Daniel si Calon Bintang

James Pedersen berjalan gontai menuju pintu gerbang sekolah. Sore itu, pelajaran telah selesai dan saatnya untuk pulang ke rumah. Murid-murid yang ingin segera pulang berdesakan di depan pintu gerbang. James berada tepat di belakang kerumunan itu. Di antara keramaian anak-anak ini, Daniel Olsen–kakak kelas yang terkenal akan keberandalannya—menunggunya.

Apa yang menyebabkan Daniel ingin menemui James dimulai saat Jenni, kawan James, dimintai uang secara paksa oleh Daniel dan gengnya. Hal itu memang kerap mereka lakukan di sekolah.

James tidak terima atas kelakuan Daniel yang semena-mena terhadap kawannya. Ia pun naik pitam dan membela Jenni. Tapi beginilah akhirnya (seperti saat semua kisah semacam ini terjadi), Daniel menantangnya untuk berkelahi satu lawan satu dengannya.

"Kalau kau memang merasa dirimu jantan, lawan aku di depan gerbang sekolah setelah pulang!" tantang Daniel saat itu.

James yang sedang emosi tanpa pikir panjang menyetujuinya. Selain karena emosi, ia juga tidak mau diejek sebagai pecundang oleh Daniel dan gengnya. Namun, sekarang ia baru menyadari akibat dari tindakannya yang gegabah itu.

"Hei, Pedersen! Kau ingat dengan janji kita?"

Suara Daniel yang lantang tadi menyingkirkan lamunan James. Di samping Daniel, terlihat gengnya yang turut menunggu James dengan "Bosnya".

"Tentu saja. Kurasa, aku sudah siap," kata James, berusaha terdengar berani meski setiap saraf di tubuhnya merinding.

Kerumunan anak yang tadinya ingin pulang jadi berbalik. Mereka mendengar percakapan Daniel dan James sehingga mereka berniat menunda kepulangan mereka dan menonton perkelahian yang bakal segera terjadi.

Tiba-tiba, Daniel mengatakan sesuatu yang tak diduga-duga, "Tunggu dulu. Aku mulai berubah pikiran. Kurasa aku mau membatalkan duel kita,"

Saraf-saraf James mulai kembali normal. Terdengar gumaman anak-anak yang kecewa.

"Tapi," lanjut Daniel, "aku mendapat ide untuk mengubahnya jadi pertandingan sepak bola. Hanya kau dan aku. Satu lawan satu. Bagaimana pendapatmu?"

James dan anak-anak lain terkejut mendengar ini. Ini bahkan jauh, jauh lebih buruk lagi dari yang sebelumnya ia tawarkan. Sebab, Daniel Olsen terkenal, selain karena akan keberandalannya, juga karena dia adalah kapten tim sepak bola SD ini.

Bisa dibilang dia bek yang paling jago dan yang paling kuat. Pada setiap pertandingan, striker seakan loyo ketika berhadapan dengannya. Dialah alasan kenapa kesebelasan sepak bola SD ini terkenal se-Denmark. Dia pula alasan kesebelasan tersebut memiliki banyak gelar di setiap regional. Jelas saja James takut saat mendengarnya.

Daniel dan gengnya tersenyum licik, menunggu jawaban James. Mereka—begitu pula dengan anak-anak lain di sana—yakin bahwa James akan segera menolak tantangan baru ini.

Hati James ingin meneriakan protes pada Daniel, seperti "Ini tidak adil!", atau "Dia 'kan lebih tua dua tahun dariku!", atau "Dia kapten tim sepak bola kita, sudah pasti dia jauh lebih berpengalaman dariku!". Tapi itu semua sirna saat ia melihat Jenni yang ketakutan diantara kerumunan. Jika James menolaknya, tentu saja Jenni maupun anak-anak lain takkan bisa bebas dari cengkeraman geng Daniel. "Ini jelas harus dihentikan," pikir James geram.

"Baiklah!" seru James lantang, "Dimana?"

Meski agak terkejut, Daniel tetap tersenyum kecil, nyaris berarti mengejek James, "Kebetulan lapangan sepak bola kita sedang tak dipakai. Ayo,"

Daniel dan gengnya memimpin jalan, diikuti James dan anak-anak lain yang ingin ikut untuk menonton. Setelah berjalan sejenak, mereka pun sampai di lapangan sepak bola sekolah mereka. Anak-anak yang berniat untuk menyaksikan pertandingan itu segera mencari tempat duduk yang tepat di bangku penonton yang tersedia. Sementara itu, Daniel dan James memasuki lapangan dan mulai bersiap.

"Tunggu. Siapa yang akan menjadi wasit?" tanya James untuk mengulur waktu.

"Kurasa Jon mau," jawab Daniel sambil melirik ke arah Jon, salah satu dari anggota gengnya, yang duduk tak jauh dari sana.

"Itu tak adil! Dia 'kan temanmu!" protes James, "Kurasa kita harus pakai perempuan,"

Daniel berkata dengan nada menyindir, "Oh, pasti maksudmu Jenni. Tapi, dia 'kan temanmu!"

James memilih untuk diam dan tak berkata apa-apa. Tiba-tiba Daniel berkata dengan lantang, "Sofie," dia menunjuk Sofie yang berada di bangku penonton, "aku mau kau jadi wasit!". Sofie adalah teman sekelas Daniel dan juga tetangganya. Tapi, mereka bukan teman dekat dan hanya mengobrol jika sempat bertemu ataupun saat berpapasan di jalan.

James menyetujuinya dan Sofie pun memasuki lapangan untuk menjadi wasit sukarela. Sofie mengeluarkan sekeping koin dan mengundinya setelah Daniel dan James menentukan sisi mana yang mereka pilih. Hasilnya bola itu milik Daniel.

Segera setelah diberi aba-aba, ia langsung menggiringnya. Pergerakan Daniel yang cepat membuat James ketinggalan. Mengetahui hal ini, James segera melesat ke gawangnya dan berganti posisi menjadi penjaga gawang. Saat berbalik, James langsung menghadapi Daniel yang mendekat. Daniel menendang bola itu ke arah gawang dan James menendang bola itu balik (Di pertandingan ini tak boleh menggunakan tangan).

Daniel mengambil bola rebound itu dan menendangnya lagi ke arah gawang. Kali ini James tak bisa membendungnya dan ia pun kebobolan.

"1-0 untuk Olsen!" seru Sofie.

Daniel tersenyum puas sementara James hanya bisa menahan kekesalannya dalam hati. Ia menyesal telah membuang bola itu balik.

Mereka menuju ke tengah lapangan dan memulai pertandingan lagi. Kali ini James mendapat kesempatan untuk menggiring bola itu. Ia berlari menuju gawang Daniel, tapi bolanya langsung direbut Daniel dengan tekelan hebatnya. Daniel segera membuat serangan balik dan sedang membawa bola itu ke depan gawang James. James segera menyusul Daniel dan terus berlari ke gawangnya untuk jadi penjaga gawang.

Daniel menendang bola ke arah gawang James. James bisa menahan bola itu dan memanfaatkan kesempatan ini untuk membawa bola ke gawang Daniel yang tak terkawal. Ia menggiringnya dengan kecepatan tinggi. Setelah yakin tak bakal terkejar, ia menceploskan bola itu ke gawang.

"Pedersen mencetak gol. Kedudukan 1-1!" seru Sofie disambut sorakan gembira anak-anak.

Daniel menatap James dari jauh sambil bergumam tak percaya, "Dia ini striker, ya?"

Babak pertama usai dan suasana jadi riuh sekali. Saat James baru keluar dari lapangan, ia langsung dikerubungi oleh anak-anak lain. Mereka memberinya minuman, handuk, makanan kecil, juga pujian untuk menyemangatinya. Daniel menatapnya sinis, namun James terlalu sibuk dengan para pundukung barunya sehingga ia tak menyadari telah ditatap dengan sinis oleh Daniel.

Daniel bergabung dengan gengnya di sisi lain lapangan.

"Coba lihat anak itu! Semua anak menganggapnya seperti semacam dewa," kata Jon kesal.

"Baru seri saja sudah sombong. Dasar besar kepala," Chris menimpali.

Daniel mendesah, "Tidak, kalian tak mengerti. Dia hebat. Aku bisa saja kalah," lalu ia menghela napas, "Seandainya itu terjadi, aku akan keluar dari geng ini."

Anggota-anggotanya terkejut. Salah satu anggota bernama Alan bertanya dengan heran, "Kenapa?". Dan ada seorang lain yang berkata, "Kau 'kan pemimpin kita!"

"Ini soal harga diriku. Bagaimana mungkin penguasa sekolah seperti aku dikalahkan seorang anak bawang pada pertandingan satu lawan satu? Jadi jika aku kalah, aku akan keluar," kata Daniel.

Beberapa bisikan terdengar dan Alan dengan sedih berkata,"Kalau kau tak ada di geng ini, rasanya memang geng ini tak pantas untuk berdiri lagi,". Yang lain mengiyakan dengan tulus. Daniel tersenyum mendengarnya.

Babak kedua segera dimulai. Kali ini permainan jadi semakin serius. Pertahanan dilakukan dengan ketat dan penyerangan dilakukan dengan hebat.

Saat pertandingan bersisa beberapa menit lagi, dari jauh dan secara tiba-tiba, James menendang bola dengan keras dari tengah lapangan ke arah gawang. Semua terdiam, tak berani bersuara. Daniel kebobolan.

Sofie berkata dengan agak ragu karena ia belum memercayai matanya, "Babak kedua habis. 2-1 untuk Pedersen. Ya, benar! Pedersen pemenangnya!"

Semua anak-anak bersorak gembira. Mereka sekarang lega bisa lepas dari cengkeraman kekejian geng Daniel.

Tiba-tiba, perlahan tapi pasti, sorakan tadi menghilang ditelan bumi. Rupanya pelatih tim sepak bola sekolah itu ada disana, menonton pertandingan tersebut dari awal sampai akhir. Dan tak ada yang menyadarinya sampai saat ini.

"Daniel Olsen, James Pedersen. Kemari," perintahnya.

Mereka berdua takut-takut mendatangi pelatih. Tapi rupanya beliau tidak marah, "Olsen, kau hebat. Pedersen, kau fantastis! Kau seharusnya bergabung ke tim." Dan wajah James memerah karena gembira saat pelatih berkata, "Kau mau bergabung ke tim?".

James segera menjawab pelatih, "Tentu saya mau, Pak!"

Pelatih tersenyum, "Mungkin jika Olsen lulus tahun depan, kau bisa menggantikannya menjadi kapten,". James tersenyum. Pelatih melanjutkan, "Tanyalah pada Olsen kapan mulai latihan,". Setelah menepuk pundak James, pelatih pergi dari lapangan. Anak-anak yang mengetahui kemajuan ini bersorak lagi dengan gembira.

Daniel mengucapkan selamat pada James dengan dingin. James tersenyum kecil, lalu ia bertanya, "Kau takkan mengganggu Jenni dan yang lain lagi, 'kan?"

"Tentu. Geng kami telah bubar." Daniel beranjak pergi dari James dan bergegas pulang.

James ternganga sejenak sebelum bertanya lagi, "Kapan?"

Daniel berbalik dan menatap James dengan agak bergaya, "Sejak aku kalah 2-1 darimu," ia berbalik lagi dan melanjutkan lagi perjalanannya.

Setelah keluar dari gerbang sekolah, Daniel merenung dan teringat kejadian saat dia kelas 3 SD. Saat itu, pelatih memintanya bergabung dengan tim sepak bola SD itu. Tapi Daniel menolaknya dengan cuek, "Aku tak mau. Aku mau jadi bos gangster saja,"

Pelatih membujuknya lebuh keras lagi, namun Daniel tetap enggan untuk masuk. Tapi pelaith tak kehabisan akal, "Kalau kau mau jadi bos gangster, kau harus mencari anak buah dulu. Apa kau sudah memiliki pengikut, meskipun hanya satu saja?"

Daniel terdiam. Pelatih benar. Ia harus memiliki pengikut dulu untuk jadi bos gangster. Sementara belum ada yang mau menjadi pengikutnya.

"Kalu kau mau masuk tim, kau akan jadi populer dan semua anak akan ingin menjadi pengikutmu," kata pelatih.

"Memang semudah itu?" tanya Daniel sok tak peduli.

"Tentu. Dengar, kapten baru saja mengundurkan diri. Kalau kau mau bergabung, kau akan kuangkat jadi kapten tim. Kau tau 'kan betapa populernya kapten tim kita?". Daniel menjawab dalam hati, "Tentu ia amat populer!".

Maka dari itu, ia bergabung ke tim sepak bola SD-nya. Nyaris semua kompetisi mereka menangkan. Dan pelaith benar, ia jadi populer dan dengan mudah mendapat pengikut.

Sekarang tanpa disangka, seorang anak kelas 4 SD yang sama sekali tak berpengalaman di bidang sepak bola mengalahkannya dalam pertandingan satu lawan satu.

Ia menendang sebuah batu di jalan dan menggeram kesal. Ia tak punya minat sama sekali pada sepak bola sekarang.

Tiba-tiba, hujan rintik-rintik turun. Daniel menghela napas, ia tidak membawa payung. Ia selalu beranggapan bahwa seorang laki-laki, apalagi bos gangster sepertinya, tak pantas membawa payung. Ia pun tetap melanjutkan perjalanannya seperti tak terjadi apa-apa.

Saat sekilas ia melihat ke arah pohon besar, ia melihat ada seekor burung, seukuran burung gereja, berwarna merah bertengger pada salah satu ranting yang berada tak jauh darinya. Burung aneh itu menatapnya tepat di matanya. Warna merah sungguh tak biasa untuk burung semungil dia. Daniel berhenti dan menatap burung itu balik.

"Jangan putus asa, calon bintang," kata burung itu lembut. Suaranya agak nyaring dan tinggi.

Daniel terkejut mengetahui burung itu berbicara, "Aku pasti sudah gila,"

Burung itu berkata lagi, "Tidak. Kau tidak gila. Tak ada anak sinting yang bisa bermain bola sehebat kau. Saking hebatnya, kelak kau akan jadi bek termahal se-Denmark,"

Daniel menyangkal, "Tidak mungkin! James saja bisa mengalahkanku dengan mudah,"

"Itu karena James punya takdir yang besar juga. Tapi urusanku di sini adalah denganmu. Karena kita akan bertemu lagi nanti,"

"Sungguh? Lalu aku akan menjadi bek termahal se-Denmark?" harapan Daniel, entah kenapa, menjadi membuncah lagi.

"Tentu. Asal kau tak pernah meyerah dan terus berusaha, kau bisa jadi bek—bukan bek saja, tapi juga pemain—termahal se-Denmark,"

Daniel tertegun mendengarnya. Ia tiba-tiba yakin bahwa ia memiliki takdir di sepak bola. Bukan hanya takdir biasa, namun takdir yang luar biasa.

Di tengah lamunannya, suara Sofie mengagetkannya, "Dani! Kau basah! Ayo, sini, pulang denganku. Aku bawa payung," ajaknya.

Daniel ikut berlindung tanpa kata ke bawah payung Sofie. Sofie mengajaknya bicara, "Apa yang habis kau lakukan tadi? Menatap pohon dengan aneh di tengah hujan begini?"

"Tadi aku melihat burung merah," jawab Daniel santai.

"Benarkah?" tanya Sofie antusias. Ia berlari ke pohon dan mencari, "Dimana?"

"Tadi dia ada disana," tunjuk Daniel ke ranting yang tadi disinggahi burung itu. Rupanya sekarang ia telah pergi.

Sofie berhenti mencari dan berjalan lagi, "Ah, mana ada burung seperti itu di tempat seperti ini? Jangan membohongiku, Dani,"

"Tapi tadi dia benar-benar ada disana!" Daniel berusaha menjelaskan, "Ia bicara padaku. Dia juga bilang bahwa aku akan jadi pemain bola termahal termahal se-Denmark,"

"Aduh, Dani," kata Sofie sambil menggeleng, "Kurasa kau sudah mulai sinting!"