Mentari senja membiaskan cahaya indah membuat gadis itu tenang. Duduk di pasir sambil melihat senja dan air menerpa kakinya lembut. Dia sangat suka di sini. Sunyi dan tenang.

Sering kali aku melihat gadis itu di sini. Aku hanya bisa menatapnya tak berani mendekatinya. Pandangan gadis itu seolah kosong, menatap jauh.

Gadis itu menarik perhatianku. Dia adalah teman kelasku yang selalu ceria, namun hanya aku sisi lainnya di luar sekolah. Dia suka menatap jauh, seakan menatap sesuatu yang tak dapat diraih. Dia terlihat rapuh, suram.

Ingin rasanya kudekap dirinya, menghangatkan hatinya, mengisi kekosongan dirinya. Namun rasa malu dan takutku mengalahkan segalanya. Aku terlalu malu dan takut untuk mendekatinya. Aku memang seorang pengecut yang hanya memandang gadis yang berharga untukku dari kejauhan.

-

Pagi ini gadis itu terlihat ceria lagi, seolah sifatnya di luar sekolah itu tidak pernah ada. Dia terlalu tersenyum, namun aku tau senyum nya rapuh. Dia kuat, namun itu hanya luarnya saja. Dia lemah, aku tau itu.

"Zara, aku iri padamu," Kata teman gadis itu kepadanya.

"Haha, kenapa?" Kata gadis itu sambil tertawa. Tawa palsu, ya itu tawa palsu.

"Kau selalu tersenyum, aku juga ingin seperti itu," kata temannya.

Gadis itu hanya tersenyum. Senyum manis yang menyembunyikan sesuatu. Senyum itu manis namun miris. Pandangannya kembali menatap jauh, membiarkan kekosongan melanda dirinya.

"Zara, ke kantin yuk," Kata temannya lagi.

Gadis itu kembali ke dunia nyata, menyadarkannya dari lamunannya. Zara nama gadis itu, nama yang indah seindah wajahnya.

"Hei bro, lo naksir Zara? Dari tadi ngeliat dia mulu," kata sahabatku, Rio.

"Haha, dia menarik bro. Gue nggak tau gue suka dia atau nggak, tapi gue benar-benar tertarik untuk mengenalnya lebih dalam, mengetahui dia sebenarnya," kataku.

"Itu namanya cinta. Lo nggak pernah jatuh cinta bro? Parah lo," kata Rio. Aku hanya tersenyum penuh arti.

(Kantin)

Aku menyuapkan makananku sambil menatap Zara. Saat temannya tidak mengajaknya bicara, dia kembali menatap jauh, memikirkan sesuatu. Aku terus menatapnya, memperhatikan wajahnya yang cantik. Ya, dia cantik dengan wajah oval, hidung mancung, mata bulat, dan bibir tipisnya.

"Dekatin dia lah bro," kata Rio sambil tersenyum penuh arti. Aku tidak menghiraukannya, aku masih asik menatap Zara. Tak kusadari Rio sudah berada di sebelah Zara. Aku menatap mereka bingung. Rio melakukan perbincangan dengan Zara yang entahlah aku tak mendengar. Lalu Rio menyuruhku duduk di depannya, aku hanya mengikutinya.

"Zara, ini Tomi. Dia penasaran sama lo," kata Rio. Aku menatap Rio penuh rasa kesal. "What?" Kata Rio kepadaku tanpa rasa dosa.

"Penasaran kenapa, Tom?" Tanya Zara sambil tersenyum manis. Tapi aku tau, senyum itu tidak dari hati.

"Eh em, nggak kok," kataku gelagapan.

"Dia bilang, lo menarik perhatiannya. Dia pengen kenal elo lebih dekat. Dia naksir elo mungkin," kata Rio langsung membocorkan segalanya. Aku menginjak kakinya dan benar saja wajahnya langsung memasang mimik kesakitan.

"Aku adalah aku Tom," kata Zara sambil tersenyum, senyuman yang sama. "Aku itu gadis yang payah Tom, sebaiknya kau jangan menaksirku dari pada kau menyesal," lanjutnya sambil tersenyum miris. Aku terkejut mendengarnya, jelas saja aku langsung sakit hati mendengar kata-katanya tadi. Rio menatapku merasa bersalah. Aku hanya diam dalam kepedihanku.

-

Sore ini, Zara berada di pantai lagi dengan kekosongan yang memenuhi dirinya. Kali ini kuberanikan diri untuk mendekatinya.

"Aku bingung Zar," kataku tepat di sebelahnya lalu duduk di sampingnya.

Dia terkejut melihat kedatanganku, dia lalu memasang senyum palsunya lagi, "Kenapa bingung Tom?" Tanya Zara.

"Kau hidup dalam kebohongan, kau menipu dirimu sendiri untuk selalu tampil ceria, kau memasang senyum palsumu, tertawa padahal hatimu tidak. Aku tau kau rapuh, Ra. Aku tau kau selalu menatap jauh memikirkan sesuatu. Aku bingung, bagaimana kau bisa tahan akan semua itu. Kau seharusnya perlu orang untuk menyanggamu," kataku sambil menatap matanya yang mengatakan kepedihan yang mendalam.

Dia tersenyum miris padaku, "aku tidak butuh seseorang. Aku bisa hidup dengan caraku sendiri. Harap kau jangan mencampuri urusanku Tomi." katanya lalu pergi meninggalkanku.

Aku terdiam memandang laut. Angin laut menerpa wajahku begitu sejuk. Air laut menyentuh jemari kakiku lembut. Memang, tempat ini benar-benar tenang. Aku terhanyut dalam lamunanku. Apakah aku memang salah? Apakah aku terlalu mencampuri urusannya? Tapi aku tidak bisa membiarkan dia dalam kepedihan tanpa seseorang yang menggandeng tangannya agar dia lebih kuat untuk melangkah.

-

Pagi ini aku menunggu Zara datang. Aku benar-benar ingin mengenalnya, aku ingin mempelajari tentang dirinya, aku ingin masuk dalam hidupnya.

Tak lama, datang seorang gadis mungil dengan rambut gelombangnya.

"Pagi Zara," sapaku pada gadis itu. Dia hanya diam tak menghiraukanku. "Ra, kok diam?" Tanyaku.

"Tomi, kau lupa dengan kata-kataku kemaren? Jangan campuri hidup ku," katanya menatapku sinis. Ya, aku baru pertama kali melihat ekspresinya yang benar-benar dari tadi. Aku tersenyum melihatnya.

"Akhirnya kau bisa mengeluarkan ekspresimu ya Ra," kataku. Dia lalu menatapku dengan lebih sinis. Kemudian dia pergi meninggalkanku. Aku tersenyum.

(Pelajaran)

Aku memperhatikannya dari kursi belakang, menatap wajahnya yang lembut tersenyum manis namun palsu. Dia begitu cantik.

"Anak-anak, kita akan memilih pengurus kelas untuk festival budaya nanti. Satu orang lelaki dan satu orang wanita," kata guruku membuyarkan lamunanku.

Rio tersenyum menatapku, "Pa, saya punya calon," kata Rio. Perasaanku sedikit tidak enak melihat ekspresinya saat itu.

"Ya? Siapa?" Kata guruku.

"Rio sama Zara pa," kata Rio sambil tersenyum licik ke menatapku.

"Kalian semua setuju?" Tanya pak guru, semuanya menyetujui karena mereka tak mau repot untuk menjadi pengurus kelas. Kupandang Zara, kulihat dia tersenyum. Aku tau senyum itu palsu, dia terlihat kesal sebenarnya.

-

Aku dan Zara terlambat untuk pulang karena harus mengikuti rapat pengurus kelas.

"Ra, mau bareng pulang?" Tawarku sambil tersenyum.

"Nggak, makasih," katanya tidak menatapku. Apakah aku begitu salah mencampuri urusannya?

Kutarik tangannya, "Ra, maaf aku terlalu mencampuri hidupmu. Aku hanya ingin jadi penopangmu Ra, aku ingin menjadi pelampiasan kepedihanmu, aku ingin menjadi tempat yang nyaman untukmu Ra," kataku. Dia terdiam sejenak.

"Kau tidak tau betapa sakitnya aku, betapa lamanya aku menahan rasa pedih ini." Katanya sambil berlinang air mata. Dia menangis, di depanku. Dia tidak tahan menahan emosinya, dia memang perlu penopang.

Kupeluk dirinya, kudekap dirinya agar dia tenang, "ceritakan lah Ra, yakinlah hal itu akan membuatmu tenang," kataku.

"Aku nggak bisa Tomi." Katanya melepas pelukanku. "Aku ingin pulang, jangan pernah mendekatkan dirimu Tomi. Kau tidak tau betapa buruknya aku" lanjutnya. Aku sedikit bingung dengan maksud perkataannya.

Dia lalu berjalan pergi meninggalkanku. Selalu aku yang ditinggalkannya. Apakah begitu berat masalah yang dihadapinya.

-

Hari ini rapat kedua pengurus kelas. Kesempatan untukku agar aku dapat mendekatkan diri padanya walaupun jarak diantara kami sudah terlampau jauh.

Setelah rapat selesai, aku mendekatkan diri padanya. "Ra, maksud kau yang lalu itu apa? Kenapa kau bilang jika aku ingin selamat aku tidak boleh mencampuri urusanmu?" Tanyaku.

"Tom, sudah kubilang jangan campuri hidupku. Aku nggak mau kau celaka," katanya sedikit dingin padaku.

"Aku siap dengan semua resiko yang akan kudapat kelak. Ceritakanlah padaku," kataku.

Dia menghela nafas lalu duduk di sebuah kursi. Aku mengikutinya dan duduk di sebelahnya. "Tomi, aku lahir dari keluarga yang berantakan. Ayahku dijodohkan oleh ibuku yang sudah memiliki 1 anak karena masalah politik. Ayahku tidak mencintai ibuku dan tidak bisa mencintainya. Ayah sering pulang larut dan akhirnya ayah memakai narkoba karena dia stres," Katanya. Keluar bulir-bulir air mata dari mata indahnya.

"Ibu yang sudah mulai mencintai ayah mulai merasa sakit hati akan kelakuan ayah yang memakai narkoba dan sering membawa wanita ke rumah." Katanya terisak.

"Sampai puncaknya, kakaku marah sekali melihat ibu yang bunuh diri karena sakit hati. Malam itu aku terbangun dan ingin tidur dengan ayah. Tetapi, aku menghentikan langkahku tepat di depan pintu kamar ayah yang terbuka. Kakak yang kusayangi menusuk perut ayahku dan mengoyak isi perut ayah. Kakak menghancurkan kepala ayah dengan batu sampai benar-benar hancur. Ayah... Ayah..." Ceritanya. Dia tidak melanjutkan ceritanya, dia tak sanggup. Aku memeluknya, membelai punggungnya dengan lembut.

"Tenang Zara, aku ada untukmu," bisikku di telinganya. Dia begitu rapuh, benar-benar rapuh. Dia lemah, dia tidak kuat, dia sendirian, dia kesepian.

"Dan kau tau, mengingat itu semua membuat hasratku meninggi." Katanya dengan suara seraknya. Aku bingung menatapnya. Tiba-tiba saja aku berasa gelap.

Kubuka mataku pelan-pelan. Ternyata tanganku sudah terikat, tak bisa digerakkan, begitu juga kakiku. Kutatap orang yang sedang berdiri di depanku. Wajah itu tersenyum iblis.

Zara, wajahnya yang manis berubah menjadi wajah setan kecil yang tengah kelaparan.

"Tomi, Tomi, Tomi. Tomi si tukang ikut campur. Sudah kubilang jangan mencampuri urusanku manis. Kau telah membuatku mengungkit masa lalu yang membuatku berhasrat untuk menyentuh tubuhmu dengan benda tajam ini yang akan mengoyak-ngoyak tubuhmu," Kata Zara tersenyum sambil memegang sebuah pisau yang terlihat tajam.

"Apa maksudmu Ra? Aku nggak paham," tanyaku sedikit ketakutan.

"Dongeng ku tadi belum selesai loh manis," katanya. Aku menatapnya bingung. "Setelah melihat kakaku membunuh ayah tercintaku, aku mendekat pada kakaku lalu kupeluk dirinya. Dia menjatuhkan pisau dan memelukku balik. Aku tau kakakku begitu sayang padaku. Aku lalu mengambil pisau itu dan menikamnya dari belakang, kucongkel kedua matanya lalu kupotong bibirnya yang tipis. Kusayat ujung hidungnya hingga tak berbentuk. Kuiris telinganya hingga putus. Kupotong jari-jarinya." Lanjutnya.

"Sayang waktu itu aksiku tidak selesai karena polisi sudah memasuki rumahku. Entah bagaimana cara polisi itu masuk. Mereka tidak bisa memenjarakanku karena aku masih kecil. Mereka membawaku ke pusat rehabilitasi. Kau tau, pandanganku kosong sering kali karena mengingat kenangan ku tentang betapa gilanya aku dulu yang sebenarnya sudah terkunci ini. Semua ingatan tentang aku yang membunuh kakaku itu hilang sudah." Katanya. Aku terhenyak mendengar kisahnya.

"Lalu kau datang Tomi. Membawakan kunci memoriku. Kau terus menanyaiku. Pandora box ku terbuka tadi, dan itu semua karenamu. Bersiaplah Tomi, untuk kujadikan barang koleksiku," Katanya tersenyum mengerikan.

"Ini di sekolah Zara. Ka... Kau tak bisa membunuhku. Kau akan dipenjara seumur hidup Zara." Kataku ketakutan. Gadis ini ternyata benar-benar mengerikan, setan kecil yang manis.

"Aku tidak peduli sayang. HAHAHA," katanya.

Dia lalu menyayat pipiku, sungguh sakit rasanya. Lalu dijilatinya luka di pipiku yang dibuatnya tadi. Kalian tau? Luka saat dijilat benar-benar terasa sakit. Zara lalu memotong jari ku satu persatu. Aku berteriak, tentu. Sakit sekali rasanya, sakit sekali saat pisau itu mulai penyentuh kulitku perlahan.

"Rasakan kenikmatannya baby," katanya tersenyum licik.

"Kau gila!" Kataku.

Zara lalu menyayat bibirku hingga luka. Dia tertawa melihatku yang meringis kesakitan.

"Akan kuhilangkan rasa sakitmu," Katanya.

Lalu terasa sangat amat teramat luar biasa sakit di bagian perutku. Samar-samar kulihat banyak darah keluar dari perutku. Dan akhirnya semua tampak gelap.

TAMAT