| When you say nothing at all |


Pair: 0514

Author: 28

Rate: T

Category: Drable

A/N: Karena mereka berdua itu… sesuatu banget. hahahahaha!

Disclamer: This story belongs to Shinobi Famiglia! But Tenma and Saga belongs to each other. For real!

Warning: Shounen ai (boy x boy)

Don't like, don't read! I'll kill you if you dare to bash this awesome pairing!


Dalam keheningan, hanya kesunyian yang datang menemani. Namun terkadang hening pun memiliki caranya untuk bercerita. Atau setidaknya memiliki makna. Kadang hanya berupa implikasi, kadang ambigu. Tak tentu.

Untuk Saga, hening berarti ketenangan. Diam yang berarti emas.

Tidak ada risuh yang mengganggu. Dalam tenang, ia damai. Wajarlah hening memiliki makna positif untuknya.

Sedangkan untuk Tenma, hening berarti kegelisahan.

Saat tidak ada kata yang mengalir, maka tidak ada cerita untuk dimulai. Tidak ada awal, apalagi akhir. Bagaimana ia dapat mengerti? Dalam keheningan, ia resah. Resah yang berarti tidak menenangkan. Ia tidak menemukan damai dalam keheningan. Dan itu berarti negatif untuknya.

Keheningan yang sama dapat memiliki makna yang berbeda. Positif dan negatif. Damai dan resah. Tergantung perspektif siapa yang dilihat dan sudut pandang mana yang diambil.

Ketika pertengkaran diantara Saga dan Tenma tidak dapat dihindari, keheningan datang menghampiri keduanya tanpa perlu diundang. Barisan kata dikunci rapat, secara serentak menginvasi tempat kejadian perkara dengan kesunyian.

Detik demi detik berlalu—lebih lambat menurut Tenma.

Ia benci kesunyian. Ketika lawan bicaranya (dalam kasus ini pacarnya) memulai aksi mogok bicara yang melahirkan kesunyian, rasanya awal dari masalah Tenma dimulai.

Oh Tuhan, tidak bisakah mereka berdua saling mencaci maki saja? Bukan tanpa maksud ia ingin merendahkan atau melecehkan Saga, tapi setidaknya dengan begitu mereka saling berbicara kan?

Dalam setiap kesempatan sembari mengemudikan mobil Honda CRV hitam miliknya, Tenma melirik ke arah Saga. Menunggu sang kekasih memecahkan kesunyian yang ada. Namun Saga memilih tidak. Ia diam saja, menikmati keheningan yang menyiksa Tenma.

Tenma menghela nafas. Gantian Saga yang melirik ke arahnya. Masih belum tercipta dialog diantara keduanya. Namun sudah ada kontak yang terjalin.

Mata dan mata saling bertemu. Saling memandang. Saling memantulkan sosok satu dan lainnya. Mereka terdiam cukup lama hanya untuk saling mengamati satu sama lain. Lalu keduanya sama-sama menarik senyum simpul.

Keheningan yang tercipta tadi cukuplah untuk menjadi sebuah jeda. Menjadi sebuah spasi singkat untuk keduanya. Jeda dan spasi yang kemudian melahirkan kinetisitas.

Karena tidak peduli seindah apa pun rangkaian kata yang ada, tidak akan ada artinya apabila tiada spasi. Dan tidak peduli sebebas apa sebuah massa, tidak akan bisa bergerak tanpa adanya ruang. Begitu terciptanya ruang, barulah kita bisa bergerak, betul?

Saat kita dapat bergerak, maka kita bebas. Tidak ada yang dapat membelenggu. Apalagi sekedar masalah, persetan dengannya!

Bagi Saga, keheningan itu sebuah ketenangan. Ketenangan yang berarti kedamaian. Dalam damai ia dapat berfikir ribuan kali lebih jernih. Menghapus ego lalu kembali ke duduk persoalan dan melihat problema secara objektif.

Bagi Tenma, keheningan itu sebuah keresahan. Resah yang berarti ketidakpastian. Dalam resah, Tenma banyak mengintrospeksi dirinya. Mencoba berfikir ulang dan menganalisis dimana letak kesalahannya dan dengan segala kerendahan hati yang ada mencoba untuk meminta maaf.

Karena itu bagi keduanya, keheningan itu adalah penyelesaian.

Emosi Saga yang sebelumnya meledak perlahan menguap pergi. Meditasi dalam keheningan dengan durasi yang tidak bisa dibilang singkat itu sudah cukup mendinginkan kepalannya. Sebagai tambahan, melihat Tenma cukup stress menghadapi kesunyian yang ada sudah cukup menghiburnya.

Ketidakpekaan Tenma yang memancing emosi kekasihnya pun hilang oleh introspeksi selama keheningan itu berlangsung.

Dalam sunyi yang tak terinfeksi rentetan kata, keduanya tersenyum.