"Maafkan aku, Fredrika. Aku ingin kita putus."

Fredrika tersedak, berharap ia sedang tidak salah dengar. Pasti ini hanya lelucon yang sama sekali tidak lucu. "Bercandamu sama sekali tidak lucu, Carl. Kenapa?"

"Aku serius, aku tidak mencintaimu sejak dulu," ujarnya dengan nafas berat. "Hubungan kita, suatu kesalahan. Aku tidak—"

Fredrika menggeram, membanting telepon rumahnya lalu mengambilnya lagi. "Kesalahan? Kau bilang sebuah kesalahan, apanya yang bisa dibilang kesalahan?"

"Aku mencintai orang lain," Carl menjawab dengan pelan. "Seorang anak kecil yang pemarah dan tidak ragu menunjukkan kemarahannya padaku. Aku sudah mencintainya sebelum ia mencintaiku."


NON SO RESISTERTI

Carl A. R / N. 潘 (Phan)

Part of Verano a Dinamarca—POV 1. Carl Sørensen

Warning: domestic violence, sexual tension, semi-smut, adult things


Fredrika tidak pernah menyukai Adrianne Linnea, sekalipun ia adalah buah cintanya bersama pria yang dicintainya, Lars Svensson.

Sejak anak itu lahir ke dunia, hingga saat ini. Anak itu selalu membawa sial ke dalam kehidupannya. Tidak pernah ia menginginkan seorang anak karena anak hanya sebuah hambatan semata. Lars terlalu menyayangi Adrianne dan membuat Fredrika cemburu setengah mati.

Ia benci jika ada orang yang menyainginya sejak dulu, sangat benci. Tak segan-segan ia akan menyerang orang itu sekalipun itu saudaranya.

Bahkan dalam kasus ini adalah anaknya sendiri.

Ia tidak suka diabaikan, karena sang ibu selalu bersikap tak acuh kepadanya. Hanya sang ayah yang mempedulikannya dan menyayanginya. Sang ibu adalah wanita yang suka bersolek dan membawa pria-pria lain ke rumahnya dan menyakiti ayahnya. Sekali waktu ia dan sang kakak, Françoise pernah melihat ibunya bersama pria lain di kamar ayahnya dan ibunya memaki Fredrika dengan kata-kata yang tidak akan pernah ia lupakan.

Kata-kata dan perilaku sang ibu membuat Fredrika seperti sekarang ini. Ia tidak memiliki orang yang disayanginya dan hidupnya berantakan sejak kematian Lars. Sejak saat itu ia selalu mendera Adrianne dan menyiksanya selagi ia bisa. Melihat wajah Adrianne, membuat Fredrika sakit karena Adrianne begitu mirip dengan almarhum suaminya. Beberapa tingkah laku Adrianne juga mengingatkannya.

Carl Sørensen, ia bertemu dengan pria itu ketika ia sedang bekerja di Jerman. Fisiknya juga mengingatkannya dengan Lars, cara bicaranya, hampir semua diri Lars ada di dalam sosoknya. Ia mencintainya hanya karena kemiripan itu, bukan karena pribadinya. Bertahun-tahun ia menjalani hubungan yang aneh bersama Carl.

Fredrika sudah tahu sejak lama bahwa Adrianne suatu saat akan merebut Carl dari dirinya. Oleh karena itu ia berusaha mengisi otak Carl dengan kebohongan mengenai Adrianne. Kebohongan yang memuakkan dan menyedihkan sekaligus keji. Ia berkata pada Carl bahwa Adrianne sudah berhubungan intim dengan banyak pria ketika Adrianne masih berusia empat belas tahun. Bukannya Carl menjauhi Adrianne, pria itu memperkosa Adrianne karena terbakar cemburu dan mendapati bahwa Adrianne masih perawan.

Ia tidak bisa melupakan bagaimana Adrianne saat itu, terisak-isak di tempat tidur dengan wajah yang hancur dan darah berceceran di seprainya. Dua minggu kemudian, Adrianne mulai menunjukkan gejala kehamilan akibat perbuatan Carl karena ulahnya dan dengan tanpa perasaan memaksa Adrianne untuk menggugurkan kandungannya.

"Nggak, jangan. Aku nggak mau. Kumohon jangan," isaknya ketakutan dan meringkuk di pojok kamarnya. "Aku nggak mau, jangan lakukan itu!"

Fredrika tersenyum licik dan memegang beberapa foto dirinya dan Carl sedang bermesraan, ia memegang pisau dan ujungnya menempel di leher Adrianne. "Foto ini jika kujual hasilnya lumayan juga, wanita jalang," ujarnya dengan setengah mendesis. "Ia tidak tahu jika kau sedang hamil, bukan?"

Adrianne tersedak, bagaimana bisa wanita itu tahu? Fredrika selalu membuatnya takut seperti ini dan mengerikan, ia lemah dan tidak berdaya. Wanita itu memiliki koneksi dengan bajingan-bajingan berbahaya. Jika Adrianne melawan, bukan Fredrika yang akan menyakitinya tetapi bajingan komplotan wanita itu.

"Ja—jangan, kumohon," Adrianne terisak, memeluk tubuhnya sendiri. "Ini anaknya juga, kau tidak bisa seenaknya."

Fredrika terkekeh dan matanya berkilat tajam. "Carl tidak akan peduli padamu dan dia lebih menyukaiku, anak bodoh. Pria itu tidak pernah menginginkanmu dan hanya menginginkan tubuhmu semata."

Pembunuhan karakter yang begitu indah bagi Fredrika. Membuat Adrianne menderita memang sangat menyenangkan. Toh memang faktanya ia tidak pernah menginginkan seorang anak, untuk apa ia harus menyayangi Adrianne?

Gara-gara Adrianne, Lars meninggal. Semua salah Adrianne, kalau saja Adrianne tidak merengek untuk pergi ke Denmark, tidak akan begini jadinya. Gara-gara Adrianne juga, Carl memutuskan hubungannya.

Apa bagusnya Adrianne? Gadis itu jelek dan tidak menarik, jauh lebih baik dirinya yang cantik dan modern serta mampu memikat pria tampan manapun yang ia mau.

Ia masih merindukan Lars, cintanya yang berbeda dua puluh lima tahun darinya. Hanya karena Lars, ia rela putus sekolah untuk mengejar cintanya. Lars adalah pria yang begitu baik dan tampan di mata Fredrika, terlalu baik hingga sakit rasanya kehilangan dirinya.

"Lars," gumamnya lirih, memeluk fotonya dengan Lars seerat mungkin. "Seandainya kau ada di sini."

.

.

.

Tiga minggu kemudian..

Adrianne dan Carl duduk di bangku taman Gamla Stan, kota tua Swedia yang terkemuka. Musim semi sebentar lagi akan berganti menjadi musim panas dan mulai banyak turis berdatangan. Seperti biasanya, Gamla Stan selalu ramai didatangi turis mancanegara.

Sejak pulang dari Barcelona, Adrianne sangat berubah. Dari yang tidak dilirik sama sekali, sekarang ia dilirik oleh pria yang lewat. Seminggu setelahnya, Adrianne menjadi suka berdandan dan memakai baju feminin.

"Aku tidak ingin kembali ke sekolah lagi," gerutunya dan mengigit lengan Carl. "Lihat, semua memandangiku dengan aneh! Kapan-kapan aku mau memotong rambutku yang aneh."

Sebenarnya, bukan tatapan aneh melainkan tatapan kagum sekaligus heran tetapi Adrianne saja yang terlalu sensitif. Rambut Adrianne sekarang lebih panjang dan bergelombang di bagian wajah, sekarang ia sudah tidak terlihat seperti laki-laki.

"Kau harus kembali, lagipula sudah mau ujian akhir dan tinggal satu minggu lagi," Carl bergumam pelan, merangkul Adrianne dengan erat supaya ia berhenti mengigit lengannya. "Mengapa tidak mendaftar di Universitas Stockholm, dengar-dengan kau dapat beasiswa penuh?"

Adrianne cemberut mendengar pertanyaan Carl. "Jangan bertanya seperti itu, aku sama sekali tidak pintar," jawabnya, tetapi tidak seketus biasanya. Sejak kejadian di Barcelona,sikap Adrianne terhadap Carl mulai melunak. Sudah tidak seketus biasanya, tetapi masih sedikit dingin dan menjaga jarak. Senyuman mulai muncul perlahan-lahan di wajahnya.

"Kau cukup pintar untuk itu, Adrianne. Ambil saja beasiswa itu, kapan lagi?"

Adrianne menggeleng, wajahnya memerah menahan malu. "Ti—tidak seperti itu, hanya sedikit aneh saja untuk anak sepertiku."

"Aneh yang seperti apa?"

Gadis itu tidak menjawab dan merenung, sekarang bukan saatnya memikirkan hal itu. Belakangan tubuhnya sama sekali tidak stabil, sebulan ini ia belum datang bulan sama sekali. Lebih aneh lagi adalah ia sekarang menjadi suka membeli pakaian wanita dan berdandan. Biasanya ia paling anti melakukannya, menyentuh rok saja sudah membuatnya merinding.

"Nggak apa-apa," jawabnya pelan dan bersandar di pelukan pria itu. "Peluk aku dengan lembut, walau hanya sekejap saja."

Permintaan Adrianne begitu mengejutkan di telinga Carl. Gadis itu tidak pernah menyodorkan dirinya seperti ini, apalagi terhadap pria sepeti Carl yang selalu mengejar-ngejar Adrianne tetapi selalu mendapat makian yang tidak pantas.

Tanpa menunggu jawaban darinya, Adrianne langsung memeluknya dan bersandar di sisinya. Dadanya bidang dan enak dipeluk, ia bergumam dalam hati.

Pria itu membalas pelukannya dan mengelus kepala Adrianne dengan lembut. "Kapanpun yang kau mau, Adrianne," ia menjawab pada akhirnya. "Bermanjalah jika membuat hatimu lebih tenang."

Adrianne tersenyum, ia benar-benar tidak menyangka bahwa Carl benar-benar melakukan itu untuknya. Dada Carl begitu tegap dan lembut, rasanya Adrianne ingin segera tertidur saja. "Sudah lama aku tidak bermanja seperti ini."

"Kapan terakhir kali kau bermanja-manja?" Carl bertanya dan memainkan rambut Adrianne sehelai demi sehelai. "Kau selalu mengatakan aku om-om kesepian, tetapi—tampaknya kau lebih kesepian dariku. Bukan begitu?"

"Mungkin saja, kau be—"

Mendadak tubuh Adrianne menjadi kaku dan sesaat mulai mual-mual. Kepalanya menjadi pening dan terbangun mendadak. Ia berlari ke tong sampah terdekat dan mulai muntah-muntah di sana. Wajahnya sangat pucat.

"Adrianne? Kamu kenapa?" Carl beranjak dari bangkunya dan memegangi tubuh Adrianne, mengelus perutnya perlahan. "Kamu nggak apa-apa? Kurang istirahat?"

Seluruh tubuhnya digerogoti rasa mual yang amat sangat. Rasanya seperti ditusuk-tusuk oleh seribu duri di dalam tubuhnya. Ia tidak menyadari gejala apa yang dialami olehnya. Tetapi satu hal pasti—ia mengalaminya belakangan ini dan pernah dirasakan oleh tubuhnya.

"Pergi—kumohon menjauh dariku," ucap Adrianne lemah, ia sudah kehilangan keseimbangan dan sebentar lagi ia akan terjatuh dari tempatnya sendiri. Salah satu tangannya masih memegangi perutnya. "Aku tidak tahu apa yang terjadi denganku—tidak mengerti—huekh—."

Tiba-tiba tubuh Adrianne terangkat dan tahu-tahu ia sudah berada di dalam gendongan Carl. "Aku akan menggendongmu sampai ke apartemen, suka tidak suka."

"Ke—kenapa?" Adrianne terisak pelan dan memeluk Carl di dalam gendongannya, rasa sakit di tubuhnya bukan main. "Aku pernah merasakannya, tapi lupa."

Carl menggeram pelan, pegangannya semakin erat dan membawa gadis itu ke mobil. "Tidurlah, sebelum sakitnya menjalar ke seluruh tubuh!"

—Oo00oo—

Adrianne dibawa ke rumah Carl yang terletak di Uppsala yang cukup jauh dari kota Stockholm dan tertidur di kamarnya dengan lelap. Ketika bersamanya, Adrianne sangat sehat dan tidak ada tanda-tanda akan jatuh pingsan seperti ini.

Gejala itu, Carl permah melihatnya. Tiga atau empat musim panas yang lalu.

Adrianne tidak mau mengakui saat itu, diam seribu bahasa dan wajahnya penuh ketakutan yang tidak bisa dijelaskan. Dua minggu kemudian, ia mendengar kabar bahwa Adrianne keguguran karena Fredrika mencelakainya.

Tanpa sadar, Carl mengelus perut Adrianne yang ramping. Tangannya merasakan bahwa di perut Adrianne ada nyawa kedua. Ia bersandar ke perut Adrianne. "Aku akan jadi papa sembilan bulan lagi," ia berkata dengan pelan tetapi dengan kesungguhan hatinya. Yang satu ini ia akan menjaganya dengan baik, tidak akan ada cerita dimana Adrianne keguguran lagi. "Pasti mirip dengan mamanya. Asal jangan galak seperti mamanya juga."

"Adrianne tidak akan apa-apa," kata Greta, adik Carl yang beda lima tahun darinya. "Ketika aku bertemu dengan anak ini pertama kalinya, ia masih kecil. Sekitar sebelas tahun. Rupanya anak-anak sudah akan melahirkan anak-anak. Kalau Antoniette sampai tahu soal ini, habislah kau Carl. You're a great pedo in the town."

Ia terkejut dan segera turun dari ranjang. Memangnya ia terlihat seperti pedo kekurangan mangsa? Biasanya ketika ia memaksa Adrianne untuk bercinta ia selalu mengenakan pengaman, kecuali di Barcelona kemarin. Ia terlalu bergairah untuk memakai pengaman, Adrianne semakin cantik saja dan mengabaikan faktor keamanan.

Antoniette, adik Carl yang paling kecil dan nyaris seumuran dengan Adrianne adalah anak yang galak dan keras kepala, ditambah sifat brother complex yang amat sangat menganggu Carl. Ketika Carl dekat dengan Adrianne, ia selalu saja disembur olehnya. Untung saja Carl tidak menyimpan senjata yang digunakan untuk perang, jika tidak Antoniette akan menembaki kepalanya.

"Sudahlah, Greta. Biarkan kami berdua di sini," ia berkata dan matanya terus memandangi Adrianne yang terlelap. "Aku akan menjaganya."

Greta tidak berkomentar dan langsung pergi meninggalkan mereka berdua. Kakaknya sedang dimabuk cinta terhadap gadis muda yang usianya nyaris dua kali lipat lebih muda darinya. Begitu sudah agak jauh, Greta menggumamkan sesuatu dengan bahasa Rusia.

"Sepertinya aku akan memiliki keponakan baru," ucapnya dalam bahasa Rusia. "Mudah-mudahan wajahnya tidak seseram Carl."

TBC


Author notes: Udah berapa bulan gw nggak nulis ya :/ kayaknya gw kena writer block lama banget. Next chapter is Carl Romano. Doain ya supaya nggak lama updatednya :3

makasih yang udah review, guys :D

Jangan lupa follow tentangEropa dan AsiaKlopedia dan faktaNordik untuk tahu soal negara-negara :) adminnya gw kok