Nicholas Fletcher Muda

Nicholas tersenyum lagi seraya mengingat pujian dari mentornya. "Ia murid brilian. Saya senang sekali pernah menemukannya. Dia cerdas, dia rajin. Dia fokus dan kuharap semua murid di universitas ini mau menyamai dia," kata Profesor Corola, "Tapi, tentu dialah yang paling istimewa,"

Tak pernah ia merasa seberharga itu. Ia amat bangga pada dirinya. Profesor Corola hanya akan mengingat murid-murid yang benar-benar hebat saja. Merasa bahwa dirinya hebat membuat Nicholas senang. Di saat yang materialistis ini, tak ada yang mau memujinya. Ia dianggap tak berharga.

Ayah Nicholas telah meninggal sejak ia masih bayi, dan ibunya dulu menderita banyak penyakit. Penyakit-penyakit berat sehingga tidak lama kemudian, Beliau menyusul suaminya. Mereka meninggalkan Nicholas dalam kehampaan. Nicholas beruntung sekali karena sering mendapat bantuan. Entah itu dari hasil kerja ringan, pemberian keluarga, atau apapun, pada saat ia nyaris mati kehabisan uang untuk membayar pendidikian kedokterannya. Hal-hal itu cukup memberi cap "Tidak Punya Uang" berwarna merah tebal di dahinya. Ini sering membuatnya merasa rendah diri.

Mendapat pujian dari Profesor Corola membuatnya melambung. Dalam kurun waktu tiga tahun itu tak ada yang memujinya lagi. Ia sering mendapatnya saat SMA, dan itu hanya karena ketampanan dan karismanya. Semua suka padanya karena ia santun dan baik hati. Rambutnya yang hitam nan lembut, mata lelahnya, badannya yang kekar, senyuman merona, suara serak yang enak didengar membuatnya menjadi pujaan hati banyak orang.

Pada saat ini tak pernah ada yang membahasnya lagi. Ia buruk. Itu saja. Dan tak punya uang. Merah tebal di dahi.

Kini aku memiliki dua hal: kecerdasan yang telah diungkapkan Profesor... dan Marcia.

Pikiran itu menyunggingkan senyuman merona lain di bibirnya.

Marcia Gray adalah kekasihnya. Sesesorang dari jutaan perempuan. Ia menatapnya sebagai seseorang yang berharga saat yang lain tidak. Ia mahasiswi di jurusan kesenian drama. Marcia cantik. Rambutnya juga hitam seperti Nicholas. Jarang-jarang gadis itu tersenyum, hanya pada saat tertentu saja. Tapi ia tetap cantik meski tidak benar-benar menarik perhatian. Ia dan Nicholas hidup berdekatan di satu gedung asrama. Jika ada yang melihat mereka berdua, orang itu akan merasa seakan-akan mereka berdua sudah menjadi tanggung jawab masing-masing. Mereka benar-benar saling memiliki.

Kini bis yang dinaiki Nicholas sampai di tujuannya. Nicholas turun masih dengan perasaan gembira, bersenandung ria. Tiba-tiba dilihatnya sesuatu yang mengherankannya.

Marcia berada di luar, berbicara dengan seorang laki-laki yang kira-kira yang kira-kira sudah berumur 30-an. Laki-laki itu berambut hitam dan kurus. Laki-laki itu memandang segala hal dengan gerak-gerik ragu-ragu. Kulitnya putih sekali. Rambutnya dipangkas agak pendek. Ia memakai mantel coklat dan kemeja putih. Kelihatannya sepatu kulitnya asli. Mengkilap setelah disemir.

Marcia menatap laki-laki itu dengan tatapan kepatuhan juga ketakutan. Tapi ia kelihatannya mengenal laki-laki itu. Maka Marcia tidak pergi dari situasi untuk berbicara dengannya. Saat Nicholas mendekat, laki-laki itu sudah menjauh.

"Siapa dia?" tanya Nicholas pada Marcia.

"Oh, dia," Marcia tidak menatap mata Nicholas, "Dia pemilik teater. Aku mengenalnya dari sana. Ia menonton pertunjukan kami 6 bulan yang lalu,"

"Kau tak pernah bicara tentangnya,"

Marcia terdengar gugup, "Kurasa ia tidak penting untuk kuceritakan,"

"Ia penting. Kuperhatikan, kelihatannya ia punya banyak uang,"

Marcia menatap wajah Nicholas yang bernafsu untuk berargumen. Marcia tersenyum pada Nicholas hingga pemuda itu menjadi malu.

Mungkin memang tidak penting.

"Maaf aku telah memaksamu," ujar Nicholas.

Marcia memeluk lengannya sendiri, "Uh, dinginnya! Sebaiknya kita cepat masuk,"

Nicholas merangkul Marcia dan membawanya masuk, keluar dari jalanan bersalju.

Malamnya, Marcia bertanya pada Nicholas saat mereka berada di depan perapian, sambil menusuk-nusuk api yang menari tersebut dengan sebatang lidi, "Kau percaya 'kan, aku mencintaimu?"

Nicholas tersenyum lagi, "Ya, tentu aku percaya,"

Marcia menatap Nicholas dengan mata sayu, "Kau akan terus percaya, bukan?"

Dia serius. Apa maksudnya pertanyaan ini?

"Kalau kau memang cinta padaku, kau takkan ragu barang sedetik pun," jawab Nicholas.