Sang mentari perlahan mulai menampakkan dirinya. Langit cerah menyambut pagi yang hangat ini. Senyuman tampak di mana-mana. Kedamaian melayang di udara, memenuhi setiap paru-paru dengan udara ketentraman. Ya, satu hari lagi dimana Tuhan memperlihatkan keindahan ciptaan-Nya.

Sambil menyenandungkan lagu 'Cannon', Caroline melompat-lompat pelan menghindari kubangan sisa hujan tadi malam. Bekas air yang menyejukkan itu bukan halangan baginya untuk tidak merasa bahagia hari ini. Senyumnya yang manis menghiasi wajahnya yang bulat itu. Rambutnya yang biasanya digerai, diikat kuda agar tidak berantakan saat ia sibuk berlompatan seperti katak. Bukan kemeja dan rok yang ia kenakan, tetapi kaos olahraga. "Hore! Hari ini basket! Senangnya!" Serunya kegirangan. Ia tidak peduli pada setiap orang yang menatapnya heran.

.

.

.

Hanya sedikit waktu yang dibutuhkan untuk menghancurkan hari Caroline yang indah itu. Hanya dengan lewat di depannya, Gion mampu mengubah senyuman Caroline menjadi datar, bahkan melengkung ke bawah. "Lo lagi, lo lagi! Mau apa lo nongol di sini?" tukas Caroline kesal. Gion sama sekali tidak marah diteriaki seperti itu. Cowok itu malah nyengir. "Kenapa emangnya? Nggak boleh? Ini 'kan jalanan umum, neng," sahut Gion santai.

"Tapi lo tuh bener-bener ngancurin suasana tauk! Gue tahu lo pasti mau iseng lagi, ya 'kan?" Tuduh Caroline terus menerus. "Eit, eit, dilarang memfitnah orang. Gue bukan mau iseng, Oline sayang. Mumpung ngeliat lo, gue sekalian mau ngasih tahu kalau kita satu tim basket ntar." Mata Caroline seketika membelalak lebar. "WHAT? Ogah banget gue! Beneran ancur 'kan!" teriak Caroline kesal dan langsung meninggalkan Gion yang tak henti-hentinya tertawa. "Penting banget ada orang kayak dia?" batin Caroline kesal.

.

.

.

.

Leah melihat Caroline melangkah gontai masuk ke kelas. "Kenapa muka lo kusut gitu, Lin? Biasanya kalo mau main basket lo seneng banget." "Gimana nggak kesel kalau harus satu tim sama Gion!" keluh Caroline. "Ya, emangnya kenapa kalau satu tim sama dia?" Tanya Leah sabar. "Ya, lo tahu sendiri. Dia tuh tukang ribut. Bisa-bisa, kalah tim gue gara-gara dia bercanda mulu!" "Bukan berarti tukang ribut nggak bisa main basket 'kan, Lin? Gue lihat, Gion mainnya bagus kok," ujar Leah berusaha memadamkan panas kebencian dalam diri temannya itu.

"Gue nggak percaya dia bisa!" Caroline masih keras kepala juga. "Jangan segitu bencinya sama Gion ah. Nggak baik tahu! Lo boleh sebel sama orang, tapi nggak boleh benci orang. Ngerti nggak lo?" "Please deh! Lo kok malah ceramahin gue gini sih?" gerutu Caroline sambil manyun. "Lagian, kalau lo marah-marah gitu terus, urat tua lo nambah lho. Nggak awet muda deh," ledek Leah agar Caroline mau berhenti marah-marah seperti mak lampir begitu. Usaha Leah itu berhasil membuat Caroline mengunci mulutnya sampai pelajaran dimulai.

.

.

.

"Yak. Tadi bapak sudah bagikan kelompoknya. Sekarang berkumpul dengan kelompok masing-masing. Karena ada 4 tim. Nanti mainnya gantian," perintah Pak Thomas yang langsung disambut teriakan yang meng-iyakan ucapannya. Dengan lesu, Caroline berjalan menghampiri tim-nya yang isinya memang orang yang hebat kecuali satu orang. "C'mon girl! Why does your face look very awful, Carol?" Nick terus menanyai Caroline dengan aksen Inggrisnya itu. Nick merupakan murid pertukaran pelajar dari Australia.

"Forget it! Ayo mulai." Tidak akan ia biarkan tim-nya kalah hanya karena satu orang. Caroline sekarang langsung mengerahkan seluruh konsentrasinya untuk permainan ini. Baru ia mulai men-dribble bolanya, Tasya dari tim lawan sudah merebut dengan cepat. Tapi, Nick menghadangnya. Ia berhasil merebut bola dan mengopernya ke Helen. Ah, sayang! Helen dihadang 3 pemain dari tim lawan. Helen ialah orang yang berpikiran cepat, jadi ia bisa memikirkan strategi pengoperan dengan baik. Bola itu pun terhindar dari tangkapan tim lawan. Wajah sumringah Caroline melihat tim-nya yang bermain baik seketika runtuh. Bola yang dioper Helen, ditangkap Gion yang memang paling tidak dijaga. Masalahnya, itu GION. "Gimana bisa dioper ke dia sih?" batin Caroline mulai menyerukan ketidaksetujuannya. Ia segera berlari ke arah Gion yang mulai men-dribble bola menuju ring lawan. "Nggak mungkin dia bisa masukkin!" tebak Caroline dalam hati. "Yon, oper ke gue!" perintah Caroline. Gion menoleh sekilas, tapi lalu mengabaikannya. "Heh, lo nggak denger ya?" Caroline tetap keras kepala. Ia mencoba merebut bola itu sendiri dengan menyamakan kecepatan larinya.

Akibatnya, ia bertubrukan dengan Rio dari tim lawan. Tabrakannya benar-benar hebat karena Rio juga berusaha merebut bola dari Gion. Seketika permainan dihentikan karena Caroline hanya bisa tergeletak lemah sambil meringis kesakitan. "Maaf ya, Lin," ujar Rio, meminta maaf atas tabrakan tadi. "Iya nggak pa-pa. Gue yang salah kok," balas Caroline sambil tersenyum. Tentu saja, senyum itu tidak bisa menyembunyikan wajahnya yang menyerenyit kesakitan.

Gion menyeruak ke depan dan menghampiri Caroline yang terus memegangi lengannya yang sakit. "Ayo, sini lo gue anter ke UKS." Caroline menatap Gion kesal. "Gimana ceritanya gue bisa bangun kalau kaki gue juga keseleo, Gion?" "Bisa." Gion langsung mengangkat Caroline perlahan dan mencoba menggendongnya. "Nggak mau, nggak mau! Malu-maluin banget ah, lo!" spontan wajah Caroline berubah warna menjadi seperti kepiting rebus. "Iya, iya deh." Gion menyerah karena terus dicubit Caroline yang menolak untuk digendong. Akhirnya, Gion memapah Caroline sampai ke UKS. Butuh waktu yang cukup lama sampai di sana karena ternyata Caroline sangat susah berjalan.

"Tahu gitu tadi gue gendong aja biar sampainya lebih cepet." "Ogah!" "Kenapa?" "Kayak anak kecil!" "'Kan lo emang anak kecil, Oline," ujar Gion sambil mencubit pipi Caroline. "Ah! Sakit, sakit! Lepasin ah!" rengek Caroline. "Tuh 'kan, kayak anak kecil. Makanya, jangan lihat orang dari luarnya doang dong! Gue gini gini udah tahu kalau tadi si Rio mau nyerang. Kalau gue oper bolanya ke elo, bakal kerebut sebelum nyampe ke tangan lo lah." Caroline hanya diam mendengar semua penjelasan itu. Ia jadi ingat perkataan Leah sebelum bel masuk tadi. "Maaf…" sesal Caroline dengan nada seperti anak kecil minta dikasihani. Kalau dalam komik, ia pasti sudah menampakkan puppy's eyes-nya. Sayangnya, ini kehidupan nyata.

.

.

Entah apa penyebabnya, muka Gion memerah. "Eng, Lin, jangan masang ekspresi kayak gitu dong." "Kenapa emangnya? Ini 'kan wajah orang menyesal," jelas Caroline dengan wajah yang sama. Gion memalingkan wajahnya menghadap belakang.

"Lo tuh terlalu imut kalau pasang muka kayak gitu, Oline..."

"Hah?"

.

.

.

.


Sekadar ngosongin file (menuh-menuhin flashdisk aja sih... -_-")

R&R please... ^^