Ada timer terpasang di dinding di belakang gadis yang bergetar di pikirannya, menunjukkan sepuluh detik menuju―entahlah, ia tak tahu. Cahaya yang terpancar dari timer itu menyilaukan. Matanya sempat buta selama lima detik sebelum ia mengerjapkan mata, melihat sekilas sebotol aspirin di tangan kiri gadis itu dan ponsel di tangan kanannya. Lalu ada air mata yang menggantung di ujung bulu mata sang gadis, tak kunjung jatuh karena menunggu momen yang tepat.

Dan ketika setetes air mata itu jatuh, timer berhenti.

Dinding platinum di belakang gadis itu runtuh. Di baliknya ada hati berwarna pucat; retak di sana-sini, ditutup dengan selotip, lem menyelusup keluar dari lubang-lubang kecil yang tersebar di seluruh kulitnya.

Hati itu halus dan goyah dan rapuh. Entah mengapa ia merasa kalau ia menyentuh hati itu dengan jari telunjuk, hati itu akan jatuh ke tanah dan pecah seperti porselen Cina, jadi ia berusaha menelan rasa penasarannya akan menyentuh hati itu, merasakan kehalusan dari hatinya.

Ia melihat gadis itu bergerak menuju hati besar yang rapuh. Jejak sepatu tertinggal di lantai. Aspirin dan ponsel dibanting ke tanah. Suara debumnya menggema dan merasuki kulitnya.

Gadis itu menyentuh hati, memberi satu belaian sehalus sutra. Hati itu langsung bergetar; pasir-pasir jatuh ke atas kepalanya. Ia mulai berteriak, mencoba untuk menyuruh sang gadis agar pergi dari tempat asing dan aneh itu.

Akan tetapi gadis itu menggeleng. "Sudah waktunya bagiku untuk jatuh."

Seketika itu juga, hati itu jatuh menghantam sang gadis. Darah merembes keluar dari celah-celahnya.

Ia membuka mulutnya lebar-lebar; raungan maskulin membelah langit cerah.


Daru membuka matanya lebar-lebar, berusaha menangkap pemandangan apa saja yang menurutnya terlihat begitu realistis: wajah-wajah bahagia, lekuk tubuh perempuan, materi yang mengotori papan tulis. Ia memaksa paru-parunya untuk menampung lebih banyak oksigen sementara tubuhnya bergetar, wajah menegang, matanya berkedut.

Perasaan bersalah dan mimpi buruk sialan. Rasanya, efek samping dari menerima SMS Elisa terlalu banyak.

Ia berusaha menenangkan diri. Tiga kali tarikan napas panjang akan merapikan kerutan-kerutan di wajahnya, membelai perasaannya, dan berbisik bahwa semuanya akan baik-baik saja. Ya, semuanya akan baik-baik saja.

"Hei, Daru, lo kenapa? Muka lo kayak lihat Medusa." Sebuah suara muncul dari pojok kelas. Daru mendongakkan kepala, tak mengenal suara yang seharusnya familier―pasti gara-gara kepalanya mulai pusing.

Di pandangannya ada cowok beralis tebal, wajahnya kadang membuat ia jengkel, tapi kali ini tidak karena wajahnya sekarang telah menariknya keluar dari mimpi buruk tadi. Lagipula, dua jerawat besar yang muncul di hidungnya cukup membuat wajah temannya itu terlihat jelek, membikin pita suaranya tergoda untuk membuat suara tawa yang lebar.

"Hai, Kafka," sapa Daru kepada temannya sambil mengangkat tangannya dengan lemah. "Iya nih, gue emang habis lihat Medusa."

Kafka mengangkat alis. "Hah? Di mana?"

Daru menunjuk hidung Kafka. "Tuh, jerawat di hidung lo. Sumpah besar banget kayak kepalanya Medusa."

"Wah, lo lagi cari gara-gara, nih!" teriak Kafka, mengundang tawa dari Daru. Kafka pun berjongkok di depan meja Daru. "Tapi, gue serius nih. Tumben lo tidur nggak ngiler. Kan biasa ada iler di ujung mulut lo. Mimpi buruk, ya?"

"Sort of," jawab Daru, terdengar tak yakin.

Kafka sama sekali tak membuat suara. Ia terdiam di tempatnya, menatap Daru dengan intens selama beberapa detik sebelum berdiri dan menepuk mejar Daru. "Take care, dude. Bilang aja kalo lo perlu waktu sama gue."

"Thanks."

Kafka beranjak pergi dan kelasnya pun terasa asing. Daru mengeluarkan ponselnya dari kantong, bingung antara melemparnya ke luar jendela atau menanti gadis itu mencari pertolongan lagi kepadanya, meski ia bukanlah kesatria dalam baju besi yang mengilap; Daru agak sedikit jahat dan plin-plan untuk peran favorit para wanita itu.


Elisa memutar botol kacanya di atas lantai kamar mandi, memandangnya berputar di porosnya sebelum jatuh dan menggelinding ke sudut-sudut kamar mandi, yang akan ia kejar karena botol itu adalah botol itu adalah bagian dari takdirnya.

Botol itu ia temukan di pinggir jalan, tepat ketika salah satu faktor utama mengapa bunuh diri muncul dalam otaknya mulai membentaknya, meminta banyak uang dengan balasan pisau cewek sialan itu tak memotong nadi di lehernya. Tersembunyi di balik rumput, diselimuti debu dan pasir, dan berukuran kecil. Meski kau menghancurkan botol setinggi penjepit kertas itu, ia akan meninggalkan jejak di tanganmu, menarik darah keluar dari kulit telapak tanganmu yang kasar dan kering, dan memandangmu lekat-lekat sementara kau menjerit kesakitan. Elisa ingin menjadi orang seperti itu; yang diam-diam menghanyutkan; wallflower; underdog.

Sayangnya, Elisa kesulitan menjadi orang yang seperti itu. Bekas luka di pergelangan tangannya membuatnya malu dan ingin mengecil, kabur ke got dan membiarkan dirinya mati karena mencium aroma badannya yang busuk. Lagipula, menurut Elisa, lebih baik mati seperti itu daripada harus mati di peperangan di mana kau tahu kalau pada akhirnya kau yang akan kalah.

Elisa menghela napas. Pikirannya terpuruk jauh ke dalam keputusasaan. Terlalu banyak masalah, terlalu banyak orang jahat. Zaman sudah terlalu canggih dan dunia sudah terlalu kejam. ia sudah tak tahu apa yang harus dilakukan selain mencari di Wikipedia wajah-wajah remaja yang terlihat cukup bahagia, tapi ternyata nyawa mereka sudah direnggut oleh tangan mereka sendiri. Entah menggantung diri atau meracuni diri sendiri.

Elisa langsung memikirkan Daru, SMS terakhir yang baru ia baca hari ini, yang mengakhiri pembicaraan singkat antara mereka berdua.

SMS Daru membuat senyum memanjat naik di bibirnya. Akhirnya ia dapat berinteraksi dengan lelaki, dan ada yang akhirnya peduli dengannya; betapa senangnya ia saat ada yang ingin ia tetap menarik napas di dunia ini―berkontradiksi dengan pikirannya sendiri. Ia ingin tahu apakah di Wikipedia ada artikel soal orang-orang yang berhasil memengaruhi orang lain untuk tidak mencabut nyawanya sendiri.

Elisa menggelengkan kepala, lalu mengambil botol yang ternyata sudah bersandar di pintu kamar mandi. Ketika ia menaruh kakinya di kamar tidurnya, sinar matahari langsung menyambutnya dengan hangat dan menyoroti ponsel yang tergeletak di atas bantal.

Fenomena aneh, tentu saja. Matahari seakan menyuruhnya untuk memegang ponselnya, menekan beberapa tombol, mengisi layar dengan kalimat-kalimat singkat, tapi toh ia melakukannya. Di menit tersebut sama sekali tak ada pikiran busuk dalam pikirannya, hatinya setenang lautan tanpa badai, senyum mengembang terlalu lebar.

Saat itu, Elisa sadar bahwa untuk pertama kalinya, ia merasa baik-baik saja.


a/n: maaf. diksiku terlalu tolol. chapter ini begitu menyebalkan. aku tak tahu mengapa tulisanku menjadi seperti ini.