"... jadi, bioteknologi itu ada yang konvensional—atau tradisional—dan modern…."

Kembali belajar IPA setelah ulangan kedua, apa nggak ada yang lebih membosankan lagi? Saat ini, murid-murid kelas IX-E (a.k.a. Kelas Buangan) sedang dalam keadaan yang sangat memungkinkan untuk ketiduran. Bukan karena penjelasan guru IPA merangkap wali kelas mereka yang membosankan, ataupun pengin tepar karena materi pelajaran, bukan juga karena kelasnya yang bikin kepanasan. Tapi memang dari pagi tadi pun, mereka sudah mengantuk. Jika ada yang bertanya pada salah satu murid apa penyebabnya, mungkin akan dijawab asal dengan: "Saya ronda," atau, "Saya nonton bola." Niscaya begitu.

Kipas angin berdebu yang menempel di langit-langit miring itu berputar tidak keruan, bagian atasnya yang menempel ke plafon hampir terlepas. Suara yang dikeluarkannya menderu berbahaya. Anak yang duduk di bawahnya setiap beberapa menit sekali komat-kamit agar kipasnya tidak tiba-tiba memutuskan untuk jatuh dengan ceria dan memakan korban. Entah kapan benda sial itu bakal dibetulkan. Sampah plastik dan kertas mengintip malu-malu dari kolong meja dan kursi, sesekali ditendang oleh si pemilik tempat duduk agar melesak lebih jauh ke dalam, supaya tersembunyi dari tatapan guru yang sewaktu-waktu bisa menunjuk dan menyuruh si murid untuk membuangnya.

"... tugas kamu sekarang bikin tape singkong."

WHAT? Kepala-kepala yang tadinya terbaring tanpa energi di permukaan meja itu langsung terangkat. Tape singkong? Mereka semua mulai menimbang-nimbang betapa perlunya mereka akan korek kuping.

"Anak D malah bikin tape ketan, kamu lebih enak, lho, bikin tape singkong, soalnya…."

Itu guru ngomong apa sih...? Yakin nih pada nggak butuh korek kuping?

"... sekarang kamu bikin kelompok yang isinya empat orang; dua laki-laki, dua perempuan…." Oh, ternyata mereka memang tidak salah dengar, bye-bye, korek kuping.

Belum juga sang guru selesai berbicara, dua kepala—Anggi dan Ayu—di meja terdepan langsung menoleh ke belakang. Dua kepala yang di belakangnya—Doni dan Rahmat—langsung menanggapi, "Bu, kita udah dapet kelompok."

Iyalah, mereka kan ce-es-an, mau apa pun pelajarannya, pasti keempat anak itu selalu dengan otomatis membentuk satu kelompok.


Tape Singkong

© Alitheia

Warning: garing, bahasa ada yang nggak baku, curcol karena ini pengalaman pribadi (#pentingya), nista, dan hati-hati sama mata Anda saat membaca. Tapi meski warning sudah sebegitunya, semoga Anda tetap menikmati Tape Singkong (yang memang nista) ini.


Cara Membuat Tape Singkong

1. Siapkan bahan. Semua bahan, jangan sampai ada yang ketinggalan. Apa saja bahannya? Cek sendiri, di sini cuma ada cara membuat tape singkong, bukan daftar bahannya, lihat aja tuh judulnya yang udah ditebelin dan digarisbawahi.


Di hari yang sudah ditentukan akan menjadi waktu kerja mereka.

"Nih, gue kan udah bawa kertas folio buat nulisin langkah-langkah kerjanya," kata Doni. "lu singkong sama ragi," ujarnya lagi sambil menunjuk Ayu, "lu yang nyari langkah-langkahnya," tambahnya saat menunjuk Anggi. "Daon pisangnya mana?"

"Gua nggak bawa," sahut Rahmat santai. Kelompok mereka ada empat orang: Doni, Anggi, Ayu, dan Rahmat. Nah, yang namanya disebut terakhir ini yang paling santai dari semuanya. Saat ia mengaku tidak membawa salah satu bahan yang sangat-sangat penting dalam pembuatan tape singkong ini, tiga kepala yang lainnya segera menoleh.

"Kita ngerjainnya hari ini, Amat!"

"... oh."

Singkong, ragi, dan daun pisang; sebenarnya tiga itu yang paling penting, tapi apalah kata nasib, Rahmat (sengaja) lupa membawa daun pisangnya. Rada-rada memang, nanti mau membungkus singkongnya pakai apa, sarung?

"Haduh!"

"Selaw aja, sih. Itu kan ada." Jempol Rahmat menunjuk pohon pisang tidak berdosa yang terlihat dari jendela kelas mereka; entah punya siapa. Tapi selama masih berada di area sekolah, maka serasa "memiliki".

Dasar anak-anak nggak modal.

Menuju rumah tempat tape akan dibuat; itulah yang mereka lakukan sekarang. Mereka sekarang jadi tujuh orang: Doni, Anggi, Ayu, Rahmat, Siska, Rudi, dan Halim—si pemilik rumah sendiri. Mereka sebenarnya dari dua kelompok yang berbeda, tapi karena kurangnya modal didukung faktor kemalasan yang dimiliki keduanya, mereka akhirnya setuju untuk mempraktekkan Bhinneka Tunggal Ika. (Memang setiap kelompok diwajibkan bekerja hanya dengan teman sekelompoknya, tapi toh gurunya juga nggak tahu ini.)

Turun dari angkot, perjalanan harus diteruskan dengan berjalan karena memasuki perumahan. Langit bersih tanpa awan, warnanya biru pucat seperti kain yang direntangkan di antara atap-atap rumah. Matahari tengah hari terlihat seperti logam emas yang panasnya bukan main. Dan sekadar info tambahan, siang ini mereka semua belum makan.

"Haduh... Jauh banget sih…." keluh Siska. Anggi yang berjalan di dekatnya menatap dengan pandangan terganggu. Ayu yang berada di sebelahnya mengeluhkan hal yang sama, ditambah soal panasnya cuaca. Halim berjalan santai, sendirian seperti anak hilang di paling depan, memimpin teman-temannya yang sibuk tengok kiri-kanan.

"Eh, itu Halim rumahnya mana sih, jauh amat," Siska mengeluh lagi, "capek gua…."

"Ya elah, jalan segitu doang capek," komentar Doni, ikut terganggu.

"Ketahuan, lu pada kagak pernah jalan, ya?" kata Anggi sok tahu.

"Emang nggak," jawab Siska dan Ayu bersamaan. Udah jujur, kompak pula. Helaan napas menyambut jawaban mereka. Sebenarnya jalannya memang nggak jauh, nggak ada satu kilometer, belum tentu juga setengahnya. Tapi tetap saja, bagi yang biasa naik kendaraan pasti bawaannya pengin tepar.

Lama-lama kesal juga mendengarkan keluhan kedua anak perempuan itu, Anggi berjalan mendahului mereka.

"Eh, tapi rumahnya mana deh, ya?" kata Doni yang menyamakan langkah dengan Anggi. Mereka terus mengikuti Halim berbelok ke gerbang lebar, mengarah masuk ke perumahan. "Kok kita jalan ke perumahan masuk ke perumahan lagi, ya?"

"He. Entar perumahan, masuk perumahan lagi, eh ujungnya, ada kampung," canda Anggi garing, tapi mereka berdua tertawa-tawa dengan nistanya. Perumahan yang mereka masuki memiliki jalanan yang lebar dan minim penghijauan. Di kedua sisi, rumah-rumah besar dengan warna cerah mendominasi. Jalan itu buntu, tapi jika ngotot jalan terus, muka mereka bisa berkenalan dengan tembok.

Doni dan Anggi sama-sama mengira, rumah Halim pasti berada di ujung, kalau bukan yang sebelah kanan, pasti yang sebelah kiri. Masalahnya, si Halim dari tadi jalannya zig-zag. Mereka sempat mengira bahwa rumah tujuan mereka adalah yang di sebelah kanan, yang beratap gelap dan berwarna cerah. Ternyata bukan juga. Lalu mereka mengira rumah Halim yang berada di seberangnya, yang warnanya seperti jeruk dan terangnya menyakiti mata; beberapa orang duduk-duduk di terasnya. Halim berbicara singkat dengan orang-orang itu saat lewat di depan pagarnya, tapi Anggi tahu itu bukan rumahnya, ia ingat tadi ada yang bilang kalau rumah Halim sedang sepi manusia. Maka, ia bercanda lagi. "Eh, Don, rumahnya pasti yang di ujung itu, tuh. Yang belum selesai dibangun." Jarinya menunjuk sebuah bangunan tanpa atap yang agak "nyempil", tepat di samping rumah oranye ngejreng itu, lebih kecil dari yang lainnya. Mereka berdua sempat ingin tertawa lagi sewaktu Halim benar-benar berbelok ke rumah-belum-jadi-itu.

Dengan tatapan terpana, teman-temannya mengikuti. Oh... ternyata yang belum selesai itu bangunan tambahan, rumahnya Halim pas masuk sih sudah ada teras sendiri. Dan melihat lokasinya, ternyata memang bukan di perumahan tadi.

"Bener kita," kata Doni. "Ini masuk perumahan, perumahan lagi, terus kampung."


2. Kupas kulit singkong dan potong, lalu cuci daun pisang beserta potongan singkongnya. Kalau mengerjakan langkah dua ini nggak boleh ribut, kasihan tetangga kalian yang lagi tidur. Kalau ngerjainnya siang-siang, kasian tetangga kalian yang lagi tidur siang.


"Iya—eh, awas!"

"Jangan digituin!"

"Ampun, ngeri dah gua!"

"Potong dulu itu ujungnya!"

"Elu pade motong singkong aja ribut amat, sih!" seru Rahmat frustrasi. Buset deh, senorak-noraknya umat, motong singkong juga nggak perlu seribut nangkep maling, kali.

"Sini dah, gua aja!" Halim ikutan kesal. Siska menyerahkan singkong malang itu ke Halim, yang bersiap-siap memotong dengan gaya seorang profesional menggunakan pisau besar-agak buluk-yang berada di tangannya. Entah kenapa anak itu jadi kelihatan psikopat.

Mohon abaikan kalimat yang sebelumnya dan kita lanjut ke cerita. Setelah semua singkong dipotong tanpa menimbulkan korban lalu dikupas serta dicuci bersih, Doni dan Siska mencuci daun pisang (hasil nyolong) di keran air yang berada di dekat teras. Anak-anak yang nganggur di teras sebenarnya sudah sibuk berdeham-deham sekeras mungkin, bermaksud meledek kedua pencuci daun pisang yang sewaktu pengerjaannya nggak kalah ribut dari motong singkong tadi. Tapi entah memang mereka berdua yang tiba-tiba kembali membutuhkan korek kuping atau angin menerbangkan suara dehaman teman-teman mereka ke empang terdekat, yang nyuci tetap saja ribut.


3. Kukus singkong hingga 3/4 matang. 3/4, ya, jangan 1/2 apalagi kematangan. 1/2 nggak enak; kematangan pasti lembek.


Daun pisang selesai dicuci dan kini dijemur. Semuanya berkumpul di teras, menatap singkong di dalam panci dengan setengah melamun. Harusnya potongan-potongan singkong itu sekarang dikukus bukannya cuma diliatin, tapi begitu baru mau mulai mengkukus, Halim dengan sedikit telat mengumumkan bahwa ia kehabisan gas. Dikatakannya dengan muka datar tanpa rasa bersalah, padahal teman-temannya yang lain sudah facepalm berjamaah. Ngomong dong dari tadi kalau lu kehabisan gas, jadi kan bikin tapenya nggak perlu di rumah lu, Halim….

"Woi!" Rudi tiba-tiba berkata, "Kita masaknya di situ aja." Ia memberi tanda ke arah bagian bangunan yang belum selesai.

"Apinya?"

"Bikin." Melihat kerutan di dahi teman-temannya, ia buru-buru menambahkan, "Selaw, ada anak pramuka ini, sih." Dengan enteng menunjuk Rahmat menggunakan ranting.

"Yo'i." Tanpa menunggu persetujuan, Rahmat sudah melesat ke bangunan-belum-jadi itu dengan korek api-entah-dari-mana di tangannya.

"Weh, Mat, lo nggak kepanasan, apa?" Doni bertanya, berdiri di belakang teman sebangkunya. Anggi geleng-geleng kepala. Melihat saja sudah ikutan gerah. Rahmat dengan jaket tebal yang tudungnya ditarik hingga menutupi alis, berjongkok mencoba menyalakan api sementara matahari di atasnya sedang menari-nari. (Ya, bangunan-belum-jadi itu nggak ada atapnya, ingat?)

Tapi tampaknya ia tidak peduli. Ditumpuknya batu kelabu berbentuk tidak keruan di kedua sisi, lalu bagian belakang ditutupnya dengan seng (atau apa pun lah itu namanya), sementara patahan-patahan bambu berada di tengahnya.

Bangunan tak beratap itu kotor, barang-barang bekas tidak jelas berserakan di lantainya yang masih tanah. Jika mengedarkan pandangan ke sekeliling, mereka bisa melihat patahan-patahan bambu, batu-batu, sampah plastik, sangkar burung, jok dan sadel sepeda, kertas koran, hingga... kaus kaki.

Setelah Anggi menambahkan patahan bambu yang tadinya adalah sangkar burung, serta robekan kertas koran yang dilemparkan Doni, akhirnya api cukup besar dan panas untuk mengkukus. Dari mana mereka tahu apinya panas? Tentu saja karena api itu memang kodratnya panas.

Nggak ding, bohong. Demi mengetahui seberapa panas api, Rahmat nekat menyodok potongan bambu pakai tangan, yang akhirnya ia cepat-cepat tarik kembali sambil teriak "Adaw!" keras-keras, membuat Doni dan Anggi menertawakannya sambil menggumamkan, "Bego." Mungkin sempat terpikir di kepala Rahmat, tentang betapa "penuh simpati"-nya kedua temannya. Udah ngetawain, pake ngatain lagi….

Yang harus, mesti, wajib, dan kudu dilakukan sekarang adalah meletakkan panci berisi air di atas kompor dadakan itu. Setelah perjuangan akibat bagian bawah panci yang tidak rata alis cembung kayak pantat wajan, Rahmat akhirnya berhasil menempatkannya di atas kedua batu, dengan api menyala tepat di bawahnya. Sambil ketawa-ketiwi nggak jelas, ia ngacir bersama Rudi pakai sepedanya (tetangga) si Halim, entah ke mana sementara apinya ditinggalkan.

"Wei, yah!" Halim terlambat protes karena kedua anak itu sudah melesat pergi. "Ini pawang apinya mana?"

Siska membungkuk, wadah berisi potongan singkong berada di tangan kirinya, di tangan kanannya ada potongan singkong yang akan diletakkan ke dalam panci. Belum juga ia cukup dekat, Ayu, Doni, Anggi, dan Halim sudah berteriak histeris, "Siska, singkongnya jangan dilempar begitu—!"

"Iya, ya elah, gua juga gak bego-bego amat, kali…." Benar, kelewat benar malah. Siska malah sepertinya adalah anak yang paling pintar dan paling rajin di antara mereka semua...

... tapi bukan yang paling berani. Buktinya, baru meletakkan satu singkong, ia sudah melompat ke belakang seakan baru saja dicium listrik.

"Et dah." Anggi yang akhirnya meletakkan potongan-potongan singkong di kukusan, sementara Siska cuma cengar-cengir. "Ehehehe, gue takut api."

Anggi pasang muka jumawa, di sini ia tanpa takut menjaga api, padahal di rumah sendiri saja ia tidak berani menyalakan kompor karena takut meledug.

"Udah mateng belum, sih?" Halim bertanya penasaran.

"Liat aja," Doni menyahut. Halim ragu-ragu menyentuh tutup panci, lalu segera menarik jarinya lagi dengan tiba-tiba, kepanasan. Ia menengok kiri-kanan, mencari bantuan. Matanya akhirnya tertumbuk pada sesuatu yang berwarna hitam-putih di balik tumpukan. Ah, ada bahan.

Ia jepit benda itu dengan ibu jari dan telunjuk, lalu dibersihkannya butiran-butiran tanah yang menempel di sana dan digunakannya untuk melindungi jari dari panasnya tutup panci; Halim memeriksa kukusan mereka sebentar dan menutupnya lagi. Doni dan Anggi yang berada di dekatnya bingung harus tertawa atau menjitak kepala si Halim.

"Bi, lu tuh jorok atau apa?"

Iya, masa sih kaus kaki bekas yang sudah buluk itu dipakai? Lim, nggak tau yang namanya sarung tangan oven punya Mama, ya?

"Ya ampun, asepnya."

"Aduh, mata gua perih…."

"Duh, anginnya ke sini lagi!"

"Ih, mana panas banget…."

Kalau ini anime, sebuah pertigaan pasti sudah muncul di dahi si Doni. Itu cewek berdua—Ayu dan Siska—sejauh ini kerjanya cuma curhat sambil numbuk ragi, tapi ngeluhnya nggak behenti; asepnya-lah dikeluhin, panasnya-lah diprotesin, apinya-lah dikomentarin. Lama-lama gue usir juga, nih….

"Nggi, mata lu ga perih apa?" tanya Ayu.

"Wih, banget," sahut temannya dengan sarkasme yang tidak ditutup-tutupi, tapi tetap saja ia tidak beranjak dari tempatnya di dekat api, sambil terus sesekali menyodok kayu. Hei, kalau apinya sampai mati, mereka harus ulang menyalakannya dari awal lagi.

"Hm, dari tadi cewek yang paling sedikit ngomong cuma si Anggi doang. Ngeluh kagak dia, di situ aja ngejagain apinya, rajin bener," komentar Doni. Tapi ia tidak tahu, memang Anggi diam saja, padahal dalam hati sudah ngedumel nggak keruan sambil mengabsen seisi kebun binatang.

"Nggi, mata lu nggak pedih apa?"

"Banget, Yu." Nanya mulu nih anak….

"Tapi kok lu diem aja, si?"

"Lah, emangnya gua elu?" Emangnya gua elu, ngeluh mulu.

Ayu cengar-cengir.

"Eh, udah mateng belum, ya?" kata Doni tiba-tiba setelah beberapa lama. Semua kepala menengok ke arah panci mereka. Kok kayaknya mencurigakan…. Mereka mendekati panci, yang sialnya setiap kali mereka sudah berada tepat di hadapannya, angin pasti akan bertiup ke arah mereka, membawa serta asap kelabu dari hasil pembakaran yang bikin mata berair seakan habis menonton sinetron tragis lebay. Menunggu beberapa kali, akhirnya dengan hati-hati akibat pengalaman yang kurang menyenangkan sebelumnya, Doni mengangkat tutup panci dan meletakkannya di tanah.

"Itu mateng?" tanya Ayu.

"Katanya suruh tiga perempat, kan?" Anggi berkata.

"Iya, sampe bisa ditusuk pake garpu." Siska menyodorkan garpu ke Doni. Perlahan, dengan Ayu dan Siska di kedua sisinya ikut memerhatikan singkong di kukusan lekat-lekat, Doni memajukan garpu dan menusuk salah satu potongan pelan-pelan.

Tanpa berbunyi, tanpa peringatan, bahkan tanpa bilang-bilang, potongan singkong itu langsung terbelah dua.

Reaksi pertama mereka: tertawa laknat.

Reaksi kedua: dengan kelabakan mengangkat panci dari api.

Bahaya, kalau terlalu matang juga singkongnya bakal kelewat lembek seperti yang barusan langsung terbelah dua. Setelah sempat-sempatnya main tunjuk, akhirnya Doni menjadi kandidat dengan pemilih terbanyak untuk mengamankan singkong kukus mereka. Siska dan Ayu jelas takut, jadi hanya menyemangati dari jarak aman, sementara Anggi menghindar.

Dengan koran, pelan-pelan anak lelaki itu mengangkat panci, lalu meletakkannya di tanah. Bukannya langsung dipindahkan, keempatnya malah cuma memandangi; maklum lola.


4. Pindahkan singkong yang sudah dikukus ke wadah dan tunggu hingga dingin. Ditunggu yang sabar ya, jangan dipaksa-paksa apalagi diteriakkin suruh cepet dingin. Dan ngipasin itu cuma bikin capek tangan, jadi mendingan kalian istirahat aja dulu sambil ngopi-ngopi.


Potongan singkong di wadah itu dibiarkan begitu saja.

Ketujuhnya hanya duduk melingkar, Rahmat dan Rudi baru saja kembali membawa sekantong gorengan. Oh, jadi tadi tiba-tiba ngacir mau beli jajanan? Ngomong dong, kalau gitu kan ada yang mau nitip es krim, es jeruk, es kelapa, es cendol, es campur, dan es mana lagi yang eksis di dunia ini, silakan sebutkan asal bisa mendinginkan badan dari kejamnya udara siang.

Rahmat menantangi mereka untuk makan cabai rawit tanpa gorengannya, sekali dua, sekali tiga. Nggak ada yang menanggapi dan akhirnya ia kelimpungan sendiri meminta minum dari Halim karena kepedesan. Begitu terus sampai akhirnya ada yang bersuara.

"Gue nggak berani nyobain," kata Siska, melirik singkong yang sedari tadi sudah berkali-kali kena hina.

"Coba aja, gua udah nyoba, enak kok," kata Rahmat.

"Jangan nyoba, nggak enak!" kata Doni.

Mereka berpandangan, kenapa bisa beda gini sih?

"Daripada masalahin rasanya, mending pikirin nanti nilainya berapa," Anggi berkata. Oh, benar, ingat bahwa mereka membuat tape singkong bukan untuk jualan, tapi untuk tugas. Haha, dengan rasa seperti ini, entah bagaimana hasilnya.


5. Setelah dingin, masukkan singkong ke dalam toples dan taburi dengan ragi. Lalu tutup dengan daun pisang, ingat ya, daun pisang, bukan sarung, jangan sampai salah! Setelahnya, diamkan selama 1-2 hari (jangan dibuka sebelum waktunya, sama sekali jangan, ngintip aja nggak boleh!) hingga sudah terasa lunak dan manis. Saat itulah singkong telah menjadi tape (iyalah tape, masa agar).


Reaksi dalam fermentasi singkong menjadi tape adalah glukosa (C6H12O6) yang merupakan gula paling sederhana, melalui fermentasi akan menghasilkan etanol (2C2H5OH). Reaksi fermentasi ini dilakukan oleh ragi….

Singkong sudah masuk ke dalam toples yang kedap udara, sekarang Doni sedang menyalin. Anggi hanya memandangi. Itulah bagian terakhir yang harus mereka kerjakan, tugas tertulis. Setiap kelompok harus menyertakan langkah-langkah kerja dan kesimpulan yang ditulis di selembar kertas folio.

1. Pembuatan tape termasuk dalam bioteknologi konvensional (tradisional) karena masih menggunakan cara-cara yang terbatas.
2. Pada proses pembuatan tape, jamur ragi akan memakan glukosa yang ada di dalam singkong sebagai makanan untuk pertumbuhannya, sehingga singkong akan menjadi lunak, jamur tersebut akan merubah glukosa menjadi alkohol.
3. Dalam pembuatan tape, ragi (Saccharomyces cereviceae) mengeluarkan enzim yang dapat memecah karbohidrat pada singkong menjadi gula yang lebih sederhana. Oleh karena itu, tape terasa manis apabila….

Doni terus menyalin. Tentu saja sebutannya "menyalin" dan bukannya "menulis", karena ia hanya mengikuti apa yang didapat dari internet. Hmm, kalau prakteknya ogah-ogahan dan kesimpulan cuma nyontek, jadi sebenarnya mereka ini belajar apa? Nggak mungkin kan cuma belajar tentang pengorbanan dan kerjasama tim? (Karena itu kedengarannya cheesy sekali.) Jadi, mari kita simpulkan, mereka tidak belajar apa-apa selain memahami bahwa sebelum memasak dipastikan dulu gasnya tersedia... dan membuat tape singkong dengan kayu bakar asal-asalan adalah ide buruk.


Sehari kemudian, saat tugas sudah selesai dan tape sedang didiamkan, hape Doni berbunyi.

Ia mengangkatnya dan suara datar Halim mencapai telinganya.

"Don, toplesnya dibuka sama adek gua."

"APAA? !"

end


A/N: Iya, saya tau endingnya nggak elit. ;A; Meski fail, ini adalah fic pertama setelah hampir dua bulan WB, jadi rasanya senang juga. Dan... abaikan saja tokoh-tokohnya, itu cuma teman-teman saya yang namanya diganti dan kena penistaan. Tapitapi, belum-belum kok saya udah kangen sama IX-E, ya? Ayo reunian! :D #salahtempatwoi

Semua hal waras di bagian-bagian terakhir itu saya copas dari scribd, nomor dokumennya 53791823, maaf saya nggak bisa copas ke sini abis susah banget ;w; (gagal terus ngilangin spasinya orz). Terakhir, terima kasih sudah mau membaca dan kalau ada yang rela review, saya kasih tape singkong virtual~ (^w^)/

.

.

.

omake


6. Tahap ini adalah tambahan spesial bagi yang membuat tape singkong karena tugas sekolah. Nanti, pas kalian mau menyerahkan hasilnya ke guru, jangan lupa siap-siap susu beruang siapa tau tape kalian itu bercaun. Terima kasih telah membaca cara membuat tape singkong dan semoga berhasil! (Kami tidak bertanggung jawab atas segala kecacatan pada tape masing-masing, bagaimanapun juga, kalau sudah begitu yang memang nasib namanya.


Hari itu adalah waktunya mereka menyerahkan hasil kerja. Dua potong tape singkong dimasukkan ke dalam plastik yang ditempeli kertas berisikan nama-nama kelompok, dan sisanya ada di dalam tempat makan yang sekarang sedang mereka pandangi.

"Hasilnya?" Anggi bertanya.

"Horor." Doni membuka tempat makan, dan mereka berempat bersama Ayu dan Rahmat menyembunyikan hidung karena Doni memperingatkan bakal ada bau mengerikan memenuhi udara. Sekilas tidak ada yang salah dengan tape mereka, tapi berhubung Doni bilang benda itu berbahaya, mereka manut saja karena masih sayang nyawa.

Sekitar setengah jam kemudian, guru IPA mereka mulai mencicipi satu per satu hasil kerja muridnya. Saat sampai di giliran keempat orang itu, mereka (kecuali Rahmat) berdiri mengelilingi meja guru, harap-harap cemas dengan hasilnya.

Sang guru menusuk dengan garpu, semuanya menahan napas; potongan kecil dibawa ke mulut dan dicicipi. Anggi dan Doni takut duluan dan tidak berani melihat.

"Wah, enak."

Ayu terbelalak, Anggi nyaris tersedak, Doni melongo, Rahmat malah mencicipi tape singkong bikinan kelompok lain dan tidak peduli dengan kerja sendiri.

"Hah, e-enak, Bu?" Ayu terbata.

"Iya, udah bener kok ini." Sang guru mulai mengisi kolom nilai di bukunya. Ketiganya mendesah lega, i-ini... ini mukjizat!

"Hah, enak?" Salah satu teman mereka mendengar. "Gua mau nyoba sini!"