Mandreak itu sambil menunjukkan sesuatu yang daritadi ia bawa kearah Geral.

"Sebentar ya? Aku lagi sibuk..," kata Geral dengan sedikit menyesal. Mandreak itu menggeram, tampaknya ia kesal kalau tuannya tidak memperhatikannya. Ia masih menunjukkannya kepadanya.

"Mii!" serunya lagi tetapi agak lebih keencang.

Geral menghela napas, "Apa yang kau ingin katakan?" tanyanya sambil melihat kearahnya. Geral melihat ia sedang menunjukkan sebuah boneka berbentuk anak laki-laki yang seluruh pakaiannya bewarna ungu dan berambut hitam keungu-unguan.

"Kamu dapat darimana?" Tanya Geral.

"Miii miii miii mii**," jelas Mandreak itu dengan riang karena tuannya telah memerhatikannya.

Sontak Geral langsung kaget setelah mendengar penjelasannya,"Dari kamar-,"

"Apa yang kau ambil dari kamarku?" Ucapan Geral terpotong oleh Nenily yang tiba-tiba berada di belakangnya sambil memancarkan aura membunuh. Geral langsung gugup seketika. Peluhnya sudah mulai membanjiri keningnya. Karena tahu tuannya sedang dalam keadaan bahaya, Mandreak tomat itu berjalan gemetaran ke Nenily dan meletakkan boenka itu di depan kedua kaki Nenily. Lalu, ia berlari dan memeluk erat tangan kiri Geral.

Nenily mengambil bonekanya, "…. Ada lagi?" tanyanya dingin. Geral memberanikan dirinya untuk menjawab.

"Mohon maaf, Tuan Putri. Tidak ada yang ia ambil lagi selain boneka anda. Mohon maaf sebesar-besarnya, harap maklum, dia hanya seekor Mand-," ucapan Geral terpotong karena ujung pedang Nenily tiba-tiba mengenai sedikit pada kulit leher belakangnya.

"Permohonan maaf tidak diterima," cetus Nenily.

"T-Tapi, Tuan Putri-"

"Tidak ada tapi-tapi, sekarang serahkan Mandreak itu."

Geral terkejut bukan main ketika mendengar perintah Nenily. "Apa yang dipikirkannya? Dia hanya seekor Mandreak yang tidak tahu apa-apa!" pikirnya. Geral memeluk Mandreak tomat itu dan menatap Nenily kebelakang.

"Maaf tapi tidak, Tuan Putri. Dia hanya seekor Mandreak!" kata Geral yang sudah mulai habis kesabarannya dan melepaskan Mandreaknya. Nenily menatap tajam kearah Geral. Geral sepertinya tidak tahu, kalau perintah Nenily tidak boleh dibantah, SAMA SEKALI.

"Hukuman adalah hukuman."

"Adakah hukuman lain yang tidak melibatkannya, Yang Mulia? Dia memang tidak tahu apa-apa."

"…..," Nenily tampaknya berpikir sejenak sebelum ia berkata, "Bertarunglah denganku."

Mata Geral terbelalak kaget. Tidak.. Tidak mungkin, Geral, petualang biasa melawan sang 'Unicorn' yang paling ditakuti oleh semua orang di kerajaanya itu!

"Y-Yang Mulia, anda serius?" Tanya Geral lagi untuk meyakinkan Nenily sekali lagi.

"Keputusanku sudah bulat dan tidak boleh diganti lagi," Nenily langsung menghantam Geral dari belakang dengan keras sampai Geral terdorong kearah pohon besar di depannya.

"MIIIII!"

Nenily berlari kearah Geral yang masih menringis kesakitan dan mengacungkan pedangnya kearah Geral.

"Bagaimana?" tanyanya dengan tersenyum sinis.

TBC


*Tangga kecil yang biasanya menuju ke kursi singgasana raja atau ratu.

** Author juga gak tahu dia ngomong apa, hanya Geral-lah yang tahu #plak. Tapi hint-nya udah ketemukan? ^^"?

Yak sekian dulu. Bagaimana? Tambah aneh lagi? Atau membosankan? Ohohoho #plak Ya.. Maklumlah… Saya masih kurang berpengalaman. Tapi, mungkin ada yang merasa kalau Nenily sudah mulai jahat/kurang ajar ya? (Aku jga ngerasa gitu.. ||D) Tapi, tenang dia masih baik kok..

Balasan:

Nina Tanalina: Wehhh, makasih reviewnya! XD Udah lama gak dpt.. #plak plok. Ohoho, si Nenily memang Tsundere tingkat akut #ditancep. Mandreaknya? Boleh tanya pada Tuan Geral XD. Oh belum ya? Emang sih.. maunya si Geral sikapnya berubah" XD. Makasih sekli lagi reviewnya.

Yak! Saya akan berhibernisasi untuk mencari ide dulu #naik balon terbang milik Geral

Ciao Ciao~