SERENATA SPAGNOLA*

Carl A. R / N. 潘 (Phan)

Part of Verano A Dinamarca. POV 2— Carl Hector-Alvarez

Warning: mention of adult things, don't like don't read.


Amor s'en vien, è l'ora gradita, senza il tuo ben dimmi come fai Lolita?— O, love comes, it's (such) a pleasant time,without your goodness, tell me how to live, Lolita?


"Aku tidak mau disentuh olehmu, om jelek pedo!" gerutu gadis muda yang bernama Adrianne dan menyikut seorang pria dewasa yang dilihat dari wajahnya adalah pria dengan kepala tiga akhir. "Aku tidak suka memakai baju perempuan sekalipun aku memang perempuan."

Sørensen, nama pria itu sepertinya sudah terbiasa dengan omongan kasar sang gadis dan merangkulnya erat sehingga Adrianne tidak bisa melepaskan diri lagi darinya. "Daripada ngomel, mending kita menyewa kamar untuk kita pakai berduaan. Tenang saja, aku sudah membeli pengaman."

"NGGAK MAU!" balasnya dengan wajah merah padam. "Om jelek ingin menyiksaku, dua hari yang lalu kan sudah!"

Dua insan yang sepertinya mabuk cinta ini hanyalah salah satu dari sekian banyaknya pasangan-pasangan yang ada di pusat kota Madrid yang memenuhi jalanan. Madrid yang begitu terang benderang hingga bisa terlihat dari satelit sekalipun. Walaupun hari sudah malam, tidak membuat kota tersibuk di dunia itu menjadi sepi. Semakin banyak orang-orang berdatangan dan bercengkerama. Beberapa pasangan ada yang bercumbu di salah satu kursi taman dengan pakaian minim. Tidak ada yang memandang mereka dengan jijik, sudah biasa di negara yang sangat bebas seperti ini.

Lebih tepatnya, Madrid adalah New York-nya Spanyol. Dimana ketika malam hari banyak masyarakat Madrid yang pergi ke bar untuk bersenang-senang sementara di siang hari kebanyakan dari mereka bermalas-malasan dengan cara siesta.

Severina Armando harus bersusah payah untuk berjalan dengan menggunakan tongkat penyangga di kota yang ramai seperti ini. Tidak mungkin ia menggunakan kursi roda di tempat seperti ini karena terlalu ramai dan berdesak-desakan. Madrid sama sekali tidak ramah baginya karena banyak copet dimana-mana serta orang-orangnya yang kasar. Sudah dua kali ia menerima perlakuan kasar oleh orang-orang di jalan karena ia cacat bahkan ia terjatuh di jalan karena ada seseorang yang sengaja menabraknya dengan keras.

Beberapa kali ia ingin menangis, tetapi ia hanya bisa menyimpannya di dalam hati tanpa suara. Ia memilih untuk tidak bicara apapun. Semua perkataan yang ia katakan tidak pernah didengarkan karena ia cacat. Apapun yang ia lakukan selalu dianggap salah. Memangnya orang yang memiliki keterbatasan fisik harus pasrah seperti itu? Memangnya mereka tahu apa mengenai penderitaannya?

Hidup memang tidak adil untuk sebagian orang. Ia tidak memiliki teman, tidak memiliki orang yang menyayanginya kecuali ayahnya yang selalu menjaganya dan bisa dibilang overprotective terhadapnya. Ia hanya berpura-pura tegar di luar tetapi hati ia menangis dan penuh luka yang sulit disembuhkan. Luka yang menyebabkan ia sulit percaya pada orang lain, membuat hatinya sekeras batu dan bersikap dingin diluar kemauannya tanpa ia sadari bahwa sebenarnya ia tidak seperti itu.

Sekarang ia menyesali kenekatannya ini. Ia hanya dua kali pergi ke Madrid bersama ayahnya dan itu pun sudah lama sekali. Sialnya ia sama sekali tidak hafal jalan dan yang lebih buruk lagi adalah seharusnya ia mengantarkan amplop itu kepada Carl Alvarez besok pagi.

Anehnya, ia memang ingin mengantarkannya di malam hari karena ia begitu penasaran siapa sebenarnya Carl Alvarez itu. Seperti pernah dikenalnya dalam waktu yang lama. Sosoknya mengingatkan ia terhadap Rudolph Valentino, aktor legendaris dari Italia. Tetapi jelas bukan dia apalagi reinkarnasi dari pria itu.

Belakangan ia memikirkannya tanpa ia sadari. Ia terlalu penasaran dan memilih untuk mengikuti instingnya sendiri tanpa sadar bahwa itu berbahaya. Apalagi di jam malam seperti ini. Rasa takut mulai menghantuinya. Bagaimana jika ia sampai diculik oleh mafia mengerikan dan hal-hal yang tidak bisa dibayangkannya. Ia tidak bisa mengenal dengan baik seperti apakah pria macam Carl Alvarez itu. Bisa saja sebenarnya ia bajingan dan penjahat atau dugaannya salah, pria itu adalah seorang penjahat kemanusiaan.

"Rupanya kita bertemu lagi, Severina! Kau masih ingat siapa aku?" gumamnya dan menepuk bahu Severina dengan keras. Ia hampir melepaskan tongkat penyangganya tetapi ditahan oleh pria yang memanggilnya barusan. "Aku tidak menyangka bahwa kita bisa bertemu lagi. Mungkin saja kita memang jodoh."

Severina terkejut dan menoleh ke belakang. Mendapati seorang pria memanggilnya dan menyebut namanya dengan lembut. Selembut beludru. Seorang pria dengan tinggi semapai dan wajah seperti campuran Spanyol-Italia yang dominan, tatapan yang menggodanya membuat tubuh Severina dirambati panas dingin yang teramat sangat. Perasaan yang aneh ketika berhadapan dengan pria itu seolah-olah ia sendiri akan dimakannya hidup-hidup tetapi tidak seperti itu juga pastinya.

Ia tidak tahu bagaimana harus mengontrolnya jika perasaan ini semakin meledak dan berkembang. Memikirkannya saja sudah membuat Severina gila padahal ia baru beberapa kali bertemu dengan Carl. Belum tentu juga pria itu memiliki perasaan yang serupa dengan dirinya.

"A—ah, señor Alvarez. Ha—halo," Severina berkata dengan nada gugup, wajahnya merah padam dan ia menunduk. Takut-takut kalau pria itu menganggapnya ada rasa terhadapnya. Dengan salah tingkah ia menyembunyikan dokumen milik Carl di belakang punggungnya. "A—apa kabar?"

Carl memandang Severina dari atas dan bawah. Gadis muda ini begitu cantik di malam hari dengan balutan blazer coklat di malam hari serta dalaman berwarna hitam. Keterbatasan yang dimiliki Severina bukanlah alasan untuk mengurangi kecantikannya. Malah kerapuhan yang dimiliki Severina membuatnya selalu teringat. Severina begitu mungil dan kecil, barangkali gadis itu akan sangat enak sekali untuk dipeluk. Dari wajah gadis itu saja, sepertinya ia akan pasrah jika Carl memeluknya.

Gara-gara pemikiran konyol itu, ia tidak berniat untuk melanjutkan pestanya di klub malam kenamaan. Ia benar-benar sudah sinting dan hilang akal. Kemana Don Juan sejati yang dimiliki olehnya? Hanya gara-gara satu wanita polos seperti Severina Armando saja.

Ia tidak pernah ingin mengincar gadis yang masih polos dan belum tersentuh oleh siapapun. Ia masih tahu moral dan batasan. Dari kesan yang ia tangkap, Severina masih sangat kecil dan mungkin belum berusia lima belas tahun. Yang ia lakukan sekarang ini sebenarnya bisa jadi merusak Severina dan kemungkinan besar ia akan melakukan hal di luar batas kewajaran.

Pertanyaan untuknya adalah mengapa Severina keluar di malam hari seperti ini jika ia memang bertemu dengan saudaranya? Bukankah saudaranya pasti akan melarangnya, tetapi mengapa malah membiarkannya.

"Dan apa yang kau lakukan malam-malam begini. Tidakkah itu berbahaya untukmu?" tanya Carl sedikit mengintervensi. "Kupikir sebaiknya kau tidak perlu keluar malam-malam seperti ini."

Severina tidak menjawab, merah padam. Semua perkataan yang ia ingin diucapkannya terkunci begitu saja tanpa suara. Terlalu pemalu untuk mengatakan bahwa sebenarnya ia keluar malam-malam karena—

"Belakangan ini aku baru sadar," ucapnya lagi tanpa memberi kesempatan Severina untuk berbicara. "Kau begitu pemalu, senorita. Tidak banyak yang bisa kuketahui mengenai dirimu dan tadinya aku berpikir kau hanya berpura-pura dan jual mahal tetapi kau gugup di depanku seolah-olah tidak tahu apa yang harus kau katakan."

Severina terkejut tetapi ia menyetujui perkataannya. Ia tidak terbiasa berbicara dengan orang banyak dan lebih menyimpan ucapannya sendiri. Ia nyaris lupa bagaimana cara ia harus berbicara dengan orang lain. Pelan ia mendongak dan menatap mata Carl sekilas dan tubuh pria itu semakin mendekat, hanya beberapa mili saja. Sedikit saja berdekatan, tubuh mereka akan saling menempel. Ia bisa merasakan nafasnya serta aroma tubuhnya yang dipenuhi wangi aftershave.

"Mu—mungkin," ia menjawab dengan nada gemetar. Ya Tuhan, ia sangat buruk dalam bersosialisasi dan ia tidak begitu tahu bagaimana cara berhadapan dengan orang lain karena sang ayah begitu ketat dalam menjaganya bahkan ketika ia dan ayahnya berkeliling Eropa. Severina tidak pernah dibiarkan ayahnya untuk melakukannya sendiri.

"Mengapa hanya menjawab seperti itu jika masih ada jawaban lainnya?" tanya Carl retoris. "Aku ingin mendengarmu menjawab panjang-panjang."

Jujur saja, Carl membenci jawaban panjang-panjang yang bertele-tele. Sebelum ia menjadi seperti sekarang ini, ia sempat menjadi seorang asisten dosen untuk dosen yang jarang masuk dan Carl lumayan kesal ketika melihat mahasiswa menjawab panjang-panjang dan tidak kena di intinya sehingga tidak jarang Carl memberikan nilai jelek untuk mereka, tanpa peduli ia laki-laki atau perempuan. Masalahnya adalah Severina selalu menjawab pertanyaannya dengan tidak menjawab atau hanya jawaban pendek, satu atau dua kata saja.

"A—ah, i—itu—," ia mencoba menjawabnya tetapi gagal, ia terlalu gugup untuk hal apapun juga. Sekelilingnya menjadi gelap dan cahaya lampu yang terang benderang di kegelapan malam tidak terlihat jelas lagi di mata Severina. Tubuhnya melemah dan berkunang-kunang dan tanpa ia sadari ia menyentuh dada pria itu untuk menahan tubuhnya.

"Sev? Ada apa? Wajahmu pucat?" Carl bertanya dengan nada cemas dan mulai memegangi tubuh Severina. "Kau sakit?"

Severina sudah tidak bisa menjawab pertanyaan Carl . Tak berapa lama kemudian,ia terjatuh dan seseorang menahan punggungnya agar tidak terhempas ke tanah seraya menepuk-nepuk pipinya, memanggil namanya dan terdengar sayup-sayup di telinga Severina. Semakin lama semakin tidak terdengar dan menyisakan kesunyian.

—o00oo—

Severina akhirnya dibawa ke rumah Carl yang tidak jauh dari tempat dimana mereka bertemu. Rumah Carl di Madrid sangat besar dan desain yang ia miliki seperti Oslo Opera House tetapi temboknya terbuat dari cobblestone. Tidak ada pelayan di rumah itu dan suasana rumahnya sangat sepi seolah-olah jarang didatangi penghuninya. Ruang tamunya penuh dengan penghargaan-penghargaan yang ia miliki selama karirnya serta foto-fotonya bersama keluarga maupun perorangan sejak ia kecil hingga saat ini. Rumah itu terdapat empat kamar dengan ukuran yang cukup besar dan itu karena kebiasaannya membawa wanita yang ia kencani ke rumahnya untuk bermalam atau melakukan hubungan yang tidak sewajarnya.

Ia membawa Severina ke rumah ini dan seharusnya ia mengantar gadis itu pulang karena orang rumah pasti akan cemas terhadap Severina, apalagi mengingat kondisi gadis ini. Sekarang ia paham mengapa Severina keluar malam-malam. Gadis itu ingin mengantarkan dokumen yang tertinggal ketika di kereta.

Permasalahannya sekarang adalah ia tidak ingin membawa Severina pulang ke rumah dan ingin terus membiarkan Severina berada di sisinya. Terlalu sayang untuk dilewatkan.

Ia tidak akan berbuat macam-macam padanya dan hanya ingin menggodanya saja seperti pertama kali mereka bertemu. Ia harus sadar diri kalau ia sebenarnya sudah cukup tua dan merasa jiwanya seperti pria usia dua puluhan tahun.

Tapi akan menjadi persoalan lain jika ternyata ia terjerat oleh perawan kecil yang sedang jatuh pingsan ini dan ia membawanya ke rumah.

Tantangan yang menarik untuknya dan tak ada salahnya dicoba.

"Selamat datang di tempatku, gadis kecil," gumamnya dan mendaratkan bibirnya ke bibir Severina yang belum tersentuh oleh siapapun.

TBC


Author Notes: Sudah dua bulan lebih saya tidak menulis fanfic atau orific karena suatu kesibukan yang tidak bisa ditolak. Kangen nulis Carl Trilogy TT_TT ide nggak pernah nongol-nongol dan baru sekali ini nongol di bulan ini :|

*Spanish Serenade (diambil dari judul lagu yang sama dengan embel-embel Lolita, dinyanyikan oleh Mario Lanza)

Numpang promo ya bagi pencinta Eropa, go follow tentangEropa :) Recommended