"halo?"

dan jariku terlilit di kabel telepon
bibirku telah disentuh es
kaki meraba lantai keramik
meyakinkan diri bahwa dunia telah berhenti
ketika bayangan bibirmu yang terbuka
melayang di hadapanku
meski di telinga terdengar
suara embusan napas
terputus-putus

"halo?"

aku sudah tak sanggup
suaramu terlalu indah
membuatku ingin menangis
sekaligus tertawa
karena aku hanya bisa
mendengar embusan napas statis
dan mengikuti bayanganmu
di lorong sekolah;
dan aku sudah merasa seperti
anak kecil mendapat permennya

"halo?"

sambungan telepon pun terputus
dan kakiku meraba lantai lagi
meyakinkan diri bahwa dunia sudah mulai
berputar seiring
napas dan suaramu tak bergema lagi
di telingaku