Noel

© Alitheia

Warning: plotless, ngegalau doangan, panjang, fantasy-nya cuma tercecer di setting yang nge-blur (ga usah dipikirin, hoho), hati-hati sama mata Anda. Tapi meski warning-nya begini, saya harap yang baca kuat sampai bawah. Semoga menikmati. :)

.

.

.

~.*.~


Hai Noel,

Bagaimana kabarmu? Aku harap kau baik-baik saja. Aku pun di sini baik-baik saja, hanya sedikit sakit kepala.

Maaf, tapi apa kita sedang berkirim surat terakhir kali? Giliranku membalas suratmu atau sebaliknya? Aku tidak ingat. Nyatanya, aku benar-benar tidak ingat apa pun. Pagi ini aku terbangun di rumah sakit markas dengan perban di kepalaku yang serasa ditusuk-tusuk pisau. Kau tahu siapa yang ada di samping ranjangku sewaktu aku membuka mata, Noel? Seorang perawat pria berwajah sangar dan Kapten Wurfel yang tak bisa menunjukkan ekspresi selain wajah datar itu. Mereka membuatku nyaris terlonjak dari ranjang, tapi aku berhasil mengendalikan diri. Kapten Wurfel memberitahuku bahwa kepalaku terbentur hebat sewaktu menjalankan misiku yang terakhir, menghadapi angkatan udara kekaisaran tetangga yang berulah di perbatasan. Lucu sekali, aku bahkan tidak ingat kalau kita sudah lulus dari akademi. Tapi yang paling mengejutkan dari semuanya adalah fakta bahwa segalanya telah lewat tiga bulan. Tiga bulan, Noel, selama itu! Ingatan terakhirku adalah kau dan aku yang sedang duduk-duduk dekat air mancur di halaman akademi sehari sebelum ujian akhir. Wajah terpanaku saat Kapten Wurfel mengatakan ini pasti sangatlah dungu hingga si perawat memberitaku untuk tetap tenang dan mengambil napas dalam-dalam.

Dan ternyata aku seorang letnan. Tiga bulan dan aku sudah jadi letnan! Mungkin kau tidak kaget karena bisa jadi aku sudah pernah memberitahumu soal ini, tapi kalaupun pernah, aku lupa. Aku ternganga saat Kapten Wurfel memberitahuku soal itu, pasti wajahku lebih tolol lagi dari yang sebelumnya karena ia menghela napas dan menjelaskan bahwa sejak dua bulan pertama setelah kelulusan, aku sudah dipromosikan menjadi letnan. Jelas aku tidak percaya dan kutanyakan apa alasannya; Kapten bilang karena kemampuanku melampaui kebanyakan penyihir tempur lainnya, jadi Pimpinan mengangkatku jadi letnan.

Setelah beragumentasi, akhirnya mereka menginjinkanku meninggalkan ruang perawatan dan pergi ke kamarku sendiri. Aku nyaris tersasar, seingatku aku masih tinggal di asrama akademi bersamamu, tapi kini aku punya kamar baru. Bukan ruangan yang paling luas, tapi cukup untukku sendiri; sebuah kamar berisikan perabotan minimalis yang terlihat membosankan, aku rasa aku tak perlu menceritakan rinciannya padamu. Aku tidak merasa nyaman di sini, tempat tidurku pun terasa asing, aku sama sekali tidak mengenali apa pun. Ada setumpukan kertas dan map di atas di meja, jadi aku memeriksanya. Aku menemukan berkas-berkas diriku sendiri, di sana ditulis bahwa aku telah lulus dari akademi militer kekaisaran dan memang tanggalnya adalah tiga bulan yang lalu.

Sejauh ini aku sudah menjalani tiga misi, dan yang terakhir itu yang memakan ingatanku. Di unit mana kau ditempatkan sekarang, Noel? Aku tidak bisa menemukan surat-suratmu di mana pun, aku yakin aku akan menyimpannya kalau ada, jadi kurasa kita belum saling menulis.

Kita sudah tahu ini akan terjadi, kemungkinan besar kau dan aku akan ditempatkan di unit yang berbeda. Tapi dari dulu kau selalu mengingatkanku untuk rajin-rajin berkirim surat, jadi aku mulai menulis sekarang.

Di sini sepi. Itu hal baik karena aku menghargai kedamaian, tapi rasanya berbeda tanpamu. Hei, berhenti senyum-senyum dan jangan terlalu percaya diri dulu, aku bukannya merindukanmu atau apa.

Baiklah, kuakui aku memang merindukanmu. Yang berlalu adalah tiga bulan, tapi rasanya aku sudah tidak bertemu denganmu selama tiga tahun. Apa itu pengaruh benturan di kepalaku? Mungkin amnesia membuat perasaanku akan waktu menjadi agak kacau. Dan kau tahu, Noel? Sepertinya aku mulai ingin mendengar tawamu yang terkadang begitu menjengkelkan itu.

Di mana kau sekarang, Noel? Aku harap kau membaca surat ini, karena aku sangat, sangat, ingin mendengar kabar darimu. Aku harap kau bahagia sekarang, di unit mana pun kau ditempatkan; aku harap kau aman-aman saja, tidak peduli misi macam apa yang akan kau hadapi.

Aku mengambil jeda sebentar sebelum meneruskan menulis paragraf ini, karena tiba-tiba pikiranku melayang ke musim panas tiga tahun lalu. Waktu itu dedaunan sedang hijau-hijaunya dan pepohonan berbuah manis. Sepanjang siang matahari bersinar seperti uang logam di langit pucat, dan angin terus-terusan berhembus. Kau mengajak—mendesakku, tepatnya, untuk pergi piknik. Yah, meski tidak bisa dibilang piknik juga, sih. Tapi kau menggendong tas dan mengisinya dengan perbekalan, jadi aku menganggapnya semacam piknik. Oh, dan aku ingat kau sempat mengomeliku karena menyelipkan senjata di ikat pinggang. Aku masih ingat jelas kata-katamu, "Leon, ini liburan, kita akan bersantai, bukan latihan tempur! Letakkan benda mengerikan itu ke tempatnya atau kau bakal menakuti kelinci-kelinci!" Tidak ada kelinci di tempat tujuan kita, semua juga tahu itu, tapi kau mengatakannya dengan muka benar-benar serius yang membuat segalanya menjadi lebih lucu. Aku tidak mau membuatmu lebih kesal, jadi meski ragu, aku menurutimu untuk menyimpan senjataku. (Meski sepanjang perjalanan aku jadi gelisah karena takut ada penyerangan tiba-tiba.)

Kita berjalan kaki hingga setengah perjalanan, diteruskan dengan menumpang kereta seorang petani yang membawa sayuran, lalu berjalan sedikit lagi, dan barulah pada akhirnya kita bisa bersantai; duduk-duduk di perbukitan berumput segar yang berada di Lembah Tua. Kau mengeluarkan perbekalan yang berupa dua tumpuk roti isi, lalu sebagai tambahan, memanjat pohon dan melempariku dua butir apel. Kita duduk bersisian seharian, sambil makan kau menceritakan tentang keluargamu; orangtuamu, kakak lelakimu, adik perempuanmu, dan anjingmu. (Ya, aku menghitung Ezel sebagai bagian dari keluargamu; tidak keberatan, kan? Lagi pula sepertinya kau memang sudah menganggap anjing berbulu keriting itu sebagai keluarga sendiri.) Aku mendengarkan semua ceritamu sampai seekor anak naga bertanduk satu yang langka itu berlarian di sekitar kita.

Kau ingat apa yang terjadi selanjutnya, kan?

Tentu saja, mana mungkin tidak, kau yang membuat situasi jadi kacau. Aku sebenarnya sudah berniat cabut saat makhluk mungil itu mendekat, tapi kau malah melemparkan ranting ke anak naga itu dan memanggilnya "Ezel Dua" seperti kau berkata kepada seekor anjing. Aku sudah memperingatkanmu untuk segera menjauh, tapi bukannya menuruti, kau malah mengelus si anak naga dan berbicara padanya dengan ekspresi tolol itu di wajahmu. Heh, baiklah, "Ezel Dua"-mu itu memang imut, tapi induknya mengancam nyawa. Masih terpatri di ingatanku bagaimana kita berlari pontang-panting saat seekor naga bertanduk satu dewasa merayap turun dari bukit terdekat untuk menjemput anaknya. Aku sempat melirik ke belakang saat kita berlari, kau tahu? Sebenarnya induknya tidak mengejar kita, tapi aku tidak memberitahumu soal itu karena pasti kau akan berhenti berlari. Kita bergulingan di rumput setelahnya, tanpa bisa ditahan sepuas-puasnya menertawakan kekonyolan diri sendiri. Itu menyenangkan, Noel, aku tidak pernah tertawa sekeras itu—hingga menitikkan air mata saking gelinya. Oh, harusnya kau melihat ekspresi kalutmu, Noel, dan kutebak wajahku pasti sama konyolnya waktu itu.

Itu tiga tahun yang lalu, sekarang naga bertanduk satu dewasa tidak lagi membuatku gentar. Aku yakin, kau pun bisa mengalahkan satu hanya dengan seorang diri. Tahun-tahun di akademi mengubah banyak hal dalam diri kita, Noel, terutama soal kemampuan sihir.

Hei, ngomong-ngomong soal kemampuan sihir, aku jadi teringat sesuatu. Ingat percakapan kita sekitar dua tahun yang lalu? Kau berkata padaku suatu malam saat aku sedang membaca di asrama, "Leon, kau tahu bagaimana mengira-ngira kemampuan tempur sihir seseorang hanya dengan sekali lihat?"

"Tidak," jawabku waktu itu.

Mata birumu berkilat jenaka padaku. "Lihat warna rambutnya."

"Maksudmu?"

Kau berdeham dengan gaya seorang pengajar, lalu bersingut mendekat, merangkulkan sebelah tangan ke pundakku dan mengacak-ngacak rambutku dengan tangan yang satunya. "Semakin terang warna rambut seseorang, semakin hebat kemampuan tempur sihirnya. Lihat rambutmu yang sewarna jagung kelewat pucat itu, Leon, kemampuan tempurmu luar biasa, dan kau adalah salah satu kadet terbaik di akademi ini; semua itu bisa ditebak hanya dari melihat warna rambutmu."

"Contoh lain?" kataku, merasa kau sedang bercanda.

"Pimpinan, lihat rambutnya yang keperakan. Kalaupun aku tidak tahu bahwa pria itu seorang pemimpin, aku sudah bisa menebak bahwa ia jago dalam pertempuran hanya dengan melihat kilau rambutnya," katamu penuh percaya diri.

"Err…."

"Archmage!" sentakmu. "Rambutnya putih semua, tidak heran, kan, ia jadi archmage? Karena memang kemampuan tempur sihirnya hebat sekali!"

"Noel, kurasa Archmage hebat bukan karena warna rambutnya," aku mencoba menenangkanmu yang menggebu-gebu, "lagi pula, sepertinya warna terang itu uban."

"Sungguh?" katamu. "Bukannya rambut sang Archmage memang begitu sejak dulu?"

"Entahlah. Dari mana kau mendapatkan teori konyol itu, Noel?"

"Dariku sendiri, tentunya." Kau tersenyum dan mengibaskan rambut yang tidak panjang, seperti yang dilakukan anak-anak bangsawan saat mereka sedang tebar pesona. Aku tahu kau melakukannya untuk mencemooh gaya mereka, tapi kau melakukannya teramat persis. Aku hampir bisa melihat kilau-kilau norak di sekitarmu.

"Noel, rambutmu sendiri berwarna hitam, dan kau juga salah satu kadet terbaik di sini. Itu membuktikan bahwa teorimu salah."

"Oh, tidak, Leon," kau merapikan poni, masih memasang pose tadi, "aku spesial."

"Spesial bagaimana?"

"Aku spesial karena menjadi satu-satunya orang yang diajari oleh Leon Durand, jadi meski berambut gelap, aku tetap bisa bertempur hebat karena kau yang membantuku berlatih." Gaya bercanda itu sudah hilang, kau menatapku dengan suatu pandangan lembut yang mengingatkanku pada ayahku—yang memang memori tentangnya tidak banyak tersisa. Itu sebabnya waktu itu aku langsung terdiam, bukannya aku tidak suka, hanya saja... aku tidak mengira akan ada orang yang menganggap akulah alasannya bisa bertempur. Sekali lagi, Noel, kau membuatku merasa menjadi orang yang lebih berguna.

Dan pipiku tidak memerah waktu itu, Noel, jangan salah sangka! Itu pasti karena cahayanya, saat itu sudah malam sekali. Aku ingat kau menertawakan semu merah yang kau klaim telah hinggap di wajahku (aku yakin itu hanya perasaanmu saja, pastinya), lalu setelahnya mulai berteori lagi.

"Coba hitung di seluruh akademi, berapa banyak kadet yang berambut gelap?"

Aku mencoba mengingat-ingat, aku memang tidak pernah dekat dengan orang lain selain dirimu, jadi yang lain hanya terasa seperti wajah-wajah yang kabur. Tapi memang, kebanyakan dari mereka berambut pirang; semakin terang pirangnya, semakin sedikit pula jumlahnya. Yang berambut cokelat tidak banyak, dan yang rambutnya hitam sepertimu nyaris tidak ada. Memang itulah salah satu penyebab mengapa aku mudah sekali mengenalimu di antara kerumunan, Noel, kau seperti sepotong cokelat di atas hamparan keju.

"Tidak banyak," aku berkata dengan suara pelan, menyadari kebetulan yang aneh itu.

"Benar, kan?" katamu. "Aku mengamati, orang-orang yang berambut gelap sihirnya lebih ke kemampuan pikiran dan konsentrasi, seperti memindahkan benda-benda dengan pikiran atau menciptakan ilusi. Sementara yang rambutnya terang, seperti kau dan yang lainnya, memiliki kekuatan utama pada penyerangan dan detonasi. Pikir-pikir, Leon, penyihir tempur kekaisaran kebanyakan berambut terang, yang berambut gelap biasanya bekerja dalam istana; meramal, mengerjakan hiasan, mempercantik tempat tinggal kaisar dengan segala ilusinya."

Aku memikirkan semuanya, Noel, dan dengan terkejut mendapati bahwa semua itu ada benarnya. Memang tidak semua, tapi mayoritas adalah yang seperti dikatakan olehmu. Itu yang membawaku ke pertanyaan, bagaimana dengan dirimu, kau berambut gelap, Noel, jika memang teori itu benar, tidakkah seharusnya kau lebih mahir dalam jenis sihir lain? Sementara selama ini kulihat seranganmu kuat sekali.

Dan kau kembali menjawab bahwa akulah yang membuatmu kuat. Tentu aku tidak terima, itu jawaban konyol. Karena, tahukah kau, Noel, aku tidak menganggap diriku sendiri kuat; aku lemah, sangat lemah, andai kau tahu.

"Tapi aku bukan hanya mampu dalam sihir penyerangan, Leon," katamu, aku ingat, kau bersingut mendekatiku lagi, menatapku dalam-dalam. "Keluargaku memiliki sejarah panjang soal pembuat ilusi dan peramal."

"Aku pernah melihatmu membuat ilusi, tapi tidak banyak."

"Sepertinya aku lebih berbakat ke meramal."

"Oh, ya?" Aku tidak yakin waktu itu, benar-benar tidak yakin, jangan tersinggung, Noel, aku hanya tidak bisa membayangkan seseorang sepertimu meramal. Peramal yang kutemui kan biasanya wanita-wanita menyeramkan berhias berlebihan, dengan rambut gelap yang menutupi mata dan aura misterius yang menguar. Kau memang berambut gelap, tapi wajah ceria dan suasana hatimu yang selalu gembira itu agaknya tidak cocok dengan bayanganku selama ini akan seorang peramal. "Apa yang kau lihat tentangku, Noel?"

Kau meletakkan salah satu tanganmu di pundakku. "Kau akan jadi orang hebat, Leon."

Aku ingat aku terdiam dulu sebelum tertawa pelan, tapi kau tidak ikut tertawa, dan aku sadar kalau kau tidak sedang bercanda. "Bagaimana dengan kita, Noel, apa setelah lulus kita akan ditempatkan di unit yang sama?"

"Sepertinya tidak," katamu, lalu menambahkan, "tapi yakinlah kalau aku akan selalu bersamamu, Leon."

Kalimat itu menenangkanku lebih dari apa pun, dan meski aku sendirian di sini sekarang, aku masih merasa kalau kau sedang bersamaku.

Ah, entah kenapa aku jadi bernostalgia begini. Ini salahmu Noel, kau selalu meledekku sentimentil setiap kali merenung, sekarang aku jadi benar-benar sentimentil.

Aku mengambil jeda lagi sebelum menulis paragraf ini, karena setelah menulis kata "merenung", aku jadi memikirkan perasaan yang mengusikku sejak terbangun pagi ini. Aku tidak tahu bagaimana harus menceritakannya, Noel, atau apakah ini sebenarnya penting. Tapi kurasa, kalaupun harus cerita, maka kaulah orang yang tepat. Perasaan ini entah datang dari mana, mungkin dari dalam diriku sendiri, itu aneh mengingat tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Mengganjal, seperti aku melupakan sesuatu yang sangat, sangat penting, tapi aku tidak tahu apa. Juga ada rasa khawatir; aku mengkhawatirkanmu, rasanya ada sesuatu yang telah (atau sedang) terjadi padamu. Itu konyol, aku tahu. Tertawalah sesukamu. Kau jelas tahu bahwa aku sama sekali tidak akan peduli kalau mendapat firasat seperti ini pada orang lain, tapi kau sahabatku, Noel, aku tidak bisa begitu saja mengabaikannya. Tidak ada yang mencurigakan, tapi aku tetap memiliki suatu perasaan ganjil itu yang datang setiap kali aku memikirkanmu. Apa ini ada hubungannya dengan apa yang telah terjadi di tiga bulan yang terlupakan itu? Andai aku tidak kehilangan ingatanku, mungkin aku tidak akan segelisah ini. Apa kau baik-baik saja, Noel? Aku takut sesuatu telah terjadi padamu. Cepatlah balas suratku dan bilang kalau kau baik-baik saja.

Rasanya masih ada yang kurang kalau aku mengakhiri suratku di sini (meski pesanku sebenarnya sudah panjang sekali dan menghabiskan kertas, kuharap kau tidak bosan membacanya).

Aku ingin memberitahumu sesuatu yang tak pernah sempat kukatan. Atau sudahkah aku mengatakannya padamu sebelum aku kehilangan ingatan? Entahlah, sudah ataupun belum, aku akan tetap menuliskannya karena aku pasti akan lega setelah mengeluarkan semuanya. Mungkin seharusnya ini dibicarakan langsung, tapi aku rasa aku akan menyampaikan maksudku dengan lebih jelas jika kita tidak bertatap langsung—karena kau pasti akan senyum-senyum dengan menyebalkan dan aku akan melupakan apa yang mau kukatakan!

Baiklah, langsung saja. Ini tentangmu, Noel. Tadinya aku bukan orang yang percaya takdir, tapi sepertinya itu mulai berubah sejak mengenalmu, orang yang membuat kebetulan-kebetulan aneh dalam hidupku menjadi seperti rangkaian kejadian yang telah direncanakan—atau kata lainnya, yah, takdir. Salah satu kebetulan aneh itu adalah nama kita; kau yang pertama menyadari ini; Noel jika dibalik adalah Leon, nama (juga sifat) kita berkebalikan seperti bayangan dalam sisi lain cermin. Kau, yang waktu itu baru pertama kalinya kutemui, heboh berkata bahwa takdir yang mempertemukan kita dan bahwa kita akan saling melengkapi. Aku menganggapnya omong kosong dulu, tapi kalau memang takdir yang bertanggung jawab atas segalanya, maka aku ingin berterima kasih pada siapa pun yang mengatur takdir. Kebetulan aneh lainnya adalah kata-katamu, entah kenapa semuanya jadi benar. Kita memang saling melengkapi; kau berisik, aku pendiam; kau gembira, aku murung; kau matahari keemasan yang cerah, akulah awan abu-abu yang mendung.

Tapi lebih dari kepada takdir, aku ingin berterima kasih padamu, Noel. Kaulah orang yang menyadarkanku bahwa aku hidup bukan hanya untuk bertempur. Kau yang membuka mataku pada dunia, yang menunjukkan betapa banyak hal-hal yang selama ini kulewatkan karena hanya menghabiskan waktuku di arena latihan. Kau, Noel, yang memberitahuku apa itu persahabatan, cinta, dan keluarga. Dan meski aku tidak pernah punya siapa-siapa, memilikimu sebagai sahabatku mungkin sama rasanya dengan memiliki keluarga.

Maaf kalau selama ini aku begitu dingin dan enggan, aku selalu menarik diriku sendiri dari siapa pun dan menutup pintu ke dunia luar. Aku bukannya tidak suka dengan perlakuanmu, Noel, hanya saja, seumur hidupku, aku tidak pernah diperlakukan dengan begitu baik oleh seseorang. Saat kau datang dan mengulurkan tanganmu padaku, rasanya aneh, dan asing—tapi sesuatu yang aneh dan asing itu hangat dan menyenangkan. Orang-orang selalu mendekatiku demi kepentingan mereka sendiri, Noel, mereka berteman denganku hanya untuk memanfaatkan sesuatu; itulah mengapa aku punya masalah dalam memercayai orang. Tapi kau berbeda; kau tidak berpura-pura bersahabat denganku hanya karena menginginkan sesuatu, kau menerimaku apa adanya, kau... tulus. Mereka membalikkan punggungnya dan melupakanku setelah urusan mereka selesai dan tujuan mereka tercapai. Tapi kau tidak begitu, kau tidak pernah meninggalkan sisiku dan selalu ada untukku, menyadarkanku bahwa kesetiaan itu diberikan bukan hanya kepada negara dan kaisarnya, tapi juga kepada teman dan orang tersayang.

Meski aku begitu dingin, pendiam, dan serius, kau tidak pernah kehilangan keceriannmu atau segan berteman denganku; aku mungkin tidak banyak menunjukkannya di ekspresiku, tapi aku sangat menghargainya. Andai waktu bisa diulang, Noel, aku akan mencoba untuk menjadi orang yang lebih menyenangkan dan ramah untukmu. Tahukah kau, Noel, kau adalah orang pertama yang berhasil membuatku tersenyum dan tertawa, dan sampai sekarang pun masih hanya kau satu-satunya. Bersama denganmu rasanya seperti melengkapi bagian kosong dalam diriku yang tak pernah mengenal ketulusan dan kasih sayang. Bersyukurlah, Noel; kau punya orangtua yang baik hati, kau memiliki Noah dan Natalie, dan ada Ezel untuk melengkapi hangatnya keluargamu. Dan aku bersyukur pada Tuhan karena Ia telah mengirimkan malaikatnya yang bernama Noel untuk membuatku menyadari betapa berharganya orang-orang tersayang itu. Aku seharusnya mengatakan ini sejak lama, tapi aku sangat bersyukur dan bahagia bisa mengenalmu, Noel.

Aku pasti terdengar sangat sentimentil dan lembek sekarang.

Itulah kenapa aku memilih untuk menuliskannya saja, membicarakan sesuatu seperti itu sambil melihat wajah isengmu tidak akan membantu. Aku tidak akan pernah bisa mengatakan semua itu secara verbal.

Biarlah apa anggapanmu, Noel, aku merasa lebih lega setelah menyampaikan semuanya. Seakan-akan perasan mengganjal tadi telah terangkat semua dari pundakku dan aku menjadi lebih tenang sekarang. Tapi rasa ganjil itu belum juga hilang, masih ada suatu hal kecil yang tertinggal dalam hatiku, mengganggu, dan aku bisa gila jika mengabaikannya. Duduk sendirian di sini yang membuatnya ganjil, rasanya begitu sepi, begitu damai... dan aneh. Aku tidak tahu apa yang kurang, mungkin aku akan menemukan jawabannya kalau ingatanku pulih (jika tiga bulan itu kembali). Tapi tak apa, setelah sempat khawatir tadi, sekarang aku merasa kau baik-baik saja di mana pun kau berada.

Cepatlah balas suratku, Noel, aku ingin sekali mendengar kabarmu.

Salam,

Leon


Lelaki muda berambut merah itu bertatapan denganku.

Detik itu, kami berpandang-pandangan; detik berikutnya, ia menyerahkan dua pucuk amplop padaku. Surat.

Beberapa saat yang lalu aku baru saja membuka pintu kamarku, dan ia sudah berdiri di sana, setengah membungkuk, tampaknya mau menyelipkan surat lewat celah yang ada di bagian bawah pintu. Lelaki berseragam pos itu menegakkan tubuhnya.

"Aku diberitahu bahwa pemilik ruangan ini sudah kembali, jadi aku mengantarkan surat yang sudah lama ada di kotak tunggu," katanya. Aku menggumamkan terima kasih, ia mengangguk sopan lalu tanpa basa-basi beranjak ke pintu lain. Oh, jadi sekarang surat diantarkan langsung ke ruangan masing-masing; dulu sewaktu masih di akademi aku harus memeriksa dan mengambil sendiri semuanya. Aku mengamati celah yang sengaja dibuat untuk surat di pintu metal itu, terdapat tutup tipis yang dapat didorong dan menutup sendiri di sana, tampaknya bisa terkunci secara otomatis.

Aku menutup pintu dan duduk di ranjang, membaca surat-suratku. Yang pertama adalah—tunggu, aku mengenali yang ini, surat yang kukirim ke Noel dua hari yang lalu. Kenapa tidak sampai dan malah kembali? Tertempel secarik kertas di bagian belakangnya, ada beberapa baris kalimat yang salah satunya dilingkari dengan asal: Penerima tidak ditemukan.

Penerima tidak ditemukan? Memangnya Noel menghilang ke mana?

Aku memeriksa tujuanku, memastikan aku menulis nama dan kode prajuritnya dengan benar. Setiap penyihir tempur di kekaisaran memiliki kode yang diberikan sejak mereka masih di akademi dan tidak akan berubah bahkan hingga pemiliknya meninggal. Huruf dan angka itu kuperiksa, aku hapal kode Noel di luar kepala dan sudah mengecek ulang sebelum mengirimkan surat, jadi rasanya tidak mungkin salah.

Dan kodenya memang benar.

Lalu kenapa suratnya tidak sampai? Aku memandangi amplop putih itu. Terkadang kalau yang dituju sedang dalam misi rahasia, suratnya bisa tidak sampai karena semua informasi pemiliknya akan disembunyikan sementara dari arsip angkatan perang, termasuk nomor ruangan yang ditempatinya. Aku bertaruh celah untuk menyelipkan surat itu pun akan ikut terkunci, sehingga surat yang ditujukan padanya akan dipindahkan ke kotak tunggu atau dikembalikan. Eh, tapi, Noel? Ditempatkan di bagian intelijen? Aku hanya tidak bisa membayangkan pemuda semacamnya menjadi mata-mata. Entah apa yang sedang dikerjakannya hingga suratku bukan lagi ditempatkan di kotak tunggu, tapi langsung dikembalikan.

Surat kedua memiliki amplop yang juga berwarna putih tapi berukuran yang lebih besar. Ada nama dan kode prajuritku di bagian depannya. Aku membukanya dan selembar kertas dari bahan yang agak tebal berwarna krem menyambutku. Saat lipatannya kubuka dan kubaca isinya, dengan mata terbelalak aku mematung.

Perlahan-lahan, aku mencoba membaca keseluruhan surat. Surat yang berisi undangan upacara pemakaman.

Pemakaman Noel Ervel.

Tertanggal dua bulan yang lalu. Suratnya baru sampai ke tanganku, itu berarti aku tidak menghadiri pemakaman sahabatku sendiri. A-aku... bahkan tidak tahu ia sudah meninggal.

Aku memegangi kepala yang berdenyut-denyut, membaca ulang kata demi kata yang tercetak di lembaran itu, mencoba memahaminya. Noel adalah duniaku, tapi herannya, aku seperti bisa menerima berita kematiannya seakan-akan aku sudah lama mengetahui hal itu sebelumnya. Tanganku agak bergetar, tapi aku terus memegang kertas itu, berharap kata-kata yang ditulis dengan indah dan besar-besar itu adalah kesalahan.

Pemakaman Noel Ervel.

Noel? Kau... sudah tiada?

Keterkejutan itu hanya sesaat. Sebagai gantinya, aku malah merasakan suatu keikhlasan yang meskipun tidak seutuhnya, tapi membuat sebagian diriku merelakan kepergiannya. Aku mencari-cari perasaanku, tidak adakah duka yang kurasakan untuknya? Ada, duka yang sangat dalam, dan kerinduan; tapi ini berbeda—a-aku... sudah pernah tahu soal ini. Aku sudah tahu dan telah mencoba untuk berdamai dengan masalah ini sebelumnya.

Aku menunduk, pikiranku memutar segala memori tentang Noel. Sebutir air mata menetes. Itu aneh, kukira aku akan menangis lebih dari ini jika apa-apa terjadi padanya, tapi... entahlah. Bagaimana aku merasa sudah tahu kalau Noel telah meninggal? Tidak ada yang memberitahuku soal itu sebelum surat ini datang. Apa ini ada hubungannya dengan hilangnya ingatanku?

Itu membawaku ke pertanyaan-pertanyaan baru. Di mana aku dua bulan yang lalu? Kenapa aku bisa sampai tidak menghadiri pemakamannya? Undangan ini seharusnya sudah kuterima dua bulan yang lalu, itu berarti selama tiga bulan di ingatanku yang hilang, aku sedang tidak berada di tempat. Mungkin aku sedang menjalani misi—ya, itu penjelasan paling mungkin. Tapi seberapa rahasiakah misi itu sampai surat untukku ditunda?

Noel, kenapa kematianmu tidak mengejutkanku lebih dari sesaat? Kenapa aku begitu tenang menerimanya? Kenapa yang ada di dalam sini adalah pengertian dan usaha untuk berdamai dengan hal itu? Apa yang telah terjadi, Noel?

Aku memeriksa ulang arsip yang berada di meja; seperti sebelumnya, ada tiga misi yang sudah kujalani, dan semuanya tidak dikategorikan sebagai rahasia. Kalau aku menjalani tugas biasa, segala informasi tentangku tidak akan disembunyikan dan celah surat itu bisa dibuka; surat undangan pemakaman Noel pastinya sudah kuterima. Seharusnya, surat itu sudah berada di depan pintuku saat aku pertama masuk ke ruangan setelah kembali dari ruang perawatan dua hari yang lalu.

Dan tukang pos tadi, katanya ia diberitahu bahwa pemilik kamar ini—aku—baru saja kembali, itu berarti selama tiga bulan yang hilang, aku berada di suatu tempat lain.

Aku memeriksa tanggal-tanggal di arsip, di ketiga tugas biasa itu, semuanya hanya berkisar beberapa hari setelah itu aku kembali ke markas. Tapi suratku ditunda, yang berarti aku sedang tidak ada di tempat, lalu... ke mana aku selama hari-hari tanpa misi itu? Apa aku menjalani misi khusus yang luar biasa rahasia hingga aku bahkan tidak diberi salinan arsipnya?

Perasaan ganjil yang kurasakan itu semakin menjadi-jadi, berteriak-teriak di kepalaku bahwa ada yang aneh dengan semua ini. Tiba-tiba aku mulai meragukan keaslian arsip itu. Semuanya terasa aneh dan dibuat-buat, seakan ada yang menyembunyikan kenyataan selama tiga bulan itu dariku.

Hilang ingatan, tiga bulan, misi, Noel. Kepalaku kembali berdenyut-denyut, sakit sekali rasanya ketika aku mencoba mengingat apa yang telah terjadi.

Aku melipat surat itu kembali ke dalam amplop dan menyelipkannya ke dalam mantel militerku. Ada sesuatu yang aneh di sini, dan aku akan mencari apa masalahnya.

Noel. Tidak mungkin ini semua terjadi tanpa alasan, pasti ada hubungannya dengan hilangnya ingatanku, apa pun itu.

Noel, aku tidak akan membiarkan kematianmu terlupakan begitu saja; demi dirimu, akan kudapatkan kembali ingatanku dan kutemukan semua jawaban dari segala perasaan yang mengusikku. Demi dirimu, Noel, aku akan mencari kebenaran, bahkan jika harus menghadap Pimpinan sekalian. Demi dirimu, Noel, aku akan melakukan segalanya.

Demi dirimu, Noel, demi dirimu. Noel, Noel….

.

.

.

... Noel.

Apa kau bahagia di sana?

End


A/N atau semacam itulah:

Penanya Kepo (?): Umm, halo.

Alitheia: Halo. (^ ^)/

PK: Boleh nanya-nanya, ga?

A: Boleh, kok. Jangan sungkan-sungkan mau nanya apa pun sama saya; boleh langsung gini, boleh juga lewat review atau PM.

PK: Langsung aja, ya. Ini apa?

A: Ini fic ke-2 saya setelah hampir dua bulan WB.

PK: Kok bisa kepikiran nulis kayak gini?

A: Saya juga nggak tau, seminggu lebih sehari yang lalu, tiba-tiba idenya nongol di kepala dan saya mendapat desakan aneh, "Pokoknya saya harus menuliskan cerita ini!"

PK: Enjoy ga nulisnya?

A: Enjoy banget. ^ ^ Apalagi udah lama ga nulis, dan ini isi ceritanya sedikit-sedikit ada nyerempet masalah pribadi lah jadi saya cerita sambil sekalian curcol juga. #ngok

PK: Nama Noel dari mana?

A: Ah, Noel itu agaknya pelesetan dari panggilan seseorang.

PK: Terus kok Leon? Dibalik doang, ga kreatip apa begimana nih?

A: Leon itu seperti ide ceritanya, tiba-tiba nongol di kepala, ga tau juga kenapa, dan saya berasa pengen banget make nama itu. Setelahnya barulah saya sadar kalau Noel dibalik, jadilah Leon.

PK: Kenapa setting-nya gaje?

A: Ini memang sengaja saya bikin nge-blur soalnya ceritanya berfokus di friendship-nya, bukan di setting.

PK: Hmm, bisa aja friendship-nya ngga ngena lho.

A: Iya. Saya sebenernya ngga paham genre friendship itu gimana, tapi ngotot nyoba bikin. Mungkin, adakah yang mau memberi masukan lewat review? Saya terima dengan tangan terbuka. :D

PK: Eh, boleh berpendapat, saya malah merasa friendship-nya ga gitu ngena, tapi yang ada malah rada-rada menjurus sho-ai gitu.

A: O-oh, ya? #senyumgugup Niatan awalnya beneran saya mau bikin friendship lho, tapi kalau ternyata akhirnya ada yang menganggap malah agak-agak begitu, y-yah... #siulsiulgaje #melengospergi #woi

PK: Fantasy-nya kenapa cuma kayak numpang doang?

A: Tadinya memang saya mau naro fic ini di friendship, baru genre pertama yang fantasy. Tapi di kategori ga ada friendship, jadinya saya tuker tempatnya. Gimana menurut para reader, apa ini sebaiknya saya taruh di general aja atau ada saran lain?

PK: Tragedy-nya nyempil di mana? Kok ngga keliatan?

A: Saya fail. #pundung

PK: Terus kan ini friendship, tapi kenapa setting-nya mesti fantasy burem gitu? Sebenernya bisa kan pake setting yang "lebih normal"?

A: Bisa, tapi otak saya itu suka ngadat kalo suruh pake setting normal. Lagian kalo gini jadi nggak biasa, kan? ^u^ #alesan

PK: Mm, si Leon nulis surat abis berapa lembar tuh, ga pegel apa tangannya? Kenapa yang dia cerita panjang itu nggak dibikin flashback aja?

A: Tadinya pengen saya flashback, tapi kok kayaknya lebih sreg kalau dia cerita ulang aja semuanya di surat, ya. Saya mau nyoba nulis pake gaya baru (?) aja. (Biarin aja tangannya pegel, bukan tangan saya ini. ._. #heh)

PK: Kenapa endingnya ngga elit?

A: Karena saya memang ngga pernah berhasil bikin ending elit orz.

PK: Jadi ending-nya gitu aja? Ga diterusin?

A: Belum tahu, kita lihat saja nanti. :)

PK: Ya sudah, mari kita sudahi tanya-tanya kepo ini. Ada pesan-pesan terakhir? (Terakhir sebelum situ nyelesain A/N lho, ya, bukan terakhir sebelum mati. -_-)

A: Terima kasih banyak bagi yang sudah membaca, dan adakah yang mau berbaik hati me-review? Semuanya akan sangat saya hargai. :)