| Knocked up |

Pair: TYL0514!

Author: 12

Rate: M

Category: Romance, Comedy

A/N: Time setting adalah TYL (10-years-later) yang berarti Kevin dan Saga sama-sama berusia 29 tahun! Fuck yeah! Viva long lasting relationship!

Disclaimer: This story belongs to Shinobi Famiglia! But Tenma and Saga belongs to each other. For real! Fiction only (though I hope it could turn into real)

Warning: boy x boy, M-preg! :D

Don't like, don't read! I'll kill you if you dare to bash this awesome pairing!


Chapter 20: Daddy Kev


Bukan pertama kalinya Mao, Midou, Kevin dan Saga duduk berhadap-hadapan untuk mendiskusikan sebuah masalah. Nyatanya saat menghadapi suatu masalah, mereka sering saling bertukar pikiran untuk mencari jalan terbaik bersama-sama.

Namun kali ini berbeda. Tidak ada dialog yang terbentuk diantara mereka berempat.

Midou menopangkan dagu dengan kedua punggung tangannya sembari menundukkan kepalanya. Mao menghisap putung rokok di tangannya sambil melihat ke arah yang lain, begitu juga Saga. (Tapi tentu saja minus rokok di tangan, ia kan tidak merokok.)

"Bukannya gue sama Saga nggak mau cerita soal ini," Kevin memulai pembicaraan, memecahkan keheningan yang ada. "Tapi gue sama dia nunggu waktu yang tepat buat cerita ke kalian."

"Terus? Menurut lo kapan waktu yang tepat buat cerita? Kalau bayinya udah lahir nanti?" tanya Mao pelan namun sarkastik.

Kevin menghela nafas. "Bukannya gitu, tapi lo juga harus pikirin dari sisi Saga juga dong. Emangnya lo kira gampang ngomong masalah kayak gini mendadak?"

"Jadi… Saga udah hamil sejak 3 bulan yang lalu? Makanya kalian jarang banget dateng ke acara Shinobi? Karena Saga lagi morning sick?" tanya Midou, merepitisi penjelasan Kevin. Mendapati anggukan pelan dari Kevin, Midou kembali melanjutkan kata-katanya. "Astaga Te-chan! Kenapa hal sepenting ini lo nggak buru-buru ceritain ke kita coba?"

"Gue udah bilang kan, ngomong gini nggak gampang. Butuh momen yang pas." jawab Kevin sedikit membela diri.

"Iya, tapi momen yang pas itu nggak harus nunggu pas kehamilannya Saga udah 3 bulan kan? Nggak perlu nunggu selama itu!"

"Ya makanya gue bilang bang, coba pikirin dari sisi Saga. Lo kan tahu Saga, dia mana mau sih buat kalian susah? Lo tahu kan dia keras kepalanya gimana? Gue juga udah coba bujuk dia buat ngomong ke kalian, tapi—"

"Sorry."

Satu kata yang terucap dari mulut Saga menginterupsi kelanjutan kalimat Kevin. Dalam sekejap 3 pasang mata lain yang ada di dalam ruangan serentak tertuju padanya.

Saga menundukkan kepalanya, padangannya terarah kepada perutnya.

"It's not because I don't trust you or anything. It's just…" Saga menghentikan kalimatnya sejenak sebelum akhirnya meneruskannya. "Honestly I feel like a weirdo. I mean, how many man could actually got pregnant ? I just…"

Saga menghela nafas panjang. Ia terlihat bingung memilih kata yang tepat untuk menjelaskan situasinya. "…So, what I'm trying to say is… I just don't ready to accept the fact by telling you guys. …I'm sorry."

Midou dan Mao tidak perlu kata-kata untuk sepakat menutup topik itu.

"Yaudah, yang penting sekarang kita udah tahu." ujar Midou mengakhiri. "Terus gimana? Lo mau ngomong ke leader sama yang lainnya kapan?"

"Gue rasa leader harus tahu. Kalau yang lainnya terserah, nyusul juga nggak apa-apa kalau emang lo belum ngerasa nyaman cerita soal ini ke anak-anak yang lain." sahut Mao menimpali.

Kevin melirik ke arah Saga, ikut menunggu jawaban dari kekasihnya. "Gimana Belle? Lo maunya gimana? Mau bilang ke leader?"

"…I'll tell him. But the rest of Shinobi… I don't think I'm ready to tell them."

"Yaudah, leader aja dulu. Itu yang penting." ujar Midou. Ia terdiam sejenak lalu melihat ke arah perut Saga. "Ngomong-ngomong lo beneran nggak apa-apa? Lo jatuh gitu tadi. Lo yakin nggak mau ngecek ke dokter dulu?"

"Iya Ga. Baru 3 bulan kan? Kandungan lo masih rawan."

"…What the fuck is wrong with you guys? Don't treat me like a woman." protes Saga tidak terima. "Beside, it was just a small bump. No big deal at all."

"Bukannya gitu Saga, tapi kan lo tahu sendiri kalau kandungan itu rawan. Lo mungkin nggak apa-apa, tapi bayi yang lo kandung? Tadi kena sikutnya Te-chan juga kan? Yakin nggak mau ke dokter?" tanya Midou setengah membujuk.

"Gue nggak apa-apa, jadi nggak perlu ke dokter segala." ujar Saga masih ngotot. Sifat keras kepalanya memang sama sekali tidak berubah semenjak 10 tahun yang lalu.

Midou menghela nafas panjang, lelah beragumen lebih lanjut dengan Saga. Percuma saja dilanjutkan, seluruh dunia tahu kalau seorang Saga Masamune yang sudah ngotot tidak akan mengubah pendiriannya.

"Yaudah kalau emang lo ngerasa nggak apa-apa. Tapi sekarang lo mendingan istirahat di kamar. Gue sama Midou juga mau cabut." ujar Mao sambil mematikan putung rokoknya. Ia pun mulai beranjak bangun lalu melirik ke arah Midou. "Yuk, kita mendingan pulang."

Midou pun ikut bangun. "Yaudah gue balik dulu ya Ga. Kalau ada apa-apa, lo bilang ke kita-kita. Kalau ada masalah jangan disimpen sendiri. Kebiasaan tuh kayak gitu." ujarnya sambil nyengir dan mengacak-ngacak rambut Saga.

Saga menampik tangan Midou dengan wajah setengah tertekuk. "Apaan sih lo, lo pikir gue masih anak kecil?"

Kevin tertawa pelan. "Udah mau jadi 'mommy' sih udah bukan anak kecil lagi ya?"

Pemilihan kata yang salah.

Sedetik setelahnya sebuah bantal mendarat tepat di wajahnya. Pelakunya? Sudah jelas kekasih tersayangnya: Saga.

"Aduh! Sakit woi! Gila! Kena mata nih! Mata gue masih melek udah disambit sama bantal! Anjirlah!" jerit Kevin heboh. Dia menghampiri Mao lalu bertanya, "Eh, mat ague merah nggak?"

Mao melihat sebentar lalu meniup mata Kevin. "Udah nggak usah heboh, nggak apa-apa kok itu." ujar Mao santai.

"Aduh! Tapi sakit banget! Belle tega banget!"

Bukannya malah bersimpati, Midou malah ikut-ikutan menimpali, "Te-chan ih udah mau jadi papa masih aja heboh kayak anak kecil. Malu dong tuh sama umur."

"Ah tai, ini lagi malah ngatain. Bukannya malah prihatin gue disambit bantal!"

"Bagus cuma gue sambit pake bantal, bukan pake vas bunga." sahut Saga mengintimidasi.

Kevin menggeleng-gelengkan kepalanya. "Gini nih kalau punya pacar mantan preman."

Midou dan Mao tertawa kecil, geli melihat tingkah Saga dan Kevin yang masih sama seperti dulu. Setelah itu mereka pun melangkahkan kakinya keluar pintu.

Midou langsung melangkahkan kakinya pergi ke arah lift sementara Saga melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar. Kevin dan Mao masih berdiri berhadapan di depan pintu apartement kamar 1405 itu.

Sesaat sebelum Kevin menutup pintu apartementnya, Mao menarik tangannya.

"Lo udah siap?" tanya Mao terdengar serius.

"Huh? Maksud lo apa?" tanya Kevin balik, raut wajahnya terlihat bingung. "Siap apaan?"

"Maksud gue lo udah siap punya anak?" jawab Mao memperjelas. "Ngebesarin anak itu tanggung jawabnya gede, nggak main-main. Jangan cuma mikirin senengnya doang, banyak susahnya dan nggak sesimpel itu juga." lanjutnya.

Kevin tersenyum geli lalu mengacak-ngacak rambut Mao.

"Nae dongsaeng, gue udah siap ngejalanin apa pun asal sama Saga. Seberat apa pun itu, gue siap. Lagian punya anak sama Saga—apalagi bukan anak adopsi, itu udah kayak mimpi banget buat gue." Kevin tersenyum lembut lalu melanjutkan kata-katanya. "This child will make my life just perfect."

Mao balik tersenyum tipis lalu berbalik dan melangkahkan kakinya ke arah lift.

"Well, good luck with that, 'daddy' Kev." ujarnya setengah menyindir.

Kevin nyengir lebar sebelum akhirnya menutup pintu apartementnya.

-To be continue-